Azerbaijan, Kaukasus, dan Pencarian Identitas dalam Ali dan Nino

Di sebuah persimpangan jalan di Batumi, Georgia, berdiri Statue of Love, sebuah monumen ikonik yang...

Azerbaijan, Kaukasus, dan Pencarian Identitas dalam Ali dan Nino

25 Feb 2026
318 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Azerbaijan, Kaukasus, dan Pencarian Identitas dalam Ali dan Nino

Di sebuah persimpangan jalan di Batumi, Georgia, berdiri Statue of Love, sebuah monumen ikonik yang terinspirasi dari novel legendaris karya Kurban Said. Meski saya belum menginjakkan kaki di sana, perjumpaan saya dengan kisah Ali dan Nino bermula dari sebuah ketidaksengajaan yang dipicu oleh rasa penasaran yang dalam.

Ketertarikan itu bermula saat saya membaca ulasan di rubrik Catatan Pinggir karya Goenawan Mohamad. Menjadi pokok bahasan di halaman belakang majalah Tempo tentu bukan perkara sepele. Jika "Pak GM" sudah mengulasnya, bisa dipastikan ada kedalaman luar biasa dalam karya sastrawan asal Azerbaijan tersebut. Maka, ketika menemukan buku itu di tumpukan buku bekas dengan harga sepuluh ribu rupiah, tanpa ragu langsung saya beli.

Begitu membuka lembarannya secara acak, mata saya tertuju pada kalimat tajam: "Ia yang memikirkan hari esok tak akan pernah menjadi pemberani." Kalimat ini seolah menjadi kunci untuk memahami gejolak batin di tanah Transkaukasia yang keras dan penuh pergolakan sejarah.

Bahkan di balik narasi besar tersebut, Kurban Said menyelipkan detail domestik yang unik. Ia menyebut pekerjaan bapak rumah tangga, seperti mencuci piring, memasak, dan mencuci pakaian sebagai "pekerjaan administrasi rumah” yang dilakukan oleh seorang laki-laki. Ada ajakan halus untuk mandiri dalam urusan domestik. "Kalau bukan oleh sendiri, lalu oleh siapa lagi," tulisnya.

Istilah ini memberikan sudut pandang baru bahwa jika ada yang bertanya apa kesibukan Anda di kamar kos, jawab saja sedang menyelesaikan "administrasi rumah" yang menumpuk. Sebuah cara elegan untuk menghargai kemandirian di tengah hiruk-pikuk narasi tentang nasib bangsa.

Kepingan awal dari novel ini juga mengajarkan tentang urgensi jangan menunda menyatakan cinta karena keraguan hanya akan memupuk sikap pengecut. Meski sempat membatin tentang kepada siapa cinta itu harus dinyatakan, saya sadar bahwa novel ini jauh dari kesan lebay.

Ali dan Nino bukan sekadar romansa picisan. Ini adalah potret patriotisme dan perjuangan anak bangsa dalam mempertahankan kedaulatan negara yang baru berdiri: Azerbaijan.

Luka Sejarah: Dari Persia ke Cengkeraman Tsar

Melalui penelusuran sejarah yang melatari novel ini, kita mendapati narasi tentang kedaulatan yang tercabik. Wilayah Azerbaijan mulanya merupakan bagian dari kekaisaran Persia, dengan Hasan Kuli Khan yang bertakhta di ibu kota, Baku. Namun, arah angin sejarah berubah ketika Pangeran Zizianasvili, seorang jenderal Georgia di bawah panji Tsar Rusia, datang melakukan invasi.

Meski Hasan Kuli berhasil menumbangkan sang jenderal dalam pertempuran, arus militer Rusia tak terbendung. Tentara Tsar merangsek masuk dan akhirnya memancangkan kedaulatannya di tanah Azerbaijan.

