Ruang kegiatan siang itu dilingkupi oleh sejenis sunyi yang tidak biasa. Semburat surya yang kian merunduk pasrah menyusup lewat celah kisi-kisi jendela kayu, menumpahkan rona kuning pucat di atas permukaan meja-meja usang yang dipenuhi goresan masa lalu serta jejak tinta lama yang enggan lekang oleh waktu. Butiran debu melayang, menari lamat-lamat di dalam pendar cahaya keemasan itu. Di luar sana, sayup-sayup terdengar sisa sorak-sorai anak-anak yang masih bertahan bermain di sudut halaman sekolah, berpadu dengan desau gemerisik rumpun pohon pisang di pekarangan belakang yang sesekali tersibak oleh embusan angin sore.
Ruangan kecil itu seketika menjelma dunia yang terasing. Di balik suasananya yang agak pengap, kami sedang dipaksa mendengarkan gemas suara yang lama senyap di dalam dada. Beberapa sebagian kami termangu menopang dagu, sementara yang lain membalik-balik buku kosong dengan tatapan harap-harap cemas, seakan menunggu keajaiban yang jatuh dari langit. Sementara itu, Ibu Ani tegak di depan kelas dengan map lusuh dalam dekapan. Ia memandangi barisan wajah-wajah kami yang belia, yang masih gagap menghadapi kata, serupa seorang juru pelita yang kukuh melindungi pijar lilinnya dari rengkuhan angin luar yang terlalu dingin untuk mimpi-mimpi kami yang bersahaja.
Jauh sebelum Ibu Ani mengurai perihal fakta, fiksi, bahasa, dan garis hidup para begawan sastra, di ruang kegiatan itu seolah menyimpan magis yang sulit didefinisikan. Ada keheningan yang bernyawa di sela-sela meja kayu yang penuh coretan, juga di lekuk-lekuk buku tulis murah yang dekil akibat telapak tangan yang cemas dan berkeringat.
Kami tiba di ruangan ini bukan sebagai bocah yang mengerti cara mengolah kata. Kami datang hanya dituntun rasa ingin tahu atau semata-mata mencari dalih agar bisa bertahan lebih lama di sekolah, ketimbang harus kembali ke rumah yang kerap terasa terlalu sesak bagi angan-angan kami yang liar.
Di dalam ruangan sempit itulah kami mula-mula insaf, bahwa kata-kata yang bertenaga tidak melulu lahir dari kecerdasan, melainkan kerap berakar dari kerapuhan, dari rasa minder, dan dari ketidakberdayaan menyuarakan isi kepala kepada dunia.
Ibu Ani, lewat suaranya yang teduh dan tatapan matanya yang sarat akan kelelahan, menuntun kami untuk paham bahwa menulis pertama-tama bukanlah jalan untuk menjadi jagoan atau merasa pintar, melainkan sebuah ikhtiar berani untuk mendengar bisikan nurani sendiri yang sekian lama terkubur oleh deru kehidupan.
“Karena menulis dan membaca bagai dua sisi pada sekeping mata uang.”
Kalimat pembuka itu diucapkan Ibu Ani dengan nada rendah, namun sanggup menyisip dalam-dalam ke sudut-sudut ruangan. Siang itu, atmosfer pekat oleh bau kapur, wangi khas kertas buram, dan debar asing dari anak-anak yang baru mulai mengenali jati diri. Kata-kata itu terlepas dari bibirnya begitu lambat, seperti daun kering yang jatuh dari dahan pada suatu musim yang terlampau getir untuk dinamai kebahagiaan. Tanpa intonasi tinggi. Tanpa pretensi menggurui. Tetapi di balik kesederhanaan itu, ia mengetuk dengan ketukan yang bertenaga pada sesuatu yang lama tertidur di dalam palung dada kami.
Di luar jendela, langit tampak pucat serupa selembar halaman buku yang terlampau lama dibiarkan terbuka. Angin menyusup lamat-lamat melalui celah ventilasi, membawa gemerisik dedaunan yang bergesekan terdengar seperti bisikan orang-orang yang sedang merawat ingatan masa kecil mereka. Beberapa siswa duduk menekur. Sebagian lagi menatap Ibu Ani dengan sepasang mata yang belum sepenuhnya paham, mengapa seseorang bisa begitu khusyuk mencintai kata-kata.
Hari itu, ia baru saja dikukuhkan oleh kepala sekolah sebagai guru pembina kegiatan ekstrakurikuler kepenulisan. Tepuk tangan yang sempat meramaikan ruangan perlahan surut, menyisakan gema yang menggantung di langit-langit kelas seperti debu-debu pendar cahaya. Namun di wajah Ibu Ani tak ada kilas kebanggaan yang pongah. Ia justru tampak seperti seseorang yang sedang memanggul beban yang jauh lebih berat ketimbang sebuah mandat. Ada sebuah harapan baginya, agar anak-anak di hadapannya kelak tidak tumbuh menjadi manusia yang asing terhadap batinnya sendiri.
Ia berdiri bersahaja di depan kelas, mendekap map lusuh berisi lembar catatan dan buku-buku yang ujung halamannya mulai menguning dimakan waktu. Dari tatapan matanya yang menyapu ruangan, terasa perempuan itu sedang mengetuk sebuah pintu yang tak kasatmata. Pintu menuju sebuah suaka, tempat seseorang bisa selamat hanya karena ia masih mampu membaca dan menulis.
“Kadang,” ia menyambung, bibirnya mengulas senyum tipis. “Orang mengira menulis itu sekadar urusan merangkai kata. Padahal, menulis adalah cara agar kita tidak tenggelam oleh diri kita sendiri.”
Kelas seketika senyap. Saya menoleh ke belakang, pada barisan anak-anak yang semula menunduk kini mulai mengangkat wajah. Barangkali, ada sesuatu dalam petuah Ibu Ani yang jatuh serupa rintik hujan pertama di puncak kemarau yang gersang. Sesuatu yang ganjil, tetapi diam-diam meredakan cemas.
Dalam sambutan itu, sebagai guru Bahasa Indonesia, Ibu Ani mulai mengulas perihal nama wadah yang baru dibentuk sekolah ini. Ia mengucapkannya dengan takzim, seakan sedang menimang porselen yang rapuh.
“Kepenulisan,” ucapnya lirih. “Atau penulisan.. sebagai nama formal wadah kita belajar merangkai aksara. Apakah tidak bermasalah dari sisi kaidah afiksasi kata dasarnya?
