Berangkat

Pagi baru saja menyibakkan tirainya ketika aku sudah lebih dulu beranjak dari kasur, seolah ada...

Berangkat

18 Des 2025
230 x Dilihat
Share :

Berangkat

Pagi baru saja menyibakkan tirainya ketika aku sudah lebih dulu beranjak dari kasur, seolah ada sesuatu di udara yang membisikkan agar aku tidak terlambat menangkap detik-detik pertama hari itu.

Embun masih menempel di ujung-ujung daun jambu di halaman. Tampak bening di hijau dedaunan, tampak rapuh dan mudah luruh oleh embusan angin kecil. Namun aku sudah berdiri di atas rumah panggung berlantai papan kayu, yang dinginnya merayap lewat celah-celah sempit, merambat seperti bayangan yang sedang mencari bentuknya sendiri.

Ketika kuciduk air di dam pemandian dan menyiramkannya ke wajah, rasa dinginnya pecah seperti kepingan kaca yang meletus di kulit, membawa kesadaran yang tak bisa ditawar.

Di kejauhan, ayam jantan baru belajar menaklukkan sunyi, sementara aroma tanah basah naik dari balik rumput jalan dari dam pemandian ke rumah nenekku, seolah tahu bahwa yang baru saja lewat adalah seorang pemuda yang telah menandai harinya akan berbeda dari hari-hari lain.

Ada sesuatu yang belum bernama, tetapi terasa mendekat. Barangkali semacam firasat antara cahaya pertama dan langkah yang kupaksakan keluar dari kenyamanan tidur. Seolah pagi sedang membuka pintu kecil menuju cerita panjang yang selama ini menunggu untuk dimulai kembali, dan aku, tanpa ragu, sudah melangkah masuk sebelum sempat bertanya apa yang menantiku di dalamnya.

Hari itu bukan pagi yang biasa. Sebab hari itu aku harus berangkat ke Jakarta—kota yang dari jauh selalu tampak seperti pusaran takdir, tempat orang datang dengan dada berdebar, lalu diaduk oleh arus yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Saatnya bagiku kembali mengikuti pendulum arah hembus angin. Untuk pergi mengadu nasib setelah sebentar menepi: pulang kampung menengok nenekku, sekaligus bertemu teman-teman masa kecil.

Sejak sore kemarin aku sudah berkemas. Tas punggung yang tak seberapa besar itu kupaksa menampung pakaian, buku-buku bacaan, dan sebuah buku catatan, yang seakan-akan di dalamnya hendak kuselipkan pula masa depan yang belum kukenal.

Di sudut meja, ponselku tergeletak dengan kabel charger yang masih menempel. Aku menunggu baterainya penuh, sebab di perjalanan panjang nanti, barangkali ia akan menjadi satu-satunya penghibur kala kesepian menyergap.

Sementara itu, nenekku di dapur sudah menyiapkan timbel, sebungkus nasi dalam balutan daun pisang, yang akan kubawa untuk bekal perjalanan, agar setibanya di tujuan aku tak langsung disambut lapar.

Aromanya menenangkan, serupa doa yang dilipat rapi dalam hijau daun pisang itu.

"Bawa ini buat di jalan, Nak. Jangan lupa makan," katanya lirih. Aku hanya mengangguk, menahan rasa hangat yang tiba-tiba menyusup ke dada. Sering kali kita lupa, cinta terbesar justru hadir lewat hal-hal yang paling sederhana.

Setelah selesai sarapan dan meneguk sisa teh hangat, aku berpamitan pada kerabat. Pamanku, dengan motor tuanya yang berisik, mengantarkanku menuju Terminal Cibantar. Jalan menuju terminal terasa seperti jalur menuju gerbang lain kehidupanku: sunyi, namun penuh tanda tanya.

Di terminal, bus sudah terparkir dengan tenang. Mesinnya padam, seolah ikut beristirahat sebelum menelan jarak ratusan kilometer. Tanda masih lama bus itu berangkat, pikirku. Maka daripada duduk diam dalam kebosanan, aku memilih menyeberang ke deretan rumah di bantaran terminal. Kudengar, seorang kawan lama baru saja pulang dari Yogya.

Mumpung ada kesempatan bertemu. Kebetulan rumahnya berada di deretan rumah-rumah yang mengisi bantaran terminal. Tinggal menyeberangi jalan, maka sampailah aku di rumahnya.

Langkahku terasa ringan ketika menuju rumahnya. Aku disambut ramah, lalu dipersilakan masuk. Kawan itu, yang sejak kecil selalu kukenal apa adanya, sedang bersiap-siap. Ia tengah menyisir rambut, bersiap untuk berangkat.

Ia mengajakku singgah sebentar ke rumah seorang teman kami yang lain. Teman lama yang sejak dulu kami panggil Elis. Nama lengkapnya Elisa Marlina, yang katanya juga sedang pulang dan kini berada di rumahnya.

Sampailah kami di tujuan, tuan rumah pun menyambut riang kedatangan kami. Menengok rumah keluarga Elisa, semuanya masih sama seperti yang kuingat: halamannya teduh, pintunya dicat biru pucat.

