Pak Camat melangkah lebih dahulu keluar rumah, tubuhnya yang tegap membelah udara pagi yang masih menyisakan sisa-sisa embun. Aku mengekor beberapa langkah di belakangnya, membawa gumpalan kebingungan yang sejak tadi belum juga menemukan muara. Langkah kakiku terasa ringan, sementara batin terasa seberat batu sungai yang terendam endapan lumpur selama puluhan tahun. Sebuah perjalanan baru saja hendak dimulai, dan aku sama sekali buta akan peta nasib yang akan membawaku ke mana. Hidup memang seringkali bekerja demikian. Memaksa kita membuka satu pintu, tanpa sudi membocorkan rahasia apa yang bersembunyi di balik ambang ruang yang menanti.
Di halaman, sebuah mobil dinas tampak terparkir dengan kesahajaan yang angkuh. Mesinnya masih mati, namun auranya seolah telah lama mematung, menunggu kami hadir untuk menggenapi takdirnya. Di samping mobil, berdiri sosok lelaki yang wajahnya sudah tidak asing lagi dalam ingatanku.
"Itu Mang Beja," tutur Pak Camat seraya menganggukkan kepala, seolah memperkenalkan sebuah bab yang tak terduga dalam riwayat hidupku.
Mang Beja membalas dengan senyum tipis. Sebuah kurva di wajahnya yang menyimpan keteduhan khas orang kampung. Senyum yang jarang bicara, namun mampu meruntuhkan dinding kecemasan siapa pun yang memandangnya.
"Masuklah. Duduk di belakang," perintah Pak Camat dengan nada yang tidak mengizinkan penolakan.
Aku mengangguk patuh. Saat pintu mobil terbuka, aroma khas jok kulit yang berpadu dengan wangi solar dan sisa embun pagi menyergap indra penciumanku, menciptakan nuansa ruang yang sempit sekaligus intim. Tak lama kemudian, Mang Beja telah berada di balik kemudi, sementara Pak Camat mengambil posisi di kursi depan. Keheningan menyergap di antara kami, tebal dan pekat, seolah setiap orang sedang sibuk merawat rahasia di dalam kepala masing-masing.
Mobil pun berderak pelan, membelah sunyi halaman rumah. Roda-rodanya menggulung permukaan jalan dengan irama yang tenang, seakan enggan memantik gaduh di tengah pagi yang masih menggeliat dari tidurnya yang panjang. Di luar jendela, deretan pepohonan bergeser perlahan, meluncur mundur layaknya lembar-lembar kenangan yang sedang dibuka satu per satu oleh jemari waktu.
Tak lama, kami tiba di halaman paviliun Kantor Kecamatan Pancatengah. Mobil berhenti, namun mesinnya dibiarkan tetap menderu halus. Suara dengung itu terdengar seperti napas panjang seseorang yang sedang menanti sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Tak seorang pun di antara kami yang berani merusak keheningan yang membentang itu, hingga akhirnya Pak Camat memecah kebuntuan.
"Kita menunggu Pak Kepala Dinas," ucapnya tenang, seolah sedang membaca cuaca. “Beliau segera tiba. Barangkali masih membenahi persiapan terakhir.”
Aku hanya mengangguk, mencoba mencerna fakta bahwa perjalanan ini bukan sekadar urusan pribadi, melainkan sebuah simpul yang mempertemukan seorang camat, kepala dinas, dan aku yang seorang siswa yang hanyut dalam arus peristiwa. Pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku seperti burung yang kehilangan arah pulang, mencari tempat hinggap yang tak kunjung ditemukan.
Di sela penantian, Pak Camat memalingkan wajah, menatapku dengan sorot yang menyelidik namun hangat.
“Kamu dari mana, Nak?”
Aku yang sempat tenggelam dalam lamunan, tersentak pelan. "Dari Tawang, Pak," jawabku singkat.
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku, yang sesaat kemudian aku menyadari bahwa itu bukanlah jawaban yang diharapkan beliau. Pak Camat tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tidak bermaksud menghakimi.
"Bukan nama desa itu yang Bapak maksud," sahutnya lembut. Ia memberi jeda sejenak, membiarkan keheningan menguatkan kata-katanya. “Nama kampung asalmu.”
"Oh..." aku tertegun sejenak. “Citamiang, Pak.”
"Citamiang?" Pak Camat mengulanginya, sebuah gumaman yang terdengar seperti sedang memverifikasi sebuah catatan lama dalam ingatannya. Ia mengangguk kecil. “Oh, maksudmu Cikopeng.”
Aku terpaku. Nama itu terdengar asing sekaligus familiar di telingaku.
"Itulah nama yang tercatat dalam administrasi formal pemerintahan desa," lanjut Pak Camat dengan nada guru yang sedang mengajarkan sejarah tersembunyi. “Namun, orang-orang saat ini lebih gemar menyebutnya Citamiang. Tahukah kamu alasannya?”
Aku menggeleng pelan, rasa ingin tahu mulai mengalir di nadiku. “Belum tahu, Pak.”
Pak Camat tersenyum lagi. Senyum seorang pendidik yang melihat muridnya baru saja membalik halaman pertama dari sebuah pelajaran yang tidak pernah tertulis dalam buku teks sekolah.
“Nanti Bapak ceritakan padamu.”
Sebelum penjelasan mengenai rahasia nama "Citamiang" sempat terurai, pandanganku tertuju pada siluet seseorang yang berjalan mantap menuju mobil kami.
Itulah Pak Kepala Dinas Pendidikan, sosok yang sejak tadi ditunggu. Setelah bertukar salam dengan takzim, beliau masuk ke dalam mobil, mengisi ruang kosong yang tersisa. Tanpa membuang waktu, Mang Beja memutar kemudi dan kami pun melesat, meninggalkan Pancatengah menuju arah Kota Tasikmalaya.
Jalan berkelok-kelok terbentang di depan, membelah perbukitan hijau yang berdiri angkuh, layaknya para penjaga tua yang selama ratusan tahun tak pernah beranjak dari posnya. Angin pagi sesekali menerobos masuk melalui celah kaca jendela yang terbuka tipis, membawa aroma tanah basah, helai dedaunan, dan hamparan sawah yang baru saja membasuh diri dari embun. Alam seolah turut mengawal perjalanan kami dengan kesunyian yang khidmat.
Di tengah deru mesin yang stabil, Pak Camat akhirnya membuka selubung tujuan keberangkatan kami.
"Pak Bupati mengundang utusan dari setiap kecamatan," tuturnya dengan pandangan lurus menembus kaca depan. “Akan diadakan sarasehan mengenai pendidikan serta berbagai persoalan regional dan nasional.”
Beliau mengambil jeda, membiarkan kalimatnya meresap ke dalam kabin mobil yang hening.
"Pak Bupati secara khusus meminta agar setiap kecamatan membawa seorang pelajar," lanjutnya.
Aku menyimak dengan saksama, menelan setiap kata yang meluncur dari bibir beliau.
"Bukan sekadar pelengkap acara, bukan pula untuk menonjolkan siswa paling pintar di antara yang lain." Beliau menoleh sejenak ke arahku, sorot matanya tajam namun meneduhkan. “Yang Bupati harapkan hanyalah kehadiran satu terpelajar yang mau mendengar, berpikir, lalu mengolahnya menjadi pemahaman. Sederhana, namun mendalam.”
Kata-kata itu bergema di kepalaku, memenuhi ruang kosong yang sebelumnya diisi oleh kecemasan. Pak Camat menarik napas perlahan sebelum menyambung kembali.
“Awalnya panitia memang tidak merencanakan kehadiran siswa karena waktu yang serba mendadak. Namun, Pak Bupati bersikeras. Beliau berujar, jangan pernah menganggap remeh kehadiran seorang pelajar. Mereka adalah tunas yang kelak memikul beban kepemimpinan negeri ini. Jika sejak muda mereka tidak dibiasakan melihat wajah persoalan masyarakat, kapan lagi mereka akan belajar untuk memahaminya?”
Tak ada seorang pun di antara kami yang menyela. Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan bermakna. Mobil terus melaju, membawa kami menembus kabut pagi, menuju tempat di mana masa depan mulai dipertaruhkan.
