Waktu bukanlah sungai yang mengalir lurus ke depan. Bagiku, ia lebih mirip putaran komidi yang sesekali membawaku kembali ke titik awal, ke masa di mana luka-luka yang sempat kupikir telah sembuh, ternyata hanya tertutup debu masa lalu. Terkadang, untuk melangkah lebih jauh, aku harus bersedia menoleh ke belakang, menyentuh kembali kerikil-kerikil tajam yang pernah membuat kakiku berdarah. Lalu aku memutuskan untuk pulang, untuk menelusuri kenangan yang sengaja kukunci rapat dalam peti ingatan selama lima belas tahun terakhir.
Lima belas tahun telah menyapu banyak hal. Namun saat kakiku kembali berpijak di pelataran gedung tempat pertemuan itu pernah berlangsung, waktu seolah kehilangan taringnya. Kedatanganku di sini sebenarnya bukan untuk merayakan sebuah pencapaian besar atau mencari jawaban atas teka-teki hidup yang belum tuntas. Aku hanya sedang menapaktilasi jejak, sebagai upaya sunyi untuk memastikan bahwa fragmen-fragmen itu benar-benar pernah terjadi, bukan sekadar imajinasi yang dikarang oleh ingatan yang mulai memudar dimakan usia.
Petang baru saja turun, membawa semburat jingga yang perlahan larut di balik siluet atap-atap kota. Satu per satu lampu jalan mulai berpijar, menembus temaram dengan cahaya yang enggan beradu. Kota telah berganti rupa dengan wajah-wajahnya yang asing, gedung-gedungnya lebih jangkung, dan deru mesinnya terdengar lebih gelisah. Sementara di beberapa sudut tersembunyi, kesunyian yang sama masih mendekam, kesunyian yang tak pernah benar-benar terusir meski zaman terus berlari kencang.
Langkahku kemudian tanpa sadar membawaku ke sebuah taman kota. Dulu, tempat ini hanyalah objek tak kasatmata yang kulewati dengan terburu-buru. Saat itu, aku adalah remaja yang terlalu pongah dengan ambisi, terlalu sibuk mengejar masa depan hingga lupa cara menghargai detak napas di saat ini dan di sini. Setelah lima belas tahun membiarkan waktu mendewasakanku, aku melangkah masuk ke taman itu dengan ritme yang jauh lebih tenang, seolah sedang meminta izin untuk meminjam sedikit kedamaian yang selama ini kuabaikan.
Di bawah naungan pepohonan yang kini tumbuh jauh lebih rindang, taman itu menyambutku dengan pelukan teduh. Aku membiarkan diriku membaur di sana, menjadi bagian dari latar belakang tanpa perlu berinteraksi dengan siapa pun. Di dekatku, tawa anak-anak yang berlarian terdengar seperti musik latar yang jujur, sementara di bangku lain, sepasang kekasih berbagi bisikan yang tak ingin kupahami maknanya, dan di kejauhan suara pedagang kaki lima memanggil para pembeli, melebur bersama desau dedaunan.
Aku memilih duduk di bangku yang paling ujung, membiarkan cahaya lampu taman yang kekuningan menyusup di antara celah dahan dan membasuh wajahku. Di tengah keriuhan orang-orang yang saling terikat oleh percakapan, aku justru menemukan kenyamanan dalam isolasi untuk menyambut malam yang tak lagi datang sebagai ancaman, melainkan sebagai ruang tunggu yang hening.
Aku duduk di sana untuk menyadari bahwa terkadang, satu-satunya cara untuk benar-benar memahami diri sendiri adalah dengan membiarkan ingatan berbicara saat tidak ada orang lain yang mendengarkan.
Di tengah taman, sebuah monumen berdiri menjulang dengan tenang. Cahaya lampu sorot yang mengarah tepat ke tubuhnya menjadikan monumen itu seperti pusat ingatan yang tak pernah padam.
