Di bawah benderang siang hari itu, kubiarkan riuh yang sekian lama menghantui palung pikiran luruh bagai sisa embun yang dipaksa menguap oleh sengatan terik. Aku memilih berkarib dengan sunyi meski harus mendekap kerontang, menyadari sepenuhnya bahwa tidak semua tanya ditakdirkan bersambut jawab, dan tidak semua derap langkah musti bermuara pada temu yang paripurna.
Kusudahi segala perasaan terbuang yang selama ini hanya menjadi bisikan pilu dari palung hati yang tengah menjemput kesembuhannya. Inginku serupa seorang penjaga menara yang perlahan merapatkan jendela kayu saat angin utara mulai menusuk sumsum. Mengunci rapat sebuah ruang pengap yang telah bertahun-tahun ditinggalkan penghuninya.
Ada kelelahan yang selama ini kuseret layaknya rantai besi berkarat. Sebab tibalah saatnya sebuah rantai kulepaskan agar geriginya tak lagi menggores lantai kesadaranku. Kubiarkan sunyi yang selama ini merintih pulang dengan sendirinya ke rahim asal, sebab sunyi pun berhak atas ruang peristirahatan. Sudah saatnya aku pulang, dan membiarkan Bapak Kepala membimbing kepulanganku pada yang sebenarnya kepulangan.
Begitulah takdir membisikkan niatku pada perjalanan yang bukan sekadar perpindahan raga di atas aspal, melainkan sebuah kepulangan batin. Sebuah perjalanan yang akhirnya menemukan kembali koordinat titik berangkatnya, setelah sekian lama tersesat di rimba ekspektasi tentang makna "pulang" yang sesungguhnya. Di kursi bus yang dingin ini, aku belajar satu hal bahwa tentang pulang, berbicara pulang adalah cara terbaik untuk memaafkan diri sendiri dari segala pelarian yang sia-sia.
"Kau tampak tenang, Nak," suara itu memecah lamunanku, lirih namun tajam. “Apakah bebanmu sudah tertinggal di gerbang kantor tadi?”
Aku hanya tersenyum tipis, menatap keluar jendela di mana bayang-bayang masa lalu seolah melambai pamit.
“Mungkin, Pak. Rasanya seperti baru saja melepas sepatu yang terlalu sempit.”
Setelah urusan berkas persyaratan beasiswa yang melelahkan itu akhirnya selesai, meninggalkan kelegaan yang aneh di dada. Segala kegelisahan yang semula membelit leherku seperti simpul-simpul tali yang kusut dan basah, kini perlahan terurai satu demi satu, meski bekas jeratannya masih terasa perih di ujung jemari ingatan yang gemetar.
Kami bersiap untuk pulang, namun agaknya lintasan garis nasib belum mengizinkan kami segera menyentuh tanah Cikatomas–Tawang sebagai pelabuhan akhir. Bapak Kepala hendak singgah terlebih dahulu ke kampung asalnya di Cimahpar, Cineam. Kehendak itu memaksa roda waktu yang menuju kepulangan tertunda sejenak, memutar haluan menuju jalur berbeda yang memperpanjang napas perjalanan ini.
"Kita mampir ke rumah Bapak sebentar, ya," ujar Bapak Kepala sembari membetulkan letak kacamatanya. “Menengok Bapak dan melihat kebun salak. Setelah itu, barulah kita benar-benar pulang, kembali pada rutinitas belajar di sekolah.”
Maka, perjalanan ini harus menempuh satu babak baru. Pada aebuah selingan yang terasa seperti koma di tengah kalimat panjang, sebelum ia benar-benar menemukan titik pamungkas pada halaman terakhir cerita perjalanan dari kota menuju kampung asal.
Mesin bus menderu rendah sejak meninggalkan simpang Hazet, merayap pelan menuju Cineam serupa seekor siput yang memanggul bebannya dengan penuh kesabaran. Aspal yang kami lalui membentang layaknya pita hitam yang ditarik dari gulungan waktu. Sementara itu, halaman kantor Disdik yang baru saja kami tinggalkan, yang tadi terasa begitu krusial, perlahan menguap dari ingatan. Lewat kaca spion, aku menatap jalanan hitam yang kami tinggalkan. Menjelma bak adegan film bisu yang enggan usai, namun terpaksa pudar dikikis bentangan jarak.
Di luar sana, jalanan kota masih berdenyut kencang oleh hiruk-pikuk manusia yang sibuk mengejar bayang-bayang mereka sendiri. Namun di dalam bus ini, suasana terasa begitu hening dan sakral. Kami seolah berada di dalam botol kaca yang terapung tenang di atas arus sungai yang deras. Terlindungi, terisolasi, dan hanya memiliki sisa-sisa napas kami sendiri untuk didengar.
"Dunia di luar sana selalu terburu-buru," gumamku pelan, hampir tak terdengar oleh siapapun kecuali diriku sendiri.
"Kita baru saja sampai di Manonjaya," tiba muncul suara Bapak Kepala menyusup di antara desau angin yang masuk dari celah jendela. Terdengar seperti seseorang yang sedang membuka lembaran kertas tua dari sebuah buku sejarah yang sampulnya sudah rapuh. Suaranya pelan namun memiliki bobot yang mampu menggetarkan udara. Seolah setiap kata yang diucapkannya membawa debu masa lalu yang belum sepenuhnya mengendap di dasar ingatan manusia.
Sebagaimana ditunjuk Bapak Kepala, di kejauhan sebelah kanan, menara Masjid Soekapoera mulai menampakkan diri, tegak dan tenang seperti seorang pertapa yang telah melihat ribuan purnama yang tetap memilih untuk membisu di bawah langit yang mulai meredup.
"Lihatlah menara itu," tunjuk Bapak Kepala dengan gerakan tangan yang khidmat. “Ia adalah saksi bahwa yang kokoh bukan berarti tak punya luka, ia hanya pintar menyimpannya di balik dinding yang sunyi.”
Aku mengangguk, merasakan sebuah intonasi yang lebih dalam merayap di dadaku, menyadari bahwa setiap tempat yang kami lalui adalah cermin yang memantulkan kembali siapa kami sebenarnya.
Aku memutar leher, menoleh ke luar jendela bus yang kacanya mulai berembun tipis oleh sisa hujan atau mungkin napas kecemasan yang tertahan. Aku membiarkan sepasang mataku terseret oleh aspal yang memanjang, sebuah garis waktu yang tak pernah benar-benar menemukan ujungnya, melata seperti ular hitam yang menelan jarak demi jarak tanpa pernah merasa kenyang.
Jalanan itu tampak begitu hidup, berdenyut dengan ritme yang ganjil, dipenuhi besi-besi tua yang menderu, manusia-manusia yang bergegas, dan riuh rendah yang menyerupai napas panjang sebuah kota kecil yang sedang berjuang keras agar tidak dilupakan oleh sejarah.
Di balik orkestra keramaian itu, aku menangkap sesisip rasa sepi yang samar dan ganjil, merayap seperti ruang kosong di antara dua kalimat dalam sebuah puisi kematian. Sebuah jeda yang seolah sengaja dibiarkan tanpa tanda baca agar pembacanya tersesat dalam ketidakpastian.
"Nah, inilah Masjid Istana Soekapoera, yang sekarang lebih dikenal sebagai Masjid Agung Manonjaya," suara Bapak Kepala kembali menyusup lembut, memecah hening yang sempat membeku di antara kami.
Aku mendongak agar lebih dekat, menatap kubah dan menara yang mengeluarkan aroma tua. Tapi bukan bau lapuk, melainkan wangi kenangan yang dipelihara dengan sangat hati-hati oleh sang waktu di dalam lemari kaca raksasa. Kubahnya berdiri tegak, serupa kepala seorang bangsawan tua yang menolak tunduk pada hantaman perubahan zaman. Mempertahankan martabatnya di tengah gempuran beton-beton modern yang tak berjiwa.
Sementara itu, tiang menaranya menjulang tajam seperti jemari purba yang menunjuk ke langit, seakan sedang memperingatkan setiap hamba yang melintas bahwa ada sesuatu yang jauh lebih tinggi dan lebih abadi daripada sekadar perjalanan jauh yang melelahkan ini.
"Megah sekali, Pak," bisikku, nyaris tak terdengar, seolah takut suaraku akan meretakkan keheningan masjid itu.
"Ia tidak hanya megah," sahut beliau dengan mata yang menerawang jauh. “Ia adalah jangkar. Tanpanya, kota ini hanyalah debu yang ditiup angin.”
Bus yang kami tumpangi terus merayap pelan, melewati deretan kios di kiri dan kanan jalan yang berbaris rapat. Kios-kios itu tampak seperti barisan saksi bisu dengan tatapan kosong, yang setiap harinya hanya menonton orang-orang datang dan pergi tanpa pernah benar-benar menetap. Para musafir yang membawa tas-tas penuh cerita kecil yang mungkin tak akan pernah sempat dituliskan oleh pena manapun. Aku memperhatikan wajah-wajah yang melintas sekelebat di balik kaca. Mulai dari penjual yang melamun, pembeli yang menawar takdir, atau anak-anak yang berlari mengejar bayangan mereka sendiri di tanah lapang depan halaman masjid, dan melihat orang-orang tua yang berdiri mematung tanpa rasa tergesa seolah waktu bagi mereka telah berhenti berdetak.