Kalimat-kalimat itu melayang di dalam benakku, menetap perlahan seperti benih yang baru saja disemai ke dalam tanah basah. Barangkali ia tidak akan langsung berkecambah hari itu juga. Namun aku meyakini, suatu saat nanti ketika musimnya tiba, ia akan menjelma menjadi pohon dengan akar-akar yang tumbuh dari percakapan sederhana di dalam mobil itu.
Beberapa saat kemudian, ketika deru mesin mobil mulai selaras dengan irama napas kami, Pak Camat kembali menoleh, melanjutkan alur cerita yang tadi sempat tertunda oleh kedatangan Pak Kepala Dinas.
"Nah, sekarang mari kita lanjutkan soal kampungmu itu," ucapnya dengan nada yang lebih santai.
Aku menyimak, menaruh perhatian penuh pada setiap gerak bibirnya.
"Citamiang memang dikenal luas bukan tanpa sebab. Ia bertumpu pada keberadaan pesantren yang diasuh oleh Kyai Marzuki bersama menantunya, Kyai Muslihin." Beliau menoleh sebentar, sepasang matanya menyimpan kilatan kebijaksanaan. “Kamu tentu tahu nama pesantrennya?”
Pertanyaan itu membuatku tersenyum kecil. “Hidayatul Alfiyah, Pak.”
"Nah..." Pak Camat mengangguk puas. “Jawaban yang tepat.”
Bagiku, menjawabnya adalah hal yang paling mudah. Rasanya hampir mustahil ada anak Citamiang yang tidak mengenal pesantren kebanggaan kampungnya sendiri. Nama itu telah tumbuh bersama ingatan kami sejak kanak-kanak, melekat erat layaknya suara azan yang setiap hari menjadi detak jantung penanda waktu bagi penduduk desa.
"Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian," lanjut Pak Camat. Ia mengangkat telunjuknya ke udara, jemarinya bergerak lincah seolah sedang memetakan batas-batas wilayah di atas hamparan kaca jendela yang berembun.
"Secara administratif, nama kampung yang resmi tercatat dalam dokumen desa tetaplah Cikopeng." Lalu ia memberi jeda, membiarkan fakta itu meresap.
“Citamiang hanyalah salah satu bagian darinya. Karena pesantren itu tumbuh sedemikian besar dan menjadi denyut nadi kegiatan masyarakat, orang-orang secara perlahan lebih mengidentifikasi wilayah itu sebagai Citamiang.”
Pak Camat tersenyum geli. “Citamiang ibarat pusat, sebuah ibu kota kecil di jantung Cikopeng. Ia adalah mercusuar yang sinarnya memayungi seluruh pelosok kampung.”
Beliau tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang terdengar tulus. “Jika boleh kita beri sedikit bumbu canda, mungkin kita bisa menyebutnya... Citamiang City.”
Seketika, tawa pecah di dalam kabin mobil yang sempit itu. Suasana yang sejak tadi terasa kaku oleh beban sarasehan dan urusan formal, mendadak mencair menjadi kehangatan yang akrab. Candaan ringan itu seolah meruntuhkan sekat antara camat, kepala dinas, dan seorang siswa, menyisakan ruang perjumpaan yang lebih manusiawi di tengah perjalanan kami menuju kota.
"Kampung Cikopeng terdiri atas beberapa gerumbul kampung," lanjut Pak Camat dengan nada suara yang ritmis, seolah sedang mendongeng. “Ada Citamiang, Puncaklame, Ciampel, Pasirhalang, juga Cicurug. Masing-masing memiliki ekosistem lingkungannya sendiri dan bernaung di bawah kewenangan RT yang berbeda.”
Penjelasan beliau tentang detil kampung asalku begitu tepat hingga membuatku termangu. Tentu, sebagai seorang Camat, wawasan wilayah adalah tuntutan tugasnya. Namun, ada ketulusan yang tak biasa dalam setiap tutur katanya. Beliau memaparkan batas-batas wilayah itu dengan begitu rinci, seolah seluruh peta geografis Cikopeng telah lama terpatri di relung ingatannya.
Aku mendengarkan dengan takjub. Melalui penuturan beliau, aku seakan tengah melihat kampung kelahiranku dari sudut pandang yang belum pernah kubayangkan sebelumnya. Ibarat aku melihatnya dari sebuah ketinggian yang mampu menjangkau cakrawala. Selama ini, aku hanya mengenal kampung itu sebagai tempat lahir dan tumbuh, tempat di mana langkah kaki menghabiskan masa kanak-kanak. Namun di hadapan Pak Camat, kampung itu bertransformasi menjadi sebuah kisah yang memiliki sejarah, susunan, dan makna yang jauh melampaui pemahamanku yang masih sempit.
Aku memalingkan wajah, memandang ke luar jendela. Sawah-sawah yang menghijau terus berlalu, deretan perbukitan bergantian menyapa. Lalu pikiranku melesat pulang ke kampung sendiri, mengikuti setiap kata Pak Camat yang perlahan membuka pintu-pintu pengetahuan yang selama ini terkunci rapat oleh ketidaktahuanku.
Aku mulai menyadari satu hal bahwa perjalanan saat itu bukan sekadar rotasi geografis menuju Kota Tasikmalaya, melainkan sebuah perjalanan pulang menuju akar, menuju asal-usul yang selama ini kupijak tanpa pernah benar-benar kupahami hakikatnya.
Mobil dinas itu terus melaju dengan tenang, membelah jalanan yang masih membasah oleh sisa embun pagi. Di dalam kabin yang tidak terlalu luas itu, hanya ada kami berempat antara Pak Camat di kursi depan, Mang Beja yang setia menggenggam kemudi, Pak Kepala Dinas Pendidikan dan aku yang sama-sama duduk di jok belakang. Aku duduk dalam diam merasakan kesunyian yang terasa lebih riuh daripada percakapan mana pun.
Di luar jendela, hamparan bentang alam seolah sedang membalik lembar demi lembar sebuah kitab tua yang belum pernah sempat kubaca hingga tuntas. Setiap tikungan yang kami lalui terasa seperti sebuah kalimat baru dalam narasi kehidupan, sementara pepohonan yang berbaris di tepi jalan seakan menjadi saksi bisu atas perjalanan panjang sebuah daerah yang menyimpan misteri lebih dalam daripada yang tampak di permukaan.
Cerita Pak Camat belum selesai, dan aku merasa masih ada banyak bab yang akan beliau bukakan satu demi satu. Sebuah keadaan seperti jemari seseorang yang dengan telaten membuka lembar-lembar tua dari sebuah buku sejarah yang selama ini tersimpan rapi di rak waktu, menunggu saat yang tepat untuk dibaca kembali.
Barangkali bagi orang lain, perjalanan ini hanyalah rutinitas perpindahan dari satu titik ke titik lain. Namun bagiku, ia perlahan bermetamorfosis menjadi ruang belajar yang tak pernah kutemukan dalam ruang kelas mana pun. Di dalam kabin mobil yang terus melaju, percakapan sederhana menjelma menjadi kunci yang membuka lorong-lorong sejarah. Ia menyingkap tabir bahwa setiap kampung ternyata memiliki ingatan panjang, dan setiap nama tempat menyimpan jejak manusia yang pernah hidup, berjuang, bahkan saling berhadapan karena keyakinan serta pilihan zaman mereka.
Pak Camat memecah kesunyian, suaranya memantul lembut di dinding mobil.
"Jika Bapak bertanya," tuturnya sambil tetap memandang lurus ke arah jalanan yang membentang, “apa peristiwa terbesar yang pernah melingkupi wilayah kampungmu, kira-kira kamu bisa menjawabnya?”
Aku menggeleng pelan. Dalam perjumpaan yang baru saja dimulai ini, aku sudah dihadapkan pada pertanyaan yang menuntut cakrawala pikir jauh lebih luas. Tetapi aku segera menangkap isyaratnya bahwa mungkin beliau memang tidak sedang mengujiku sebagai seorang siswa yang harus menghafal jawaban, melainkan sedang memancing kesadaranku sebagai seorang terpelajar yang diajak untuk menoleh ke belakang, melihat jejak yang tertinggal di balik punggung waktu.
"Belum tahu, Pak," jawabku jujur.