Monumen Anugerah Kalpataru.
Aku berhenti cukup lama di hadapannya. Patung sepasang tokoh penerima penghargaan itu dipahat dengan sorot mata penuh keteguhan, seolah sedang memandang jauh melampaui batas kota. Sosok perempuan yang dipahat di sana seketika menarik ingatanku pada satu nama yang sejak kecil begitu akrab di telinga: Mak Eroh.
Nama itu selalu kudengar dari tutur orang-orang tua di kampung. Ia seorang perempuan sederhana dari pedalaman Tasikmalaya yang, dengan tenaga dan keteguhan yang nyaris mustahil dipercaya, berhasil membelah bukit batu sedikit demi sedikit demi mengalirkan air ke sawah-sawah yang bertahun-tahun meranggas kekeringan. Apa yang dikerjakannya bukanlah proyek pemerintah, bukan pula pekerjaan yang lahir dari ambisi mengejar penghargaan. Ia hanya ingin sawah-sawah kembali menghijau dan para petani dapat menanam padi tanpa harus terus berlutut memohon hujan.
Hingga akhirnya, kerja keras itu terdengar sampai ke Jakarta. Dari sebuah kampung terpencil yang nyaris tak dikenal, namanya melambung ke telinga presiden. Kalpataru menjadi pengakuan negara atas ketekunan yang selama bertahun-tahun ia kerjakan dalam diam.
Aku memandangi patung itu cukup lama. Tak lama kemudian timbul kesadaran akan satu hal bahwa sejarah sering tidak dibangun oleh mereka yang paling lantang berbicara, melainkan oleh orang-orang yang bekerja tanpa suara. Mereka yang mengubah hidup orang lain bukan melalui pidato, melainkan melalui kesabaran yang dicicil setiap hari.
Angin petang berembus pelan, menjatuhkan helai-helai dedaunan di sekitar monumen. Entah mengapa, pemandangan itu seolah menjadi kunci yang membuka kembali ruang-ruang ingatan yang selama ini sengaja kututup rapat. Pikiranku melayang ke masa silam, ke hari ketika aku pertama kali memasuki gedung itu. Membuatku teringat percakapan terakhir bersama Pak Camat dan Bupati, baik saat acara berlangsung maupun setelah para tamu mulai beranjak pulang.
Barulah setelah lima belas tahun berlalu, aku akhirnya memahami alasan sebenarnya mengapa aku berada di sana. Memang, aku hanyalah seorang pelajar saat itu. Namun, ternyata ada alasan yang lebih besar. Kami sejumlah pelajar dari berbagai sekolah sengaja dikumpulkan untuk menjadi bagian dari sebuah wadah yang masa itu, dianggap krusial dalam menjaga stabilitas daerah yang sedang berubah begitu cepat.
Wadah itu bernama Kesatuan Pelajar Tasikmalaya.
Saat itu, Indonesia tengah dipeluk oleh masa yang tidak biasa. Gelombang Reformasi mulai mengguncang Jakarta dengan dahsyat. Berita tentang demonstrasi mahasiswa, jatuhnya korban, hingga tuntutan perubahan datang hampir setiap hari melalui layar televisi, siaran radio, maupun baris-baris surat kabar. Riak-riak perubahan itu perlahan merambat hingga ke pelosok daerah, tak terkecuali Tasikmalaya. Di tengah situasi yang mudah memancing emosi, pemerintah daerah berupaya merangkul berbagai elemen masyarakat agar gejolak politik tidak tergelincir menjadi konflik horisontal.
Masih terngiang jelas suara Bupati ketika membuka pertemuan itu.
“Hadirin Bapak dan Ibu yang saya hormati, serta anak-anakku yang saya banggakan. Kita berkumpul di gedung ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah awal menyikapi perkembangan terakhir yang terjadi di kabupaten kita. Apa yang berlangsung di Jakarta adalah bagian dari napas Reformasi bangsa. Namun, kita memiliki tanggung jawab besar agar perubahan itu tidak menjelma menjadi perpecahan di rumah kita sendiri.”
