Mau ke Mana?

Seketika, ruang tamu rumah dinas Bapak Camat itu menjadi lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena...

Mau ke Mana?

05 Jul 2026
532 x Dilihat
Share :

Mau ke Mana?

Seketika, ruang tamu rumah dinas Bapak Camat itu menjadi lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena absennya suara, melainkan karena pikiranku sedang bertualang jauh melampaui batas dinding yang mengepungku. Di luar sana, dunia tetap berputar dengan kebisingannya sendiri. Ada derit kursi kayu yang digeser, ada detak jam dinding, pintu yang berayun, hingga derap langkah orang-orang yang datang dan pergi. Semua itu terdengar seperti gema yang memudar, sayup-sayup ditelan jarak.

Namun, di dalam kepalaku terjadi keramaian yang kontras. Ruang batin itu menjadi arena pertemuan antara potongan memori dan deretan pertanyaan yang saling bersinggungan tanpa pernah membuat janji. Aku membiarkan diriku larut dalam keheningan yang menyesap itu. Tatapanku kosong, terpatri pada satu titik di lantai kayu yang mengilap, seolah-olah aku sedang menunggu waktu dengan sabar mengurai benang-benang pikiran yang kusut masai.

Mungkin benar, ada kalanya hidup tidak menuntut kita untuk segera memuntahkan jawaban. Hidup hanya meminta kita duduk lebih lama bersama pertanyaan-pertanyaan yang belum usai. Sebab tidak semua perjalanan menuntut langkah kaki yang berpacu. Sebagian justru dimulai ketika seseorang berhenti sejenak, membiarkan batinnya mengembara melintasi labirin kesadaran.

Setelah berkali-kali aku duduk dan berdiri seolah mencari posisi paling pas untuk menata hati, aku akhirnya menyerah. Tak ada lagi yang perlu kulakukan selain diam mengamati keadaan. Pandanganku menyapu setiap sudut ruangan, membedah setiap gambar, foto pigura, dan benda-benda yang tertata kaku di ruang tamu, mencoba memberi tafsir atas segala simbol kekuasaan yang terpajang. Akhirnya, aku menarik napas panjang, meresapi aroma kayu tua dan wewangian samar yang entah berasal dari mana.

Kugeser telapak kakiku ke lantai, bersiap untuk beranjak. Aku mulai membayangkan perjalanan berikutnya. Perpindahan dari satu ruang hampa ke ruang hampa lainnya. Tetapi takdir rupanya punya rencana lain. Aku tidak menyangka bahwa beberapa detik ke depan, sebuah pertanyaan sederhana menyeretku ke dalam perjalanan yang jauh lebih panjang, melintasi sejarah, tatanan bahasa, hingga esensi kemanusiaan.

Baru saja kedua telapak kakiku bertumpu, bersiap memindahkan beban tubuh, sebuah suara tenang dari belakang memecah lamunanku. Suara itu jatuh bagai kerikil kecil ke permukaan kolam yang tenang, menciptakan riak yang merambat ke segala arah.

“Mau ke mana?”

Nada suaranya tidak keras, namun memiliki bobot yang seketika menghentikan setiap gerakanku. Aku segera menoleh. Di sana, berdiri seorang pria paruh baya dengan wajah yang bersih dan kumis tipis yang tersusun rapi. Penampilannya bersahaja, tanpa pretensi kemewahan, namun ada sesuatu yang terpancar darinya. Sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar pakaian yang melekat di badannya.

Barangkali, itu adalah ketenangan yang lahir dari perjalanan hidup yang panjang. Dengan sorot matanya yang teduh, seolah telah berkali-kali menyaksikan musim berganti, menjadi saksi bisu bagi kegembiraan yang datang dan pergi, serta kehilangan yang perlahan luruh menjadi kebijaksanaan. Ia memiliki jenis wajah yang tidak banyak berbicara, tetapi mampu membuat siapa pun di hadapannya merasa perlu untuk diam dan menyimak.

Secara instingtual, aku meraih tangannya dan mencium punggung tangannya dengan takzim. Ini bukan sekadar bentuk kepatuhan formal, melainkan gerak refleks yang telah mendarah daging sejak kecil. Terkadang, tubuh menyimpan ingatan lebih kuat daripada kepala. Bahkan ketika pikiran mulai kritis mempertanyakan tradisi, tangan ini tetap bergerak mengikuti bahasa tubuh yang diajarkan keluarga dan lingkungan di masa kanak-kanak.

Bapak itu mengangguk pelan dengan senyum tipis yang tak mencapai matanya, yang cukup hangat untuk mencairkan ketegangan.

"Duduk saja dulu," katanya lirih. “Tidak semua perjalanan harus tergesa-gesa.”

