Semesta yang mungkin dan masuk akal terjadi di masa depan bukanlah semata khayalan, melainkan hasil telaah panjang sains modern.
Cosmos: Possible Worlds, buku yang terbit pada 2019 sebagai sekuel Cosmos karya Carl Sagan (1980), lahir dari kesadaran bahwa kebenaran ilmiah tidak pernah bersifat final. Ia terus bergerak: memperkuat temuan lama atau mengoreksinya melalui bukti-bukti baru. Dalam rentang hampir empat dekade, membaca buku ini berarti mengikuti pembaruan pengetahuan manusia tentang jagat raya, adalah sebuah perjalanan intelektual yang tak berhenti.
Namun, upaya mempercakapkan isi buku ini sering kali berhadapan dengan sikap skeptis. Kebenaran sains kerap dipandang sebelah mata, bahkan disamakan dengan agama: sama-sama dianggap “dongeng”.
Bagi sebagian orang awam, pembuktian sains terasa tak terjangkau, abstrak, dan jauh dari pengalaman sehari-hari. Situasi ini diperumit oleh kritik para intelektual Muslim seperti Seyyed Hossein Nasr dan Naquib al-Attas terhadap sains modern, yang dianggap berpotensi mendegradasi religiusitas. Akibatnya, sains dipersepsi sebagai “lumpur” yang sebaiknya dihindari demi menjaga iman.
Masalah mendasarnya terletak pada kegagalan membedakan religiusitas dan spiritualitas. Religiusitas, dalam pengamatan sosiologis, seringkali merupakan konstruksi sosial. Bahkan Spinoza secara radikal pernah menyatakan bahwa agama tak lebih dari pemaksaan spiritual: peristiwa-peristiwa supranatural yang menjadi inti tradisi agama besar hanyalah takhayul yang terorganisasi, dilembagakan melalui fiksi yang pada masanya memang fungsional.
Pandangan ini memang provokatif, tetapi membuka ruang kritik atas cara beragama yang kehilangan kedalaman makna. Contoh konkret dapat dilihat dalam praktik ibadah haji. Tak sedikit orang rela menjual aset produktif seperti ladang dan sawah, bahkan berutang ke bank, demi berangkat ke Tanah Suci, lalu masih harus menunggu antrian kuota puluhan tahun.
Pertanyaannya: benarkah pola keberagamaan semacam itu yang dikehendaki Tuhan? Ironisnya, saintis sering dituduh digerakkan oleh nafsu rasional, padahal praktik beragama pun tak jarang dipenuhi dorongan nafsu sosial dan simbolik.
Justru di sinilah spiritualitas banyak ditemukan pada para saintis. Melalui jalan sains, mereka sampai pada kesadaran yang menjauhkan diri dari dosa terbesar menurut agama: kesombongan. Seperti Iblis di hadapan Adam yang merasa diri pusat segalanya. Albert Einstein, yang kerap dijuluki “nabi sains”, pernah berkata, “Saya percaya pada Tuhan Spinoza.” Bagi Einstein, menyembah Tuhan Spinoza berarti mempelajari dan menjunjung tinggi hukum alam. Tuhan dipahami sebagai harmoni yang menyingkapkan diri dalam keteraturan semesta.
Meski demikian, sains tetap dituduh memiliki prasangka: tidak melibatkan Tuhan, sarat subjektivitas, atau bahkan memiliki “mitos”-nya sendiri: seperti ledakan Kambrium atau teori Big Bang. Apakah benar data dari satelit Planck milik Badan Antariksa Eropa benar-benar bebas dari kesalahan ketika menyimpulkan usia alam semesta sekitar 13,82 miliar tahun?
Menariknya, agama pun mengakui bahwa dunia ini memiliki awal penciptaan. Di titik ini, sains dan agama justru bertemu, meski menempuh bahasa yang berbeda.
Perbedaannya terletak pada sikap terhadap kebenaran. Seorang saintis, meski didukung bukti, tidak akan ngotot mengklaim kebenaran mutlak. Kerendahhatian adalah etos sains. Karena itu, sains dapat menjadi jalan untuk membantah fanatisme, baik fundamentalisme agama, nasionalisme sempit, militerisme, maupun sikap sok benar lainnya. Bagi saintis, sains adalah jalan cinta: sebuah metodologi pencarian yang sakral, yang melatih kerendahhatian tanpa akhir.
Kesadaran ini semakin kuat sejak manusia meninggalkan pandangan geosentris. Ketika heliosentrisme ditemukan, kita sadar bahwa Bumi bukan pusat segalanya. Planet biru ini hanyalah titik pucat di antara miliaran bintang; tata surya kita berada di tepian lengan Galaksi Bimasakti, di sudut yang nyaris tersisihkan dari lautan galaksi. Pengetahuan ini memaksa kita untuk tawadhu: merasa kecil, tetapi tidak kerdil.