Beliau berhenti sejenak, menyapu pandangannya ke seluruh ruangan yang dipenuhi tokoh masyarakat, aparat, para guru, dan kami, para pelajar. Ia melanjutkan, kali ini suaranya lebih pelan, namun justru terdengar lebih tegas dan menusuk.
“Mungkin emosi kita sekarang mudah tersulut. Kita merasa diperlakukan tidak adil. Kita marah, kecewa, bahkan saling menaruh curiga. Namun, kita tidak boleh lagi kecolongan seperti yang sudah-sudah. Kita ini bersaudara. Bukan sekadar saudara dalam iman, tetapi juga saudara dalam kebangsaan.”
“Jangan biarkan perbedaan membuat kita saling melukai. Jangan kita mengulangi luka lama dari kerusuhan yang pernah merobek kota ini. Mari kita amankan rumah kita sendiri. Menjaga Tasikmalaya agar tetap tegak dalam damai.”
Kalimat-kalimat itu, yang lima belas tahun lalu hanya singgah sekilas di telingaku sebagai seorang remaja, kini terasa lebih berat dan dalam. Setelah melewati begitu banyak peristiwa dalam hidup, aku akhirnya memahami bahwa menjaga kedamaian jauh lebih sulit daripada sekadar menyalakan api pertengkaran. Sebab kemarahan dapat menyala dalam hitungan menit. Tetapi membangun kembali kepercayaan antarmanusia kadang membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Aku terpaku, merenungkan kembali dua frasa yang diucapkan Bupati tadi: bersaudara dalam iman dan bersaudara dalam kebangsaan. Apakah keduanya memiliki makna yang serupa, ataukah ada jurang pemisah yang selama ini luput dari pemahamanku yang sempit saat itu? Jika iman adalah akar yang menancap ke langit, apakah kebangsaan adalah dahan yang harus saling berpegangan agar pohon kehidupan ini tidak tumbang oleh badai zaman?
Pertanyaan itu justru menyelinap tajam. Menjadi duri dalam daging bertahun-tahun setelah pertemuan tersebut menguap dimakan waktu.
Di tengah keheningan taman yang mulai dibasuh embun malam, tiba saja bayangan wajah Genta menyeruak begitu saja. Genta adalah kawan sebangku di masa SMA, sosok yang bahunya selalu bersisian denganku dalam setiap rapat MPK yang melelahkan. Kami adalah dua kutub yang berangkat dari latar belakang berbeda, namun kami dipersatukan oleh bangku yang sama, lembar buku yang serupa, dan keresahan yang berdenyut selaras di tengah riuh rendahnya dinamika pelajar saat itu.
Dulu, dalam sempitnya pemahaman remaja, kubatasi makna "saudara dalam iman" sebatas mereka yang bersujud ke kiblat yang sama, sementara "saudara dalam kebangsaan" hanyalah mereka yang memegang paspor dengan warna yang serupa. Munculnya memori tentang Genta meruntuhkan tembok-tembok itu. Ia, yang meski berbeda keyakinan, tak pernah ragu menggenggam pundakku dengan jemari yang kokoh saat kecemasan akan masa depan mulai merayap di dadaku.
Mungkinkah persaudaraan kebangsaan adalah cara Tuhan menguji seberapa jauh kita mampu melampaui sekat-sekat ego demi merawat kemanusiaan yang lebih luas?
Aku tersenyum tipis, menatap lampu taman yang berpendar kekuningan, menciptakan siluet di atas rerumputan. Mengingat Genta yang tidak pernah menyusun pidato tentang toleransi. Ia langsung mempraktikkannya melalui perbuatan yang paling jujur. Ia berbagi uang jajan setiap kali kantongku kering, sebuah tindakan kecil yang justru menjadi jawaban bagi pencarian panjangku. Di sana, di balik kesederhanaan yang tak bersuara, kutemukan satu kebenaran bahwa persaudaraan sejati tidak dibangun dari kesamaan keyakinan belaka, melainkan dari kesediaan untuk saling memapah saat badai menghantam dengan intensitas yang sama.