Di bawah bayang-bayang kekuasaan Rusia itulah, Ali Khan tumbuh sebagai pemuda Muslim Syiah yang taat. Ia memegang teguh identitasnya melalui syahadat yang khas: "Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah, dan Ali adalah Khalifah Allah." Penekanan pada kalimat terakhir menjadi garis demarkasi yang jelas antara keyakinannya dengan iman Sunni.

Ayah Ali menjadi kompas moral sekaligus ideologis baginya. Sang ayah kerap menitipkan nasihat yang dalam sekaligus kontradiktif, “Sering-seringlah sembahyang, Nak. Jangan minum alkohol, jangan mencium perempuan asing, berbuat baiklah kepada kaum dhuafa, dan bersiaplah menghunus pedang demi imanmu.. namun, jangan pula ikut-ikutan berpolitik.”

Kendati melarang Ali terjun ke politik praktis, sang ayah memberikan peringatan keras agar anaknya tidak menjadi pribadi yang lembek di bawah perlindungan penjajah. Ia menolak jika anaknya hanya "duduk manis" di atas permadani kepengecutan sambil berlindung di balik maklumat lunak Tsar.

Bagi sang ayah, sejarah keluarga bukan sekadar catatan usang. "Segala kata tak berguna jika sejarah keluarga kita tidak mengalir dalam darahmu," tegasnya. Ia menekankan bahwa Ali harus membaca sejarah kepahlawanan leluhur bukan melalui kitab-kitab berdebu di perpustakaan, melainkan melalui denyut nadi dan keberanian di dalam hati.

Kaukasus: Persimpangan Iman dan Pedang

Cerita novel Ali dan Nino karya Kurban Said ini melampaui batas romansa konvensional. Sebagai mikrokosmos dari pertautan budaya yang rumit di tanah Kaukasus. Di wilayah ini, setiap percakapan hampir pasti berakar pada tiga pilar: agama, politik, dan bisnis. Ketiganya berkelindan rapat ketika perang besar mulai menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakatnya.

Pertanyaan besarnya mungkinkah Timur dan Barat bersatu dalam pernikahan? Terutama saat kaum Muslim Syiah di Baku harus menghadapi dilema pahit menerima uluran tangan dari saudara seiman namun berbeda haluan, yakni Muslim Sunni.

Nino Kipiani, gadis Georgia Kristen dengan cakrawala pemikiran Eropa, membawa beban sejarah bangsanya yang kelam. Dengan lugas, ia menyuarakan kepahitan yang dipelajarinya, “Orang-orang Persia dan Turki merobek-robek negeri kita. Para Shah menghancurkan Timur, para Sultan menghancurkan Barat. Berapa banyak gadis Georgia yang menjadi budak, diseret ke harem-harem yang jauh..”

Ali Khan tidak menampik kenyataan tersebut. Sejarah mencatat bahwa harem di dunia Timur kala itu memang sesak oleh tawanan perempuan Kristen, sementara kota-kota di Kaukasia menjadi saksi bisu atas tragedi kemanusiaan yang menimpa mereka.

Meskipun Ali sempat melontarkan kalimat tajam yang mencerminkan dominasi masa lalu, "Aku seorang Muslim, kau seorang Kristen, kau diserahkan oleh Tuhan sebagai mangsa sah kami" dan ia memilih untuk melampaui ego sektarian tersebut demi cintanya kepada Nino.

Namun, ketenangan mereka segera diuji oleh badai sejarah. Kesultanan Turki Utsmani yang berhaluan Sunni, di bawah kepemimpinan Mehmed V, menyerukan perang melawan "orang-orang tak beriman". Pasukan Turki bergerak melintasi Baku untuk menantang supremasi Rusia dan Inggris. Situasi ini menciptakan turbulensi batin bagi warga Baku: Haruskah mereka hidup di bawah naungan Bulan Sabit Khalifah atau di bawah Salib Tsar?

Bagi kaum Syiah, keputusan ini bak simpul mati. Bertempur melawan Turki secara tidak langsung berarti memperkuat posisi Tsar Rusia yang telah menjajah mereka. Muncul pertanyaan eksistensial yang membakar nurani Ali Khan dan warga Baku, Haruskah mereka melindungi Salib Tsar demi melawan Bulan Sabit sang Khalifah?

