Sukacita Sains: Antara Pola Alam dan Keyakinan Manusia

Buku tipis ini menjadi semacam pengantar awal untuk memasuki dunia sains. Semacam pintu kecil...

Sukacita Sains: Antara Pola Alam dan Keyakinan Manusia

20 Jan 2026
270 x Dilihat
Share :

Sukacita Sains: Antara Pola Alam dan Keyakinan Manusia

Buku tipis ini menjadi semacam pengantar awal untuk memasuki dunia sains. Semacam pintu kecil menuju lorong panjang pendalaman pengetahuan manusia tentang semesta. Ia bukan buku tebal yang menggurui, melainkan bacaan ringkas yang mengajak pembaca berpikir ulang tentang apa itu sains, bagaimana ia bekerja, dan mengapa ia sering disalahpahami.

Buku ini adalah karya kedua yang kubaca dari seorang penulis kelahiran Baghdad yang kemudian tersohor di Britania Raya sebagai “marketer sains”. Seorang penjelas yang piawai menerangkan apa yang selama ini dianggap rumit, atau bahkan menakutkan, oleh banyak orang. Terutama bagi mereka yang masih menerka-nerka: apa sebenarnya, atau apa gunanya sains, selain sekadar membuat sebagian orang menjadi “silent” ketika berhadapan dengan agama?

Ironisnya, banyak orang menampik sains secara retoris, tetapi dalam praktik hidup sehari-hari justru menikmati hasil-hasilnya tanpa ragu. Selama seseorang merasa nyaman menggunakan telepon genggam, menjelajah internet, atau bergantung pada teknologi medis, sejatinya ia sedang hidup dalam apa yang bisa disebut sebagai sukacita sains. Sains hadir diam-diam, bekerja tanpa perlu disembah, tetapi memberi dampak nyata.

Dalam pandangan penulis buku ini, sains dapat dipahami sebagai penerus, atau setidaknya pewaris fungsi agama dalam satu hal penting: menyibak misteri dunia dan kosmos. Jika agama dahulu memberi kerangka makna tentang asal-usul dan tujuan hidup, maka sains hadir dengan seperangkat metode untuk memahami bagaimana alam semesta bekerja. Keduanya sama-sama lahir dari dorongan manusia untuk memahami realitas.

Namun, perjumpaan antara sains dan agama kerap melahirkan disonansi kognitif. Ketika kebenaran agama tidak sejalan, atau bahkan bertentangan dengan temuan sains, manusia dipaksa berhadapan dengan ketegangan batin. Meski demikian, sesungguhnya pula bahwa otak manusia sejatinya cukup terbiasa dengan kontradiksi. Menerima sains dan menerima agama sekaligus bukanlah hal yang mustahil. Banyak orang melakukannya, meski sering tanpa refleksi yang jujur.

Persoalannya terletak pada ranah keduanya. Sains adalah wilayah pembuktian, pengujian, dan verifikasi. Agama, sebaliknya, berada dalam ranah keyakinan dan kepercayaan. Barangkali, jika agama semestinya dikembalikan pada bentuknya yang paling murni, yaitu kedudukannya yang sejajar dengan sains sebagai kisah pencarian manusia (sapiens) dalam menemukan pola-pola keteraturan semesta.

Namun sains berurusan juga dengan pola yang “apa adanya”: realitas sebagaimana ia bekerja, tanpa pretensi moral. Agama, di sisi lain, telah menciptakan atau mengembangkan pola tentang “yang seharusnya”: bagaimana manusia sebaiknya hidup, demi kohesi sosial dan keteraturan moral. Para penemu pola itulah yang kemudian tampil sebagai penyampai risalah.

Dalam kerangka ini, kedudukan nabi atau bodi dalam agama dapat disejajarkan secara fungsional dengan apa yang bisa disebut sebagai “nabi-nabi sains”. Darwin, Einstein, Schrodinger, dan nama-nama besar lainnya adalah mereka yang berhasil menguak hakikat alam (nature) dan kewujudan (eksistensi) semesta melalui penyingkapan hukum-hukum dasarnya.