Saat itu mungkin kami terlalu sibuk merumuskan dunia hingga lupa cara menikmati persahabatan yang terjalin di samping kami. Kemudian saat aku berdiri sendirian di taman ini, aku tersadar bahwa menjaga kedamaian di luar sana dimulai dari kemampuan kita merawat sosok "saudara" di dalam diri sendiri, dengan kapasitas untuk tetap mencintai, meski dunia dan jalan yang kita tempuh tak lagi searah.
Memang, dalam napas kehidupan berbangsa melalui pelajaran PPKN, kami diajarkan bahwa Indonesia dipahat di atas keberagaman yang ekstrem. Berbeda suku, dialek, hingga adat istiadat, bahkan berbeda cara bersimpuh di hadapan Sang Pencipta. Tetapi semua tetap dipanggil dengan sebutan yang sama sebagai saudara sebangsa dan setanah air.
Kusadari bahwa persaudaraan itu tidak lahir dari kesamaan teologis, melainkan dari takdir untuk berbagi tanah yang sama, sejarah yang berdarah-darah, dan harapan yang senantiasa digantungkan pada masa depan yang sama.
Di negeri ini, seseorang bisa saja memanjatkan doa dalam bahasa yang berlainan dan memanggil Tuhan melalui pelafalan yang berbeda. Namun saat sawah meranggas gagal panen, saat harga-harga melambung hingga mencekik leher, atau saat bumi berguncang hebat hingga meruntuhkan atap rumah, kecemasan yang dirasakan sesungguhnya seragam. Rasa takut tidak pernah memiliki preferensi agama. Penderitaan tidak pernah bertanya seseorang berasal dari etnis mana.
Di situlah, di antara reruntuhan prasangka dan sisa-sisa kenangan, aku mulai memahami bahwa persaudaraan kebangsaan memiliki ruangnya sendiri. Menjadi sebuah ruang yang tak perlu bersaing dengan persaudaraan keimanan, melainkan menjadi pelengkap bagi kemanusiaan yang utuh.
Persaudaraan keimanan bersandar pada dogma yang diamini bersama. Setiap agama memiliki benteng teologisnya sendiri. Dalam tradisi Islam, istilah kafir memiliki pengertian yang spesifik dalam konteks akidah. Begitu pun agama-agama lain memiliki cara tersendiri untuk membedakan siapa yang berada di dalam lingkaran keyakinan dan siapa yang berada di luarnya. Dalam batasan itu, seseorang memang bisa menjadi "orang luar" bagi agama yang lain.
Namun, persaudaraan kebangsaan tidak dibangun di atas ukuran iman. Ia tegak di atas konsensus untuk hidup berdampingan sebagai warga negara dengan hak dan kewajiban yang setara. Karena itulah seseorang bisa saja berbeda keyakinan, namun tetap menjadi tetangga yang baik, rekan kerja yang terpercaya, sahabat seperjalanan, bahkan menjadi tangan pertama yang memapah saat musibah menerjang.
Bagiku agamaku, dan bagimu agamamu. Tetapi saat di kantor, semua bahu-membahu. Di pasar, dapat berjual beli dengan kejujuran yang sama. Di sekolah, kami belajar untuk saling memahami. Ketika bencana datang, tangan kami sama-sama terulur. Ketika negeri ini dihimpit persoalan, kegelisahan, ketakutan, dan rasa waswas yang kami rasakan adalah denyut yang seragam.
Mungkin karena kesadaran itulah kami dikumpulkan di ruangan itu. Bukan untuk menyeragamkan keyakinan, melainkan untuk memastikan bahwa perbedaan tidak bermutasi menjadi permusuhan.