Aku kembali mengambil posisi duduk. Kalimat itu sederhana, namun gema maknanya terasa lebih panjang daripada jarak yang baru saja hendak kutempuh. Ada ucapan yang langsung lenyap saat suara berhenti, ada pula ucapan yang terus berjalan jauh, yang menggaung di dalam batin meski penuturnya telah terdiam. Kalimat bapak ini termasuk yang terakhir.

Di tengah keheningan yang menyusul, aku merenung. Beruntunglah aku lahir di zaman ketika sisa-sisa feodalisme mulai terkikis di sebagian tanah Nusantara ini, meski bayangannya belum benar-benar hilang. Ia masih ada di beberapa tempat tentu saja, terselip di tengah gelombang perubahan, seperti lumut pada tembok tua. Tampak tipis dan rapuh, namun tetap melekat erat dan sulit dibersihkan sepenuhnya.

Sering aku berandai-andai, bagaimana jadinya bila aku lahir beberapa abad lebih awal? Mungkin aku tak akan pernah bisa berdiri setegak ini di hadapan seorang pembesar. Menghadap seorang camat saja mungkin harus dengan merangkak. Apalagi jika harus berhadapan dengan demang, wedana, bupati, hingga raja. Tubuh diwajibkan merendah, kepala dipaksa menunduk, dan pandangan haram hukumnya bertemu dengan wajah sang penguasa. Seolah-olah, kehormatan seseorang baru diakui ketika ia telah berhasil menghapus eksistensi dirinya sendiri.

Barangkali begitulah cara kekuasaan bekerja di banyak zaman. Tidak selalu menuntut darah atau nyawa. Terkadang hanya menuntut punggung yang membungkuk dan sepasang mata yang tak berani menatap. Lalu dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah sebuah hierarki tumbuh dan mengeras menjadi adat, hingga akhirnya diwariskan sebagai sesuatu yang dianggap "wajar".

Padahal, jika ingatanku tidak keliru, bukankah Islam mewariskan adab yang berbeda? Dalam banyak riwayat, Rasulullah justru mengajarkan bahwa ketika berbicara dengan seseorang, tataplah matanya. Hadapkan seluruh tubuhmu kepadanya sebagai tanda bahwa perhatianmu utuh dan tulus. Sebab, menghormati seseorang bukanlah dengan merendahkan martabat diri sendiri hingga hilang jati diri, melainkan dengan menghadirkan seluruh diri dalam percakapan yang setara. Dengan mata bertemu mata, bukan kepala yang dipaksa menunduk hingga kehilangan keberanian untuk menjadi manusia.

Pikiran itu terus menarikku mengembara semakin jauh, melintasi batas ruang tamu yang pengap. Aku kembali teringat akan sebuah narasi besar tentang bagaimana Islam berakar di Nusantara, mulai dari pesisir yang terbuka, hingga perlahan merayap menjadi Islam pedalaman yang lebih tertutup. Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan titik geografis, melainkan sebuah transformasi fundamental dalam cara manusia Nusantara memandang dunia.

Air dan tanah Nusantara memang selalu melahirkan watak yang berbeda. Laut mengajarkan keterbukaan sebagai rahim bagi siapa pun yang datang dibawa angin dan ombak. Di pelabuhan, bahasa, agama, warna kulit, dan komoditas perdagangan melebur dalam satu ruang yang cair. Sebaliknya, tanah mengajarkan ketetapan, keteraturan, dan batas-batas yang tegas. Maka, benih Islam yang semula tumbuh subur di tepi laut pun perlahan bermetamorfosis ketika ia berakar jauh dari aroma garam dan deru ombak saat tumbuh di pedalaman yang dikelilingi sawah, gunung-gunung, dan pusat kekuasaan yang mapan.

Aku teringat kisah Sunan Kalijaga. Konon, beliau adalah arsitek budaya yang berhasil menggeser orientasi Nusantara. Dari simbol-simbol kelautan yang dinamis, beliau membelokkan arah menuju pusat kehidupan yang baru: masjid. Sebuah perpindahan dari ruang yang menghadap ke laut menuju ruang yang berporos pada daratan. Dari mitologi menuju tauhid. Dari gelombang menuju kiblat. Dan itu bukan sekadar perubahan ritual, melainkan pergeseran arah kebudayaan yang memaksa masyarakat mendefinisikan ulang pusat eksistensi mereka.

Sejarah kemudian terus bergerak, perlahan namun pasti. Dari Demak menuju Pajang, lantas berakhir di Mataram. Pusat kekuasaan yang semula tumbuh di pesisir, lambat laun tergeser semakin jauh ke pedalaman. Bersamaan dengan perpindahan itu, corak Islam yang mula-mula lentur dan akrab dengan dunia perdagangan, mulai bersentuhan dengan struktur kerajaan yang kaku dan hirarkis. Kekuasaan mulai memberi warna baru pada agama, sebagaimana agama memberikan legitimasi mutlak bagi penguasa. Keduanya berkelindan, saling memengaruhi, dan akhirnya menjadi sulit untuk dipisahkan.

