Peran ilmu kosmologi menjadi semakin penting ketika manusia modern berhadapan dengan kecenderungan pemutlakan kebenaran. Baik dalam bentuk fundamentalisme agama maupun saintisme yang menyingkirkan dimensi makna.
Dalam salah satu bab buku yang dibahas, Ibu Karlina Supelli menekankan pentingnya mengenali ciri antropologis ilmu pengetahuan sebagai upaya membendung laju pemutlakan tersebut, yang dalam sejarahnya telah melahirkan ekstremisme, kekerasan simbolik, hingga terorisme.
Melalui kosmologi, kita diajak melampaui kesadaran akan keberhinggaan manusia, terutama dalam menghadapi ketegangan-ketegangan yang muncul akibat spesialisasi ilmu yang terlampau sempit.
Selama ini, perdebatan kerap berlangsung secara biner: antara agamawan dan saintis, antara iman dan rasio, antara teori evolusi Darwin dan teori penciptaan (creation). Masing-masing berdiri di wilayahnya sendiri, saling curiga, bahkan saling meniadakan.
Secara tradisional, manusia mengkaji realitas melalui empat ranah utama keilmuan. Pertama, pengkajian Tuhan melalui metafisika, teologi, tafsir, dan hadis. Kedua, pengkajian alam melalui fisika dan kimia. Ketiga, pengkajian jiwa manusia melalui psikologi dan ilmu-ilmu formal seperti matematika. Keempat, pengkajian hubungan antar-ranah tersebut dalam usaha membangun pemahaman menyeluruh tentang realitas, dan di sinilah kosmologi mengambil peran penting.
Masalah muncul ketika kosmologi direduksi dan sepenuhnya diserahkan kepada ilmu-ilmu alam semata. Dalam konteks inilah lahir apa yang disebut sebagai Kosmologi I: kosmologi yang tercerabut dari refleksi metafisis dan antropologis, dan pada titik kulminasinya melahirkan ateisme. Pergeseran sejarah pemikiran Barat dari the age of faith ke the age of reason, lalu menuju the age of interpretation, menandai perubahan radikal dalam cara manusia memahami kebenaran.
Dalam fase terakhir ini, muncul klaim yang terkenal sekaligus problematis: "tidak ada fakta, yang ada hanyalah penafsiran." Klaim ini seolah meniadakan kebenaran objektif, namun ironisnya, pernyataan tersebut sendiri tidak lebih dari sebuah penafsiran. Ketika agama, khususnya dalam sejarah Kristen Barat, dianggap gagal memberi jawaban atas kegelisahan manusia modern, lahirlah kritik-kritik tajam terhadap agama. Nietzsche mendeklarasikan "kematian Tuhan", Feuerbach menyatakan bahwa agama hanyalah proyeksi diri manusia, Karl Marx menyebut agama sebagai candu, Freud melihatnya sebagai ilusi psikologis, dan Sartre menegaskan absurditas eksistensi tanpa Tuhan.
Gelombang kritik ini melahirkan ateisme dan agnostisisme generasi pertama yang secara intelektual sangat kuat. Namun sejarah tidak berhenti di sana. Ketika fundamentalisme agama semakin masif dan menjelma menjadi kekerasan nyata, yang membuat manusia di berbagai belahan dunia tak lagi merasa aman, muncullah ateisme dan agnostisisme gelombang kedua, yang digawangi oleh tokoh-tokoh seperti Christopher Hitchens, Daniel Dennett, Richard Dawkins, dan Sam Harris. Agama kembali diserang, kali ini bukan hanya sebagai ilusi, tetapi sebagai ancaman bagi kemanusiaan.
Lalu, mengapa pemutlakan, baik dalam agama maupun sains terus berulang? Salah satu jawabannya terletak pada krisis epistemologi. Dalam the age of interpretation, epistemologi diturunkan derajatnya dan digantikan oleh bahasa. Realitas yang seharusnya dipahami secara terbuka dan dialogis, diciutkan menjadi pesan-pesan dogmatis. Ketika satu penafsiran menjadi dominan, apalagi disokong oleh kekuasaan dan senjata, maka yang lahir adalah penindasan, perburuan, dan pembunuhan terhadap mereka yang berbeda tafsir.
