Membaca buku 12 Laws of Being Human terasa seperti memasuki ruang yang mungkin selama ini sengaja kita hindari. Di tengah bisingnya tuntutan produktivitas, muncul semacam “obsesi” yang diam-diam tumbuh dalam palung kesadaran sebuah keinginan untuk benar-benar menjadi manusia (super). Sebab, selama ini kita memang berwujud manusia yang berjalan, berbicara, bekerja, hingga mencintai, tetapi muncul sebuah tanya yang cukup mengusik atas semua mekanisme biologis itu apakah cukup untuk membuat kita layak disebut "telah menjadi manusia"?
Dalam kajian psikologi evolusioner, manusia memang membawa warisan naluriah dari fase-fase biologis purba yang kompleks. Kita mewarisi sistem limbik yang memicu naluri bertahan hidup (survival), dominasi, ketakutan, hingga agresi yang kerap meledak tanpa permisi. Sebagaimana ditegaskan dalam mazhab Psikologi Humanistik oleh tokoh-tokoh seperti Abraham Maslow, manusia sejatinya memiliki dorongan transendental untuk melampaui naluri dasar tersebut. Kita didesain untuk bergerak menuju aktualisasi diri, sebuah titik di mana kesadaran menjadi lebih utuh dan jernih.
Karena itulah buku ini menjadi sangat relevan yang tidak sekadar menawarkan konsep-konsep abstrak, tetapi hadir sebagai semacam cermin yang jernih yang memantulkan tanya. Sejauh mana kita telah hidup dengan sadar, atau jangan-jangan kita hanya sekumpulan algoritma biologis yang bergerak otomatis?
Saya sendiri memilih membaca buku ini dengan cara yang tidak biasa. Buku saku setebal 92 halaman itu tidak saya lahap sekaligus dalam satu duduk. Saya membacanya perlahan. Dengan sejenak membaca satu hukum, lalu diam untuk memberi ruang pada setiap hukum yang dijabarkan dalam kalimat-kalimatnya meresap, masuk ke dalam relung kesadaran, serupa dengan proses yang dalam istilah neurosains disebut sebagai integrasi di korteks serebral. Ini adalah bagian otak yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif guna melakukan refleksi, kesadaran diri, dan pengambilan keputusan yang bijak. Jika tanpa jeda, informasi hanyalah gangguan dan dengan jeda, informasi menjadi transformasi.
Hukum pertama, The Law of Embodiment, mengajarkan sesuatu yang tampak sederhana tapi radikal bahwa tubuh ini bukanlah “aku” sepenuhnya. Ia hanyalah wadah, sementara kita adalah kesadaran yang menempatinya. Dalam banyak tradisi filsafat dan spiritualitas, dari gagasan Atman di Timur hingga pemikiran dualisme Descartes di Barat, gagasan ini menyatakan bahwa tubuh adalah kendaraan, bukan identitas mutlak. Namun justru karena ia adalah satu-satunya kendaraan kita di dunia ini, tubuh perlu dirawat dengan penuh hormat. Ia menyimpan "arsip hidup" berupa jejak pengalaman, trauma, hingga sisa-sisa kebahagiaan yang tersimpan dalam memori seluler.
Kesadaran akan tubuh ini membawa kita pada Hukum kedua, The Law of Lessons, yang berbicara tentang hukum pelajaran sepanjang hayat. Misalnya tentang rasa sakit dan patah hati yang tidak bisa dihindari. Dalam psikologi modern, pengalaman kehilangan terbukti meninggalkan jejak neurologis yang nyata di anterior cingulate cortex, bagian otak yang memproses rasa sakit fisik. Maka, melepaskan (letting go) bukan sekadar nasihat klise, melainkan kebutuhan biologis untuk pemulihan sistem saraf. Melupakan kekasih lama dari pikiran ibarat cangkir yang penuh tidak bisa diisi lagi. Dan barangkali, tanpa kita sadari, kita sering berjalan dengan beban berat karena cangkir batin kita masih dipenuhi oleh residu masa lalu yang belum dibilas.
Perjalanan berlanjut pada Hukum ketiga, The Law of Experimentation. Hukum ini mengingatkan bahwa hidup adalah rangkaian proses coba—gagal—dan coba lagi. Dalam riset tentang growth mindset oleh Carol Dweck, kegagalan dipandang sebagai nutrisi utama bagi pertumbuhan saraf. Bahkan dalam dunia inovasi modern, kegagalan dianggap sebagai "data berharga", bukan sebuah akhir yang memalukan. Maka, ketika Anda mendekati seseorang, mengalami penolakan, lalu berani mencoba lagi, itu bukan kebodohan. Itu adalah manifestasi dari keberanian menjadi manusia yang bertumbuh.
Sebab, keberanian untuk mencoba menuntut kerelaan untuk berubah, sebagaimana tertuang dalam Hukum keempat, The Law of Change. Perubahan adalah satu-satunya keharusan dalam semesta yang dinamis ini. Mengulangi pola perilaku yang sama sambil mengharapkan hasil yang berbeda adalah definisi ilusi, atau dalam istilah psikologi sering disebut sebagai repetition compulsion. Jika ingin memanen hasil yang berbeda, kita harus berani meretas pola perilaku lama dan menjadi pribadi yang berbeda.