Beliau tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang seolah sudah menduga keterbatasanku. “Tak apa. Memang sejarah seringkali lebih banyak tersimpan dalam lipatan ingatan orang-orang tua daripada diajarkan dengan sistematis kepada anak-anak muda.”
Beliau kemudian melanjutkan, nadanya tenang dan terukur, seolah sedang menuntun langkahku menyusuri lorong waktu.
“Dulu, wilayah yang sekarang terpecah menjadi beberapa desa seperti Neglasari, Tawang, Mekarsari, hingga Cikawung, pernah berada dalam satu kawasan administratif yang utuh. Pemekaran yang terjadi kemudian bukanlah sekadar garis batas di atas peta, melainkan cerminan dari geliat pertumbuhan penduduk, tuntutan pelayanan pemerintah, dan dinamika kebutuhan masyarakat yang terus berubah.”
Mobil terus melaju. Suara mesin yang berdengung pelan terdengar seperti seseorang yang sedang menggumamkan lagu lama, sebuah melodi tentang transisi dan waktu. Aku mulai menyadari bahwa sejarah ternyata tidak hanya membeku di dalam buku-buku perpustakaan yang berdebu. Ia dapat hidup, bernapas, dan mengalir di dalam ingatan orang-orang yang pernah melampaui zamannya.
Beberapa saat kemudian, Pak Camat kembali memancing pikiranku.
“Coba sekarang, Bapak tanya lagi. Sejak kapan Kecamatan Pancatengah dibentuk? Dan menurutmu, mengapa dulu Kecamatan Cikatomas perlu dimekarkan?”
Aku kembali terdiam. Pertanyaan itu terasa jauh lebih berat daripada usiaku. Selama ini, aku hanya mengenal kampung sebagai ruang untuk pulang, tempat di mana sawah membentang dan suara azan menjadi penanda abadi pergantian senja. Aku belum pernah membayangkan bahwa sebuah kecamatan pun memiliki riwayat kelahirannya sendiri, memiliki alasan mengapa ia harus ada, persis seperti manusia yang memiliki kisah tentang hari pertama ia melihat dunia.
"Maaf, Pak..." kataku lirih, mencoba menyembunyikan rasa malu atas ketidaktahuanku. “Saya sungguh tidak tahu.”
"Justru itu," jawab beliau lembut, menatapku melalui kaca spion tengah dengan sorot yang menenangkan.
“Seorang pelajar tidak harus selalu tahu segala jawaban. Namun, ia wajib memiliki rasa ingin tahu yang tak pernah padam.”
Kalimat itu singkat, namun terasa menancap dalam dan menetap lama di dalam benakku, menjadi bahan bakar baru bagi perjalanan yang baru saja dimulai ini.
Pak Camat kemudian mulai menyibak salah satu bab paling kelam sekaligus penting dalam sejarah Jawa Barat pada pertengahan abad ke-20. Beliau menjelaskan bagaimana wilayah Priangan bagian selatan pernah menjadi pusat pergolakan bersenjata saat gerakan yang dipimpin oleh S.M. Kartosuwiryo memproklamasikan Negara Islam Indonesia (NII).
"Dalam catatan sejarah," tuturnya dengan nada yang tenang namun tajam, “mereka tidak sekadar berjuang, tetapi membangun struktur pemerintahan paralel dengan organisasi militer yang dikenal sebagai Tentara Islam Indonesia atau TII.”
Beliau pun menguraikan bagaimana wilayah pegunungan yang terjal di pedalaman selatan Jawa Barat, mulai dari Banten selatan, Sukabumi, Cianjur, hingga Garut dan Tasikmalaya menjadi benteng strategis. Terlebih setelah Daud Beureuh di Aceh dan Kahar Muzakkar di Sulawesi menyatakan sumpah setia, serta hasil dari pertemuan di lereng Galunggung yang mengukuhkan Garut dan Tasikmalaya sebagai pusat pertahanan utama. Beliau bahkan menyinggung masa-masa mencekam ketika Tentara Republik mengepung wilayah tersebut melalui operasi militer yang dikenal sebagai Pagar Betis.
"Jika kita meninjau dari perspektif ilmu kenegaraan," ujar Pak Camat sambil menatap jalanan yang berkelok, “sebuah negara membutuhkan tiga unsur mutlak: wilayah, penduduk, dan pemerintahan. Kelompok-kelompok masa itu mencoba mewujudkan ketiga unsur tersebut sesuai dengan visi yang mereka yakini.”
Dari penuturannya, beliau memang tidak sedang berorasi atau menggiring kami untuk memihak. Barangkali ia hanya memaparkan bagaimana sejarah bergerak melalui dialektika gagasan, pertentangan, dan pilihan-pilihan pahit yang meninggalkan bekas luka panjang bagi masyarakat.
Pak Kepala Dinas yang sejak tadi lebih banyak diam, akhirnya ikut angkat bicara. "Karena itulah, sejarah harus dibaca dengan kepala yang dingin," ujarnya pelan.
Ia menoleh ke arahku, tatapannya menyiratkan pesan mendalam. “Bukan untuk mewariskan kebencian, melainkan agar kita memahami sebab-akibat sebuah peristiwa, dan bagaimana bangsa ini berupaya merajut kembali serpihan-serpihan yang sempat tercerai.”
Aku mengangguk pelan, mencoba meresapi setiap kata. Di luar kaca, perbukitan yang kulewati terasa seperti benang panjang yang sedang menjahit masa lalu dengan masa kini. Aku mendengarkan tanpa berkedip, takut kehilangan satu fragmen dari setia penjelasannya.
Namun di balik kesetiaanku mendengarkan, pikiranku justru mulai liar. Berbagai pertanyaan mulai tumbuh bagai ilalang di musim hujan. Siapakah sebenarnya Pak Camat ini?
Aku mulai mengamati gerak-geriknya lebih intens. Ada sesuatu yang janggal pada cara ia duduknya yang tegak, kaku, dan matanya tidak pernah benar-benar menatap santai ke jalanan. Pandangannya terlalu awas, sesekali melirik spion tengah, tepat ke arah mataku. Seolah ia sedang memastikan apakah pesan yang ia sampaikan sudah "mendarat" dengan sempurna. Cara bicaranya pun terlampau sistematis, seperti seseorang yang sedang membacakan draf pidato yang telah dihafal di luar kepala, atau mungkin... draf misi.
Aku mulai ragu apakah sosok yang duduk di jok depan ini hanyalah seorang pejabat administratif, ataukah ia seorang sejarawan, ahli tata negara, atau mungkin agen intelijen yang sedang menjalankan misi tersembunyi?
Sebuah kecurigaan tiba-tiba menyusup ke benakku: Jangan-jangan, undangan ini hanyalah sebuah proyek rahasia?
Ingatanku melayang pada taktik era Panglima ABRI L.B. Moerdani yang pernah tersiar mengumpulkan anak-cucu bekas anggota DI/TII yang sudah "mati kutu" di masa Orde Baru dalam kedok sarasehan santunan. Apakah ini hanyalah permukaan dari slogan kerja "Merangkul untuk memukul, menyantuni untuk menghabisi" seperti yang pernah terjadi dalam kasus-kasus kelam masa lalu?
Punggungku tiba-tiba terasa dingin. Aku mulai memperhatikan gestur tangannya yang sesekali mengetuk-ngetuk sandaran kursi dengan irama yang konsisten, layaknya detak jam yang menghitung waktu mundur bagi seseorang. Apakah aku sedang duduk bersama orang yang akan melindungiku, atau justru orang yang sedang memetakan profil keluargaku untuk kepentingan yang lebih gelap?
Pertanyaan itu membuat atmosfer di dalam kabin mobil yang tadinya hangat, tiba-tiba berubah menjadi mencekam. Matahari pagi di luar sana tampak semakin menyilaukan, namun tidak mampu mengusir bayang-bayang ketakutan yang kini mulai bertahta di benakku.
Tetapi aku berusaha meyakinkan diri bahwa zaman telah berubah. Negara telah menapaki era Reformasi. Meskipun sisa-sisa kekuatan Orde Baru masih terasa menyelinap di sela-sela kebijakan, bukankah angin telah berubah arah?