Namun aku tidak sedang menghakimi bahwa perubahan itu keliru. Sejarah tidak pernah hadir dalam warna hitam dan putih, melainkan lebih menyerupai sungai purba yang membawa lumpur sekaligus kehidupan. Setiap tikungan sungai meninggalkan endapan yang kelak menjadi daratan baru, sementara arus yang kuat akan mengikis tepian yang lama. Peradaban justru tumbuh dari dialektika tarik-menarik semacam itu.

Demikian pula yang terjadi dalam lintasan sejarah politik Islam global. Pada masa Khulafaur Rasyidin, pola kepemimpinan masih berpijak pada semangat musyawarah dan partisipasi umat yang egaliter. Namun, perjalanan sejarah menunjukkan realitas yang lain. Sistem yang semula terbuka perlahan berkembang menjadi bentuk pemerintahan yang kian hirarkis, bahkan tak jarang menyerupai sistem dinasti. Perubahan itu tidak muncul dari ruang hampa, melainkan buah dari pergulatan politik, perang yang berkepanjangan, ekspansi wilayah, dan tantangan dalam mengelola masyarakat yang kian heterogen.

Merenungkan kemudian atas kejadian di ruang tamu, membawa pikiran mengingat kembali pemikiran Al-Farabi dalam Al-Madinah al-Fadhilah, yang sempat menggambarkan bahwa masyarakat yang memberikan ruang bagi partisipasi adalah salah satu jalan menuju "Kota Utama". Sebuah tatanegara ideal yang dipimpin oleh seorang Nabi, atau setidaknya oleh sosok yang mewarisi kebijaksanaan kenabian. Bisa seorang Raja-Filosof yang mampu memadukan antara kekuasaan dengan keutamaan moral dan keluasan ilmu.

Sayangnya, sejarah berjalan dengan logika dan keinginannya sendiri. Setelah masa Khulafaur Rasyidin, Muawiyah bin Abu Sufyan meletakkan fondasi Dinasti Umayyah. Sesudahnya lahir Dinasti Abbasiyah, disusul kebangkitan kembali cabang Umayyah di Andalusia, Dinasti Fatimiyah yang bercorak Syiah, Ayubiyah, Mamluk, Safawi di Persia, Mughal di India, hingga Turki Utsmani yang menguasai sisa-sisa kejayaan Byzantium. Masing-masing meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam peradaban Islam. Menjadi sebuah jejak yang tidak hanya bicara tentang kemenangan atau kekalahan, melainkan tentang bagaimana agama dan kekuasaan terus bernegosiasi membentuk takdir manusia sepanjang zaman.

Entah mengapa, lamunan itu datang hanya dipicu oleh satu pertanyaan sederhana dari seorang bapak yang duduk di belakangku, sosok yang kini menjadi saksi bisu betapa jauhnya pikiran manusia bisa melompat dalam hitungan detik.

“Mau ke mana?”

Pertanyaan itu menjadi tak lagi terdengar sebagai basa-basi seorang tuan rumah, melainkan sebuah teka-teki eksistensial zaman yang menuntut jawaban lebih dari sekadar arah kaki melangkah.

Kadang, sebuah pertanyaan tidak sedang menuntut jawaban. Ia justru membuka pintu menuju lorong-lorong ingatan yang selama ini diam, membiarkan pikiran berkelana sendirian menelusuri sejarah, tradisi, dan manusia, hingga akhirnya ia kembali terperangkap pada dirinya sendiri.

Tatanegara Islam, pasca-wafatnya Nabi Muhammad, tidak lahir sebagai bangunan yang langsung selesai. Ia tumbuh perlahan, laiknya pohon yang bermula dari tunas kecil, yang kemudian harus berjibaku dengan angin, musim, dan badai silih berganti. Setiap peristiwa meninggalkan guratan pada batangnya. Setiap pergantian pemimpin menorehkan lingkar era baru. Sejarah politik Islam, karenanya, bukan sekadar pergantian nama para khalifah, melainkan sebuah epik panjang tentang pencarian manusia akan bentuk terbaik dari keadilan dan kekuasaan.

Pada masa-masa awal, kepemimpinan dipilih melalui musyawarah yang melibatkan para tokoh berpengaruh dari kalangan umat. Tradisi ini kemudian mengkristal dalam konsep ahl al-hall wa al-'aqd—sebuah majelis yang dipandang memiliki kewenangan untuk menetapkan pemimpin berdasarkan pertimbangan kemaslahatan bersama. Sistem ini membuktikan bahwa pada mulanya, kekuasaan tidak dibangun di atas fondasi garis keturunan, melainkan lahir dari kesepakatan politik yang merespons situasi zamannya.

