Ada pelajaran yang selesai ketika bel sekolah berbunyi. Buku ditutup, kapur dihapus dari papan tulis, lalu kami pulang membawa tas yang terasa lebih ringan daripada kepala kami. Namun ada pula pelajaran yang justru baru dimulai setelah bertahun-tahun berlalu. Ia tidak lagi tinggal di dalam ruang kelas, melainkan ikut berjalan bersama usia, menyelinap ke dalam setiap pengalaman, lalu sesekali muncul tanpa diundang ketika sebuah kata, sebuah suara, atau bahkan sebuah logat tiba-tiba mengetuk ingatan. Waktu ternyata bukan hanya pandai menghapus, melainkan juga pandai memilih apa yang pantas disimpannya.
Kini, ketika kutengok kembali lorong-lorong masa itu, aku menyadari bahwa ingatan bekerja dengan caranya sendiri. Ia tidak selalu memungut peristiwa yang besar, yang dipenuhi tepuk tangan atau air mata. Justru ia sering memeluk hal-hal yang tampaknya remeh seperti bunyi langkah seorang guru di koridor sekolah, aroma buku pelajaran yang mulai menguning, derit bangku kayu yang telah menua, atau cara seseorang mengucapkan satu kata dengan logat yang berbeda. Hal-hal kecil itulah yang diam-diam bertahan paling lama, seperti bara yang tertutup abu yang tampak padam, tetapi sesungguhnya masih menyimpan panas.
Barangkali begitulah ilmu pertama kali menemukan jalannya menuju hati seorang anak. Bukan melalui rumus yang rumit, bukan pula melalui teori yang tinggi menjulang, melainkan melalui kesan-kesan sederhana yang menempel tanpa disadari. Kami memang belum mengerti isi dunia, tetapi kami telah belajar mengingat orang-orang yang memperkenalkan dunia itu kepada kami. Dan anehnya, sering kali yang paling kuat tinggal di dalam ingatan bukanlah isi pelajarannya, melainkan cara pelajaran itu disampaikan.
Di antara sekian banyak kata yang pernah melintas di ruang kelas, ada satu kata yang entah mengapa menolak dilupakan. Kata itu datang bersama suara seorang guru, bersama logat yang khas, bersama tawa anak-anak yang masih terlalu polos untuk memahami bahwa bahasa pun mempunyai kampung halamannya sendiri. Kata itu terus mengikutiku, menyeberangi tahun demi tahun, hingga akhirnya baru kupahami maknanya jauh setelah masa sekolah tinggal menjadi kenangan.
Modern. Modern.
Barangkali sebuah kata memang tidak pernah benar-benar hanya menjadi kata. Ia dapat berubah menjadi pintu yang diam-diam membuka lorong ingatan, atau menjadi batu kecil yang dilemparkan ke permukaan danau, lalu riaknya menjalar ke mana-mana tanpa pernah benar-benar berhenti. Ada kata-kata yang datang sekadar untuk diucapkan, tetapi ada pula yang menetap bertahun-tahun di dalam kepala, tumbuh perlahan seperti akar yang menyusup ke celah-celah tanah, tak terlihat, namun terus mencari ruang untuk hidup.
Modern. Modern. Bukan karena kosakata ini bagai mantra ajaib yang sanggup mengubah dunia hanya lewat bunyinya. Bukan pula karena ia mengandung pengertian bahwa gelombang perubahan telah mengguncang sistem produksi, distribusi, ilmu pengetahuan, hingga cara manusia memandang dirinya sendiri, seolah-olah seluruh peradaban sedang berlari mengejar bayangannya sendiri. Dan bukan juga karena kata itu, melalui keajaiban bahasa, perlahan menjelma menjadi semacam keyakinan baru yang memengaruhi cara manusia berpikir. Semua itu memang benar adanya, tetapi bukan itulah alasan mengapa kata itu tinggal begitu lama dalam ingatanku.
Bukan pula sebagaimana Minke ketika pertama kali mendengar penjelasan gurunya, Magda Peters, bahwa kata modern, yang kami mengejanya m-o-d-e-r-n, telah menggelombang dan berkembang biak bagai bakteri yang menyusup ke hampir seluruh penjuru dunia. Kata itu menumpang pada kapal-kapal, buku-buku, sekolah-sekolah, mesin-mesin, dan mimpi-mimpi manusia yang percaya masa depan selalu lebih terang daripada hari kemarin. Tidak. Kisahku tidak bermula dari sana.
Kata itu datang kepadaku melalui jalan yang jauh lebih sederhana. Ia tidak dibawa oleh filsuf, tidak pula oleh ilmuwan atau buku-buku tebal. Ia datang melalui seorang guru desa, melalui bunyi yang sedikit bergeser, melalui lidah yang membawa kampung halamannya ke dalam setiap pengucapan. Dan karena kesederhanaannya itulah, ia menetap begitu lama di dalam kepalaku. Sebab ada hal-hal yang tidak menjadi besar karena maknanya, melainkan karena kenangan yang melekat padanya.
Semuanya bermula ketika aku duduk di kelas dua SMP. Saat itu pelajaran Sejarah selalu terasa panjang, seperti jalan tanah yang membelah sawah pada musim kemarau. Di sanalah aku bertemu dengan seorang guru perempuan bersuku Lampung. Sosoknya tenang, tutur katanya lembut, dan setiap kali menjelaskan pelajaran, wajahnya memancarkan kesabaran yang tak pernah kami sadari nilainya pada masa itu. Baru bertahun-tahun kemudian aku mengerti, kesabaran seorang guru sering lebih besar daripada kemampuan murid untuk menghargainya.
Tentu saja nama Lampung bukan sesuatu yang asing bagiku. Aku telah mengenalnya sebagai sebuah provinsi di Pulau Sumatra. Pamanku bahkan pernah merantau ke sana, meninggalkan kampung dengan harapan yang dibungkus tas lusuh dan doa-doa nenek yang tak pernah putus. Dalam bayanganku waktu itu, Lampung adalah negeri yang sangat jauh, sejauh langit sore yang kulihat dari pematang sawah. Tempat yang hanya bisa kukenal melalui cerita orang-orang yang pernah datang lalu pulang membawa kerinduan.