Semua tampak seperti fragmen-fragmen cerita yang rontok dan berjatuhan dari sebuah buku besar nan usang bernama kehidupan, terserak di pinggir jalan untuk kemudian dilindas roda-roda kendaraan.
Tiba-tiba dengan kemegahan bangunan masjid itu yang telah muncul sepenuhnya, secara utuh, seolah ia baru saja lahir dari balik kabut. Bentuk kubahnya menarik tali ingatanku pada gambaran Masjid Baiturrahman di Banda Aceh yang dulu sering kupandangi di kalender dinding rumah. Menyadari saat di mana dunia terasa sesederhana satu suapan nasi dan waktu berjalan selambat siput di atas daun jati.
Ada kesamaan bentuk yang arkais antara Masjid Agung Manonjaya dengan Masjid Baiturrahman Banda Aceh. Namun suasananya sungguh kontras. Jika di Aceh sana ia terasa seperti pekik kemenangan, di sini ia lebih menyerupai sebuah doa rahasia yang diucapkan tanpa suara, sebuah ini adalah bisikan lirih yang hanya bisa didengar oleh mereka yang hatinya benar-benar sedang merana atau hancur.
"Apakah setiap tempat suci memang selalu menyimpan kesunyian yang sama, Pak?" tanyaku, merasakan dadaku sedikit sesak oleh keindahan yang menyakitkan itu.
Bapak Kepala menoleh padaku, tersenyum kecil yang terasa seperti pelukan hangat. “Kesunyiannya tidak pernah sama, Nak. Yang sama hanyalah cara kita bersujud di dalamnya, membawa luka yang berbeda-beda untuk disembuhkan oleh Dzat yang sama.”
“Inilah masjid istana yang pembangunannya diprakarsai oleh sang penguasa agung Soekapoera, Raden Adipati Aria Wiranatakusumah,” ucap Bapak Kepala lagi, suaranya kini bertransformasi menjadi semacam gema dari lorong waktu, bukan sekadar guru yang menyuapi fakta, melainkan seorang juru kunci yang sedang memutar anak kunci emas untuk membuka pintu rahasia sejarah yang berdebu.
Aku mengangguk pelan, membiarkan kepalaku tenggelam dalam bayangan masa silam, mencoba menghidupkan kembali nama-nama besar itu dalam napas orang-orang yang dulu bersila di pelataran masjid. Sebuah zaman di mana mahkota kekuasaan dan tasbih spiritualitas terjalin erat seperti dua akar pohon beringin yang menghujam bumi, saling menguatkan dalam satu tarikan napas yang sama.
“Dulu, sebelum riuh rendah kota berpindah, pusat pemerintahan bernaung sepenuhnya di Manonjaya ini,” lanjut beliau, sepasang matanya menembus kaca bus, memandang jauh ke cakrawala seolah sedang menyaksikan parade prajurit dan kereta kencana yang kini tak lagi kasatmata bagi mata yang terburu-buru.
“Jauh sebelum menetap di Tasikmalaya yang kau kenal sekarang, tempat kita tadi… yang gedung pendoponya berada di ujung jalan Hazet.” Ia memutus kalimatnya, memberikan ruang hening yang lapang di antara kata-katanya, seperti sengaja membiarkan detak jantung sejarah berbicara sendiri dalam kesunyian yang mencekam.
Aku terdiam, membayangkan perpindahan kekuasaan itu serupa arus sungai purba yang bergeser perlahan karena erosi zaman. Tidak pernah benar-benar lenyap, tapi selalu meninggalkan guratan luka dan berkah pada tanah-tanah yang pernah dikucurinya.
Kota boleh bersalin rupa, pusat-pusat megah boleh berpindah koordinat, dan nama-nama lama mungkin diganti dengan istilah baru yang lebih modern, tetapi lapisan kenangan tetap menempel abadi seperti lumut hijau yang menyelimuti batu candi yang diam, namun ia adalah bukti bahwa kehidupan pernah berdenyut hebat di sana.
"Apakah kemegahan itu memang harus selalu mengalah pada waktu, Pak?" tanyaku lirih, merasakan ada sesuatu yang luruh di dadaku.
Bapak Kepala menghela napas panjang, seolah sedang menghirup aroma masa lalu. “Bukan mengalah, Nak. Hanya berganti jubah agar tetap bisa bertahan dalam ingatan.”
Sebelum garis nasib membawanya menjadi seperti sekarang, Manonjaya atau yang dulu dikenal sebagai Harjawinangun, adalah sebuah jantung yang memompa darah ke seluruh pembuluh wilayah Kabupaten Soekapoera. Dahulu sekali, tanah ini dijuluki Hutan Tembong Gunung, sebuah rimba rahasia di Distrik Paripanjang yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Nagara Tengah bersama Cineam dan Imbanagara, sebagai deretan nama yang di telingaku terdengar seperti mantra-mantra keramat yang diucapkan berulang kali oleh para leluhur agar jati diri mereka tidak terkikis habis dari ingatan kolektif anak cucu. Setiap suku kata dari nama itu membawa bayangan zaman yang berbeda, serupa bab-bab dalam sebuah kitab suci yang sengaja dibiarkan terbuka, menunggu dibaca oleh mereka yang tidak sekadar melihat dengan mata, tapi merasakannya dengan jiwa.
“Jadi, sebelum Tasikmalaya menjadi kota seperti sekarang, semua benihnya bermula dari rahim Manonjaya ini?” tanyaku akhirnya, suaraku nyaris tertelan oleh deru mesin bus yang bergetar hebat, seolah kendaraan ini pun sedang menggigil menanggung beban sejarah yang kami bicarakan.
Bapak Kepala menoleh, tersenyum tipis dengan binar mata yang penuh kebijaksanaan. “Sejarah selalu memiliki titik nol, sebuah tempat awal di mana mimpi pertama kali disemai,” katanya dengan intonasi yang begitu tenang namun tajam menghujam. “Dan seringkali, tempat awal itu akan terlihat sangat biasa saja di mata dunia, sampai-sampai kita belajar untuk melihatnya dengan sepasang mata yang sudah dicuci oleh air pemahaman yang berbeda.”
Bus pun melaju semakin jauh, namun bayangan Masjid Soekapoera masih melekat di benakku, seperti sebuah tanda titik yang menutup sebuah paragraf agung, namun sekaligus menjadi koma bagi perjalanan batin yang baru saja dimulai.
Aku kembali melemparkan pandanganku pada siluet masjid itu dari balik kaca jendela yang bergetar pelan, seolah kendaraan ini pun sedang menggigil menahan beban sejarah yang baru saja kami bicarakan. Ada perasaan aneh yang merayap, sulit dijabarkan dengan kata-kata yang lazim. Rasanya seperti berdiri di ambang pintu yang memisahkan dua ruang waktu, menjadi saksi bagi masa lalu yang enggan pergi dan masa kini yang terburu-buru.
Aku merasa seperti seseorang yang sedang mengeja kalimat terakhir dari sebuah bab panjang dalam kitab kehidupan. Mataku melihat tanda titik, namun batinku tahu bahwa napas cerita itu masih berlanjut di halaman-halaman yang belum sempat dibuka.
"Kadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar tahu di mana kita berpijak," gumam Bapak Kepala, nyaris tak terdengar, tenggelam dalam lamunan yang pekat.
Bus terus melaju, membelah aspal yang seolah tak berujung, meninggalkan kemegahan masjid itu di belakang punggung kami. Namun, bayangannya tetap setia mengikuti di sudut mata, serupa gema di dalam gua purba yang menolak untuk segera lenyap walau sumber suaranya telah menjauh. Di dalam ketersingapan diam perjalanan itu, aku menyadari bahwa Manonjaya bukanlah sekadar koordinat untuk singgah melepaskan lelah, melainkan sebuah paragraf pembuka dari epik yang jauh lebih kolosal. Sebuah risalah agung tentang perubahan yang tak terelakkan, tentang ingatan yang keras kepala, dan tentang manusia yang dipaksa terus melangkah meski waktu adalah algojo yang tak pernah meletakkan senjatanya.
“Kau tahu, Nak? Sebelum menetap di sini, di Manonjaya ini sebagai ibukota pemerintahan, sebelumnya pernah berkedudukan di daerah yang tadi pagi kita bicarakan tentang Salopa, tentang Dayeuh Tengah,” kata Bapak Kepala seraya menggerakkan telunjuknya ke arah belakang. Gerakan tangannya begitu tenang, seolah masa lalu adalah benda fisik yang masih bisa disentuh dan dibelai hanya dengan satu isyarat sederhana. Suaranya terdengar seperti gemerisik kertas perkamen tua yang dibuka kembali. Sebagai peta kuno yang garis-garis batasnya mulai memudar dimakan usia, namun kompas sejarahnya masih menunjuk dengan presisi yang menyakitkan.
“Ya, Pak. Daerah Salopa. Haya masih mengingatnya,” sahutku lirih. Suaraku kini terasa berat, mengendap serupa aroma tanah basah yang baru saja dijatuhi hujan, seolah kata-kataku sendiri enggan terbang menjauh dari kerongkongan.