Namun, sejarah jarang menapaki jalan yang rata. Setelah wafatnya Khalifah Utsman bin Affan, dunia Islam terseret ke dalam salah satu periode paling bergolak dalam sejarahnya. Darah tumpah di antara sesama, perselisihan yang semula bersemayam di ruang-ruang politik, perlahan bermutasi menjadi luka sosial yang menjalar ke generasi-generasi berikutnya. Sejak saat itu, sejarah Islam tidak lagi sekadar ditulis oleh tinta para ulama, tetapi juga oleh bilah pedang yang beradu di medan laga.

Muawiyah bin Abu Sufyan, gubernur Syam yang juga kerabat Khalifah Utsman, menuntut keadilan atas tragedi yang menimpa sepupunya. Sementara Khalifah Ali bin Abi Thalib harus menghadapi realitas yang jauh lebih rumit. Menatap negeri yang harus segera diselamatkan dari disintegrasi sebelum proses hukum dapat ditegakkan. Perbedaan cara memandang prioritas itulah yang kemudian menjadi api dalam sekam, menjadi sebuah pertentangan politik yang sulit dipertemukan.

"Aku menuntut keadilan atas darah Utsman," demikian semangat yang bergelora di pihak Muawiyah.

"Negeri ini harus terlebih dahulu diselamatkan dari kekacauan," jawab posisi Ali dengan logika stabilitas.

Dua kepentingan yang sama-sama mengatasnamakan kemaslahatan itu akhirnya tidak bertemu di meja musyawarah, melainkan di medan perang. Perang Jamal dan Perang Shiffin menjadi retakan besar yang membelah persatuan umat. Sebuah retakan yang gema sejarahnya, entah disadari atau tidak, masih sering terdengar hingga hari ini.

Lalu pasca-wafatnya Ali bin Abi Thalib, putranya, Hasan bin Ali, menempuh jalan yang berbeda. Demi mencegah pertumpahan darah yang lebih luas, ia menyerahkan tampuk kekhalifahan kepada Muawiyah melalui sebuah kesepakatan damai. Keputusan itu sering dimaknai sebagai bentuk kelapangan jiwa yang agung. Sebuah bukti bahwa terkadang mengalah memerlukan keberanian yang lebih besar daripada memenangkan pertempuran. Demikian sejarah mengajarkan ada kemenangan yang dicapai dengan pedang, dan ada pula kemenangan yang lahir dari keberanian untuk menahan diri.

Lamunanku terus melayang, melintasi padang pasir Arab yang gersang menuju kepulauan yang sejak kecil kupanggil sebagai tanah air.

Aku teringat pada narasi sejarah yang samar, yang menyebutkan bahwa pada masa Khalifah Utsman, Muawiyah yang kala itu masih memegang kendali di Syam konon pernah berlayar hingga ke Kalingga untuk menemui Ratu Sima. Jika itu benar, maka hubungan Nusantara dengan dunia Islam telah terjalin jauh lebih awal dari yang tercatat dalam buku-buku teks sekolah. 

Dugaan ini bersinggungan dengan berbagai temuan arkeologis yang menunjukkan bahwa para pedagang Arab telah singgah di kepulauan ini jauh sebelum era perdagangan global mencapai puncaknya. Jalur laut, pada masanya adalah jalur informasi. Ia membawa kabar, gagasan, perdagangan, bahkan pergolakan politik Timur Tengah bergerak lebih cepat daripada yang bisa dibayangkan manusia.

Namun di titik itulah, keraguan mulai menyeruak. Benarkah perjalanan itu pernah terjadi? Apakah data-data yang tersedia cukup kuat untuk disebut sebagai fakta sejarah, ataukah sekadar hipotesis yang masih menanti verifikasi?

Aku tidak sedang menolak kemungkinan itu. Sebaliknya, aku justru merasa sejarah menjadi menarik justru karena ia memaksa kita untuk terus bertanya. Keraguan bukanlah musuh ilmu pengetahuan, melainkan sebuah pintu pertama menuju pencarian yang lebih jujur.

Yang membuatku semakin penasaran adalah sang tokoh di balik kisah tersebut. Mengapa Muawiyah yang seorang gubernur yang pusat kekuasaannya berada di utara Jazirah Arab, yang dikisahkan merambah hingga ke Nusantara? Mengapa bukan sosok seperti Abu Musa al-Asy'ari, misalnya, yang memiliki ikatan historis dan emosional lebih dekat dengan kawasan selatan Jazirah Arab?

Abu Musa berasal dari Bani Asy'ar di Yaman. Riwayat-riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah pernah memuji penduduk Yaman sebagai kaum yang berhati lembut dan mudah menerima kebenaran. Gambaran itu terasa sangat akrab dengan watak masyarakat Nusantara yang sejak lama dikenal santun dan terbuka pada pendatang. Secara geografis pun, jalur pelayaran dari Yaman menuju Samudra Hindia terasa lebih logis bagi pelaut Arab untuk menemukan kepulauan ini dibandingkan mereka yang berangkat dari Syam yang dingin dan jauh di utara.

