Mocopat Syafaat

Malam di Yogyakarta selalu memiliki lapisan-lapisan yang sulit ditebak, seperti kain tipis yang...

Mocopat Syafaat

13 Jan 2026
257 x Dilihat
Share :

Mocopat Syafaat

Malam di Yogyakarta selalu memiliki lapisan-lapisan yang sulit ditebak, seperti kain tipis yang disusun berlapis-lapis di atas bidang dada sebuah kota. Di permukaannya, ia tampak seperti kota biasa: lalu lintas yang mulai mengendur namun belum benar-benar tidur, suara pedagang angkringan memanggil pembeli dengan nada setengah malas, setengah pasrah, dan bau sate yang terbakar di arang basah, menyelinap ke sela-sela napas. 

Semua itu terasa akrab, nyaris klise. Namun di balik keramaian yang tampak itu, ada bayangan lain yang tak bisa ditangkap mata. Bayangan yang hanya bisa dirasakan oleh dada yang sedang kosong, oleh telinga yang siap mendengar lebih dari sekadar bising kendaraan. Malam seperti ini tidak meminta perhatian, tapi menunggu untuk disadari.

Aku dan Elisa berdiri menunggu bus di sebuah halte kecil, bersama beberapa penumpang lain yang wajahnya menyimpan tujuan masing-masing. Lampu halte itu redup, seolah sengaja tidak ingin ikut campur dalam riuh kota. Ia hanya cukup terang untuk memastikan kami tidak sepenuhnya hilang dari pandangan. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma yang bercampur: tanah yang lembap, daun-daun pepohonan yang basah oleh embun, dan sisa knalpot bus yang baru saja lewat. 

Aku merasa angin itu bukan sekadar udara yang bergerak, melainkan semacam pesan yang dikirim tanpa alamat, samar namun mengendap di dada. Ia menyentuh kulitku dengan cara yang pelan, seolah ingin mengatakan bahwa perjalanan malam ini tidak akan berjalan lurus seperti biasanya. Ada sesuatu yang sedang disiapkan oleh waktu, diam-diam, tanpa pemberitahuan, seperti rahasia yang baru akan dibuka ketika aku cukup tenang untuk mendengarnya. Angin itu lewat, tapi maknanya tertinggal.

Aku menyapukan pandangan ke sekeliling, membiarkan mataku berenang perlahan di antara cahaya lampu penerangan jalan dan lampu-lampu neon toko yang masih setia menyala meski malam telah larut. Cahaya-cahaya itu berkelip tidak seragam, seperti ingatan yang muncul dan tenggelam sesuka hati, menolak benar-benar padam. Setiap kilau terasa seperti potongan cerita yang pernah hidup di kota ini—tentang orang-orang yang pulang terlambat, tentang harapan yang ditunda, tentang rindu yang belum menemukan alamatnya. Aku menatapnya tanpa ingin menafsirkan apa pun, cukup membiarkan cahaya itu lewat di mataku, seperti membiarkan kenangan lewat di kepala.

Dari kejauhan, terdengar gemerincing gamelan—entah berasal dari radio tua yang diputar dengan volume kecil, atau dari latihan yang belum selesai di sudut kampung yang tersembunyi. Bunyi itu datang perlahan, lalu bercampur dengan klakson kendaraan yang saling bersahutan, mencipta lapisan suara yang tidak saling meniadakan. Justru dari tumpukan bunyi itulah lahir irama khas yang hanya muncul di malam hari. Yogyakarta seperti sedang berbicara dengan bahasanya sendiri, bahasa yang tidak menuntut untuk dipahami, hanya meminta untuk didengarkan. Dan di antara bunyi-bunyi itu, aku merasa sedang diajak masuk ke dalam percakapan yang lebih tua dari diriku sendiri.