Transformasi ini hanya mungkin terjadi jika kita memegang teguh Hukum kelima, The Law of Continuous Learning. Kita diajak untuk tetap menjadi “anak kecil” dalam arti terbaiknya: penuh rasa ingin tahu (curiosity), terbuka, dan rendah hati. Di era disrupsi informasi seperti sekarang, kemampuan untuk terus belajar (learn), membuang ilmu lama (unlearn), dan belajar kembali (relearn) jauh lebih berharga daripada sekadar tumpukan gelar atau pengetahuan statis.
Namun, semua pembelajaran itu akan sia-sia jika kita kehilangan pijakan pada hari ini. Hukum keenam, The Law of Here and Now, mungkin adalah yang paling sulit dijalani. Pikiran kita adalah pengelana ulung yang hobi terjebak di labirin masa lalu atau mencemaskan kabut masa depan. Padahal, praktik mindfulness yang kini banyak diteliti dalam psikologi klinis membuktikan bahwa kesadaran pada momen kini mampu menurunkan hormon kortisol penyebab stres secara signifikan. Kenyataannya, kita sering begitu sibuk merancang "nanti" dan meratapi "tadi", hingga kita lupa merasakan tarikan napas yang sedang berlangsung saat ini, satu-satunya momen di mana kita benar-benar hidup.
Ketidakmampuan kita untuk hadir "di sini dan saat ini" seringkali disebabkan oleh proyeksi batin kita sendiri. Hukum ketujuh, The Law of the Mirror, menyatakan bahwa dunia luar adalah refleksi dunia batin. Rasa suka atau benci kita pada orang lain sering kali adalah "proyeksi"—sebuah mekanisme pertahanan ego yang dijelaskan oleh Sigmund Freud, di mana kita melemparkan isi batin kita yang tak terselesaikan kepada orang lain. Maka, belajar objektif bukan sekadar soal logika, tetapi soal keberanian untuk menatap cermin batin dan mengakui, “Apa yang aku benci darinya, barangkali adalah sisi gelap yang belum kuselesaikan dalam diriku.”
Kesadaran ini menuntun kita pada kedaulatan diri dalam Hukum kedelapan, The Law of Choice. Banyak dari kita mengira telah memilih, padahal kita hanya bereaksi. Semata hasil dari tekanan sosial, luka masa kecil, atau dorongan bawah sadar. Menjadi manusia yang utuh berarti mengambil alih kemudi keputusan secara sadar. Kebebasan sejati bukanlah melakukan apa pun yang kita mau, melainkan kemampuan untuk memilih respons dengan sadar dalam menyambut stimulus yang datang.
Untuk sampai pada kemampuan memilih itu, membutuhkan Hukum kesembilan, The Law of Introspection. Di dunia yang serba cepat dan menuntut respons instan, kemampuan untuk diam dan merenung menjadi kemewahan yang langka. Tidak semua masalah harus segera diselesaikan dengan tindakan luar. Kadang ia hanya perlu dipahami, didekap, dan diterima melalui keheningan batin.
Proses batin ini akhirnya akan membawa kita pada gerbang pemulihan dalam Hukum kesepuluh, The Law of Moving On. Waktu memang penyembuh, namun waktu yang pasif tidak akan mengubah apa pun. Yang menyembuhkan adalah bagaimana kita mengelola waktu tersebut dengan aktivitas yang bermakna, lingkungan yang sehat, dan relasi yang positif. Pemulihan adalah sebuah kerja aktif, bukan sekadar menunggu kalender berganti.
Semua proses ini pada akhirnya bermuara pada persepsi. Hukum kesebelas, The Law of Perception, mengingatkan bahwa realitas bersifat subjektif. Dalam ilmu kognitif, dikenal istilah cognitive framing tentang bagaimana kita "membingkai" sebuah peristiwa akan menentukan emosi yang muncul. Dua orang bisa mengalami badai yang sama, namun yang satu melihatnya sebagai kehancuran, sementara yang lain melihatnya sebagai pembersihan.
Terakhir, Hukum kedua belas, The Law of True Possession, membawa kita pada sebuah kesimpulan yang semoga membebaskan bahwa satu-satunya yang benar-benar kita miliki adalah momen sekarang. Uang, benda, status, hingga gelar, dan semuanya hanyalah atribut sementara, atau dalam ekonomi modern, hanyalah nilai yang lahir dari kesepakatan sosial. Namun, waktu yang sedang kita jalani saat ini, detik ini juga itulah satu-satunya kekayaan yang nyata dan tak tergantikan.
Dalam dua belas hukum ini tampak begitu sederhana, namun justru di situlah letak kerumitannya. Tidak mudah untuk duduk diam tanpa gawai. Tidak mudah untuk jujur pada borok diri sendiri. Tidak mudah mengakui bahwa kebencian kita pada sesama mungkin adalah bayangan dari ketakutan kita sendiri.
Menjadi manusia, ternyata bukanlah sesuatu yang otomatis terjadi saat kita dilahirkan secara biologis. Sebab ia adalah proyek seumur hidup, sebuah proses panjang yang kadang membingungkan, seringkali menyakitkan, namun selalu penuh dengan kemungkinan untuk lahir kembali. Buku ini mungkin tidak memberi kita jawaban instan atas segala penderitaan, namun memberi kita sesuatu yang lebih berharga: sebuah jeda.
Sebuah ruang untuk bertanya kembali pada cermin batin kita sendiri apakah selama ini kita benar-benar hidup atau sekadar menjalani rutinitas mekanis yang dengan keliru kita sebut sebagai kehidupan? Barangkali, inti dari menjadi manusia memang sederhana, yaitu selalu bersedia untuk terus belajar, meski harus dimulai dari nol kembali, dan bahkan nol besar. (Sal)