Sebelum cahaya matahari benar-benar membelah ufuk langit, pagi di desa kami hanyalah selembar kain kelabu yang lembap, dingin, dan berbau tanah basah. Ia menggantung rendah di udara, seperti tirai kusam yang enggan disibakkan, seolah pagi sendiri ragu untuk memulai hari. Suara azan subuh dari Musala Darul Abrar, yang dikumandangkan oleh salah satu di antara kami, para santri pengajian Kang Usup dan Ceu Tati, melayang pelan dan terdengar seperti rintihan kerinduan yang tersesat dan memantul di antara dahan-dahan pohon yang meranggas.
Di jam-jam rawan seperti itu, dalam kantuk yang belum dituntaskan, meski wajah masing-masing sudah dibasuh wudhu, dan berjalan tangga demi tangga panjang dari mushala ke pemandian, menyambut hari dalam kesunyian pagi yang bukan sekadar sunyi, melainkan selimut berat yang menekan dada, dan setiap langkah kaki di atas tanah basah terasa seperti ketukan lirih pada pintu nasib yang belum juga terbangun.
Aku sering merasa hidupku adalah sebuah naskah yang ditulis dengan tinta yang hampir habis. Dengan huruf-hurufnya yang samar, getir, dan dipenuhi spasi kosong yang tak pernah benar-benar sanggup diisi oleh tangan takdir yang menggurat kepingan-kepingan nasib.
Karena kepergian yang perlahan menjelma satu-satunya kosakata yang paling fasih diucapkan oleh rumah kami. Dinding-dinding bambu yang mulai rapuh seakan menyimpan ingatan tentang aroma tubuh Ibu. Tentang bau sabun, keringat, dan dapur, yang kini hanya bisa membisu, memerangkap sisa kehangatan yang pelan-pelan menguap ke angkasa.
Rumah dam itu berdiri seperti mulut yang lupa caranya memanggil nama, menganga, tapi tak bersuara. Kadang aku menyentuh anyaman bambu itu, berharap masih ada denyut yang tersisa. Tapi yang kurasakan hanya dingin yang jujur dan sunyi yang panjang.
Kepergian Ibu ke Jakarta bukan sekadar perjalanan mencari sesuap nasi, melainkan sebuah pencabutan paksa akar kasih sayang dari tanah tempatku tumbuh. Ia pergi seperti hujan yang mendadak berhenti, meninggalkan retakan-retakan kecil di tanah yang belum sempat belajar bertahan. Aku adalah tanaman yang tertinggal, dipaksa belajar mencari air di tengah kemarau perasaan, sementara langit di atas rumah kami tampak lebih jauh, lebih tinggi, dan lebih asing dari biasanya.
“Ibu berangkat dulu, ya,” katanya waktu itu, suaranya datar tapi matanya basah. Aku hanya mengangguk, karena tak tahu kata apa yang cukup kuat untuk menahannya tetap tinggal.
Setiap pagi, sebelum aku melangkah pulang dari pengajian dengan sarung yang tersampir lesu di bahu, aku selalu menatap cakrawala dengan perasaan was-was yang tak pernah benar-benar pergi. Ada ketakutan kecil yang mulai tumbuh diam-diam: takut jika hari ini adalah hari ketika aku benar-benar lupa bagaimana rasanya dipedulikan. Ingatan tentang air hangat dan sentuhan tangan Ibu saat mengobati lukaku mulai terasa seperti dongeng kuno, kisah yang diceritakan orang asing di tempat yang tak pernah kukenal.
“Sabar, ya,” suara itu kadang muncul di kepalaku, samar dan rapuh, seperti gema dari sumur tua yang nyaris kering.
Dalam remang fajar itu, aku belajar satu hal yang terasa sangat tajam: bahwa kemiskinan bukan hanya tentang perut yang lapar, melainkan tentang hati yang dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Ia mengajari kami menelan sunyi, mengunyah kehilangan, dan tetap berdiri saat dunia masih tertidur pulas dalam pelukan fajar. Kemiskinan adalah pelajaran yang tak pernah memberi waktu untuk mengeluh, hanya menyuruh kami berjalan, meski kaki masih gemetar oleh dingin pagi.
Begitulah caranya dunia memberiku pelajaran, dan aku dengan pelan-pelan mengeja arti di suatu pagi yang menggigil. Mulanya terjadi tepat saat kakiku menapak ambang pintu, pulang dari mengaji di Musala Darul Abrar dengan sisa-sisa hafalan yang masih menyangkut di tenggorokan.
“Sudah pulang?” tanya seorang kawan yang lewat menuju dam pemandian di jalan setapak menuju rumah. Suaranya pecah oleh embun. Aku mengangguk, tanpa benar-benar tahu ke mana kata pulang seharusnya diarahkan.
Rumah itu mendadak menjelma sebuah kotak resonansi yang sunyi sejak Ibu kembali berangkat ke Jakarta. Sunyi yang bergetar, tapi tak bersuara, seperti dawai tua yang pernah dipetik dengan cinta, lalu dibiarkan menegang sendirian di udara yang dingin. Setiap sudutnya menyimpan gema langkah yang tak lagi hadir, gema suara yang pernah memanggil namaku dengan nada sabar, kini tinggal pantulan kosong yang hanya bisa didengar oleh hati yang sedang belajar kehilangan.