Tak lama kemudian, bus datang. Pada saat itu, aku sempat merasa waktu berhenti sebentar, seperti menarik napas sebelum melanjutkan langkah. Lampu depannya menyapu jalan seperti mata raksasa yang malas berkedip, menatap kami tanpa benar-benar mengenali. Kami naik, menyusuri lorong sempit, mencari tempat duduk, hingga akhirnya menemukan kursi panjang di barisan tengah. Tidak terlalu depan, tidak juga terlalu belakang. Sebuah posisi yang pas untuk menjadi penonton, untuk melamun tanpa harus terlibat sepenuhnya. Ruang kecil itu seolah disediakan khusus untuk kami.

Dari balik jendela, Yogyakarta mengalir mundur seperti pita film hitam putih yang diputar terbalik. Gedung-gedung, papan nama toko, cahaya lampu jalan—. Semuanya melebur menjadi bayangan panjang yang bergerak perlahan. Sesekali, wajah penjual angkringan, warung lesehan yang masih buka, dan becak yang terparkir sendirian muncul sebentar, lalu menghilang. Kota itu tidak benar-benar pergi. Ia hanya memberi jarak, seolah tahu kami sedang menuju sesuatu yang lain. 

Perjalanan perlahan bus bergerak ke arah selatan, menjauh dari pusat kota yang bising, menuju ruang yang belum sepenuhnya kami pahami. Ruang yang tidak sekadar ditunjuk oleh peta, melainkan oleh perasaan. Jalanan terasa semakin panjang, seolah memberi waktu bagi pikiran untuk berjalan mendahului tubuh. Setiap meter yang kami lewati bukan hanya jarak, melainkan juga pengendapan, seperti sesuatu di dalam diri kami sedang dipersiapkan untuk tiba.

Elisa duduk di sampingku. Ia tidak banyak bicara, memilih menyimpan suaranya di dalam, seperti seseorang yang sedang mendengarkan gema batinnya sendiri. Sesekali ia mengangkat tangan, menunjuk ke arah luar jendela, lalu menyebut nama jalan atau bangunan yang kami lewati. Nama-nama itu meluncur pelan dari bibirnya, bukan sebagai penjelasan, melainkan sebagai penanda. Seolah ia sedang menorehkan garis tipis di peta kenangan yang hanya ia miliki. Aku mendengarkan tanpa bertanya, membiarkan kata-kata itu jatuh dan menetap dengan caranya sendiri.

Ketika tampak gedung tua seperti Jogja National Museum, atau ketika bus melintasi jalan dengan nama HOS Cokroaminoto, sorot matanya berubah sedikit. Perubahan itu begitu halus, nyaris tak terlihat, seperti bayangan awan yang melintas di permukaan air. Namun aku menangkapnya. Ada sesuatu yang bergerak di balik tatapannya. Mungkin sesuatu yang tidak sepenuhnya hadir di masa kini.

Di sana, mungkin, tersimpan kenangan yang samar. Kenangan yang tidak ia ceritakan dengan kata-kata, melainkan dengan diam yang penuh makna. Diam yang tidak kosong, tetapi padat oleh pengalaman yang pernah hidup dan kini memilih bersembunyi. Aku tahu, tidak semua ingatan ingin dibuka. Sebagian hanya ingin dikenang sebentar, lalu dibiarkan kembali ke tempatnya, agar tidak mengganggu perjalanan yang sedang berlangsung.

Aku memperhatikan wajahnya dari samping, diterangi pantulan lampu jalan yang terpecah di kaca bus. Cahaya itu datang dan pergi, meninggalkan garis-garis lembut di wajahnya. Ada ketenangan aneh di sana. Ketenangan seseorang yang sudah lama berdialog dengan dirinya sendiri, dan akhirnya berdamai dengan sebagian jawabannya. Ketenangan itu menular, membuatku ikut terdiam.

“Aku senang kamu mau ikut,” kataku pelan, hampir seperti berbicara pada diriku sendiri. Suaraku nyaris tenggelam oleh dengung mesin bus yang bekerja tanpa lelah, seperti napas panjang kota yang tak pernah benar-benar berhenti. “Soalnya sudah lama pengin tahu Kadipiro,” lanjutku, sedikit ragu, lalu menambahkan dengan nada yang lebih jujur, “pengen tahu banget Lingkar Maiyah Yogyakarta.” Kata-kata itu meluncur perlahan, tidak lantang, seolah takut mengganggu malam yang sedang khusyuk mendengarkan.

Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa rencana, seperti pengakuan kecil yang lama tertahan di sudut dada. Ia tidak disusun untuk terdengar penting, tidak pula dimaksudkan untuk meyakinkan siapa pun. Ia hanya ingin keluar, seperti napas yang akhirnya dilepaskan setelah ditahan terlalu lama. Ada kelegaan kecil yang menyertainya, meski aku sendiri tak sepenuhnya paham apa yang baru saja kuakui.

Elisa menoleh ke arahku. Gerakannya pelan, nyaris ragu, seolah ia ingin memastikan bahwa kata-kata itu memang ditujukan padanya. Senyum kecil kemudian muncul di wajahnya, tipis dan hangat, seperti cahaya lilin yang sebentar menyala sebelum kembali redup, namun cukup untuk menerangi sekelilingnya. “Aku juga,” jawabnya. Suaranya lembut, tidak tergesa. “Sejak lama ingin, tapi tak pernah benar-benar sempat.” Kalimat itu menggantung sebentar di udara, membawa serta rasa yang akrab: keinginan yang tertunda, dan waktu yang selalu terasa kurang, meski terus berjalan.

Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya menggantung di udara, seolah ia sendiri sedang menimbang berat kata-kata yang akan diucapkan berikutnya. Lalu ia melanjutkan, dengan suara yang lebih lirih, hampir seperti bisikan yang ditujukan kepada malam. “Kadang aku merasa waktu untuk hal-hal penting justru habis untuk hal-hal sepele.” Ada kelelahan halus di sana, kelelahan seseorang yang terlalu sering menunda dirinya sendiri. “Tapi entah kenapa malam ini…” ia menarik napas pendek, “…aku merasa perjalanan ini harus terjadi.”

Kata harus itu jatuh pelan, namun mantap. Ia tidak terdengar seperti paksaan, melainkan seperti keyakinan yang telah lama berdiam di dalam, menunggu saat yang tepat untuk diakui. Keyakinan yang tidak membutuhkan alasan, tidak meminta pembenaran. Ia hadir begitu saja, seperti pengetahuan sunyi bahwa ada hal-hal yang, jika dilewatkan, tak akan pernah kembali dengan bentuk yang sama.

Ia kemudian bercerita tentang kuliah, tentang tugas-tugas yang datang bertumpuk dan memaksanya begadang di kosan, ditemani lampu meja yang redup dan secangkir kopi yang dingin sebelum sempat dihabiskan. Ia bercerita tentang hari-hari yang terasa penuh oleh jadwal dan kewajiban, namun anehnya tetap kosong, seperti ruangan yang diisi terlalu banyak perabot tetapi kehilangan jendela. Setiap kalimatnya mengalir tanpa keluhan, lebih mirip pengakuan yang akhirnya menemukan tempat untuk berlabuh.

“Begitu ada kesempatan,” katanya pelan, seolah sedang mengingat kembali momen itu, “entah kenapa aku merasa perjalanan ini penting.” Kata penting ia ucapkan tanpa tekanan, namun justru di situlah bobotnya terasa. Penting bukan karena tujuannya, bukan pula karena apa yang menanti di sana, melainkan karena dorongan dari dalam yang sulit ditolak. Dorongan yang muncul diam-diam, seperti panggilan yang tidak berteriak, tetapi terus mengetuk sampai akhirnya diikuti.

Aku mengangguk pelan, membiarkan ucapannya meresap ke dalam diriku seperti air yang perlahan merembes ke tanah kering. Tidak ada yang perlu segera ditanggapi. Beberapa kalimat memang lebih baik dibiarkan tinggal sebentar di dalam dada. 