Pertanyaan itu menggantung, seolah menunggu untuk diselesaikan. Apakah sejarah hanya sebuah rangkaian fakta yang tersusun, ataukah ia adalah ruang imajinasi di mana kita sering mencoba menghubungkan titik-titik yang jaraknya terpaut ribuan tahun?

“Mau ke mana?”

Pertanyaan Bapak itu kembali bergema yang kini terasa semakin berat. Ke mana aku akan pergi? Ke mana sejarah akan membawa kita? Ke mana pula kaki akan melangkah, jika setiap tempat yang kupijak sebenarnya adalah lembaran sejarah yang belum sepenuhnya selesai kutulis?

Semua pertanyaan itu terus berputar di kepalaku, laiknya ombak yang tak pernah benar-benar selesai menghantam tepian pantai yang datang, membasahi, lalu surut kembali, meninggalkan jejak pasir yang selalu berubah. Sejarah memang selalu lebih banyak menyisakan tanda tanya daripada tanda titik.

Lalu, muncul sebuah renungan yang sama sekali belum tentu benar, namun terlalu menarik untuk tidak diselami bahwa andaikata kisah Muawiyah di Kalingga itu memang terjadi, andai benar-benar ia pernah berdiri di hadapan Ratu Sima dan menyaksikan sistem kerajaan yang tertata di Nusantara, mungkinkah pengalaman itu sedikit banyak memberikan kesan pada cara pandangnya mengenai kepemimpinan, sehingga ia mengubah cara kepemimpinannya menjadi sebuah dinasti? 

Tetapi barangkali perubahan sistem politik Islam hanyalah hasil dari dialektika internal masyarakat Arab yang beradu dengan tradisi politik imperium-imperium besar di sekitarnya. Hingga hari ini masih akan terus menjadi ruang diskusi yang terbuka lebar mengenai pergantian corak kepemimpinan masa lalu, menanti fondasi sejarah yang lebih kokoh untuk berdiri.

Yang bisa dipastikan adalah titik balik itu memang ada. Pada masa akhir pemerintahannya, Muawiyah menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada putranya, Yazid. Peristiwa inilah yang sering dipandang sebagai penanda menguatnya pola pewarisan kekuasaan dalam dunia Islam. Dari sinilah roda sejarah bergerak menuju babak yang lebih kelam, berujung pada tragedi Karbala sebagai luka kolektif yang tak pernah benar-benar mengering bagi banyak umat, menjadi sebuah memori yang selalu berdenyut setiap kali nama-nama itu disebut.

Perlahan-lahan, sistem kepemimpinan yang semula bertumpu pada musyawarah bergeser mendekati corak monarki turun-temurun. Hubungan darah memperoleh legitimasi yang semakin kuat dalam struktur kekuasaan. Di banyak wilayah, kekuatan militer menjelma menjadi penentu utama siapa yang layak menduduki singgasana. Kekuasaan, persis seperti aliran sungai yang terlalu lama mengalir di satu jalur, akhirnya membentuk tebingnya sendiri yang curam dan dalam, hingga tampak seolah-olah itulah satu-satunya bentuk yang paling alamiah bagi sebuah negara.

Dalam lintasan sejarah yang panjang, perbedaan antara konsep khilafah dalam tradisi Sunni dan imamah dalam tradisi Syiah pun berkembang dengan karakternya masing-masing. Keduanya memiliki fondasi teologis dan politik yang berbeda, tetapi dalam praktiknya, mereka bersinggungan dengan bentuk pemerintahan yang dinasti. Membicarakan keduanya tentu tidak bisa disederhanakan hanya sebagai pertarungan benar atau salah. Ia adalah persoalan kompleks yang harus dipahami melalui labirin konteks sosial, politik, dan budaya yang melingkupinya.

Lihatlah Persia. Warisan panjang Kekaisaran Sasaniyah telah membentuk tradisi pemerintahan yang begitu perkasa jauh sebelum cahaya Islam menyentuh bumi mereka. Tradisi imperium itu tidak serta-merta menguap saat masyarakat Persia memeluk Islam. Sebaliknya, sebagian nilai dan struktur politiknya justru berinteraksi, menyusup, dan memberi warna pada sistem pemerintahan Islam yang berkembang kemudian.

Begitulah cara sejarah bekerja. Tidak ada peradaban yang lahir dari ruang hampa. Setiap zaman selalu menjadi pewaris sah dari zaman sebelumnya, sebagaimana setiap manusia selalu berjalan di muka bumi sambil memikul bayang-bayang masa lalunya sendiri.