“Dari Manonjaya tadi,” sambung Bapak Kepala dengan nada yang berwibawa, “perjalanan sejarah kemudian berputar kembali ke utara, merangkak khidmat mendekati kaki Galunggung lagi, sebagaimana perkembangannya sekarang.”
Aku terpekur, mencoba membayangkan perpindahan kekuasaan itu seperti gerak rahasia akar pohon beringin yang merayap di bawah tanah demi mencari sumber air paling murni, yang tidak terlihat oleh mata penghuni permukaan, tapi geraknya menentukan hidup dan matinya setiap helai daun di pucuk tertinggi.
Perjalanan lokasi ibukota seperti bukan sekadar migrasi administratif atau perpindahan meja-meja birokrasi, melainkan sebuah eksodus harapan dan denyut ekonomi ribuan nyawa yang ikut terseret dalam arusnya, seperti sungai yang dengan angkuh tapi pasti memilih jalannya sendiri menuju muara, tanpa memedulikan batu-batu yang ia pecahkan di sepanjang jalan.
"Apakah kepindahan itu membawa serta harapan yang besar, Pak? Ataukah harapan itu sebenarnya tertinggal di tanah yang lama di Manonjaya, atau di Salopa?" tanyaku, merasakan perih yang samar mulai mengikis ulu hati.
“Coba kalau pusat itu tetap di Salopa, mungkin kampung kita takkan pernah disebut sebagai pelosok yang terpencil, ya Pak,” ucapku lirih.
Bapak Kepala menoleh, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan; sebuah tatapan yang mengandung kedalaman serupa sumur tua yang sunyi.
“Ada bagian dari kita yang rindu hal itu terjadi. Seandainya sejarah punya tuas untuk diputar kembali,” jawabnya seperti jawaban yang mencoba mengejar bayang-bayang kemungkinan pertanyaan yang hilang. Lalu terdiam, seolah sedang mencerna arah pikiranku yang melompat jauh ke masa lalu, sembari menata jawaban yang tepat di balik bibirnya.
"Rindu itu seperti debu, Nak," jawabnya kemudian, suaranya berat dan tenang. "Ia menempel pada pakaian setiap orang yang pergi. Mereka membawanya ke tempat baru, namun aromanya tetaplah aroma tanah yang lama.”
Kalimat itu menggantung di udara bus yang pengap, menjadi noktah yang mempertegas bahwa perjalanan kami menuju Cineam ini pun adalah bagian dari perpindahan-perpindahan kecil yang kelak akan menjadi sejarah di dalam kepala kami masing-masing.
“Tujuannya dipindahkan agar lebih dekat lagi ke lereng dan rahim lembah Galunggung yang subur,” katanya lagi, suaranya mengalun seperti rima dalam sajak lama yang dibacakan di ambang senja. Kata-katanya terdengar bersahaja yang di dalamnya tersimpan semesta yang luas tentang hakikat manusia yang selamanya akan menjadi pengembara demi mencari kedekatan dengan tanah yang menyuapi mulut mereka.
Dalam ruang imajinasiku yang kian liar, lereng Galunggung menjelma sesosok ibu agung yang diam seribu bahasa namun sibuk menyiapkan perjamuan abadi. Terus menumbuhkan bulir-bulir padi, hijau sayuran, dan benih-benih harapan di balik kabut dingin yang menyelimuti punggungnya.
Barangkali kedekatan itu bukan sekadar soal jarak, melainkan soal detak jantung yang harus seirama dengan musim yang berganti. Sebab, ketika kebutuhan untuk menjamah hasil bumi menjadi lebih mendesak, dan pengangkutan hasil tani dari lahan-lahan basah di kaki gunung harus dipercepat, ibukota itu pun dipaksa melangkah lagi. Perpindahan itu kurasakan seperti sebuah langkah panjang yang diambil dengan timbangan logika yang matang, namun di sisi lain, juga digerakkan oleh intuisi purba, serupa seseorang yang memilih rumah baru bukan sekadar karena luas bangunannya, melainkan karena ada rasa tenang yang tak terdokumentasikan dalam sertifikat tanah.
Di balik dinginnya keputusan administratif yang tertulis di atas kertas-kertas kusam, ada denyut kehidupan jutaan petani yang menjadi poros pertimbangan utamanya. Ada keringat yang jatuh ke lumpur sawah sebagai tumbal kemakmuran Eropa, dan ada aroma hasil panen yang harus segera sampai ke tangannya sebelum keharumannya layu ditelan waktu.
“Jadi, ini bukan melulu soal perebutan singgasana atau luasnya kuasa, ya, Pak?” gumamku pelan, mencoba meraba esensi di balik perpindahan itu.
Bapak Kepala menyandarkan punggungnya, tersenyum tipis yang menyiratkan pemahaman mendalam. “Kekuasaan memang selalu mencari alasan-alasan praktis untuk membenarkan langkahnya,” katanya dengan nada yang lebih berat. “Tetapi ketahuilah, Nak, tanah yang subur dan perut yang kenyang sering menjadi alasan paling jujur yang tak bisa dibantah oleh argumen politik manapun.”
Sejarah kemudian mencatat dengan tinta yang pekat, bagaimana mulanya dan akhirnya RAA Wiranatakusumah, seorang menak Sunda yang darahnya mengalir kental dengan kearifan lokal, menerima anugerah kekuasaan dari tangan Sultan Agung, sang penguasa besar Mataram. Mendengar fakta sejarah itu terasa seperti simpul gaib yang mengikat erat dua dunia yang berbeda, antara Sunda yang bergunung-gunung dan Jawa yang berkeraton, antara tradisi lokal yang bersahaja dan ambisi kekuasaan yang membentang luas dari timur.
Hadiah itu bukan sekadar tanda kehormatan yang berkilauan, melainkan sebuah beban yang diletakkan di atas pundak yang menyerupai mahkota emas yang indah dipandang mata, namun sanggup meretakkan tulang leher sang pemakainya jika tak dijaga dengan penuh waspada.
“Semua itu diberikan atas jasanya dalam mengonsolidasi kekuatan Soekapoera,” lanjut Bapak Kepala, suaranya kini setajam mata pedang yang ditarik dari sarungnya. “Untuk membantu Mataram dalam membungkam pemberontakan Dipati Ukur yang saat itu bersikeras ingin melepaskan diri dari cengkeraman kekuasaan pusat.”
Kata “membungkam” itu berdenging keras di telingaku, bergetar seperti pintu penjara dari besi yang dibanting rapat-rapat agar suara jeritan dari dalam tak lagi mampu menembus tembok tebal kesadaran. Aku pun terhanyut, membayangkan pertempuran di masa itu bukan hanya sebagai ajang adu tajam keris dan tombak di medan laga, melainkan sebuah benturan hebat antara dua keyakinan yang sama-sama keras, tentang siapa yang memiliki mandat langit untuk memerintah, dan siapa yang ditakdirkan sejarah untuk hanya bisa tunduk dan patuh dalam senyap.
"Kadang, kesetiaan pada satu sisi adalah pengkhianatan bagi sisi yang lain," bisikku pada diri sendiri, sambil menatap bayang-bayang pepohonan yang berlari cepat di luar jendela, seolah mereka pun ingin lari dari kenyataan sejarah yang pahit itu.
Kuketahui kemudian menurut satu fragmen keterangan cerita yang berdebu, bagi seorang Dipati Ukur, tanah Sunda adalah sebuah kehormatan yang tidak boleh sekali-kali takluk di bawah telapak kaki Jawa. Ia menolak dengan keras untuk menghabiskan sisa umurnya dengan bersembunyi di bawah ketiak penguasa Raja Mataram, atau bahkan sekadar menjadi bayang-bayang pucat dari kebesaran Majapahit yang sejarahnya pernah membengkak hingga melahirkan luka nanah seperti Tragedi Perang Bubat.
Kata-kata perlawanan itu merayap di benakku serupa bisikan yang menolak untuk dilupakan. Menjadi elegi tentang harga diri yang kaku, tentang luka lama yang diwariskan turun-temurun melalui air susu ibu kepada anak-anaknya, hingga dendam itu membeku menjadi ideologi.
“Mungkin Dipati Ukur sudah sadar sepenuhnya pada akar sejarah yang menghidupinya,” ucap Dede pelan, mencoba menyelami pembicaraan, menyelami samudera keberanian seorang Dipatu Ukur yang terasa nyaris nekat, serupa seseorang yang berani menantang badai hanya dengan sebilah dayung kayu yang retak.
Bapak Kepala mengangguk, matanya memancarkan kekaguman yang pedih. “Ia seorang adipati,” katanya dengan nada yang merendah, “tetapi memiliki nyali yang ukurannya melampaui batas-batas peta. Ia tidak ingin lagi melihat bangsanya tunduk seperti ilalang yang dipaksa sujud oleh angin kencang.”
Aku hanya terdiam, membayangkan Dipati Ukur berdiri di persimpangan dua pilihan yang sama-sama tajam. Antara tunduk untuk sekadar menyambung napas dan bertahan hidup, atau melawan dengan risiko kehancuran yang mutlak dan mengerikan. Sejarah memang sering menjadi algojo yang memaksa seseorang memilih antara kenyamanan yang menghinakan atau martabat yang berdarah. Antara keselamatan yang semu atau kebebasan yang mungkin hanya berakhir di liang lahat. Dan di titik nadir itu, keberanian bukan lagi sekadar watak pribadi, melainkan sebuah keputusan kosmik yang menentukan arah nasib sebuah peradaban di masa depan.
