Malioboro malam itu menyalakan dirinya dengan cara yang seolah tak pernah selesai. Ia seperti panggung tua yang menolak menutup tirai, membiarkan cahaya terus bekerja meski penonton telah lelah. Lampu-lampu jalan berderet, terang dan temaram, bagai bintang yang sengaja diturunkan dari langit, yang digantung rendah agar orang-orang yang berjalan pelan masih punya alasan untuk percaya pada terang.
Cahaya itu tidak menyilaukan, hanya cukup untuk mengingatkan bahwa malam pun punya cara sendiri untuk menjaga ritmenya dalam bernapas. Bernapas untuk menghirup kemilau malam sebagai latar manusia berlalu-lalang. Lalu mengalirkan rambatan energi jembatan di antara hati.
Musik pengamen mengalir bercampur dengan suara sandal jepit yang menyeret, derap sepatu yang tergesa, obrolan turis asing yang terputus-putus, dan aroma sate tusuk yang meneteskan lemak ke bara arang. Asap tipis naik perlahan, membawa wangi yang akrab dan menghangatkan. Semuanya menyatu seperti orkestra yang dimainkan tanpa partitur. Tidak rapi, tidak sempurna, tetapi justru hidup. Di antara bunyi dan bau itu, kota ini seperti sedang bercerita tanpa kata.
Aku berjalan pelan, membiarkan hawa Yogyakarta merambat masuk ke tubuhku, menyusup lewat pori-pori dan napas. Angin malam membawa sesuatu yang sulit kusebutkan: ketenangan yang lembut, tetapi juga getaran halus yang mengaduk kenangan lama. Kenangan yang selama ini kusimpan rapi, seperti buku tua yang jarang dibuka karena takut debunya beterbangan ke mana-mana. Di sini, kenangan itu tidak memaksa, hanya mengetuk pelan.
Rasanya aku berjalan di sebuah lorong panjang, dengan masa lalu berdiri di satu sisi dan masa depan menunggu di sisi lain. Keduanya diam, sama-sama menatap. Dan aku, entah mengapa, berdiri di tengah tanpa keberanian untuk berpaling ke salah satunya. Langkah kakiku tetap maju, tetapi pikiranku tertinggal di antara dua waktu yang saling memanggil.
Elisa menungguku di sebuah angkringan yang agak menepi dari pusat keramaian. Tempat itu sederhana, nyaris luput dari perhatian, hanya diterangi bohlam yang menggantung rendah dengan cahaya kekuningan yang hangat. Ia duduk di bangku kayu panjang, gamis merah bermotif bunga jatuh rapi, jilbab hitam membingkai wajahnya dengan tenang. Pemandangan itu terasa akrab, seolah sudah lama tersimpan di sudut ingatanku.
Cara berpakaiannya tampak sederhana dalam pandanganku, tanpa usaha untuk menonjol. Namun justru dalam kesederhanaan itu, ia terlihat menyatu dengan kota ini. Seperti bagian dari lanskap yang tidak bisa dipindahkan tanpa mengubah suasana. Jika ia tidak ada, rasanya Malioboro malam itu akan kehilangan satu nada penting dalam musiknya.
Ketika aku mendekat, ia menoleh. Lampu di dekatnya menyala redup, mengirimkan bayangan kecil di wajahnya, menyembunyikan sebagian senyum yang ia simpan. Senyumnya tipis, tertahan, seperti seseorang yang memiliki banyak kata tetapi memilih untuk menahan sebagian besar di dalam dada. Ada kehati-hatian di sana, juga kehangatan yang tidak diumbar.
“Haya,” panggilnya pelan. Dan seketika itu juga, aku merasa nama yang ia sebut bukan sekadar panggilan. Ia terdengar seperti pintu lama yang akhirnya diketuk kembali dengan pelan, tetapi tepat di tempat yang paling sunyi.
“Elis,” jawabku. Suaraku sendiri terdengar asing di telingaku, seolah datang dari jarak yang jauh. Seperti suara seseorang yang sedang mencoba mengenali dirinya sendiri.
Dunia di sekelilingku perlahan menciut. Keramaian menjauh, suara-suara memudar. Dan yang tersisa hanya meja kayu di antara kami, dua gelas wedang jahe yang mengepulkan uap, dan percakapan yang belum lahir tetapi sudah terasa berat di udara.
“Selamat datang di Yogya,” katanya sambil menatapku dengan cara yang membuat kalimat sederhana itu berubah makna. Ucapannya terdengar biasa, namun ada getaran halus yang membuat dadaku berdesir. Seperti sambutan yang menyimpan jarak, seperti nada rendah yang dipukul perlahan di dalam dada.