Aku teringat pada fase terakhir masa kepemimpinan Soeharto saat ia perlahan beranjak dari simbol-simbol kejawen menuju citra religius yang lebih kental. Menambahkan nama depan yang sarat makna spiritual dan gelar haji. Begitu pula tubuh militer yang secara bertahap mengalami proses "penghijauan" sejak era transisi Habibie yang merangkul kaum cendekiawan Muslim melalui ICMI.
Semakin lama aku menyimak, semakin sulit bagiku memberi satu label pada sosok pria di depanku ini. Ia seperti teka-teki yang berlapis. Kadang ia terdengar seperti guru sejarah yang hapal setiap inci peristiwa, sesekali berbicara layaknya ahli tata negara yang paham betul bagaimana administrasi wilayah dimanipulasi, dan di lain waktu, ia adalah pengamat tajam yang mampu merangkai peristiwa menjadi sebuah narasi utuh. Pengetahuannya mengalir tenang dan dalam, layaknya sungai yang permukaannya tampak tenang, padahal menyimpan arus bawah yang mampu menyeret siapa pun ke kedalaman yang tak terduga.
Berbagai dugaan liar sempat berkelebat di benakku. Tetapi mungkin itulah cara kerja pikiran seorang anak muda saat berhadapan dengan sesuatu yang asing. Untuk apa sebenarnya aku diundang? Apakah ini benar-benar forum pendidikan, atau ada agenda lain yang tersembunyi di balik seragam dinasnya?
Setiap kali prasangka itu muncul, aku segera menepisnya. Aku mengingatkan diriku sendiri bahwa mungkin aku terlalu banyak menelan kisah-kisah politik, terlalu sering dicekoki cerita orang dewasa tentang masa-masa penuh kecurigaan.
Tidak semua pertemuan menyimpan rahasia, bisikku dalam hati. Kadang, sebuah perjalanan memang hanya sebuah perjalanan. Tetapi aku sadar, justru dari perjalanan yang tampak biasa inilah seseorang seringkali saat melangkah pulang dengan membawa cara pandang yang telah berubah total terhadap dunia.
Tetapi di dalam kepalaku, pikiran-pikiran itu terus berkelindan bagai kabut yang enggan terangkat dari punggung gunung. Aku terus mencoba menyusun kepingan-kepingan itu, meski sadar bahwa tidak semuanya dapat kujawab dengan logika. Negeri ini telah melewati gerbang Reformasi. Banyak hal yang dahulu dianggap kokoh dan mutlak, kini mulai bergeser, diperdebatkan, dan diucapkan dengan lebih terbuka.
Namun di balik semua keterbukaan itu, aku tetap merasa ada sesuatu yang ganjil. Bayang-bayang masa lalu itu masih saja melintas, seperti pohon-pohon tua yang tetap berdiri kokoh meski musim telah berkali-kali berganti, menjaga rahasia-rahasia yang tertanam jauh di bawah akar-akarnya.
Aku kembali menyelami ingatan tentang berbagai cerita yang pernah kudengar mengenai perubahan besar di penghujung masa pemerintahan Presiden Soeharto. Konon, arah kehidupan politik dan relasi negara dengan kelompok Islam mengalami pergeseran yang cukup tajam. Ada yang menyebutnya sebagai proses rekonsiliasi yang tulus, namun tak sedikit yang menilainya sekadar penyesuaian pragmatis di tengah krisis legitimasi yang kian meruncing.
Sebagai anak kampung yang lebih banyak menyerap cerita daripada memahami substansi, aku belum sanggup menimbang mana yang mendekati kebenaran. Cerita-cerita itu hanya singgah di kepalaku, layaknya helai daun kering yang diterbangkan angin, jatuh berserakan tanpa pernah benar-benar kuketahui dari dahan pohon mana mereka berasal.
Namun, lamunanku buyar ketika suara Pak Camat kembali mengisi ruang mobil, memanggilku kembali ke masa kini.
Beliau sama sekali tidak sedang menggiring kami masuk ke dalam debat politik kekuasaan. Nada bicaranya tetap tenang, datar, dan terukur, seperti seorang kartografer yang sedang menunjukkan letak sebuah sungai pada peta lama.
"Pancatengah," katanya, “dahulu merupakan bagian dari Kecamatan Cikatomas. Pemekaran dilakukan seiring pertumbuhan wilayah, agar pelayanan pemerintahan mampu menyentuh masyarakat hingga ke titik terjauh.”
Beliau berhenti sejenak, membiarkan mesin mobil yang berdengung halus mengisi kekosongan.
“Pada masa pergolakan DI/TII, wilayah selatan Tasikmalaya memang menjadi palagan yang cukup panjang. Sejarahnya membekas cukup dalam di setiap jengkal tanah yang kita lalui ini.”
Aku menyimak dengan saksama. Tidak ada nada menghakimi dalam tutur katanya, pun tidak ada percik kebencian. Beliau seperti hanya ingin sejarah dipahami sebagai sebuah perjalanan bangsa yang jalurnya tidak selalu lurus dan bersih dari debu.
"Operasi militer dilakukan secara masif," lanjut beliau. “Medan pegunungan dan rimba yang luas membuat pengejaran terhadap kelompok bersenjata menjadi begitu melelahkan. Banyak daerah pedalaman yang semula sunyi, tiba-tiba menjadi panggung bagi drama besar negara, termasuk kampung-kampung yang hari ini tampak begitu tenang.”
Kalimat itu menggantung, berat dan penuh arti. Aku memandang ke luar jendela. Perbukitan hijau yang berbaris di cakrawala tampak begitu damai, seolah tanah yang kini ditumbuhi padi, kebun, dan pepohonan itu tak pernah mengenal darah atau air mata. Sebab alam memang memiliki cara yang ajaib untuk menyembunyikan luka. Setelah itu rumput kembali tumbuh, pohon kembali rindang, meski ingatan kolektif manusia penghuninya sering menyimpan bekas yang tak kasat mata.
Pak Camat kemudian mengurai taktik sejarah yang tak pernah ada dalam buku pelajaran sekolahku. Baru kali itu aku mendengarnya.
“Tentara Republik dari Tasikmalaya utara datang berbondong-bondong menuju Cikatomas untuk menggelar operasi. Saat itu, mereka meyakini bahwa kekuatan DI/TII yang telah tersapu dari Banten selatan pasti bergerak mundur ke timur dan selatan Priangan Timur, menuju pesisir pantai atau menyeberang ke Jawa bagian tengah.”
Beliau tertawa kecil, sebuah tawa yang sarat akan ironi sejarah. “TNI sesungguhnya telah dikelabui oleh taktik pasukan elit DI/TII. Sementara kompi-kompi TNI terkuras energinya di medan selatan dan pedalaman, sang gembong S.M. Kartosuwiryo justru masih bercokol di arah berlawanan, di pegunungan Malangbong.”
Aku terperangah. Jadi, pengejaran ke pedalaman kampungku adalah sebuah kesia-siaan?
Pak Camat kembali menjelaskan, "Cikatomas memang telah diamankan. Tetapi pedalamannya masih menjadi labirin yang menelan jejak operasi."
“TNI terus merangsek hingga ke titik-titik terdalam, sampai di daerah yang sekarang menjadi kampung kita. Logistik didatangkan dari Cikatomas, merambah titik-titik pedalaman, yang kemudian secara bertahap melahirkan nama-nama desa baru: Cikawung, Tawang, Neglasari, dan Mekarsari.”
Sebuah pertanyaan tiba-tiba menyeruak di benakku, dan tanpa sadar aku memberanikan diri untuk bersuara.
“Pak, kampung kami berada di pedalaman tanah Sunda yang kental dengan tradisi. Tapi mengapa nama-nama desa kami begitu Indonesia? Seperti Tawang, Neglasari, Mekarsari? Apakah ini ada kaitannya dengan upaya Republik menanamkan pengaruhnya setelah menumpas DI/TII?”
Pak Camat menoleh, memberikan tatapan yang menyiratkan apresiasi. Sebuah pertanyaan sederhana, yang mungkin telah menyentuh inti dari sejarah identitas kami. Beliau terdiam sejenak, membiarkan deru mesin mobil menjadi latar suara sebelum menjawab dengan nada yang hati-hati.