Ketika kami datang, Elisa menyambut dengan wajah cerah, seolah waktu tidak pernah benar-benar mencuri jarak di antara kami. Kawan lama pun membuka pertemuan itu dengan prakata rindu kami.

"Lama sekali kita nggak ketemu," katanya sambil tersenyum, matanya bening, seperti hendak menagih cerita yang dulu belum sempat dituntaskan.

Aku ikut tersenyum, "Iya, rasanya seperti kembali ke masa kecil." Sejenak kami meraba tali-temali kenangan masa kecil yang patut dikenang, hingga akhirnya tiba saat saling memperkenalkan kesibukan kami sekarang.

Namun kemudian kawan lama itu harus beranjak. Kawan yang menemaniku tadi buru-buru pamit karena ada urusan lain. Tadinya aku pun berniat ikut pamit. Aku hendak pergi bersama, sebab sifat pemaluku selalu membuatku sungkan bertamu seorang diri ke rumah teman perempuan.

Dengan sifatku yang pemalu, mana mungkin aku bertamu sendirian. Sejak awal, jika tak ditemani, aku tak akan berani berkunjung ke rumah teman perempuan ini. Namun saat itu, ada sesuatu yang menahanku, seakan tubuhku menolak untuk bangkit.

Tubuhku serasa terpaku ketika hendak ikut pamit dan mengikuti kawan lama berlenggang pulang. Mungkin karena ada rindu yang belum selesai, ada pertanyaan yang sejak lama tak pernah sempat kutanyakan, aku masih tertahan di sofa ruang tamu.

Kami kembali melanjutkan perbincangan. Mulai dari cerita sekolah, hingga perlahan menyentuh kesempatan membicarakan masa lalu yang diam-diam masih menggantung di hati. Berbicara dengannya terasa seperti menuntaskan rindu yang lama tertunda, rindu yang menuntut pelunasan dari cerita lama sejak masa kanak yang tak sempat kutanyakan sekali lagi.

Waktu berjalan tanpa terasa. Satu jam, dua jam, hingga jarum jam menunjuk pukul satu siang. Kami masih terus berbicara, saling bertukar kisah. Ada tawa, ada hening, ada getar yang berusaha menyelinap dari masa lalu menuju masa kini.

Aku dan Elisa terus saja bercerita, sambung-menyambung, masuk ke topik-topik yang mengikat aku dengannya. Seolah selalu ada persediaan cerita yang tak pernah habis dan menuntut untuk disampaikan. Meski sesekali terpotong oleh kehadiran ayahnya yang ramah padaku, yang pada momen itulah pertama kali aku bertemu ayahnya Elisa.

Ayah Elisa sempat keluar menemui kami. Beliau ramah, menanyakan kabarku, lalu tanpa sengaja membuka lembaran masa mudanya bersama ayahku. Dari ceritanya, aku jadi mengetahui sisi-sisi masa muda ayahku.

"Dulu ayahmu itu anak yang cerdas, suka banyak bertanya," katanya sambil tersenyum tipis. "Amin suka banyak bertanya, ingin tahu segala hal." Lalu ia menambahkan, "Masa karakter bapaknya itu tidak terwariskan kepada anaknya?"

Aku hanya terdiam. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan, mendengar sosok ayahku seakan dihidupkan kembali lewat ingatan orang lain.

Ketika ayahnya kembali ke dalam, aku dan Elis melanjutkan percakapan.

Jika ayahnya Elis mengingatkanku pada ayahku, demikian pula Elisa mengingatkanku pada banyak hal di masa kanak-kanak kami dulu.

Hingga akhirnya terucap pula perkara hati di antara kami. Kami pun mulai berbicara banyak tentang hati masing-masing, tentang perasaan yang dulu samar-samar pernah tumbuh.

"Dulu, aku sempat suka sama kamu," ucap Elisa pelan, seperti takut pada gema ucapannya sendiri.

Akhirnya kami benar-benar bicara tentang hati. Mulai saling mengakui bahwa dulu kami pernah saling menyukai di masa sekolah itu.

Aku terdiam beberapa saat, lalu tertawa kecil untuk meredakan gugup. "Aku juga. Tapi kita sama-sama terlalu muda, terlalu cepat berpisah."

Sebuah perasaan yang tak sempat mekar. Karena takdir mengharuskan aku dan dia berpisah. Kami melanjutkan sekolah di tempat yang berbeda: aku masuk SMP di daerahku, dan dia melanjutkan sekolah di luar kota.

Awalnya kupikir sejam cukup untuk bertukar kabar. Sebentar saja untuk saling berbagi cerita dari waktu yang telah kami lewati. Namun rupanya anjang silaturahim jauh dari kata sebentar. Dari pukul delapan hingga pukul satu siang, cerita kami tak juga habis.

Berbincang tentang perjalanan hidupnya, Elisa ternyata baru lulus cum laude dari jurusan Teknik Informatika di UTY, dan kini bekerja sebagai asisten dosen di almamaternya. Padahal dulu ia sangat ingin masuk UGM jurusan pertanian.