Di kampung kecilku, ibu guru itu barangkali menjadi satu-satunya orang yang berasal dari luar Jawa. Kehadirannya seperti angin yang membawa aroma tanah asing ke ruang kelas kami yang sederhana. Sesekali beliau bercerita tentang kampung halamannya yang berada tidak jauh dari petilasan Kerajaan Tulang Bawang. Cara beliau berkisah membuat tempat yang belum pernah kulihat itu seakan tumbuh di depan mata. Kami mendengarkan, meski sering lebih sibuk membayangkan daripada memahami.
Namun, bukan kisah tentang Lampung yang hendak kuceritakan. Yang ingin kusimpan rapat-rapat di ingatan ialah sebuah kata yang keluar dari mulut beliau pada suatu pagi.
"Anak-anak, hari ini kita akan membahas masyarakat modern." Begitulah yang mungkin beliau maksudkan. Namun, yang sampai ke telinga kami justru berbunyi, “Modren.”
Hanya satu huruf yang bergeser. Hanya satu lidah yang mengucapkannya dengan dialek kampung halaman. Tetapi bagi anak-anak SMP yang belum mengenal keluasan bahasa, pergeseran kecil itu menjelma menjadi pesta renyah yang sulit kami tahan. Kami saling melirik. Mata kami bertemu, lalu buru-buru berpaling. Bibir kami bergetar hebat menahan tawa. Bangku-bangku kayu seakan ikut berderit, menyimpan kegaduhan yang tak berani kami lepaskan.
Di balik buku pelajaran, beberapa teman mulai menunduk agar wajah mereka tidak terlihat memerah karena menahan cekikikan. Kadang-kadang, memang begitulah cara kerja masa kanak-kanak. Ketika sesuatu yang sebenarnya biasa saja dapat berubah menjadi peristiwa besar hanya karena kami belum cukup dewasa untuk memahami bahwa setiap orang membawa sejarah lewat cara bicaranya sendiri.
Aku berbisik kepada Hari, teman sebangkuku.
“Memangnya kenapa, ya? Hurufnya m-o-d-e-r-n, kok dibacanya modren?”
Ia mengangkat bahu. “Entahlah. Mungkin memang begitu di Lampung.”
“Tapi lucu, ya.”
“Iya... jangan ketawa, nanti ketahuan.”
Kami menggigit bibir masing-masing, berusaha tampak serius setiap kali ibu guru menoleh ke arah kami. Rasanya waktu berjalan lambat sekali. Bel pelajaran seperti sengaja menunda bunyinya agar kami terus bergulat dengan tawa yang nyaris pecah.
Begitu pelajaran usai dan sosok ibu guru menghilang di balik pintu kelas, kegaduhan yang sedari tadi tertahan pun meledak. Mudin langsung melompat ke depan kelas sambil menirukan suara beliau dengan jenaka.
“Modren... modren... modren...”
Seketika seluruh kelas tergelak.
"Eh, jangan keras-keras!" seru seseorang dari pojok kelas. “Nanti Bu Guru dengar!”
Namun, Mudin justru semakin bersemangat. “Besok pelajaran Ibu Modren lagi!”
Gelak tawa kami memenuhi ruangan yang perlahan kosong itu. Tak seorang pun di antara kami berpikir bahwa di balik tawa renyah tersebut, ada seorang guru yang mungkin tak pernah sadar telah menjadi bahan candaan murid-muridnya. Anak-anak memang sering menertawakan sesuatu yang kelak, ketika dewasa, justru mereka sesali. Sebab kedewasaan mengajarkan bahwa logat bukanlah kekurangan, melainkan jejak perjalanan hidup seseorang. Setiap dialek adalah alamat rumah yang dibawa oleh lidah dari tempat kelahirannya.
Keisengan itu nyatanya tidak berhenti hari itu saja. Kata "modren" terlanjur mekar menjadi lelucon yang mengakar di kepala kami. Di hari-hari berikutnya, kata itu tidak lagi sekadar istilah asing dalam buku Sejarah, melainkan sebuah isyarat rahasia yang selalu berhasil memancing senyum nakal di sudut bibir kelas.
Setiap kali jam pelajaran Sejarah tiba, Mudin akan lebih dahulu berbisik dari bangku belakang.
“Modren... modren... hari ini pelajaran Ibu Modren.”
Lalu, ketika pelajaran dimulai dan suasana hening, ia dengan berani mengangkat tangan setinggi mungkin.
“Ibu...”
“Ya, Mudin?”
“Apa itu modren, Bu Guru?”
Kelas mendadak sunyi sesaat. Sebagian dari kami langsung menundukkan kepala, sebagian lagi sibuk meremas seragam demi menahan tawa yang menggelitik dada. Kami semua menunggu reaksi beliau, barangkali ada gurat tersinggung atau bingung di wajahnya.
Namun, ibu guru hanya tersenyum. Sebuah senyuman yang begitu tenang dan nyaris tanpa prasangka. Beliau menjawab pelan, seolah tidak pernah mendengar bisik-bisik atau menangkap gelagat usil kami selama ini.
“Modern adalah perubahan. Tetapi ingat, Nak... tidak semua perubahan membuat manusia menjadi lebih baik. Yang membuat manusia benar-benar maju bukanlah pakaiannya, bukan pula bahasanya, melainkan akhlaknya.”
Kalimat itu bergaung pelan, lalu melintas begitu saja di telingaku saat itu. Kami, anak-anak yang merasa diri kami lebih tahu cara mengeja dunia, mendadak kelu. Di depan kelas, berdiri seorang wanita dengan dialek kampung halamannya yang kental, namun memiliki pemikiran yang jauh lebih melompat ke depan dibanding kami semua. Kami masih terlalu sibuk menertawakan bunyi sebuah kata, tanpa sadar bahwa dialah manusia yang paling "modern" di dalam ruangan itu.
Baru bertahun-tahun kemudian aku menyadari, ternyata bukan cara beliau mengucapkan kata modern yang paling pantas kuingat, melainkan cara beliau mengajarkan maknanya. Sebab lidah memang dapat berbeda-beda, tetapi kebijaksanaan selalu menemukan jalan untuk sampai ke hati yang bersedia mendengarkan. Dan mungkin, di situlah sebuah wejangan guru benar-benar bermula. Bukan ketika murid menghafal pelajaran di luar kepala, melainkan ketika bertahun-tahun kemudian saat mengenang sang guru dengan perasaan yang jauh lebih lembut daripada tawanya pada masa kanak-kanak.