"Tidakkah menyakitkan, Pak? Ketika kesetiaan pada tanah air dianggap sebagai pemberontakan oleh mereka yang berkuasa?" tanyaku, merasakan ada getaran emosional yang janggal di tenggorokanku.
Bapak masih terdiam di tengah bus terus melaju, membelah cuaca siang yang terang, meninggalkan jejak-jejak cerita di belakang kami seperti barisan kalimat yang ditarik paksa dari lembar halaman sebuah kitab suci. Di kapsul perjalanan yang sunyi ini, aku mulai merasakan bahwa sejarah bukanlah seonggok masa lalu yang beku di dalam peti es, melainkan napas panjang yang terus berembun di pundak kami. Kadang hadirnya sebagai pelajaran yang dingin, kadang sebagai luka yang kembali terbuka setiap kali disentuh, dan sering sebagai pertanyaan tanpa tanda tanya yang tidak pernah benar-benar selesai dijawab oleh zaman.
“Setelah tragedi Bubat yang menyisakan duka sedalam samudera itu, Sunda Galuh sebenarnya tidak pernah benar-benar lenyap, tapi hanya memilih untuk tiarap,” kembali meluncur jawaban dari Bapak Kepala. Suaranya kini terdengar seperti seseorang yang sedang menyingkap tirai kain sutra tipis yang membatasi antara legenda yang samar dan kenyataan yang keras.
Kata "tiarap" itu jatuh di telingaku dengan bunyi yang sangat pelan namun berat, serupa tubuh seorang gerilyawan yang memilih merunduk di balik semak bukan karena ia telah kalah sepenuhnya, melainkan karena ia sedang mengatur ritme napas, menunggu detik yang paling tepat untuk kembali tegak menantang matahari.
Sunda saat itu tidak musnah, hanya sedang menahan napas dalam-dalam, serupa tanah yang retak-retak di musim kemarau panjang, yang dengan sabar dan penuh keyakinan sedang menunggu tetesan hujan pertama untuk meledakkan kembali kehidupan yang terpendam di perutnya.
"Jadi, tiarap itu adalah cara lain untuk tetap hidup, bukan untuk menyerah?" bisikku, sambil menatap langit yang kini sewarna dengan darah yang mengering.
Bapak Kepala hanya terdiam, membiarkan pertanyaanku menguap di antara deru mesin, seolah jawaban itu memang tidak perlu diucapkan, melainkan cukup dirasakan lewat getaran jalanan yang kami lalui.
Kutahu kemudian sebelum muncul sang pewaris takhta yang menatap nanar pada sudut-sudut negeri, menyapu pandangan dari aliran sungai Cipamali di ujung timur hingga bentangan Ujungkulon di batas barat yang terjauh. Dalam bayangan negeri yang menghampar luas, menjelma bagai sesosok tubuh raksasa yang kehilangan kepalanya. Anggota tubuhnya masih bergerak, wilayah-wilayahnya masih bernapas, namun arah dan tujuannya seakan raib ditelan kabut sejarah.
Sungai-sungainya tetap mengalirkan air yang sama, gunung-gunung tetap tegak memaku bumi, namun manusia-manusia di bawahnya berjalan dengan langkah bimbang, tanpa kepastian tentang langit mana yang sebenarnya memayungi nasib mereka. Tanah-tanah negeri itu serupa anak-anak yang kehilangan dekapan induknya, berkelana di bawah rintik hujan tanpa pelukan, hingga akhirnya sebuah bayang-bayang besar dari arah timur perlahan menutupi cakrawala. Mataram Islam hadir membawa tatanan baru, sebuah jubah kekuasaan yang megah sekaligus asing, yang tidak sepenuhnya bisa dipahami oleh setiap hati yang telah lama memendam rindu pada kemandirian.
“Sejarah seringkali tidak datang sebagai hidangan pilihan yang bisa kita pesan, Nak,” ujar Bapak Kepala dengan suara yang merendah, hampir menyerupai bisikan angin yang lewat di antara sela-sela kursi bus. “Kadang ia datang seperti musim yang tak bisa ditolak keberadaannya, hanya bisa dihadapi dengan ketabahan yang sunyi.”
Aku menatap tanganku yang gemetar, “Lalu, apakah kita hanya bisa pasrah terseret arusnya?”
"Tidak," sahutnya tajam, "kita belajar berenang di dalamnya agar tidak tenggelam. Sampai kemudian, dalam lipatan cerita yang sakral, muncullah sosok yang dalam narasi tutur disebut sebagai Al-Mahdi. Dialah yang kelak lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi, figur yang dalam imajinasi kolektif kita berdiri tegak di perbatasan antara fakta sejarah yang dingin dan mitos yang hangat, antara kemanusiaan yang fana dan simbol yang abadi.”
“Ia berjulukan Ki Ageng Pemanahan, seorang pengembara batin yang mencoba menenun kembali sobekan luka menganga pasca tragedi Bubat. Bekerja seperti penjahit tua di bawah cahaya lilin yang temaram, dalam sunyi yang paling dalam, untuk menyambung kembali lembar-lembar kain perca yang robek agar tidak lagi berkibar sebagai bendera perpecahan yang memalukan. Usahanya itu seperti merangkai kembali ribuan serpihan cermin yang telah hancur berkeping-keping. Meski tak akan pernah kembali mulus sempurna. Tapi setidaknya sanggup memantulkan kembali wajah identitas yang sempat pecah berantakan,” tutur Bapak Kepala bercerita panjang.
“Masa berganti kemudian datanglah Dipati Ukur harus bertarung dengan waktu dalam proses konsolidasi penyatuan kembali wilayah Sunda yang terserak tak tentu arah, termasuk Soekapoera yang sudah berada dalam cengkeraman kendali Mataram. Tapi melawan sang penguasa Timur yang fondasinya dibangun sejak zaman Senapati Pamungkas, diperluas dengan ambisi yang membara oleh Sultan Agung, dan diwariskan dengan tangan besi hingga ke era Amangkurat. Dipati Ukur akhirnya dihukum, dibawa ke Mataram, berkat bantuan Soekapoera.”
Aku mencium aroma pengkhianatan pada kekuasaan yang terasa seperti jaring laba-laba raksasa yang dilemparkan dari pusat keraton di timur. Menjangkau dan menarik wilayah-wilayah pinggiran agar masuk dan terperangkap dalam orbit kepentingannya. Di satu sisi, jaring itu memberikan struktur dan perlindungan, namun di sisi lain, ia menyisakan lubang besar berupa pertanyaan tentang sisa-sisa otonomi dan harga diri lokal yang kian hari kian tergerus oleh otoritas pusat yang haus kepatuhan.
"Jaring itu mungkin hangat, tapi ia juga bisa mencekik," gumamku sambil merasakan bus yang mulai berguncang melewati jalanan berlubang.
Bapak Kepala mengangguk pelan, “Setiap perlindungan selalu meminta bayaran, dan seringkali harganya adalah kebebasan untuk menentukan arah sendiri setidaknya untuk berdirinya Soekapoera, tanah kita.”
Suasana bus mendadak terasa lebih sempit, seolah roh-roh masa lalu ikut berjejalan di antara kami, ikut mendengarkan kisah tentang negeri yang sedang mencari kembali tulang punggungnya di tengah tarikan dua kekuatan besar yang saling mengintai.
“Semua kerajaan besar selalu melahirkan bayangannya sendiri, menjadi sebuah siluet raksasa yang menelan cahaya bagi siapa pun yang berada di dekatnya,” kembali ucap Bapak Kepala. Suaranya mengalun seperti peringatan dari zaman yang jauh. “Dan wilayah-wilayah kecil sering terpaksa belajar cara hidup dan bernapas di bawah kepekatan bayangan itu, tanpa pernah benar-benar tahu kapan matahari akan menyentuh kulit mereka lagi.”
Kususun di kepala serpihan-serpihan cerita tentang arah sejarah yang berbelok tajam ketika Daendels dari Prancis datang membawa ambisi jalan raya yang membelah punggung Jawa dan disiplin besi kolonial yang tak mengenal ampun. Tak berselang lama, muncul Raffles dari Inggris, sang petualang yang memimpin penyerangan ke jantung Yogyakarta, ibukota Kesultanan yang sebenarnya lahir dari reruntuhan megah Mataram. Sejarah bagiku kini terasa seperti ombak laut selatan yang datang bertubi-tubi.
Belum sempat satu gelombang pecah di pantai dan airnya menyusup ke pasir, gelombang berikutnya yang lebih tinggi sudah menghantam dengan gemuruh yang lebih mengerikan. Di tengah kekacauan itu, muncul Pangeran Diponegoro yang memilih jalan gerilya dalam Perang Jawa, serupa api kecil yang menyala di jantung hutan belantara melawan kolonial Eropa, yang sulit dipadamkan meski dikepung dari segala arah dan merontokkan ekonomi Netherland. Karena ia tidak membakar kayu, melainkan membakar semangat yang tersembunyi di dalam tanah Jawa, Nusantara.