Setelah merenung lebih dalam, aku menyadari bahwa mungkin itu baru alasan pertama. Ada alasan lain yang jauh lebih personal mengapa namaku tercantum dalam daftar pelajar yang dipanggil menghadiri pertemuan tersebut. Sehubungan alasan yang terkait dengan napas panjang sejarah keluargaku sendiri.
Garis keturunan dari pihak ibu mewariskan kisah yang penuh belit. Ayah dari kakekku adalah seorang mata-mata TNI yang memilih setia kepada Republik. Namun, sejarah tidak pernah sesederhana memilih satu sisi. Dalam pusaran pergolakan bersenjata saat itu, kakekku yang konon demi melindungi ayahnya, tercatat memiliki keterlibatan dengan gerakan DI/TII. Entah sejauh mana keterlibatan itu, aku tak pernah benar-benar tahu. Yang kutahu hanyalah konsekuensinya yang pahit.
Pada masa-masa penuh kecurigaan, secuil riwayat saja sudah cukup untuk memutus masa depan. Seolah-olah pilihan seseorang dapat diwariskan melalui darah. Seolah-olah pandangan politik dapat menular secara genetis.
Muncul kemudian istilah yang begitu keji: tidak bersih lingkungan. Sebuah cap yang tidak diberikan atas tindakan diri sendiri, melainkan atas silsilah keluarga. Kakekku, meski memiliki alasan untuk menyelamatkan ayahnya, tetap dicap sebagai pengkhianat.
Namun, kisah dari pihak ayah terasa jauh lebih tragis. Nenekku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang "dihilangkan" pada masa kekerasan politik Orde Baru. Ia dituduh sebagai dukun santet. Padahal, dari tutur ayah dan orang-orang tua di kampung, aku tahu kebenarannya. Nenekku hanyalah seorang dukun beranak. Ia hanyalah perempuan kampung yang dengan sabar membantu persalinan ketika bidan dan puskesmas masih menjadi kemewahan yang tak terjangkau. Tangan yang selama bertahun-tahun membantu menghadirkan kehidupan, justru dituduh membawa maut hanya karena prosesi kelahiran seorang istri tentara yang dianggap gagal.
Imbasnya kemudian di suatu malam, orang-orang datang menjemputnya secara paksa. Tidak ada pengadilan, tidak ada ruang untuk membela diri, pun tidak ada kabar setelah hari itu. Konon, tubuhnya dibuang ke sebuah sumur tua di daerah Muara.
Hingga hari ini, jasadnya tidak pernah ditemukan. Keluargaku tidak memiliki makam untuk diziarahi. Dan aku sering membayangkan betapa sunyinya kehilangan jenis itu.
Banyak orang masih dapat berbicara kepada leluhurnya di depan nisan, membersihkan rumput yang tumbuh, menaburkan bunga, lalu pulang dengan perasaan lega karena telah melabuhkan rindu. Aku tidak memiliki tempat semacam itu.
Nenekku tidak meninggalkan batu nisan. Tidak ada sebidang tanah yang dapat kutunjuk sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Ia hanya hidup di dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya. Sementara aku sendiri, bahkan tak pernah sempat menatap wajahnya. Aku mengenalnya hanya dari serpihan-serpihan cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, hingga sosoknya perlahan mengabur, berubah menjadi legenda kecil yang tragis di dalam silsilah keluargaku.
“Itulah maksud Bapak mengundangmu, Nak.”
Suara Pak Camat meluncur pelan, menyentuh pendengaranku dengan nada yang lebih menyerupai seorang ayah yang sedang berupaya menjelaskan kerumitan dunia kepada anaknya. Tidak ada kesan menggurui. Yang mengalun justru sebuah permohonan. Sebuah harapan agar kelak, di masa depan, aku mampu mengurai benang kusut yang hari itu mungkin belum sanggup kupahami.