Bukan berarti sebelumnya kami tidak pernah mengeja kata itu. Kami telah mengenalnya sebagaimana anak-anak mengenal huruf demi huruf yang berjajar rapi di dalam buku pelajaran. Kami mengejanya sesuai susunan aksara: m-o-d-e-r-n, lalu membacanya dengan yakin: modern. Begitulah yang kami percaya. Begitulah bunyi yang kami anggap benar, sebagaimana air mengalir mengikuti kemiringan tanah tanpa pernah bertanya mengapa ia harus menuju muara.
Namun, setelah puas menertawakannya di luar kelas, ada sesuatu yang perlahan luruh dari kesombongan kanak-kanak kami. Setiap kali kembali duduk di hadapan meja beliau, tatapan mata Bu Guru yang teduh perlahan-lahan mengikis niat kami untuk terus bersenang-senang di atas keliru lidahnya. Di ruang kelas itu, kami mulai belajar sesuatu yang lain. Kami belajar bahwa ucapan seorang guru memiliki bobot yang jauh lebih berat daripada sekadar ketepatan bunyi. Ia menjelma menjadi petuah yang tak layak dibantah, seperti doa yang keluar dari mulut orang tua, atau arah mata angin yang dipercaya para pelaut ketika langit sedang mendung.
Dalam benak kami yang masih belia, guru adalah sosok yang hampir mustahil keliru. Apa yang beliau katakan seolah telah melewati pintu kebenaran yang mutlak. Rasa bersalah karena sempat menjadikannya lelucon perlahan berubah menjadi kepatuhan yang takzim.
"Kalau Bu Guru mengucapkannya modren, ya berarti begitu cara mengucapkannya," bisik Mudin suatu hari, kali ini tanpa nada mengejek.
"Iya," sahutku lirih. “Masa guru salah?”
Kami saling mengangguk, seakan baru saja menyepakati sebuah hukum tidak tertulis. Ada ketakutan yang tumbuh diam-diam dalam diri kami. Bukan ketakutan karena ancaman hukuman mistar atau berdiri di depan kelas, melainkan karena petuah-petuah lama yang diwariskan orang-orang tua di kampung: Jangan melawan guru. Jangan membantah orang yang memberi ilmu. Nanti kena tulah. Nanti kualat. Kata-kata itu tidak pernah tertulis di papan tulis sekolah, tetapi hidup begitu kuat dalam ingatan kami, berpindah dari mulut ke mulut seperti angin yang membawa aroma lumpur sawah setiap sore.
Maka, sejak hari itu, kami pun mulai mengucapkannya sebagaimana yang kami dengar dari beliau.
“Modren.”
Lama-kelamaan, lidah kami terbiasa. Kata itu tidak lagi terdengar asing atau lucu. Ia melekat begitu saja, seperti lumpur yang mengering di telapak kaki anak kampung sepulang bermain di pematang sawah. Barangkali memang begitulah ingatan bekerja. Sering tidak menyimpan hal-hal yang paling penting, melainkan hal-hal yang paling membekas.
Jejak ingatan itulah yang kelak membawaku mengembara lebih jauh ketika tumbuh dewasa. Seiring waktu, kata "modren" tidak lagi sekadar menjadi istilah usang dalam pelajaran Sejarah di ruang kelas yang panas, melainkan berubah menjadi pertanyaan yang diam-diam terus mengetuk kesadaranku. Apa sebenarnya makna terdalam dari kata itu? Mengapa orang-orang begitu mendewakannya? Mengapa dunia seolah bergerak mekanis ke arah yang dinamainya? Di balik bunyinya yang sederhana, rupanya tersimpan lorong sejarah yang panjang, berliku, dan penuh silang-sengkarut pemikiran.
Aku mulai memahami bahwa modern bukan sekadar sebuah kosakata, melainkan penanda sebuah zaman. Sebuah garis batas ketika dunia pernah berbelok arah secara drastis. Itulah titik ketika manusia mulai percaya bahwa mesin dapat bekerja lebih kuat daripada otot, bahwa waktu dapat dipercepat, dan bahwa kemajuan sebuah peradaban bisa dihitung melalui pekatnya asap yang mengepul dari cerobong-cerobong pabrik yang tinggi.
Melalui buku-buku yang kubaca kemudian, aku pun mengenal nama James Watt. Mengenal mesin uap yang menjadi penabuh genderang Revolusi Industri di Inggris. Dari sana, roda-roda sejarah berputar semakin cepat tanpa ampun. Pabrik-pabrik berdiri, kota-kota membesar, kapal-kapal besi berlayar lebih jauh, dan rel-rel kereta membelah keperawanan daratan. Dunia seakan menemukan napas baru yang tak lagi bergantung sepenuhnya pada kemurahan alam atau tenaga binatang.
Namun, setiap kemajuan seperti dua sisi mata uang yang selalu menempel erat, selalu membawa bayang-bayang gelapnya sendiri.
Inggris, bersama Prancis, Belanda, Jerman, Portugal, dan Spanyol, bukan sekadar menjadi negeri-negeri yang melahirkan para penemu. Mereka juga menjelma menjadi imperium raksasa yang membentangkan cakar kekuasaannya hingga ke belahan bumi yang jauh. Melalui kongsi-kongsi dagang, mereka membawa teknologi, sistem pemerintahan modern, pendidikan, bahasa, dan cara berpikir barat. Tetapi bersama semua kemilau itu, mereka juga membawa hasrat purba untuk menguasai, hendak menguras isi bumi dan menjadikan tanah-tanah jajahan sebagai penyangga kemakmuran bangsa mereka sendiri.
Modern atau modernitas, akhirnya kusadari, tidak pernah datang sendirian. Ia berjalan beriringan dengan pengetahuan, tetapi juga dengan penaklukan. Ia menawarkan kemajuan, tetapi meninggalkan luka yang menganga. Ia membangun gedung-gedung sekolah, namun di saat yang sama menancapkan pilar-pilar benteng penindasan. Sejarah rupanya selalu jauh lebih rumit dan berdarah daripada paragraf-paragraf rapi yang tertulis di dalam buku teks sekolah.
Lamunan masa dewasaku itu mendadak buyar, menghempaskanku kembali ke masa lalu, ke atas bangku kayu SMP yang berderit. Di tengah pikiranku yang saat itu masih kanak-kanak, mencoba menghubung-hubungkan potongan pengetahuan yang masih tercerai-berai seperti kepingan kaca yang belum membentuk cermin, dan tiba-tiba suara tenang Bu Guru memecah keheningan kelas.