Aku teringat pertemuan sebelumnya, tiga tahun lalu, ketika aku juga bertandang ke rumahnya. Saat itu Elisa bercerita betapa besar keinginannya masuk UGM jurusan pertanian, demi mengabdi pada kampung halaman.

Kuingat ucapannya kala itu, "Setiap pulang aku sering terenyuh melihat hamparan sawah yang ingin dikelola sebaik-baiknya. Setiap jengkal ladang ingin kuoptimalkan dengan jenis tanaman sesuai kontur dan senyawa tanahnya," katanya penuh tekad, lalu menambahkan, "bertani harus dengan ilmu."

Namun kemudian Elisa harus menempuh kuliah sambil bekerja di toko komputer. Karena itulah ia memilih bidang teknologi, tepatnya teknik informatika.

"Nasib sering berkata lain," jawabnya lirih. "Bercita-cita kuliah pertanian, jadinya kuliah teknologi," ucapnya kembali riang, meski getir itu tetap terasa ketika harapan disandingkan dengan kenyataan.

"Kadang hidup nggak memberi kita jalan lurus,” tambahnya. “Tapi aku tetap ingin berkontribusi."

Aku hanya mengangguk, merasa salut. Mendengar semua ceritanya, aku tak bisa apa-apa selain takjub pada perjalanan hidup dan kariernya. Semangatnya terasa terus menyala, bahkan kian terang saat ia berkata, "Aku lagi hunting beasiswa S2 ke Korea atau Jepang," sambil bercerita tentang pengalaman temannya yang kuliah di Jepang.

Perempuan ini sejak kecil memang cerdas dan berpikiran jauh ke depan. Menilai sosoknya, sejak awal ia sudah berpandangan maju. Karena kecerdasannya di masa kecil, maka wajar jika kini semangatnya mengarah ke beasiswa S2 ke Korea atau Jepang.

Sudah lulus sarjana, ia masih menyimpan api untuk terus belajar. Mungkin hanya dialah teman lamaku sejak SD yang paling maju wawasan intelektualnya dibanding teman-teman sebayanya di desa kami. Bahkan sepertinya, hanya dia saja yang belum menikah. Meski aku tak ingin menerka-nerka apakah sudah ada calon atau belum. Namun bagaimanakah rasa yang dulu tersisa?

Aku sempat menggoda, "Jadi, sudah ada yang melamar, belum?"

Elisa tersenyum malu, "Belum. Tapi aku juga nggak tahu. Mungkin jodoh itu urusan yang lain," jawabnya singkat. Namun ada getar aneh di dadaku mendengar itu.

Entah karena harapan, atau justru karena kesadaran bahwa jarak waktu telah menciptakan ruang yang tak mudah dijembatani. Terutama saat ia mengaku, dengan nada malu-malu, bahwa dulu pernah menyimpan rasa.

Ia pun memintaku main ke Yogya, dan kusampaikan bahwa aku sangat ingin datang. Untuk suatu saat menikmati riuh seni dan kreativitas di ibu kota kerajaan Ngayogyakarta.

Namun kemudian pembicaraan kami harus terhenti. Aku mesti pamit. Meski ia menahan, memintaku tinggal lebih lama, “Jangan buru-buru, kita jarang ketemu,” katanya.

"Aku harus jalan. Busku sebentar lagi berangkat," jawabku.

Hari sudah terlalu siang. Bukan karena aku tak rindu, tetapi karena aku harus berangkat. Aku pun merasa tak enak berlama-lama bertamu. Terlalu singkat kepulanganku ke kampung halaman ini, sehingga tak ada cukup waktu untuk menjumpai teman lama lebih lama lagi.

Pukul satu lewat aku berpamitan pada tuan rumah. Aku langsung bergegas ke Masjid Jami’ Cibantar untuk menunaikan salat zuhur. Niatku menjamak zuhur dengan asar, sebagai bekal perjalanan jauh ke Jakarta.

Saat kakiku menginjak tempat wudu, tiba-tiba aku sadar bahwa baru kali ini aku masuk ke masjid itu, padahal jaraknya hanya selemparan batu dari rumahku. Rasanya seperti dihantam kesadaran pahit: betapa sering aku mengejar yang jauh, sementara yang paling dekat di kampung halaman justru terabaikan.

Selama ini aku sibuk menjangkau tempat-tempat terjauh, mengejar hal-hal yang jauh. Namun menyapa hati kampung halaman sendiri pun tak pernah benar-benar kutuntaskan.

Di Masjid Besar Cibantar, masjid yang menjadi pusaran pondok pesantren peninggalan Hadratusyaikh Mama Cibantar, barulah kusadari bahwa inilah singgah pertamaku. Baru pertama kalinya aku masuk Masjid Cibantar. Baru pertama kalinya, sepanjang hidupku, aku menapaki masjid jami’ "kotanya" kampungku sendiri.

Perspektif

Scroll