“Tapi sejak Raffles menghujamkan belatinya tepat ke jantung Mataram,” lanjut Bapak Kepala, suaranya memberat seolah setiap kata adalah sebongkah batu yang jatuh ke dasar sumur. “Dan setelah luka itu menganga, Mataram tak punya pilihan selain jatuh sepenuhnya ke dalam pelukan dingin kendali langsung Netherland.”
Aku terdiam, membayangkan kekuasaan itu berpindah tangan seperti tongkat estafet yang berlumuran darah, sebagai benda yang tidak pernah benar-benar dimiliki oleh siapa pun, hanya digenggam sejenak sebelum direnggut paksa oleh tangan yang lebih kuat. Setiap penguasa baru datang dengan membawa janji-janji yang manis di lidah namun pahit di hati, meninggalkan jejak-jejak yang seringkali lebih menyerupai luka parut daripada kemakmuran yang mereka gembar-gemborkan.
"Apakah kita selalu menjadi bidak dalam permainan orang-orang Eropa, Pak?" tanyaku, merasakan bus yang kami tumpangi seolah sedang membawa kami melewati padang pertempuran yang tak kasatmata.
Bapak Kepala menatapku, matanya mencerminkan kearifan yang lelah. “Kita adalah tanahnya, Nak. Mereka yang bertempur mungkin pergi, tapi tanahnya tetap menanggung bekas luka cangkul dan sepatu laras mereka.”
“Soekapoera, sebagai bagian dari tubuh Mataram yang mulai melemah, mau tak mau harus terseret dalam pusaran arus itu. Dipaksa menyokong Belanda untuk menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro.”
Pilihan itu kurasakan seperti simpul mati yang menjerat leher. Sebagai dilema antara bertahan hidup di dalam sistem yang menindas atau melawan dengan risiko kehilangan segalanya, termasuk napas terakhir rakyatnya. Demi memudahkan alur logistik dan strategi perang yang kejam, pusat ibukota Soekapoera akhirnya dipindahkan ke Manonjaya itu, agar posisinya lebih dekat ke arah timur sebagai basis strategis wilayah Perang Jawa.
Perpindahan itu bagiku tak ubahnya seperti sebuah bidak catur yang digeser pelan oleh tangan yang tak terlihat. Gerakannya hampir tak bersuara, namun ia menentukan arah permainan seluruh papannya. Mengubah nasib ribuan jiwa yang mungkin tak pernah paham mengapa rumah mereka tiba-tiba menjadi bagian dari garis depan sebuah tragedi.
"Jadi, Manonjaya ini sebenarnya adalah sebuah monumen dari keterpaksaan sejarah?" tanyaku dengan hampir seperti bisikan.
Bapak Kepala mengangguk pelan, “Setiap bata di masjid itu, setiap jengkal tanah di sini, menyimpan rahasia tentang bagaimana kita bertahan di antara dua gajah dan harimau sedang bertarung.”
“Jadi, sebuah kota pun bisa lahir dari rahim strategi perang?” tanyaku, merasakan bulu kudukku meremang saat menyadari bahwa tanah yang kupijak mungkin pernah menjadi papan catur bagi para jenderal Eropa dan raja Nusantara.
“Bukan hanya raga manusia yang dipaksa bergerak oleh ambisi,” jawab Bapak Kepala, suaranya kini setenang air telaga namun sedalam palung laut. “Kota, urat-urat jalan, bahkan kesucian sebuah masjid pun bisa ditarik masuk ke dalam pusaran strategi. Manusia membangun ruang, namun terkadang, peranglah yang mendikte di mana ruang itu harus diletakkan.”
Demikianlah cerita Manonjaya, sebuah wilayah yang pernah memikul beban sebagai pusat pemerintahan Soekapoera dalam rentang waktu yang tidak sebentar. Jejak kebesarannya bukan hanya tertinggal pada Masjid Istana yang berdiri anggun sebagai saksi bisu yang menyimpan ribuan rahasia, melainkan juga pada denah kotanya yang tertata rapi seperti sebuah kalimat yang disusun dengan diksi yang sengaja dipilih agar bermakna ganda.
Dari pelataran Masjid Agung Manonjaya, jalan-jalan membentang lurus dan presisi, menyerupai garis-garis pada telapak tangan seorang tua yang menyimpan seluruh gurat nasib masa lalu. Semuanya menunjukkan bahwa Manonjaya tidak lahir dari sebuah ketidaksengajaan sejarah. Manonjaya adalah tanah ibukota yang dipersiapkan dengan visi yang tajam, sebuah oase yang diciptakan untuk memenuhi dahaga kebutuhan zaman yang sedang bergolak.
Namun, zaman adalah pengembara yang tak pernah betah menetap. Roda waktu kembali bergeser, membawa narasi tentang Ki Ageng Pemanahan yang dalam tutur cerita disebut-sebut sebagai sang pemersatu wilayah Sunda yang sempat tercecer seperti butiran tasbih yang putus talinya. Sebelum Eropa datang Sunda sekali lagi sempat meraih kemakmuran. Dengan mendirikan pusat kerajaan baru di Pakuan, Bogor, menjadikannya ibukota Kerajaan Pajajaran yang agung. Dalam bayanganku, Pakuan menjelma sebagai jantung baru yang dipasang dengan sangat hati-hati untuk menghidupkan kembali tubuh tua yang nyaris kehilangan ritme detaknya Kerajaan Galuh.
Kota itu adalah napas buatan bagi sebuah peradaban yang hampir pudar, namun sejarah tidak pernah sudi berhenti pada satu titik pemberhentian. İa adalah roda yang terus berputar di atas jalanan yang penuh kerikil tajam, tak pernah lelah, tak pernah benar-benar sampai.
“Apakah kejayaan itu selalu memiliki masa kedaluwarsa, Pak?” suaraku melirih, nyaris menyerupai desahan angin yang menyusup di antara celah jendela bus.
Bapak Kepala hanya menoleh, menatapku dengan sorot mata yang mengandung ribuan tahun kebijaksanaan.
“Kejayaan tidak pernah mati, ia hanya berpindah ke dalam darah yang lain.”
Dari rahim istri Sang Prabu yang berasal dari Caruban, puteri dari Ki Ageng Caruban, seorang muslimah yang membawa aroma spiritualitas baru, lahirlah seorang puteri yang kecantikannya mungkin setara dengan fajar. Dan dari garis puteri inilah, lahir seorang cucu yang kelak ditakdirkan untuk mengubah tatanan tanah Sunda secara fundamental. Membalikkan logika kekuasaan lama menuju babak baru yang lebih luas.
Garis keturunan itu terasa bagiku seperti aliran sungai bawah tanah yang diam-diam mengubah arah lanskap tanpa menimbulkan suara gemericik sedikit pun. Membawa perubahan besar melalui langkah-langkah kecil yang hampir tak disadari, hingga akhirnya dunia tersadar bahwa mereka telah berada di muara yang berbeda.
"Kadang, perubahan tidak datang dengan dentuman meriam," gumamku sambil memandang jauh ke arah perbukitan yang mulai diselimuti kegelapan. “Tapi ia datang melalui garis keturunan dan doa-doa yang dipanjatkan dalam sunyi.”
Bus terus melaju, membelah siang yang kini terasa lebih berat oleh muatan sejarah. Kami sedang menuju Cimahpar, namun batinku masih tertinggal di Manonjaya, merenungi bagaimana satu titik di peta bisa menyimpan begitu banyak luka dan harapan yang saling berpilin. Bus masih terus melaju membelah kepekatan jalanan yang mulai diselimuti kabut siang, sementara cerita Bapak Kepala terasa seperti seutas benang sutra panjang yang ditarik dari gulungan waktu yang halus, tak putus, namun sanggup mengikat seluruh perhatianku.
Aku mulai tersadar dengan cara yang paling menyakitkan sekaligus indah, bahwa sejarah bukanlah sekadar daftar nama yang beku di buku teks atau deretan peristiwa yang berdebu. Tapi sebuah percakapan panjang yang tak kunjung usai antara masa lalu yang gigih dan masa kini yang ragu. Sebuah dialog yang terkadang terdengar lirih seperti isak tangis di tengah malam, terkadang setajam mata keris yang dihunus, namun selalu meninggalkan gema yang bergetar di rongga dada, sulit untuk diabaikan begitu saja.
"Sejarah itu bukan hiasan dinding, Nak," bisik Bapak Kepala, matanya menatap lampu-lampu jalan yang berpijar sekejap lalu hilang. “Ia adalah napas yang kita hirup sekarang, meski kita sering lupa siapa yang pertama kali mengembuskannya.”
Diketahui kemudian kisah Sang Prabu, saat beliau masih dalam masa mudanya yang ranum, seorang pewaris takhta yang punggungnya belum sepenuhnya dibebani oleh berat mahkota yang dingin, yang pada suatu hari memutuskan untuk berangkat mengecek sebuah "perihal baru" yang tumbuh di tanah kekuasaan ayahnya. Perjalanan itu kurasakan seperti langkah pertama seorang pengelana yang sedang mencari cermin bagi jiwanya sendiri. Bukan sekadar inspeksi wilayah untuk mengukur batas pagar kekuasaan, melainkan sebuah ziarah batin untuk memahami di mana letak garis batas antara dirinya sebagai penguasa dan dirinya sebagai manusia fana yang merindukan cahaya.