“Bahkan buatku,” kataku akhirnya, dengan suara yang kutahan agar tidak terdengar berlebihan, seolah aku sedang menimbang setiap kata sebelum menjatuhkannya ke udara, “ini lebih penting daripada pekerjaan auditku.” Kalimat itu meluncur tenang, tanpa nada heroik, tanpa keinginan untuk terdengar meyakinkan. Ia hanya hadir apa adanya, seperti pengakuan yang akhirnya menemukan keberanian untuk keluar.

Namun aku tahu, di balik ketenangan itu tersimpan keputusan kecil yang diam-diam telah lama kuambil. Keputusan yang tidak pernah diumumkan, tidak pula kutuliskan di mana pun, tetapi perlahan mengendap di dalam diriku. Seperti memilih satu jalan sunyi di antara banyak jalan yang tampak masuk akal, keputusan itu tidak mengubah dunia, tetapi menggeser arah langkahku yang pelan, nyaris tak terasa, namun pasti.

Aku menoleh sebentar ke arahnya, memastikan ia mendengar bukan hanya bunyinya, tetapi juga maksud yang menyertainya. “Kadang yang penting itu,” lanjutku, “bukan apa yang kita ucapkan, atau apa yang kita catat rapi di laporan, tapi apa yang kita simpan di hati.” Kata-kata itu terdengar sederhana, nyaris seperti nasihat yang sering diulang, namun ketika mengucapkannya aku merasakan bebannya. Seperti meletakkan batu kecil yang disimpan di saku: tidak menghalangi langkah, tetapi selalu terasa di setiap gerak langkah.

“Laporan, angka-angka,” kataku lagi, mengulang dengan nada yang lebih dalam, seolah sedang menuruni anak tangga di dalam diriku sendiri. “Semua itu cuma catatan di kertas.” Aku berhenti sejenak, lalu menambahkan, lebih pelan, “tapi ada hal-hal yang tidak bisa ditulis. Hal-hal yang hanya bisa disimpan di hati.” Pengulangan itu bukan untuk meyakinkan Elisa. Ia adalah cara paling jujur yang kumiliki untuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa tidak semua yang bernilai perlu dibuktikan, dan tidak semua yang penting harus tercatat.

Ia menoleh lagi, memberiku senyum samar yang nyaris tak selesai, seperti isyarat kecil yang tidak meminta balasan. Lalu ia kembali menatap lurus ke depan, membiarkan wajahnya dibawa oleh pantulan cahaya jalan yang datang dan pergi. Dalam sikapnya yang tenang itu, ada jarak yang halus, bukan untuk menjauh, melainkan untuk menjaga sesuatu agar tetap utuh.

Dalam diam itu, aku tahu ada sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan dengan bahasa mana pun. Ia tidak menuntut kata, tidak pula membutuhkan penjelasan. Ia hadir begitu saja, mengendap di antara kami seperti udara yang sama-sama kami hirup. Sesuatu yang hanya bisa hadir sebagai rasa. Sebagai getar kecil di dada. Sebagai kesepahaman sunyi yang tidak perlu diucapkan lagi.

Bus terus melaju, membawa kami melewati keramaian jalan, menuju Tamantirto, menuju Kasihan, menuju lingkar orang-orang yang mencari arti lewat tembang, doa, dan percakapan panjang tanpa akhir. Kami tidak sedang sekadar berpindah tempat; kami sedang mendekat pada diri kami sendiri.

Dan aku tahu, malam itu Mocopat Syafaat bukan sekadar acara. Ia adalah sebuah pintu. Pintu ke ruang batin yang selama ini hanya kami dengar namanya, tapi tak pernah benar-benar kami masuki. Pintu yang mungkin hanya bisa dibuka sekali, pada waktu yang tepat, dengan orang yang tepat. Dan malam itu, pintu itu kami buka bersama, aku dan Elisa, dengan langkah pelan, dengan hati yang siap terluka dan menemukan penawarnya.