Pagi-pagi di rumah itu terasa lebih panjang dari biasanya. Cahaya masuk melalui celah jendela tanpa tergesa, seolah ikut menghormati kesepian yang sedang bertugas menjaga ruangan. Lantai tempat Ibu biasa duduk tetap menghadap meja riasnya, setia pada fungsinya meski tuannya tak ada. Tak ada yang bergeser, tak ada yang berubah, justru itulah yang membuat dada terasa sesak: segala sesuatu bertahan, sementara satu-satunya yang memberi makna telah pergi.
Di dapur, bau air rebusan dan sisa nasi semalam mengambang tipis, seperti ingatan yang enggan mengendap sepenuhnya. Panci-panci diam, sendok-sendok tak lagi berbunyi. Aku menyadari bahwa sunyi bukan ketiadaan suara, melainkan kehadiran yang terlalu penuh, penuh oleh hal-hal yang tak bisa kembali, penuh oleh rindu yang belum menemukan bentuk paling jujurnya.
Malam datang tanpa aba-aba, dan rumah itu kembali menjadi ruang gema. Aku berbicara dalam hati, berharap dinding-dindingnya menyampaikan pesan itu ke Jakarta, ke tangan Ibu yang mungkin sedang lelah menggenggam hidupnya. Rumah ini tak roboh, tak rusak, tapi ia belajar menjadi kuat dengan caranya sendiri: menampung rindu, menyimpan doa, dan menunggu dalam diam yang panjang, hingga suatu hari langkah itu pulang lagi dan sunyi akhirnya menemukan suaranya.
Tak ada lagi orkestra bunyi sutil yang beradu dengan wajan, tak ada aroma tumisan yang biasanya memeluk hidungku, dan tak ada uap hangat dari panci air yang dulu disiapkan Ibu untuk membasuh kulitku yang merah meradang karena kudisan.
“Nanti mandi, ya, pakai air hangat,” ucapnya dulu, sederhana, tapi penuh perhatian, mengandung ketegasan.
Kemudian mepergian Ibu adalah lubang hitam yang menyedot seluruh warna dari dinding rumah kami, meninggalkan sisa-sisa udara yang hambar dan dingin. Saat aku berdiri di tengah rumah itu, mendengar detak jantungku sendiri, dan untuk pertama kalinya aku mengerti: bahwa dingin tak selalu datang dari cuaca, kadang ia lahir dari tempat yang paling kita sebut rumah, rumah dam.
“Kenapa belum mandi? Airnya sudah mau dingin,” suara Ibu biasanya bergema lembut di rumah itu, seperti rintik hujan yang jatuh perlahan di atas daun pisang. Tak pernah keras, tapi selalu sampai. Suara itu bukan sekadar pengingat, melainkan tanda bahwa pagi telah resmi dimulai, bahwa ada seseorang yang mengawasi waktu agar tak tergelincir terlalu jauh.
Namun yang tersisa hanyalah sunyi yang merayap di sela-sela lantai papan kayu, sunyi yang tak bertanya, tak menunggu, dan tak peduli. Di hari pertama tanpa punggung Ibu yang sibuk di dapur, aku menemukan sebuah ruang kosong, sebuah lubang di dada, yang maknanya baru benar-benar kupahami bertahun-tahun kemudian, saat aku belajar memberi nama pada kehilangan.
Kekosongan itu seperti sumur tua yang ditinggalkan. Tampak tenang di permukaan, bahkan nyaris tak berbahaya, namun di dalamnya tersimpan gema kesepian yang tak berdasar, berputar-putar tanpa pernah menemukan dinding untuk bersandar. Setiap kali aku mendekat, aku bisa mendengar suaraku sendiri kembali dengan nada yang lebih asing. Namun di saat yang sama, kesadaran itu menghantamku dengan tajam dan dingin: aku bukanlah anak manja yang boleh menunggu disuapi oleh keadaan. Dunia tak memberi jeda untuk meratap. Aku dipaksa belajar berdamai dengan ketiadaan, menerima bahwa tidak semua pagi menyediakan kehangatan yang layak sebagaimana sebelumnya.
Tubuhku, mau tak mau, harus tetap melangkah meski hanya dibasuh sekadarnya. Maka dimulailah ritual itu: mandi ayam, sebelum berangkat sekolah. Sebuah kebiasaan kecil yang kupakai sebagai penyamaran, agar dunia tak perlu tahu bahwa pelindungku telah pergi terlalu jauh. Cukuplah tubuh ini mengenal air sekali sehari, seolah-olah kebersihan adalah kemewahan yang harus dihemat, dijatah dengan cermat, agar tak cepat habis di tengah bulan yang panjang dan sunyi.
“Hanya mandi ayam lagi?” tanya kakakku suatu kali. Matanya menatapku lama, tajam namun getir, seperti sembilu yang mengiris tipis kulit jeruk. Tak sampai membuat darah mengalir, tapi cukup meninggalkan rasa perih yang lama hilangnya.