"Beliau pergi bukan untuk menaklukkan, tapi untuk mencari jawaban," gumamku, mencoba meraba perasaan sang pangeran muda di masa itu.
Langkah kakinya kemudian membawa Sang Prabu muda menembus belantara menuju Krawang, hingga sampailah ia di depan pintu pondok pesantren Syekh Quro, sebuah tempat sunyi yang berdiri tegak serupa oase di tengah padang pasir riuh rendahnya ambisi duniawi. Pesantren itu bagaikan lampu minyak kecil yang menyala di tengah kegelapan hutan yang pekat, cahayanya tenang namun memiliki daya pikat luar biasa, menarik siapa pun yang jiwanya sedang haus akan makna yang lebih dalam daripada sekadar takhta dan harta yang bisa lapuk dimakan usia.
Di sana, di antara getaran suara doa yang mengalun lirih menyentuh langit dan derap langkah santri yang bersahaja di atas tanah liat, sebuah peristiwa yang tak direncanakan oleh manusia pun mekar dengan anggunnya.
“Kadang takdir datang tanpa ketukan pintu, tanpa pengumuman, dan tanpa tanda-tanda yang megah,” kata Bapak Kepala dengan intonasi yang begitu pelan, seolah-olah ia pun ikut hadir di sudut pesantren itu, menyaksikan pertemuan yang akan mengubah arah sejarah Sunda selamanya.
Aku terdiam, membayangkan Sang Prabu muda terpaku di depan pintu pesantren, merasakan sebuah getaran yang tidak pernah ia temukan di dalam istana. Di titik itulah, pertemuan antara tradisi lama dan cahaya baru mulai berpilin, menciptakan rajutan takdir yang lebih kuat dari baja manapun.
"Pertemuan itu," lanjut Bapak Kepala, “adalah benih yang jatuh ke tanah yang tepat. Dan kita, hari ini, hanyalah daun-daun kecil yang tumbuh dari pohon yang sama.”
Sang Prabu muda jatuh hati pada pandangan pertama, sebuah debar yang datang bukan seperti ledakan badai yang menghancurkan, melainkan serupa hujan tipis yang turun di ambang petang yang begitu tenang, begitu lirih, dan memiliki ketekunan untuk meresap jauh hingga ke ceruk akar yang paling dalam.
Ia terpikat seutuhnya pada puteri Ki Ageng Caruban yang sedang menimba ilmu di sana, pada seorang perempuan yang barangkali tak pernah menyangka bahwa tatapan sederhana di halaman pesantren yang berdebu itu akan menjadi tinta pertama yang menuliskan ulang arah sejarah sebuah bangsa. Menikahlah sang Prabu muda dengan puteri itu, sebuah peristiwa yang kurasakan seperti jembatan yang dibangun di atas jurang perbedaan. Menyatukan dua semesta yang kontras antara dunia keraton yang kaku dibalut protokol emas kedaton dunia pesantren yang berdenyut dalam kesederhanaan spiritual yang bening.
"Cinta itu adalah diplomasi langit yang paling jujur, Pak," ucap Dede, merasakan betapa takdir sering kali bekerja di balik punggung.
Bapak Kepala mengangguk, tatapannya melembut. “Sering kali, sebuah imperium besar bukan disatukan oleh pedang, melainkan oleh ijab kabul yang diucapkan dengan gemetar namun tulus.”
Dari rahim pernikahan suci itu, lahirlah dua permata, dua bintang yang muncul di belahan langit yang berbeda, namun memantulkan satu sumber cahaya yang sama. Salah satu dari mereka adalah Dewi Rara Santang, sebuah nama yang kelak tidak hanya bergetar di telinga rakyat Sunda, tetapi juga melintasi batas-batas samudera dan membelah cakrawala sejarah dunia. Ia kemudian dipersunting oleh seorang penguasa dari tanah Mesir-Palestina, membawa garis keturunan Sunda berkelana melintasi laut yang ganas dan gurun yang membara.
Seperti benih yang terbawa angin jauh dari pelukan tanah asalnya, hanya untuk membuktikan bahwa akar yang kuat sanggup tumbuh di mana pun ia dijatuhkan. Dan dari rahim Dewi Rara Santang itulah, lahir Syarif Hidayat, sosok yang kelak gelarnya akan bergema seperti suara lonceng besar yang dipukul pelan namun suaranya menjalar tanpa henti ke berbagai sudut waktu: Sunan Gunung Djati, yang lahir di tanah Timur Tengah menurut sebagian besar tutur cerita, sebuah kelahiran yang kurasa menyerupai jembatan gaib antara dua dunia yang terpisah jarak ribuan mil, antara kemilau padang pasir dan hijau lumut tanah leluhur yang sedang menunggu kepulangannya tanpa pernah benar-benar menyadarinya.
“Apakah ia merasa terpanggil untuk pulang ke tanah yang belum pernah ia lihat itu, Pak?” tanyaku dengan suara yang hampir tertahan di tenggorokan, membayangkan betapa beratnya kerinduan pada tanah asal yang hanya dikenal lewat dongeng ibunya.
Bapak Kepala terdiam sejenak, membiarkan deru mesin bus menjadi latar belakang heningnya. “Mungkin,” jawabnya dengan intonasi yang begitu dalam, “atau mungkin tanah asal itu memiliki nyawa sendiri, yang selalu memanggil anak-cucunya untuk pulang tanpa perlu undangan resmi, tanpa perlu surat cinta. Darah selalu tahu ke mana ia harus kembali mengalir.”
Bus kami mulai melambat saat memasuki jalanan yang lebih sempit menuju Cineam. Di luar sana, kegelisahan di tanah asing mulai merayap naik, namun di dalam benakku, sejarah ini justru baru saja benderang, sejarah tentang kepulangan, tentang garis keturunan yang tak putus, dan tentang bagaimana kita semua adalah pengembara yang sedang berjalan menuju titik berangkat yang lama kita lupakan.
Menengok rahim sejarah tempat ibunya berasal, Syarif Hidayat akhirnya menginjakkan kaki di Caruban, bersimpuh di hadapan pamandanya, Pangeran Cakrabuana. Pertemuan itu kurasakan seperti dua anak sungai yang telah menempuh ribuan mil jalur berbeda, namun akhirnya bertemu dalam satu muara yang tenang sebagai simpul gaib yang mempertemukan kembali garis-garis takdir yang sempat terburai oleh jarak dan waktu.
Tak berhenti di sana, langkah kakinya yang membawa aroma padang pasir dan doa-doa khusyuk itu berlanjut menuju Pakuan Pajajaran. Ia datang hendak membasuh kaki sang kakek, memohon izin serta restu untuk menyebarkan apa yang ia yakini sebagai agama lurus, sebuah cahaya baru yang ia bawa di dalam dadanya.
Aku membayangkan pertemuan di istana Pakuan itu menyerupai percakapan sunyi antara dua zaman yang sedang bersinggungan, antara yang satu berdiri tegak menjaga soko guru tradisi lama, sementara yang lain membawa angin perubahan yang tak terelakkan. Sang Prabu, sang kakek yang telah senja dan sepuh berdiri di persimpangan jalan yang menyakitkan. Antara kasih sayang yang meluap kepada cucu tercinta dan tanggung jawab seberat gunung untuk menjaga tatanan leluhur yang telah ia bangun dengan tetesan darah dan keringat sepanjang hayatnya.
“Sang Prabu tidak tega untuk menolak mentah-mentah permintaan cucunya,” kata Bapak Kepala, suaranya kini nyaris berupa bisikan yang tertelan deru angin malam, seolah takut mengusik arwah masa lalu. “Namun, ia pun tidak secara gamblang memberikan perintah.”
Keputusan yang menggantung dan hanya setengah diucapkan itu terasa seperti sebuah pintu jati besar yang dibiarkan terbuka sedikit saja. Cukup lebar bagi embusan angin perubahan untuk menyelinap masuk, namun tidak cukup luas untuk menghapus jejak masa lalu sepenuhnya.
Dari celah itulah berdiri sebuah pusat kekuasaan baru bernama Kesultanan Cirebon, sebagai sebuah tatanan yang lahir dari aliran darah yang sama, namun membawa kiblat yang berbeda. Ia anak sah dari rahim Pajajaran, sekaligus fajar dari perubahan besar yang perlahan namun pasti mulai menggeser wajah batin tanah Sunda.
"Apakah setiap kelahiran yang baru harus selalu membunuh bagian dari masa lalu, Pak?" tanyaku lirih, merasakan sesak yang aneh di ulu hati.
Bapak Kepala tidak menjawab, ia hanya menatap ke luar jendela di mana pepohonan tampak seperti bayang-bayang hitam yang tak berujung. Barangkali sedang membayangkan Sang Prabu dalam kesendiriannya. Sang Prabu yang menatap nanar wilayah-wilayah yang dulu ia persatukan kembali dengan jerih payah yang tak terperi pasca tragedi Bubat yang memilukan. Negeri yang pernah ia rangkai selembut mozaik itu kini terasa kian menjauh dari genggamannya, serupa anak kandung yang tumbuh dewasa dan memilih jalan setapaknya sendiri tanpa menoleh lagi.