Beberapa anak saling pandang dan tersenyum simpul. Sebagian mulai menyentuh halaman buku tulis mereka, sementara yang lain hanya memutar-mutar pena di sela jari. Pertanyaan itu sejatinya sederhana, tetapi cara Ibu Ani menyuarakannya membuat bahasa terasa seperti sekerat nyawa. Sesuatu yang ringkih dan harus disentuh dengan kelembutan.
Di baris depan, Kak Nurma mengangkat tangannya perlahan, seakan-akan ia harus mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dada hanya untuk melontarkan sebuah tanya.
“Kalau keliru secara kaidah, mengapa kita tetap menggunakan nama itu, Bu?”
Ibu Ani terkekeh halus. Sebuah tawa singkat yang segera mengalirkan rasa nyaman ke seisi ruangan, bagai berkas cahaya kekuningan dari jendela sebuah ruang yang mengintip hangat di balik pekatnya malam.
“Sebab,” ujarnya lirih, “manusia seringkali mencintai sebuah kata bukan lantaran kesempurnaan strukturnya, melainkan karena ia menemukan dirinya hidup dan bernapas di sana.”
Ruangan itu kembali dilingkupi lengang. Kalimat yang terlontar itu mulai mengendap pelan di dalam pikiran kami, bagai sebutir batu yang jatuh ke dasar lubuk, melahirkan gelombang kecil yang menyebar tanpa suara. Sebagian kami mungkin masih meraba-raba maksud di balik filosofi itu. Namun kami semua menangkap sekelibat kebenaran bahwa bahasa bukan sekadar urusan benar atau salah di atas kertas, melainkan sebuah ruang luas tempat seseorang mengarsipkan rasa sakit, menyimpan memori, dan menyusun benteng pertahanan terakhirnya.
Ibu Ani menghela napas lembut, menyudahi tamasya pikiran kami yang mulai melayang jauh.
“Tetapi, terlepas dari segala perdebatan linguistik itu,” sambung Ibu Ani sembari merapikan posisi kacamata di pangkal hidungnya, “semoga wadah ini tetap menjadi wadah yang lapang bagi kalian untuk menempa diri.”
Ibu Ani menghentikan gerak langkahnya. Lalu memandangi pasang mata di depannya dengan tatapan yang dalam, serupa seorang pembaca yang sedang menelisik baris-baris takdir yang baru akan dimulai. Mungkin ingin memastikan kami dalam memahami fondasi paling mendasar dari dunia yang baru saja kami masuki.
“Sebab itu, ingatlah kembali apa yang Ibu garis bawahi di awal pertemuan. Menulis dan membaca bagai dua sisi pada sekeping mata uang.”
Atmosfer di dalam ruang itu terasa kian magis. Deru kipas angin di langit-langit yang berputar konstan bahkan terdengar seperti ketukan waktu yang sengaja diringankan.
“Jika kalian berhasrat untuk menulis,” tuturnya dengan nada yang mengikat perhatian kami, “maka syarat mutlaknya adalah kayakan dirimu dengan membaca.”
Kalimat itu sesungguhnya sederhana dan sudah teramat sering kami dengar. Namun, saat meluncur dari bibir Ibu Ani, petuah itu menjelma sebait nasihat panjang yang datang dari rahim pengalaman seseorang yang mungkin pernah didera sepi yang hebat, lalu diselamatkan oleh tumpukan buku yang mengisi hari-harinya.
“Bacalah apa saja. Novel, puisi, koran, catatan kecil, bahkan coretan di permukaan meja-meja di hadapan kalian itu,” lanjutnya, seulas senyum samar terbit di wajahnya.
“Sebab adakalanya, manusia menemukan dirinya sendiri bukan ketika ia sibuk bersuara, melainkan saat diam-diam mengeja sesuatu yang terasa karib dengan isi hatinya.”
Kak Nurma yang duduk di dekat jendela menunduk lamat-lamat, memandangi guratan di permukaan mejanya. Entah mengapa, sepasang matanya mendadak berkaca-kaca. Mungkin ia pernah merasa begitu terasing di tengah keramaian. Mungkin ia adalah seorang pengelana sunyi, yang selama ini sibuk mencari jalan pulang di antara baris-baris halaman buku.
“Nikmatilah ritme membaca,” tutur Ibu Ani pelan. “Nikmatilah peranmu sebagai seorang pembaca, tanpa perlu membebani diri bahwa membaca melulu dilakukan demi bisa melahirkan tulisan.”
Angin siang kembali berembus melewati kusen. Kain tirai jendela melambai perlahan, mirip desah kelegaan dari dada seseorang yang telah mengikhlaskan seluruh hulu dan hilir kehidupannya.
“Membaca adalah tujuan itu sendiri,” desisnya, nyaris menyerupai bisikan. “Bukan sekadar batu pijakan untuk hal lain.”
Setelah itu, kesunyian yang khidmat mengambil alih ruangan. Ibu Ani membiarkan waktu membeku sejenak, memberi kesempatan bagi petuahnya untuk menancap dan berakar di dada kami.
“Sebab,” ia mengakhiri jeda itu dengan suara yang berat oleh ketulusan, “mereka yang membaca dengan jernih tidak pernah mengejar reputasi atau takhta. Mereka sekadar bersungguh-sungguh menjaga agar batinnya tidak menjelma padang pasir yang gersang.”
Suasana membeku. Ruangan kecil itu mendadak beralih rupa menjadi sebongkah sampan yang hanyut di aliran sungai mahaluas bernama kehidupan. Dan petuah Ibu Ani mengalir tenang di sekeliling kami, laksana pijar lilin yang temaram yang tidak mengusir seluruh kegelapan, namun memandu kami untuk berani melangkah menembus malam.
Ibu Ani menarik napas dalam, lalu perlahan menutup map usang yang sejak tadi mendekap erat catatan-catatannya.
“Sudah, cukup itu saja,” ucapnya tenang. Lalu entah mengapa, setelah kalimat penutup itu selesai diucapkan, tak seorang pun dari kami yang merasa bahwa semuanya benar-benar telah usai.
Di pertemuan lain, beberapa hari setelah wejangan pertama itu, Ibu Ani akhirnya mengurai benang kusut yang sejak awal menjadi hulu kebingungan kami. Siang itu, langit mendung menggantung rendah di atas atap sekolah, serupa bentangan kain abu-abu yang dilipat malas oleh cuaca. Aroma tanah basah merayap masuk dari halaman, berkelindan dengan bau khas kertas-kertas tua dan kayu meja yang mulai lapuk dimakan usia. Kelas dilingkupi sunyi yang lebih pekat dari biasanya, seolah-olah setiap anak tengah memikul isi kepalanya seumpama membawa kantong berisi sebongkah batu yang tak tahu harus diletakkan di mana.