“Yang penting basah, Kak. Biar tidak terlambat,” jawabku lirih, nyaris seperti bisikan angin yang takut membangunkan debu. Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa pembelaan, tanpa harapan untuk dimengerti.
Ritual mandi ayam itu sungguh sederhana, nyaris tak pantas disebut mandi. Namun perihnya menjalar sampai ke tulang. Cukuplah membasuh wajah dengan percikan air dingin yang menyentak, seolah air itu adalah topeng tipis untuk menyembunyikan wajah kusam yang tak sempat dirawat. Tak perlu membilas seluruh badan dengan sabun, sebab harum pun sudah lama menguap dari ingatan, seperti bau rumah lama yang perlahan dilupakan penghuninya.
Rambutku tak perlu mengenal sampo, dan gigiku tak lagi bersua dengan pasta putih yang pedas itu. Bagiku, mandi bukan lagi tentang membersihkan, melainkan tentang menciptakan ilusi. Asalkan rambutku terlihat basah dan tetes air bercucuran dari ujung-ujungnya, orang akan menganggapku telah bersuci. Rambut yang basah itu adalah bendera putih yang kukibarkan diam-diam, tanda penyerahan yang sopan agar dunia percaya bahwa aku masih “terawat”, masih layak berdiri sejajar dengan anak-anak lain.
Sebab di balik lemari yang kosong itu, kenyataan berbicara jauh lebih keras. Ibu tak punya cukup uang untuk sekadar membelikan sabun yang bisa mengusap seluruh raga. Kemiskinan adalah sabun yang sebenarnya: ia menggosok harga diri kami tanpa ampun, menipiskan lapisan malu dan bangga, hingga yang tersisa hanyalah kulit yang harus tabah menghadapi dunia tanpa pelindung apa pun. Kami bersih bukan karena wangi, melainkan karena terbiasa digesek oleh keadaan.
Ibu pernah bercerita, sebuah ingatan yang ia simpan rapat di balik lipatan daster tuanya, bahwa saat aku masih bayi, tubuh mungilku hanya mengenal sentuhan kasar sabun colek untuk membasuh segala kotoran. Tak ada pilihan lain waktu itu, katanya, hanya ada yang tersedia sabun colek.
Rupanya, sejarah pahit itu memiliki gema yang panjang. Ia tak berhenti di masa bayi, melainkan memantul dan terulang kembali saat aku terkurung di balik terali besi penjara, bertahun-tahun kemudian, dalam bentuk yang lebih kejam. Seperti suara yang dipantulkan dinding lembah, semakin jauh justru semakin nyaring, semakin tua justru semakin menusuk. Waktu tak pernah benar-benar menyembuhkan. Hanya mengganti kostum penderitaan agar luka yang sama terasa baru saat disentuh kembali.
Di penjara, aku menyadari bahwa hidup gemar mengulang pelajarannya kepada murid yang lambat belajar. Apa yang dulu hadir sebagai sabun colek di kulit bayi, kini menjelma jeruji besi di hadapan lelaki dewasa. Dulu tubuhku dipaksa memahami arti bersih melalui perih dan kini jiwaku dipaksa mengerti arti tanggung jawab melalui kehilangan. Sejarah itu tak berbelas kasih, hanya konsisten, menagih pemahaman dengan cara yang selalu terasa berlebihan.
Aku berdiri di dalam sel sempit itu seperti berdiri di hadapan cermin waktu. Bayangan diriku yang kecil dan tak berdaya menyatu dengan tubuhku yang kini dewasa, sama-sama telanjang di hadapan nasib. Bedanya, dulu aku tak punya pilihan, sementara kini aku harus mengakui bahwa sebagian dari kejamnya keadaan adalah hasil dari langkahku sendiri. Kesadaran itu jatuh perlahan, tapi berat menghantam dada seperti batu nisan yang diberi nama sendiri.
Barulah aku paham kemudian bahwa sejarah keluarga tidak diwariskan lewat cerita, melainkan lewat luka. Ia hidup di tubuh, berdiam di kebiasaan, dan bangkit kembali saat kita lengah. Penjara bukanlaj anomali dalam hidupku, melainkan kelanjutan dari garis panjang pengorbanan yang salah kupahami. Di sanalah gema itu mencapai puncaknya yang keras, memekakkan, dan tak bisa lagi kuabaikan.
Dan di antara dinding yang dingin itu, aku belajar mendengar dengan benar. Mendengar bahwa penderitaan Ibu tak pernah selesai di masa lalu. Ia hanya berpindah tempat, menunggu saat yang tepat untuk memintaku dewasa. Sejarah pahit itu tidak datang untuk menghancurkanku, melainkan untuk memaksaku berhenti berlari, agar akhirnya aku berani menatapnya, mengakuinya, dan suatu hari, semoga, memutus rantainya.
Di sana, di dalam penjara aku bergelut dengan gatal rabi, serangan virus scabies yang rakus, yang menggerogoti kulit dan ketenangan penghuni sel penjara di setiap pergantian malam. Gatal itu tak hanya tinggal di tubuh, tapi merambat ke pikiran, membuat tidur menjadi musuh dan sunyi menjadi ancaman.