“Bapak, sebagai wakil pemerintah, berniat merangkul masa depanmu. Anggaplah pertemuan ini sebagai bentuk rekonsiliasi.”
Aku hanya terdiam. Kata rekonsiliasi masih terasa terlalu asing bagi seorang pelajar yang dunianya baru sebatas ruang kelas dan lapangan upacara. Saat itu, aku belum mengerti bahwa sebuah bangsa tidak hanya mewarisi kemajuan dan pembangunan, tetapi juga memikul beban luka-luka sejarah yang panjang. Luka yang tak pernah benar-benar tuntas hanya dengan pergantian rezim atau suksesi kepemimpinan.
Beliau membetulkan posisi duduknya, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam.
“Suatu hari nanti, kau akan mengerti. Kau akan menghadapi pergulatan batin. Mungkin akan membawamu pada sebuah dualisme yang akan menguji kesetiaanmu. Di satu sisi, kau mencintai keluargamu dengan segala riwayatnya. Di sisi lain, kau adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa ini. Tapi apa pun yang terjadi, jangan pernah memelihara dendam. Sejarah adalah guru untuk dipelajari, bukan kutukan untuk diwariskan dalam bentuk kebencian.”
Kalimat itu menancap jauh lebih dalam daripada yang kusadari saat itu. Beliau menyunggingkan senyum tipis sebelum melontarkan nasihat yang hingga kini, lima belas tahun kemudian, masih terus menggema di dinding ingatanku.
"Kalau suatu hari kau ingin menjadi pemberontak, jadilah pemberontak yang membangun, bukan yang merusak."
Beliau menjeda, seolah menimbang-nimbang setiap diksi. “Jika kata pemberontak terdengar terlalu vulgar, jadilah pengganggu. Jadilah penggelitik. Seperti lalat kecil yang terus berdengung di telinga kerbau yang terlalu lama tertidur. Ganggu mereka yang lupa bahwa kekuasaan adalah amanah. Ingatkan mereka bahwa jabatan bukanlah takhta untuk disembah, melainkan meja kerja untuk melayani rakyat.”
Saat itu, aku hanya menangkapnya sebagai petuah administratif seorang pejabat. Baru bertahun-tahun kemudian aku tersadar bahwa kritik terhadap kekuasaan tidak selalu lahir dari benih kebencian. Dalam sebuah negara yang sehat, kritik adalah kompas agar kekuasaan tidak kehilangan arah dan kewarasan.
Kini, saat aku mencoba merangkai serpihan-serpihan ingatan yang berserakan, sebuah benang merah mulai tampak nyata, menghubungkan masa laluku dengan riuh peristiwa yang kudengar saat beranjak dewasa. Selepas runtuhnya Orde Baru, ketika ruang publik kembali dibanjiri oleh keberagaman gagasan yang lama terkekang, nama NKW IX mulai sering muncul ke permukaan. Nama itu seketika menarik ingatanku kembali ke ruang pertemuan di gedung itu, ke sebuah percakapan yang dahulu terasa sangat jauh, namun kini terasa begitu dekat.
Menurut berbagai catatan yang kutelusuri, kelompok ini dianggap sebagai faksi yang melanjut atau pecahan dari gerakan DI/TII era SM Kartosuwiryo. Ada fakta yang janggal sekaligus mengerikan yang tersembunyi di balik sejarah lokal: ditemukan beberapa oknum pejabat daerah yang menjalankan dualisme kepemimpinan. Di siang hari, mereka adalah sosok camat atau bupati yang tampak setia mengabdi pada konstitusi NKRI. Namun, di balik bayang-bayang, mereka merajut struktur pemerintahan rahasia di bawah panji NKW IX.
