Jual Es Keliling

Mungkin, menghuni rumah di punggung perbukitan yang berundak adalah sebentuk keputusan setengah...

Jual Es Keliling

10 Feb 2026
307 x Dilihat
Share :

Jual Es Keliling

Mungkin, menghuni rumah di punggung perbukitan yang berundak adalah sebentuk keputusan setengah hati dari orang-orang dewasa. Namun bagi bocah yang ringkih, siapakah yang benar-benar berdaulat menentukan ke mana arah angin menderu? Seorang anak hanyalah sehelai daun yang pasrah dipeluk oleh badai takdir keluarga besar yang tak terelakkan. Demikian saat aku kembali berdiri memandangi rumah nenekku di masa dewasa, seolah aku melihat diriku yang dahulu sebagai seorang pertapa mungil yang memilih sunyi di ketinggian yang serupa noktah kecil di atas kanvas Tuhan yang luas. Membawaku menjadi seorang yang belajar mencintai kesepian, bahkan sebelum aku benar-benar mengerti bahwa waktu adalah nama lain dari kehilangan.

Sejak dahulu hingga kemudian, menjadi ada semacam kerugian yang harus dipikul dengan punggung melengkung, namun ada pula keuntungan kecil yang diam-diam menyelinap saat aku menempati rumah nenekku, menjadi serupa embun yang membasahi tanah gersang tanpa suara. Dengan jaraknya yang jauh dari urat nadi mata air membuat setiap tetes air yang jatuh ke ember terasa seperti butiran permata yang diperas paksa dari keringat bumi. Menjadi bukan lagi sekadar cairan kehidupan, melainkan sebuah perjuangan yang menyerupai doa-doa panjang, serupa doa yang diulang berkali-kali ke langit yang bisu dan tuli, seolah-olah kita sedang mengetuk pintu langit yang sedang terkunci, sebelum akhirnya dijawab oleh rintik hujan yang jatuh dengan sisa-sisa kemurahan jiwa semesta.

Di atas hamparan tanah yang menyimpan retakan-retakan kering serupa luka parut pada kulit bumi, air bukan sekadar komoditas primer manusia. Tapi sebuah kemewahan seperti yang diajarkan dalam perihnya rasa haus yang menggarit tenggorokan, yang tajam dan menyiksa serupa duri-duri rindu yang tak kunjung terbasuh oleh pertemuan, dan betapa mahal ongkos penghematan sebagai pengajaran kesadaran yang dibentuk oleh alam.

Keadaan memaksa untuk mencintai dengan sepenuh hati setiap tetes air dengan khidmat dan seksama, seolah-olah kami sedang memandangi sisa umur yang kian hari kian menipis. Merasakan setiap detik yang terbuang ketika hitungan berkurang dalam tetesan yang jatuh ke dasar wadah menjadi sebuah irama yang mengingatkan bahwa yang mengalir bukan hanya air, melainkan nyawa itu sendiri. Demikian kebutuhan dan ketersediaan air bagi rumah-rumah di punggung dataran bukit seperti waktu yang mencair, sebuah jam pasir basah yang terus mengalir dalam penghematan tenaga dan kerja mengangkut air sepulang mandi dan mencuci di bendungan air dam. 

Namun, di atas segala kesulitan yang mencekik soal air, rumah-rumah di punggung dataran bukit tetap berdiri tegak dengan keangkuhan yang tajam. Seolah menantang langit dengan atap-atapnya yang kusam dan tajam bagai anak panah yang dilesatkan ke langit untuk merobek pintu langit agar langit segera bocor dan mengalirkan air hujan. Rumah-rumah yang berderet renggang dan rapat itu terus membusungkan dada, berebut posisi demi tepat menghadap bibir jalan besar kampung. Seakan ingin menjadi saksi paling depan atas sirkulasi napas kehidupan suasana kampung yang terus berdenyut. 

Dari balik gorden yang setengah tertutup untuk menghalangi tikaman cahaya matahari langsung menembus kaca jendela, aku sering menyaksikan lalu-lalang manusia dengan langkah-langkah kakinya yang berat dan ringan saat datang dan pulang demi seteguk air yang membasuh lelah saat tiba di rumah. Meski raga-raga di dalamnya sudah memar dan lelah karena harus mengangkut beberapa pikulan ember setiap hari. Itulah rutinitas yang menyerupai hukuman bagi tubuh, di mana pundak-pundak manusia menghitam dan mengeras oleh gesekan kayu pikulan yang kasar. Itulah syarat mutlak bagi keberlangsungan hidup yang jauh dari sumber air. Setiap pikulan air adalah jembatan antara rasa haus dan harga mati saat malam mulai mendesak dan kerongkongan menuntut haknya.

Lelah yang mengendap serupa ampas kopi di dasar cangkir adalah harga yang mesti dibayar demi sepetak jalan di depan rumah sebagai sebuah panggung utama kehidupan. Dari ambang lawang, ia menyesap keramaian dunia, menyimak pundak-pundak yang memikul beban ke sawah, atau tangan-tangan yang menjinjing harapan ke ladang. Suara para penjaja keliling dari legitnya gula hingga gurihnya bakso hadir sebagai rima harian yang kadang ajek, namun tak jarang tak tentu rimba. Di sana, ia mencatat setiap debu yang terbang dari pijakan kaki dan deru napas yang telah menempuh berkilo-kilometer perjalanan antar-kampung menjajakan barang dagangannya.

Dari rumah di tepian jalan itu, terbaca tanda-tanda kelangsungan hidup. Kelangsungan tentang yang ringan, yang berat, yang terus bergerak, dan mereka yang menolak menyerah pada putaran nasib. Meski sepi kerap mendera saat sahutan pembeli lebih sering menyapa ruang kosong kantong bolong ketimbang alat tukar di tengah sistem barter tetap menjadi urat nadi pada sebuah kohesi sosial yang jauh lebih kental daripada derasnya arus ekonomi formal. Meski jalanan kian berimpit desakan rumah dan tampak lengang di bawah terik yang membara atau malam yang pekat, suasana di sana tak pernah benar-benar mati. Ia tetap berdenyut, tidak kaku seperti batu-batu putih penyusun jalan, seolah memberi ruang luas bagi semesta untuk bermeditasi.