Aku tersentak kembali ke masa kini. Keheningan ruang tamu menjadi terasa jauh lebih berat setelah pikiranku melakukan perjalanan sejauh itu. Suasana sunyi yang tadi kurasakan, kesunyian yang sempat kusebut "sunyi daripada biasanya" menjadi bukan lagi sekadar ketiadaan suara. Ia adalah kesunyian yang sarat dengan beban sejarah.

Dan di tengah gema renungan yang masih berputar, suara tenang itu memanggilku lagi, seolah ia tahu persis di mana aku sedang berada. Apakah benar aku berada di antara masa lalu yang jauh dan masa kini yang menunggu langkah berikutnya?

“Mau ke mana?”

Pertanyaan itu tidak lagi terasa sebagai interupsi. Ia adalah sebuah undangan. Undangan untuk beranjak dari sekadar memikirkan sejarah, menuju keberanian untuk menentukan ke mana arah langkah kaki akan membawa diri dalam perjalanan hidup yang, seperti sejarah, mungkin takkan pernah menemukan titik akhirnya.

Lamunanku belum juga usai. Sejarah ternyata tidak hanya meninggalkan jejaknya dalam bentuk reruntuhan kerajaan, suksesi dinasti, atau pergantian pucuk pimpinan. Ia merambat lebih halus, menyusup ke dalam cara manusia memahami agama, membangun relasi dengan sesama, bahkan memilih diksi untuk sekadar saling menyapa. Bahasa, pada hakikatnya, sering memiliki daya hidup yang melampaui kekuasaan. Ketika sebuah imperium runtuh menjadi debu, kosakata yang ditinggalkannya tetap bertahan, bersemayam di sana, diam-diam terus membentuk cara manusia berpikir dan merasa.

Pikiranku melayang kepada dunia tarekat. Di sana, tumbuh hubungan yang khas antara seorang guru yang disebut mursyid dengan murid yang menempuh jalan ruhani, yang dikenal sebagai salik. Hubungan ini, pada mulanya, dibangun sebagai ikhtiar luhur untuk mendampingi manusia dalam perjalanan menuju Allah, untuk menjadi sebuah proses bimbingan, bukan alat untuk mengangkat diri menjadi penguasa atas batin orang lain.

Dalam tradisi tarekat yang teguh memegang syariat, seorang mursyid memberikan talqin, atau tuntunan awal melafalkan kalimat tauhid dan zikir sebagai gerbang pembuka perjalanan spiritual. Para ulama tasawuf memandangnya sebagai upaya membangunkan kesadaran yang terlelap, yang dalam sebagian literatur disebut sebagai Tifl al-Ma’ani atau "bayi maknawi" yang mulai belajar menghirup napas di dalam hati. Ia laksana benih yang disiram setetes demi setetes, tumbuh perlahan menjadi pohon yang akarnya menghujam ke bumi, sementara dahannya menggapai langit.

Namun sebagaimana sejarah politik yang bisa menyimpang dari cita-cita mulianya, perjalanan spiritual pun tidak kebal dari distorsi. Ada kalanya hubungan yang semestinya berpijak pada bimbingan tulus, berubah menjadi hubungan yang menuntut kepatuhan buta. Baiat, yang hakikatnya adalah komitmen menjaga adab dan kesungguhan menuju Allah, dalam beberapa praktik yang menyimpang justru bermutasi menjadi sumpah setia kepada persona seorang guru, bahkan ketika sang guru bertindak melampaui batas syariat. Di titik itulah, ruh pendidikan perlahan tergerus menjadi kultus individu.

Aku terdiam sejenak. Bukankah setiap bentuk kekuasaan, dalam ranah apa pun, selalu membawa godaan yang sama? Ketika seseorang terlalu lama ditempatkan di puncak, ia mulai percaya bahwa posisinya melampaui pertanyaan. Dan ketika seorang pengikut terbiasa menundukkan nalar terlalu dalam, ia kehilangan keberanian untuk membedakan mana yang menghormati dan mana yang mengultuskan.

Pikiran itu membawaku kembali pada sosok Rasulullah.

Yang menarik, Rasul tidak pernah membangun hubungan dengan pengikutnya sebagai "guru dan murid" yang berjarak. Beliau memilih istilah "sahabat". Sebuah kata sederhana, namun memiliki kedalaman. Di dalamnya tersimpan keintiman, persaudaraan, kebersamaan, dan pengakuan martabat yang setara. Kata itu tidak menghapus kewibawaan Rasul sebagai seorang Nabi, namun juga tidak merendahkan pengikutnya menjadi sekadar objek kepatuhan.

Aku teringat kisah Suhail bin Amr sebelum ia memeluk Islam. Saat menjadi utusan Quraisy dalam Perjanjian Hudaibiyah, ia menyaksikan bagaimana para sahabat mencintai Rasulullah. Setelah melihat peristiwa itu, ia berkata bahwa sepanjang hidupnya, ia belum pernah melihat kesetiaan seperti yang diberikan pengikut Muhammad kepada Muhammad. Kesetiaan itu begitu dalam, namun ia lahir dari cinta dan keyakinan, bukan dari rasa takut kepada pedang atau kekuasaan.

