Karya sastra dan penulisnya adalah peta sosial yang merekam koordinat batin sebuah bangsa beserta silang sengkarut permasalahannya. Premis ini menemukan resonansi terdalamnya ketika kita melangkah masuk ke dalam semesta cerita yang disusun oleh Eka Kurniawan. Sejak paragraf pembuka, bahkan hanya dengan membaca judulnya, Lelaki Harimau, pembaca seolah ditarik ke dalam pusaran antara yang nyata dan yang gaib.
Tetapi sesungguhnya ini lebih dari sekadar urusan klenik. Di baliknya saya menangkap sebuah kegelisahan intelektual apa sebenarnya maksud tersurat dan tersirat dari simbol 'Lelaki Harimau' ini? Lebih jauh lagi, mampukah maknanya melampaui jangkauan kesadaran sang penulisnya sendiri, lalu tumbuh mandiri sebagai tafsir kolektif dalam benak kita?
Pertanyaan ini berakar pada tradisi panjang sastra Indonesia yang gemar meminjam personifikasi binatang sebagai cermin watak manusia. Mengingat judulnya, ingatan kita seketika tertaut pada Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis yang bicara tentang moralitas dan ketakutan, atau Tujuh Manusia Harimau karya Motinggo Boesje yang kental dengan nuansa laga supranatural. Sekarang ditambah Lelaki Harimau yang hadir sebagai kelanjutan warisan khazanah 'Budaya Tanah' dalam lanskap imajinasi Nusantara, sebagai representasi kekuatan, otoritas, sekaligus ancaman yang lahir dari rimbanya belantara batin manusia.
Peta imajinasi ini kiranya belum lengkap bila hanya berhenti di permukaan 'Budaya Tanah'. Pada saatnya nanti kita perlu menyelami kedalaman khazanah 'Budaya Air'—sebuah ruang yang menyimpan narasi personifikasi buaya, misteri laut, dan wilayah basah yang membentuk sisi lain psikologi kultural kita. Sebut saja deretan karya yang patut diapresiasi menyebut di antaranya karya Armijn Pane dengan Buaya Putih, M. Sanusi melalui Kutukan Buaya Putih, hingga Korrie Layun Rampan dalam Buaya-Buaya.
Kehadiran dua simbol predator ini—harimau di daratan dan buaya di perairan—menunjukkan bahwa imajinasi manusia Nusantara bergerak di antara dua kutub yang tidak hanya bersifat geografis, tetapi juga simbolik, sebagai dialektika antara ketangguhan tanah dan kelenturan air.
Menariknya, saat menyelami karya Mang Eka ini, ingatan saya terlempar pada fenomena viralnya patung macan putih di Balongjeruk, Kediri, beberapa waktu lalu. Ada sebuah resonansi kultural yang ganjil di sana. Novel Lelaki Harimau seakan menjadi reproduksi mitologis yang hidup dalam kesadaran kolektif kita. Ia bukan sekadar fiksi, melainkan 'cerita kita'. Sebagai narasi yang lahir dan tumbuh dari rahim Budaya Tanah. Dan pemilihan latar Pangandaran oleh Mang Eka menciptakan sebuah ruang liminal, tempat daratan dan lautan saling berpagutan yang pada akhirnya menyeret cerita ini bersinggungan dengan Budaya Air.
Namun kita perlu melihat bagaimana sebuah medium membentuk martabat tafsir. Patung macan di Balongjeruk, misalnya, hadir sebagai representasi seni rupa publik yang sempat menuai cemooh karena dianggap gagal memenuhi standar estetika pop culture. Sebaliknya, Lelaki Harimau hadir melalui medium aksara yang diterima dengan takzim dalam ruang sastra dunia. Padahal, jika kita telisik lebih dalam, keduanya adalah ekspresi kebudayaan yang sama-sama sah, adalah dua bentuk produksi makna yang lahir dan tumbuh bersumber pada akar purba yang sama mengenai identitas maskulinitas dan naluri proteksi diri.
Jika Pramoedya Ananta Toer pernah menyebut Indonesia sebagai 'bangsa yang kompromi' barangkali di celah kompromi itulah letak persinggungan antara Budaya Tanah dan Budaya Air. Sebagai ruang kolaborasi, tumpang tindih, sekaligus negosiasi identitas yang tak pernah tuntas. Jejak dualitas ini juga berdenyut dalam adikarya Mang Eka lainnya, Cantik Itu Luka, di mana sejarah, mitos, dan kekerasan menjalin anyaman yang rumit. Demikian pembacaan atas Lelaki Harimau tidak boleh mandek pada simbolisme semata. Ia harus berani turun ke tanah lumpur kehidupan kita, ke realitas yang lebih konkret seperti sengketa lahan, relasi kuasa, dan ketidakadilan sistemik, karena ada sebagian hal tak boleh kompromistis.
Sebut saja fenomena baru-baru ini yang menghentakkan publik: kasus Mak Cani di Pangandaran. Seorang nenek yang dipaksa mengosongkan rumahnya karena tanah yang ia tinggali diklaim milik pemerintah desa untuk pembangunan Koperasi Merah Putih dalam program Presiden Prabowo. Tragedi ini bukan sekadar berita kriminal lokal, ia adalah cermin dari luka agraria yang terus menganga.
Data dari Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat bahwa sepanjang tahun 2023 saja, terdapat ratusan letusan konflik agraria yang melibatkan puluhan ribu hektar lahan dan ribuan kepala keluarga yang terancam. Masyarakat kecil seringkali harus membentur tembok raksasa bernama klaim negara atau korporasi, sebuah kenyataan pahit di mana hak hidup kalah oleh ambisi pembangunan.