Bus akhirnya berhenti di sebuah persimpangan yang belum begitu ramai, seperti titik jeda sebelum sebuah kalimat panjang dilanjutkan. Mesin bus meredup, pintu terbuka, dan kami turun ke malam yang terasa lebih lapang. 

Dari sana, kami berjalan kaki menyusuri jalanan yang sunyi, meski samar-samar terdengar keriuhan banyak orang dari kejauhan. Lampu-lampu kuning tergantung rendah, memantulkan cahaya pucat di aspal yang lembap. Udara terasa lebih dingin, tetapi sekaligus lebih jernih, seakan-akan setiap tarikan napas mampu membersihkan ruang dalam dada, menyapu sisa-sisa penat yang menempel sejak siangku di pekerjaan.

Elisa berjalan di sampingku, langkahnya pelan namun mantap, seperti seseorang yang tahu ke mana ia hendak menuju meski tak selalu tahu apa yang akan ditemuinya. 

“Ini Tamantirto,” katanya lirih, hampir seperti menyebut nama seseorang yang sedang tidur, seolah ia tak ingin mengganggu malam yang telah lebih dulu tiba. Suaranya menyatu dengan udara, ringan namun mengendap, seperti doa pendek yang dilepaskan tanpa berharap jawaban segera.

“Tempat untuk menemukan kebun air kebatinan,” lanjutnya perlahan, “sumber ilmu, atau tempat orang datang bukan untuk mencari hiburan, tapi untuk menemukan dirinya sendiri di tengah orang lain.” Setiap kata yang diucapkannya jatuh dengan jarak yang terukur, tidak tergesa, seakan ia tahu bahwa makna membutuhkan waktu untuk tiba. Tamantirto tidak ia sebut sebagai lokasi, melainkan sebagai pengalaman. Ruang di mana orang belajar mendengar dirinya sendiri lewat kehadiran orang lain.

Kata-katanya mengalir tenang, tanpa nada menggurui, namun di balik ketenangan itu ada keyakinan yang sudah lama tumbuh dan mengakar. Keyakinan yang tidak lahir dari sekali datang, melainkan dari berulang kali duduk, mendengar, dan pulang dengan hati yang sedikit berubah. Keyakinan yang tidak perlu dibuktikan, karena telah lebih dulu hidup di dalam dirinya.

Aku menatapnya, lalu mengangguk pelan. Kalimat itu terasa seperti pintu kecil yang dibuka ke sebuah dunia yang belum pernah kusambangi. Aku mendengarnya seperti seseorang mendengar bisikan dalam mimpi. Tidak sepenuhnya jelas, tetapi meninggalkan getar yang nyata. Ada sesuatu yang bergerak di dalam diriku, seperti langkah pertama memasuki ruang asing yang entah mengapa terasa akrab.

“Dekat sini ada desa namanya Sendang Kasihan,” lanjut Elisa, suaranya tetap lembut, seperti sedang membuka lembaran kecil dari ingatan yang jarang disentuh. Ia bercerita sekilas tentang sejarah Tamantirto, tidak panjang, tidak pula berlebihan, seolah cukup memberi arah tanpa harus menjelaskan semuanya. “Tempat mata air yang dulu biasa digunakan orang agar mendapat pengasihan,” katanya, dengan nada yang tidak menghakimi, hanya menyampaikan.

Ucapannya terdengar sederhana, nyaris seperti keterangan singkat dalam buku catatan. Namun kata mata air itu bergetar lebih lama di kepalaku. Ia terasa lebih dari sekadar sumber air. Ia terdengar seperti asal mula, seperti titik pertama sebelum segala sesuatu bergerak. Seperti sesuatu yang mengalirkan makna dari masa lalu ke malam ini—dari keyakinan orang-orang yang pernah datang dengan harapannya masing-masing, hingga langkah kami yang kini menyusuri jalan yang sama, membawa kegelisahan dengan nama yang berbeda.