Jalanan kampung itu memiliki denyutnya sendiri. Menjadi sebuah misteri yang tersirat, seolah sekeping dunia tengah menahan napas dalam penantian panjang antara kepulangan malam dan kelahiran siang. Di saat manusia-manusia penghuninya luruh dalam mimpi di rahim rumah masing-masing, atau masih bersimbah peluh di ceruk sawah dan tegalan, mataku tetap terjaga.

Aku setia menunggu bayangan-bayangan melintas. Menunggu para penjaja yang membawa harapan dalam jinjingan dan pikulan, atau mereka yang pulang dengan tangan hampa dari ladang. Sering kali, yang hadir hanyalah iring-iringan domba, kerbau, atau sapi sebagai sebuah parade bisu yang meramaikan bentangan jalan yang membelah punggung perbukitan. Di sana, di atas tanah yang berundak, kehidupan tetap berparade meski sunyi menjadi penonton tunggalnya.

Jalanan lebih sering memeluk sunyi yang dalam. Mungkin ia tengah takzim menghormati titah matahari untuk bersembunyi, atau mungkin karena sebuah kampung selalu menyimpan ritme rahasia sebuah kepastian yang tak lagi bisa dieja oleh mereka yang telah 'menjadi asing' di tanah kelahirannya sendiri.

Begitulah aku, raga dewasa yang kembali mencoba meniti irama ganjil di jalanan ini. Keramaian yang kucari barangkali tengah bersembunyi rapat di balik debu yang diterbangkan angin dingin nan kering, atau terselip di balik bayang-bayang pepohonan yang merayap memanjang serupa jari-jari waktu yang sedang meraba siang, mencoba menyentuh senja yang renta, tempat orang-orang masa lalu meramaikan jalanan itu telah bermuara pada renta dan tanah kuburnya.

Di balik tirai debu yang menari dalam berkas cahaya temaram, kesunyian bukan lagi sekadar ketiadaan suara kegaduhan dalam kepala. Tapi adalah ruang tunggu bagi ledakan makna. Di sela sesak napas dan atmosfer yang mencekam, aku menemukan sebuah paradoks yang ganjil akan riuh yang paling megah dan gema yang paling luas justru sering kali lahir dari rahim rumah-rumah yang paling sunyi.

Dalam keheningan itu, pikiran tidak sekadar melamun. Tapi tumbuh liar tak terjamah oleh bising dunia luar yang menyerupai akar pohon tua yang merayap di kegelapan, bekerja dalam diam namun memiliki kekuatan laten untuk menghancurkan cadas di kedalaman tanah. Semua itu dilakukan demi satu tujuan primordial: menemukan arah pulang di rumah yang senyap ini, saat imajinasi tidak dibatasi oleh dinding, melainkan diperkuat oleh isolasi dari hiruk-pikuk kesibukan kota.

Keberadaan rumah di punggung bukit yang sekian lama terasa serupa pengasingan dingin, tiba-tiba menemukan pembenaran puitisnya saat kuresapi di usia dewasa. Sejak transformasi pertama mewujud dalam sebentuk kotak kaca di tengah ruang tamu sebagai letak sebuah televisi yang hadir bukan sekadar jalinan sirkuit elektronik, melainkan portal katalis bagi imajinasi masa kanak. Cahaya biru yang berpendar dari layarnya menyentuh permukaan batinku, mengubah kesunyian yang semula mencekam menjadi hamparan kanvas yang siap dilukis dengan warna-warna baru.

Di punggung bukit ini, kami berada cukup tinggi untuk melihat dunia, dan melalui kotak itu, dunia akhirnya membalas tatapan kami. Rumah yang dulu hanya berisi debu dan sunyi, kini menjadi laboratorium tempat mimpi-mimpi raksasa dirakit, membuktikan bahwa untuk menaklukkan cakrawala, seseorang terkadang harus memulai dari titik yang paling terpencil. Dengan antena di ketinggian yang sering dianggap sepi, menjadi tidak perlu mendongak pongah atau berdiri kaku seperti tiang bendera yang menantang amuk angin badai dengan wajah tegang. 

Bagi rumah di punggung bukit, sebatang bambu sederhana yang dipancang apa adanya telah cukup untuk menyapa langit. Hasilnya, gambar di layar pun hadir dengan jernih; bersih dari seliweran semut hitam yang biasanya gemar menggerogoti pandangan dan mengaburkan kenyataan di layar kaca rumah-rumah lembah. Di sini, kami mungkin bermukim jauh dari mata air, namun kami berada selangkah lebih dekat dengan cahaya yang turun dari angkasa.

Sering kali aku termenung menatap ke bawah, membayangkan rumah-rumah di hamparan lembah yang mesti bersusah payah menjulurkan antena dengan kabel-kabel panjang yang berbelit tampak serupa akar pohon tua yang merambat putus asa di kegelapan tanah demi mencari secercah mentari. Di ketinggian yang nyaris tak dianggap ini, sinyal terasa lebih setia dan penurut. Seolah-olah di punggung bukit ini, langit melengkung lebih rendah, merelakan gelombang elektromagnetik untuk lebih mudah diajak berkompromi.

Namun, setiap cahaya selalu membawa bayangannya sendiri, sebagaimana setiap ketinggian menyimpan sunyinya yang tajam. Saat kemarau tiba, punggung bukit ini menjelma pangkuan panas yang tak mengenal ampun, menjadi sebuah tungku raksasa yang memanggang harapan-harapan kecil kami. Angin yang berembus bukan lagi pembawa sejuk, melainkan embusan napas panjang dari bumi yang tengah dirundung demam.

Ketika terik matahari menyengat kulit serupa sentuhan api tak kasatmata yang meninggalkan jejak perih di pori-pori, dari ambang lawang, orang-orang menunggu, dan aku pun turut menunggu. Menanti kedatangan penjaja es keliling yang suaranya serupa oase di tengah gersangnya penantian.

“Es... Barade es!”—suara penjaja es itu membelah terik matahari yang membatu, serupa retakan di atas hamparan kaca yang panas. Suaranya menjadi satu-satunya yang berani menantang sunyi di punggung bukit.

“Sabaraha, Mang, pangaosna?” sahut sebuah suara dari ambang pintu, sebuah tanya yang meluncur dari dahaga yang sudah lama menggantung. Sahutan dari mereka yang belum tahu berapa harga yang harus dibayar untuk sekerat dingin di tengah tungku musim ini.