Namun di antara para narapidana, ada mitos yang lebih tajam daripada sekadar penjelasan medis. Mereka menyebutnya penyakit kutukan Nenek Rabi, sebuah warisan gelap yang hanya bisa dijinakkan dengan cara yang sama menyakitkannya.
“Kalau mau sembuh, gosok pakai sabun colek,” kata seseorang di sel, suaranya datar, seolah sedang menyebutkan hukum alam. Sabun itu serupa ampelas yang menghajar kulit tanpa belas kasihan.
Namun di penjara, rasa sakit adalah satu-satunya cara untuk membunuh rasa sakit yang lain. Dan di sanalah aku mengerti: sejak kecil hingga dewasa, tubuhku selalu belajar hal yang sama, bahwa bersih, bertahan, dan hidup sering kali harus dibayar dengan perih yang tak sempat dikeluhkan.
“Pakai saja sabun ini,” bisik seorang kawan sel dengan suara parau, suaranya terdengar seperti kayu lapuk yang digesek perlahan. Tangannya menyodorkan sepotong sabun colek, gumpalan kusam yang warnanya telah kehilangan identitas, tak lagi putih, tak pula benar-benar abu-abu.
“Hanya ini yang bisa membungkam mulut Nenek Rabi, supaya dia berhenti menggigit kulitmu.” Kalimat itu melayang di udara sel yang lembap, menggantung seperti mantra yang tak sepenuhnya kupahami, tapi kupeluk dengan harap yang tersisa.
Betapa hidup di penjara adalah usaha yang nyaris sia-sia untuk menjadi bersih. Di tempat di mana daki dan dosa sering bercampur dalam satu bak air yang keruh, batas antara tubuh dan kesalahan menjadi kabur. Air mengalir, tapi tak pernah benar-benar membersihkan. Di dalam sel yang pengap itu, saat kulitku perih dan pikiran tak punya tempat bersembunyi, ingatanku melayang jauh, menembus dinding beton, jeruji besi, dan bau karat, menuju bayang-bayang Ibu yang samar namun hangat.
Baru kali itu aku benar-benar tersadar betapa beratnya memikul beban menjadi seorang Ibu. Kehadiran seorang Ibu bagi anaknya serupa malaikat penjaga yang jelita, namun sayapnya kerap patah oleh keadaan yang tak memberi ampun. Ia adalah lentera kecil yang terus mencoba menyala meski minyaknya hampir habis, bertahan memberi cahaya seadanya. Perlindungannya sering kali hanya sebatas jangkauan tangannya yang kasar oleh kerja keras, tapi justru di situlah letak seluruh cintanya.
“Ibu ingin kamu bersih, Nak. Ibu ingin kamu sehat.” Suara itu hadir di kepalaku seperti denting gelas retak. Terdengar merdu, namun menyimpan luka yang tak pernah sembuh sepenuhnya. Setiap kata berkilau, tapi juga menyayat, sebab aku tahu betul betapa mahalnya harga dari keinginan yang terdengar begitu sederhana itu.
Seorang Ibu tentu merindukan anaknya memiliki jiwa yang sehat dan raga yang suci tanpa cacat. Namun bagi seorang Ibu yang berdiri sendirian, tanpa sandaran bahu seorang suami di sisinya, apa yang bisa ia lakukan? Ia hanyalah seorang petarung yang bertahan dengan senjata tumpul. Setiap langkahnya ditentukan oleh pengetahuan yang diwariskan oleh kemiskinan dan pengalaman yang ia pungut di sepanjang jalan setapak kehidupannya. Dari orang tua, tetangga, dan lingkungan yang sama-sama terluka dan belajar bertahan dengan cara yang seadanya.
Ia mencintai anak-anaknya dengan cara yang paling purba: memberi apa adanya. Bahkan jika itu berarti harus memandikan anaknya dengan sabun pencuci piring, sebab baginya kasih sayang tak membutuhkan wangi melati atau busa berlimpah. Cukuplah ketulusan yang tak pernah mati, meski dunia berkali-kali mencoba memadamkannya.
Di penjara, waktu tidak benar-benar berjalan. Ia merayap lamban, seperti serangga kecil di dinding sel yang lembap, meninggalkan jejak yang tak jelas arahnya. Dan di antara sela-sela ubin yang berlumut itu, hiduplah legenda tentang Nenek Rabi. Para penghuni sel tua sering berbisik dengan suara yang lebih lirih dari desau angin malam, seolah takut cerita itu ikut mendengar. Mereka berkata bahwa scabies bukan sekadar kuman yang berpesta di atas pori-pori kulit, melainkan jemari hantu Nenek Rabi yang sedang menagih janji lama.
Konon, ia adalah sosok perempuan tua yang dikhianati hingga kulitnya mengelupas oleh kebencian dan kesepian. Kini ia kembali, kata mereka, untuk menggaruk setiap raga yang dianggapnya kotor dan terbuang. Mitos itu menyelimuti barak seperti kabut hitam, meresap ke setiap sudut pikiran.
