Aku terduduk diam di hadapan monitor tabung komputer Pentium 1 yang berdengung, seolah sedang merapal mantra sampai ke relung. Di sela keremangan ruang kamar kos, aku terjebak dalam renungan panjang pada satu nama yang kukenal sejak menonton Ada Apa Dengan Cinta. Sjuman Djaya, yang akhirnya kubaca karyanya, dalam lembar-lembar skenario “Aku” yang ia susun, sebuah tanya menghujam batinku. Mungkinkah aku menjangkau kaliber seorang Chairil Anwar? Mungkinkah jemariku mampu menari di atas papan ketuk untuk melahirkan diksi sekokoh miliknya?
Namun, sebuah tanya yang tentu lebih getir menyusul: haruskah aku menempuh ritme hidup yang serupa dengannya demi sebuah keabadian karya?
Bagiku, Chairil bukanlah sekadar penyair yang piawai menyusun kata menjadi rima yang manis. Ia adalah seorang martir zaman. Ia memaknai setiap jengkal waktu yang ia hadapi melalui lorong-lorong gelap kegetiran dan rasa lapar yang merajam lambung. Ia tidak menulis dengan tinta biasa. Tapi dirinya sebuah manifestasi hidup dari semangat "Binatang Jalang" yang ia lantangkan.
Chairil memilih luka sebagai tinta dan penderitaan sebagai darah bagi petualangan ruhaninya. Setiap baris puisinya adalah tetesan keringat dari tubuh yang ringkih dan dari jiwa yang meledak-ledak. Ia membuktikan bahwa karya yang besar seringkali lahir dari rahim hidup yang tidak berkompromi dengan kenyamanan. Di depan komputer tua ini, aku bertanya pada bayanganku sendiri akan sejauh mana aku berani terluka untuk sebuah kata?
Dari buku skenario “Aku” karya Sjuman Djaya, aku mengetahui kebiasaan Chairil yang gila. Setiap kali pulang larut malam, ia tidak langsung pergi tidur. Ia meneruskan begadang untuk membaca buku sampai pagi. Tak ayal, mata Chairil selalu merah karena kurang tidur. Mungkin itulah sebuah harga yang harus dibayar untuk sebuah kecemerlangan intelektual. Lalu bisakah aku seperti itu? Menghibahkan kesehatan fisik demi keabadian kata-kata?
Berat memang mengikuti jejaknya. Memang, .enghasilkan karya brilian bukan sekadar urusan merangkai rima. Untuk bisa menulis puisi yang bernyawa, seseorang harus intens dengan berbagai bidang kajian sosial, spiritual, dan segala lini keilmuan yang harus dijelajahi. Puisi adalah puncak dari segala genre sastra. Seperti yang diakui oleh budayawan Kuntowijoyo dalam berbagai diskusinya, bahwa menulis puisi itu tidak gampang. Puisi memerlukan sublimasi pengalaman dan kecerdasan yang melampaui teks biasa.
Namun, muncul pertanyaan mendasar: Bisakah aku berkompromi, lalu mampu menulis puisi sehebat Chairil dengan tetap menjaga kesehatan fisik? Bisakah menghindar tidak seperti Chairil yang hidup secara bohemian, hidup di jalanan, berpindah dari satu kamar kos ke kamar kos lain, sebagaimana Kahlil Gibran yang mencari makna dalam pengasingan?
Sepertinya, untuk bisa menulis puisi yang menggugah, seseorang harus mengalami dulu penderitaan, hidup terlunta-lunta, mengalami kere dan kelaparan di tengah-tengah rimba beton kota. Penderitaan adalah laboratorium kreativitas yang paling murni. Itu tidak bisa dinafikan. Meskipun memang, pada kenyataannya, banyak orang yang menulis puisi adalah mereka yang secara materi serba cukup dan hidup serba enak.
Mungkin bisa berkaca pada hidup Denny JA. Tapi apakah mungkin hasil karyanya akan semenggugah orang yang menulis berdasarkan pengalaman dirinya yang bergumul langsung dengan persoalan kemanusiaan yang sebenarnya? Akan tetap ada jurang antara "penyair salon" yang menulis keindahan dari balik jendela kaca permata dengan penyair yang menulis sambil menahan perih lambung yang kosong.
Menulis yang menggugah adalah menulis yang didasarkan pada pengalaman otentik. Di sini, kejujuran adalah harga mati. Menulis tidak boleh dibuat-buat, tapi harus apa adanya sehingga bisa menyingkap atau mengungkap realitas sejatinya persoalan kemanusiaan. Dalam tradisi filsafat Islam, aku mengenal metode Irfani atau ilmu Huduri, sebuah cara memperoleh pengetahuan melalui penyingkapan langsung (kasyf), melalui penyatuan antara objek dengan subjek. Jika aku tidak menyatu dengan penderitaan yang kutulis, mungkin tulisanku tidak akan sampai ke hati pembaca.
Lalu sekarang keinginan itu membuncah bahwa aku ingin bisa menulis puisi. Namun, sebuah gugatan muncul dari dalam batin. Apakah aku sudah benar-benar mengalami hidup menderita seperti mereka yang menderita lalu menuliskannya? Apakah cukup untuk bisa menulis hanya dengan terus latihan teknik saja? Bagaimana mungkin aku menghasilkan karya yang mumpuni kalau aku belum bisa memetakan masalah secara benar?
Memang, menulis tidak selalu harus memberikan solusi absolut. Menulis juga bisa dilakukan sekadar untuk mengangkat tema besar agar direspons oleh publik. Inilah mungkin yang bisa kucoba sebagai langkah awal. Menulis untuk sekadar memantik persoalan secara permulaan. Bukan bermaksud menjabarkan solusi rumit. Meski sadar akan risikonya kala hasilnya mungkin akan terasa kurang berisi, kurang berbobot dan menusuk jantung persoalannya.
