Cinta Monyet

"Ah, itu hanya cinta monyet."Begitulah orang-orang dewasa sering menyebutnya. Sebuah ungkapan yang...

Cinta Monyet

28 Jun 2026
308 x Dilihat
Share :

Cinta Monyet

"Ah, itu hanya cinta monyet."

Begitulah orang-orang dewasa sering menyebutnya. Sebuah ungkapan yang terdengar teramat ringan, bahkan kadang dilemparkan bersama tawa kecil yang meremehkan. Seolah-olah seluruh letup perasaan yang pernah tumbuh subur pada usia belia hanyalah sebuah permainan intermeso yang tak pantas disimpan, apalagi dikenang terlalu lama.

Mereka berkata, untuk apa membesar-besarkan kisah masa kecil yang naif? Untuk apa membawa kenangan usang itu terbang begitu tinggi hingga kita kehilangan pijakan di bumi kenyataan? Bukankah semua itu hanyalah terminal persinggahan sementara sebelum manusia benar-benar menjejakkan kaki pada labirin cinta yang sesungguhnya?

Aku hanya bisa tersenyum simpul setiap kali mendengar kalimat-kalimat skeptis semacam itu. Satu sisi memang ada kebenaran yang ringkih dalam ucapan mereka, namun sisi lainnya ada pula kompleksitas ruang batin yang gagal mereka selami.

Sebab bagiku, esensi dari sebuah perasaan tidak pernah otomatis menjadi kerdil hanya karena usia kita saat mengalaminya masih terhitung kecil. Hati manusia tidak pernah mengenal ukuran angka atau kalkulasi waktu. Ia hanya mengenal satu hukum mutlak tentang kejujuran paripurna. 

Sebab justru ketika manusia masih begitu belia, hatinya belum cukup pandai untuk berbohong kepada dirinya sendiri. Ia mencintai tanpa perhitungan untung dan rugi, menyayangi tanpa menuntut syarat kelayakan, dan merindukan tanpa pernah berharap selembar imbalan. Perasaan-perasaan mentah seperti itulah yang justru paling sulit dihapus dari dinding ingatan. Sebab lahir dan tumbuh mandiri, jauh sebelum manusia belajar menempa topeng-topeng sosial demi menyiasati kerasnya kehidupan. 

Ia adalah lembar pertama dari kitab rasa kita, yang ditulis dengan tinta paling murni, sehingga warnanya tetap pekat meski halaman-halaman setelahnya telah berulang kali luntur oleh air mata dan letihnya menjalani dewasa. Maka biarkan saja jika ada yang menganggapnya sebagai riak kecil yang remeh. Bagiku justru jauh berharga atas riak kecil itu yang pernah membentuk arah aliran sungai kehidupanku menuju totalitasnya. Sebab kita tidak bisa mendikte ke mana ingatan harus berlabuh saat malam mulai menjemput sunyi.

Bukankah kerinduan selalu memiliki jalannya sendiri yang rahasia? Ia menyerupai akar pohon tua yang merambat diam-diam di bawah tanah. Tak terlihat oleh mata orang yang lalu-lalang di atasnya, tetapi cukup kuat untuk menopang seluruh batang kenangan agar tidak tumbang digilas waktu. Lalu siapa yang benar-benar mampu menahan rindu kepada seseorang yang telah lama berlalu dari kehidupan kita? Siapa yang sanggup menghapus begitu saja jejak seseorang yang pernah berjalan bersama pada fase paling jujur dalam hidup?

Kita tahu ada kerinduan yang sama sekali tidak meminta momentum pertemuan. Ada rindu yang hanya ingin memastikan bahwa keindahan itu memang benar-benar pernah mewujud nyata dan tidak menuntut apa-apa. Hanya sesekali mengetuk pintu ingatan agar kita tidak lupa bahwa kita pernah menjadi manusia yang teramat sederhana dalam mencintai.

Barangkali, itulah sebabnya aku sesekali masih berharap dapat mengecap kembali getaran dari cinta yang begitu polos. Cinta yang tidak mengenal strategi atau taktik penaklukan. Tidak mengenal kepentingan. Tidak sibuk menghitung kalkulasi untung dan rugi. Tidak pula memperdebatkan status sosial, latar belakang pekerjaan, atau jaminan masa depan. Hanya berharap hadir begitu saja, mengalir organik seperti matahari pagi yang menyinari rerumputan liar tanpa pernah bertanya siapa yang paling layak menerima kehangatan cahayanya.

Segalanya tentu menjadi teramat berbeda dengan cinta ketika manusia mulai beranjak dewasa. Menjalani dewasa lalu menyebut kata "cinta" sering datang beriringan dengan begitu banyak motif yang tersembunyi di balik punggungnya. Ada ekspektasi yang menuntut, ada kepentingan yang egois, ada ketakutan akan kesepian, ada gengsi yang tinggi, bahkan kadang ada ambisi terselubung yang diam-diam menyusup ke dalam jantungnya. 