Jika kau merasa gatal yang membakar saat rembulan naik perlahan, itu tandanya Nenek Rabi sedang membelai kulitmu. Menanamkan benih kutukannya di sana, sedikit demi sedikit.
“Jangan kau garuk dengan kuku,” bisik seorang narapidana senior yang matanya sedalam sumur mati. Tatapannya tak mengancam, hanya lelah. “Semakin kau garuk, semakin senang Nenek Rabi menari di bawah kulitmu. Dia tak butuh darah. Dia hanya ingin kau merasa gila oleh perih yang tak habis-habis.”
Rasa gatal itu bukan sekadar gangguan. Ia adalah tarian jarum yang menyusup ke dalam daging, membuat malam terasa panjang, nyaris abadi, dan penuh siksaan kecil yang tak kunjung selesai. Setiap detik menjadi ujian kesabaran, setiap tarikan napas terasa seperti kompromi dengan rasa sakit. Dan di tengah keputusasaan itu, satu-satunya penawar yang dipercaya mampu mengusir kutukan sang nenek adalah sabun colek, benda kasar yang seharusnya hanya menyentuh piring kotor, namun di penjara menjelma jimat suci, harapan terakhir bagi kulit yang tak lagi punya pilihan selain bertahan.
Setiap kali aku menggosokkan sabun yang tajam itu ke luka-lukaku, aku merasa sedang melakukan sebuah eksorsis kecil yang sunyi. Sabun colek itu menjelma amarah yang berbusa, yang putih, kasar, dan tak mengenal ampun perihnya. Ia membakar apa yang disebut orang sebagai kutukan Nenek Rabi, merontokkan kerak-kerak luka yang membandel, memaksa rasa gatal itu mundur sejenak ke dalam kegelapan, seperti roh jahat yang dipaksa beringsut oleh doa yang diucapkan dengan suara gemetar. Rasa perihnya bukan sekadar sakit. Itu adalah pengakuan bahwa tubuh ini masih bernyawa, masih bisa merasakan, meski dengan cara yang menyiksa.
“Kenapa harus sabun ini, Mas?” tanyaku suatu kali pada kawan sel yang tangannya penuh bekas parut luka, garis-garis kasar yang tak lagi bisa dibedakan antara lama dan baru. Pertanyaanku keluar lirih, hampir tenggelam oleh suara tetesan air dari pipa bocor yang tak pernah diperbaiki.
“Karena hanya yang keras yang bisa melawan yang jahat,” jawabnya singkat. Suaranya seperti gesekan batu ampas, berat dan kering. “Nenek Rabi benci bau sabun ini. Bau ini mengingatkannya pada kebersihan yang tak pernah ia dapatkan.”
Ketajaman aroma sabun colek itu tiba-tiba menyeretku jauh ke belakang, melampaui bau karat penjara dan air yang basi. Ia membawaku kembali pada kenangan tentang Ibu. Ternyata, jauh sebelum aku mengenal jeruji besi dan bilik sempit ini, Ibu sudah lebih dulu bertarung melawan “Nenek Rabi” di masa kecilku. Ibu, dengan segala keterbatasannya, tak pernah membutuhkan teori medis atau salep mahal dari apotek di kota yang terasa sejauh mimpi. Ia hanya punya satu hal: naluri seorang pelindung yang bekerja tanpa banyak kata.
Baginya, sabun colek adalah satu-satunya pedang yang ia miliki untuk menebas kutukan yang mencoba hinggap di tubuh anaknya. Di tangannya, sabun itu tak pernah terasa sebagai benda kasar yang menyiksa, melainkan sebagai perisai yang ia angkat dengan penuh keyakinan. Ibu tahu betul bahwa kemiskinan sering melahirkan mitos-mitos yang menakutkan, cerita-cerita gelap yang tumbuh dari ketidaktahuan dan ketakutan. Maka ia memilih berdiri di garis depan, menjadi tameng, meski itu berarti kulit tangannya sendiri harus pecah-pecah oleh kerasnya kehidupan yang ia jalani nyaris tanpa kawan.
Di dalam bilik penjara yang hanya berukuran beberapa jengkal, tempat udara adalah kemewahan yang harus diperebutkan dengan paru-paru orang lain. Konsep “bersih” menjelma sesuatu yang sangat abstrak. Ia terasa seperti Tuhan: sering disebut, jarang disentuh, dan hampir mustahil dijangkau sepenuhnya.
Air di dalam bak semen itu keruh, memantulkan bayangan wajah-wajah yang kehilangan cahaya dan harapan. Aku berdiri di sana, telanjang oleh kenyataan, menatap gumpalan sabun colek di telapak tanganku. Teksturnya menyerupai kerikil halus, siap mengampelas sisa-sisa harga diriku yang sudah menipis.
“Kau pikir dengan sabun itu, kau bisa menghapus bau penjara dari kulitmu?” tanya kawan selku lagi. Suaranya parau, berat oleh beban masa lalu yang tak kunjung usai. Ia berdiri di sudut bilik, membiarkan air kotor mengguyur bahunya yang penuh guratan luka scabies yang mengering. Seperti peta penderitaan yang tak pernah selesai digambar. Tatapannya datar, tapi kata-katanya menghantam lebih keras dari sabun di tanganku.