Ibu Ani berdiri tegak menghadap papan tulis, jemarinya menjepit sebatang kapur putih. Namun ia tak kunjung menggoreskan aksara. Ia justru memandangi kami cukup lama, laksana seorang pengelana yang sedang memilah pintu paling tepat untuk mengetuk dan memasuki hati orang lain.
“Sebab muasal masalahnya..” ia mulai menyuarakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kami yang selama ini menggantung, “..adalah bukan terletak pada perkara membaca buku.”
Intonasinya rendah. Tetapi justru karena kerendahan nada itulah, setiap kata yang terucap terdengar kian bertenaga serupa rintik hujan pertama di tengah malam yang mendadak memaksa seseorang merindukan rumah.
“Bukan karena buku gagal menjadi jendela dunia,” lanjutnya, sembari meletakkan kapur itu lamat-lamat di atas meja, “melainkan karena kalian memiliki kendala pada bahasa.”
Kalimat itu seketika melempar kami pada kebuntuan. Beberapa siswa saling melempar tatap. Ada yang mengernyit dilingkupi bingung. Ada pula yang mendadak menekur, seolah-olah baru saja tertangkap basah melakukan kekeliruan.
Sebab selama ini, kami terlanjur mengira bahwa mandeknya jemari saat menulis bersumber dari miskinnya ide, dangkalnya pengalaman, atau ciutnya nyali. Kami tidak pernah benar-benar menyangka bahwa bahasa bisa menjelma dinding gaib, sebagai sekat yang tipis namun teramat tinggi, yang membiarkan seseorang bebas memandang dunia di hadapannya, tetapi sekaligus mengutuknya hingga tak mampu menjangkau dunia tersebut.
“Maksud Ibu,” katanya lagi sambil berjalan perlahan di antara bangku-bangku kami. “Bahasa ibu kita adalah bahasa Sunda.”
Suasana kelas semakin hening.
“Ibu sendiri sebagai pengajar bahasa Indonesia,” lanjutnya sambil tersenyum kecil, “kadang kalau mengajar suka tidak lepas dari bahasa Sunda. Lidah kita tumbuh dari sana. Pikiran kita mula-mula lahir dari sana.”
Ia berhenti sebentar di dekat jendela. Angin masuk perlahan, menggoyangkan tirai tipis yang tampak kusam dimakan waktu. Dari luar terdengar suara anak-anak kelas lain sedang berolahraga, jauh dan samar seperti gema kehidupan yang bergerak di luar dunia kecil kami.
“Bahasa ibu,” ujar Ibu Ani kembali, “adalah rumah pertama bagi batin seseorang. Di sanalah kita pertama kali belajar menangis, memanggil ibu, meminta makan, menyebut hujan, menyebut takut, menyebut rindu. Maka ketika kalian mencoba menulis dalam bahasa lain, sesungguhnya kalian sedang belajar berjalan lagi dengan kaki yang baru.”
*
Tak seorang pun dari kami yang bersuara. Kami semua membisu, seolah-olah tak ingin melewatkan satu pun untaian kalimat yang gema panjangnya mulai memenuhi rongga kepala kami. Uraian Ibu Ani sesungguhnya bersahaja, namun ia bekerja serupa anak kunci yang memutar dan membuka sesuatu yang selama ini terkunci rapat di dalam benak kami.
“Lihatlah Pramoedya Ananta Toer, misalnya.”
Nama begawan itu terlepas pelan dari bibirnya. Anehnya, cara Ibu Ani menyebutkan barisan suku kata itu terasa begitu personal, serupa suara seseorang yang sedang menyingkap sebuah babak paling menentukan dari riwayat sunyinya sendiri.
Lambat laun, pertemuan-pertemuan kami berikutnya kian pekat oleh bahasan mengenai para begawan sastra Indonesia. Ibu Ani menuntun nama-nama itu masuk ke dalam ruangan kami yang sempit bagai membawa pelita pemandu di kegelapan. Ia membedah jejak kepenulisan dari sekat-sekat zaman: Pujangga Lama, Pujangga Baru, Angkatan '45, hingga lini masa sesudahnya.
Barisan nama yang semula sekadar huruf-huruf mati di dalam buku pelajaran, tiba-tiba bernyawa menjelma raga manusia yang utuh. Melalui tutur katanya, sosok-sosok itu hadir membawa debar sunyi yang karib, sebagai manusia yang akrab dengan penolakan dan akrab dengan lapar, tetapi tak satu kali pun berniat meletakkan pena.
Adakalanya ia melisankan bait puisi dengan kelopak mata merapat khusyuk. Di saat lain, ia memberikan ketukan-ketukan ritmis di atas meja kala menyoroti sebuah novel yang ia pandang penting. Pada detik-detik itulah, ruangan kecil ini menjelma suaka yang berbeda. Bukan lagi sekadar tempat menghafal teori, melainkan pintu gerbang tempat kami bertamu ke dalam riwayat jiwa banyak manusia.
“Pramoedya Ananta Toer,” ucapnya di suatu siang yang lengang, “sebelum membuahkan Bumi Manusia beserta tetraloginya, Arok Dedes, Keluarga Gerilya, hingga Gadis Pantai.. sebelum seluruh adikarya itu mewarnai dunia..” Ia menahan bicaranya sejenak, guna mengikat perhatian kami dalam senyap yang pekat.
“…ia bermula dari titik yang persis sama dengan posisi kalian hari ini.”
Barisan anak-anak yang semula menekur kini mulai mendongak.
“Ia pun bertarung melawan keterbatasan bahasanya sendiri.”
Ruang kelas mendadak dilingkupi rasa karib yang ganjil. Tokoh besar yang selama ini terkesan seperti monumen tinggi yang tak terjangkau, tiba-tiba menjelma kawan senasib yang pernah terjatuh di kubangan yang sama.
“Lidah dan batinnya tumbuh bersama bahasa Jawa di tanah Blora,” papar Ibu Ani. “Tetapi ia memiliki ikhtiar yang besar dan kokoh untuk menundukkan bahasa Indonesia ke dalam tulisan-tulisannya.”
Tatapan matanya menyisir wajah kami satu per satu. Pandangan yang bersahaja, memancarkan daya dorong yang kuat, menancapkan sebuah keyakinan yang tak terucap bahwa setiap jiwa sesungguhnya menyimpan potensi untuk melampaui batas kecemasannya.