Demikianlah keadaanku sepulang salat Jumat, saat matahari bertakhta tepat di puncak kepala serupa hakim agung yang dingin dan tanpa ampun. Ia tak memberi ruang bagi pembelaan, hingga membuat tulang-tulangku melunak. Di ambang lawang, kadang aku sempat terpaku, ikut menunggu seperti orang-orang lainnya yang menanti suara yang sanggup membelah terik.

“Es... Barade es!”

Teriakan itu akhirnya datang, menyayat udara yang statis, yang disambut “Sabaraha, Mang, pangaosna?” 

Sebuah sahutan dahaga meluncur dari orang sebelah. Mencoba menawar sekerat dingin di tengah tungku musim yang memanggang. Namun, untuk segelas es tak selamanya dan tak selalu mampu memadamkan api yang sudah menyusup ke dalam sumsum untuk anak bocah yang tak punya sandaran mengadu. Saat tak punya uang aku pun mundur ke dalam rumah yang pengap, mencoba menegakkan punggung di depan buku-buku untuk persiapan TPB. 

Aku berupaya membangun benteng ketekunan sebagaimana petuah Pamanku. Meski nyatanya tekad itu serapuh daun kering di ujung musim yang sekali sentuh, ia akan hancur menjadi debu. Niat mulia untuk belajar itu akhirnya bertekuk lutut di hadapan kantuk yang mengendap-endap serupa pencuri mahir yang melenyapkan suara langkah di atas lantai kayu. Baru beberapa baris kalimat kuserap, kelopak mataku mulai seberat timah, hingga aku tumbang dan tersungkur ke dalam pelukan tidur tanpa sempat berpamitan pada kesadaran.

Buku-buku yang semula terbuka dengan ambisi besar itu kini kehilangan wibawanya, beralih fungsi menjadi sepasang bantal darurat yang kaku dan dingin. Halaman-halamannya yang penuh dengan deretan angka dan huruf mendadak meringkuk pasrah di bawah beban kepalaku. Kertas-kertas itu kusut, menyerah pada tekanan pelipis, dan perlahan ternoda oleh rembesan air liur yang mengalir tanpa izin. Menjadi sebuah pengkhianatan kecil dari tubuh yang terlalu penat untuk sekadar bersandiwara.

Cairan itu meresap ke dalam serat kertas, melunakkan sudut-sudut tajam pengetahuan, dan menghapus tinta-tinta yang tadinya tampak begitu penting. Di atas lembar yang lembap itu, terciptalah gumpalan noda yang meluas secara acak, membentuk sebuah siluet kepulauan asing, menjadi sebuah peta rahasia tentang kekalahan manusia atas lelahnya sendiri. Peta itu tidak menuntun siapa pun pada harta karun atau kejayaan, melainkan menunjuk pada satu titik sunyi: di mana batas antara keteguhan tekad dan kerapuhan raga akhirnya lebur dalam dengkur yang tak tertahankan. Di sanalah aku terdampar, menjadi tawanan dari rasa kantuk yang lebih berkuasa daripada mimpi-mimpi masa depan yang tertulis di dalam buku tersebut.

Kadang aku terbangun dengan dada yang sesak oleh rasa bersalah saat memandangi kertas yang lecek. Seolah ia sedang menghakimiku dengan tatapan nanar. "Belajar itu bukan sekadar mengumpulkan niat dalam kepala," bisik nuraniku yang pedih, “tapi sebuah peperangan panjang melawan diri sendiri yang seringkali lebih suka cepat menyerah pada kenyamanan tidur.”

Terkadang dalam keadaan begitu, sebelum kantuk melahap mataku, belum sempat aku benar-benar memulihkan fokus, atau aku yang sedang merapikan sisa-sisa kantuk, tiba muncul sebuah panggilan dari luar memecah kesunyian rumah seperti lemparan batu yang menghancurkan cermin ketenangan di atas permukaan telaga. 

Suara Mang Uyep, pamanku, menyeruak masuk dengan intonasi yang khas, dengan lantang mengucap sesuatu yang menyimpan kehangatan sebilah kayu bakar. "Haya! Ini ada si Mamat di depan!" teriaknya, dengan nada suaranya yang selalu mengandung racikan ganjil. Separuh perintah yang tak bisa ditolak, dan separuh canda yang mengejek. Seolah ia sangat paham bahwa keponakannya ini sedang bertarung antara rasa malas yang akut dan keinginan tersembunyi dari gangguan rutinitas yang membosankan.

Tak berselang lama, seraut wajah yang sudah sangat kukenal tiba-tiba saja sudah muncul di balik jendela. Kain gorden yang tersingkap menampakkan Mamat yang berdiri di sana dengan santai. Mulutnya komat-kamit, mengunyah sesuatu dengan ritme yang lambat, seolah waktu baginya hanyalah sebuah sungai tenang yang tak akan pernah kering. Ia menatapku dengan mata jenaka yang seakan bisa membaca sisa-sisa mimpi di keningku.

"Mat, ada apa siang-siang begini ke sini?" tanyaku dengan suara serak, mencoba mengumpulkan kembali nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi.

Mamat tidak langsung menjawab. Ia justru mengangkat sebuah plastik bungkusan mi instan mentah yang sudah kempes dan remuk di tangannya. Melihat itu, rasa penasaran segera membunuh sisa-sisa ambisiku untuk belajar persiapan TPB setelah awalnya terbunuh oleh kantukku.

"Makan apa kamu, Mat? Bagi atuh sedikit, kelihatannya enak sekali," kataku sambil menjulurkan tangan lewat jendela. Berharap ia mau berbagi sedikit kenikmatan sederhana itu. Namun Mamat dengan sigap menarik plastik itu menjauh dari jangkauanku, disertai sebuah seringai nakal terukir di wajahnya yang berkeringat. Lalu ia menuangkan sisa remah-remah mie yang asin itu ke kepalan tangannya, lalu memasukkannya sekaligus ke dalam mulut hingga pipinya menggembung.

"Ini mah jatah terakhirku, Hay. Kamu kelamaan tidurnya, jadi telat," ucapnya dengan mulut penuh, suaranya terdengar lucu namun telak.

Aku hanya bisa tertawa kecil. Seperti sebuah tawa yang berada di perbatasan antara rasa kesal karena gagal mendapat camilan dan rasa geli melihat tingkah sahabatku itu. Dalam momen yang sepele tersebut, panas kemarau yang semula terasa mencekik mendadak terasa sedikit lebih ringan. Kesunyian belajar yang membebani pundak seketika luruh, berganti menjadi sebuah percakapan kecil yang hangat. Seperti jeda napas yang diberikan Tuhan di tengah pendakian panjang yang belum tampak ujungnya. 

