Sore datang sebagai sebuah jeda yang purba, sebuah batas gaib di mana waktu seperti sedang menahan napasnya. Cahaya matahari turun miring, merekatkan bayangan kuning keemasan pada dinding-dinding kelas. Guratan semen yang telanjang itu tampak menyerupai selembar kain kafan tua yang membungkus sisa-sisa hari yang perlahan mati.
Sayup-sayup di balik pucuk pohon randu yang meremang, kepak sayap burung-burung yang kembali ke sarang terdengar seperti elegi tentang hari yang enggan. Serupa nyanyian lirih tentang kepasrahan pada sebuah batas yang sejatinya tak pernah benar-benar mengakhiri apa pun. Di bawah langit itu, ruang-ruang kelas berganti wajah. Kegiatannya tak pernah mati meski lonceng pulang telah lama berdentang. Ada keriuhan baru, yang baru seumur jagung, yang justru baru saja memulakan dirinya.
Ketika bel pulang akhirnya berdentang membentur kesunyian, halaman sekolah perlahan-lahan melarung sepi dan nyaris kehilangan nyawanya. Debu-debu tanah beterbangan tipis, menari-nari seperti arwah yang dibangkitkan oleh entakan sepatu-sepatu usang yang kami kenakan. Sepatu-sepatu itu biasanya berlarian dengan tergesa, memburu gerbang luar kala deru mesin bus tua terdengar mengerang dari balik tikungan. Bagi kami, kendaraan itu adalah sebuah mukjizat langka yang membelah keterasingan. Kami bertaruh dengan waktu, sebab bus itu hanya lewat setiap satu atau dua jam sekali, atau bahkan lebih lama lagi bus merayap membelah kesunyian jalanan tanah kampung kami.
Di tengah keriuhan yang bergegas itu, aku sering memilih melambatkan langkah, membiarkan diriku tertinggal dan tenggelam dalam keheningan yang mulai merayap naik dari lantai-lantai semen.
Selalu ada magnet tak kasat mata, sebuah tarikan gaib yang membuat sepasang kakiku selalu ingin kembali menapaki lorong-lorong kelas yang mulai sepi itu. Sesuatu yang terasa begitu pekat, sejenis rindu yang terlalu dini yang teramat sulit dijelaskan oleh logika anak-anak pada usia semudaku waktu itu.
Mungkin itu adalah awal rasa penasaran yang keras kepala, atau mungkin sebuah keinginan diam-diam yang menyelinap di antara lipatan baju seragam untuk mengenal dunia yang lebih besar. Dunia yang membentang jauh di luar batas kampung terpencil dan jalanan tanah merah yang setiap hari kami lewati dengan telapak kaki penuh daki. Lorong sepi itu seolah menjelma menjadi jembatan gaib yang menghubungkan masa kecilku yang sempit dengan cakrawala yang belum teraba.
Kadang, ketika teman-teman sebayaku yang lain sedang sibuk membakar semangat, membicarakan jalannya pertandingan sepak bola atau menyusun rencana bermain di lekuk sungai yang berarus deras, aku justru terjebak memikirkan suara-suara sunyi yang tertinggal dan memilih menetap di sekolah. Aku merindukan bunyi derit kapur yang bergesekan dengan papan tulis hitam seperti suara jemari yang sedang mengais dinding nasib, merindukan halaman buku pelajaran yang dibalik dengan perlahan, serta gema langkah kaki guru-guru kami yang berjalan menyusuri koridor ruang kelas. Langkah kaki mereka terdengar berat, menyeret tubuh-tubuh dengan wajah yang mungkin teramat lelah oleh himpitan hidup, tetapi anehnya, di sepasang mata mereka yang redup itu, mereka selalu melahirkan kembali harapan yang tak pernah habis dikikis oleh keadaan apapun, termasuk fasilitas sekolah yang serba terbatas untuk peraga pendidikan.
Sekolah kami memang bukanlah sebuah sekolah yang besar dengan pagar besi yang tinggi angkuh. Kami tidak memiliki gedung megah yang mampu menantang langit. Tidak pula mempunyai laboratorium dengan botol-botol kaca yang lengkap dan berkilau. Bahkan, beberapa ruang kelas kami masih menyimpan bau semen basah dan aroma kayu yang lembap, bau khas yang pekat dan menusuk hidung tatkala hujan turun berhari-hari membasahi atap yang mulai bocor dan tanah pembatas yang longsor
Di tempat yang teramat sederhana itulah, justru aku mulai meraba sebuah kebenaran purba bahwa masa depan yang gemilang tidak selalu musti lahir dan tumbuh di tempat-tempat yang lengkap dan sempurna. Kadang-kadang, masa depan itu justru memilih tumbuh subur di dalam ruang-ruang sempit yang pengap, di serba fasilitas terbatas, tetapi mampu dihidupi oleh jiwa-jiwa keras kepala yang menolak takluk melawan keadaan yang menghimpit dan menjepit.