Lalu pada akhirnya cinta dewasa perlahan berubah menjadi ruang tawar-menawar yang transaksional. Padahal esensi dari sebuah rasa hanyalah sebuah keberanian tulus untuk tersenyum murni ketika melihat seseorang yang kita sayangi berbahagia. Barangkali karena cinta yang polos di masa belia itulah menjadi semacam sesuatu yang tidak pernah lagi dapat kita temukan di dunia nyata yang bising ini. 

Sebab ia memilih untuk mengungsi dan tinggal di tempat yang tidak akan bisa dijangkau oleh siapa pun selain batinnya masing-masing. Ia menetap di palung kenangan, lalu sesekali menjelma menjadi bunga tidur. Dengan itu, mimpi akhirnya menjadi satu-satunya jembatan gaib yang menghubungkan hari ini dengan masa silam. Untuk mempertemukan aku yang sekarang dengan diriku yang dahulu ketika segala sesuatu di dunia ini masih terasa begitu bening dan murni, seperti air yang baru saja lahir dari mata air pegunungan.

Aku mulai percaya bahwa sebagai manusia yang selalu membutuhkan cinta, kita juga harus berani mendengarkan suara-suara hati yang selama ini tertunda dan terabaikan. Memang, tidak semua perasaan harus segera diselesaikan atau diberi garis akhir. Sebagian di antaranya sengaja dititipkan kepada sang waktu agar suatu hari nanti dapat kita buka kembali sebagai lembar kenangan. Bukan untuk diratapi atau disesali, melainkan untuk dirayakan dengan rasa syukur. Sebab tidak semua orang beruntung dapat memiliki masa remaja yang masih sanggup membuatnya tersenyum hangat ketika mengenangnya kembali.

Masa remaja yang indah itu memang telah pergi teramat jauh. Ia berjalan pelan meninggalkanku, menyerupai sepotong senja yang perlahan tenggelam di balik punggung perbukitan. Dan aku tidak akan pernah mampu mengejarnya kembali. Aku hanya bisa berdiri memandangnya dari kejauhan sampai cahaya terakhirnya benar-benar lenyap di garis cakrawala. 

Lalu setiap kali memori itu berputar, selalu ada kehangatan yang kembali menyala di dalam dada. Sebuah kehangatan yang lembut mengingatkan bahwa aku pernah menjalani masa belia, masa muda yang pernah begitu jujur, dan pernah mencintai dengan hebat tanpa pernah mengerti apa arti dari memiliki.

Dan dia yang bernama Lusia, tetaplah teman kecilku. Saat ia hadir di mimpi itu, ia yang tiba-tiba datang melangkah menghampiriku. Guratan wajahnya masih sama persis seperti yang selama ini aku simpan rapat di sudut ingatan. Lengkung senyumnya masih menyimpan keteduhan yang serupa. Datang tanpa sepatah kata yang terucap di antara kami. Lalu ia tiba-tiba mendekap tubuhku dengan perlahan. 

Pelukannya terasa begitu hangat, sehangat berkas matahari pagi yang berhasil menembus tebalnya embun dingin. Lalu ia mengecup bibirku dengan teramat lembut. Sebuah kecupan sunyi yang seolah membuat seluruh waktu yang hilang selama bertahun-tahun jarak memisahkan kami, sebelum akhirnya tiba-tiba lenyap begitu saja tanpa sisa.

Aku sempat menatap lekat ke dalam matanya yang jernih. "Lama sekali kita tidak bertemu," kataku lirih, hampir menyerupai bisikan yang rapuh.

Ia tersenyum hangat, seolah waktu tak pernah sedetik pun mengubahnya. “Aku tidak pernah benar-benar pergi.”

“Kalau begitu, mengapa baru sekarang kau datang menemuiku?”

“Karena baru sekarang kau memiliki keberanian untuk mengakui apa yang selama ini kau sembunyikan rapat-rapat.”

Aku perlahan menundukkan kepala, merasakan beban berat yang mendadak luruh dari pundakku. Untuk pertama kalinya, di dalam ruang rahasia bernama mimpi itu, aku akhirnya mampu berkata jujur. 

"Sebenarnya... sejak dulu, aku menyimpan harapan cinta kepadamu." Kalimat itu akhirnya keluar juga. Sebaris kalimat yang selama bertahun-tahun hanya berputar-putar menciptakan badai di dalam dada, tanpa pernah menemukan jalan atau keberanian untuk mewujud menjadi suara di dunia nyata.

"Sejak kapan?" tanyanya lembut, tanpa ada nada menuntut.

“Sejak masa-masa sekolah kita dahulu.”

Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memandangku lekat. Tanpa menyalahkan kebodohanku. Tanpa sedikit pun menertawakan kenaifanku. Ia hanya menyambutku dengan diam yang teduh. Seolah-olah ia teramat memahami bahwa ada jenis perasaan tertentu yang memang membutuhkan waktu sangat panjang, bahkan hingga melintasi pergantian musim dan usia, hanya untuk sekadar berani mengucapkan namanya sendiri. Tetapi kenyataan di luar mimpi tetaplah menjadi tembok yang angkuh. 