Kita mengenal gejala ini di berbagai tradisi. Dalam Islam, pemutlakan sering muncul dari pendekatan bayani yang terlalu tekstual dan fiqh-oriented. Dalam Kekristenan, ia tampak pada fundamentalisme konservatif. Di sisi lain, saintisme ekstrem juga tidak kalah problematis, seperti klaim Stephen Hawking yang mempostulatkan bahwa alam semesta tidak menyisakan ruang bagi Tuhan. Dua kutub ini sama-sama jatuh pada absolutisme.
Di sinilah urgensi mempelajari Kosmologi II: kosmologi yang ditempatkan di wilayah perbatasan. Kosmologi ini tidak bertugas menetapkan kebenaran final, melainkan membangun jembatan dialog antara kaum dogmatis dan kaum empiris. Pengetahuan dipahami bukan sebagai kepemilikan mutlak atas kebenaran, melainkan sebagai pengertian (erkennen), adalah sebuah usaha manusia yang selalu terbuka untuk dikritik dan diperbarui.
Para ilmuwan besar masa lalu sangat berhati-hati dalam melekatkan kata "benar" pada teori-teori mereka. Mereka sadar bahwa setiap temuan berdiri di atas asumsi dan postulat tertentu, yang suatu saat bisa digugat oleh penemuan baru. Sebaliknya, mereka yang gemar memutlakan teori atau doktrin sering kali lupa bahwa pengetahuan selalu lahir dari konteks sosial, budaya, dan historis tertentu.
Dengan mengenali ciri antropologis pengetahuan, serta melalui sejarah kritis sains dan agama, kita belajar bahwa teori-teori yang diwariskan sering diperlakukan seolah-olah telah bebas dari asumsi dasarnya. Di sinilah bahaya dogmatisme intelektual mengintai.
Kosmologi, dalam pengertian ini, menawarkan jalan tengah. Ia adalah ilmu empiris, tetapi rahim kelahirannya merupakan perkawinan panjang antara mitos, agama, dan filsafat. Ia bergerak di perbatasan: antara kecermatan spesialisasi dan keberanian memahami keterhubungan antar-bidang, antara penguasaan jagat-jagat kecil, dan usaha memahami keseluruhan realitas.
Namun Ibu Karlina Supelli dengan sengaja berhati-hati menggunakan istilah "holistik". Ia menolak pendekatan serampangan yang sekadar mencocok-cocokkan konsep lintas disiplin tanpa keketatan metodologis. Pendekatan transdisipliner menuntut disiplin nalar yang tinggi, agar tidak terjatuh pada permainan kata, manipulasi metode, dan akhirnya kembali pada klaim kebenaran mutlak yang berujung pada kekerasan simbolik maupun fisik.
Dalam konteks umat Islam, persoalan semakin rumit ketika langkanya muhaqqiq, intelektual yang mengalami dan menghayati ilmu secara mendalam. Ketika intelek tidak dioptimalkan, nash-nash Al-Qur'an mudah dicelupi oleh ideologi dan kepentingan sempit. Padahal Al-Qur'an berdiri jauh di atas ideologi apa pun.
Fenomena "kembali ke agama" sering kali tidak dibarengi dengan pendalaman intelektual. Agama hadir di permukaan, tanpa kedalaman makna. Ketidaksadaran akan pentingnya ilmu intelek inilah yang menyumbang krisis berlapis: krisis makna, krisis etika, dan krisis kemanusiaan, yang tidak hanya dialami umat Islam, tetapi umat manusia secara keseluruhan.
Maka refleksi akhirnya kembali kepada kita. Ketika modernisme dibayar dengan hilangnya tradisi, ketika rasionalitas kering menyingkirkan makna, dan ketika agama kehilangan kedalaman intelektualnya, kita kerap hanya terdiam dan linglung.
Barangkali, melalui kosmologi, sebagai ilmu perbatasan yang rendah hati dan dialogis, kita diajak belajar kembali: bahwa kebenaran bukan untuk dipertengkarkan hingga saling memusnahkan, melainkan untuk dirawat bersama dalam kesadaran akan keterbatasan manusia itu sendiri.(Sal)