“Nak...”
Beliau berhenti sejenak, memandang kami satu per satu dengan mata keibuannya yang hangat.
“Apa yang kalian tahu tentang modren?”
Kelas mendadak sunyi. Kesunyian itu terasa panjang. Bukan karena kami tidak memiliki mulut untuk berbicara, melainkan karena keberanian kami selalu lebih kecil daripada rasa takut untuk dianggap salah. Kami menunduk. Sebagian pura-pura membuka buku, sebagian lagi sibuk memainkan ujung pensil yang sebenarnya tidak tumpul.
Tak ada satu pun tangan yang terangkat.
Ibu guru tersenyum. Dengan senyuman yang tidak mengejek kebisuan kami, melainkan seolah tangan yang hangat, yang mengajak kami keluar dari persembunyian.
"Nak," ucap beliau lembut, “kalian harus berani menyatakan pendapat.”
Beliau berjalan perlahan di depan kelas. Langkahnya ringan, seringan suaranya yang membelah ketegangan.
"Beranilah menyuarakan apa yang kalian pikirkan. Jangan takut keliru." Beliau berhenti tepat di tengah ruangan. “Dalam dunia ilmu pengetahuan, tidak ada kata malu karena salah. Kesalahan bukan musuh ilmu. Justru dari kekeliruan itulah orang mencari kebenaran. Kalau semua orang takut salah, tidak akan ada penemuan baru.”
Beliau memandang kami satu per satu, memastikan kalimatnya singgah di kepala kami.
“Orang yang belajar pasti mempunyai pikiran. Kalau punya pikiran, tentu punya pendapat. Nah, biarpun nanti ternyata keliru, katakan saja. Ilmu tidak tumbuh dari diam.”
Kalimat-kalimat itu meluncur pelan, tetapi terasa seperti hujan yang membasahi tanah yang lama gersang. Saat itu, mungkin kami belum benar-benar mencerna kedalamannya. Namun, bertahun-tahun kemudian aku baru mengerti bahwa keberanian berpikir seringkali jauh lebih penting daripada sekadar ketangkasan menghafal jawaban.
Melihat kami masih membisu, beliau tidak menyerah. Beliau memilih memutar jalan untuk memancing kami.
“Sebelum kita sampai pada pengertian modren, coba ingat kembali pelajaran Sejarah kelas satu.”
Beliau mengambil sebatang kapur tulis, lalu jemarinya bergerak lincah menorehkan beberapa nama di papan tulis hitam yang mulai memutih.
Pithecanthropus Erectus.
Homo Wajakensis.
"Lalu ada lagi yang lain," ujar beliau sambil menoleh dan tersenyum. “Kalian masih ingat?”
Beberapa teman mulai mengangguk pelan, ingatanku tersengat.
“Itu semua adalah nama-nama manusia purba. Mengambil namanya yang iasanya diambil dari tempat fosilnya ditemukan. Ada yang ditemukan di Sangiran, ada yang di Mojokerto, ada pula di tempat-tempat lain.”
Beliau berhenti sejenak, meletakkan kapur, lalu mengetukkan jemarinya ke meja.
“Nah... terlepas dari banyaknya pertanyaan, perdebatan, bahkan gugatan terhadap temuan-temuan itu, beginilah ilmu pengetahuan bekerja. Dalam ilmu, selalu ada pendapat yang dibenarkan pada satu masa. Tetapi, selalu pula ada orang yang datang mengajukan pertanyaan baru. Dan itu tidak apa-apa. Sebab, ilmu bukan bangunan yang sudah selesai jadi. Ia seperti rumah yang terus ditambah ruangnya oleh setiap generasi yang lahir kemudian.”
Kata-kata beliau seolah meruntuhkan dinding tebal yang membatasi ruang kelas kami yang sempit dengan cakrawala luar yang tak bertepi. Setelah memastikan perhatian kami sepenuhnya terpaku, beliau mengambil dua buah buku tebal dari atas meja. Buku-buku itu tampak telah lama menemani perjalanan mengajarnya. Tampak sampulnya mulai kusam dan menipis, sementara sudut-sudut halamannya telah melengkung kekuningan dimakan usia.
Beliau membolak-balik beberapa halaman dengan hati-hati, lalu mengangkat kedua buku itu setinggi dada agar kami semua dapat melihat gambar di dalamnya.
“Nah... coba lihat.”
Kami semua spontan menegakkan punggung, bahkan ada yang berdiri sedikit dari bangku kayu demi melihat lebih jelas.
Pada gambar pertama, tampak ilustrasi seorang laki-laki berjanggut lebat dengan rambut yang mulai memutih. Wajahnya terlihat tenang, tetapi sorot matanya memancarkan ketekunan seorang pencari yang keras kepala. Di gambar kedua, tampak seorang laki-laki lain dengan jambang dan jenggot yang dipangkas lebih rapi, berjas gelap, menyimpan kesungguhan yang sama sebagai seorang ilmuwan.
"Anak-anak," ujar beliau sambil menunjuk gambar pertama, “dua orang ini adalah ilmuwan besar pada zamannya. Mereka mengabdikan seluruh hidupnya untuk memahami dari mana asal-usul manusia.”
Beliau mengangkat telunjuknya tepat ke arah gambar pria berjanggut panjang.
“Yang ini bernama Charles Darwin. Dialah pencetus Teori Evolusi yang terkenal melalui bukunya, The Origin of Species... Dan yang di sebelahnya adalah Alfred Russel Wallace, yang bahkan pernah menjelajah serta meneliti alam Nusantara kita yang kaya ini untuk merumuskan isi kepala yang sama.”
Suara beliau kembali memenuhi ruang kelas, merambat di antara dinding-dinding papan dan atap seng yang mulai menghangat oleh matahari siang. Namun, ada yang berbeda kali ini. Untuk pertama kalinya, kata "modren" tidak lagi terdengar sebagai bahan tertawaan yang menggelitik perut kami. Kata itu telah bersalin rupa menjadi sebuah kunci. Sebuah pintu gerbang yang perlahan bergerak membuka, memperlihatkan sebuah dunia pengetahuan yang maha luas, pada dunia yang jauh lebih besar, lebih rumit, dan lebih menantang daripada kampung kecil tempat kami dilahirkan.