Di luar sana, angin memang masih membawa napas yang kering, namun di dalam ruang kecil ini, kehadiran seorang kawan membuat waktu terasa kembali berdenyut. Seperti sebuah cerita lama yang tiba-tiba menemukan iramanya yang paling jujur.

Mamat yang memegang bungkusan mie instan, setelah isinya nyaris lumat, barulah ia menyerahkan bungkusan itu kepadaku. Sebagai persembahan sisa dari sebuah ritual kecil yang telah ia rayakan sendirian dengan penuh khidmat. Ia memberikannya seolah memberikan sisa-sisa reruntuhan yang masih berharga.

“Biasa, ini makanan favorit saya,” ujarnya santai. Sementara matanya berbinar serupa mata air di tengah padang gersang. Dengan binar milik seorang bocah yang baru saja menemukan rahasia sederhana tentang bagaimana cara mencuri kebahagiaan dari kemiskinan Mamat menuntaskan cerita. “Mie mentah diremas sampai hancur, dicampur bumbu-bumbunya, lalu langsung dimakan deh. Renyah, Hay… enak sekali.”

Ia terus mengunyah dengan suara kecil yang ritmis. Bunyi kerenyahannya terdengar ganjil, serupa langkah kaki yang ragu-ragu di atas hamparan kerikil sunyi. Suara itu seolah sedang mengejek keheningan yang mengepung kami, menciptakan sepotong irama kehidupan yang terlalu jujur di tengah gerahnya siang yang membatu.

Aku menerima bungkusan lecek itu dengan senyum tipis yang getir. Di dalamnya, yang tersisa hanyalah serpihan-serpihan kecil yang nyaris menyerupai debu, atau mungkin bubuk mesiu yang siap menyulut ledakan sunyi di dadaku. Semuanya tampak serupa sisa-sisa cerita indah yang telah sampai pada bab pemungkas, sebagai erpihan yang hanya menunggu waktu untuk luruh dan benar-benar lenyap ditelan perutku.

“Karena ini makanan kesukaanku,” lanjutnya dengan nada bangga yang murni, “jadi cepat-cepat kuhabiskan. Kamu mah sukanya minta saja, hehe. Kapan atuh kamu jajan mie instan sendiri?” tanyanya, disusul tawa pendek yang jenaka.

Tawa Mamat yang ringan namun berakar pada keakraban menahun itu adalah jenis persahabatan yang tak lagi memerlukan kamus penjelasan atau basa-basi yang melelahkan. Aku hanya bisa mengangkat bahu, merasakan sedikit cubitan tersinggung yang segera lumat oleh rasa terhibur.

Di antara kami, bau bumbu mie instan yang tajam dan gurih itu menguar, bertabrakan dengan udara kemarau yang menyengat. Ia menciptakan rasa lapar yang tiba-tiba menusuk lambung serupa lapar yang datang tanpa diundang, serupa kenangan masa kecil yang mendesak untuk diingat kembali di masa dewasa.

Lalu di dalam diam itu, aku menyadari bahwa mie instan mentah bisa menjadi simbol kecil dari sebuah kedaulatan tentang memiliki uang jajan di saku sendiri dan hak untuk memilih apa pun yang ingin dikunyah tanpa perlu menanti restu atau belas kasihan siapa pun, jika punya koin di kantong celanaku.

“Makanya, sekarang kita jualan es lagi yuk! Biar punya uang jajan sendiri buat beli mie instan banyak-banyak,” lanjutnya, dan ajakan Mamat sebagai maksud kedatangannya. Dengan nada suaranya yang mendadak melompat, lebih bersemangat, seperti seorang penemu yang baru saja mendapat sebuah pencerahan besar dari sebuah kesimpulan. 

Meski sebenarnya rencana itu sesederhana memindahkan air ke dalam botol. Rupanya, kedatangan Mamat ke jendela kamarku bukan sekadar untuk memamerkan camilan, melainkan membawa sebuah peta rencana kecil yang ia yakini akan mengubah muramnya siang menjadi perayaan.

Dan aku hanya menarik napas panjang sebagai sebuah napas yang terasa berat karena harus menyaring udara yang penuh debu dan keraguan. “Tapi niatku siang ini mau belajar, Mat,” kataku pelan. 

Suara itu terdengar sangat rapuh di telingaku sendiri, sebuah upaya terakhir untuk mempertahankan benteng tekad yang pondasinya sudah mulai goyah. Buku yang tergeletak pasrah di dekatku seolah-olah ikut menatapku dengan tatapan dingin, menagih janji setia yang tadi sempat kuucapkan. Namun di sisi lain, ajakan Mamat terasa seperti sebuah pintu yang tiba-tiba terbuka, menawarkan jalan setapak menuju petualangan kecil di bawah naungan matahari sore yang mulai miring.

Mamat membaca keraguanku dengan ketajaman yang tak terduga. Seolah ia melihat isi kepalaku semudah membaca tulisan di papan tulis yang baru saja dibersihkan. “Mumpung sekarang hari Jumat, Hay. Sekolah diniyah juga libur,” bujuknya, dengan wajahnya mendekat ke jeruji jendela, menyodorkan rayuan yang sulit ditolak. 

“Kita bisa jualan es sampai magrib. Terus kita bisa punya uang sendiri… dan yang paling penting, kita bisa makan es gratis sepuasnya!”

Kata-katanya meluncur dengan semangat yang menular, serupa angin kecil yang tiba-tiba datang dan memaksa daun-daun yang diam untuk mulai menari. Ia tidak menawarkan pekerjaan, ia menawarkan sebuah pelarian dari rasa bosan yang membelenggu.

“Waduh, Mat… bentar lagi ujian TPB,” jawabku, masih mencoba menimbang-nimbang berat antara masa depan dengan kesungguhan belajar dan kesenangan sesaat di dalam timbangan kepala. Pilihan itu terasa seperti dua jalan setapak yang sama-sama menggoda sebagai jalan sunyi antara belajar demi masa depan yang masih tertutup kabut, atau berjalan keliling kampung menjajakan es sambil merayakan kebebasan di bawah langit biru. 