Dahulu, aku memang tidak pernah memiliki nyali untuk mengungkapkan semua itu. Selama masa-masa yang penuh ketidakpastian itu, aku selalu saja merapalkan kalimat yang sama kepada diriku sendiri, sebuah tameng rapuh yang kukatakan berulang kali bahwa aku harus sepenuhnya berkonsentrasi pada urusan belajar dan mempersiapkan masa depan sekolahku.

Itulah barangkali alasan paling aman dan klise yang paling mudah kuucapkan kepada siapa pun yang bertanya, yang bahkan ironisnya, menjadi sebuah kebohongan paling kusyukuri saat harus menyuapi isi kepalaku sendiri agar tidak gila oleh ketidakpastian. Sebuah alasan yang memang terdengar sangat masuk akal bagi seorang remaja, meskipun jauh di lubuk batin yang paling dalam, aku teramat tahu bahwa hal yang sebenarnya paling kutakuti bukanlah kehilangan jam-jam berharga untuk membaca buku, melainkan ketakutan akan kemungkinan kehilangan dirinya secara total apabila perasaan cinta yang kupendam ternyata bertepuk sebelah tangan.

Lalu kini ingatan itu menolak pudar, terutama ketika mengais kembali memori tentang hari-hari melelahkan saat ia dengan mata berbinar-binar memintaku menemaninya untuk menemui lelaki lain yang saat itu berstatus sebagai kekasih resminya.

Anehnya—dan mungkin ini adalah bentuk kenaifan paling bodoh sekaligus masokis yang pernah kulakukan. Justru akulah orang yang paling setia bersedia meluangkan waktu untuk mengantarkannya untuk merajut pertemuan dengan lelaki resminya itu.

"Temani aku ya? Jangan biarkan aku pergi sendirian," katanya waktu itu dengan nada manja yang seketika meruntuhkan seluruh pertahanan logikaku, sambil menatapku penuh harap di bawah rindangnya pohon halaman sekolah. Aku hanya bisa mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan gemuruh pahit di dalam dada, sembari memaksakan segaris senyum yang terasa kaku di bibir. “Baik, tentu saja akan aku temani.”

"Tapi, tolong jangan cemberut seperti itu," sahutnya lagi seraya menyipitkan mata, seolah-olah ia sanggup membaca ada retakan kecil yang sedang coba kusembunyikan di balik wajah datarku.

"Aku tidak sedang cemberut, Lusia. Lihatlah, aku memang sedang tersenyum dengan sangat tulus untukmu," jawabku berbohong, mencoba membela diri di hadapan sepasang matanya yang terlampau jernih.

"Bukan senyuman yang terpaksa seperti itu. Aku ingin melihat senyumanmu yang benar-benar terbit dari hatimu," desaknya lagi seraya tertawa renyah. Sebuah tawa indah yang sialnya terasa seperti sembilu yang mengiris pelan ruang batin kegelisahanku.

Aku pun akhirnya terpaksa melepas tawa kecil yang hambar, sekadar untuk menuruti permintaannya sekaligus menyudahi tuntutannya yang menyudutkan hatiku. “Iya, iya, ini aku sudah tertawa. Puas?”

Padahal di balik tawa hambar yang kupaksakan menyeruak hari itu, hanya aku sendiri yang benar-benar tahu betapa teramat beratnya usaha untuk menjaga agar senyuman artifisial itu tetap tinggal dan mengembang di wajah. Menyadari ada kalanya dalam fase kehidupan, seorang manusia sering dipaksa untuk berpura-pura menjadi langit yang cerah dan meneduhkan bagi orang lain. Padahal jauh di dalam lipatan jiwanya yang paling gelap, badai dan hujan lebat sedang turun dengan begitu deras tanpa ampun.

Aku memilih dengan sadar untuk mengubur dan menyembunyikan rapat-rapat segala remuk redam yang kurasakan saat itu. Sebab bagiku yang masih terlampau naif, binar kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya ketika hendak bersua kekasihnya terasa jauh lebih krusial untuk dijaga, ketimbang mementingkan ego kesedihanku sendiri yang berdarah-darah di dalam sunyi.

Suatu waktu aku ingat pernah membaca atau mendengar sebaris pepatah lama dari antah-berantah yang berbunyi, “jika seseorang yang teramat kita cintai di dunia ini telah menemukan kebahagiaannya, maka belajarlah untuk ikut merayakan kebahagiaan itu. Meskipun kenyataan pahitnya, detak kebahagiaannya itu tidak dianyam bersamamu.”

Pada masa-masa sekolah yang dipenuhi romansa belia itu, aku tentu belum sepenuhnya memiliki kedewasaan untuk mencerna makna filosofis yang terkandung di balik bait pepatah tersebut. Aku hanya menjalaninya dengan kepasrahan seorang martir yang terlanjur jatuh hati. 

Baru bertahun-tahun kemudian, setelah guratan usia dan benturan realitas mendewasakan cara berpikirku, aku akhirnya tersadar dengan seyogianya bahwa mencintai dalam bentuknya yang paling murni kadang-kadang berarti kerelaan mutlak untuk membiarkan seseorang yang kita puja tersenyum lebar kepada orang lain, sementara kita di sudut yang gelap diam-diam sibuk menahan dan menjaga agar air mata tidak jatuh berderai.

