Atas nama jiwa, barangkali inilah pelajaran paling mendasar yang perlu kita perhatikan kembali: mengenali jiwa dan struktur-strukturnya, sebagaimana selama ini kita dengan tekun mengenali tubuh dan perangkat indra kita.
Kita hafal letak mata, telinga, jantung, paru-paru, bahkan memahami cara kerjanya melalui ilmu pengetahuan modern. Namun jiwa, yang justru menjadi inti dari keberadaan kita sering kali dibiarkan samar, tak terurus, bahkan dilupakan.
Maka setelah kita terbiasa melakukan olah raga demi kebugaran tubuh, sudah sepatutnya kita belajar melakukan olah jiwa. Sesudah mendatangi salon kecantikan raga dan wajah, barangkali kita juga perlu menyediakan waktu dan kesungguhan untuk memperhalus kecantikan jiwa.
Sebab dalam khazanah spiritual Islam, jiwa yang tenang atau nafs mutmainnah, itulah yang disebut paripurna: jiwa yang sampai kepada Tuhan, dan darinya mengalir apa yang bisa kita sebut sebagai kebahagiaan murni, bukan kebahagiaan semu atau “kaleng-kaleng”.
Ilmu pengetahuan memberi kita gambaran yang menarik tentang raga. Dalam biologi, indra seperti mata dan telinga itu tersusun atas organ, organ tersusun dari jaringan, jaringan tersusun dari sel. Selanjutnya, dengan bantuan fisika modern, kita tahu bahwa sel tersusun dari atom, atom terdiri dari inti dan elektron, inti terdiri dari partikel-partikel elementer seperti proton dan neutron. Bahkan lebih jauh lagi, semua itu pada akhirnya dipahami sebagai quanta: istilah ilmiah untuk vibrasi atau getaran energi.
Dengan demikian, tubuh yang kita anggap padat dan nyata ini, bahwa daging, tulang, dan darah yang kita banggakan, pada hakikatnya hanyalah getaran, adalah vibrasi energi yang terus bergerak. Dari sini muncul pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh sains semata: energi itu apa, digetarkan oleh siapa, dan bergerak dalam irama seperti apa? Apakah seperti gempa yang mengguncang, atau seperti rangkaian gambar dalam film yang bergerak sehingga membentuk alur cerita—takdir tentang hidup kita?
Manusia, dengan segala keberadaan ragawinya, barangkali lebih tepat diibaratkan sebagai nada-nada dalam sebuah lagu. Nada bisa indah, bisa sumbang, tetapi ia tak pernah berdiri sendiri. Nada hanya ada ketika ada lagu yang dinyanyikan. Maka ingatlah: kita hanyalah nada, nada yang tak akan pernah ada jika tidak ada yang menyanyikan lagu tentang kita.
Dan ketika sebuah lagu mampu menggetarkan sukma, seharusnya ingatan kita tidak berhenti pada nadanya semata, melainkan sampai kepada penyanyinya—bahkan kepada sang komponis yang mencipta dan mengatur seluruh harmoni itu.
Jika struktur raga dapat kita kategorikan dengan bantuan biologi dan fisika, lalu bagaimana dengan struktur jiwa? Dalam psikologi Islam, yang saya pahami masih dengan keterbatasan, bahwa jiwa memiliki lapisan dan dimensi. Ada Nafs (jiwa sebagai potensi), Sadr (lapang atau sempitnya dada), Aql (akal), Qalb (hati yang berbolak-balik), Fuad (nurani yang terdalam), dan Lubb (akal yang telah disinari iman).
Para ulama kerap memberi perumpamaan indrawi agar kita mudah memahami konsep-konsep ini. Nafs diibaratkan seperti mata sebagai indra. Bagian putih mata adalah Sadr, pupil hitamnya adalah Fuad, cahaya penglihatan adalah Lubb. Mata sebagai organ yang sedang bekerja disebut Qalb, sementara potensi untuk melihat itulah Nafs. Dengan kata lain, Nafs adalah kesiapan, sedangkan Qalb adalah aktualisasi.