Tidak setiap hari kami melakoni peran ini. Sebuah peran yang memaksa tangan-tangan mungil kami akrab dengan kasar dan debunya jalanan. Biasanya, kami baru memutuskan untuk turun ke jalan saat waktu terasa sedikit lebih longgar, seolah ada celah kecil di tengah himpitan tugas sekolah atau perintah orang tua yang mengizinkan kami untuk sejenak menjadi 'buruh kecil'.

Kami menunggu momen ketika dunia tampak sedikit lebih ramah dan matahari tidak terlalu bengis menyengat, memberikan kesempatan bagi anak-anak seperti kami untuk menjajal nasib. Di sanalah, di bawah langit yang membentang luas, kami belajar tentang pertukaran yang keras. Belajar perihal bagaimana caranya memeras butiran keringat yang asin hingga benar-benar luruh, lalu merawatnya dengan sabar agar menjelma kepingan rupiah. Setiap koin yang terkumpul bukan sekadar alat tukar, melainkan bukti otentik bahwa di pundak yang belum seberapa lebar ini, kami telah mencoba memikul sebagian kecil beban dunia.

Tiba-tiba, bayangan wajah Mang Kosman melintas di benakku. Beliau adalah komandan kami, pemilik termos es yang menitipkan kepercayaan kepada kami untuk menjinjing beban seberat tanggung jawab orang dewasa. Termos itu memang berat, kerap kali membuat pundak terasa seakan hendak tanggal dari engselnya. Namun, di balik rasa nyeri itu, ia adalah simbol harga diri. Sebuah mandat yang memaksa kami berdiri sedikit lebih tegak, merasa sedikit lebih dewasa daripada angka usia yang sebenarnya kami sandang.

Pada hari-hari sekolah, meski kami memohon-mohon untuk berjualan setengah hari, Mang Kosman sering kali memasang wajah tembok yang tak tertembus. Wajahnya akan berubah sangat serius, dan dengan suara yang berat ia akan berkata, “Kalian harus belajar! Jangan jadi seperti saya! Hidup hanya sebagai tukang es.”

Suaranya keras dan menggelegar, namun di balik ketegasannya, ada nada lirih seorang ayah yang tidak ingin melihat anak-anaknya tersesat di labirin kemiskinan yang sama dengan dirinya. Kata-kata itu sering kali terngiang di kepalaku, serupa lonceng kecil yang terus berdenting, mengingatkan bahwa masa depan tidak akan pernah bisa dibangun hanya dengan mimpi-mimpi yang menguap di jalanan, melainkan dengan ketabahan untuk duduk diam dan menekuni halaman demi halaman buku yang membosankan.

Aku kembali menatap Mamat, melihat kilat harapan yang menggantung di matanya yang jujur. Di luar, matahari memang masih bertahta dengan angkuh, namun bayangan sore perlahan-lahan mulai memanjang di atas tanah, seolah-olah waktu sedang merayap pergi. Keputusan itu kini menggantung di udara, terjepit di antara aroma mie instan dan aroma kertas buku serupa selembar daun yang belum juga jatuh, menunggu embusan angin kecil yang akan menentukan ke arah mana ia harus menyerahkan diri.

Maka, untuk memastikan ajakannya bukan sekadar angin lalu yang mudah berubah arah, aku bertanya pelan. Aku mencoba mencari kepastian di balik semangatnya yang meledak-ledak, seperti seorang nelayan yang melempar jangkar untuk mengukur kedalaman air yang tenang namun penuh teka-teki.

“Emang Mang Kosman mau ngasih kita jualan, Mat?” tanyaku, menatapnya dengan setengah harap dan setengah curiga. Pandanganku tertahan di ambang pintu hatiku sendiri. Aku ingin melangkah masuk ke dalam petualangan itu, namun kakiku masih berat oleh rantai keraguan.

Mamat mengangguk dengan kecepatan yang mengejutkan, seolah pertanyaan itu hanyalah kerikil kecil yang mudah ia tendang dari jalanan. “Makanya itu aku jemput kamu sekarang karena sudah ada kepastian. Tadi pagi-pagi sekali aku sudah lari ke Cibantar, lalu ketemu Mang Kosman,” katanya dengan nada yakin, serupa pedagang yang menawarkan kabar gembira yang tak boleh ditunda sedetik pun.

Ia menyeka keringat yang membanjiri dahinya, sebuah jejak perjuangan yang masih basah. Napasnya masih sedikit terengah, seakan sisa perjalanan jauh itu masih menempel di tubuhnya seperti debu jalanan yang enggan lepas. Dalam sorot matanya, aku menemukan sebuah keyakinan yang sederhana, tentang keyakinan anak kampung yang percaya bahwa rencana kecil, jika dilakukan dengan tulus, bisa menjelma menjadi petualangan besar yang tak terlupakan. 

“Beliau bilang stoknya banyak, Hay. Cuaca panas begini, es pasti laku keras seperti air di gurun!” tambahnya lagi, mencoba menyulut api di dalam dadaku.

Namun, kata-katanya belum sepenuhnya mampu meruntuhkan dinding ragu yang kubangun. Keraguan itu masih menggantung serupa awan tipis yang keras kepala, yang enggan pergi dan terus menutupi cahaya kepastian yang seharusnya benderang. Di balik itu semua, seekor naga kemalasan diam-diam sedang melilit tubuhku. Kemalasan yang lahir dari rahim panas siang yang telah memeras habis tenaga, membuat tubuhku ingin meringkuk di dalam rumah seperti siput yang merasa paling aman di balik cangkang kerasnya. Buku yang ternganga di hadapanku menjadi saksi bisu atas peperangan batin ini, menjadi sebuah drama tarik-menarik antara kewajiban yang dingin dan keinginan yang membara.

Tetapi di sudut pikiran yang lain, bayangan es yang dingin dan manis mulai menari-nari menggoda, menyerupai fatamorgana yang berkilau di tengah padang gersang. Jika aku menampik ajakannya hari ini, bagaimana mungkin aku bisa mencicipi nikmatnya es sepuas hati tanpa rasa bersalah? Bagaimana pula aku bisa menggenggam lembaran uang jajan yang bisa kubelanjakan tanpa harus menundukkan kepala meminta belas kasihan Kak Laela dan Kak Iman? 

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di dalam kepalaku seperti roda gerigi yang berderak kencang. Memaksaku menimbang ulang keputusan yang tampak sepele, namun sebenarnya memiliki berat yang setara dengan harga diri.

