Membaca buku Almustafa, atau yang lebih dikenal secara global dengan judul The Prophet karya Kahlil Gibran, saya anggap sebuah perjumpaan spiritual dengan semacam membaca ringkasan kitab suci. Namun bukan kitab dalam pengertian formal yang kaku dengan doktrin, melainkan dalam barisan kata dan paragrafnya seolah bekerja menyerupai cahaya yang memberi terang bagi para pejalan cinta, bagi pemimpi kemesraan, dan bagi setiap insan yang diam-diam sedang menempuh sunyi menuju kesempurnaan dirinya, yang tangannya bergetar oleh nafas kesunyiannya.
Barangkali itulah sebabnya buku ini tetap hidup, bahkan setelah melampaui satu abad sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1923 oleh penerbit Alfred A. Knopf. Berdasarkan data dari The New Yorker dan berbagai catatan literasi internasional, The Prophet telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 100 bahasa dan terjual puluhan juta eksemplar di seluruh penjuru dunia. Fenomena ini menempatkan Gibran sebagai penulis dengan penjualan buku terbanyak ketiga di dunia setelah Shakespeare dan Lao-tzu. Ia menjadi mahakarya sastra spiritual paling populer sepanjang masa, yang dibaca lintas agama, lintas budaya, dan melampaui sekat-sekat generasi.
Secara fisik, bukunya memang berukuran ringkas. Tetapi sebagaimana sering terjadi dalam dunia literasi, yang kecil tidak selalu berarti sempit. Justru dari kepadatan teks yang ringkas itu, pengaruhnya menjalar begitu luas ke dalam relung kesadaran manusia. Termasuk pada diri saya yang memiliki hasrat untuk mendalami dunia kepenulisan, timbul keinginan luhur untuk mampu menulis dengan kedalaman yang serupa. Saya ingin meraba bahasa yang tidak sekadar indah di permukaan estetika, tetapi juga mampu bergema secara subtil ke dalam batin pembaca.
Sering saya bertanya mungkinkah suatu hari saya bisa menulis seperti narasi Almustafa? Sebuah karya yang berisi untaian nasihat, namun tidak sedikit pun terasa menggurui? Sebuah cerita yang setiap kalimatnya terasa seperti sublimasi doa. Sebuah narasi yang tidak pernah benar-benar selesai dibaca, karena ia terus tumbuh dan bermetamorfosis dalam ingatan pembacanya.
Banyak pakar sastra menyebut bahwa tulisan Kahlil Gibran memiliki kedalaman yang nyaris tak terjangkau sekaligus imajinasi yang melambung tinggi. Ia romantis, namun bukan sekadar romantisme sentimental yang dangkal. Sebab ia menyentuh wilayah sufistik, sebuah maqam di mana cinta tidak lagi sekadar gejolak perasaan, melainkan telah menjadi jalan spiritual (thariqah) menuju Yang Maha Indah. Tak heran jika kalimat-kalimatnya sering dipinjam oleh kaum muda untuk mengekspresikan perasaan, atau sekadar menjadi penawar bagi jiwa yang sedang rindu.
Namun di balik popularitas itu, para kritikus sastra melihat adanya misi yang lebih serius. Gibran adalah tokoh kunci dalam Al-Mahjar (gerakan sastra imigran Arab di Amerika), yang berhasil menggabungkan spiritualitas Timur yang kontemplatif dengan nilai-nilai humanisme Barat yang progresif. Meskipun ia menulis The Prophet dalam bahasa Inggris untuk menjangkau dunia, jiwanya tetap berakar kuat pada tradisi Arab-Marit, yang menghadirkan jembatan pemikiran antara dua dunia yang kerap dianggap berseberangan.
Di Indonesia, napas puitik Gibran menemukan resonansinya pada sosok-sosok maestro. Misalnya mendiang Sapardi Djoko Damono, yang menerjemahkan karya ini dengan kepekaan diksi yang sangat terjaga, sehingga ruh aslinya tetap terasa akrab di telinga pembaca lokal. Begitu pula dengan Sutardji Calzoum Bachri, Sang Presiden Penyair, yang mengolah kata hingga ke tingkat elemental, seolah kata bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan makhluk hidup yang memiliki nyawa dan daya magisnya sendiri.
Bahkan Emha Ainun Nadjib, atau yang akrab disapa Cak Nun dan sekarang Mbah Nun—dalam berbagai forum kebudayaan pernah merefleksikan bahwa hanya sosok seperti Sutardji Calzoum Bachri dan Chairil Anwar yang benar-benar merupakan "penyair" dalam dimensi yang paling hakiki. Hal ini bukan berarti mengecilkan peran sastrawan lain, melainkan karena keduanya memiliki getaran unik, baik yang bersifat esoterik (kedalaman batin) maupun eksoterik (perwujudan lahiriah) yang sepenuhnya menyatu dengan watak kepenyairan mereka. Gibran pun demikian. Ia adalah seorang prosais yang membangun dunia naratif melalui perumpamaan (parabel) yang berlapis-lapis. Jika kita ingin belajar menulis deskripsi yang menyerupai kulit bawang, yang setiap lapisannya membuka pintu makna baruz maka Gibran adalah guru yang tepat.