Tak lama kemudian, suara gamelan dari kejauhan terdengar lirih, seolah datang dari balik kabut. Bunyi itu tipis, nyaris ragu, namun perlahan menguat seiring langkah kami mendekati keramaian. Setiap dentingnya seperti panggilan yang tidak memaksa, hanya mengundang. Semakin dekat kami berjalan, suara itu semakin jelas, semakin utuh, seperti irama yang akhirnya menemukan tubuhnya.

Keramaian kini terasa dekat, bercampur dengan suara orang-orang yang telah berkumpul. Di antara suara langkah dan bisik-bisik, mengalun tembang Jawa yang pelan dan panjang, seperti doa yang tidak terburu-buru sampai ke langit. Doa yang tahu bahwa yang penting bukan kecepatan, melainkan ketulusan. 

Kami segera mencari tempat yang nyaman, bukan sekadar untuk duduk, melainkan untuk hadir sepenuhnya. Tempat yang memungkinkan kami menyaksikan panggung acara tanpa merasa terpisah darinya. Kami tidak ingin menjadi penonton yang berdiri di luar, melainkan bagian dari napas yang sama, dari denyut yang sedang dibangun perlahan malam itu. Langkah kami menyusuri tepi halaman, membaca suasana, hingga menemukan ruang yang terasa pas, seperti tempat kosong yang memang disediakan untuk kami.

Di sebuah halaman luas, orang-orang telah duduk lesehan, membentuk lingkaran yang rapi namun tidak kaku. Tikar-tikar terhampar sederhana, diterangi cahaya lampu seadanya yang menggantung rendah. Tidak ada panggung tinggi yang menjulang, tidak ada batas yang memisahkan siapa yang berbicara dan siapa yang mendengar. Semua berada di ketinggian yang sama, seolah malam sengaja meratakan jarak agar tak ada yang merasa lebih penting dari yang lain.

Semua duduk setara, berhadapan sama ke panggung, membiarkan wajah-wajah mereka terbuka satu sama lain. Di tengah lingkaran itu, tercipta ruang hening yang tidak kosong, melainkan penuh makna. Hening yang siap diisi oleh kata, oleh doa, atau oleh diam itu sendiri. Lingkaran itu terasa seperti pelukan yang longgar. Tidak mengikat, tidak memaksa, tetapi cukup luas untuk siapa pun yang ingin masuk, membawa dirinya apa adanya.

Aku dan Elisa bergabung di antara mereka, menyesuaikan diri dengan lingkaran. Kami duduk di atas tikar yang terhampar, merasakan udara malam merasuk ke kulit. Suara tembang Jawa naik turun, mengalir pelan, seperti doa yang lambat menyusup ke celah-celah pikiran. Aku menutup mata sebentar, membiarkan kata-kata yang tak seluruhnya kupahami menetes perlahan ke dalam kesadaranku. Rasanya seperti minum air jernih dari sumur yang tidak pernah kering. Tidak mengenyangkan, tetapi menghidupkan.

“Ini Mocopat Syafaat,” bisik Elisa di sampingku. “Setiap tanggal tujuh belas, orang-orang datang. Ada yang membawa kegelisahan, ada yang membawa syukur, ada juga yang sekadar ingin merasa tidak sendirian.” Bisikannya terdengar seperti penjelasan, sekaligus pengakuan.

Aku menoleh padanya. Wajahnya diterangi samar cahaya lampu acara. Matanya tidak hanya memandang ke arah lingkaran, tetapi juga seperti sedang menatap sesuatu yang lebih jauh. Mungkin sesuatu yang ada di dalam dirinya sendiri, sesuatu yang mungkin hanya bisa ia temui di tempat seperti ini.

Seorang lelaki mulai berbicara, menyebut nama Tuhan dengan cara yang sederhana. Tidak ada suara yang dikeraskan, tidak ada seremonial berlebihan. Hanya manusia yang berbicara kepada manusia lain, dengan bahasa yang membumi. 