Dan di sekolah kami itu, salah satu dari sekian banyak manusia keras kepala yang menebarkan nyala api di dalam dada adalah nyala api yang datang dari getar suara Pak Samsudin. Dialah seorang lelaki yang jalannya pelan, yang tatapan matanya mampu menembus dinding tembok yang tebal, yang segala perasaannya mungkin pernah rapuh oleh segala serba kekurangan dari keadaan sekolah kami.
Tetapi beliau bukan tipe kepala sekolah yang hanya duduk di ruangannya sambil menandatangani berkas. Ia lebih sering terlihat berjalan ke sana kemari. Sejak beberapa bulan datang ke sekolah kami, mengganti kepala sekolah yang dipindahkan, terlihat dalam kesibukannya kadang ia memeriksa gedung-gedung ruang kelas, kadang memasuki ruang-ruang kelas untuk sebatas memperhatikan dari belakang, hingga kemudian ikut mengajar untuk pelajaran Fisika, mengganti guru yang berhalangan. Selebihnya sering ia berdiri lama memandangi sebuah bangunan sekolah. Seperti seseorang yang sedang menghitung segala kemungkinan yang berkecamuk di dalam kepalanya.
Aku sering merasa bahwa beliau memandang sekolah kami bukan sebagaimana adanya, melainkan sebagaimana yang ingin diwujudkan. Mungkin karena itulah, perlahan-lahan sekolah kecil kami itu mulai berubah. Namun bukan perubahan besar yang langsung terlihat mencolok, melainkan perubahan kecil yang bergerak diam-diam seperti akar pohon di dalam tanah. Dan salah satu perubahan itu adalah ketika sekolah kami kedatangan sebuah benda yang suaranya kemudian tinggal sangat lama di dalam ingatanku.
Tik.. tik.. tik.. Bunyi logam kecil yang menghentak ritmis itu berpadu dalam kesederhanaan. Namun, dari jalinan huruf demi huruf yang tercetak di atas kertas putih itulah, sebuah jalan baru diam-diam terbuka bagi anak kampung seperti kami. Untuk pertama kalinya, kami diperkenalkan pada dunia huruf cetak, dunia tulisan, dunia gagasan, dan mungkin juga—dunia impian.
Perkakas teknologi itu menjadi pintu gerbang menuju pembakuan seni tulis-menulis. Tulisan tangan yang semula unik mengikuti lekuk sensorik-motorik jemari, atau kalau boleh jujur, kerap mirip ceker ayam yang kemudian dituntut bersolek. Agar mudah dibaca khalayak dan maksud pikiran penulisnya tersampaikan tanpa keraguan, konon tulisan itu harus digubah ulang di atas papan-papan huruf yang ditekan melalui mesin tik, atau biasa kami menyebutnya: mesin ketik.
Menginjak tahun ajaran baru itu, seberkas cahaya harapan perlahan mulai tumbuh. Sekolah kami yang biasanya lengang, kini bersiap menyambut babak baru. Mereka datang serentak meramaikan suasana, lalu impian pun pelan-pelan dirangkai fondasinya, seperti matahari yang malu-malu menyingkap kabut di lereng bukit belakang sekolah, setelah semalaman hujan menggigilkan daun-daun.
Di tengah geliat baru itulah, sesosok figur hadir membawa perubahan. Setelah menyalakan obor harapan itu, dan meski tidak datang dengan bunyi gemuruh, Pak Samsudin hadir diam-diam. Kehadirannya seolah memeriahkan langkah kaki para guru yang satu per satu memasuki halaman sekolah kami. Sebuah sekolah yang masih sederhana, masih berbau semen basah, tanah merah, dan kayu-kayu kusennya mulai melapuk dimakan cuaca.
Dari kesederhanaan itulah kami pun mulai belajar mengenali arti sebuah kedatangan. Bahwa sesuatu yang kecil pun dapat menjelma cahaya besar bagi anak-anak kampung yang hidupnya terlalu lama akrab dengan kekurangan. Hari itu, sekolah kami benar-benar berubah rupa. Ia seperti rumah yang lama kesepian, lalu tiba-tiba kedatangan banyak tamu.
Ada kegembiraan yang sulit dijelaskan. Kegembiraan yang sederhana itu, tetapi menghangatkan dada seperti teh panas di pagi yang dingin. Kami memandangi para guru baru itu dengan rasa ingin tahu yang nyaris kekanak-kanakan. Sebab bagi kami, guru bukan sekadar orang yang mengajar rumus atau membaca buku pelajaran. Mereka adalah jendela kecil yang membuka segala kemungkinan baru dalam hidup kami yang sempit.
Sebelumnya guru kami hanya ada Ibu Lela, guru Matematika yang wajahnya selalu tampak tegas seperti garis-garis lurus di papan hitam, dan Pak Arifin, guru Fisika dari Tasik kota yang suaranya pelan tetapi selalu terdengar jelas sampai ke bangku paling belakang. Keduanya seperti dua tiang tua yang menjaga sekolah kami tetap berdiri meski diterpa kekurangan dari segala arah. Lalu datanglah guru-guru baru itu, seperti hujan yang akhirnya turun setelah musim panjang yang kering.