Memahami perbedaan ini penting. Mudahnya, Qalb diibaratkan raja, sementara Nafs adalah kerajaannya. Baik buruknya perilaku seseorang amat bergantung pada Qalb-nya. Ketika mata digunakan untuk menikmati keindahan alam atau justru untuk mengintip sesuatu yang dilarang, di situlah kualitas Qalb diuji. Bila Qalb baik, baiklah perilaku; bila Qalb rusak, rusak pula perangai.
Sejalan dengan pemahaman bahwa raga hanyalah vibrasi energi, Al-Ghazali menegaskan bahwa hakikat manusia sesungguhnya satu: Nafs atau jiwa. Jiwa inilah yang kelak dimintai pertanggungjawaban.
Jiwa pula yang terus bergerak, bergetar, dan mengalami perjalanan spiritual, yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai maqam-maqam Nafs: dari Nafs Amarah yang cenderung pada dorongan rendah, naik ke Nafs Lawwamah yang mulai menyesali, ke Nafs Mulhimah yang memperoleh ilham, hingga puncaknya Nafs Mutmainnah, jiwa yang tenang dan diridhai Tuhan sebagaimana disebut dalam Surah Al-Fajr ayat 27.
Dalam perspektif ini, raga seakan-akan “ada” hanya sebagai akibat, sebagai bayangan dari perjalanan jiwa. Yang sungguh bergerak adalah Nafs, berpindah dari satu maqam ke maqam lain, menempuh perjalanan batin yang panjang.
Namun mengapa pembicaraan tentang jiwa kerap kalah pamor dibandingkan pembicaraan tentang raga? Padahal dalam lagu kebangsaan kita jelas dikatakan, “Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya.” Mungkinkah ini akibat dominasi filsafat materialisme, atau karena perhatian manusia modern terlalu terarah pada apa yang kasatmata dan terindra?
Saya pun tak luput dari pertanyaan itu. Mengapa kita—termasuk saya tentu saja, sering lebih sibuk mengejar rumah besar dan kendaraan mewah, ketimbang berusaha memahami jiwa agar lebih lapang, sabar, dan matang menghadapi liku-liku hidup. Dan adilkah jika kita hanya menyalahkan Barat, seolah-olah merekalah penyebab hilangnya dimensi ruhani dari kesadaran kita?
Barat memang mengembangkan logos dan menyingkirkan mitos, hingga realitas didefinisikan semata-mata sebagai apa yang terindra. Dalam kerangka itu, sesuatu yang tak bisa disentuh dianggap lemah status ontologisnya—bahkan Tuhan pun dipertanyakan, disangkal, atau disebut candu. Sebaliknya, filsafat Islam justru menempatkan yang terindra sebagai berstatus ontologis lemah, sementara realitas non-material seperti Tuhan, malaikat, akal dipandang lebih kuat dan lebih hakiki.
Ironisnya, kita yang mengaku beragama sering kali hanya mempraktikkan ajaran ini setengah-setengah. Padahal Islam dan peradabannya telah mewariskan khazanah filsafat dan psikologi jiwa yang kaya sebagai way of life. Jiwa manusia, dan kebahagiaannya, semestinya menjadi pusat perhatian.
Karena itulah pembahasan tentang buku ini, meski hanya sebagai pengantar, menjadi penting. Ia mengingatkan kita bahwa kesehatan jiwa kerap diabaikan. Bahwa sakit jiwa tidak hanya menimpa individu, melainkan juga bisa menjangkiti secara kolektif sebuah bangsa.
Dan barangkali, sebelum kita sibuk membangun raga, ekonomi, dan infrastruktur, ada satu pekerjaan sunyi yang lebih mendesak: membangun jiwa, agar kita tidak tumbuh besar sebagai tubuh-tubuh kuat tapi jiwa yang rapuh.
Sebab pada akhirnya, yang pulang bukanlah raga, melainkan jiwa. Dan perjalanan terpanjang manusia bukanlah dari rumah ke tempat kerja, melainkan dari kegelisahan menuju ketenangan.(Sal)