“Bahasa yang dasarnya dipetik dari rumpun Melayu,” sambungnya, “kemudian diangkat menjadi jangkar pemersatu bangsa.”
Deru baling-baling kipas angin berputar monoton di atas kepala kami. Udara terasa gerah dan mengungkung, tetapi pesona yang memancar dari depan kelas membuat kami enggan berharap bel pulang sekolah segera berdentang.
“Ada yang tahu redaksi tepat dari butir ketiga Sumpah Pemuda?” tanya Ibu Ani kemudian.
Dari sudut paling belakang, Hari menyahut dengan nada gamang, menyusun kata demi kata dengan kecemasan yang kentara.
“Mengaku… berbahasa satu, bahasa Indonesia, Bu?”
Sepasang bibir Ibu Ani melengkung, membentuk senyuman maklum seraya menggeleng halus.
“Itulah salah kaprah yang telanjur kita rawat sebagai kebenaran.”
Ia membalikkan badan menghadap papan tulis, memungut sebatang kapur putih, lalu menuliskan kalimat berhuruf besar melalui guratan tangan yang miring dan mantap:
Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Butiran debu kapur melayang-layang di udara, laksana sisa-sisa memori yang mengambang tanpa suara.
“Bukan ‘mengakui’,” desisnya lembut. “Tetapi ‘menjunjung’.”
Ia menatap kami kembali.
“Karena mengakui barulah sebatas insaf bahwa sesuatu itu nyata. Tetapi menjunjung..” ia menjeda kalimatnya, “…menjunjung bermakna merawat, membela, dan memuliakan.”
Uraian itu meresap perlahan ke dalam benak kami, bagai sejuk air yang jatuh setelah sekian lama tertahan di awan.
“Jauh sebelum momentum Sumpah Pemuda,” tambahnya, “bahasa Melayu telah hidup sebagai lingua franca.” Membuat sebagian kami dengan kening berkerut, bingung menangkap frasa yang baru pertama kali singgah di telinga mereka.
“Bahasa pergaulan,” terangnya dengan nada teduh. “Bahasa pasaran. Bahasa yang dituturkan oleh orang-orang di tepian dermaga, di riuh pasar, dan di geladak kapal-kapal saudagar.”
Perempuan itu berjalan tenang ke sisi jendela, melemparkan pandangan keluar seolah sedang menatap sepotong riwayat yang teramat lampau.
“Bayangkan saja,” ucapnya dengan nada rendah, “orang-orang dari pulau terpencil, suku yang berlainan, roman wajah yang tak sama berhimpun di pelabuhan gersang yang pekat oleh aroma ikan asin. Mereka tidak saling kenal. Tetapi mereka membutuhkan jembatan agar bisa bertukar barang, bertukar kabar, hingga bertukar hidup.”
Atmosfer kelas mendadak menjelma pelabuhan tua yang dipenuhi desau ombak dan sayup teriakan para saudagar.
“Meskipun sempat dipandang sebagai bahasa rendahan,” lanjutnya, “tetapi bahasa itulah yang sanggup merengkuh pemahaman banyak orang.” Membuat angan kami seketika terbawa ke sebuah tepi pelabuhan kuno yang sarat akan deburan ombak dan hiruk-pikuk perniagaan.
“Walau kala itu distigmakan sebagai bahasa kelas bawah,” sambungnya, “justru bahasa itulah yang paling lentur merajut pengertian di antara manusia. Bahasa yang sederhana acapkali memiliki napas yang lebih panjang, dibanding bahasa yang terlalu lelah bersolek demi terlihat mulia.”
Ruangan sedikit mencair oleh tawa kecil sebagian kami. Ibu Ani hanya mengulas senyum samar sebelum melanjutkan penjelasannya.
Angin siang kembali menyapu ruangan. Membawa suara daun-daun yang bergesek lamat-lamat, mirip lembaran-lembaran kitab tua yang sedang disingkap oleh sang waktu.
“Bahasa itulah yang bertiup dalam tawar-menawar niaga, dalam bisik mata-mata yang bertukar sandi, hingga saat para raja berdiplomasi di sepanjang bentangan Nusantara. Dan dari bahasa yang sempat dikecilkan itulah,” pungkas Ibu Ani lamat-lamat, “pada akhirnya berkecambah sesuatu yang sanggup mempersatukan jutaan raga. Melahirkan sesuatu yang merajut begitu banyak jiwa manusia.”
Ibu Ani kembali memandangi tulisan di papan tulis itu cukup lama. Kemudian, dengan suara yang nyaris menyerupai bisikan, ia berkata, “Kadang-kadang, sesuatu yang besar memang harus lahir dari hal-hal yang dulunya diremehkan.”
“Maksud Ibu membicarakan ini…” ujar Ibu Ani sembari menyandarkan tubuhnya perlahan pada tepian meja guru, “…Pramoedya Ananta Toer, dengan begitu banyak karya monumentalnya, dahulu bermula sebagai seorang jurutulis.”
Nada suaranya tenang, tetapi di balik keteduhan itu ada sesuatu yang terasa seperti bara kecil yang terus dirawat diam-diam di bawah tumpukan abu.
Kami memandangnya tanpa suara. Nama Pramoedya kini tak lagi terdengar seperti nama asing yang beku di rak perpustakaan, melainkan serupa seseorang yang perlahan sedang diturunkan dari langit sejarah agar sudi duduk bersama kami di ruang kelas yang sempit itu.
“Maka kalian,” lanjutnya sambil menunjuk mesin ketik tua di sudut ruangan yang selama ini lebih sering berdebu daripada disentuh, “belajarlah mengetik sampai mahir dengan sepuluh jari.”
Beberapa siswa menoleh ke arah mesin ketik itu. Besinya kusam. Tuts-tutsnya mulai pudar. Namun tiba-tiba, benda ringkih itu terasa menyimpan riwayat yang panjang, seakan-akan pernah menjadi saksi bisu bagaimana seseorang bertahan hidup hanya dengan modal kata-kata.
“Menulis,” kata Ibu Ani pelan, “bukan melulu soal kemegahan gagasan. Adakalanya ia adalah urusan ketekunan tubuh. Tentang jari-jari yang dipaksa terus bergerak meski hati sedang lelah. Tentang seseorang yang menolak berhenti mengetik, bahkan ketika hidupnya sedang runtuh sedikit demi sedikit.”
Angin bergerak masuk melalui jendela, membawa aroma rumput basah selepas hujan siang yang baru saja reda. Cahaya mendung jatuh pucat di lantai kelas, serupa warna kenangan yang mulai menua.