Sang ibu kemudian kembali menunjuk gambar Charles Darwin yang masih terbuka lebar di hadapan kami. Jemarinya yang mulai berkerut bergerak pelan, menyusuri garis-garis ilustrasi hitam-putih itu seolah-olah beliau sedang mengajak kami melangkah masuk ke dalam sebuah lorong waktu yang gelap, sunyi, dan telah diperdebatkan oleh para pemikir dunia selama berabad-abad.
Ruang kelas yang semula riuh oleh bisik-bisik nakal kini mendadak berubah menjadi panggung keheningan yang magis.
"Dalam teorinya yang tertuang di dalam buku itu," tutur beliau dengan suara bariton yang teratur dan bertenaga, “Darwin berpendapat bahwa kehidupan di muka bumi ini tidak muncul secara mendadak dalam bentuknya yang sekarang. Segala makhluk berkembang melalui sebuah proses seleksi alam yang teramat panjang, di mana manusia mengalami perubahan wujud dan adaptasi secara bertahap dari generasi ke generasi.”
Beliau berhenti sesaat, membiarkan sebaris kalimat berat itu mengendap di udara kelas yang mulai terasa gerah, memberi ruang selebar-lebarnya agar kata-katanya meresap ke dalam batok kepala kami yang masih polos.
"Menurut teori evolusi ini," lanjut beliau seraya membetulkan posisi kacamatanya, "manusia modern yang sekarang kita kenal sebagai Homo Sapiens memiliki silsilah asal-usul yang teramat jauh di masa purba. Nenek moyangnya berasal dari sejenis makhluk yang ribuan abad lampau memiliki leluhur bersama dengan bangsa kera.”
“Perubahan wujud itu berlangsung sedikit demi sedikit, setapak demi setapak, melalui proses penyaringan alam yang mahaluas, bergerak dari bentuk kehidupan yang sangat sederhana di dalam air menuju bentuk yang semakin rumit dan kompleks di daratan. Sepanjang perjalanan waktu yang sunyi itu, akalnya berkembang, kapasitas otaknya membesar, kemampuannya beradaptasi bertambah, hingga akhirnya mereka menjelma menjadi manusia sempurna sebagaimana kita mengenali diri kita hari ini."
Kalimat-kalimat itu terdengar begitu asing, berat, sekaligus menggentarkan di telinga kami yang masih kanak-kanak. Aku berusaha keras menangkap jalinan maknanya, tetapi rasanya seperti mencoba menggenggam air jernih dengan kedua telapak tangan yang terbuka. Semakin erat dan panik kugenggam, justru semakin banyak bulir air yang lolos dan menetes di sela-sela jari.
Kepalaku mendadak dipenuhi oleh sesak istilah asing yang belum pernah mampir dalam kamus hidupku. Sementara separuh pikiranku yang lambat masih saja tertinggal pada kata modren yang beberapa hari lalu hanyalah sebuah bahan tertawaan renyah di antara aku, Hari, dan Mudin.
Beliau kemudian menggeser telunjuknya yang tenang ke arah halaman buku yang lain, membalik lembaran kertas kusam itu dengan kelembutan seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya.
"Namun," kata beliau, dan kali ini nada suaranya bergeser menjadi sedikit lebih datar, “kesimpulan berani yang diajukan oleh Darwin ini tidak pernah diterima oleh semua ilmuwan di dunia.”
Beliau mengangkat buku kedua yang tampak lebih tebal, memperlihatkan potret seorang pria dengan wajah yang berbeda sama sekali ke hadapan barisan bangku kami.
"Ilmuwan yang ini bernama Adnan Oktar, meskipun di dalam dunia literasi global ia lebih dikenal dengan nama pena Harun Yahya." Beliau menyejajarkan gambar wajah pria itu dari ujung kiri hingga ujung kanan di meja kelas, agar mata kami yang mulai mengantuk kembali terjaga.
“Beliau dengan tegas membantah seluruh bangunan teori evolusi yang disusun Darwin. Menurut pandangannya, manusia sama sekali tidak berasal dari bangsa kera atau makhluk purba mana pun. Pendapatnya banyak dibangun secara teologis dengan merujuk langsung kepada teks-teks kitab suci, terutama ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan tentang penciptaan manusia pertama.”
Sambil berkata demikian, sang ibu membalikkan badannya ke arah meja guru. Dengan gerakan yang penuh takzim, beliau mengambil sebuah mushaf Al-Qur'an bersampul hijau tua yang sedari tadi tersimpan rapi di sudut meja, tepat di samping tumpukan kapur tulis. Cara beliau mengangkat dan mendekap mushaf itu begitu hati-hati dan hormat, seolah-olah beliau sedang memindahkan sebuah benda suci yang bukan hanya berupa lembaran-lembaran kertas berisi tulisan, melainkan sebuah simbol agung dari perpaduan antara penghormatan terhadap ilmu pengetahuan dan keteguhan iman.
Beliau memutar tubuhnya kembali menghadap kami, memandang lurus ke arah mata kami yang mulai diliputi kebingungan.
"Tetapi..." kata beliau sambil menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sarat akan makna, “...bukan berarti pendapat kreasionisme yang dibawa oleh Harun Yahya ini adalah satu-satunya representasi dari pendapat seluruh umat Islam di dunia.”
Beliau sengaja menggantung kalimatnya, memberi jeda yang cukup panjang hingga suasana kelas terasa semakin menegangkan.
“Begitu juga sebaliknya.”
Kami, anak-anak kelas dua SMP yang biasa menyederhanakan dunia menjadi hitam dan putih, mulai saling berpandangan dengan kening berkerut.
“Bukan berarti kalau ada seorang ilmuwan Muslim yang tidak sepakat dengan teori penciptaan atau creation yang dibawa oleh Harun Yahya, lalu secara otomatis ia berpindah haluan mendukung teori evolusi biologis milik Darwin. Dunia pemikiran tidak pernah sesederhana itu, Anak-anak.”
Suara beliau tetap lembut, tidak menggebu-gebu, tetapi setiap frasa yang keluar dari bibirnya terasa laksana sebuah undangan batin yang memaksa kami berpikir lebih jauh, merobek dinding pembatas kelayakan yang selama ini memenjarakan pikiran kami dalam kotak sempit bernama benar atau salah.
