Nidhal Guessoum dikenal sebagai astrofisikawan sekaligus cendekiawan Muslim yang konsisten menjembatani dialog antara sains modern dan Islam. Melalui karya-karyanya, ia berupaya mengurai ketegangan klasik antara iman dan pengetahuan ilmiah dengan pendekatan yang rasional, kritis, dan proporsional.
Dua bukunya yang kerap dirujuk dalam diskursus ini adalah Memahami Sains Modern dan Islam dan Sains Modern. Meski sama-sama berbicara tentang sains dalam bingkai pemikiran Islam, keduanya memiliki perbedaan yang cukup mendasar dari segi cakupan, fokus, sasaran pembaca, hingga kedalaman perspektif keislaman.
Buku Memahami Sains Modern lebih diarahkan sebagai pengantar komprehensif terhadap dunia sains kontemporer. Cakupannya meliputi sejarah perkembangan sains, revolusi ilmiah, serta lahirnya metode ilmiah modern yang bertumpu pada observasi, teori, dan eksperimen. Guessoum mengulas perkembangan penting dalam bidang fisika, kosmologi, biologi, hingga teknologi mutakhir, sembari menyinggung tantangan etika dan persoalan filosofis yang menyertai kemajuan sains modern.
Fokus utama buku ini adalah memberikan pemahaman yang jernih tentang bagaimana sains bekerja: apa prinsip dasarnya, bagaimana kebenaran ilmiah diuji, serta mengapa sains bersifat terbuka terhadap koreksi. Sasaran pembacanya pun luas, mencakup masyarakat umum, akademisi pemula, hingga pembaca non-Muslim yang ingin memahami sains secara utuh dan objektif. Dari sisi perspektif Islam, Guessoum tidak terlalu jauh masuk ke ranah teologis. Pandangan Islam tentang sains hanya disinggung sekilas, seolah ingin menjaga jarak agar buku ini tetap netral secara religius. Sikap ini tampaknya disengaja, untuk menegaskan bahwa sains dapat dipelajari dan diapresiasi tanpa harus selalu dibingkai oleh identitas keagamaan penulisnya.
Sebaliknya, buku Islam dan Sains Modern secara eksplisit mengarahkan pembahasan pada relasi antara sains kontemporer dan tradisi keilmuan Islam. Guessoum mengulas isu-isu krusial seperti kosmologi dalam perspektif Al-Qur'an, teori evolusi dan respons pemikiran Islam terhadapnya, serta tantangan yang dihadirkan sains modern, mulai dari teori Big Bang hingga bioteknologi, atau bagi teologi dan etika Islam. Buku ini juga memuat kajian tentang sains dalam peradaban Islam klasik dan kontribusi para ilmuwan Muslim terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia.
Salah satu bagian penting dari buku ini adalah kritik Guessoum terhadap apa yang ia sebut sebagai "Bucailleisme", yakni pendekatan yang terlalu literal dan simplistis dalam mencocokkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan temuan ilmiah modern. Ia menilai pendekatan semacam itu berisiko mereduksi makna wahyu sekaligus menempatkan Al-Qur'an pada posisi rentan ketika teori ilmiah berubah. Fokus utama buku ini adalah membangun dialog yang sehat antara sains dan Islam, dengan sasaran pembaca utama kalangan Muslim dan siapa pun yang tertarik pada isu hubungan agama dan ilmu pengetahuan.
Dari sisi perspektif keislaman, Islam dan Sains Modern jelas lebih mendalam. Guessoum masuk ke wilayah teologi, filsafat ilmu, dan tafsir Al-Qur'an, seraya mengajak pembaca untuk bersikap kritis, terbuka, dan dewasa dalam memaknai sains. Tujuan akhirnya bukan untuk mempertentangkan iman dan akal, melainkan mendorong pendekatan yang seimbang: sains dihargai sebagai upaya manusia memahami alam, sementara agama diposisikan sebagai sumber nilai, makna, dan orientasi etis.
Melalui dua buku ini, Nidhal Guessoum seakan menawarkan dua pintu masuk yang saling melengkapi. Memahami Sains Modern mengajak pembaca mengenal sains apa adanya, sementara Islam dan Sains Modern mengajak umat beragama, khususnya Muslim, untuk berdialog secara kritis dengan sains tanpa rasa inferior maupun sikap apologetik. Keduanya memberi pelajaran penting bahwa kedewasaan berpikir, baik dalam sains maupun agama, yang menuntut kerendahan hati intelektual, keberanian bertanya, dan kesediaan untuk terus belajar.