“Pramoedya pernah dipenjara di masa kolonial,” lanjut Ibu Ani. “Lalu di era Orde Lama, padahal ia seorang Soekarnois sejati.” Ia mengucapkan kata dipenjara dengan nada datar, namun justru karena kedataran itulah, maknanya terasa kian pekat. Seolah kata tersebut bukan sekadar catatan peristiwa, melainkan lorong panjang yang lembap, gelap, dan penuh gema suara rantai yang diseret di kepala manusia.
“Dan lebih lama lagi,” katanya perlahan, “di masa Orde Baru ia dibuang ke Buru.”
Kelas mendadak dilingkupi sunyi yang mencekam. Sebagian dari kami pernah mendengar nama Pulau Buru dari buku pelajaran sejarah. Namun dari cara Ibu Ani melisankannya, gambaran tempat itu bukan sekadar titik geografis, melainkan sebuah ujung kesunyian tempat keyakinan seseorang diuji. Apakah ia akan hancur lebur, atau justru tumbuh lebih keras dari penderitaannya sendiri.
“Ia keluar-masuk penjara,” lanjut Ibu Ani sembari mengalihkan pandangan keluar jendela kelas, “sambil terus merawat belajarnya.”
Ia berhenti cukup lama. Jeda itu mungkin sengaja dibiarkan memanjang, agar menyediakan sepetak ruang lapang di dalam kepala kami, agar kalimat yang baru saja diucapkannya tidak menguap begitu saja, melainkan jatuh perlahan dan mengendap hingga ke bagian paling dalam dari diri kami.
“Dan di dalam penjara,” katanya kemudian dengan suara yang melirih, nyaris menyatu dengan desau angin, “ia menyaksikan manusia-manusia yang bertaruh, saling berebut untuk belajar bahasa.”
Saat saya menolehkan kepala ke baris belakang, tampak wajah Hari yang semula menekur kini terangkat. Sepasang alisnya bertaut rapat, menampilkan gurat heran yang tidak mampu disembunyikannya, seolah ada logika yang patah di dalam kepalanya.
Dengan nada suara yang menyiratkan ketidakpercayaan, ia bertanya, “Di dalam penjara, Bu? Menolak kalah lewat bahasa?”
“Iya,” jawab Ibu Ani. Sepasang matanya menatap Hari dengan kehangatan yang ganjil, seraya mengulas sebaris senyum tipis yang sarat akan permakluman.
“Sebab manusia adakalanya baru benar-benar insaf, baru benar-benar meraba kedalaman fungsi bahasa, justru ketika seluruh hak dasarnya telah dirampas, dan ia kehilangan hampir segala hal yang berharga dalam hidupnya,” tuturnya.
Setelah itu, senyap kembali merekat. Tak ada satu pun dari kami yang berani menyela atau sekadar menggeser posisi duduk.
“Kalian bayangkan sejenak,” lanjutnya dengan suara yang sengaja kembali direndahkan. “Jika manusia-manusia yang kemerdekaannya dikooptasi secara paksa, dilempar ke tempat terjauh, dipisahkan dari kehangatan rumah, tercerabut dari pelukan keluarga, serta kehilangan kepastian masa depan. Namun di tengah segala kegelapan itu, mereka masih bersikeras, berteman sebatang kapur atau arang, belajar menyusun kata demi kata di atas tanah berdinding lembap.”
Ibu Ani menundukkan kepalanya sebentar, seperti memandangi jemarinya sendiri yang dilingkari sebuah cincin.
“Mungkin karena mereka tahu sebuah rahasia besar bahwa selama seseorang masih menguasai bahasanya, selama ia masih bisa mendefinisikan penderitaannya lewat kata-kata, raga boleh dikurung, tetapi jiwanya belum sepenuhnya bisa dikalahkan.”
Kalimat itu melayang lambat, menggantung lama di udara kelas yang pengap. Keheningan yang tercipta terasa begitu pekat, hingga derit baling-baling kipas angin di atas langit-langit tidak lagi terdengar sebagai bunyi mesin, melainkan serupa hela napas panjang yang sarat beban dari seseorang yang sedang sekuat tenaga menahan buncah tangis di dadanya.
“Sebelum sejarah mencatatnya sebagai begawan sastra negeri ini,” ujar Ibu Ani lagi, memecah keheningan yang mulai menyiksa, “Pramoedya juga manusia biasa yang pernah terseok dan bergulat hebat dengan kendala bahasanya sendiri. Itulah yang harus kalian ingat.”
Ia mengetuk permukaan meja guru. Ketukan jemarinya terdengar ritmis, konstan, dan dingin, seolah sedang meniru bunyi ketukan mesin tik tua di sudut kelas.
Kemudian lanjutnya, “lalu dengan sisa waktu dan ketabahan yang tidak masuk akal, ia menekuni bahasa Indonesia yang akarnya dipetik dari kesederhanaan bahasa Melayu pasar itu, hingga akhirnya ia tumbuh menjadi besar dan abadi dalam bahasa yang diakrabinya.”
Kata ditekuninya yang diucapkan Ibu Ani lamat-lamat itu mendadak bergema begitu panjang di telingaku. Kata itu menjelma seumpama peta jalan sunyi, menjadi sebuah rute purba yang mustahil dilalui jika seseorang hanya mengandalkan riuh tepuk tangan, tanpa puji-pujian dari sesama manusia, dan tanpa kepastian apakah di ujung jalan nanti ia akan berhasil memanen cahaya atau justru karam tertimbun dilupakan sejarah.
Kemudian Ibu Ani menatap kami satu per satu. “Nah,” katanya, kini dengan nada yang jauh lebih lembut, “untuk kalian yang tumbuh dengan bahasa ibu bahasa Sunda..” seraya ia tersenyum maklum, seolah memahami bebatan canggung yang selama ini mengunci lidah kami.
“…agar sanggup menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, pula secara murni dan konsisten, kalian wajib mengakrabkan diri dengan Sastra Indonesia.”
Ia menyebut kata sastra bukan sebagai nama mata pelajaran sekolah, melainkan sebagai entitas yang hidup dan bernapas.
“Sebab dengan membaca,” lanjutnya, “kita sedang menabung kosakata.” Kalimat itu menerbitkan senyum kecil di wajah kami.
“Menabung?” tanya Kak Nurma yang kembali duduk di dekat jendela.