"Bahasa adalah instrumen kekuasaan," tuturnya pelan. “Ketika negara ingin memenangkan hati rakyat setelah konflik berkepanjangan, ia tidak hanya membawa senjata atau logistik, tetapi juga simbol-simbol baru. Nama-nama seperti Neglasari yang berarti pandangan yang indah, atau Mekarsari yang melambangkan mekar yang lestari, adalah cara Republik menanamkan harapan baru. Sebuah upaya untuk 'menghijaukan' kembali memori kolektif yang sempat memerah oleh darah, mengganti narasi perjuangan bersenjata dengan visi pembangunan yang lebih membumi dan nasionalis.”
Ia menatapku lekat. “Namun, di balik nama-nama indah itu, sejarah seringkali memiliki akarnya sendiri yang lebih getir, yang tumbuh dari tanah yang sama sekali tidak seindah namanya.”
Aku pun tersentak saat mendengar penjelasan Pak Camat selanjutnya tentang asal-usul nama Tawang.
“Konon, Tawang berasal dari akronim ‘Tak-uang’. Istilah itu muncul di masa-masa paling sulit, saat TNI membutuhkan dukungan logistik dan kekuatan dari masyarakat setempat di tengah operasi penumpasan DI/TII. Namun prajurit yang bertugas justru menemukan kenyataan pahit. Di wilayah ini tak ada uang, tak ada pula komoditas berlebih yang bisa menopang biaya operasi. Masyarakat saat itu pun terbelah, terperangkap dalam dilema loyalitas antara Republik dan Darul Islam. Mereka adalah saksi hidup dari sebuah pertempuran di mana kedaulatan dipertaruhkan, namun keberlangsungan hidup rakyat kecil seringkali terabaikan.”
Kenyataan itu membuatku terdiam. Seolah ada dua lapisan sejarah yang sedang bertumpuk antara lapisan atas yang tertata rapi dalam dokumen negara dengan nama-nama desa yang terdengar puitis, dan lapisan bawah yang menyimpan memori tentang kekurangan, ketakutan, dan sisa-sisa trauma yang tertanam di balik nama-nama sederhana itu.
"Menurut berbagai catatan," Pak Camat melanjutkan, suaranya kini terasa lebih berat, “pusat pergerakan mereka terus berpindah mengikuti situasi lapangan. Masyarakat sipil berada dalam posisi yang mustahil. Mereka harus bertahan hidup di tengah kepungan ketidakpastian yang mencekik.”
Aku mengangguk pelan dan tiba-tiba pandanganku terhadap buku-buku sejarah sekolah berubah drastis. Selama ini, aku hanya membaca tentang panglima dan taktik perang. Ternyata, sejarah yang sesungguhnya adalah milik para petani yang kehilangan musim tanamnya, para ibu yang menatap pintu dengan cemas menunggu suami pulang, dan anak-anak yang tumbuh dengan suara tembakan sebagai pengantar tidur. Mereka adalah saksi bisu yang jarang disebut, padahal merekalah yang paling lama memikul beban dari setiap pertikaian dan pertumpahan darah.
"Setelah keadaan mulai terkendali," ujar Pak Camat, suaranya kini terasa lebih berwibawa, “pemerintah perlahan membangun kembali pelayanan. Desa-desa seperti Tawang, Neglasari, Cikawung, dan Mekarsari tumbuh dari puing-puing itu, berkembang seiring kebutuhan masyarakat untuk menata kembali masa depan di atas tanah yang baru saja berhenti bergejolak.”
Beliau tidak mengklaim satu versi sebagai kebenaran mutlak. Sebaliknya, beliau membiarkan sejarah tetap bernapas dalam berbagai versi, mengakui bahwa ingatan manusia adalah sebuah lanskap yang luas.
"Pak," tanyaku sekali lagi dengan nada hati-hati, mencoba menyisir kembali ingatan masa kecilku, “lalu, bagaimana dengan nama Tawang sendiri? Apakah benar ia berasal dari cerita 'Tak-uang' itu?”
Pak Camat tersenyum, sebuah senyum yang menyimpan pengertian luas. Seolah beliau telah mendengar pertanyaan yang sama berkali-kali dari orang-orang yang mencari akar mereka. Beliau memandang ke luar jendela, di mana perbukitan mulai tampak lebih terbuka, menyambut cahaya matahari yang semakin meninggi.
"Nama sebuah tempat sering seperti prasasti yang ditulis oleh waktu," jawabnya lembut. “Ada yang lahir dari peristiwa tragis, ada yang berasal dari dialek setempat, ada pula yang tumbuh subur sebagai mitos turun-temurun. Tidak semuanya bisa diikat oleh kepastian dokumen sejarah. Tetapi semuanya menyimpan 'kebenaran rasa' bagi mereka yang tinggal dan mengolah tanahnya.”
Aku terdiam. Sejak kecil, aku pun terbiasa dengan tutur lisan semacam itu. Cerita "Tak-uang" itu hanyalah satu dari sekian versi yang beredar di lumbung-lumbung padi dan di balik obrolan di kampungku. Cerita-cerita itu mengalir seperti percabangan sungai. Meski menempuh jalan yang berbeda dan memiliki nama yang berlainan, semuanya bermuara pada satu titik yang sama tentang ingatan kolektif kami tentang masa lalu yang perih.
Pak Camat menoleh ke arahku, tatapannya kini terasa sangat personal, seolah sedang menitipkan sebuah beban pikiran kepada pundak mudaku.
“Yang paling penting bukan memperdebatkan mana versi yang paling akurat secara akademis. Yang utama adalah memahami bahwa kampung-kampung ini dibangun kembali oleh orang-orang yang memilih untuk tetap bertahan, bekerja, dan hidup berdampingan meski baru saja menelan pil pahit konflik. Mereka adalah pahlawan sebenarnya dari perdamaian ini. Tanpa ketangguhan mereka memaafkan keadaan, mungkin nama-nama desa itu tidak akan pernah ada, dan mungkin kita tidak akan pernah berada di dalam mobil ini sekarang.”
Tak seorang pun berbicara lagi. Keheningan yang menyelimuti kabin bukan lagi keheningan yang mencekam, melainkan keheningan yang penuh hormat. Mobil terus melaju, membelah jalanan desa yang kini tampak begitu tenang, seolah alam sedang berupaya menebus segala riuh dan luka yang pernah terkubur di masa lalu.
Di luar jendela, matahari mulai merayap naik, menyinari perbukitan yang hijau dan tenang. Sulit membayangkan bahwa tanah yang tampak damai itu pernah menjadi saksi bisu dari pilihan-pilihan yang memecah manusia ke dalam keyakinan dan kesetiaan yang berlawanan. Namun begitulah sifat waktu. Tidak menghapus jejak, melainkan menumbuhkan rumput di atasnya agar manusia tetap bisa berjalan ke depan, tanpa perlu sepenuhnya melupakan apa yang terkubur di balik punggung sejarah.
Keheningan kembali menyelimuti kabin mobil. Mesin terus berdengung pelan, sementara jalan di depan terentang seperti seutas benang yang menjahit masa lalu dengan masa kini. Aku memandang ke luar, pada perbukitan yang tampak begitu damai, seolah tak pernah mengenal aroma mesiu. Lalu aku mulai memahami bahwa tanah tidak pernah benar-benar lupa. Ia adalah saksi yang lebih sabar daripada manusia. Di balik setiap lembah, sungai, dan jalan setapak, masih tersimpan fragmen cerita yang tak pernah utuh tertulis di buku sejarah.
Pak Camat melanjutkan kisahnya, kali ini dengan nada yang lebih dalam. "Wilayah selatan Tasikmalaya sejak lama dikenal sebagai basis tradisi keislaman yang kuat," ujarnya. Beliau pun menyebut nama Syekh Abdul Muhyi, tokoh besar penyebaran Islam yang pusat dakwahnya di Goa Safarwadi, Pamijahan. Dari sana, akar keagamaan tumbuh subur, membentuk denyut nadi kehidupan masyarakat hingga ke pelosok-pelosok.
"Karena itulah," lanjutnya, “ketika pergolakan DI/TII pecah, pilihan politik masyarakat di sini tidak pernah sederhana. Ada yang berdiri bersama Republik, ada pula yang terikat pada gerakan Darul Islam karena kedekatan ideologi atau situasi yang memaksa.”
Mendengar itu, pikiranku melompat jauh ke dalam rahasia keluarga yang selama ini terkunci rapat.