Ibu Dian adalah guru Biologi kami dari Cikoneng, Ciamis. Beliau memiliki cara bicara yang lembut—seperti orang yang takut melukai udara. Ketika ia mengajar tentang daun, akar, dan batang tumbuhan, suaranya seolah sedang mengajak kami mendengar napas alam yang selama ini luput dari perhatian.
Sementara Ibu Iis, guru Bahasa Inggris dari Indihiang, Tasikmalaya Kota, datang dengan wajah cantik dan senyum yang membuat banyak murid laki-laki mendadak rajin membuka kamus. Bahkan, beberapa teman mulai menyisir rambut mereka lebih rapi, hanya demi bisa menjawab pertanyaannya di depan kelas.
“Good morning, students,” sapanya suatu pagi. Dan kelas kami yang biasanya riuh meranggas, mendadak sunyi seperti masjid selepas azan subuh.
Lalu ada Ibu Ani, guru Bahasa Indonesia dari Ciawi—kampung halaman penyanyi Itje Trisnawati. Beliau mengajar dengan suara yang hangat, serupa ibu yang sedang mendongeng di beranda rumah. Dari beliaulah aku mulai memahami bahwa bahasa bukan sekadar deretan kata, melainkan palung tempat manusia menyimpan luka, cinta, dan kenangan.
Berbeda lagi dengan Pak Hamdan dari Soreang, Bandung. Guru PPKn kami ini memiliki suara berat dan langkah kaki yang tegap. Ketika berbicara tentang negara, aturan, dan tanggung jawab sebagai warga bangsa, wajahnya memancarkan keyakinan besar terhadap masa depan negeri ini—meski kenyataan seringkali tak seramah cita-cita.
Dan yang paling jauh datangnya adalah Ibu Lindasari dari Lampung, guru Sejarah kami. Cara beliau mengisahkan masa lalu membuat sejarah tak lagi terdengar seperti hafalan angka dan tahun yang melelahkan. Di tangannya, sejarah menjelma jalinan kisah tentang manusia-manusia yang pernah menangis, mencintai, berkhianat, lalu hilang ditelan waktu. Kadang, saat beliau mengajar, aku merasa masa lalu sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya bersembunyi di kepala orang-orang yang masih sudi mengingatnya.
Maka, genaplah awal yang baru itu dengan kehadiran kepala sekolah kami, Pak Samsudin. Beliau tinggal di Tasikmalaya Kota, dan setiap hari harus menantang jarak yang jauh demi menghidupkan sekolah kecil kami yang berada di sebuah titik sunyi di daerah terpencil yang waktu itu belum genap di peta ingatan orang-orang.
Di balik wajah teduhnya, mata Pak Samsudin menyimpan kelelahan yang samar, layaknya pria yang memikul beban berat di pundaknya sendirian. Kerasnya perjuangan itu baru kami pahami saat sekolah melakukan kunjungan studi banding ke SMPN Cikalong. Di hadapan kami, beliau berdiri dan melontarkan sebaris kalimat yang menggetarkan, sebuah pengakuan sekaligus lecutan semangat.
“Kami, dewan guru, sedang menghadapi medan cadas,” ucapnya lirih namun menghunjam. “Sebagai sekolah baru, kita harus berani memulai segalanya dari nol.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi entah mengapa, setelah aku dewasa, aku baru memahami bahwa di balik kata “medan cadas” ada banyak hal yang tidak beliau ceritakan kepada kami. Sebab keterbatasan fasilitas, kekurangan tenaga pengajar, perjalanan jauh, atau gaji yang mungkin tidak seberapa, dan harapan yang seringkali lebih besar daripada kemampuan keadaan.
Dalam pidato itu, beliau sempat tertawa kecil, lalu menoleh kepada Kepala Sekolah SMPN Cikalong yang rupanya adalah teman lamanya. “Medan yang cadas,” lanjutnya lagi, “tetapi medan ini pula yang membawa saya pada reuni dengan Bapak.”
Kami semua ikut tertawa kecil, meski sebagian besar dari kami belum benar-benar memahami arti perjuangan yang bersembunyi di balik candaan orang dewasa. Sebab seringkali, orang-orang yang memikul lelah paling berat justru memilih bersenda gurau hanya agar tidak terlihat rapuh di depan banyak mata.
Namun, meski sekolah kami akhirnya menerima tambahan guru baru, kekurangan tenaga pengajar tetap saja belum sepenuhnya teratasi. Di sinilah Pak Samsudin turun tangan sendiri. Ia bukan sekadar kepala sekolah yang duduk di balik meja. Ia menjelma guru Fisika bagi kelas dua dan kelas tiga.
Aku masih ingat betul bagaimana beliau melangkah masuk ke kelas, merengkuh buku teks dan kapur tulis sekaligus, dan tampak butiran-butiran keringat di dahinya siap meluncur mengenai pakaiannya. Mungkin karena beliau baru saja berjibaku mengurus administrasi sekolah yang rumit. Tetapi begitu pelajaran dimulai, suaranya selalu kembali tenang.