Lalu, di dalam ruang hampa bunga tidur di suatu malam, proyeksi ingatan tentang Lusia yang menggerakkan bibirnya itu akhirnya memecah keheningan yang panjang. "Sebuah cinta yang teramat terlambat," desisnya lirih, dengan sepasang mata yang menatapku penuh dengan gumpalan kabut penyesalan yang tak terurai.

Aku memandangnya lurus, terpaku pada sepasang matanya, mencoba mencari tahu apakah ada ruang bagi pengampunan atas ketakutanku di masa silam.

"Ungkapan rasa cinta yang sayangnya sudah terlampau terlambat diucapkan," ulangnya lagi, dan kali ini nadanya terdengar seperti gema lonceng tua yang berdentang di tengah kota. Dan aku hanya bisa mengangguk perlahan, membiarkan kepalaku tertunduk oleh beban kenyataan yang tidak akan pernah bisa kuubah lagi, betapa pun kerasnya aku meratap.

“Iya...”

Hanya satu kata pasrah itu yang akhirnya mampu merayap keluar dari celah bibirku yang mendadak kelu, bergetar menahan rindu sekaligus sesal yang mengkristal menahun. Pengakuan yang membuncah di dalam ruang hampa bunga tidur itu memang sudah terlanjur terlambat. Sangat terlambat, hingga ia sama sekali tidak lagi memiliki daya atau kekuatan apa pun di dunia nyata, selain menjelma menjadi seberkas kenangan indah yang sesekali datang hanya untuk mengiris kalbu dengan kelembutan yang menyakitkan.

Bahkan ironisnya, pengakuan sejujur itu hanya mampu lahir dan diucapkan di dalam labirin mimpi sebagai satu-satunya tempat magis di mana segala sesuatu yang mustahil diizinkan terjadi begitu saja tanpa harus meminta restu atau izin kepada kerasnya dinding kenyataan. Lalu saat fajar menyingsing dan pagi yang bising kembali datang mengetuk jendela kamar, semuanya secara otomatis kembali menjadi sunyi dan dingin. 

Membuatku dipaksa terbangun sebagai sesosok manusia biasa yang hanya bisa berdiri mematung di hadapan bentangan masa lalu. Tanpa lagi memiliki celah sekecil apa pun untuk memutar balik waktu atau mengubah apa yang telah terlanjur digariskan oleh takdir sejarah. Tetapi begitulah realitas kehidupan yang nyata. Mana mungkin aku pernah memiliki keberanian yang cukup untuk melisankan semua kata perasaan itu di hadapannya? 

Arus kehidupan kami berdua telah berjalan terlampau jauh meninggalkan koridor sekolah tempat kami dahulu sering searah. Jalan setapak yang dahulu sempat kami lalui berdampingan, kini telah lama bercabang ke arah mata angin yang sama sekali jauh berbeda dan tak lagi bersinggungan. Apa yang kurasakan dalam pejam tidurku kini hanyalah serpihan bayangan-bayangan usang yang sesekali datang menyelinap sebagai igauan yang meresahkan batin. Sebelum akhirnya luluh dan menghilang tak berbekas begitu disapu oleh pancaran cahaya matahari pagi. 

Lalu setelah merenungkannya dalam-dalam di tepi ranjang, mungkin memang sudah sebaiknya takdir ini dibiarkan berjalan apa adanya. Biarlah seluruh letup rasa, kegelisahan, dan pengakuan yang tak sempat terucap itu tetap tinggal dan mengendap abadi sebagai sebuah rahasia besar yang hanya diketahui oleh hamparan langit, oleh kesunyian malam, dan oleh Tuhan yang menggenggam rahasia hati setiap hamba-Nya. 

Sebab aku mulai paham, tidak semua jengkal rasa cinta di dunia ini harus diumumkan secara gaduh kepada semesta. Ada jenis cinta yang justru menjadi teramat indah, suci, dan sakral justru karena ia memilih untuk tumbuh dalam diam dan bergerak dalam ruang-ruang keheningan yang tak terjamah oleh orang lain.

Sebab kenyataan hari ini telah menempatkan dirinya pada posisi yang terhormat. Kini Lusia telah resmi menikah dengan lelaki pilihannya tentu saja. Ia telah memiliki sebuah keluarga kecil yang utuh, hangat, dan mandiri. Di seberang sana, ia bahkan telah dikaruniai anak-anak yang lucu, yang kini menjelma menjadi lentera serta cahaya paling terang di dalam rumah tangganya. Ia telah benar-benar menemukan pelabuhan kebahagiaannya sendiri yang sejati, merajut dan membangun sebuah surga kecil yang damai bersama orang-orang yang dicintainya dengan penuh komitmen. 