Ada kisah yang diwariskan turun-temurun di keluargaku, sebuah kepingan memori yang tak pernah benar-benar selesai diceritakan. Konon, ayah dari kakekku adalah seorang penyambung lidah bagi pasukan Republik, seorang mata-mata yang berusaha menjaga loyalitas kampung kami pada negara. Namun, bagi penguasa DI/TII yang saat itu mencengkeram wilayah kami, ia hanyalah seorang pengkhianat.
Tragedi itu pecah saat ia ditangkap. Kabar penangkapannya menyebar dengan cepat, membawa serta ketakutan yang mencekik. Mungkin ini ironi sejarah yang memukul keluargaku dengan keras. Saat itu kakekku, kakek dari ibuku, dalam upaya putus asa untuk mencari jejak ayahnya, justru terjebak masuk ke dalam barisan DI/TII. Ia mendaftarkan diri, bukan atas dasar keyakinan ideologis, melainkan sebagai satu-satunya jalan untuk membelah kabut dan menemukan sang ayah.
Ketika kabar eksekusi itu akhirnya sampai bahwa sang ayah telah dipenggal dan hendak dihanyutkan ke Sungai Cimedang, kakek tidak hancur. Ia justru menunjukkan keteguhan yang tak masuk akal. Di tengah suasana perang yang mencekam, ia melakukan negosiasi yang mustahil. Ia memohon agar jasad ayahnya tidak dibuang ke sungai, melainkan diserahkan untuk dimakamkan secara layak.
Jasad itu akhirnya diserahkan, tetapi hanya bisa dikebumikan secara sederhana di pinggiran Sungai Cimedang, tempat di mana ia ditemukan. Dan hingga detik ini, pusara itu masih di sana, dibiarkan terbungkus waktu dan kesunyian, menolak untuk dipindahkan karena kondisi masa lalu yang tak memungkinkan.
Setiap kali aku melintasi kawasan itu, langkah kakiku seakan tertambat. Angin yang berembus dari arah sungai seperti membawa bisikan-bisikan lama yang tak pernah terjawab. Aku sering berdiri mematung di sana, menatap air yang terus mengalir tanpa pernah menoleh ke belakang, membawa potongan-potongan sejarah keluargaku yang tercerai-berai.
Di tengah keheningan mobil yang melaju, aku menatap bayangan wajahku sendiri di pantulan kaca jendela. Pertanyaan yang selama ini kusimpan rapat, kini menyeruak begitu saja, yang pelan menghujam jantungku. Siapakah sebenarnya aku? Apakah aku hanyalah cucu dari seorang yang terjebak dalam arus sejarah, ataukah aku adalah pewaris dari dua sisi koin yang dulu saling membunuh?
Apakah sejarah keluargaku benar-benar ditentukan oleh pilihan-pilihan yang pernah mereka ambil di masa lalu? Apakah darah yang mengalir dalam tubuh ini memang membawa beban ingatan yang tak bisa kuhapus begitu saja? Atau, benarkah setiap manusia memiliki hak mutlak untuk memerdekakan dirinya sendiri dari garis nasib yang tertulis oleh darah dan dendam pendahulunya?
Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah memperoleh jawaban yang tuntas. Ia hidup bersamaku, tumbuh seiring usiaku, dan acap kali muncul sebagai hantu saat aku memandang cakrawala kampung halaman. Barangkali, sejarah memang tidak hanya diwariskan melalui lembar-lembar buku, melainkan juga melalui luka yang diam-diam menetap di balik dinding rumah dan napas sebuah keluarga.
Pak Camat kembali membuka percakapan, seolah sengaja memecah gemuruh di kepalaku.
"Sesudah keadaan berangsur aman," tuturnya pelan, “pemerintah mulai menata kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi palagan konflik. Desa-desa dikonsolidasikan, administrasi diperbarui, dan pelayanan pemerintahan diperluas. Potensi setiap wilayah mulai dipetakan bukan untuk kepentingan operasi keamanan lagi, melainkan untuk mendukung kehidupan masyarakatnya.”
Beliau berbicara dengan nada yang teduh, seolah ingin menegaskan satu hal bahwa setelah setiap pertikaian yang menghancurkan, selalu ada pekerjaan yang jauh lebih besar dan menantang, yakni membangun kembali kehidupan di atas abu yang masih hangat.
Aku mengangguk pelan. Mungkin inilah inti dari semuanya. Sebuah negeri tidak hanya memerlukan keberanian untuk berperang, tetapi jauh lebih memerlukan kebijaksanaan untuk berdamai. Sebab kemenangan yang sesungguhnya bukanlah ketika satu pihak berhasil meruntuhkan pihak lain, melainkan ketika anak-anak yang lahir setelahnya tidak lagi mewarisi kebencian, melainkan mendapatkan kesempatan untuk berpijak di atas tanah yang sama tanpa harus saling mencurigai.
Di situlah aku merasa bahwa perjalanan menuju Kota Tasikmalaya telah bermetamorfosis. Ia bukan lagi sekadar perjalanan administratif, melainkan sebuah ziarah batin untuk memahami bahwa sejarah bukanlah kisah tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah, melainkan tentang bagaimana manusia tetap berusaha menjadi manusia, bahkan setelah semuanya berlalu.
Mobil terus melaju, meninggalkan lekuk perbukitan yang perlahan kian menjauh. Di luar jendela, hutan yang membentang bak lautan hijau perlahan bergeser ke belakang, seolah sedang mengantarkan kami keluar dari gerbang masa lalu menuju sebuah dunia yang lebih riuh. Namun ketika pepohonan semakin jauh tertinggal, setiap kata Pak Camat semakin lekat di ingatanku. Rasanya seperti menyusuri lorong panjang yang dindingnya dipenuhi potongan relief sejarah. Setiap langkah membuka kisah baru dan setiap kisah melahirkan pertanyaan yang semakin menuntut untuk segera kutemukan jawabannya.
"Sesudah keamanan berangsur pulih," ujar Pak Camat lagi, memecah lamunanku saat menatap jalan yang semakin lebar, “pemerintah mulai menata kembali kawasan-kawasan pedalaman itu agar mereka tidak lagi merasa terasing dari jantung Republik.”
Beliau berbicara dengan intonasi yang perlahan, seolah sedang membalik lembar demi lembar dokumen lama yang tersimpan dalam ingatannya.
"Sebagian wilayah yang dulunya hanyalah hutan lebat dan semak belukar mulai dipetakan kembali dengan seksama. Ada yang ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung, ada pula yang dikembangkan untuk perkebunan rakyat," tuturnya.
Jemarinya menunjuk samar ke arah deretan pegunungan yang perlahan mulai mengecil di cakrawala. “Di sekitar Cogreg, penanda batas kawasan hutan ditegakkan. Sementara di sepanjang aliran Sungai Cimedang, kawasan perkebunan dibuka sebagai ikhtiar ekonomi agar masyarakat tidak lagi menggantungkan hidup pada ketidakpastian perang.”
Aku mendengarkan dan sesekali mengangguk, meski pikiranku mulai terasa sesak. Nama-nama tempat yang selama ini hanya kukenal sebagai rute perjalanan sehari-hari, di tangan Pak Camat, mendadak bertransformasi menjadi titik-titik krusial dalam peta sejarah yang megah. Setiap bukit kini seolah memiliki napas cerita, dan setiap sungai tampak menyimpan rahasia yang terus berbisik bersama aliran airnya.
Tetapi terus terang kepalaku mulai terasa berat. Begitu banyak nama yang harus dihafal, begitu banyak tahun yang harus disusun, dan begitu banyak peristiwa yang saling berkelindan. Aku merasa seperti sedang berusaha menampung air hujan dengan kedua telapak tangan. Semakin banyak yang kuterima, semakin banyak pula yang tumpah melalui sela-sela jemari sebelum sempat kupahami maknanya secara utuh.
Pak Camat tersenyum, seolah ia bisa membaca kelelahan yang terpancar di wajahku.
"Nah," katanya ringan, memecah kesunyian yang mulai mengendap. “Itulah gambaran besar dari riwayat kampungmu. Setidaknya, sekarang kamu tahu dari mana asal-muasal tempatmu berpijak, dan mengapa banyak hal di sekitarmu terbentuk seperti yang kamu lihat hari ini.”