Aku terdiam. Busa sabun itu mulai bereaksi dengan luka terbuka di lenganku. Rasanya seperti ribuan lebah api menyengat secara bersamaan, menyalakan saraf-saraf yang sudah lama lelah menanggung rasa sakit. Dadaku mengeras, napasku tertahan.
“Aku hanya ingin Nenek Rabi berhenti berbisik di kulitku, Bang,” kataku akhirnya. Suaraku pecah. “Aku ingin tidur. Tidur tanpa harus merasa seperti dimakan hidup-hidup oleh rasa gatal ini.”
Ia terkekeh. Tawa yang kering, tanpa sedikit pun sisa humor, seperti ranting patah yang diinjak tanpa sengaja. “Nenek Rabi itu bukan di kulit, Dik. Dia ada di sini,” katanya sambil mengetuk pelipisnya dengan jari yang kasar dan kapalan.
“Sabun colek itu mungkin bisa membunuh kumannya. Tapi dia tak bisa membunuh rasa bersalah. Rasa yang bikin kau merasa pantas menerima kutukan ini.”
Ia berhenti sejenak, menatap air yang mengalir ke lubang pembuangan seperti waktu yang dibuang percuma.
“Kita semua di sini,” lanjutnya lirih, “adalah piring kotor yang dipaksa bersih dengan cara yang kasar. Diguyur, digosok, dihantam. Pedih, bukan?”
Kata-katanya menggantung di udara yang pengap. Aku kembali menggosokkan sabun itu ke kulitku, lebih pelan kali ini, seolah sedang mengusap luka yang tak hanya milik tubuh, tapi juga milik jiwa. Luka lama yang tak pernah benar-benar sembuh, hanya diajari untuk bertahan.
Kata-katanya menghujamku lebih tajam daripada rasa terbakar sabun di kulitku. Ada sesuatu yang runtuh perlahan di dalam diriku, sesuatu yang tak kasatmata namun terasa nyata. Setiap gosokan sabun ke tubuhku menjelma ritual penebusan dosa yang dipaksakan, bukan lahir dari kesadaran, melainkan dari ketakutan. Ia meninggalkan dampak yang melubangi jiwa, membentuk kesadaran pahit bahwa aku sedang diperlakukan seperti benda, sesuatu yang harus digosok, dibersihkan, dipaksa patuh, bukan sebagai manusia yang berhak atas kelembutan.
Namun di tengah siksaan itu, bayangan Ibu kembali muncul sebagai satu-satunya jangkar yang menahanku agar tidak hanyut ke dalam kegilaan yang senyap. Wajahnya hadir samar di balik uap air, matanya teduh meski lelah. Aku tersadar, bahwa dahulu, saat Ibu memandikanku dengan sabun yang sama, ia sedang melakukan lebih dari sekadar membersihkan tubuh anaknya. Ia sedang berusaha mencuci nasibku, menggosok masa depanku agar tak sekelam nasib yang terpaksa ia terima. Di setiap bilasan, Ibu sedang bertaruh melawan takdir, meski ia tahu peluangnya nyaris timpang.
Dampak psikologis dari ritual itu perlahan mengubah caraku memaknai hidup. Aku mulai terbiasa menakar kesehatan dari seberapa jauh aku sanggup menahan rasa sakit. Aku belajar, dengan cara yang kejam, bahwa untuk menjadi “bersih” di tempat yang paling kotor, seseorang harus terlebih dahulu melukai dirinya sendiri. Kebersihan bukan lagi perkara wangi atau segar, melainkan ukuran ketahanan: sejauh mana kau mampu menahan perih demi sepotong ketenangan yang rapuh. Ketenangan yang hanya bertahan beberapa jam, sebelum Nenek Rabi kembali mengetuk pori-porimu dengan jemari tak kasatmata.
Di akhir ritual mandi yang menyakitkan itu, aku berdiri gemetar di bawah lampu sel yang temaram, cahaya kuningnya redup seperti harapan yang tak berani menyala penuh. Kulitku merah padam, perihnya memuncak oleh goresan dan bilasan sabun colek. Namun di balik rasa sakit itu, ada semacam kemenangan sunyi yang tumbuh pelan. Aku telah melampaui ketakutanku pada kutukan itu. Sebagaimana Ibu dahulu melampaui rasa malunya karena hanya mampu membeli sabun pencuci piring untuk anaknya. Kami sama-sama bertahan, meski dengan alat yang tak pernah dirancang untuk kelembutan.
Kami adalah orang-orang yang merayakan kebersihan di atas luka, mencari kesucian di dalam kubangan, dan menemukan kasih sayang di balik bau kimia yang menyengat indra. Hidup mengajari kami bahwa cinta tak selalu datang dalam bentuk yang elok. Kadang ia hadir sebagai perih yang harus ditanggung bersama.