Mungkin di sanalah letak kejeniusan bahasa Rasulullah. Beliau tidak membangun ikatan melalui istilah yang menekankan jarak, melainkan melalui kata "sahabat"—sebuah diksi yang membuat manusia merasa berjalan berdampingan, bukan berlutut tanpa suara. Sebab bahasa bukanlah sekadar alat komunikasi, tetapi menjadi rumah bagi cara berpikir. Ketika sebuah masyarakat terus-menerus menggunakan bahasa yang menempatkan seseorang di atas dan yang lain di bawah, struktur itu akan meresap ke dalam kesadaran, hingga kita merasa hierarki itu adalah sebuah keniscayaan.

Tentu, aku sadar bahwa istilah guru dan murid memiliki sejarah panjang yang dalam tradisi keilmuan dan tidak selalu identik dengan feodalisme. Namun, dalam pengalaman sejarah tertentu, hubungan semacam itu memang rentan bergeser menjadi hierarki yang kaku. Di situlah kata-kata berhenti menjadi penjelas kenyataan, dan mulai aktif membentuk kenyataan itu sendiri.

Lamunanku kembali meluas. Kali ini tidak lagi terbang ke padang pasir Arab, melainkan mengarungi laut menuju Nusantara, ke tanah yang sejak dulu dikenal memiliki caranya sendiri dalam meramu pengaruh dari luar tanpa kehilangan jati diri. Aku bertanya-tanya, bagaimana kiranya konsep hierarki dan sahabat ini bertemu di tanah ini, beradu dengan tradisi lokal, dan melahirkan tatanan sosial yang kita kenal sekarang?

Suasana sunyi di ruang tamu ini terasa semakin pekat, seolah-olah sejarah sedang memintaku untuk menarik kesimpulan dari semua kepingan renungan ini. Namun, sebelum aku sampai pada titik itu, suara bapak itu kembali memecah lamunanku.

"Mau ke mana?" tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang seolah menantangku untuk keluar dari balik kepala dan mulai melangkah.

Kali ini, aku tidak hanya mendengar pertanyaannya. Aku mulai bisa merasakan ke arah mana aku harus melangkah.

Seperti berkata demokrasi, yang hari ini kerap dipuja sebagai puncak peradaban politik modern, sejatinya hadir sebagai antitesis terhadap tatanan feodal yang telah berurat akar selama berabad-abad di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di kepulauan Nusantara. Namun, sejarah tidak pernah sesederhana proses suksesi sistem. Pergantian kekuasaan sering kali hanya berganti rupa dengan wajahnya yang baru, tetapi napas di baliknya tetap purba.

Warisan feodalisme di Nusantara adalah endapan sejarah yang pekat. Ia terbentuk dari interaksi panjang antara struktur sosial kerajaan Hindu-Buddha, kedatangan Islam yang membawa semangat egalitarian, hingga hantaman kolonialisme Eropa yang membawa narasi modernitas dan birokrasi. Ironisnya, kolonialisme tidak melenyapkan hierarki lama. Ia justru mengonsolidasikannya ke dalam bentuk yang lebih sistematis.

Pemerintah kolonial memetakan masyarakat ke dalam sekat-sekat yang kaku. Orang Eropa di puncak, di bawahnya kelompok "Timur Asing" sebagai perantara, dan penduduk pribumi di lapisan bawah, dengan para bangsawan lokal dan elite birokrasi yang didayagunakan sebagai perpanjangan tangan penguasa. Di sana, hierarki lama tidak benar-benar lenyap. Hanya berganti pakaian, mengenakan seragam birokrasi yang lebih rapi dan tetap memisahkan kelas dengan tegas.

Aku mengembuskan napas panjang. Tanpa kusadari, seluruh labirin pemikiran yang berkelok-kelok itu akhirnya bermuara pada satu titik: diriku sendiri.

Di manakah sebenarnya kedudukanku dalam tatanan ini? Saat aku berdiri di hadapan seorang pembesar bahkan sekalipun ia hanya seorang camat, siapakah aku di hadapan tata kuasa yang diwariskan berabad-abad itu? Apakah aku seorang warga negara yang hadir dengan martabat yang setara, atau tanpa sadar aku masih menggendong tubuh yang sejak masa kanak-kanak telah diajarkan untuk membungkuk sebelum sempat berpikir?

Pertanyaan itu menggantung di dalam dadaku, serupa senja yang enggan beranjak. Ia tidak menuntut jawaban yang instan, tetapi terus menyala pelan, menemani setiap langkahku saat aku beranjak mendekati sosok bapak yang masih menungguku dengan senyum teduh.