Setelah itu, pembicara pertama melanjutkan. Kata-katanya tidak melompat, tidak pula berlari. Ia berjalan pelan, menyentuh hati orang-orang yang mendengar. Sesekali tawa kecil pecah, sesekali hening panjang memeluk lingkaran itu, seperti selimut yang menutupi semua kegaduhan dunia luar.

Aku merasakan sesuatu yang aneh: seperti berada di tempat asing yang justru terasa akrab. Di dalam lingkaran itu, tak ada siapa lebih tinggi, tak ada siapa lebih rendah. Yang tersisa hanya manusia dengan segala kegelisahan dan harapannya. Hanya manusia dengan segala rapuhnya, duduk berdampingan tanpa perlu berpura-pura kuat.

Elisa mendekatkan wajahnya sedikit ke arahku, cukup dekat untuk membuat suaranya terdengar lebih personal, cukup jauh untuk tetap menyisakan ruang. “Dulu aku pun sering ke sini sendiri,” katanya pelan, seolah sedang mengulang kebiasaan lama yang telah ia hafal di luar kepala. “Duduk, dengar, pulang.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang hampir tak terdengar, “Tapi malam ini beda, karena ada kamu.”

Kalimat itu sederhana, tidak dihias, tidak pula dibebani maksud yang berlebihan. Namun ia jatuh tepat di dadaku, seperti batu kecil yang dilemparkan ke permukaan air tenang. Tidak menimbulkan riak besar, tetapi cukup untuk mengubah arah gelombang. Ada kehangatan yang menyusup perlahan, bercampur dengan kesadaran bahwa kehadiran, sesederhana apa pun, bisa mengubah makna sebuah tempat.

Aku menatapnya lama, membiarkan wajahnya menetap di pandanganku. Ada banyak hal yang ingin kukatakan, kalimat-kalimat yang berdesakan di kepalaku, namun tak satu pun terasa cukup jujur untuk diucapkan. Beberapa perasaan memang tidak meminta suara. Mereka hanya ingin tinggal, berdiam di antara dua orang, dan dipercaya untuk tidak diusir oleh kata-kata yang tergesa.

Di tengah lingkaran, tembang kembali dilantunkan. Suaranya naik turun, mengalir lembut, seperti sungai yang melintasi malam tanpa tergesa. Mocopat Syafaat bukan sekadar nyanyian. Ia adalah untaian doa-doa yang menyamar sebagai nada, keheningan yang menyamar sebagai kata. Di sanalah suara dan diam saling bertemu.

Aku menunduk, merasakan sesuatu bergerak pelan di dadaku. Mungkin inilah yang selama ini kucari tanpa sadar: ruang di mana kesunyian menjadi penuh, di mana kebersamaan justru lahir dari diam, di mana manusia menemukan syafaatnya masing-masing tanpa harus saling menjelaskan.

Malam semakin larut. Waktu seakan berhenti saat kami duduk bersama dalam lingkaran itu. Di tengah suara doa, gamelan, dan wajah-wajah yang tidak kukenal namun terasa dekat, aku tahu: sesuatu telah berubah. Perubahan itu tidak gaduh, tidak dramatis, tetapi nyata.

Tak seorang pun tampak ingin pulang. Seolah-olah waktu sendiri ikut duduk di dalam lingkaran, berhenti, mendengarkan pemateri demi pemateri. Acara ditutup dengan musikalisasi puisi dan doa-doa keselamatan untuk Indonesia dan masyarakat Maiyah khususnya. Dipandu oleh sang mursyid Maiyah, Mbah Nun. Dengan kata-kata dan nada menyatu, seperti napas panjang yang dilepaskan bersama. 

Dan di sampingku, Elisa. Hangat. Nyata. Kehadirannya membuatku bertanya, dalam hati yang paling sunyi: apakah semua ini hanya sebuah pertemuan sementara, ataukah sebuah takdir kecil yang dititipkan waktu. Dalam balutan tembang, kabut malam, dan aliran sunyi Tamantirto, sebagai hamparan sungai dari sumber mata air Mocopat Syafaat? (Bersambung)

Perspektif

Scroll