“Anak-anak,” katanya di suatu siang yang terik, “listrik itu tidak pernah kasat mata, tetapi manfaatnya bisa kita rasakan. Ilmu pun demikian.” Kalimat itu sederhana, tetapi menancap lama di kepalaku, serupa paku kecil yang diketuk pelan-pelan ke dalam kayu tua. Beliau mengajar tentang ohm, watt, dan ampere. Tentang arus listrik yang mengalir melalui kabel-kabel. Tetapi diam-diam beliau sebenarnya sedang mengajari kami tentang kehidupan. Bahwa ada tenaga yang bekerja tanpa terlihat, ada kekuatan yang tidak selalu bersuara keras.
Namun, bukan hanya itu yang membuat beliau berbeda—setidaknya di mataku. Di siang itu, beberapa menit sebelum jam pelajaran usai, beliau berdiri di depan kelas sembari menyandarkan tubuhnya ke meja guru. Dengan tenang dan penuh keyakinan, beliau sempat berkata, “Belajar menulis itu penting. Kalau kalian bisa menulis, kalian bisa meninggalkan jejak.”
Mendengar itu, suasana kelas mendadak hening. Sebagian besar temanku mungkin belum mengerti sepenuhnya maksud ucapan itu. Kami masih terlalu muda untuk memahami sebuah kebenaran purba bahwa manusia sebenarnya takut dilupakan. Di tengah keheningan ruang kelas, beliau mulai memperkenalkan kepada kami sebuah kosakata nama benda yang saat itu terdengar asing sekaligus menakjubkan bagi kami.
“Sepulang sekolah, kalian bisa belajar mengetik,” lanjutnya lagi. “Kalau orang TU belum pulang, tunggu saja. Kalau sekiranya terlalu lama, pulang dulu saja tidak apa-apa, nanti kembali lagi ke sini.”
Beliau jeda sejenak, memandangi wajah kami satu per satu sebelum menyambung, “Kalau Bapak sedang tidak ada di tempat, minta saja kuncinya pada Pak Aang.”
Aku masih mengingat suara itu. Suara yang sederhana, tetapi membuka pintu kecil dalam hidupku. Sebab kadang masa depan tidak datang melalui peristiwa besar. Ia bisa datang dari kalimat pendek yang pernah diucapkan oleh seseorang dengan tulus.
Hari itulah pertama kali aku mengenal benda bernama mesin tik. Benda itu terletak di ruang tata usaha, dan diam di atas meja kayu seperti hewan besi yang sedang tidur. Warnanya kusam. Tombol-tombolnya bulat. Dan ketika ditekan, ia mengeluarkan bunyi yang aneh sekaligus memikat:
tik.. tik.. tik.. Suara itu terdengar kecil. Tetapi bagiku seperti bunyi pintu yang perlahan dibuka menuju dunia lain.
Aku menatap mesin itu lama sekali.
Entah mengapa, di usia yang masih begitu muda, aku merasa ada sesuatu yang sedang memanggilku dari balik bunyi-bunyi logam itu. Seakan-akan setiap hentakan tombolnya sedang berkata pelan, “Tulislah sesuatu.. sebelum hidupmu lewat begitu saja.”
Lambat laun aku menyadari, mesin tik itu sesungguhnya bukan sekadar perkakas besi hasil teknologi. Ia adalah pintu kecil menuju pembakuan dunia; sebuah gerbang sunyi yang perlahan mengubah cara manusia meninggalkan jejak pikirannya.
Tulisan tangan yang semula bergerak bebas mengikuti denyut saraf jemari. Kadang dengan gemetar, kadang tergesa, atau miring serupa batang padi diterpa angin, kini menjelma huruf-huruf yang seragam, rapi, dan patuh. Tulisan yang sering kali diejek mirip “ceker ayam” itu, perlahan disisihkan oleh ketukan logam yang dingin namun tegas. Seolah-olah dunia mulai mendikte bahwa pikiran manusia harus tampil berseragam agar layak diterima oleh banyak mata.
Meski diam-diam aku merasa ada sesuatu yang ikut luruh dari perubahan itu. Sebab tulisan tangan, seburuk apa pun bentuknya, selalu menyimpan denyut tubuh penulisnya. Ada emosi yang menetes pada lekuk huruf. Ada amarah yang tertinggal pada tekanan tinta. Ada pula kesedihan yang menggelayut pada garis yang melemah di ujung kalimat. Tulisan tangan adalah representasi wajah manusia yang tidak pernah sempurna, tetapi ia hidup. Sebaliknya, mesin tik membuat semuanya tampak sama rata. Sama tegas. Sama dingin. Sama pasti.
Tik.. tik.. tik.. Suara itu seperti palu kecil yang mengetuk pelan masa depan kami.
Namun pada usia kami waktu itu, kami belum memikirkan hal-hal sejauh itu. Kami hanya merasa sedang berkenalan dengan sesuatu yang ajaib. Sesuatu yang membuat kami merasa lebih dekat dengan dunia luar yang selama ini hanya kami dengar dari radio, buku paket sekolah, atau cerita orang-orang kota.