Teheran: Penjara Tradisi dan Air Mata di Malam Karbala

Ketika fajar perang menyingsing dan Baku berubah menjadi palagan pertempuran, Ali Khan dan Nino melarikan diri ke Teheran. Namun, ibu kota Persia itu bukan sekadar tempat pengungsian, tapi adalah panggung benturan budaya yang jauh lebih tajam.

Di sana, Nino yang seorang Kristen Georgia menemukan dirinya terasing di tanah suaminya sendiri. Meski berstatus istri Ali, ketiadaan jilbab dan cadar membuatnya dicap "telanjang" oleh mata sosial yang menghakimi. Aturan ketat di Teheran kala itu bahkan melarang lelaki dan perempuan berjalan bersama di ruang publik, sebuah belenggu yang menyesakkan bagi jiwa Nino yang terbiasa dengan kebebasan Eropa.

Ketegangan mencapai titik kulminasi saat perayaan Muharam tiba. Rekan Ali, Syed Mustafa, menyarankan sebuah pengorbanan suci sebagai persembahan di Malam Husein, sebuah peringatan duka atas kematian syahid Husein di Karbala.

Nino menyaksikan dengan ngeri ritual tersebut. Melihat barisan pria yang mencambuki tubuh sendiri hingga bersimbah darah sebagai bentuk penebusan dan duka kolektif. Bagi Nino, pemandangan itu adalah manifestasi dari "kebiadaban" dan fanatisme yang tidak masuk akal. Di matanya, Ali Khan yang ia cintai seolah bertransformasi menjadi sosok asing yang mengerikan.

Dalam kerapuhan dan keterasingan yang memuncak, Nino melontarkan kalimat yang merangkum seluruh konflik batinnya, “Jangan begitu sedih, Ali Khan. Bukan kau benar yang kubenci. Tapi negeri aneh ini, dengan segala orang yang aneh ini.”

Pernyataan ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan pengakuan jujur tentang betapa sulitnya menjembatani dua dunia yang berbeda kutub. Di Teheran, cinta mereka tidak lagi hanya berhadapan dengan perbedaan agama, melainkan dengan tembok tebal tradisi yang menuntut penyerahan diri total.

Akhir yang Berdarah di Jembatan Ganja

Roda sejarah terus berputar dengan kejam di tanah Kaukasus. Baku, yang semula berada di bawah tumit Rusia, jatuh ke tangan Turki. Bagi ayah Ali Khan, pergeseran kekuasaan ini menandakan Baku telah menjadi bagian dari "Eropa" karena aliansi Turki dengan Inggris.

Di tengah transisi kekuasaan ini, Ali Khan menjabat sebagai atase Kementerian Luar Negeri Azerbaijan. Ia menerima mandat bergengsi untuk menjadi duta besar di Prancis. Namun, Ali menolak mentah-mentah. Baginya, dunia Barat adalah ruang asing dengan jalan-jalan yang aneh dan adat istiadat yang gersang. Cintanya tertambat mati pada atap-atap datar rumah Azerbaijan, luasnya gurun, deburan laut, dinding-dinding tua yang membisu, serta masjid-masjid yang tersembunyi di gang sempit.

Namun, Azerbaijan yang kaya akan minyak tak pernah dibiarkan tenang. Begitu pasukan Inggris ditarik, Rusia kembali mengintai bak serigala lapar. Serangan pecah saat Republik Azerbaijan baru saja seumur jagung. Batalion Rusia merangsek menuju Ganja (Gandsha), kota yang sesak oleh pengungsi dan keputusasaan.

Peta politik regional pun berubah drastis. Reza Pahlevi mulai mencengkeram Persia, sementara Mustafa Kemal Ataturk menghimpun kekuatan di Ankara. Di tengah kepungan raksasa, Republik Azerbaijan hanya memiliki waktu beberapa hari sebelum akhirnya ambruk.