Di situlah, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku mulai melihat dengan samar bahwa ilmu pengetahuan bukanlah sebuah jalan raya beraspal lurus yang hanya memiliki satu rambu menuju satu tujuan akhir. Ia lebih menyerupai sebuah aliran sungai purba yang teramat besar yang di tengah jalannya pecah menjadi ribuan anak sungai dan bercabang ke mana-mana. Ada kelompok yang memilih mengikuti arus utama yang deras, ada yang memilih menyusuri tepian yang tenang, dan ada pula sebagian petualang yang berhasil menemukan riak anak-anak sungai baru yang belum pernah dilalui oleh perahu siapa pun sebelumnya.
Beliau melanjutkan penjelasannya dengan ketenangan yang luar biasa, seolah sedang menuntun domba-domba kecil di padang rumput yang asing.
"Dalam tradisi keilmuan Islam sendiri," ujar beliau seraya meletakkan kembali mushaf Al-Qur'an ke atas meja dengan kelembutan yang sama, “ada sebagian ulama besar dan cendekiawan lintas zaman yang tidak serta-merta menerima ataupun menolak begitu saja kedua pandangan ekstrem tersebut. Mereka tidak terjebak dalam perang kata-kata, melainkan justru mencoba menggali kembali khazanah emas pemikiran Islam pada abad pertengahan, mencari tahu bagaimana para failasuf Muslim terdahulu memandang rahasia perubahan alam.”
Pada titik itu, aku benar-benar mulai kehilangan jejak. Pikiranku kedodoran mengejar kecepatan lompatan gagasan beliau. Kepalaku berputar, tersesat di antara nama-nama dan istilah yang saling bertubrukan di udara kelas.
Tentang Darwin yang berjanggut lebat, Harun Yahya dengan bantahannya, istilah creation yang asing, evolusi yang ganjil, dan kemegahan Peradaban Islam yang belum pernah kubayangkan wujudnya. Semuanya berbaur menjadi sebuah pusaran raksasa yang menakjubkan sekaligus membingungkan, membuat kata modren yang semula kami tertawakan kini menjelma menjadi sebuah teka-teki yang teramat besar di semesta kepalaku.
Semua nama dan istilah asing itu berputar-putar di dalam labirin kepalaku seperti gugusan daun-daun kering yang tercerabut dari rantingnya lalu diterbangkan oleh angin puting beliung di tengah lapangan sekolah. Aku hanya mampu terpaku, menatap lurus wajah ibu guru yang terus menjelaskan dengan binar mata yang penuh semangat kedewasaan.
Barangkali, di dalam benak keibuannya, beliau melihat kami semua tak ubahnya sehampar tanah gembur yang sedang ditaburi oleh benih-benih pengetahuan masa depan. Hanya saja, saat itu sebagian besar benih tersebut masih mengambang kikuk di permukaan tanah yang keras, terombang-ambing oleh angin, dan belum benar-benar menemukan celah terdalam untuk meresap lalu menumbuhkan akar.
Beliau kembali melangkah menuju mejanya yang dipenuhi kapur tulis dan tumpukan kertas. Dari barisan buku yang semakin tinggi dan tampak semakin berat itu, jemarinya memilah, lalu mengambil sebuah buku lain yang sampulnya tampak jauh lebih tua dibanding dua buku sebelumnya. Halamannya yang rapuh mulai menguning pekat dimakan usia dan kelembapan udara. Perlahan dan penuh takzim, beliau membuka beberapa lembar demi lembar, membaliknya dengan kehati-hatian seolah sedang menyentuh barang pecah belah, lalu menghentikan jemarinya pada satu halaman yang memuat sebuah gambar ilustrasi.
“Nah... sekarang coba kalian pasang mata, dan lihatlah gambar yang ini.”
Kami yang semula mulai kelelahan secara serempak kembali mengangkat kepala, mencoba menegakkan leher yang mulai terasa berat.
Di halaman buku yang kusam itu, tampak ilustrasi wajah seorang laki-laki berjanggut dengan sorot mata yang teramat teduh dan menghunjam dalam. Gurat-gurat di wajahnya memancarkan ketenangan seorang pencari kebenaran yang asketis, seolah-olah sepanjang hayatnya telah dihabiskan hanya untuk duduk berdialog dengan pertanyaan-pertanyaan besar yang tak pernah selesai dijawab oleh peradaban manusia.
"Foto atau ilustrasi ini," ujar beliau dengan nada suara yang sedikit merendah, memberi aksen takzim, "adalah gambaran dari seorang ilmuwan Muslim agung yang di dunia Barat lebih dikenal dengan nama Avicenna." Beliau lalu tersenyum, memandang kami yang masih melongo. “Kalau di dalam tradisi dunia Islam kita sendiri, kita tentu lebih akrab mengenalnya melalui nama kunyahnya, Ibnu Sina.”
Nama itu terdengar sangat asing dan ganjil di telinga kampungku. Namun cara ibu guru mengucapkan nama itu dengan artikulasi yang bulat dan penuh penghormatan, membuat kata "Ibnu Sina" seakan-akan memiliki pendar cahayanya tersendiri yang menerangi papan tulis hitam di belakangnya.
"Sebenarnya," lanjut beliau seraya berjalan mendekati deretan bangku depan, "Ibnu Sina jauh lebih masyhur di dunia internasional sebagai seorang begawan kedokteran. Kitab-kitab karyanya dipelajari selama berabad-abad di seluruh dunia, bahkan sempat menjadi kitab rujukan utama di banyak universitas kedokteran di jantung Eropa."
Beliau mengangkat buku itu sedikit lebih tinggi ke udara kelas. "Tetapi, Anak-anak, beliau bukan hanya sekadar seorang dokter yang menyembuhkan raga." Beliau menatap kami satu per satu, menuntut fokus kami yang mulai terserak.
“Dalam ranah filsafat metafisika, Ibnu Sina juga mengembangkan sebuah konsep kosmologi yang sangat mendalam, yang di dalam buku-buku sejarah dikenal sebagai Teori Emanasi.”
Beliau tampaknya langsung menangkap gelagat dahi kami yang berkerut kusut, lalu segera menambahkan penjelasan sebelum pikiran kami yang ringkih ini kembali tersesat ke dalam kebingungan yang pekat.