“Iya,” jawab Ibu Ani disertai kekeh pelan. “Kosakata itu serupa bekal perjalanan, yang sedikit demi sedikit kalian kumpulkan. Kadang kita tidak sadar sedang menyimpannya di lipatan ingatan. Namun suatu hari, ketika hati kalian terlanjur penuh oleh sesuatu yang buncah untuk diucapkan, kata-kata itu akan datang sendiri, berbaris sukarela membantu kalian.”
Ibu Ani berjalan perlahan di sela-sela deretan bangku. “Jika kalian telah kaya akan kosakata, maka kelak saat ingin mengutarakan rasa dalam tulisan, kalian akan lebih mudah mengalirkan gagasan.”
Dalam penjelasannya itu, di luar, langit mulai sedikit terang. Berkas cahaya matahari selepas hujan merembes masuk melalui sela jendela, serupa air tipis kekuningan yang perlahan memenuhi ruangan.
“Terserah,” lanjutnya, “kalian mau mencurahkan gagasan itu dalam bentuk apa saja.” Ia menghentikan langkah tepat di tengah kelas. “Karena pada akhirnya, setiap manusia sebenarnya sedang berikhtiar menceritakan dirinya sendiri.”
Ruangan kembali lengang. Sebagian siswa mulai menggoreskan pena di buku catatan mereka. Sebagian lagi hanya diam memandangi permukaan meja, seakan tengah mengingat-ingat suatu rasa yang belum pernah benar-benar mereka pahami sebelumnya.
“Namun,” ujar Ibu Ani sembari melangkah kembali ke depan kelas, “pada dasarnya terdapat dua bentuk tulisan.” Ia memungut sebatang kapur baru, lalu menuliskan dua kata besar di papan tulis:
FAKTA
FIKSI
Debu kapur beterbangan kecil di udara, serupa partikel sisa pikiran yang belum selesai mewujud kalimat.
“Tulisan fakta,” katanya sambil menunjuk kata pertama, “adalah tulisan yang berpijak pada kejadian yang sebenarnya.” Dalam penjelasan dengan intonasinya yang berubah sedikit lebih serius, laksana seorang tukang yang sedang meletakkan fondasi batu sebelum membangun rumah.
“Misalnya, siswa yang mengikuti lomba karya ilmiah,” lanjutnya. “Atau nanti kalian sampai kuliah, jadi mahasiswa diploma harus menulis tugas akhir, mahasiswa S1 menulis skripsi, S2 menulis tesis, dan S3 menulis disertasi.” Ia menoleh ke arah kami. “Semua itu adalah karya yang wajib bersumber dari fakta ilmiah.”
Sebaris senyum tipis kembali terbit di bibirnya, sebelum melanjutkan, “Tetapi jangan salah…” Ia mengetuk tulisan FAKTA di papan tulis dengan ketukan yang tegas namun pelan. “Bahkan tulisan ilmiah sekalipun tetap membutuhkan bahasa yang hidup.”
Beberapa dari kami tampak heran. “Sebab narasi fakta jika tanpa kawalan bahasa yang baik,” lanjut Ibu Ani, “kadang-kadang hanya akan berakhir menjadi tumpukan data yang dingin dan mati,” sambil melemparkan pandangannya keluar jendela sekali lagi. Melihat langit yang mulai bergradasi keemasan, menyerupai halaman buku tua yang perlahan sedang ditutup oleh sang waktu.
“Dan manusia,” katanya, kini nyaris berupa bisikan, “manusia tidak pernah hidup hanya dari sebuah kebenaran.” Lalu ia terdiam sesaat.
“Manusia juga hidup dari cara bagaimana sebuah kebenaran diceritakan.”
“Dan kalau fiksi,” ujar Ibu Ani sembari menggoreskan sebaris garis panjang di papan tulis, “ia bisa berupa prosa maupun puisi.”
Kapur di tangannya bergerak lambat, meninggalkan remah serbuk putih yang beterbangan di udara kelas, serupa partikel debu waktu yang enggan benar-benar jatuh ke lantai.
Sore itu, sang surya mulai menggelincir ke barat. Semburat cahaya jingga menyusup lewat celah jendela kayu yang catnya mulai mengelupas, membuat ruang kelas kami tampak laksana halaman usang yang telah terlalu sering dibaca.
“Ada pula,” lanjutnya, “yang memilah prosa menjadi novel, cerita pendek, dan esai.” Ia menahan kalimatnya sebentar, lalu mengulas senyum kecil, tipe senyuman milik seseorang yang sadar bahwa semesta kata-kata teramat luas untuk bisa selesai dijelaskan dalam satu pertemuan.
“Namun khusus untuk esai,” sambungnya lagi seraya membetulkan letak kacamata yang agak melorot, “terdapat pembagian yang lebih spesifik, yakni esai ilmiah dan esai sastra.”
Beberapa anak mulai sibuk menunduk, menggerakkan alat tulis. Bunyi mata pena yang bergesekan dengan kertas seketika memecah sunyi, terdengar menyerupai gerimis kecil yang jatuh di atap genteng. Ibu Ani tampaknya tidak terlalu peduli apakah kami mencatat untaian kalimatnya atau tidak. Bagi perempuan itu, hal yang jauh lebih krusial adalah bagaimana kata-kata tersebut dapat menetap dan mengendap lebih lama di dalam pikiran kami.
“Tetapi semua itu,” bisiknya lirih, “hanyalah urusan kategorisasi.” Ia melafalkan kata tersebut dengan perlahan, seakan ingin memastikan agar batin kami tidak lekas terjebak ke dalam kotak-kotak definisi yang terlampau sempit.
“Sebab sesungguhnya,” lanjutnya, “menulis bukan tentang bagaimana kita sibuk memberi label pada bentuk tulisan.” Ia melangkah tenang di antara deretan bangku. Langkah kakinya bersahaja, mirip seorang pengelana yang sedang mengunjungi rumah-rumah kecil di dalam kepala murid-muridnya.
“Bukan berarti,” katanya lagi, “menulis prosa seperti novel atau roman itu sekadar pekerjaan menerka-nerka, lalu merangkai khayalan menjadi barisan paragraf.” Penjelasannya dengan kedalaman suasana di ruang kelas yang kian terasa pekat.
“Menulis fiksi,” ucap Ibu Ani sembari menatap kami satu per satu, “tetap menuntut adanya jangkar fakta kejadian.”
Kalimat itu seketika membuat beberapa pasang mata mendongak, terperangah.
“Fiksi mungkin memang bertumbuh dari imajinasi,” lanjutnya dengan nada teduh. “Namun, imajinasi manusia tidak pernah benar-benar tumbuh dari ruang yang kosong melompong.”