Lihatlah bagaimana ia mendeskripsikan laut. Bagi Gibran, laut bukan sekadar kumpulan air yang luas, melainkan simbol perjalanan eksistensial, perpisahan yang niscaya, dan kepulangan yang hakiki. Dalam kisah Almustafa, laut adalah batas sekaligus jembatan antara menetap dan berkelana, antara kenangan masa lalu dan harapan masa depan.
Ketika Almustafa hendak berlayar meninggalkan kota Orphalese setelah dua belas tahun menanti kapalnya, ia mendapatkan perpisahan hangat dari seorang perempuan bernama Almitra. Sosok Almitra ini bukan sekadar karakter figuran. Ia adalah representasi dari jiwa manusia yang haus akan kebenaran dan terus bertanya tentang hakikat hidup.
“Bicaralah kepada kami tentang cinta,” pinta Almitra dengan penuh harap.
Dari permintaan itulah lahir salah satu bagian paling ikonik dalam sejarah sastra dunia. Jawaban Almustafa tentang cinta tidaklah sederhana. Ia tidak menyodorkan definisi kamus, melainkan membentangkan bentang pengalaman yang paradoksal. Ia menyatakan bahwa cinta akan memahkotaimu sekaligus menyalibmu. Ia akan meninggikanmu hingga ke pucuk-pucuk dahan yang gemetar di bawah sinar matahari, namun ia juga akan menghujamkan akarnya ke dalam tanah untuk mengguncang fondasi keberadaanmu.
Begitu pula ketika ia berbicara tentang perkawinan, anak-anak, pekerjaan, hingga maut. Salah satu kutipan yang paling menghunjam nurani adalah tentang hakikat orang tua dan anak:
“Anakmu bukanlah anakmu. Mereka adalah putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri.”
Kalimat ini menyimpan revolusi cara pandang yang sangat dalam bahwa kepemilikan manusia atas sesamanya adalah sebuah ilusi. Bahwa bahkan dalam relasi cinta yang paling intim sekalipun, ada ruang suci kebebasan yang tidak boleh dilanggar.
Secara bertubi-tubi, Almitra terus bertanya: tentang sedekah, makan dan minum, suka dan duka, hingga persoalan hukum dan kejahatan. Setiap jawaban Almustafa selalu bermuara pada satu prinsip sentral tentang kesatuan eksistensi (unity of existence). Bagi Gibran, kehidupan dan kematian bukanlah dua kutub yang terpisah secara dikotomis. Keduanya adalah satu gerak yang sinkron seperti ombak yang datang menghantam pantai lalu kembali ke mahaluas lautan dan palung terdalamnya, tetapi tetap menjadi bagian dari samudera yang satu dan sama.
Hingga akhirnya, tiba saatnya Almustafa melangkah ke dek kapal. Ia berpamitan kepada rakyat Orphalese dengan kalimat yang menggetarkan, “Hari-hari bersamamu hanya singkat, dan lebih singkat lagi kata-kata yang telah kuucapkan. Namun jika suaraku memudar di telingamu, dan cintaku lenyap dari ingatanmu, saya akan kembali, bersama air pasang, untuk mengatakan kebenaran sekali lagi.”
Namun, perpisahan itu terasa berbeda bagi Almitra. Ketika jangkar diangkat dan kapal mulai menjauh menuju cakrawalaz mungkin menuju ke Timur, atau secara imajiner melaju menuju pelabuhan Sunda Kelapa dalam lamunan liar saya, Almitra tetap berdiri tegak di tepi dermaga. Rakyat Orphalese mungkin telah kembali ke rumah dan rutinitas mereka, tetapi Almitra masih di sana. Sendirian. Ia sedang menyimpan gema kata-kata yang belum sepenuhnya ia pahami, namun telah terpatri di lubuk hatinya.
Mungkin di dalam benaknya, Almitra berharap Almustafa akan memberikan janji yang lebih konkret, tentang cinta yang bisa digenggam atau perpisahan yang bisa diringankan dengan pelukan perpisahan yang melankolis, layaknya adegan ikonik Rangga dan Cinta di bandara dalam budaya populer kita.
Namun Almustafa adalah seorang “Nabi”, yang tidak menawarkan kenyamanan palsu. Ia justru menegaskan sebuah kebenaran yang getir namun membebaskan bahwa bercintalah satu sama lain, tetapi jangan membuat belenggu dari cinta itu. Biarkan cinta menjadi laut yang bergerak di antara pantai jiwa masing-masing. Sebab cinta tidak memiliki, dan tidak pula ingin dimiliki.
Di situlah saya menyadari bahwa Almitra mulai mengerti, meski perlahan dan terasa perih. Ia memahami bahwa cinta tidak memberikan apa pun kecuali dirinya sendiri, dan tidak mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri. Cinta adalah ruang luas yang tidak bisa dipenjarakan oleh ego dan keinginan posesif manusia.
Di tepi laut kehidupan kita masing-masing, dalam sunyi yang panjang, mungkin kita perlu belajar seperti Almitra untuk memahami sesuatu yang seringkali kita tolak untuk mengerti. Bahwa menunggu dan melepaskan bukanlah tentang kepastian seseorang akan kembali secara fisik, melainkan tentang kesediaan hati untuk tetap mencintai dan merawat cahaya kebenaran, dan bahkan ketika yang dicintai telah melarut menjadi bagian dari cakrawala yang tak akan pernah lagi terjangkau pikiran, dan bahkan oleh hati yang mencinta. (Sal)