Dan jauh dari lubuk hatiku yang terdalam, aku sungguh ikut melambungkan rasa syukur atas segala keindahan hidup yang berhasil ia raih hari ini. Lalu jika semuanya sudah berjalan begitu ideal untuknya, untuk alasan egois apa lagi aku harus datang mengetuk pintunya, membawa ego kegelisahan masa laluku yang tak selesai ke dalam tatanan kehidupannya yang telah berjalan dengan teramat damai? Untuk apa pula aku harus bersikap kekanak-kanakan dengan membuka kembali pintu-pintu masa silam yang telah dikunci rapat-rapat oleh gembok sang waktu selama bertahun-tahun?

Tentu saja tidak, aku sama sekali tidak akan pernah sudi melakukan tindakan sekonyol itu. Aku tidak ingin menjelma menjadi badai ego yang egois, yang datang secara tiba-tiba hanya untuk merobohkan bangunan rumah tangga yang telah susah payah ia rintis dan bangun dari nol bersama suaminya. Aku tidak ingin menjadi tetesan air hujan yang mengusik atau memadamkan kobaran api kebahagiaan yang sedang menghangatkan ruang keluarganya. 

Biarlah saja aku tetap tinggal di dalam ingatannya dan ingatan duniaku sendiri sebagai sesosok teman kecil yang pernah berjalan beriringan bersamanya pada musim yang paling polos, jujur, dan tanpa topeng dalam sejarah hidup kami berdua. Jika dahulu sosoknya adalah selembar halaman berhiaskan guratan tinta emas yang teramat indah di dalam buku besar kehidupanku, maka kini biarlah lembaran penuh kenangan itu tetap tersimpan rapi di dalam jilidnya yang kokoh. 

Tidak perlu ada bagian yang disobek karena rasa sesal, dan tidak pula harus dibuka dengan sengaja setiap hari hanya untuk meratapi nasib. Cukup sesekali saja kubaca bait-baitnya dalam keheningan batin yang paling intim. Lalu setelahnya kututup kembali lembaran usang itu dengan menyunggingkan segaris senyum yang penuh dengan rasa ikhlas dan syukur yang mendalam.

Sebab seiring berjalannya waktu, cinta yang telah tumbuh dewasa tidak akan lagi menyibukkan dirinya untuk terus-menerus meratap dan bertanya penuh tuntutan, "Mengapa aku tidak bisa memilikinya secara fisik?" Sebaliknya, cinta yang telah matang dan selesai dengan dirinya sendiri justru akan belajar untuk melambungkan kalimat pasrah yang teramat tulus: “Terima kasih, karena engkau yang berharga pernah bersedia menjadi bagian paling indah dari perjalanan panjang hidupku.”

Dan mungkin, setelah melalui sekian banyak pergolakan batin yang melelahkan, aku akhirnya menyadari bahwa itulah wujud dari bentuk cinta yang paling tenang dan paripurna. Sebuah ketulusan untuk mendoakan dari kejauhan yang sunyi, keberanian untuk terus menjaga keutuhan kenangan tanpa sedikit pun memiliki niat untuk mengganggu kedamaian hidupnya, serta keteguhan untuk menjadi bait-bait doa yang lirih di hadapan Tuhan, daripada memaksakan diri menjadi badai luka baru yang datang teramat terlambat bagi kehidupan yang telah mapan.

Nuansa dalam mimpi itu pun perlahan-lahan mulai memudar dan menipis seiring dengan datangnya sapuan fajar yang dingin di ufuk timur. Cahaya pagi yang mula-mula malu-malu, kini merayap pelan bagai jemari emas di sela-sela jeruji jendela kamar. Sementara siluet guratan wajah Lusia yang tadinya terasa begitu nyata dalam dekapan tidur, berangsur-angsur larut kembali ke dalam palung ruang ingatan terdalam yang selama belasan tahun ini telah menyimpannya dengan begitu setia dan rapi.

Aku tetap memilih duduk termangu cukup lama di tepi ranjang yang dingin, membiarkan keheningan fajar yang pekat berbicara jauh lebih banyak dan jujur kepada jiwaku daripada untaian kata-kata manusia. Lalu di dalam dada muncul sejenis perasaan ganjil yang teramat sukar untuk diterjemahkan oleh ilmu tata bahasa apa pun, yang bukan lagi sejenis rindu menggebu yang menuntut sebuah momentum pertemuan fisik, bukan pula berupa sisa penyesalan yang meratap bodoh berharap agar jarum waktu diputar kembali ke masa sekolah.

Satu-satunya rasa yang tersisa dan mengendap di dasar batin hanyalah sebuah rasa syukur yang teramat lembut dan teduh. Karena skenario hidup yang fana ini setidaknya pernah mempertemukanku dengan sesosok manusia yang secara diam-diam telah mengajarkan bagaimana caranya hati ini mulai mengenal getar dan degup pertamanya.

Setelah kupikirkan kembali sembari menatap matahari yang kian meninggi, tidak semua bunga tidur yang hadir menyergap malam datang dengan tujuan untuk mengganggu kualitas istirahat manusia. Barangkali ada jenis mimpi suci yang sengaja dihadirkan oleh semesta hanya untuk sekadar mengusap partikel debu-debu usang yang terlanjur menempel di halaman-halaman kitab kenangan masa lalu. Sebuah pengingat lembut agar manusia yang kini sibuk bertarung dengan realitas dewasa tidak pernah lupa bahwa dirinya pernah hidup dengan seonggok perasaan yang begitu polos, murni, dan jujur.