Narasi mengenai kelompok ini terus berkembang menjadi teka-teki yang bersimpang siur. Sebagian menyebutnya sebagai upaya romantis untuk membangkitkan cita-cita lama yang sempat terkubur. Sementara yang lain melihatnya sebagai pergerakan ideologis yang jauh lebih terencana daripada sekadar nostalgia. Namun, hingga detik ini, banyak bagian dari kisah tersebut masih terselimut kabut, menjadi artefak sejarah yang terombang-ambing di antara fakta dan perdebatan yang sulit diverifikasi kebenarannya.
Aku pun pernah mendengar desas-desus mengenai aparatur pemerintah yang konon memiliki loyalitas ganda. Konon, ada mereka yang memikul tanggung jawab sebagai abdi negara dalam struktur Republik, namun di balik layar, menyimpan kesetiaan mutlak pada struktur organisasi yang sama sekali berbeda. Namun sejauh yang kutahu, kisah-kisah semacam itu lebih banyak berseliweran sebagai laporan angin lalu, kesaksian samar, atau pemberitaan miring pada masanya. Tak satu pun yang benar-benar kukuh untuk dipastikan kebenarannya di atas meja pengadilan sejarah.
Di antara desas-desus yang simpang siur itulah, aku mulai memahami mengapa dahulu Pak Camat memanggilku. Mungkin beliau sadar, bahwa dalam sebuah sistem yang tengah retak, loyalitas bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Dan mungkin, beliau melihatku sebagai salah satu "titik" yang bisa ditarik ke dalam orbit yang lebih terang, atau justru sebaliknya, dikhawatirkan akan terseret ke dalam pusaran bayang-bayang tersebut.
Begitu pun dengan narasi mengenai basis pergerakan kelompok tersebut. Versinya bersimpang siur di tengah masyarakat. Ada yang menunjuk wilayah Priangan Timur, ada pula yang mengarahkannya ke sebuah pesantren ternama di Indramayu. Tetapi aku memilih untuk tidak terjebak dalam fitnah. Aku menolak menarik kesimpulan dengan tanpa dasar. Mengaitkan lembaga pendidikan tersebut sebagai institusi besar yang namanya harum hingga ke mancanegara dengan tanpa pertanggungjawaban. Terlalu banyak kehormatan yang tergerus oleh desas-desus. Terlalu banyak nama baik yang hancur hanya karena asumsi yang diteruskan tanpa verifikasi.
Namun, satu hal adalah pengalaman yang benar-benar kualami dengan seluruh kesadaranku.
Saat duduk di bangku SMA, seorang kawan pernah mengajakku masuk ke dalam lingkaran yang disebutnya sebagai bagian dari NKW IX. Ajakan itu tidak datang dengan paksaan atau ancaman. Semuanya bermula dari diskusi-diskusi hangat mengenai hijrah, jihad, nasib umat, dan impian tentang tatanan masyarakat yang lebih ideal.
Bagi seorang remaja yang sedang memburu jati diri, percakapan-percakapan itu terasa magnetis. Sebab pertanyaan demi pertanyaan besar mengenai agama, keadilan, dan masa depan bangsa dibedah dengan api semangat yang menyala. Namun seiring waktu, aku mulai tersadar bahwa setiap gagasan betapa pun terdengar suci dan mulia, selalu harus diuji dengan akal sehat, keluasan pengetahuan, dan kompas kemanusiaan.
Pengalaman itulah yang membuatku kini memahami mengapa dahulu Pak Camat berbicara begitu panjang kepadaku. Barangkali ia telah melihat kemungkinan bahwa suatu hari nanti aku akan berdiri di persimpangan jalan. Membayangkan aku akan terjepit di antara bayang-bayang sejarah keluargaku, keyakinanku sebagai seorang muslim, dan kecintaanku kepada negeri ini, serta berbagai ajakan yang senantiasa mengatasnamakan perubahan.
Sejak saat itu, aku mulai mengerti bahwa pergulatan terbesar manusia bukanlah memilih antara hitam atau putih. Pergulatan sesungguhnya adalah bagaimana tetap menjaga nurani agar tidak karam ketika berbagai klaim kebenaran datang bersahutan, yang masing-masing dengan lantang menunjuk diri sebagai jalan yang paling lurus.