"Memang benar, beliau bukanlah pencetus pertama dari teori pancaran ini. Pemikiran tersebut telah mula-mula berkembang sejak zaman filsafat Yunani kuno melalui Plotinus, yang kemudian dikaji, dikritik, dan disempurnakan secara gemilang oleh para filsuf Muslim abad pertengahan.”
“Akan tetapi, di kemudian hari, ketika dunia Barat sedang ramai dan gaduh memperdebatkan teori evolusi biologis milik Darwin, sebagian kalangan intelektual Muslim kembali mengangkat Teori Emanasi Ibnu Sina ini. Mereka menggunakannya sebagai salah satu cara alternatif untuk memahami bagaimana hubungan harmonis antara tindakan penciptaan Tuhan, hukum alam semesta, dan derajat keberadaan manusia di bumi."
Aku hanya mampu mengangguk-angguk pelan, sebuah anggukan yang sebenarnya lebih mencerminkan kepasrahan daripada kepahaman. Sejujurnya, semakin lama pelajaran Sejarah ini berlangsung, semakin terasa bahwa batok kepalaku hanyalah sebuah kendi tanah liat kecil yang retak, yang sedang dipaksa secara brutal untuk menampung seluruh limpahan air dari sebuah aliran sungai yang mengalir teramat deras. Ada sedikit air yang berhasil masuk dan menetap di dasar kendi, tetapi jauh lebih banyak lagi yang meluap, melimpah ruah ke luar tanpa sempat kuingat dan kusimpan baik-baik.
Tetapi mungkin begitulah rasanya menjadi seorang murid yang menerima dan mengumpulkan serpihan-serpihan kecil pengetahuan hari itu. Lalu baru benar-benar merangkainya menjadi pemahaman yang utuh bertahun-tahun kemudian, setelah gerbang sekolah lama ditinggalkan.
Sang ibu guru menghentikan penjelasannya, memandang berkeliling ke seluruh sudut kelas yang pengap oleh hawa siang. Beliau menurunkan bukunya, lalu bertanya dengan nada suara yang dipenuhi kesabaran seorang pendidik sejati.
“Bagaimana, masih bisa diikuti jalannya pelajaran, Anak-anak?”
Tak ada satu pun dari kami yang langsung menyahut. Kami semua saling berpandangan satu sama lain, melempar kode lewat mata, hingga kemudian terdengar letup tawa kecil yang malu-malu dan canggung dari arah bangku paling belakang.
Mudin, si biang kerok kelas, tampak menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah polos.
"Sedikit saja, Bu... sisanya terbang keluar jendela," celetuk Mudin lirih.
Seketika seluruh kelas yang semula tegang langsung pecah oleh gelak tawa yang riuh. Beban berat di kepala kami seolah luruh bersama tawa itu. Ibu guru tidak marah. Beliau justru ikut tersenyum lebar, menampakkan gurat-gurat ketulusan di wajahnya.
"Tidak apa-apa, Mudin. Tidak apa-apa, Anak-anak," katanya dengan suara yang teramat lembut, menenangkan gemuruh tawa kami. “Ilmu pengetahuan itu memang bukan untuk dipahami sekaligus dalam satu kedipan mata. Ilmu itu sifatnya tak ubahnya seperti matahari pagi yang terbit di ufuk timur. Ia tidak serta-merta langsung membuat seluruh permukaan bumi menjadi terang benderang dalam sekejap waktu. Sedikit demi sedikit cahayanya merayap menembus kabut, memantul di dedaunan, lalu perlahan-lahan kegelapan tersingkap dan kita mulai bisa melihat jalan di depan kita dengan jelas.”
Saat itu, di atas bangku kayu SMP yang keras, aku jelas belum mampu menyelami makna terdalam dari metafora matahari pagi yang diucapkan beliau. Namun, bertahun-tahun kemudian, ketika kehidupan mulai mengajariku arti sejati dari sebuah kerendahan hati, aku baru menyadari dengan sepenuhnya bahwa pelajaran terbesar dan paling berharga pada hari itu nyatanya bukanlah tentang Charles Darwin dengan evolusinya, bukan tentang Harun Yahya dengan kreasionismenya, dan bukan pula tentang kehebatan emanasi Ibnu Sina, melainkan, pelajaran sejati hari itu adalah tentang keberanian agung seorang guru di sebuah sekolah kampung untuk mengenalkan murid-muridnya pada kenyataan bahwa dunia pengetahuan akan selalu hidup dan bernapas di antara benturan pertanyaan, keindahan perbedaan pendapat, serta kesediaan manusia untuk terus belajar dan mengembara tanpa pernah merasa telah sampai pada satu jawaban terakhir yang paling benar.
Tak ada lagi satu pun dari kami yang mengajukan pertanyaan setelah itu. Sunyi yang tersisa di udara kelas akhirnya dipecahkan oleh dentang nyaring bel sekolah yang menandakan pelajaran telah usai, memecah ketegangan yang sejak tadi memenuhi ruang kelas.
Kami bergegas menutup buku pelajaran masing-masing. Namun jauh di dalam lubuk hatiku, rasanya siang itu bukan hanya tumpukan buku tebal yang sedang kami tutup rapat-rapat. Ada begitu banyak ruang pertanyaan baru yang justru baru saja dibuka paksa dari engselnya. Pertanyaan-pertanyaan besar itu tentu belum menemukan rumah atau sarang yang pas di dalam batok kepala kami yang masih belia. Mereka beterbangan liar di ruang sadar kami seperti bulir-bulir kapuk yang lepas dari kulitnya, diterbangkan angin siang, melayang-layang pasrah tanpa pernah tahu di dahan mana mereka akan jatuh dan mengendap.
Sebelum benar-benar melangkah meninggalkan kelas yang mulai lowong, sang ibu guru merapikan buku-bukunya satu demi satu dengan gerakan yang teratur dan tenang. Mushaf Al-Qur'an bersampul hijau tua itu diletakkannya kembali ke tempat semula di sudut meja dengan penuh takzim. Buku Darwin, buku Harun Yahya, dan kitab tentang Ibnu Sina ditumpuk rapi dengan tingkat kehati-hatian yang sama, seolah-olah melalui gestur sunyi itu beliau sedang mengajarkan sebuah bab adab yang tak sempat diucapkan lewat lisan, bahwa ilmu pengetahuan, dari mana pun datangnya, selalu layak diperlakukan dengan rasa hormat yang setara. Sebab yang harus dipertentangkan dalam hidup ini bukanlah keberadaan ilmu itu sendiri, melainkan bagaimana cara manusia mengunyah dan memahaminya.