Uang ujian TPB memang masih sebulan lagi. Waktu bagiku saat ini terasa seperti hamparan padang luas yang ujungnya belum terjamah mata. Masih banyak hari untuk menyepi dan belajar, masih banyak malam untuk menebus segala ketertinggalan. Namun, sebuah suara kecil di sudut hati memperingatkanku. Aku tidak ingin terjerumus ke dalam lubang kebiasaan buruk yang sering kulihat pada anak-anak lain: belajar mati-matian hanya saat maut ujian sudah di depan mata, serupa pelari yang baru memacu jantungnya ketika garis finis tinggal sedepa. Kebiasaan itu bagiku adalah penyakit yang merayap di bawah kulit, yang datang diam-diam membusukkan kemajuan, menciptakan kegagalan yang datang perlahan, dan akhirnya menyisakan angka-angka merah di rapor terasa seperti luka sayatan kecil yang memalukan.

Aku memandang buku di depanku sekali lagi sebagai jendela menuju dunia yang luas. Lalu aku beralih menatap Mamat di pintu menuju kegembiraan yang nyata. Dalam hening itu, sebuah pertanyaan yang lebih tajam dari sembilu menusuk jantungku. Apakah aku benar-benar anak yang rajin karena cinta pada ilmu, ataukah aku hanya pandai bersandiwara, terlihat tekun di permukaan sementara di dalamnya aku hanyalah seorang penunda yang lihai mencari pembenaran?

Pertanyaan itu menggantung lama di udara yang pengap, serupa gema yang tak kunjung menemukan dinding untuk memantul. Di luar jendela, angin kemarau berembus lirih, menerbangkan debu-debu kecil yang menari-nari dalam cahaya matahari, tampak seperti partikel waktu yang terbuang percuma. Sementara di dalam sini, aku masih mematung di persimpangan kecil yang sunyi, menyadari bahwa setiap pilihan yang kuambil hari ini adalah benih yang diam-diam sedang menentukan ke arah mana pohon masa depanku akan tumbuh.

Mamat bukanlah negosiator yang mudah ditaklukkan oleh sekadar alasan-alasan klise. Ia tetap bergeming di sana, berdiri kokoh serupa akar pohon tua yang menolak dicabut meski badai berkali-kali mencoba mengguncang tubuhnya. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak. Tapi justru dengan sorot matanya yang kian tajam, seolah sedang memindai setiap retakan pada tembok keraguanku untuk ia runtuhkan satu per satu. Mamat sangat mengenal tabiatku, tentang keraguanku hanyalah sebuah jembatan rapuh yang hanya membutuhkan satu dorongan kecil agar aku berani menyeberang menuju keputusan.

“Haya, bukannya kamu lagi latihan baca puisi buat malam pesta kenaikan kelas nanti?” tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan itu mengubah arah pembicaraan secepat pemain catur yang memindahkan bidak ke posisi tak terduga, dan membuatku sedikit limbung.

“Tidak. Aku sedang belajar untuk persiapan TPB,” potongku cepat, sedikit defensif. Kata-kataku meluncur serupa pintu yang dibanting rapat, sebagai upaya putus asa untuk mengunci rapat-rapat sisa niatku agar tidak terbang tertiup ajakannya. Namun, Mamat tidak mundur setapak pun. Ia justru mengulas senyum kecil, jenis senyum kemenangan dari seseorang yang merasa telah menemukan kunci rahasia di balik laci yang terkunci. 

“Iya, aku tahu kamu anak rajin. Tapi benar, kan, kamu bakal baca puisi nanti? Di setiap pesta kenaikan kelas, kamu selalu menjadi suara yang dipanggil ke atas panggung.” Nada suaranya santai seperti mengandung kebenaran yang sulit untuk kubantah dengan logika di kepala anak kecil.

“Terus, apa hubungannya dengan jualan es?” potongku lagi, kali ini dengan intonasi yang sedikit menantang, meski jauh di lubuk hati aku sadar bahwa ia sedang menggiringku masuk ke dalam jebakan logikanya yang unik.

Ia mengangkat alisnya tinggi-tinggi, lalu berkata dengan semangat yang meluap-luap, “Hubungannya besar, Hay! Masalahnya.. suaramu itu sebenarnya punya nyawa, tapi kamu selalu memenjarakannya. Kamu kalau bicara terlalu lirih, seolah-olah kamu takut suaramu akan memecahkan langit.” Ia berhenti sejenak, menatapku dalam-dalam, lalu melanjutkan dengan nada yang makin hidup, “Makanya, kamu perlu latihan olah vokal. Teriak-teriak memanggil orang untuk beli es adalah panggung latihan terbaik! Anggap saja jalanan itu panggungmu saat nanti baca puisi.”

Tanpa aba-aba, ia segera memeragakannya dengan kepercayaan diri yang meluap, berdiri tegak serupa aktor kecil di atas panggung kampung yang berdebu. “Es! Es! Mang, beli es? Es dingin!” dengan suaranya yang melengking tajam membelah kesunyian siang yang membara, memantul di dinding-dinding rumah, dan seketika membuatku refleks tertawa lepas meski sempat mencoba menahannya. 

“Begitu, Haya! Begitu cara memanggil dunia! Hayu atuh!” katanya lagi, matanya berbinar-binar seperti seorang bocah yang baru saja menemukan formula jenius untuk mengubah tembaga menjadi emas.

Tapi aku masih menggeleng pelan. Masih ada rasa malu yang merayap di tengkuk membayangkan diriku harus berteriak lantang di sepanjang gang-gang kampung. Tapi dari balik kelakarnya yang jenaka, terselip sebuah kebenaran yang terasa sangat masuk akal, bahwa keberanian tidak datang sebagai hadiah, melainkan sebagai hasil dari kebiasaan kecil yang ditempa secara berulang-ulang di bawah terik matahari.

“Biar penampilanmu bisa sehebat siapa itu namanya... kata Pak Ateng, guru sekolah kita,” lanjutnya, kini dengan nada yang lebih berat dan serius. Mendengar nama itu, aku langsung terdiam. Nama Pak Ateng selalu membawa bayangan akan kelas-kelas seni yang magis, di mana ia memperlakukan kata-kata bukan sekadar deretan huruf, melainkan makhluk hidup yang memiliki detak jantung. 