Dalam kesunyian singgasana yang kian dingin, ia mungkin merasakan getir yang tak pernah berani dicatat oleh para pujangga dalam kronik resmi, getir seorang penguasa agung yang dipaksa menyaksikan zaman bergerak melampaui dirinya, meninggalkannya menjadi monumen sunyi.
Konon, dalam puncak keletihan jiwanya, ia memilih untuk moksa di kedalaman hutan Sancang. Hutan itu, dalam imajinasiku, adalah ruang terakhir yang disediakan semesta bagi mereka yang telah lelah oleh hiruk-pikuk sejarah. Sebuah tempat di mana manusia akhirnya menanggalkan seluruh gelar dan atribut duniawi untuk kembali menyatu dengan tanah dan akar. Moksa baginya bukanlah sekadar menghilang tanpa jejak, melainkan serupa embun pagi yang perlahan larut ditelan udara. Tak lagi kasatmata oleh pandangan manusia, namun ia tetap abadi menjadi bagian dari siklus kehidupan yang jauh lebih besar dan lebih suci.
"Ia tidak pergi," gumamku sambil menatap bulatan matahari yang mengintip di balik awan. “Ia hanya memilih untuk menjadi sunyi.”
Bus kami mulai melambat. Perjalanan ini sebentar lagi akan menyentuh tanah, namun cerita yang baru saja kuserap akan terus mengalir, serupa sungai yang tak pernah benar-benar sampai ke laut, karena ia selalu kembali menjadi hujan di pegunungan hati. Bus terus merayap membelah rimbun pepohonan, sementara sisa-sisa cerita itu menggantung di udara kabin yang pengap, serupa doa yang terputus di tengah kalimat yang mengambang, mencari telinga yang sudi menampungnya hingga tuntas.
Di antara gemuruh mesin yang monoton dan detak waktu yang tak kenal ampun, aku mulai tersadar bahwa sejarah bukanlah sekadar panggung bagi sang pemenang atau nisan bagi mereka yang kalah. Tapi adalah kesanggupan jiwa untuk menerima bahwa perubahan adalah satu-satunya tamu yang akan selalu datang tanpa perlu diundang sebagai air bah yang tak mungkin dibendung dengan tangan kosong.
“Tetapi sang cucu, Syarif Hidayat, memiliki alasan yang jauh lebih tajam dari sekadar beda keyakinan,” kata Bapak Kepala, suaranya turun satu nada, memberat seperti seseorang yang baru saja membuka lapisan peti rahasia yang terkubur berabad-abad. Ia mengeja kata-katanya dengan penuh khidmat, seolah setiap suku kata yang ia lepaskan adalah beban sejarah yang tak boleh dijatuhkan dengan tergesa. “Ia melihat bayang-bayang Portugis mulai memanjang di atas tanah Sunda Kelapa.”
Nama itu, Portugis, seketika terasa seperti pintu besi yang tiba-tiba berderit terbuka, menyingkap cakrawala dunia yang begitu luas dan mengerikan, menjadi samudra luas yang menghubungkan bangsa-bangsa, layar-layar kapal raksasa yang tampak seperti sayap burung pemangsa dari negeri antah-berantah, dan pelabuhan yang menjadi meja judi tempat harapan dan ancaman dipertaruhkan dalam satu tarikan napas.
Sebelumnya, Pajajaran memang telah mengulurkan tangan melalui perjanjian Padrao, sebuah jabat tangan lintas samudra yang mulanya tampak seperti janji kemakmuran. Namun di balik itu, menyimpan bayang-bayang risiko yang merayap diam-diam seperti rayap di tiang penyangga keraton.
"Apakah mereka datang sebagai kawan atau sebagai lawan?" tanyaku lirih, merasakan dinginnya angin yang menyapu rerimbun mulai menyusup ke sela jendela bus. Aku membayangkan pelabuhan Sunda Kelapa di masa itu sebagai sebuah jantung yang tak pernah berhenti berdenyut, tempat di mana angin laut yang asin membawa serta bahasa-bahasa asing yang terdengar seperti mantra, barang-barang baru yang berkilau, namun juga membawa ambisi yang tidak selalu ramah kepada tuan rumah.
“Jadi, sejak semula tanah Sunda memang selalu terbuka bagi dunia luar, Pak?”
“Ya,” jawab Bapak Kepala, matanya menatap kejauhan seperti hendak menembus kegelapan jalanan. “Kerajaan Sunda sejak masa jayanya telah membuka diri seluas samudra terhadap negeri-negeri di atas angin.”
Sebutan “Negeri di Atas Angin” berdenting di telingaku seperti dawai kecapi yang dipetik pelan, sebuah legenda yang hidup di antara lipatan peta tua dan bisikan para pelaut kawakan, kumpulan bangsa-bangsa yang datang hendak membawa aroma rempah yang ditukar dengan teknologi senjata yang mematikan, serta gagasan-gagasan baru yang mampu meruntuhkan keyakinan yang selama ini dipegang teguh.
Karena itulah, lanjutnya, Gajah Mada dari Majapahit memiliki ambisi yang begitu membara untuk menaklukkan Kerajaan Sunda Galuh, sebuah kerajaan yang memegang kunci pintu gerbang perdagangan dunia melalui pelabuhan-pelabuhan pentingnya. Namun menatap ambisi itu seperti arus pasang yang ingin menyeragamkan seluruh Nusantara dalam satu genggaman besi, dan di saat yang sama menorehkan luka bernanah bagi mereka yang hanya ingin berdiri tegak di atas martabatnya sendiri.
“Sebab pada akhirnya, hukum sejarah itu sederhana namun kejam,” lanjut beliau sambil menatap kami dalam-dalam. “Siapa pun yang sanggup menguasai pelabuhan, ialah yang akan memegang kendali atas masa depan. Dan Syarif Hidayat tahu benar, masa depan tidak boleh dibiarkan jatuh ke tangan orang-orang yang hanya ingin merampas aromanya.”
Di ujung jalan, bus mulai memberikan tanda untuk berbelok, pada perjalanan yang seolah tak pernah sampai. Sebab ini perjalanan kata Bapak Kepala, tak ubahnya gelombang samudra yang tak pernah lelah menghantam karang. Satu pecah, seribu lainnya datang dengan gemuruh yang lebih pekak.
Bapak Kepala bercerita tentang Kertanegara, sang raja yang konon dengan dingin memotong telinga utusan Mongol-Tiongkok, sebuah tindakan simbolik yang keras dan berdarah, serupa pernyataan perang yang dituliskan langsung di atas kulit wajah. Menegaskan bahwa Jawa dan Nusantara bukanlah sekerat daging yang bisa dicabik-cabik begitu saja oleh bangsa dari seberang lautan.
Dalam ruang imajinasiku, peristiwa itu meledak seperti kilat yang membelah langit yang pekat. Cukup berbahaya dan menakutkan, tapi adalah satu-satunya cara untuk menegaskan bahwa harga diri tidak memiliki harga tawar.
Sementara itu, di sisi lain peta, Sunda-Galuh tumbuh menjadi semacam duri yang tertanam dalam daging tatanan yang diinginkan para penguasa besar. Ia adalah wilayah yang dianggap tidak pernah sepenuhnya tunduk, sebuah eksistensi yang menyerupai batu kecil di dalam sepatu kekuasaan. Memang tidak besar wilayahnya, tapi keberadaannya cukup untuk mengganggu setiap langkah megah para penakluk, membuat mereka selalu meringis kesakitan di tengah pawai kemenangan.
“Tetapi maksud kami yang sebenarnya,” kata Bapak Kepala, suaranya tiba-tiba meluruh, berubah menjadi getaran yang sangat personal, seolah ia sedang membicarakan luka yang ia simpan sendiri di balik bajunya. “Sebagai manusia Sunda, kita hanya ingin punya independensi. Kita ingin otonom. Kita tidak memiliki hasrat untuk hidup di bawah ketiak kendali orang lain, siapa pun itu.”
Kalimat itu jatuh dengan dentum yang berat, seperti batu besar yang dilemparkan ke dalam sumur yang dalam, menciptakan riak panjang yang getarannya merambat hingga ke dasar dadaku. Aku terdiam, mencoba membayangkan keberanian orang-orang yang memilih untuk berdiri tegak di atas tanah sendiri, meski tahu benar bahwa risikonya adalah kehancuran. Itulah mengapa dengan kepala tegak berani berkalang tanah di medan Bubat, sebuah tragedi yang hingga kini masih terasa seperti luka yang menolak mengering dalam sejarah. Sebuah palagan di mana harga diri dipertahankan dengan nyawa sampai tetes darah terakhir. Karena mati sebagai manusia merdeka jauh lebih terhormat daripada hidup sebagai abdi yang terbelenggu.
“Begitu pula dengan Dipati Ukur,” lanjut beliau, suaranya kini setajam sembilu selembut doa. “Ia tidak melawan karena haus akan kuasa. Ia melawan karena jiwanya memberontak, ia menolak untuk tunduk sepenuhnya pada kehendak Mataram yang ingin menyeragamkan segala warna. Hanya karena gagal menyerang Batavia.”
"Apakah kemandirian memang selalu menuntut tumbal yang begitu besar, Pak?" tanyaku, merasakan bus mulai mengerem perlahan, seolah ia pun tahu bahwa kami sedang memasuki gerbang kenangan yang suci. Bapak Kepala menatapku, senyumnya tipis namun sarat akan getir.