Seiring waktu yang melambat di balik jeruji, aku mulai memahami betapa kejamnya tuntutan-tuntutan kecil yang kerap lahir dari bibir seorang anak. Keinginan-keinginan itu sering menjelma sembilu, menyayat dada orang tua yang tangannya telah kasar oleh kerja, namun kantongnya tetap sekempis harapan yang layu. Aku baru mengerti, betapa setiap permintaan yang terdengar sepele bisa berubah menjadi beban yang diam-diam mematahkan punggung.
Sebagai anak, aku sempat lupa bahwa antara yang diinginkan dan yang dibutuhkan terbentang jurang sedalam samudera. Keinginan adalah api yang tak pernah kenyang, selalu minta ditambah. Sementara kebutuhan hanyalah seteguk air untuk sekadar bertahan hidup. Aku menuntut warna-warni pelangi pada orang tua yang bahkan untuk membeli sepotong sabun pun harus memeras keringat hingga terasa seperti darah.
“Ibu, kenapa teman-temanku punya sepatu baru, sedangkan aku hanya punya bekas luka?” tanyaku suatu masa pertama masuk sekolah. Pertanyaan itu dulu terdengar polos, tapi kini terasa seperti racun yang pernah kusuntikkan langsung ke jantungnya.
Ibu hanya terdiam. Matanya menatap kejauhan, seolah mencari jawaban di antara debu yang beterbangan, di antara kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah benar-benar ia miliki.
Seorang anak yang menjadi tumpuan doa semestinya memiliki cermin di jiwanya. Cermin untuk tahu diri terhadap keadaan yang membelit. Ia harus belajar menimbang beratnya beban di pundak orang tua, menempatkan egonya pada timbangan strata dan kasta yang nyata, bukan yang semu dan gemerlap. Aku terlambat memahami itu, dan penyesalan pun datang sebagai guru yang tak pernah ramah.
Di tengah lingkungan yang memandang manusia dari kilau permata dan licin sepatu baru, semestinya aku menjadi pendaki yang tangguh, membawa nama keluarga perlahan naik menuju derajat yang lebih tinggi. Bukan justru menjadi batu, yang dengan beratnya sendiri menyeret mereka ke dasar jurang nestapa. Dan di bawah lampu sel yang temaram itu, dengan kulit yang masih perih, aku akhirnya tahu: ada luka yang bukan untuk disesali, melainkan untuk dipelajari, agar tak diwariskan kembali.
“Seharusnya kau menjadi pelita, Nak, bukan jelaga yang menghitamkan wajah kami,” bisik suara batin itu. Ia menyerupai gema suara Ibu. Tak sepenuhnya nyata, tak sepenuhnya imajiner. Namun perihnya terasa paling nyata. Kalimat itu tidak diucapkan dengan amarah, melainkan dengan kekecewaan yang tenang, dan justru karena itulah ia menghakimi dengan lebih kejam. Ia menempel di kepalaku, mengendap seperti asap yang tak bisa diusir, menggelapkan setiap sudut ingatan yang coba kujelajahi.
Kenyataan itu berdiri tegak di hadapanku dalam bentuk jeruji besi yang dingin dan tak mengenal kompromi. Alih-alih mengangkat derajat martabat keluarga, aku justru mencoreng muka mereka dengan jelaga yang paling pekat. Masuk penjara adalah cara paling hina untuk memperkenalkan diri kepada dunia sebagai seorang anak. Ia adalah pengumuman kegagalan yang tak perlu pengeras suara. Meski aku membangun ribuan benteng pembelaan, meski aku merangkai sejuta alasan untuk menambal langkah yang salah, kebenaran tetaplah pedang bermata satu: penjara adalah muara bagi mereka yang tersesat arah. Di sini, tak ada kesalahan yang tertukar alamat. Setiap derita yang kuterima adalah kiriman yang kutulis sendiri namaku di amplopnya.
“Di sini, kau bukan lagi siapa-siapa. Kau hanya angka dalam buku dosa,” kata kepala sipir saat pintu sel berdentang menutup. Suaranya datar, sedingin es yang mematikan saraf. Seolah ia tak sedang berbicara kepada manusia, melainkan kepada inventaris yang harus dicatat dan diawasi. Dentang pintu itu bukan sekadar bunyi besi bertemu besi. Ia adalah palu yang mengetuk keputusan akhir.
Maka, salahlah diriku tanpa ada kemungkinan untuk bertukar tempat dengan nasib lain. Aku terperangkap dalam hukuman yang tak hanya merampas kebebasan raga, tetapi juga mencabut hak paling dasar: menatap mata Ibu tanpa rasa malu. Ini adalah nasib yang benar-benar terkunci. Sebuah hukuman yang harus kunikmati kepahitannya sampai ke ampas paling bawah, sebagai bayaran atas kebutaan hatiku. Kebutaan yang gagal membaca lelah di punggung orang tua. Aku adalah burung yang mematahkan sayapnya sendiri, tepat di saat Ibu berharap aku terbang membawa mimpinya menuju langit yang lebih biru.