Sejak itulah hampir setiap hari kami belajar mengetik. Sesudah pulang sekolah dan meletakkan tas di rumah, aku kembali lagi ke sekolah bersama Dema, Lusia, Nina, dan beberapa teman lain. Kami datang kadang di saat langit sudah mulai redup ketika kami berjalan kembali melewati jalanan kampung yang berdebu. Kadang seseorang bertanya dengan heran, “Sekolah lagi? Tadi bukannya baru pulang.”
Aku hanya menjawab pendek sambil buru-buru memakai sandal lagi. “Mau belajar mengetik, Nek.” Nenekku biasanya mengangguk pelan. Meski mungkin beliau sendiri belum benar-benar mengerti apa pentingnya mesin tik bagi anak kampung seperti kami. Tetapi setiap orang tua selalu punya cara mencintai mimpi anak-cucunya, bahkan ketika ia sendiri belum memahami bentuk mimpi itu.
Di sekolah, kegiatan itu disebut ekstrakurikuler penulisan. Nama yang terdengar sederhana, tetapi bagi kami terasa seperti memasuki dunia baru. Bila sekolah lain mungkin berbangga dengan majalah dinding, pers siswa, Pramuka, olahraga, atau Paskibraka, sekolah kami punya satu kegiatan tambahan yang aneh sekaligus membanggakan: belajar mengetik.
Entah apakah sekolah lain juga memilikinya. Tetapi bagi kami, ruang tata usaha yang dipenuhi bunyi mesin tik itu terasa lebih hidup daripada lapangan upacara. Di situlah aku mulai mengenal mesin tik secara dekat, seperti seseorang yang perlahan mengenali watak sahabat barunya. Aku mempelajari bagian-bagian tubuhnya. Mulai tombol-tombol huruf yang keras, tuas penggulung kertas, pita tinta hitam, dan suara hentakan batang huruf yang memukul permukaan kertas seperti hujan kecil dari besi.
Aku masih ingat betul bagaimana jemariku pertama kali menyentuh tombol-tombol besi itu dengan gugup.
Q.. W.. E.. R.. T.. Y.. Huruf-huruf di baris paling atas itu terasa seperti sandi rahasia dari dunia modern yang belum sepenuhnya mampu kami pahami. Lalu baris kedua: A.. S.. D.. F.. Dan seterusnya.
Kami menekan tombol-tombol itu dengan canggung. Kadang terlalu keras, kadang terlalu takut. Sesekali mesin tik itu macet karena dua batang huruf logamnya bertabrakan dan mengunci di tengah-tengah. Kami tertawa kecil melihatnya.
“Pelan-pelan atuh,” kata Dema sambil terkekeh. “Mesinna ge bisa lieur—mesinnya juga bisa pusing.”
Lusia yang duduk di sebelahku ikut menyambar dengan tawa, “Kayak maneh mun disuruh mikir Matematika.”
Ruang tata usaha mendadak riuh oleh suara tawa kami yang masih lugu. Dan di sela-sela tawa itu, mesin tik terus berbunyi seperti detak jam tua.
Tik.. tik.. tik.. Kadang, aku merasa suara itu seperti suara waktu yang sedang bekerja diam-diam, yang menempa dan membentuk kami menjadi sesuatu di masa depan. Kami belajar memasukkan kertas secara lurus agar tidak miring ketika tuas digulung. Belajar beradaptasi dengan huruf kecil dan kapital. Belajar mengatur jarak paragraf agar rapat atau renggang. Semua terasa rumit sekaligus menyenangkan, serupa anak kecil yang baru belajar mengikat tali sepatunya sendiri.
Dan seperti kebanyakan anak seusia kami, kami mengetik apa saja sesuka hati. Mulai menyalin judul kenang-kenangan, baris-baris kata mutiara, nama sendiri yang diulang berkali-kali, atau puisi-puisi pendek yang disalin dari buku paket Bahasa Indonesia.
Saat aku hanya mengetik satu kalimat tunggal, lalu menatapnya lama sekali di atas hamparan kertas putih, rasanya seperti baru saja berhasil memindahkan isi kepala ke dunia nyata. Sebuah perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah pikiran yang sebelumnya hanya berputar sunyi di dalam tempurung kepala, akhirnya menemukan tubuhnya sendiri.
Bertahun-tahun kemudian, ketika aku mulai membaca lebih banyak buku, aku menemukan tulisan seorang filsuf yang mengeluhkan kehadiran mesin tik. Katanya, mesin tik perlahan mengikis keindahan tulisan tangan manusia. Bahkan, ada yang menyebut alat itu membuat gagasan menjadi kaku, sebab kehilangan aliran emosinya yang alami.
Aku termenung lama meresapi pendapat itu, lalu sebuah tanya lahir di benakku. Jika mesin tik saja sudah dianggap membunuh keintiman sebuah tulisan, lantas bagaimana dengan dunia setelahnya? Bagaimana dunia komputer, dunia layar sentuh, dunia telepon pintar yang membuat manusia menekan papan huruf-huruf hanya dengan ujung jempol dan dilakukan sambil berjalan, sambil makan, sambil setengah hidup, dan setengah lupa pada dirinya sendiri.