Ia menyentuh dadanya sendiri. “Ia bisa tumbuh dari bekas luka, dari timbunan ingatan, dari rasa kehilangan, dari serpihan percakapan yang pernah kita dengar diam-diam, hingga dari raut wajah seseorang yang pernah singgah sekelebat lalu pergi selamanya.”
Angin berembus pelan melewati ventilasi kelas, mengantarkan aroma tanah kering dan dedaunan mati dari halaman sekolah. Di kejauhan, sayup terdengar kepakan dan cericit burung-burung yang mulai kembali ke sarang, seumpama hari yang perlahan sedang menggulung dirinya sendiri menuju pelukan malam.
“Bahkan dongeng paling liar yang pernah tercipta sekalipun,” katanya lagi, “biasanya tetap menyembunyikan remah kenyataan.” Ia menampilkan senyuman samar. “Sebab manusia tidak akan pernah benar-benar sanggup menuliskan sesuatu yang sepenuhnya asing dari riwayat hidupnya sendiri.”
Ruang kelas mendadak dihantam sunyi yang pekat. Lalu pada detik itulah, sebagian dari kami mulai meraba sebuah kebenaran bahwa menulis ternyata bukan sekadar urusan keterampilan merangkai kata, melainkan cara seorang manusia mengolah sisa hidupnya agar tidak membusuk diam-diam di dalam dada.
“Namun, yang menjadi persoalan besar untuk kalian sekarang adalah…” Suara Ibu Ani mendadak merendah, bergetar tipis. Dengan intonasi yang bukan lagi milik seorang guru yang sedang memaparkan materi kurikulum sekolah. Ia lebih menyerupai keluhan dari seorang ibu yang sedang membicarakan kenyataan yang diam-diam menggores hatinya.
“Ibu selalu meminta kalian untuk banyak membaca,” katanya sembari mengarahkan pandangan ke sebuah rak buku kecil di sudut kelas yang nyaris kosong dan berdebu. “Meminta kalian melahap jenis tulisan apa pun. Memerintahkan kalian membuka buku apa saja.”
Lalu menjeda kalimatnya. “Tetapi, di mana bukunya?”
Sunyi mengunci dan menguasai ruangan. Sebab tak ada yang sanggup melontarkan jawaban. Kalimat pendek itu jatuh begitu saja di tengah kelas, terasa berat dan dingin seumpama sebongkah batu yang dilemparkan ke dalam sumur tua yang kering.
“Bagaimana kita bisa membaca,” lanjutnya nyaris tak terdengar, “jika selembar koran pun tidak pernah sampai ke sekolah ini?”
Atmosfer ruangan seketika berubah muram dan mencekam. Kami saling melempar tatap canggung selama beberapa jenak, sebelum akhirnya kembali menekurkan kepala menatap permukaan meja. Sebab kami tahu, apa yang diucapkannya adalah sebuah kebenaran yang telanjang.
Perpustakaan sekolah kami lebih karib dengan rak-rak kosong ketimbang jajaran buku. Koran hanyalah kemewahan langka yang sesekali hadir jika ada guru yang berbaik hati membawanya dari rumah. Bahkan, sebagian besar dari kami jauh lebih akrab dengan lembar buku tulis yang dipenuhi coretan, ketimbang lembaran karya sastra.
“Kalian suka membaca koran?” tanya Ibu Ani, memecah kesunyian secara tiba-tiba. Namun kembali tak ada jawaban yang mengudara.
Ia tertawa kecil yang bunyinya terdengar begitu tipis dan getir, laksana selembar kertas lapuk yang hampir robek.
“Eh.. maksud Ibu,” katanya sembari menghela napas panjang, “apakah kalian pernah, walau hanya sekali, melihat dan membaca koran?”
Beberapa anak tersenyum kikuk, menyembunyikan rasa jengah. Yang lain memilih bungkam. Pertanyaan bersahaja itu mendadak menjelma serupa cermin besar yang diletakkan tepat di hadapan wajah kami. Memperlihatkan dengan gamblang segala keterbatasan hidup yang selama ini kami jalani dengan lapang dada seolah-olah semuanya baik-baik saja.
Di luar sana, kelabu langit kian meredup. Berkas cahaya matahari terakhir menggantung di pucuk-pucuk pohon, tampak seperti sisa-sisa harapan yang enggan benar-benar padam.
Terdengar suara derit kursi yang bergeser pelan ketika salah seorang teman memindahkan posisi duduknya. Terdengar Hari berkata, “Kalau buku saja tidak ada,” bisiknya yang teramat lirih ke arah Sudrajat, teman sebangkunya, “lalu kita harus belajar dari mana?”
Rupanya, bisikan halus itu tidak luput dari pendengaran Ibu Ani. Ia melempar senyum tipis, namun kali ini guratan di wajahnya memancarkan rasa letih yang teramat sangat.
“Belajar itu tidak perlu selalu menunggu hingga seluruh fasilitas lengkap,” tuturnya lembut. “Sebab dalam banyak riwayat, manusia justru belajar paling keras ketika hidupnya sedang dikepung oleh kekurangan.”
Ia menatap dinding kelas yang mulai kusam. Guratan catnya mengelupas di sana-sini, mirip raga tua yang perlahan kehilangan daya untuk bertahan dari gempuran cuaca. Namun entah mengapa, dari sudut pandang sepasang mata Ibu Ani, bangunan sekolah yang serba nestapa ini justru tampak seumpama sebuah suaka yang sedang diam-diam merawat benih kemungkinan besar.
Dan hal terakhir yang paling tertanam di dalam ingatan dari seluruh rangkaian petuah itu, baik saat ia berdiri di depan kelas mengajar Bahasa Indonesia, maupun ketika ia sengaja menjenguk kami yang sedang berkumpul di ruang kegiatan siswa yang sempit dan pengap, adalah saat sebaris kalimat yang dilafalkannya nyaris menyerupai sebuah seruan agung kepada kehidupan itu sendiri:
“Setidaknya, bacalah diri kalian sendiri!”
Suaranya menggema, memantul di dinding-dinding ruang kecil itu. Tidak diucapkan dengan teriakan keras, namun dayanya sanggup membuat sesuatu yang lama tertidur di dalam dadaku bergerak pelan.
“Niscaya, kalian akan menemukan bahan dasar sebagai adonan utama agar mampu menulis.” Jemarinya mengetuk permukaan kayu meja dengan ketukan tunggal yang mantap. “Sebab manusia sering kali terlalu sibuk membaca dunia, namun alpa membaca dirinya sendiri.”