Seiring dengan roda waktu yang terus berputar melindas usia, aku kini menjadi semakin paham dan bijaksana, semoga, untuk dapat memahami bahwa sebuah kenangan sejati sebenarnya tidak pernah meminta atau menuntut untuk dihidupkan kembali di alam nyata. Ia hanya butuh diakui dengan ikhlas keberadaannya sebagai sepotong fragmen perjalanan sejarah yang secara tidak langsung ikut menempa dan membentuk siapa diri kita yang sesungguhnya pada hari ini.

Memang ada tipe kenangan yang akan lapuk, pupus, dan selesai begitu saja dikikis oleh berjalannya waktu, tetapi ada pula tipe kenangan adekuat yang tetap menetap dengan kukuh menyerupai aroma petrikor—petualangan wangi tanah kering setelah diguyur hujan deras—yang meskipun tercium samar-samar, yang selalu mampu dikenali dengan akurat oleh indra rasa ketika hati sedang berada dalam kondisi lengah dan sunyi.

Barangkali, karena alasan filosofis itulah aku tidak lagi merasa perlu membuang energi untuk mengusir atau mengeblok ingatan tentang dirinya dari kepalaku. Aku justru memilih membiarkannya tinggal dengan damai di salah satu sudut jiwa yang paling sunyi, bukan lagi sebagai luka menganga yang terus berdarah-darah, melainkan sebagai seberkas cahaya lilin kecil yang sesekali bertugas menghangatkan jalannya perjalanan hidup ketika langkah kaki ini mulai terasa sepi dan melelahkan.

Maka dari itu, biarlah semuanya tetap tinggal dengan anggun sebagai sepotong kenangan manis dari masa remajaku yang bersahaja. Orang-orang di luar sana boleh saja dengan sinis menyebutnya hanya sebatas cinta monyet belaka. Sebuah letup perasaan emosional dangkal yang konon dianggap belum memenuhi kualifikasi sah untuk disebut sebagai cinta yang sesungguhnya.

Mereka yang skeptis mungkin akan terus mengatakan bahwa riak rasa itu hanyalah sebuah ketertarikan psikologis yang lazim lahir karena faktor kedekatan. Sebab terlalu sering menghabiskan waktu bersama. Terlalu sering berpapasan dan bertukar pandang di koridor-koridor sekolah yang sempit. Terlalu sering berbagi tawa renyah pada usia ketika hati kami memang belum dipaksa mengenal rumitnya intrik kehidupan orang dewasa. Mereka akan selalu menganggapnya tak lebih dari sekadar halte persinggahan kecil yang remeh, sebelum manusia benar-benar dipaksa memahami arti mencintai yang penuh dengan komitmen dan air mata.

Di hadapan semua penilaian yang meremehkan itu, aku tidak pernah lagi merasa perlu untuk membuka mulut dan membantah mereka. Mungkin semua skeptisisme itu ada benarnya jika diukur menggunakan parameter kedewasaan dunia nyata. Mungkin pandangan itu teramat valid menurut sudut pandang serta pengalaman empiris orang-orang dewasa yang telah kenyang melewati begitu banyak pahit-manis kehidupan.

Tetapi belahan batin manusia selalu memiliki mekanismenya sendiri dan otonom dalam mengarsip setiap jengkal peristiwa emosional. Ia tidak pernah sudi bertanya berapa angka usia seseorang ketika ia mulai merasakan getaran magis itu untuk pertama kalinya. Ia tidak pernah repot-repot menghitung atau mengaudit apakah seberkas perasaan itu sudah memenuhi syarat untuk sah disebut sebagai cinta sejati, ataukah hanya sekadar manifestasi kekaguman platonis yang singgah sebentar lalu menguap.

Hati manusia hanya bertugas merekam dengan setia apa saja yang pernah berhasil membuatnya berdebar hebat, lalu menyembunyikan rekaman suci itu di sebuah ruang yang paling dalam, jauh terisolasi dari jangkauan intervensi logika. Sebab muncul oleh satu pertanyaan yang selalu saja datang menghampiri benteng pertahananku, yang menyerupai hembusan angin sore yang tak pernah bosan mengetuk-ngetuk daun jendela kaca. 

Kalau memang benar seluruh riak rasa di masa lalu itu hanyalah sebatas cinta monyet yang remeh, mengapa setiap kali memori itu berputar di kepala, justru yang lahir dan mengendap adalah sebuah rasa kebahagiaan yang teramat tenang dan meneduhkan jiwa? Mengapa rajutan kenangan itu tidak kunjung melapuk menjadi remah-remah debu sejarah yang dengan mudah diterbangkan oleh pusaran waktu? Mengapa ia tetap memilih untuk keras kepala hidup, mekar, dan berdenyut, bahkan ketika puluhan musim dan pergantian tahun telah lama berlalu melindas usia?