Sains menunjukkan adanya keteraturan (kosmos) di balik apa yang tampak sebagai kekacauan (chaos). Gagasan harmoni ini sebenarnya telah lama dibela para filsuf Muslim. Namun, kritik Al-Ghazali dalam Tahafut al-Falasifah terhadap kosmologi Ibnu Sina dan Al-Farabi, yang memandang alam sebagai sistem kausal layaknya mesin arloji—muncul dari kekhawatiran bahwa keteraturan semesta akan menghilangkan peran Tuhan dan mukjizat.
Ibnu Rusyd, dengan konsep “kebenaran ganda”-nya, bahkan dituduh menabur benih sekularisme Barat. Namun, bukankah Al-Ghazali sendiri meyakini bahwa kehendak Tuhan tidak bertentangan dengan rasio manusia, dan bahwa hukum alam (Sunnatullah) dapat dipahami secara rasional?
Dalam hal ini, Ibnu Rusyd dan Al-Ghazali sejatinya tidak sejauh yang sering dipertentangkan. Bahkan Spinoza kemudian melangkah lebih jauh: jangan mencari Tuhan dalam mukjizat. Jika Tuhan adalah pencipta hukum alam, maka Tuhan seharusnya dipahami melalui hukum alam itu sendiri. Apa yang disebut mukjizat, menurutnya, hanyalah kesalahan penafsiran atas peristiwa yang tetap tunduk pada keteraturan semesta. Tuhan bukan proyeksi ketakutan dan harapan manusia, melainkan daya cipta di balik keberadaan alam.
Sayangnya, religiusitas yang tumbuh sejak Revolusi Pertanian justru mencabut spiritualitas dari alam. Yang sakral menjadi sepenuhnya theo-human: berpusat pada manusia, dan berujung pada eksploitasi alam. Bahasa puncak peradaban manusia melahirkan kitab suci dengan keindahan makna, tetapi seiring generasi, makna itu menyempit, bahkan menjadi amunisi konflik. Maka, setelah berbagai revolusi merusak relasi kita dengan alam, muncullah “nabi-nabi sains” untuk merajut kembali hubungan yang terputus itu.
Ann Druyan, dalam Cosmos: Possible Worlds, membawa pembaca ke masa depan Antroposen, sebuah era ketika manusia menjadi kekuatan geologis. Ia memulainya dengan kisah Asoka dan Buddha, tentang lompatan spiritual seorang raja penakluk yang kemudian percaya bahwa pemimpin seharusnya adalah yang paling tercerahkan.
Druyan lalu menampilkan deretan “nabi-sains”: Victor Moritz Goldschmidt yang memandang Bumi sebagai satu sistem; Vavilov yang bermimpi memberi makan dunia melalui keanekaragaman hayati; Angelo Mosso, Hans Berger, dan para perintis riset otak; Kuiper dan Urey yang membuka pemahaman tata surya; Karl von Frisch yang menemukan bahasa tari lebah; hingga Kondratyuk dan Houbolt yang memungkinkan manusia menjejakkan kaki di Bulan.
Puncaknya, pembahasan cahaya sebagai gelombang dan zarah membawa kita ke pertanyaan paling mendasar tentang realitas. Dari Newton hingga Thomas Young, dari percobaan celah ganda hingga paradoks pengamatan, kita dipaksa menerima bahwa realitas tidak sesederhana yang tampak. John Stewart Bell, melalui teoremanya, menunjukkan bahwa “variabel tersembunyi” yang diharapkan Einstein tidak ada. Dunia ini lebih aneh daripada yang dapat kita bayangkan.
Di titik ini, sains membawa kita pada gagasan multiverse dan superdeterminisme: bahwa setiap kemungkinan benar-benar terjadi di semesta lain. Kita mungkin hanyalah kumpulan zarah yang telah “diprogram” sejak awal waktu.
Refleksinya jelas: sains tidak menjadikan manusia angkuh, melainkan rendah hati. Ia mengingatkan bahwa kita bukan pusat kosmos, tetapi bagian kecil dari jaringan realitas yang jauh lebih luas. Dalam kesadaran itulah, sains dapat menjadi jembatan menuju spiritualitas baru, bukan yang tercerabut dari alam, melainkan yang berakar dalam keteraturan semesta.
Sebuah spiritualitas yang mengajak manusia kembali belajar mendengar, bukan mendaku; memahami, bukan menaklukkan. Itulah masa depan Antroposen jika manusia dalam sikap hidupnya berpijak pada sains untuk dapat mengerem kehancuran ruang hidupnya. (Sal)