Malam itu, saat kenangan-kenangan lama kembali merayap memenuhi kepalaku, aku akhirnya mengerti bahwa manusia tidak pernah benar-benar dapat memilih dari rahim mana ia dilahirkan. Aku tidak berhak memilih darah yang mengalir di balik kulit. Tidak pula mampu memilih sejarah kelam yang telah dituliskan oleh leluhur. Tetapi satu-satunya hak mutlak yang kumiliki adalah memilih bagaimana menyikapi warisan tersebut. Apakah aku akan membiarkannya menjadi belenggu, atau mengubahnya menjadi kompas bagi langkah-langkahku ke depan.
Mungkin itulah hakikat rekonsiliasi yang dimaksud oleh Pak Camat. Ia bukan tentang menghapus sejarah. Karena sejarah tidak pernah dapat dihapus oleh tangan manusia mana pun. Ia juga bukan tentang memaksakan diri melupakan luka, sebab luka yang dipaksa terkubur justru seringkali tumbuh menjadi dendam yang bernanah.
Rekonsiliasi, barangkali, adalah keberanian untuk menatap masa lalu dengan mata terbuka. Mengakuinya dengan jujur, lalu dengan sadar memutus mata rantai kebencian agar tidak lagi diwariskan sebagai beban bagi generasi berikutnya.
Aku pun mulai memahami sepenuhnya mengapa beliau berpesan agar aku menjadi seorang "pengganggu". Bukan pengganggu yang menciptakan kekacauan, melainkan pengganggu bagi kekuasaan yang mulai pikun akan amanah. Pengganggu bagi ketidakadilan yang diselubungi topeng kewajaran. Pengganggu bagi kebohongan yang terlalu lama dibiarkan berkuasa sebagai kebenaran. Sebab terkadang, sebuah bangsa tidak membutuhkan lebih banyak pahlawan di atas mimbar, melainkan lebih banyak warga yang berani menjaga hati nuraninya tetap bernapas.
Setelah lima belas tahun berlalu, aku tidak lagi memandang kisah keluargaku sebagai kutukan yang harus kusembunyikan di balik tirai. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari denyut sejarah bangsa ini. Di dalamnya terajut kesetiaan, kesalahpahaman, fitnah, kekerasan, kehilangan, dan nasib orang-orang biasa yang tergilas karena hidup pada zaman yang terlampau rumit. Sejarah keluargaku ternyata bukan hanya milikku. Ia adalah serpihan kecil dari mosaik sejarah Indonesia yang agung sekaligus tragis.
Aku memandang sekali lagi Monumen Kalpataru yang berdiri tenang di tengah taman. Cahaya lampu sorot terus membasuh wajah patung-patung itu, seolah mengingatkan bahwa mereka yang bekerja untuk kehidupan tidak selalu dikenang karena suaranya yang lantang, melainkan karena jejak yang ditinggalkannya bagi semesta.
Aku beranjak meninggalkan taman dengan langkah yang jauh lebih ringan daripada saat aku datang. Di belakangku, malam semakin pekat, namun di depanku, jalanan kota memanjang. Diterangi lampu-lampu jalan yang tak pernah bertanya siapa aku, dari silsilah mana aku berasal, atau sejarah apa yang melekat pada namaku. Jalan itu hanya menawarkan satu hal tentang kesempatan untuk terus melangkah.
Dan mungkin, begitulah seharusnya manusia menjalani hidup. Berdamai dengan masa lalu tanpa menjadi tawanannya. Mengingat sejarah tanpa membiarkannya mencuri masa depan. Sebab yang akan dikenang bukanlah dari rahim atau keluarga siapa kita dilahirkan, melainkan nilai-nilai apa yang kita wariskan saat raga ini tak lagi ada di dunia. (Bersambung)