Aku teringat ucapannya yang selalu ia dengungkan di telingaku. “Jadilah seperti Rendra.” Nama itu bergema di dalam kepalaku serupa dentang pelantang suara di tengah sunyi subuh hari. Pak Ateng berbicara Rendra, yang katanya dijuluki Si Burung Merak, dengan suaranya dikenal sanggup menggetarkan pilar-pilar kekuasaan, yang tubuhnya adalah panggung yang bergerak, dan yang kata-katanya mampu membakar udara. 

Membayangkan diriku disandingkan dengan sosok raksasa seperti itu terasa seperti mimpi yang terlalu angkuh untuk dipeluk, namun di saat yang sama, ia adalah panggilan sunyi yang sangat menggoda nuraniku. Membuatku kembali menatap Mamat yang tersenyum puas, sebuah senyum yang menandakan ia tahu persis bahwa ia baru saja mengetuk pintu yang paling rapuh di benteng pertahananku. 

Di luar sana, matahari memang masih menyengat dengan kejam, namun percakapan kecil ini terasa seperti hembusan angin yang mulai mengubah arah kompas hidupku saat hari berjalan pelan, dan nyaris tak terdengar gesekannya, yang menjalarkan keraguan tetap belajar dengan berdiam di rumah atau pasti akan membawaku melangkah menuju tempat kediaman Mang Kosman

Tapi aku masih terdiam jauh lebih lama dari yang seharusnya, membiarkan keheningan merambat di antara kami seperti kabut tipis yang enggan beranjak. Kata-kata Mamat tentang puisi, resonansi suara, dan bayang-bayang Rendra berputar di dalam kepalaku serupa gema di dalam gua yang tak mau berhenti memantul. Rasanya sungguh ganjil saat ia datang membawa misi jualan es, dengan cara melambungkan jauh ke arah panggung vokal dan kedaulatan diri untuk punya uang jajan. Seolah-olah, di balik dinding termos es yang dingin dan berat yang akan kami jinjing keliling kampung nanti, tersembunyi sebuah panggung latihan rahasia bagi seorang pemuda yang sedang tersesat mencari suaranya sendiri.

"Haya, hidup itu bukan cuma tentang membaca kata-kata orang lain di buku," gumam Mamat lagi, suaranya kini melirih seolah ia sedang membisikkan sebuah rahasia besar alam semesta. “Kadang kamu harus jadi kata-kata itu sendiri.”

Kalimatnya menjalar di dalam dadaku, sebagai dua wajah dunia yang bertolak belakang dan saling bertubrukan dengan keras. Dunia pertama adalah dunia kedisiplinan yang kaku, tentang buku-buku pelajaran yang menganga lebar dengan tatapan menuntut, dengan halaman-halaman yang merindukan sentuhan jemari, serta bayangan TPB yang berdiri tegak serupa tembok raksasa yang memisahkan aku dengan masa depan. Dunia kedua adalah dunia gerak yang dinamis sebagai lekuk jalan kampung yang membara, pada hentakan suara memanggil pembeli yang memecah langit, dan tawa lepas bersama Mamat, serta kebebasan mungil yang hanya bisa dicicipi ketika sepasang kaki melangkah tanpa beban pikiran yang membelenggu. Keduanya bak dua arus sungai yang bertemu di satu muara, menciptakan pusaran air yang mengaduk-aduk di kepalaku hingga aku sulit menentukan ke mana arah kemudi harus kuputar.

Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu yang selama ini luput dari pengamatan batinku. Mungkin belajar tidak selamanya berarti harus mematung di hadapan tumpukan kertas. Mungkin, ada sari-sari pelajaran yang hanya bisa diserap di luar dinding rumah, di bawah cambukan terik matahari, pada setiap suara yang dipaksa keras agar tidak tenggelam oleh bisingnya dunia, dan pada rasa malu yang perlahan-lahan disuling menjadi keberanian yang murni. 

Gagasan Mamat tentang latihan vokal terdengar sangat bersahaja, namun di dalamnya tertanam sebuah filosofi yang tajam bahwa suara seseorang tidak akan pernah menemukan kekuatannya melalui teori di ruang tertutup, melainkan melalui keberanian untuk beradu dengan riuhnya kehidupan nyata.

“Seperti Rendra,” bisikku pelan, hampir tak terdengar, seolah nama itu adalah mantra suci yang berat untuk diucapkan. Nama itu menggetarkan relung jiwaku. Rendra yang diucapkan oleh anak kecil bukan sekadar sang tokoh penyair yang merangkai rima, ia adalah manifestasi suara yang hidup, yang namanya mampu mengguncang singgasana, dan yang membuat setiap diksi terasa seperti napas panjang yang mendesak untuk didengarkan. Membayangkan diriku berdiri di panggung, membacakan baris-baris puisi dengan suara yang lantang dan dada yang membusung, membuat jantungku berdegup kencang, sebagai sebuah ketakutan yang nikmat, sebuah keinginan untuk mencoba yang selama ini kupendam rapat-rapat.

Aku kembali menatap Mamat yang masih setia menanti di balik jendela. Ia berdiri dengan sikap santai, seolah semua percakapan berat ini hanyalah ajakan remeh tanpa muatan makna yang dalam. Namun, justru kesederhanaan yang jujur itulah yang akhirnya meruntuhkan sisa-sisa pertahananku. Ia tidak menjanjikan masa depan yang muluk-muluk. Tapi hanya menawarkan sebatang es, sekeping uang jajan, dan sebuah ruang untuk berteriak sepuas hati. Sebab terkadang benar bahwa sering kali hidup kita tidak berbelok karena sebuah keputusan besar yang direncanakan dengan matang, melainkan karena sebuah langkah kecil yang awalnya terlihat tidak berarti.

“Jadi bagaimana, Hay? Apa bukumu mau dibaca terus sampai dia bosan melihat wajahmu yang mengantuk itu?” canda Mamat, memutus lamunanku.

Angin kemarau berembus masuk melalui celah jendela, membawa butiran debu halus yang menari-nari di udara seperti partikel waktu yang melayang tanpa arah tujuan. Aku merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang keputusan yang bukan sekadar memilih antara menekuni buku pelajaran atau menjajakan es keliling, melainkan memilih identitas diriku yang sesungguhnya. Apakah aku akan tetap menjadi anak laki-laki yang bersembunyi di balik bayang-bayang literasi, atau menjadi manusia yang berani melempar suaranya ke tengah-tengah jalanan kampung?