Seringkali aku terjebak dalam dilema antara menulis yang tidak mensyaratkan penguasaan mutlak atas pelbagai macam hal. Seperti urusan agama, filsafat, sosiologi, geografi, dan kajian humaniora lainnya yang tidak perlu aku kuasai dengan lebih dalam. Tapi realitanya bahwa tulisan yang berbobot selalu lahir dari rahim penulis yang pengetahuannya beragam dan luas.
Karenanya beragam keilmuan harus terus aku pelajari sambil mencari fokus pada satu titik pandang. Apapun medianya harus kubaca dan tentu media yang tersedia dan terjangkau saja. Jika ingin menguasai berbagai disiplin keilmuan, aku tak boleh pilih kasih. Membaca tidak hanya yang menarik minatku saja, seperti soal Keislaman dan Keindonesiaan yang memang harus dipelajari dengan lebih intens.
Tetapi, godaan untuk instan selalu ada. Bagaimana agar tulisan semakin berisi tanpa melalui proses demi proses yang panjang? Aku ingin hasil yang langsung jadi. Ironisnya, aku sudah membaca dan mengumpulkan ratusan buku, namun ternyata belum jua bisa memfinalkan satu pun karya. Gagasan masih menggantung di awang-awang, dan aku bingung harus memulai dari mana. Keinginan hanyalah tinggal keinginan yang berdebu di rak buku ingatan kepalaku.
Aku sadar, aku masih sebatas baru memulai. Masih begini saja caraku menulis. Masih terjebak dalam rutinitas kata yang itu-itu saja. Aku belum beralih ke eksplorasi yang lebih jauh, dan entah akan jadi apa dengan model tulisan harian seperti ini. Padahal, jujur saja, tujuannya menulis terkadang didorong oleh keinginan praktis: ingin punya honor. Meskipun banyak sastrawan mengatakan itu tidak salah, namun tetap saja ada yang mengganjal.
Belum mampu menelurkan karya, karena aku merasa belum sepenuhnya menguasai sesuatu. Merasa ilmu ini belum cukup. Tapi sampai kapan aku begini saja? Sampai kapan aku akan terus memelihara krisis kepercayaan diri ini?
Ketidakpercayaan diri itu nyata. Seperti kemarin saja, saat ditawari mengisi acara di kajian kuliah untuk membahas tema Syahadatain, aku tidak menyanggupinya. Muncul ketakutan hebat antara takut disangka memberikan pemahaman yang sesat, atau lebih sederhana lagi, karena aku memang tidak cakap berbicara di depan orang banyak.
Dalam sebuah perkumpulan, aku adalah sosok yang lebih banyak diam. Aku lebih suka mendengarkan dengan khidmat tanpa berkomentar apa-apa. Lidahku kelu, sementara pikiranku riuh. Jadinya entah kapan aku akan cakap menulis sekaligus cakap berbicara. Mungkin, tunggu saja, pasti aku bisa. Lalu kapan realisasinya?
Ya, harap tunggu saja. Aku berjanji akan membuat sebuah gebrakan. Sebenarnya, mungkin langkahnya sederhana: aku bisa mulai mengirim tulisan ke koran atau majalah. Ruang publikasi tersedia luas bagi siapa saja, termasuk buat kaum pemula. Namun, selama ini aku belum pernah sekalipun mengirimkan tulisan. Padahal jika menulis cerpen, esai, atau puisi ala-kadarnya yang dikirimkan masih terasa begitu berat. Jika hal itu berat, ada alternatif lain dengan menulis artikel ringan yang mencerahkan.
Ataukah sebenar masalahnya bukan pada kemampuan, melainkan semangat? Semangat yang kurang membuatku tidak satupun tema berhasil kuselesaikan. Padahal banyak orang menulis untuk mencerahkan pikiran dunia. Sementara aku masih berkutat pada teknis dan keraguan. Jika kubaca sejarah tokoh-tokoh tempo dulu, mereka yang hidup di zaman perjuangan pra dan pasca kemerdekaan, adalah para pemuda yang memiliki api menyala untuk melepaskan belenggu penjajahan. Lantas aku, yang hidup di abad pascamodern ini, di mana Indonesia telah puluhan tahun merdeka, ternyata masih belum bisa berbuat apa-apa.
Ada fakta yang menamparku saat kubaca bahwa di usia 23 tahun, Soekarno sudah memimpin pergerakan dan Sjuman Djaya sudah menghasilkan karya-karya yang mengguncang. Sedangkan aku? Aku masih belum menjadi bagian dari lokomotif pejuang bangsa, bahkan dalam skala menghidupkan literasi sekalipun. Sebagai seorang Muslim, pertanyaan ini pun mengusik: apakah aku sudah ber-Islam dengan benar? Jika keberadaanku belum memberi manfaat bagi orang lain melalui tulisan, setidaknya adab Islam harus diperjuangkan.
Pikiranku benar-benar kacau sekarang gara-gara membaca “Aku”-nya Sjuman Djaya. Ada keinginan untuk berlaga tegar seperti Chairil, atau menjadi sosok yang puitis seperti Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta. Tapi biarlah. Biarlah jika aku harus menjadi pribadi yang melankolis. Namun, aku ingin menjadi melankolis yang idealis. Bukankah mereka yang melankolis biasanya adalah para idealis yang menyimpan harapan besar di balik kesunyiannya?
Sudah, itu saja dulu. Esok hari, biarkan sekali lagi berbicara yang itu-itu lagi. (Sal)