Kini, tulisan tangan semakin jarang dipakai. Buku-buku diganti lembaran fotokopi. Guru-guru pun lebih sering membacakan salindia daripada bercerita. Dan anak-anak zaman sekarang mungkin akan tumbuh besar tanpa pernah mengenal bau khas pita tinta mesin tik yang menempel di ujung jemari.
Tetapi, itu adalah sudut pandang sang filsuf. Bagi Pak Samsudin, kepala sekolah kami, perkara tulisan tangan dan mesin tik bukanlah ajang pertarungan tentang siapa yang menang atau kalah. Beliau memandangnya dengan cara yang jauh lebih bersahaja, namun teramat penting tentang bagaimana anak-anak kampung seperti kami bisa memiliki bekal untuk menghadapi masa depan.
Sebab beliau tahu, dunia memang harus terus bergerak. Budaya cetak datang menggantikan budaya lisan. Lalu, budaya digital datang menggilas budaya cetak. Mesin tik hanyalah salah satu jembatan kecil di tengah arus perubahan besar itu. Bagi beliau, kemampuan mengetik bukan semata-mata soal keterampilan teknis. Ia adalah jalan lapang agar seseorang mampu menyampaikan isi pikirannya dengan benderang kepada dunia.
“Orang bisa saja pandai,” kata beliau suatu sore, sembari berdiri di dekat jendela kelas. “Tetapi kalau ia tidak bisa menyampaikan pikirannya, orang lain tidak akan pernah tahu.” Kami diam mendengarkan saat semilir angin menyusup pelan melalui celah jendela, menggoyangkan ujung kertas-kertas di atas meja.
“Membaca, menulis, berhitung,” lanjutnya, “itu adalah bekal dasar. Tetapi nanti zaman akan berubah. Orang-orang juga harus bisa mengetik.”
Kalimat itu terdengar biasa saja waktu itu. Namun kini aku menyadari kenyataan ketika kepala sekolah kami sedang berusaha menembus batas waktu, untuk melihat masa depan yang jauh lebih cepat daripada kebanyakan orang dewasa di zamannya. Dan karena itulah, di tengah segala keterbatasan kampung kami, beliau tidak pernah kehilangan akal.
“Di sekolah kita ada dua mesin ketik yang biasa dipakai bagian TU. Itu fasilitas sekolah, bukan fasilitas orang TU.”
Begitulah Pak Samsudin mengawali langkah kecilnya. Langkah yang mungkin bagi orang lain terdengar biasa saja, tetapi bagi kami, diam-diam menjelma pembuka jalan menuju dunia yang lebih luas. Beliau mengucapkannya dengan nada tenang namun tegas, serupa seseorang yang sejak awal telah menyadari bahwa perubahan besar kerap lahir dari sebuah keberanian memandang benda-benda biasa dengan cara yang berbeda.
Sekolah kami boleh saja minim fasilitas. Dindingnya boleh kusam, dan koleksi buku perpustakaannya boleh teramat sedikit atau nyaris tidak ada koleksinya di gedung yang telah diberi nama ruang perpustakaan. Tetapi, Pak Samsudin tidak ingin murid-muridnya tumbuh dengan mental yang kerdil di hadapan dunia.
Di pundaknya, ada beban yang mungkin tak pernah benar-benar kami pahami saat itu tentang bagaimana ia ingin menuntun anak-anak dari kampung yang sunyi ini agar tidak tertinggal terlalu jauh oleh gerak zaman. Dan mungkin karena itulah, beliau rela melakoni banyak peran, yang di antaranya menjadi kepala sekolah, guru Fisika, sekaligus manusia pertama yang membukakan gerbang bagi kami untuk mengecap dunia tulisan dan teknologi.
Segala hal yang diupayakan di sekolah itu, bagi beliau, semata-mata diwakafkan demi anak-anak didiknya. Demi kami.
Kami, anak-anak kecil yang waktu itu bahkan belum mengerti, bahwa bunyi bersahaja dari mesin tik di ruang tata usaha itu ternyata sedang mengubah arah hidup kami sedikit demi sedikit.
Tik.. tik.. tik..
Dan tanpa pernah kusadari, suara itu terus tinggal dan menetap di kepalaku hingga bertahun-tahun kemudian seperti gema masa kecil yang tidak pernah benar-benar selesai berbunyi.
Di ruang kelas siang itu terasa pengap oleh kepungan panas matahari. Kapur tulis masih menyisakan debu putih di ujung jemari Pak Samsudin, tetapi sepasang matanya menyala serupa seseorang yang menyimpan keyakinan besar di dalam dada.
“Mesin tik bukan barang istimewa yang cuma dipakai buat urusan surat-menyurat sekolah,” katanya sembari memandang kami satu per satu. “Bukan juga cuma buat guru mengetik soal ujian. Tetapi kalian...” suaranya melambat, “kalian juga boleh memakainya untuk belajar.”