Perbedaan antara sains dan agama, barangkali, lebih tepat dipahami sebagai perbedaan kerangka acuan saja. Ibarat kecepatan bola yang dilempar keluar dari jendela mobil yang sedang melaju: bagi orang di dalam mobil, kecepatannya tampak berbeda dibandingkan bagi orang yang duduk diam di pinggir jalan. Realitas yang sama, tetapi perspektif yang berbeda.

Meski demikian, tidak sedikit yang menolak kesetaraan semacam itu. Ada pandangan yang tegas mengatakan: buang saja paradigma agama, karena ia memiliki keterbatasan serius dalam menilai realitas objektif. Sains, menurut pandangan ini, adalah satu-satunya jalan menuju kebenaran objektif tentang dunia. Sementara agama atau ideologi sering kali terselubungi oleh lapisan asumsi, miskonsepsi, bias, dugaan, angan-angan, bahkan hiperbola.

Bahkan, maksud sang penulis buku ini pun tampak jelas hendak menegaskan bahwa sains memang berbeda secara mendasar dari agama atau ideologi. Agama dan ideologi cenderung menyimpan banyak “residu” sebagai keyakinan lama yang terus dipelihara meski konteks sosial dan pengetahuan telah berubah jauh.

Contoh konkret terlihat ketika dunia menghadapi wabah Covid-19. Alih-alih membantu memperjelas keadaan, sebagian pemeluk agama justru memperkeruh apa yang telah ditemukan dan dianjurkan oleh sains. Ketika sains menyarankan social distancing, sebagian agamawan (abal-abal) justru berkata, “Hidup sudah diatur Allah. Covid hanyalah produk konspirasi global China atau Amerika untuk menguasai bisnis dunia.” Narasi semacam ini sering digaungkan oleh agitator yang mengatasnamakan nasionalisme tulen.

Demikian itu, sejarah kemudian telah membuktikan kegunaan sains. Wabah Covid dapat diatasi relatif cepat berkat pengembangan vaksin dan pemahaman ilmiah tentang virus. Bandingkan dengan wabah Black Death yang menghabiskan hampir setengah populasi Eropa, pada masa ketika sains modern belum berkembang secara matang. 

Menariknya, penulis buku ini seakan menarik ingatan kita lebih jauh ke belakang: bahwa sains modern tidak bermula di pusat-pusat Eropa, melainkan telah lebih dahulu dirintis oleh seorang ilmuwan Arab, Ibnu Haitam, jauh sebelum Barat menyebut dirinya mengalami aufklarung.

Buku ini memang diawali dari situasi genting dunia saat dilanda Covid-19, sebuah krisis global yang perlahan dapat diatasi berkat kehadiran sains. Namun, bahkan pernyataan bahwa wabah “diatasi karena sains” pun, bagi mazhab agama tertentu, bisa dianggap sebagai perbuatan syirik, seolah menggeser peran Tuhan dari pusat penjelasan.

Di titik inilah buku ini menjadi reflektif. Kebenaran dalam agama sering kali bersifat bebal, mungkin karena dianggap final dan datang langsung dari Tuhan. Padahal, dalam praktik sejarahnya, banyak bagian agama merupakan hasil konstruksi sosial. Inilah perbedaan mendasar antara agama dan sains. Sains melalui metode ilmiahnya memberi ruang bagi keraguan dan ketidakpastian. 

Namun, bagi seorang saintis, ketidakpastian bukanlah sinonim dari ketidaktahuan. Kepastian justru berarti berkurangnya ketidakpastian setelah pengujian yang berulang dan dapat direproduksi. Ketidakpastian adalah ruang kewaspadaan, sebuah sikap mental yang membebaskan manusia dari belenggu dogma, sekaligus menjaga kerendahan hati di hadapan realitas yang selalu lebih luas dari pemahaman kita.

Di sanalah, barangkali, letak sukacita sains yang sesungguhnya: bukan pada klaim kebenaran mutlak, melainkan pada keberanian untuk terus bertanya, menguji, dan memperbarui pemahaman, tanpa rasa takut kehilangan makna. (Sal)

Perspektif

Scroll