Aku kini menyadari, bahwa perjalanan ini bukan tentang ke mana kaki akan melangkah setelah keluar dari ruangan ini. Perjalanan yang sesungguhnya adalah proses memerdekakan batin dari sisa-sisa feodalisme yang masih sering kali membisikkan rasa takut.

Langkahku mantap menuju ke arahnya. Di hadapan bapak itu, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa perlu membungkukkan punggung untuk mencari pengakuan. Aku datang sebagai manusia yang utuh, yang telah melintasi sejarah, membaca masa lalu, dan kini siap menatap masa depan. Dengan mata bertemu mata, dalam percakapan yang setara.

"Saya siap mendengar, Pak," kataku pelan, namun dengan suara yang cukup tegas untuk memecah keheningan yang tersisa.

Pertanyaan "Mau ke mana?" yang sempat menjadi teka-teki, kini telah memiliki jawabannya sendiri. Aku tidak sedang pergi ke mana-mana. Aku sedang berada tepat di tempat di mana aku seharusnya berada. Karena di sini, di hadapan sejarah, siap memulai bab yang baru.

Aku mengangkat wajah perlahan. Entah sejak kapan seluruh perjalanan sejarah itu berlangsung di dalam kepalaku. Barangkali hanya beberapa detik, atau mungkin hitungan menit. Lamunan memang memiliki cara sendiri dalam mempermainkan waktu. Di dalamnya, satu tarikan napas dapat memuat perjalanan berabad-abad, sementara dunia di luar tetap berjalan sebagaimana mestinya. Begitulah ingatan dan pikiran bekerja. Keduanya tidak pernah benar-benar tunduk kepada jarum jam.

Ruangan itu kembali hadir di hadapanku dengan segala kesunyiannya. Cahaya matahari memanjang tipis di atas lantai, menyerupai sehelai kain putih yang dibentangkan tanpa suara. Debu-debu kecil menari di dalamnya, bergerak gemulai mengikuti embusan angin yang nyaris tak terasa. Segalanya tampak biasa, namun setelah perjalanan batin yang begitu jauh, tidak ada lagi yang terasa benar-benar sama.

Bapak itu masih duduk di tempatnya semula. Wajahnya tetap tenang, seolah ia paham bahwa seseorang memang harus mengembara jauh ke dalam dirinya sendiri sebelum benar-benar siap mendengar kalimat berikutnya. Ia tidak memotong lamunanku. Ia membiarkannya tuntas dengan caranya sendiri. Mungkin, hanya mereka yang telah ditempa oleh pengalaman yang memahami bahwa pikiran manusia tidak bisa dipaksa pulang. Ia hanya bisa ditunggu hingga lelah berkelana.

"Apa yang sedang kaupikirkan?" tanyanya pelan.

Aku tersenyum tipis. Sebuah senyum yang lebih menyerupai pengakuan daripada jawaban.

“Banyak sekali, Pak.”

Beliau mengangguk perlahan. “Kalau begitu, simpan baik-baik hal-hal yang membuatmu semakin rendah hati. Namun, untuk apa saja yang membuatmu merasa paling benar, tinggalkanlah itu di luar pintu.”

Kalimat itu jatuh begitu lembut, namun terasa seperti hujan pertama yang membasahi tanah yang telah lama retak. Tidak keras, tidak menggurui, tetapi meresap perlahan ke ceruk batin yang paling dalam. Aku tersadar bahwa semakin jauh seseorang menelusuri lorong sejarah, semakin ia mengerti betapa kecil dirinya di hadapan waktu. Dan kemudian semakin banyak buku yang kubaca, semakin sadar pula aku bahwa selalu ada halaman-halaman yang belum sempat tersentuh.

Aku kembali mencium tangannya sebelum akhirnya duduk dengan tenang. Kali ini, tindakanku bukan sekadar menuruti adat yang diwariskan orang tua, melainkan sebuah penghormatan kepada seseorang yang tanpa banyak kata, telah menyadarkanku bahwa sejarah bukanlah kisah tunggal tentang raja, khalifah, atau para penguasa. Sejarah juga hidup di dalam tubuh kita dalam bahasa yang kita gunakan, dalam cara kita memandang sesama, dalam keberanian untuk bertanya, dan dalam kerendahan hati untuk mengakui bahwa tidak semua pertanyaan harus segera menemukan jawabannya.

Di luar sana, hari masih berjalan seperti biasa. Orang-orang lalu-lalang mengejar urusan masing-masing. Namun, di dalam diriku, ada sesuatu yang telah bergeser yang nyaris tak terdengar. Barangkali beginilah perubahan selalu bekerja. Ia tidak datang sebagai gelegar yang mengguncang langit, melainkan sebagai bisikan yang menetap di hati, lalu perlahan mengubah cara seseorang memandang dunia, dan pada akhirnya mengubah cara ia memandang dirinya sendiri. (Bersambung)

Perspektif

Scroll