Ketika langkah kaki beliau akhirnya menghilang di kelokan koridor luar, kami seketika kembali menjelma menjadi sekumpulan anak-anak kampung yang riuh dan penuh gairah. Di sisa-sisa badai pemikiran tadi rupanya belum sepenuhnya reda. Mudin yang berjalan mengekor di belakangku masih sempat berbisik pelan, seolah takut suaranya kedengaran dinding kelas.
“Modren...”
Aku menoleh ke arahnya, menyunggingkan senyum hangat yang berbeda dari senyum beberapa hari lalu.
“Sudahlah, Din. Jangan diledek lagi.”
"Iya juga, ya," kata Mudin sambil terkekeh pelan, meski gurat bingung belum sepenuhnya tanggal dari dahinya. “Tapi jujur, aku masih bingung setengah mati.”
"Bingung bagian yang mana?" tanyaku seraya menyampirkan tas kain di pundak.
“Itu, semua yang dijelaskan Bu Guru tadi. Ada Darwin yang bilang kita mirip kera, ada Harun Yahya yang membantah, terus ada... siapa tadi nama dokter yang terakhir?”
"Ibnu Sina," sahutku menuntun ingatannya.
“Nah, orang itu. Kepalaku rasanya mendadak penuh dan berat, seperti habis memikul sekarung gabah.”
Aku hanya tertawa kecil, merasakan kepasrahan yang persis sama. “Sama, Din. Punyaku juga rasanya mau pecah.”
Kami pun berjalan kaki melangkah pulang, menyusuri jalan yang membelah hamparan sawah sejauh mata memandang. Matahari sore yang jingga mulai condong ke arah barat, memancarkan guratan cahaya keemasan yang hangat. Bayangan tubuh kekanak-kanakan kami memanjang lurus di atas pematang sawah, bergerak berayun seiring langkah kaki, seolah-olah ada diri kami yang lain dalam versi yang lebih dewasa sedang berjalan beriringan di samping kami.
Angin sore berembus lembut, membawa aroma pekat padi yang mulai menguning dan tanah basah, sementara sekawanan burung pipit melintas rendah dengan kepakan sayap yang tergesa, mencari tempat kembali ke sarang sebelum tirai senja benar-benar turun menyelimuti bumi.
Bertahun-tahun kemudian, setelah aku mengembara jauh dari kampung halaman dan kerap bersinggungan dengan dunia luar, setiap kali telingaku menangkap kata "modern", ingatanku anehnya tidak pernah pertama-tama melayang kepada kepulan asap Revolusi Industri di Inggris, kehebatan mesin uap James Watt, perdebatan biologi Charles Darwin, atau tulisan teologis Harun Yahya, atau megahnya Teori Emanasi Ibnu Sina. Yang pertama kali hadir menduduki ruang rinduku justru adalah bayangan sekilas wajah seorang guru wanita dengan logat Lampungnya yang kental dan sederhana, yang berdiri tegap di depan papan tulis hitam yang mulai kusam, mengucapkan kata itu dengan cara yang dahulu kami tertawakan habis-habisan: modren.
Kini, setelah melintasi banyak tikungan hidup, aku mulai mengerti bahwa ingatan manusia ternyata selalu memilih jalannya sendiri yang misterius. Ia tidak selalu menyimpan teori-teori ilmiah yang paling rumit atau rumus-rumus yang paling panjang, melainkan lebih dahulu mengunci erat gaung suara, detail wajah, dan ketulusan tanpa batas dari orang yang menyampaikan ilmu tersebut. Sebab pengetahuan sedalam apa pun bisa terkikis dan terlupa oleh bantalan waktu, tetapi cara seorang guru memperlakukan murid-muridnya seringkali menetap diam, membatu, dan hidup jauh lebih lama daripada lembaran isi buku yang pernah diajarkannya.
Dan semakin bertambah usiaku, semakin aku memercayai sebuah kebenaran baru bahwa modernitas yang sesungguhnya bukanlah sekadar perkara kemajuan mekanisasi mesin, megahnya gedung-gedung pencakar langit yang menusuk langit, atau kecepatan teknologi digital yang melesat melampaui imajinasi terliar manusia. Modernitas yang paling sulit dan paling mahal untuk diwujudkan adalah keluasan hati untuk bersedia mendengar pendapat yang berbeda, kerendahan jiwa untuk mengakui bentang keterbatasan diri, serta keberanian paling jujur untuk berkata, "Aku belum tahu."
Sebab ilmu pengetahuan yang sejati selalu tumbuh subur dari rahim orang-orang yang berani merawat pertanyaan, bukan dari mereka yang terlalu tergesa-gesa merasa telah menggenggam semua jawaban tunggal. Mungkin, itulah wejangan terbesar dan paling sakral yang sesungguhnya kuterima pada siang yang gerah di ruang kelas masa lalu itu. Sebuah pelajaran yang bukan tentang bagaimana cara mengeja dan mengucapkan kata modern dengan artikulasi yang paling benar menurut kamus besar. Bukan pula tentang keharusan batin untuk memilih berdiri di kubu Darwin, Harun Yahya, atau Ibnu Sina, melainkan adalah sebuah makrifat tentang adab dan cara memperlakukan ilmu pengetahuan.
Bahwa pengetahuan bukanlah sebuah benteng kokoh yang dibangun untuk meninggikan keangkuhan diri di hadapan orang lain, melainkan sebuah bentangan jendela kaca yang membuat manusia sadar sepenuhnya, betapa luas dan tak bertepinya langit biru di luar sana yang belum sempat dipandang oleh sepasang matanya yang rapuh.
Dan sejak hari yang bersejarah itulah, secara diam-diam di dalam hati, aku belajar bahwa seorang guru yang baik tidak akan pernah memaksa muridnya untuk berhenti dan puas pada satu jawaban mutlak. Beliau justru akan menuntun tangan muridnya dengan sabar menuju tepian telaga, mengajarinya untuk mencintai setiap riak pertanyaan. Sebab di sanalah perjalanan panjang manusia sebagai seorang pembelajar abadi yang tidak akan pernah benar-benar menemui kata selesai. (Red)