Kata “kalian” yang keluar dari mulutnya terasa begitu hangat. Sebab di usia kami waktu itu, jarang ada orang dewasa yang percaya bahwa anak-anak kampung seperti kami pantas diberi kesempatan menyentuh sesuatu yang dianggap penting. Seringkali kami hanya diposisikan sebagai penonton dari dunia orang dewasa. Namun, Pak Samsudin membuat kami merasa ikut memiliki masa depan.
Sejak itu, ruang tata usaha yang biasanya terasa angker dan resmi mulai berubah rupa menjadi ruang belajar kecil yang hidup. Bau pita tinta bercampur aroma kertas karbon dan debu map-map arsip yang menumpuk di lemari tua. Sinar matahari sore jatuh miring dari jendela, memantulkan warna kekuningan di atas meja kayu yang mulai keropos dimakan usia. Dan di tengah ruang itulah, kami belajar merajut huruf.
Bila kebetulan beliau belum pulang, Pak Kepala sering duduk bersama kami, atau berdiri di belakang sembari memperhatikan jemari kami menekan tombol dengan gugup.
“Jangan dipukul,” katanya sambil tertawa kecil ketika Dema menekan tombol terlalu keras hingga batang hurufnya tersangkut di tengah. “Mesin tik itu diajak kerja sama, bukan diajak berkelahi.”
Kami ikut tertawa. Beliau lalu mengambil posisi di depan mesin tik, memperagakan cara mengetik yang benar. Jemarinya bergerak mantap, berirama, bagai pemain musik yang telah hafal seluruh nada lagunya.
Tik.. tik.. tik.. Bunyi itu terdengar begitu indah.
“Ada tenaganya,” kata beliau tanpa menghentikan ketukan, “tapi juga ada rasanya.”
Aku terdiam. Bahkan untuk urusan mengetik pun, beliau mengajarkan sebuah kebijaksanaan bahwa segala sesuatu membutuhkan keseimbangan antara tenaga dan perasaan, antara semangat dan ketelitian, antara kecepatan dan kesabaran.
Kadang karena terlalu bersemangat, kami menekan tombol terlalu keras hingga hurufnya macet. Dan seperti anak-anak pada umumnya, kami langsung saling melempar salah.
“Ini pasti si Nina tadi!”
“Ah, Dema juga dari tadi mukul-mukul tombol!”
“Lusia paling keras kalau ngetik!”
Ruang TU mendadak riuh oleh tuduhan dan tawa yang bercampur panik. Namun, Pak Samsudin biasanya hanya tersenyum kecil sembari menggeleng pelan.
“Rusak sedikit tidak apa-apa,” katanya menenangkan. Beliau kemudian mengusap pelan badan mesin tik yang lecet di beberapa bagian, serupa seseorang yang paham bahwa benda mati pun bisa menua karena dipakai bertumbuh bersama manusia.
“Toh ini aset negara, dipakai untuk belajar.” Kalimat itu sederhana yang menentramkan agar tidak lagi di antara kami saling lempar kesalahan. Saat dewasa, atau saat semakin dewasa, aku memahami betapa langkanya manusia seperti beliau. Banyak orang menjaga fasilitas negara karena rasa takut kehilangan barangnya, tetapi beliau justru lebih takut jika murid-muridnya kehilangan kesempatan untuk belajar.
Lalu, dengan tatapan yang menerawang jauh, beliau berkata pelan, “Siapa tahu dengan rusaknya satu mesin tik, ada satu di antara kalian yang nanti jadi penulis. Kalian bisa bercita-cita jadi penulis.”
Kami saling memandang sambil tertawa kecil malu-malu. Waktu itu, cita-cita menjadi penulis terdengar terlalu muluk bagi kami. Penulis terasa seperti sosok-sosok hebat yang wajahnya terpajang di sampul belakang buku paket, bukan anak kampung yang sepatunya masih berbedak tanah merah. Namun, Pak Samsudin tidak tertawa. Beliau sungguh-sungguh percaya.
“Satu orang saja,” katanya dengan penuh penegasan, sambil mengangkat telunjuk perlahan, “satu orang saja dari sekolah ini bisa menuliskan pengalaman hidupnya... itu lebih berharga daripada rusaknya satu mesin tik.”
Mendadak ruangan senyap. Tak ada lagi suara saling menyalahkan, tak ada lagi tawa mengejek. Yang terdengar hanya desis kipas tua, desir angin sore dari jendela, dan detak kecil di dada kami yang diam-diam mulai percaya bahwa hidup mungkin bisa diubah lewat tulisan.
Namun rupanya mimpi Pak Samsudin tidak berhenti di ruang TU dan mesin tik. Suatu sore, ketika cahaya matahari mulai turun pucat di dinding sekolah, beliau kembali berdiri di depan kelas sambil memandang ke arah bangunan kosong di pojok timur.
“Satu harapan lagi,” katanya. Sorot matanya tampak matang. Tampak ada kelelahan di sana, tetapi juga tekad yang keras seperti akar pohon yang mencengkeram tanah. “Bapak ingin sekolah ini punya perpustakaan.”
Perpustakaan. Sebuah kata yang waktu itu terdengar seperti kemewahan yang mustahil.