Kelas kembali dilingkupi keheningan yang takzim.
Aku menyaksikan beberapa teman mulai menundukkan kepala dalam-dalam. Entah karena mereka sedang tenggelam dalam kontemplasi, atau justru sedang sekuat tenaga menyembunyikan gulungan emosi yang tiba-tiba mendesak ingin keluar dari dasar hatinya.
“Kalian bisa mulai menulis tentang keterbatasan sekolah kita ini,” sambung Ibu Ani lagi, memberikan arah. “Tulis tentang meja-meja belajar kita yang mulai lapuk dimakan usia. Tentang buku-buku paket yang tidak pernah kunjung datang. Tentang tetesan air hujan yang bocor dari sela-sela atap kelas.”
Ia mengulas sebaris senyum tipis. “Atau, tulis saja tentang bagaimana perasaan kalian sendiri, saat merasa teramat kecil dan tidak berarti di hadapan kehidupan.”
Desir angin kembali menyusup masuk, membuat lembar-lembar buku catatan kami bergerak pelan, seakan-akan kertas-kertas kosong itu sedang membuka dirinya sendiri untuk menyambut guratan pena.
“Namun satu hal yang pasti,” katanya lagi. Kini dengan intonasi yang jauh lebih tegas dan bertenaga, “kita menolak untuk menyerah pada keadaan.”
Kalimat itu terdengar begitu sederhana di telinga. Namun, di dalam ruang sekolah yang serba kekurangan dan terisolasi itu, untaian katanya menjelma laksana nyala lilin kecil di tengah malam yang pekat. Memang ia tidak cukup benderang untuk mengubah dunia dalam satu kejutan, tetapi teramat cukup untuk menjaga agar langkah kaki kami tetap berjalan tanpa pernah kehilangan arah.
Setelah hari-hari penuh pencerahan itu berlalu, ruang kecil kegiatan kepenulisan perlahan-lahan beralih rupa menjadi sesuatu yang jauh lebih sakral daripada sekadar tempat berkumpul selepas jam pelajaran usai. Bilik pengap itu bertransformasi laksana ruang persinggahan bagi anak-anak yang diam-diam tengah berikhtiar mencari bentuk kedirian mereka sendiri.
Di tempat itulah kami menempa diri, belajar memahami bahwa menulis bukan melulu perkara bakat yang diturunkan dari langit, melainkan sebuah kesediaan batin untuk duduk berlama-lama mengarungi kesunyian. Sebuah kerelaan untuk mendengarkan luka-luka dalam hidup, yang selama ini dibiarkan menganga tanpa pernah diberi nama.
Dan dari keteduhan Ibu Ani, kami mulai mengerti sebuah hakikat bahwa kata-kata adakalanya mampu menjelma menjadi rumah sementara bagi jiwa-jiwa yang tidak memiliki tempat lain untuk pulang.
Sesudah kelas kepenulisan itu bubar, sering aku memilih untuk tetap menetap cukup lama di ruangan tersebut. Aku hanya duduk termangu, menatap lembar halaman kosong di buku tulis sembari mendengarkan detak waktu bersama senja yang turun perlahan di balik tirai jendela.
Kala bersama teman-teman, ada di antara kami yang pura-pura sibuk menata isi tas agar tidak tertangkap basah sedang melamun. Ada pula yang jemarinya diam-diam mencoba menggoreskan satu-dua patah kalimat pada kertas, sebelum akhirnya lekas-lekas mencoretnya kembali karena dirundung cemas. Namun, justru dari rahim keraguan-keraguan kecil itulah sesungguhnya segala sesuatu bermula.
Sebab menulis, seperti yang sempat dipesankan oleh Ibu Ani, bukan perihal siapa yang paling bergegas melahirkan mahakarya besar, melainkan tentang siapa yang paling sanggup bertahan mendengarkan riwayat hidupnya sendiri.
Dan sekolah kami, dengan segala bentuk keterbatasannya, lambat laun bertransformasi menjadi pasokan bahan baku bagi lahirnya tulisan-tulisan di masing kelas. Kami meriwayatkan tentang permukaan tembok yang kusam dan berjamur, rembesan air dari atap yang bocor setiap kali hujan tengah hari turun terlampau deras, atau rak perpustakaan yang lebih karib merawat ruang kosong ketimbang jajaran buku paket.
Bahkan bentangan jalan becek menuju gerbang sekolah saat musim penghujan tiba pun mendadak terasa memiliki nyawa cerita yang magis. Kami mulai diinsafkan oleh keadaan, bahwa sesuatu tidak pernah wajib memiliki rupa yang megah agar layak diabadikan ke dalam tulisan. Sebab denyut kehidupan yang paling jujur justru bertumbuh dan berkembang dari sudut-sudut sunyi yang nyaris tidak pernah dipedulikan oleh siapa pun.
Barangkali, nilai itulah yang sejatinya tengah diupayakan Ibu Ani untuk ditanam ke dalam kesadaran kami sejak awal, bahwa membaca dan menulis bukan semata-mata rute formal menuju koridor kepandaian, melainkan sebuah strategi agar manusia tidak kehilangan arah dan dirinya sendiri. Aktivitas membaca menuntun seseorang untuk mafhum bahwa bentangan dunia ini jauh lebih luas ketimbang sekat penderitaannya sendiri. Sementara aktivitas menulis menumbuhkan keyakinan di dalam dada, membuat seseorang percaya bahwa bekas luka, kecemasan, serta dinding keterbatasan pun dapat dikonversi menjadi sesuatu yang tetap bernapas hidup, bahkan setelah sang waktu melesat pergi teramat jauh.
Kini, setiap kali ingatan ditarik kembali menziarahi masa-masa itu, hal yang paling kokoh menetap di kepala bukanlah deretan teori mengenai dikotomi fakta dan fiksi, bukan pula hafalan nama-nama angkatan sastra yang dahulu digoreskan kapur Ibu Ani di papan tulis. Perkara yang paling tinggal dan abadi justru adalah gema suara lirihnya yang bersahaja, yang konstan mengetuk batin hingga bertahun-tahun kemudian:
“Setidaknya, bacalah diri kalian sendiri.”
Dan mungkin, memang dari titik itulah seluruh tulisan di muka bumi ini bermula, yang dari keberanian purba seorang manusia untuk duduk sendirian menghadapi dirinya sendiri, lalu dengan perlahan mengubah kesunyian menjadi untaian kata yang mengguncang dunia, untuk setidaknya, dunia batinnya sendiri. (Bersambung)