Liturgi Pualam: Dari Tasik ke Jakarta

Mula-mulanya hanyalah sebuah ritus kecil yang nyaris tak kusadari. Samudera dan Asia Plaza di...

Liturgi Pualam: Dari Tasik ke Jakarta

28 Des 2025
203 x Dilihat
Share :

Liturgi Pualam: Dari Tasik ke Jakarta

Mula-mulanya hanyalah sebuah ritus kecil yang nyaris tak kusadari. Samudera dan Asia Plaza di Tasikmalaya menjadi altar pertama, tempat aku belajar mengenal kilau dan janji dewasa. Saat itu aku belum tahu, langkah-langkah sederhana itu kelak akan memanjang, menyeberangi kota-kota, dan menjelma kebiasaan. 

Dari BIP dan Ramayana di Bandung Raya hingga labirin pualam Plaza Indonesia, aku berjalan membawa tubuh yang sama, dengan pertanyaan yang sejak awal tak pernah benar-benar berubah sejak pandangan pertama pada jelaga dan cahaya.

Jakarta menyusun menara-menara itu dengan rapi dan percaya diri: Grand Indonesia, Taman Anggrek, Pondok Indah, Blok M. Aku naik-turun eskalator seperti seseorang yang sengaja menunda pulang. Mungkin suatu hari Pakuwon Mall akan menyerap sisa langkahku, menelan waktu yang makin rapuh dan saku yang kian menipis.

Pada malam hari, aku berdiri menatap gedung-gedung pencakar langit di kawasan Sudirman. Di ruang-ruang cahaya yang terkotak-kotak, waktu terasa ditangguhkan: tak bergerak, tapi juga tak memberi ruang untuk berpikir. Setiap kali pintu kaca otomatis terbuka, disambut senyum penjaga dan lampu halida, selalu ada sesuatu yang menyelinap ke bawah kulit, merambat ke kepala.

Ia bukan takjub, bukan pula kegembiraan. Barangkali ia hanyalah letih yang sulit diberi nama. Letih yang berdiam di tumit yang menapak lantai swalayan yang dingin, dan dalam gema itu terdengar kembali suara lama: suara tubuh yang dipertemukan dengan etalase modernisme yang angkuh, licin, dan seolah tak pernah bertanya apakah aku sungguh membutuhkan semua ini.

Cahaya di sini tidak menerangi; ia membutakan. Aku kerap berdiri di bawah lampu-lampu itu sambil bertanya dalam hati: apakah aku masih hadir, atau hanya bayangan yang dipantulkan kaca dan halida? Kesepian pun bekerja perlahan, seperti jarum yang tekun menenun jubah kesedihan, menjahit sunyi tepat di ulu hati.

Aku tahu, andai seluruh isi mal kuhidangkan di atas meja makan, rasa lapar tak akan pernah selesai. Namun aku tetap masuk, tetap berjalan, seolah berharap kali ini akan berbeda, untuk terakhir kalinya berbelanja. Barangkali karena aku mulai curiga: aku tidak sedang membeli barang. Aku sedang menyuapi lubang tanpa tepi yang bernama keinginan. Aku berbelanja bukan untuk memiliki, melainkan untuk menunda sesuatu yang lebih menakutkan: kepunahan makna.

Utang-utang yang lunas tak pernah memberiku rasa selesai. Ia hanya menjadi jeda singkat. Waktu terbatas untuk kembali mengasah pisau hasrat agar tetap tajam. Dan aku sering menyebut semua ini sebagai pilihan, bahkan kebebasan. Padahal, semakin lama terasa jelas: aku hanya berpindah dari satu belenggu ke belenggu lain yang lebih berkilau.

Kemajuan datang sebagai tawaran yang nyaris mustahil ditolak. Aku menebus kemerdekaan, hanya untuk menjualnya kembali pada diskon-diskon yang menjanjikan surga instan. Di sanalah aku belajar: harga sering kali lebih jujur daripada janji. Dari ambisi yang sama, kebutuhan disulap menjadi sembahyang harian, dan sembahyang itu perlahan membeku menjadi dogma dingin: belanja atau sirna.

Kelak, setelah aku mati, saat napas ini benar-benar menjadi sunyi, aku tahu mal-mal itu akan tetap tegak berdiri. Mereka akan terus bersemi seperti jamur beracun yang tumbuh dari bangkai waktu, mekar subur setelah hujan air mata. Aku membayangkan diriku di bawah tanah yang senyap, sementara di atasnya mesin-mesin ekonomi tetap menderu. Proses ekstraksi takkan berhenti, terus menghisap sisa-sisa kemanusiaan dari jiwa-jiwa yang mati sebelum waktunya.

Di atas pusaraku yang dingin, keringat masih ditagih, tenaga masih disedot, dan seolah kematian pun belum cukup untuk membebaskan manusia dari perhitungan. Mungkin karena itulah aku menulis ini: sebagai upaya kecil untuk berhenti sejenak, menoleh ke dalam, dan bertanya di antara segala kilau itu: apa yang sebenarnya sedang kucari, dan apa yang perlahan sedang kuhancurkan dalam diriku sendiri. (Sal)

Perspektif

Scroll