Aku menarik napas lega, kukira penjelasan itu telah sampai di titik akhir. Lalu saat kulihat beliau kembali menatap tajam ke depan, kudapati beliau belum beranjak dari posisinya.
"Tapi, ceritanya belum selesai," ucapnya singkat.
Aku yang baru saja hendak menyandarkan punggung, kembali menegakkan duduk.
"Ada bab berikutnya," lanjutnya. Nada suaranya tetap tenang, nyaris datar, namun kalimat itu bekerja layaknya magnet yang menarik kembali seluruh rasa penasaranku.
"Setelah berbagai pergolakan ideologi pada pertengahan abad ke-20 mulai mereda," tuturnya saat beliau meminta Mang Beja memutar kemudi sedikit, agar menyesuaikan arah mobil. “Pemerintah menghadapi tantangan yang jauh lebih dalam, tak kalah berat agar bagaimana menjaga stabilitas masyarakat yang hatinya masih terbelah oleh luka lama.”
Kalimat itu meluncur seperti anak panah yang tepat sasaran dan membuatku terdiam. Ternyata, sejarah tidak berhenti pada pemulihan fisik wilayah. Ia justru berlanjut pada pergulatan yang jauh lebih pelik, yaitu mencoba menyatukan kembali kepingan-kepingan kepercayaan masyarakat yang sempat retak oleh konflik masa lalu.
Beliau berhenti sejenak, memilah kata-katanya dengan kehati-hatian seorang diplomat. "Dalam berbagai dokumen pemerintahan masa itu, pengelolaan keamanan dan stabilisasi sosial menjadi prioritas tertinggi," tuturnya.
Kemudian, beliau tersenyum kecil, sebuah senyum yang menyimpan misteri. “Tahukah kamu, dulu pernah ada perdebatan panjang mengenai nama kecamatan ini?”
Aku menggeleng, rasa ingin tahu kembali menyala. “Belum tahu, Pak.”
"Ada narasi yang berkembang bahwa saat itu sempat muncul usulan nama yang merujuk langsung pada semangat ideologi negara," ia mengangkat bahu pelan.
“Tetapi, bagaimana proses administratifnya hingga akhirnya disepakati menjadi 'Pancatengah', itu adalah ceruk sejarah yang hingga kini masih menarik untuk ditelusuri. Tidak semua riwayat administrasi meninggalkan jejak penjelasan yang utuh.”
Pak Camat hanya menjelaskan bahwa setelah suasana aman, babak baru pun dimulai. Sepulang dari operasi Pagar Betis yang menumpas sisa kekuatan DI/TII, para komandan TNI memberikan laporan strategis kepada pusat mengenai potensi wilayah target operasi. Pemerintah melihat wilayah pedalaman Cikatomas yang luas sebagai lahan tak bertuan, terdiri atas hutan lebat dan semak belukar yang menyimpan kerawanan, maka gagasan besar pun lahir. Kawasan itu dipatok menjadi hutan lindung negara di sekitar Cogreg, sementara sepanjang tepian Sungai Cimedang disulap menjadi perkebunan kelapa Enes yang produktif secara ekonomi.
Aku merasa kepalaku hampir meledak dijejali fakta-fakta yang selama ini tak pernah tersentuh dalam buku pelajaran.
"Demikianlah narasi sejarah besar di balik kampungmu," seru Pak Camat seolah mengakhiri satu bab penting.
“Supaya kamu tahu, mengerti, dan tidak tercerabut dari asal-usulmu.”
Namun tepat sebelum aku sempat mengeluarkan pertanyaan, beliau menambahkan satu rahasia yang mengguncang. "Ada narasi periode kedua, Nak. Cerita setelah pemerintah berhasil menghabisi PKI dan para pengikutnya, muncul agenda besar untuk 'menjinakkan' elemen-elemen rentan, baik yang berhaluan kiri maupun Islamis radikal sebagai ekstem kanan.”
“Itulah latar belakang sebenarnya di balik penamaan kecamatan kita. Maksud semula, nama yang diusulkan adalah Kecamatan Pancasila. Tetapi entah kekuatan apa yang bermain di balik meja birokrasi, nama itu kemudian berubah menjadi Pancatengah."
Belum sempat aku bertanya mengenai alasan di balik perubahan nama yang politis itu, deru mesin mobil yang tadi stabil mendadak melambat. Rupanya kami telah terlempar dari lorong waktu sejarah ke dalam hiruk-pikuk masa kini, memasuki suasana keramaian kota.
Pemandangan di luar jendela berubah drastis. Gedung-gedung pertokoan yang angkuh kini berbaris rapat, menelan pemandangan perbukitan yang baru saja kami tinggalkan. Suara klakson yang bersahutan menciptakan simfoni bising kota yang kontras dengan sunyinya napas perbukitan tadi.
"Kita sudah memasuki pusat Kota Tasikmalaya," ucap Mang Beja pelan.
Tak lama kemudian, mobil berbelok memasuki area parkir yang padat. Kami turun dan berjalan kaki menuju gedung perhelatan. Langkah kami melewati jembatan kecil di atas kali yang airnya tampak keruh, membelah pusat kota yang sibuk. Aku melangkah dengan pikiran yang masih tertinggal di perbukitan, membawa beban nama "Pancatengah" yang kini terasa jauh lebih berat daripada sekadar label wilayah di peta.
Lima belas tahun kemudian, aku baru memahami bahwa lokasi parkir itu berada tepat di sisi taman kota. Hari itu, halaman parkir telah penuh sesak dengan barisan mobil dinas dari berbagai kecamatan. Para pejabat turun satu per satu, dibalut seragam biru Korpri yang seragam, melangkah tenang namun tersirat ketergesaan jadwal yang ketat.
Kami pun turun. Udara kota menyambut dengan kehangatan yang berbeda dari embun perbukitan. Kami berjalan kaki melintasi jembatan kecil yang membentang di atas aliran air yang tampak lelah, menuju gedung pertemuan yang megah. Halaman gedung itu telah dipenuhi peserta dan pemandangan didominasi oleh warna biru seragam Korpri yang berpadu layaknya hamparan langit yang turun ke bumi.
Pak Camat melirik jam tangannya sejenak. "Masih ada waktu," ucapnya. “Sesi pertama masih berlangsung. Kita mendapat giliran di sesi kedua. Mari, kita ISOMA dulu—salat dan makan siang.”
Kami melangkah menuju sebuah rumah makan tak jauh dari lokasi acara. Kupikir, di antara aroma masakan dan riuh suara pengunjung, pembicaraan kami akan terhenti. Tetapi dugaanku meleset. Pak Camat seolah tak mengenal kata lelah untuk terus menenun narasinya.
Di sela suara denting sendok yang beradu dengan piring, beliau terus bertutur. Kepalaku terasa kian penuh, sementara perutku yang lapar menuntut perhatian. Bahkan di tengah kekacauan pikiran saat itu, beberapa kalimat beliau justru menancap begitu dalam, seolah sengaja dipahat di ingatanku.
"Setiap zaman selalu melahirkan orang-orang yang memegang teguh keyakinannya dengan keras," ucapnya seraya meletakkan sendok. Beliau menatapku dengan sorot yang menelanjangi keraguanku. “Seorang pelajar bisa menjadi sangat kritis, dan seorang santri bisa memiliki pemikiran yang sangat radikal karena keyakinannya. Keduanya adalah buah dari ketajaman nurani.”
Beliau berhenti sejenak, membiarkan suasana hening sesaat sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, “Tetapi ingatlah, Nak, arah pemikiran seseorang tidak pernah dibentuk oleh satu hal saja. Lingkungan, pendidikan, pengalaman pahit hidup, hingga tekanan keadaan sosial semuanya ikut mengukir cara seseorang memandang dunia.”
Aku mengangguk perlahan, membiarkan nasi dan lauk di piring terasa hambar karena pikiranku sedang sibuk mengunyah makna dari ucapannya. Kalimat itu terasa jauh lebih penting daripada segala teori sejarah yang beliau paparkan sebelumnya.
Ia bukan lagi sekadar penjelasan tentang masa lalu, melainkan sebuah peringatan tentang bagaimana masa depan akan dibentuk oleh keragaman cara pandang. Di rumah makan itu, di tengah denting peralatan makan dan obrolan para pejabat, aku menyadari bahwa Pak Camat sedang tidak sekadar bercerita. Beliau sedang membekaliku cara untuk membaca manusia.