Aku sama sekali tidak pernah berhasil menemukan jawaban yang pasti atas teka-teki itu. Yang kutemukan hingga hari ini hanyalah guratan senyum kecil yang selalu muncul secara refleks tanpa pernah kusadari, setiap kali siluet wajah Lusia melintas sekilas di dalam ruang ingatan. Lengkung senyum itu terbit bukan karena aku masih menyimpan ambisi egois untuk kembali menemuinya di dunia nyata. 

Bukan pula karena aku sedang meratapi nasib dan berharap keajaiban datang untuk mengulang lembaran masa lalu yang telah usang, melainkan senyum itu adalah bentuk perayaan kecil karena diriku yang naif ini pernah beruntung menjadi bagian dari sebuah masa yang teramat jujur. Sebuah fase emas ketika hati kami belum mengenal bahasa kepura-puraan, dan lingkungan dunia belum sempat mengajarkan bahwa esensi cinta seringkali harus tunduk dan dikorbankan demi begitu banyak kepentingan transaksional.

Barangkali, memang di titik buta itulah seberkas rasa itu memilih untuk tinggal dengan aman. Di bagian labirin batin yang paling sunyi. Di dalam sebuah ruang isolasi yang bahkan aku sendiri pun teramat jarang memiliki keberanian yang cukup untuk memasukinya. Sebuah ruang bawah tanah yang tidak memiliki celah jendela, tetapi anehnya selalu dipenuhi oleh pendar cahaya kehangatan yang konstan. Ruang yang tidak akan pernah bisa diendus atau diketahui oleh siapa pun di dunia luar. 

Sebab aku percaya, setiap manusia yang masih bernapas selalu dianugerahi satu bilik rahasia di dalam jiwanya, tempat di mana ia mengunci rapat kenangan-kenangan yang terlampau indah untuk dipertontonkan kepada publik, sekaligus terlampau berharga jika harus dibiarkan lenyap dilupakan. Barangkali, karena alasan sakral itulah, kehadiran seseorang sesekali masih diizinkan berkunjung melalui jalan mistis bernama mimpi. Ia datang bukan untuk menuntut atau meminta kembali apa saja yang telah hilang digilas realitas. Bukan pula untuk menjelma menjadi hantu masa lalu yang memprovokasi jiwaku agar berjalan mundur melawan takdir waktu.

Ia hadir murni hanya sebagai seberkas cahaya lilin kecil yang bertugas mengingatkan diriku yang dewasa ini, bahwa jalanku yang bising pernah diterangi oleh ketulusan seseorang. Bahwa dalam bentangan pengembaraan yang panjang dan melelahkan ini, pernah ada seorang gadis remaja yang tanpa ia sadari telah menyalakan sebutir api kecil di dalam dadaku. Kobaran api yang tidak bersifat merusak atau membakar emosi, melainkan menghangatkan batin. Api yang tidak menghanguskan masa depan, melainkan menjaga agar lentera harapan di dalam diriku tidak pernah benar-benar padam dihantam badai kehidupan.

Di dalam keheningan dimensi mimpi yang kian menipis itu, aku seakan-akan bisa mendengar gemerisik suaranya yang puitis bergaung kembali. “Apakah kau sampai detik ini masih mengingatku?”

Aku menyunggingkan senyum tulus kepadanya. Menatap bayangnya yang mulai beralih samar diterpa fajar. “Aku mengingatmu bukan karena aku tidak memiliki kemampuan untuk melupakanmu.”

“Lalu, karena apa?”

"Karena segala kenangan yang bernilai baik di semesta ini memang tidak pernah diciptakan hanya untuk berakhir dilupakan." Lalu ia memandangku lekat-lekat dengan sepasang mata yang memancarkan keteduhan yang luar biasa. 

“Kalau begitu, sebagai teman masa kecilmu, aku meminta jangan tinggal terlampau lama di dalam ruang masa lalu ini.”

Aku menangguk pelan, membiarkan untaian kalimat itu meresap sepenuhnya ke dalam batin. “Aku tahu.”

"Pergilah melangkah lagi," bisiknya lembut.

“Ke mana aku harus melangkah?”

“Menujulah ke ruang masa depanmu yang sejati.”

Kalimat terakhirnya teramat sederhana dan gema yang ditinggalkannya bergetar begitu lama di dalam rongga dadaku. Seolah-olah tamasya mimpi malam itu tidak sedang menjebakku untuk bernostalgia kembali kepada masa silam, melainkan justru memberikan dorongan energi baru agar aku berani melangkah lebih jauh dan tegap meninggalkannya.

Aku pun mulai mengerti dengan seyogianya. Mungkin, sosok Lusia memang sejak awal tidak pernah diplot oleh takdir untuk menjadi tujuan akhir dari dermaga perjalanan hidupku. Ia hanyalah sebutir bunga api indah yang pernah menyala terang di fase awal perjalananku yang bersahaja. Ukurannya kecil, tetapi cahayanya terbukti cukup untuk menyalakan sumbu obor semangat yang kubawa meraba kegelapan hingga hari ini.