Dalam deru peluru, Ali Khan teringat pada kakeknya, Ibrahim Khan Shirvanshir, yang gugur melawan tentara Tsar satu abad sebelumnya. Kini, sejarah menuntut tumbal yang sama. Warisan darah kepahlawanan yang pernah dipesan ayahnya kini benar-benar bergejolak di nadinya.

Kapten Iljas Beg akhirnya menemukan tubuh Ali Khan yang telah kaku di atas jembatan Ganja. Jasadnya terjatuh ke bantaran sungai yang mengering. Sebuah akhir yang tragis bagi sang bangsawan gurun. Di saku bajunya, terselip sebuah catatan harian, lembaran-lembaran yang kelak menjelma menjadi novel yang kita baca hari ini.

Ali Khan dikuburkan saat fajar menyingsing, tepat sesaat sebelum Rusia melancarkan serangan pemungkasnya. Republik Azerbaijan berakhir pagi itu, seiring dengan hembusan napas terakhir Ali Khan Shirvanshir. Cinta dan patriotisme akhirnya melebur dalam tanah Kaukasus yang keras.

Catatan Penutup: Identitas sebagai Medan Tempur

Membaca kembali narasi Ali dan Nino membawa kita pada sebuah perenungan mendalam: bahwa identitas sering kali merupakan medan tempur yang tak pernah usai. Kita kerap terjepit di antara tradisi yang menuntut pengabdian darah dan modernitas yang menuntut kepatuhan logika.

Meski wilayah Transkaukasia secara geografis bersinggungan dengan Eropa yang progresif, masa depannya justru sering ditentukan oleh anak-anak zamannya yang memilih tetap memeluk "Asia"—sebuah entitas yang mungkin dianggap reaksioner oleh Barat, namun menawarkan ketenangan batin dan akar yang menghujam kuat.

Keberanian sejati dalam novel ini bukan sekadar soal mengangkat senjata di garis depan. Keberanian itu mewujud dalam kejujuran untuk mempertahankan apa yang dicintai yang entah itu pasangan yang berbeda iman, tanah air yang sedang di ambang keruntuhan, hingga sesederhana keteguhan untuk membereskan "administrasi rumah" di tengah dunia yang sedang hancur lebur.

Di Persimpangan Batumi, kisah Ali Khan dan Nino Kipiani mengingatkan kita bahwa sejarah tidak pernah benar-benar mati. Hanya bersembunyi di balik monumen atau terselip di saku baju seorang prajurit yang gugur. Di tengah kepungan narasi besar tentang imperium dan perebutan ladang minyak, Kurban Said berhasil menyelundupkan sebuah kebenaran universal bahwa di balik setiap peta yang digambar ulang oleh para penguasa, ada jantung manusia yang berdegup kencang karena rindu dan harga diri.

Patung Ali dan Nino yang kini berdiri tegak di tepi pantai Batumi, yang bergerak saling mendekat lalu perlahan menjauh, adalah metafora sempurna bagi nasib manusia di Kaukasus. Dan mungkin seperti kita semua yang terus bergerak mencari titik temu di tengah perbedaan yang tajam, kadang menyatu dalam pelukan singkat, sebelum akhirnya dipisahkan kembali oleh garis nasib dan dinding ideologi yang tak kenal ampun.

Jika suatu waktu pergi ke Azerbaijan, karena ingin melihat Statue of Love, untuk merasa seperti Ali Khan yang mencintai Nino, atau mencintai kemandirian domestik adalah cara Ali Khan untuk tetap menjadi manusia di tengah mesin perang yang impersonal. Sebab ia membuktikan bahwa meski sebuah republik bisa ambruk dalam hitungan hari, sebuah prinsip dan rasa cinta sanggup melampaui usia negara itu sendiri, abadi dalam lembaran-lembaran buku bekas yang saya temukan di sebuah pameran buku murah di swalayan Jatinangor, Sumedang. (Sal)

Perspektif

Scroll