Dalam keheningan yang panjang itu, aku menyadari bahwa keraguan ini bukanlah sebuah kelemahan, melainkan ruang napas yang diperlukan sebelum keberanian benar-benar lahir. Ia adalah jeda di antara dua bait puisi yang membuat makna cerita terasa lebih meresap ke dalam sukma. Dan di tengah jeda itu, ajakan Mamat tidak lagi terdengar sebagai gangguan yang menyebalkan, melainkan sebuah panggilan lirih yang mencoba membukakan pintu yang selama ini kukunci dari dalam.

Aku menarik napas panjang, mengisi paru-paruku dengan udara panas yang terasa penuh dengan kemungkinan. Hari yang terasa seperti selembar halaman kosong yang putih bersih, menunggu untuk ditulisi dengan tinta keringat dan suara, dan mungkin tanpa kusadari sebelumnya, sebagai langkah pertamaku menuju panggung besar itu tidak dimulai dari genggaman mikrofon atau sorotan lampu lampu panggung, melainkan dari gagang termos es yang harus kujinjing, dari urat leher yang harus dikeraskan, dan dari keberanian kecil untuk pertama kali berseru kepada dunia. “Es… es… siapa mau beli es?”

Aku akhirnya menutup buku itu dengan gerakan yang sangat perlahan, seolah-olah sedang menyelimuti seorang bayi yang sedang tidur. Penutupan itu bukanlah sebuah tanda menyerah pada ilmu, melainkan sebuah pengakuan jujur bahwa pada sebuah hari, semesta sedang menyiapkan kurikulum yang berbeda bagiku. Ada kalanya hidup tidak berjalan lurus dan kaku seperti garis-garis hitam di halaman buku tulis. Sebuah jalan seringkali berbelok tajam, menyimpang ke arah yang tak terduga, bahkan terasa seperti gangguan kasar atas rencana-rencana masa depan yang telah kita susun dengan rapi di atas kertas. Namun, justru di tikungan-tikungan kecil yang tajam itulah, seseorang sering menemukan serpihan dirinya yang lain. Sebagai sebuah diri yang selama ini tersembunyi dengan rapi di balik tirai kebiasaan dan ketakutan.

Mamat masih berdiri menungguku di sana. Dengan setia dan sabar seperti bayangan yang menolak meninggalkan tubuhnya meski senja hampir tiba. Ia tidak lagi melontarkan kata-kata bujukan. Hanya memberikan senyum kecil yang tipis, seolah ia adalah seorang saksi bisu yang tahu bahwa benih keputusan telah berkecambah dan mulai merayap naik di dalam dadaku. Di matanya, ajakan jualan es mungkin hanyalah strategi sederhana untuk mengisi kantong dengan uang jajan, tetapi bagiku, ajakan itu telah bermetamorfosis menjadi sesuatu yang jauh lebih luas. Menjadi sebuah ritus pendewasaan, atau sebuah latihan keberanian untuk menjadikan suara yang tidak lagi tenggelam dalam kebisingan dunia.

"Hayu, Hay? Keburu mataharinya pulang," ucapnya lirih, hampir seperti sebuah bisikan doa. Dan aku mulai membayangkan jalanan kampung yang membara, tentang bagaimana udara panas akan mencoba mencuri suaraku, dan tentang rasa malu yang pastinya akan datang mencekik leher pada langkah-langkah awal. Tetapi bukankah setiap panggung megah selalu bermula dari sebuah langkah pertama yang canggung dan gemetar? Bukankah setiap suara yang lantang dan menggetarkan itu dulunya adalah suara kecil yang penuh keraguan dan kecemasan? 

Mungkin Mamat benar dengan logikanya yang polos. Saat berteriak menawarkan es adalah latihan vokal yang paling jujur dan telanjang. Bukan hanya di hadapan guru yang memberi nilai atau teman sekelas yang memuji, melainkan di hadapan wajah kehidupan yang dingin dan tak acuh. Sampai akhirnya aku pun berdiri, meraih sepasang sandal yang sudah tipis dimakan jalanan, lalu menatap sekali lagi pada buku yang tadi kutinggalkan. Halaman-halamannya yang diam itu tampak tidak memprotes keputusanku. Seolah mengerti bahwa belajar tidak selalu berarti harus mematung dan membatu. Ada bab-bab kehidupan yang hanya bisa dipahami saat otot tubuh bergerak, saat kejernihan suara diuji oleh jarak yang membentang, dan saat sepasang mata harus beradu dengan tatapan orang-orang asing di sepanjang jalan.

Di ambang pintu rumah, aku merasakan atmosfer hari itu seketika berubah warna. Panas kemarau yang menyengat tidak lagi kulihat sebagai gangguan yang menyiksa. Namun menjelma menjadi latar panggung yang agung bagi sebuah cerita yang mungkin akan kusimpan rapat dalam ingatan hingga berpuluh-tahun kemudian. Dan mungkin suatu hari nanti, ketika takdir benar-benar membawaku berdiri di atas panggung yang sesungguhnya untuk membacakan puisi, aku akan tersenyum kecil mengenang satu hal tentang latihan vokal pertamaku bukanlah di ruang kelas yang sejuk atau di depan cermin yang jujur, melainkan di jalanan kampung yang berdebu, dengan suara yang awalnya malu-malu namun akhirnya berani memecah langit: “Es… es… siapa mau beli es?”

Kami pun melangkah keluar bersama, menyongsong terik yang masih pongah di puncak langit. Jalanan di hadapan kami terbentang luas serupa bait-bait puisi yang belum sempat usai ditulis, menanti jejak-jejak kaki kami untuk menggenapkan rimanya. Aku pun tersadar, bahwa masa muda mungkin memang memiliki hakikat seperti ini. Pada sebuah hamparan yang dipenuhi pilihan-pilihan kecil yang tampak remeh dan sederhana, namun diam-diam tengah menempa besi mental kami di atas panggung kehidupan, dan membentuk wujud siapa kami di masa depan.

Dan di tengah langkah yang pelan namun pasti itu, aku merasakannya untuk pertama kali sebuah kesadaran yang lirih namun tajam. Ternyata, suara yang selama ini kucari-cari di kejauhan, yang kupikir sedang menungguku di ufuk depan sana, sesungguhnya tidak ada di mana-mana. Suara itu tengah tumbuh, berakar, dan berdenyut kuat di dalam dadaku sendiri. (Bersambung)

Perspektif

Scroll