Sebab jika tanpa adanya sebutir bunga api masa kecil itu, mungkin aku tidak akan pernah belajar bagaimana rasanya menyayangi sesama manusia dengan begitu tulus tanpa pamrih. Tanpa adanya cahaya kecil itu, mungkin aku tidak akan pernah memiliki empati untuk memahami bahwa setiap manusia selalu membutuhkan sepotong kenangan murni sebagai tempat pulang yang teduh ketika realitas hidup terasa terlalu melelahkan untuk dihadapi.

Dan kini, setiap kali langkah kakiku di dunia dewasa mulai kehilangan arah atau dirundung keletihan, aku tahu bahwa jauh di dalam diriku masih tersimpan pendar cahaya yang pernah ia nyalakan dahulu. Cahaya itu tidak pernah memanggilku untuk berbalik arah kembali kepadanya. Justru ia menjadi kompas yang mendorongku agar terus berjalan menatap ke depan. Terus bertumbuh. Terus menimpa diri menjadi sesosok manusia yang jauh lebih matang, bijaksana, dan selesai dengan dirinya sendiri daripada aku yang dahulu.

Sebab aku paham, garis kehidupan tidak pernah mengizinkan kita untuk menetap selamanya di satu halaman yang sama. Ia selalu menuntut kita untuk berani membalik lembar berikutnya dengan penuh rasa optimis.

Kini, sudah saatnya aku kembali belajar menggapai konstelasi bintang-bintang impian baru. Bintang-bintang harapan yang sempat redup atau hilang dari langit pandanganku, hanya karena mataku terlalu lama terpaku memandang binar sisa cahaya dari masa silam yang melankolis. Aku tersadar sepenuhnya, bahwa seorang kesatria tidak boleh terus-menerus mengurung hidupnya di dalam museum kenangan. Sebab kenangan hanyalah tempat persinggahan sementara untuk melepas lelah, bukan tempat tinggal permanen. Ia adalah pelabuhan tenang tempat kita merapatkan kapal sejenak untuk beristirahat, bukan rumah utama tempat kita menghabiskan seluruh sisa usia yang teramat berharga.

Kemudian aku menarik napas dalam-dalam, lalu mendongakkan kepala menatap langit luas di luar jendela kamar. Bintang-bintang di angkasa sana ternyata masih setia ada di tempatnya. Barangkali, sejak dahulu mereka tidak pernah benar-benar menghilang atau meredup dari takdirku. Hanya saja, sepasang mataku yang egois ini terlampau lama terpaku pada binar indah mata seseorang di masa lalu, hingga aku sempat lupa bahwa langit kehidupan yang disediakan Tuhan masih begitu luas, megah, dan menantang untuk dijelajahi.

Maka dengan kemantapan hati yang baru, perlahan aku mulai melangkah lagi ke hadapan dunia nyata dengan nuansa perasaan berbeda setelah bertemu dengannya. 

Lalu, secara tiba-tiba, suara nyaring bel sekolah berdentang keras, seketika memecah lamunan masa lalu yang terlanjur berkelana jauh, berganti dengan keriuhan realitas yang akrab. Suara derap langkah kaki para murid yang bersemangat seketika memenuhi koridor-koridor, menggema dinamis, menandakan bahwa hari-hari baru yang sarat akan energi kehidupan telah resmi dimulai kembali.

Arus ingatan itu membawa jiwaku kembali berlabuh pada atmosfer di depan kelas kala itu. Sosok Guru Sejarah telah berdiri tegap di balik meja kayu, menyunggingkan senyum yang teramat tenang dan penuh wibawa, bersiap membentangkan lembar demi lembar buku pelajaran berikutnya.

Jemari tangannya yang kokoh mulai bergerak lincah, menuliskan barisan kosakata baru yang asing di atas permukaan papan tulis. Gerakan kapur itu seolah ingin menyampaikan sebuah pesan filosofis yang tersirat kuat kepada kami semua bahwa setiap zaman yang berganti akan selalu melahirkan narasi cerita baru yang menantang, sebagaimana setiap hati manusia akan terus dipaksa oleh takdir untuk belajar menemukan makna baru yang lebih mendalam dari setiap jengkal perjalanan hidupnya.

Aku menarik napas panjang, membiarkan dadaku dipenuhi oleh aroma khas kapur tulis dan segarnya angin pagi yang berembus bebas masuk melalui celah-celah jendela ruangan.

Di titik itulah aku tersadar, bahwa petualangan kehidupanku yang sesungguhnya ternyata sama sekali belum usai. Justru dari balik batas ruang kelas yang sederhana, bersahaja, dan penuh kenangan itulah, lembar demi lembar kehidupan berikutnya perlahan-lahan mulai mekar dengan anggun. Langkah kaki dan jiwaku telah siap bergerak maju, melintasi batas masa lalu, demi menyongsong kisah-kisah baru yang jauh lebih megah. Menuju kisah yang belum pernah kukenal sebelumnya dan bentangan jalannya telah menanti untuk ditempuh. (Bersambung)

Perspektif

Scroll