Aku meletakkan ransel di samping bangku. “Terima kasih,” kataku singkat, seolah takut jika menambahkan kata lain akan membuka sesuatu yang belum siap kubuka.
Ia tersenyum kecil, lalu bertanya dengan nada seakan ingin menguji rasa. “Jadi gimana udara Yogya? Hangat, asin, manis?”
Aku menahan tawa. “Kombinasi semuanya,” jawabku, lalu menambahkan pelan, “seperti kamu.” Kalimat itu meluncur begitu saja, dan membuatnya melirik sambil tersenyum samar.
Elisa menunduk sebentar. Senyumnya bergeser menjadi lirikan mata yang tampak menolak, tetapi diam-diam menerima. Ada jeda kecil di sana, jeda yang lebih jujur daripada banyak kata.
Dengan nada yang sengaja dibuat ringan, ia bertanya lagi, “Jadi, tujuan ke sini dalam rangka apa nih?”
Aku menghela napas sejenak, membiarkan jawabanku menemukan bentuknya sendiri. “Mau ngucapin selamat buat kamu,” kataku. “Biar afdol, pengennya langsung.” Tawaku menyertai kalimat itu, seperti usaha kecil untuk menyamarkan gugup.
Elisa menatapku, keningnya berkerut. “Selamat?” ulangnya, seolah kata itu belum menemukan tempat.
“Hebat,” jawabku. “Udah jadi abdi negara. Selamat ya, atas kelulusannya jadi PNS.”
Ia tertawa kecil, lalu wajahnya memerah. Ia menunduk, suaranya mengecil. “Aku jadi malu… dan tersipu. Terima kasih.” Kata-kata itu jatuh pelan, seperti daun kering yang memilih jatuh tanpa suara.
Kami terdiam sejenak. Hanya bunyi sendok besi kecil yang mengaduk wedang jahe, beradu dengan dinding gelas. Dalam diam itu, aku merasakan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar ucapan selamat. Sesuatu yang tidak berani kami sebutkan, tetapi sama-sama kami sadari keberadaannya.
“Jadi benar kamu datang,” ucapnya pelan, seolah masih memastikan kenyataan.
“Aku kan sudah bilang,” jawabku sambil menahan pandangan. Aku takut jika tatapanku terlalu lama, ia akan membaca lebih banyak daripada yang siap kuakui.
“Dan ternyata kamu tetap sama,” katanya sambil tersenyum samar. “Masih suka bersembunyi di balik kata-kata.”
Aku tertawa pelan, mencoba menepis. Namun tawa itu justru membuatku sadar: ia masih mampu melihat celah-celah kecil yang sengaja kusimpan. Dan mungkin, di situlah aku memang selalu berada. Di antara kata-kata, bersembunyi, tetapi berharap suatu hari ditemukan.
Selanjutnya kami memulai obrolan ringan. Tentang pekerjaan, tentang kota, tentang kabar-kabar kecil yang biasanya mudah terlewat dalam sambungan telepon. Kalimat-kalimat itu mengalir pelan, seperti air dangkal yang tidak berniat menenggelamkan siapa pun. Namun di balik setiap kata, ada lapisan lain yang diam-diam ikut hadir. Lapisan yang tak pernah benar-benar bisa disampaikan lewat sinyal udara. Lapisan yang menunggu, bukan untuk disebutkan, melainkan untuk dirasakan. Lapisan yang hanya bisa hidup dalam tatap dan jeda.
Di seberang jalan, seorang pengamen memainkan biola. Nadanya meluncur lirih, melankolis, seolah dipilih langsung oleh semesta sebagai latar. Bunyi biola itu tidak menuntut perhatian, hanya mengisi ruang-ruang kosong di antara kalimat kami. Ia membuat percakapan kami terdengar seperti adegan film lama. Tidak tergesa, sedikit buram, tetapi penuh rasa yang tertinggal.
Elisa menatap uap wedang jahenya yang perlahan naik, lalu menghilang. Matanya mengikuti uap itu sejenak, sebelum akhirnya berkata lirih, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Kadang aku merasa kita ini cuma saling mengejar bayangan,” katanya. “Bertahun-tahun bicara, tapi selalu ada jarak yang tidak bisa dipotong.”
Kata-kata itu jatuh pelan, tidak meminta jawaban segera, hanya ingin diakui keberadaannya.
Aku menatapnya lama sebelum menjawab. Ada jeda yang sengaja kupelihara.
“Bayangan tetap bagian dari kita,” kataku akhirnya. “Ia mengikuti ke mana pun kita pergi, meski tak pernah bisa dipeluk.”
Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan mungkin terlalu sederhana. Tapi di sanalah seluruh kemampuanku berhenti.
Ia menatapku balik, lalu tersenyum samar. Senyum yang tidak sepenuhnya membuka diri, tidak juga menutup. Senyum yang membuatku ragu: apakah ia sedang mengiyakan, atau justru membaca kepicikan di balik kata-kataku. Seolah-olah ia sedang menimbang apakah jawabanku sebuah kejujuran, atau hanya cara halus untuk menghindari luka yang lebih terang.
Aku ingin berkata banyak hal. Bahwa aku merindukannya dengan cara yang tidak rapi. Bahwa perjalanan ke Yogyakarta ini, pada akhirnya, adalah perjalanan menuju dirinya. Bahwa urusan pekerjaan hanyalah alasan yang terlalu rapuh untuk menutupi maksud sebenarnya. Alasan yang mudah retak jika disentuh sedikit saja. Namun lidahku membeku. Diam terasa lebih aman, meski menyakitkan dengan caranya sendiri.
Elisa menghela napas pelan. Ia menunduk sebentar, seperti sedang mengumpulkan keberanian dari tempat yang dalam.
“Aku tahu kamu datang karena pekerjaan,” katanya. “Tapi izinkan aku percaya, walau sebentar saja, bahwa kamu juga datang karena aku.”
Kalimat itu terdengar seperti permintaan kecil, tetapi bobotnya berat. Seperti seseorang yang tidak ingin terlalu berharap, namun juga tidak sanggup sepenuhnya melepaskan.
Kata-kata itu jatuh perlahan. Seperti hujan tipis yang menyusup ke pori tanah tanpa suara, tetapi meninggalkan basah yang lama kering.
Aku mengangguk. Gerakan kecil, nyaris tak berarti.
“Aku datang karena dua-duanya,” kataku. “Tapi kalau harus memilih. Mungkin malam ini aku lebih memilih duduk di sini denganmu, daripada di mana pun.”
Kalimat itu keluar tanpa hiasan. Tanpa keberanian berlebih. Hanya kejujuran yang singkat.
Hening sejenak. Lalu tawanya pecah kecil, ringan, nyaris tak terdengar. Namun cukup untuk mengubah udara di antara kami. Seperti angin pelan yang menggeser tirai tipis.
Di luar, jalanan masih riuh. Lampu, kendaraan, dan langkah kaki terus bergerak. Namun di dalam angkringan itu, waktu seperti melambat. Seolah menunggu kami mengucapkan sesuatu yang sama-sama kami tahu sulit untuk diucapkan.
Malam itu aku mengerti: pertemuan ini bukan hanya tentang urusan pekerjaan, bukan semata tentang audit kantor cabang yang menunggu esok hari. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang samar, yang mengendap perlahan. Seperti rasa jahe hangat yang tertinggal di kerongkongan. Tidak menyengat, tidak menjelaskan apa pun, tetapi sulit dilupakan.
Waktu berjalan tanpa kami sadari. Wedang jahe di gelasku telah sampai dasar, cukup menghangatkan tubuh tanpa berlebihan. Nasi kucing pun habis, piringnya kosong seperti menunggu kami menutup percakapan dengan cara yang tak kami ketahui.
Kami berbicara lagi, entah tentang apa. Hal-hal sepele yang tiba-tiba terasa penting. Obrolan kami berpindah-pindah. Dari ringan ke dalam, lalu kembali lagi ke ringan. Mungkin justru di sanalah letak kenyamanannya. Seperti musik lama yang diputar berulang-ulang, tidak untuk dicermati, hanya untuk ditemani.
Ketika akhirnya kami berpisah, aku tahu kenangan pertemuan ini tidak ikut pulang bersamanya. Ia tinggal di kepalaku. Seperti lagu di kaset lama yang pita suaranya mulai kusam. Namun semakin sering diputar, justru semakin hangat mendengarnya.
Aku berjalan menyusuri trotoar Malioboro yang masih ramai. Mengamati lampu-lampu jalan yang berkelip, orang-orang yang lalu-lalang tanpa saling mengenal. Sementara di dalam kepalaku, pertemuan itu terus berputar, mengalunkan nada rindu yang belum tahu ke mana akan berlabuh.
Di ujung Malioboro, aku akhirnya sadar: pertemuan ini tidak selesai di bangku angkringan. Ia berjalan bersamaku. Dan di antara riuh kota yang tak pernah benar-benar tidur, aku kembali ke penginapan dengan satu pertanyaan yang tidak menuntut jawaban segera: apakah malam ini hanya sebuah singgah, atau sebuah awal yang diam-diam telah lama ditulis oleh waktu? (Bersambung)