Di rumah makan yang riuh itu, suara Pak Camat tetap konstan, menembus denting sendok dan percakapan orang lain. Meskipun konsentrasiku terpecah oleh rasa lapar dan kebingungan, setiap katanya seolah memiliki bobot yang memaksa untuk didengar.
"Kedua haluan, kiri maupun kanan sering lahir dari pikiran radikal," tuturnya dengan nada tegas. "Seorang terpelajar atau seorang santri, mereka bisa terjatuh pada cara berpikir yang ekstrem. Namun ingatlah, arah pemikiran itu bukanlah bawaan lahir. Ia dibentuk oleh proses, latar kehidupan sosial, dan bagaimana mereka merespons tekanan zaman." Beliau mengulangi kalimat tadi karena mungkin hendak memberikan penekanan.
Beberapa saat kemudian, beliau beralih pada topik yang lebih personal.
"Ketika pertama kali Bapak mengemban mandat sebagai Camat Pancatengah," katanya, suaranya berubah drastis menjadi sangat serius, “Bapak menghabiskan berhari-hari membaca arsip-arsip tua di kantor kecamatan. Dokumen-dokumen itu adalah napas dari zaman yang telah lewat. Berisi surat, berita acara, hingga catatan rahasia yang menggambarkan bagaimana negara memandang rakyatnya.”
Beliau menghela napas panjang. “Semakin banyak Bapak membaca, semakin sadar bahwa sejarah sebuah daerah tidak hanya ditulis oleh tokoh besar, tetapi juga oleh nasib orang-orang kecil yang namanya sering hilang ditelan debu waktu.”
Aku menghentikan suapan. Seluruh perhatianku kini terkunci pada beliau.
"Salah satu arsip," lanjutnya perlahan, “memuat keputusan pengamanan terhadap seorang warga yang dianggap berbahaya oleh aparat pada masa itu.”
Beliau tidak langsung menyebut nama. Namun, firasatku mulai bekerja dan jantungku berdegup lebih kencang, seolah menyadari bahwa sesuatu yang selama ini tersembunyi akan segera tersingkap.
“Nama yang tercantum dalam dokumen itu adalah Maedoh.”
Aku membeku. Sendok di tanganku terasa berat. Nama itu bukan sekadar rangkaian huruf. Itu adalah nama nenek dari garis ayahku. Seolah seluruh kebisingan di rumah makan ini mendadak lenyap, diserap oleh keheningan yang mencekam.
Suara Pak Camat kini terdengar jauh lebih berat, memenuhi ruang dengarku.
"Bapak tidak langsung mengambil kesimpulan," lanjutnya. “Arsip hanya mencatat bagaimana seseorang dilabeli oleh pemerintah pada zamannya. Namun, dokumen selalu harus dibaca dengan hati-hati. Kita tidak bisa menghakimi masa lalu hanya dengan kacamata hari ini.”
Ia memandangku dengan tatapan yang sulit kutafsirkan. Mungkin campuran antara simpati dan keterbukaan.
“Berdasarkan bukti-bukti yang tercatat, Maedoh dituduh sebagai tukang teluh. Pemerintah saat itu mengeluarkan perintah tegas bahwa setiap orang yang dianggap membahayakan stabilitas lingkungan harus segera diamankan.”
Aku tercengang. Tuduhan itu menghantamku seperti cambuk. Nenek, yang selama ini kukenal hanya dari cerita samar keluarga, kini berubah menjadi sosok yang dicatat oleh negara sebagai ancaman.
"Itulah sebabnya," Pak Camat melanjutkan, “Bapak merasa perlu menyelidiki siapa sebenarnya Maedoh dan bagaimana nasib keturunannya. Bapak ingin memastikan bahwa masa lalu tidak menjadi kutukan bagi mereka yang hidup di masa kini.”
Aku tidak lagi menyentuh makanan. Selera makanku lenyap bersamaan dengan runtuhnya citra tentang keluarga yang selama ini kubangun dalam benak. Perjalanan yang semula kukira hanyalah urusan sarasehan pendidikan, kini berubah menjadi ziarah yang menyakitkan menuju sejarah keluargaku sendiri.
Aku menundukkan kepala, memandang sisa nasi di piring yang tampak asing. Untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa sebuah nama bisa menjadi pintu yang membuka lorong panjang menuju masa silam yang gelap. Nenek bukan lagi sekadar sosok tua dalam cerita. Ia adalah manusia yang pernah terjepit di antara kepentingan kekuasaan dan tuduhan yang tak pernah bisa ia lawan. Masa lalu sedang berjalan perlahan menghampiriku, membawa sebuah kenyataan yang belum tentu sanggup kuterima bahwa mungkin saja, darah yang mengalir di nadiku membawa sisa-sisa stigma yang tak pernah kusadari.
Pak Camat tidak lagi berbicara. Ia membiarkan keheningan mengambil alih meja makan kami.
Mungkin beliau memahami bahwa ada saat ketika kata-kata justru menjadi terlalu sempit untuk menampung gelombang pikiran yang sedang menghantam batin seseorang. Keheningan itu bukanlah kekosongan. Mungkin seperti tanah yang baru saja diguyur hujan. Tampak diam, namun sedang menyerap air yang kelak akan menumbuhkan sesuatu yang lebih kokoh.
Aku memandang ke luar jendela rumah makan. Matahari telah bergeser tinggi, menyinari kota yang terus berdenyut. Orang-orang berlalu-lalang dalam kesibukan yang wajar. Tak seorang pun menyadari bahwa di sudut ruangan ini, seorang anak kampung tengah berhadapan dengan fragmen-fragmen sejarah keluarganya yang selama ini terkubur rapat. Dunia tetap berputar pada porosnya, sementara di dalam diriku, lempeng-lempeng keyakinan sedang bergeser mencari posisi baru.
Sadar atau tidak, selama ini aku terlalu sibuk bertanya siapa diriku, tetapi jarang sekali bertanya tentang siapa mereka yang telah mendahuluiku. Padahal, seorang manusia tidak pernah lahir dari ruang yang hampa. Di belakang setiap nama yang kusebut, selalu ada jejak langkah yang panjang dan berkelok. Ada doa-doa yang tak sempat tersampaikan, ada air mata yang telah lama mengering menjadi debu, dan ada pengorbanan yang perlahan memudar dimakan usia. Barangkali, tanpa kusadari, langkah-langkah yang kuayunkan hari ini hanyalah kelanjutan dari jalan yang telah mereka retas dengan kaki yang berdarah.
Pak Camat kemudian berdiri, merapikan seragam biru Korpri yang sedikit kusut. "Ayo," katanya pelan, membuyarkan lamunanku. “Acara sesi kedua akan segera dimulai.”
Aku ikut berdiri dan sensasi di kakiku terasa asing. Langkahku kini tidak lagi seringan saat pertama kali turun dari mobil. Aku tidak hanya membawa undangan untuk sebuah sarasehan formal, tetapi juga menanggung beban pertanyaan yang jauh lebih berat daripada yang kubawa saat berangkat tadi. Pertanyaan tentang kampungku, tentang sosok nenek yang dituduh sebagai penyihir, tentang rahasia yang tersembunyi di balik arsip-arsip negara yang menguning.
Kami pun melangkah keluar menuju gedung pertemuan. Angin siang berembus pelan, menggoyangkan dedaunan di sepanjang jalan menuju aula. Dari kejauhan, suara riuh orang-orang yang mulai memadati ruangan terdengar seperti desir ombak yang tak sabar menyambut pantai.
Sebuah perhelatan akan segera dimulai, namun aku merasa pertemuan yang sesungguhnya baru saja berlangsung. Sebuah pertemuan antara diriku dengan masa lalu yang selama ini hanya bersembunyi sebagai bayang-bayang. Aku melangkah memasuki aula dengan dada yang berdegup, dihantui oleh satu ketakutan yang nyata.
Dan ketika seluruh kisah ini akhirnya terbuka lebar, apakah aku akan menemukan jawaban yang mendamaikan, atau justru menemukan kenyataan yang akan membebani sisa hidupku selamanya? (Bersambung)