“Tanah yang merdeka hanya bisa subur jika disiram oleh keberanian untuk berkata tidak, Nak. Meski kata 'tidak' itu harus dibayar dengan kesunyian yang panjang.”
Bus akhirnya berhenti dengan desisan mesin yang panjang, tepat di tepian jalan Cimahpar. Di luar, udara dingin malam menyambut kami, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa sejarah yang baru saja kami bicarakan, seolah-olah setiap kata yang terucap di dalam bus kini menjelma menjadi kabut yang memeluk bumi kelahiran sang Bapak Kepala.
Tapi sejarah bukanlah sebuah ladang gandum yang selalu tunduk pada keinginan jemari individu. Tapi sebagai badai yang tak punya telinga untuk mendengar keluh kesah para pengelana. Demikian penguasa Soekapura akhirnya harus tunduk pada titah agung raja besar Mataram sebagai kenyataan pahit yang mengepung eksistensi serupa bayang-bayang raksasa yang mustahil untuk dilompati.
Dan dalam putaran nasib yang ironis, Mataram sendiri perlahan lepuh di kaki Belanda, menjelma pohon beringin tua yang dari luar tampak perkasa, tapi di dalamnya keropos dimakan rayap kekuasaan kolonial yang bekerja dalam sunyi yang rakus.
Perjanjian Mataram-VOC di Kartasura tahun 1705 kemudian lahir sebagai sebuah naskah kutukan. Kesepakatan itu barangkali ditandatangani dengan tinta hitam yang pekat, namun dampaknya terasa seperti ukiran tajam di atas batu nisan kedaulatan yang tak bisa dihapus oleh hujan ribuan musim. Kekuasaan pun kembali bergeser, lincah dan licin seperti air yang selalu menemukan celah di sela bebatuan untuk terus mengalir ke arah yang paling rendah.
“Kekuasaan itu seperti air, Nak,” gumam Bapak Kepala sambil menatap kerutan di telapak tangannya sendiri. “Ia tak pernah benar-benar berhenti, ia hanya berpindah wadah, dan seringkali wadah itu bukan milik kita.”
Dengan tegaknya Kesultanan Cirebon, Soekapura tersedot masuk ke dalam orbit kekuasaan baru itu, seolah ditarik oleh gravitasi sejarah yang tak terelakkan. Perjalanan panjang belum menemui titik henti yang absolut. Soekapura kemudian jatuh langsung ke bawah kendali dingin tangan Belanda, berubah bentuk serupa sungai yang dipaksa berbelok oleh bendungan raksasa yang angkuh. Hingga akhirnya, ia memperbarui diri menjadi Tasikmalaya sebagai fase puitis yang dikenal sebagai Soekapura Ngadaun Ngora.
Bak sehelai daun muda yang dengan berani menyembul dari batang tua yang lelah berkerak. Lalu membawa aroma harapan yang segar, namun akarnya tetap menghunjam dalam di tanah ingatan yang tak pernah benar-benar bisa ia lepaskan.
Bus melaju dengan ritme yang semakin pelan, seakan ia pun sedang merenungi cerita Bapak Kepala yang terus ditarik seperti benang sutra panjang tanpa putus dari kepompong waktu. Aku tersentak menyadari bahwa sejarah bukanlah sebuah garis lurus yang membosankan menuju masa depan, melainkan jalinan lingkaran-lingkaran nasib yang saling bertaut erat, simpul rumit tentang ambisi kekuasaan, riuh perdagangan, getir perlawanan, dan kerinduan purba manusia untuk tetap berdiri tegak sebagai dirinya sendiri di tengah arus besar zaman yang ingin menghanyutkan segalanya.
Dari Manonjaya, waktu tiba-tiba terasa berjalan lebih lambat, seolah ia sedang menghela napas panjang untuk mengumpulkan tenaga. Setelah mata kami dimanjakan oleh Masjid Soekapoera yang berdiri tegak seperti penjaga kenangan yang tak pernah tidur, kami disambut oleh pasar kecil yang berdenyut dengan suara tawar-menawar yang hangat sebuah melodi kehidupan yang bersahaja.
Orang-orang di sini berjalan tanpa sedikit pun rasa tergesa, seolah mereka telah memegang rahasia kuno bahwa hidup adalah untuk dirasakan setiap detiknya, bukan untuk dikejar sampai kehabisan napas.
"Kita akan turun sebentar lagi," ujar Bapak Kepala, suaranya terdengar melembut, seirama dengan ketenangan di luar sana.
Bus yang kami tumpangi mendesis pelan lalu berhenti, memberi kesempatan bagi tulang-tulang yang kaku untuk kembali meregang dan bagi mata untuk menyesap setiap sudut pemandangan yang tersaji.
Aku ingin segera menjejakkan kaki ke tanah, dan menengadah menatap langit yang mulai sedikit mendung, tampak abu-abu yang menenangkan. Di momen itu, aku merasa seolah perjalanan ini bukan lagi soal berpindah dari satu koordinat peta ke koordinat lainnya, melainkan sebuah prosesi mengupas lapisan-lapisan waktu untuk menemukan jati diri yang selama ini terkubur di bawah debu perjalanan.
"Apakah kau merasakan itu?" tanya Bapak Kepala sambil menghirup udara dalam-dalam di tanah yang disebut Cineam. “Udara di sini mengandung sisa doa dari abad-abad yang lalu.”
Aku hanya terdiam, membiarkan angin dingin menyentuh pipiku, menyadari bahwa setiap tempat yang kami lalui adalah sebuah buku yang baru saja dibuka halaman pertamanya.
Perjalanan dari Hazet menuju Cineam telah usai dengan roda bus yang kembali berputar setelah kami turun. Perjalanan yang membawa kami memasuki babak baru yang terasa jauh lebih sunyi. Sebuah transisi yang seolah-olah ditenun dari benang kesunyian. Jalan setapak kami lalui dengan mengambil arah kanan, lalu berkelok-kelok manja mengikuti kontur perbukitan yang molek, naik dan turun menyerupai napas panjang seorang pertapa yang dihela perlahan di tengah semadi.
Perbukitan di kejauhan itu berdiri tegak menyerupai jajaran buku-buku raksasa di rak semesta, yang halaman-halamannya masih tertutup rapat, menunggu jemari nasib untuk membukanya dan membacakan rahasia yang tersimpan di balik hijaunya hutan.
Rumah-rumah panggung khas perkampungan muncul sesekali di sela rimbunnya pepohonan, seperti noktah-noktah kehidupan yang mencoba bertahan di tengah keagungan alam. Matahari siang memberikan rona keemasan yang perih pada kaca jendela bus yang bergetar.
“Sebentar lagi kita sampai,” bisik Bapak Kepala. Suaranya lembut merambat di udara kabin, terselip nada kebanggaan yang tak sanggup ia sembunyikan sepenuhnya pada kangen kampung halaman. Nada seorang anak manusia yang akhirnya mencium kembali aroma tanah kelahirannya setelah sekian lama berkelana di rimba pengasingan.
Aku melemparkan pandangan jauh ke luar jendela, merasakan sebuah getaran yang sulit dijinakkan oleh kata-kata. Muncul perasaan aneh seperti sedang pulang ke sebuah alamat yang bahkan belum pernah benar-benar kuhuni. Cineam, di mataku saat itu, bukan sekadar titik akhir dari perjalanan. Menjadi salah satu simpul cerita yang dengan magis mengikat benang sejarah yang baru saja kami bicarakan, ingatan kolektif yang berdebu, dan perjalanan pribadi yang penuh kegelisahan menjadi satu jalinan utuh yang tak terpisahkan.
Di kejauhan, kebun-kebun salak yang tadi sempat ia ceritakan mulai menampakkan dirinya, berdiri rapat dan tegak seperti barisan prajurit rahasia yang sedang menjaga sebuah misteri besar, menunggu waktu yang tepat untuk dibisikkan kepada mereka yang sudi mendengar.
Dan tepat di saat itulah aku tersentak oleh kesadaran yang tajam bahwa perjalanan bukan hanya soal perpindahan raga dari kantor Disdik Tasikmalaya menuju Cineam, melainkan sebuah migrasi batin dari satu mitos menuju kenyataan, dari sejarah yang hanya bisa kudengar, menjadi sejarah yang kini sedang kupahat dengan telapak kakiku sendiri.
Dari cerita pertama saat Bapak Kepala mengulurkan telunjuknya dan berkata, “Ini Masjid Agung Manonjaya. Masjid istana Soekapoera,” gerakannya begitu pelan dan khidmat, serupa seorang kurator yang sedang membuka tabir lembaran kitab tua yang sudah berabad-abad menunggu untuk dibaca kembali. Kalimatnya bukan sekadar informasi geografis, melainkan sebuah obor kecil yang menyulut api di dalam kepalaku yang menerangi lorong-lorong gelap waktu yang sebelumnya hanya berupa kabut samar tak berwujud.
"Masjid itu adalah detak jantung yang menolak berhenti, Nak," tambahnya, seolah membaca isi pikiranku. Kata-kata itu membuatku merasa seolah sedang berdiri di ambang pintu tipis yang memisahkan hari ini dengan masa lalu yang agung, di mana setiap bongkah batu yang tersusun dan setiap lengkung kubah yang men