Beliau menunjuk ke arah gedung kecil yang berdiri sendiri di bagian atas kompleks sekolah. Bangunan itu sejak awal memang dinamai ruang perpustakaan, tetapi kenyataannya kosong melompong. Tak ada rak buku, tak ada meja baca, tak ada bau kertas atau suara halaman dibalik. Hanya ruangan sepi yang dipenuhi debu dan sarang laba-laba.
“Ruang itu ingin Bapak isi buku-buku,” katanya pelan. “Buku yang bisa kalian pilih dan baca sendiri.”
Aku menoleh ke arah bangunan itu melalui jendela kelas. Dari kejauhan tampak sunyi dan kusam. Tetapi ketika beliau berbicara, entah mengapa aku mulai bisa membayangkan rak-rak buku berdiri tegak di sana, mencium bau kertas, dan melihat anak-anak seperti kami sibuk membaca dalam hening. Di hadapan kami, dunia-dunia lain seolah terbuka dari halaman demi halamannya. Mungkin begitulah kekuatan mimpi seorang guru yang mampu melihat sesuatu bahkan sebelum sesuatu itu benar-benar wujud.
Lalu tiba-tiba beliau tertawa kecil, “Kalau terus kosong, nanti keburu dihuni hantu Sundel Bolong.”
Seketika kelas meledak oleh tawa. Nina langsung menutup telinganya, sementara Dema tertawa paling keras sambil menunjuk gedung kosong itu. Tetapi di balik tawa kami, ada sesuatu yang diam-diam terasa hangat bahwa seorang kepala sekolah, dengan segala keterbatasan sekolah yang dipimpinnya, masih sudi bermimpi untuk murid-muridnya. Dan sekarang aku mengerti, kadang sekolah bukan dibangun oleh kemegahan gedung, melainkan oleh orang-orang yang tetap percaya pada hari esok, bahkan ketika keadaan nyaris tidak memberi alasan untuk berharap.
Bertahun-tahun kemudian, ketika hidup membawaku pergi semakin jauh dari bangku sekolah itu, suara mesin tik tersebut ternyata tidak pernah benar-benar lenyap dari ingatan.
Tik.. tik.. tik..
Kadang suara itu datang kembali begitu saja di malam hari, saat aku sedang menulis sendirian, seperti gema masa lalu yang mengetuk pelan dari kejauhan. Dan anehnya, yang paling kuingat bukan lagi bentuk mesin tiknya, melainkan keyakinan seorang kepala sekolah bersahaja yang percaya bahwa anak-anak dari sekolah kecil pun pantas memiliki masa depan yang besar.
Kini aku mulai memahami, Pak Samsudin sebenarnya tidak sedang mengajarkan kami mengetik. Ia sedang mengajarkan keberanian. Keberanian menyentuh dunia yang sebelumnya terasa jauh, keberanian menuliskan pikiran sendiri, dan keberanian untuk percaya bahwa hidup tidak harus tunduk pada nasib yang diwariskan keadaan.
Sebab menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah cara manusia melawan lupa, melawan sunyi, dan melawan perasaan bahwa hidupnya pernah lewat begitu saja tanpa sempat meninggalkan jejak.
Aku sering membayangkan beliau sekarang, berdiri di depan kelas dengan kapur di tangan, memandang kami yang dulu terlalu muda untuk memahami maksud ucapannya. Kalimat-kalimatnya seperti api kecil yang diam-diam diselipkan ke dalam dada kami. Api yang tidak langsung membesar, tetapi bertahan sangat lama. Dan barangkali begitulah seluruh hidup bergerak seperti itu. Datang dari kalimat-kalimat kecil yang pernah diucapkan seseorang dengan sungguh-sungguh kepada kita adalah cahaya di antara cahaya.
Sekarang mesin tik mungkin sudah tinggal barang antik. Sudah kalah cepat oleh komputer, laptop, dan telepon genggam yang bisa menulis apa saja hanya lewat sentuhan jempol. Dunia berubah begitu cepat hingga bunyi tik-tik logam itu terdengar seperti suara dari zaman yang hampir punah. Tetapi tidak bagiku. Sebab di balik bunyi sederhana itu, ada wajah-wajah guru yang percaya pada pendidikan lebih daripada sekadar angka rapor. Ada sekolah kecil yang berusaha tegak di tengah keterbatasan. Dan ada harapan-harapan yang dulu tumbuh diam-diam di antara meja kayu, pita tinta, dan cahaya sore yang jatuh miring dari jendela ruang tata usaha.
Mungkin hidup memang sering dimulai dari hal-hal kecil yang nyaris tak dianggap penting oleh dunia. Dari satu mesin tik tua, dari satu ruang perpustakaan kosong, dari seorang guru yang keras kepala mempertahankan harapan, dan dari anak-anak yang belum mengerti bahwa suatu hari nanti, kenangan tentang semua itu akan berubah menjadi tulisan panjang—yang terus hidup, bahkan ketika suara mesin tiknya sendiri telah lama berhenti berbunyi. (Bersambung)