Kisah Mak Cani adalah paralel yang menyakitkan bagi keluarga Komar bin Syueb dalam Lelaki Harimau. Rumah yang mereka huni berdiri di atas tanah yang diklaim milik bidan Kasia, tanah warisan dari Ma Rabiah yang menikah dengan seorang tentara. Di sini, Mang Eka memotret pola klasik dalam sejarah agraria kita tentang bagaimana legitimasi kepemilikan kerap lahir bukan dari mekanisme formal yang adil, melainkan dari kedekatan dengan instrumen kekuasaan, atau sekadar pendakuan sebagai 'penghuni pertama'.
Penelitian sosiologi agraria menunjukkan bahwa pada masa pembukaan wilayah baru, terutama di pesisir dan pinggiran hutan, praktik 'siapa cepat dia dapat' menciptakan strata sosial yang timpang. Negara acapkali datang terlambat, hanya untuk melegalkan ketimpangan yang sudah terjadi sebelumnya melalui sertifikasi yang cenderung memihak mereka yang 'berpunya'.
Dalam spektrum ini, kisah faktual Mak Cani adalah prototipe nyata bagi Komar bin Syueb dalam fiksi Lelaki Harimau. Keduanya mungkin memiliki 'rumah' sebagai tempat berteduh, tetapi mereka tidak memiliki 'tanah' sebagai alas hidup. Dalam hukum agraria, perbedaan ini berakibat fatal: rumah bisa diruntuhkan dalam semalam, namun tanahlah yang menentukan hak hidup, martabat, dan kedaulatan ekonomi seseorang.
Di sinilah simbol 'harimau' dalam novel ini menemukan urgensi sosialnya. Harimau di dalam tubuh Margio bukan sekadar entitas mistis yang diwariskan kakeknya. Ia adalah metafora dari amarah yang mengeram, sebuah perlawanan bawah sadar terhadap ketidakadilan struktural yang tak mampu disuarakan lewat jalur hukum atau meja perundingan. Maka, seruan 'bangkitkanlah harimau dalam dirimu' dapat dibaca sebagai sebuah pernyataan politis, sebuah ledakan dari mereka yang selama ini dipinggirkan.
Mang Eka dengan piawai mengolah folklore manusia harimau menjadi sesuatu yang lebih kelam dan kompleks. Jika di kampung-kampung sekitar Pangandaran cerita ini mungkin hanya dianggap sebagai bumbu obrolan di pos ronda, di tangan Mang Eka, harimau itu bertransformasi menjadi manifestasi akumulasi trauma dan ledakan dari tekanan yang bertubi-tubi.
Inti cerita Lelaki Harimau pada permukaannya adalah sebatas benturan antara dua keluarga yang sama-sama retak: keluarga Komar bin Syueb yang penuh kekerasan, dan keluarga Anwar Sadat yang tampak mapan namun rapuh di dalamnya. Drama mencapai puncaknya pada diri Margio, pemuda yang hanya ingin melihat ibunya, Nuraeni, bahagia setelah bertahun-tahun didera kekerasan domestik oleh Komar. Namun, ketika ia meminta Anwar Sadat, lelaki yang memberi ibunya setitik kebahagiaan, untuk menikahi Nuraeni, Margio justru membentur tembok penolakan yang dingin.
Jawaban 'tidak mungkin' serta pengakuan dingin 'aku tak mencintai ibumu' dari mulut Anwar Sadat seketika menjadi pemantik sumbu pendek di kepala Margio. Di sanalah harimau itu bangun. Ledakan itu bukan sekadar perkara asmara yang kandas, melainkan akumulasi luka, kemiskinan, dan rasa terhina yang tak lagi mampu tertampung.
Saat Margio menerkam Anwar Sadat hingga tewas, ia tidak lagi bertindak sebagai manusia, melainkan sebagai personifikasi dari dendam kelas dan kemuakan atas kemunafikan sosial yang akut. Adegan tragis ini berkelindan dengan lanskap Pangandaran yang digambarkan Mang Eka secara hidup, sebuah dunia kecil dengan keriuhan layar tancap, sirkus keliling, dan warung kopi milik Agus Sofyan, tempat para pemuda mabuk mencoba melupakan beban hidup.
Dunia ini memang berwarna, namun penuh dengan memar. Kehadiran tokoh-tokoh seperti Mayor Sadrah hingga Kyai Zahro seolah mempertegas sebuah kenyataan pahit bahwa institusi sosial maupun agama seringkali gagal menjadi katup pengaman bagi jiwa-jiwa yang hancur seperti Margio.
Membaca Lelaki Harimau akhirnya menjadi sebuah proses introspeksi yang menyakitkan. Harimau itu mungkin tidak benar-benar ada dalam pengertian biologis, namun kemarahan, luka agraria, dan hasrat melawan ketidakadilan adalah detak jantung yang nyata di sekitar kita. Dalam konteks Indonesia hari ini, di mana konflik lahan masih membara dan kekerasan domestik kerap tersembunyi rapat di balik pintu rumah, novel ini hadir sebagai cermin. Ia memantulkan wajah kita yang paling jujur sekaligus paling gelap tentang wajah dari keluarga-keluarga yang semestinya menjadi batu bata kokoh bagi bangunan bangsa, namun nyatanya justru rapuh dan saling melukai.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi tentang apakah harimau itu nyata atau sekadar mitos, melainkan berapa lama lagi kita akan membiarkan harimau-harimau itu terus mengeram dalam tubuh-tubuh yang terluka, sebelum akhirnya mereka benar-benar bangkit dan menerkam apa saja yang ada di hadapannya?” (Sal)