Setiap kali aku berdiri di bawah pancuran air dingin di sudut sel, aku tak lagi sekadar mandi untuk membersihkan raga. Aku sedang berziarah ke dalam kenangan, menapaki kembali jejak-jejak kecil yang pernah kulewati bersama Ibu. Sabun colek yang membakar kulitku kini kurasakan sebagai bentuk kasih sayang yang paling jujur. Kasih sayang yang tak dibungkus kenyamanan, melainkan keperluan. Sebuah rasa sakit yang perlu, agar aku tetap terjaga dari mimpi buruk keangkuhan yang dulu kupelihara tanpa sadar.
Nenek Rabi tak lagi hadir sebagai hantu yang menakutkan. Ia menjelma guru yang diam, berdiri di sudut batin tanpa banyak bicara. Ia mengajarkan bahwa setiap luka memiliki masanya untuk mengering, asalkan aku berani menghadapi perihnya pembersihan, bukan terus bersembunyi di balik dongeng kutukan.
Aku mulai belajar bahwa kesucian tak selalu lahir dari air yang jernih dan sabun yang harum. Terkadang ia muncul dari air mata penyesalan yang bercampur dengan busa kasar di lantai penjara. Dari kesadaran yang terluka, tapi jujur pada dirinya sendiri.
“Ibu, air ini dingin,” bisikku pada dinding beton yang membisu, “tapi hatiku jauh lebih beku.” Aku membayangkan bayangannya menungguku di luar sana, dengan sisa-sisa doa yang tak pernah putus, doa yang mungkin lelah tapi tak pernah benar-benar menyerah.
Sejak itu aku tersadar, ketika pintu besi akhirnya berderit terbuka dan dunia menyambutku kembali, aku tak akan keluar sebagai orang yang sama. Aku membawa parut-parut luka sebagai tanda pangkat, bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk diingat. Sebuah pengingat bahwa derajat keluarga yang sempat kurendahkan harus dibangun kembali dari puing-puing kehancuran yang bernama penjara, setapak demi setapak, dengan kepala tertunduk dan hati yang belajar dengan lebih rendah lagi.
Aku akan membawa aroma sabun colek itu di ingatanku. Bukan sekadar sebagai bau yang melekat di kulit, melainkan sebagai wangi perjuangan Ibu yang paling otentik. Wangi yang lahir dari tangan-tangan kasar yang tak pernah benar-benar diberi jeda oleh hidup. Bau itu bukan harum yang dipamerkan, melainkan bau yang bertahan, yang mengendap di lipatan ingatan, seperti doa yang tak sempat diucapkan tapi terus bekerja diam-diam. Setiap kali hidungku menangkapnya kembali, aku tahu: di sanalah Ibu pernah berdiri, membungkuk di depan ember, menukar lelahnya dengan kemungkinan agar aku tetap bisa hidup sebagai manusia.
Penjara mungkin telah mengurung ragaku, menyempitkan langkah dan mematahkan banyak rencana, namun ia juga telah menguliti egoku hingga ke tulang, mengikis lapisan-lapisan keangkuhan yang dulu kuanggap sebagai harga diri. Di ruang sempit itulah aku belajar bahwa menjadi lelaki bukan soal kerasnya suara atau tingginya kepala, melainkan tentang keberanian menunduk dan mengakui batas. Dari sana, perlahan aku mengerti: menjadi tahu diri adalah bentuk tertinggi dari rasa syukur. Sebuah kesadaran sunyi bahwa hidup tak pernah sepenuhnya milik kita, dan karena itu tak pantas disombongkan.
Di penghujung hari yang melelahkan ini, aku membiarkan tetes air terakhir jatuh membasahi ubun-ubunku, mengalir pelan seperti waktu yang akhirnya mengizinkanku berhenti melawan. Air itu terasa dingin, namun justru di sanalah aku menemukan kejujuran tubuhku sendiri. Aku berdiri tegak, meski kulitku merah meradang dan napasku terasa berat oleh sesak yang melilit dada, seolah paru-paruku sedang mengingatkan bahwa hidup memang tak selalu ramah. Dalam diam, aku menatap lantai yang basah, menyadari betapa seringnya aku lupa berdiri sebagai anak, terlalu sibuk ingin menjadi apa pun selain diriku sendiri.
“Aku lelah, Bu,” bisikku pada udara yang tak menjawab, kecuali dengan gema sunyi yang menempel di dinding. Namun justru di situ aku paham: aku adalah anak yang sedang belajar pulang, belajar menamai ulang luka-luka, meski jalan pulangnya harus melewati lembah penderitaan yang panjang dan berliku, tanpa papan penunjuk, tanpa janji bahwa akhir perjalanan akan mudah.
Setelah balik jeruji mengurungku, cahaya fajar mulai menyelinap masuk. Terasa seperti tangan Ibu yang lembut, menyusup melalui celah-celah waktu yang retak, mengusap keningku dengan kesabaran yang tak pernah menuntut penjelasan. Cahaya itu tidak menyilaukan. Datang perlahan seperti seseorang yang tak ingin membangunkan luka yang masih tidur. Dalam cahaya itu, aku seakan mendengar suara Ibu berbisik lirih, “Bersihkan saja dulu dirimu, Nak. Tak apa pelan-pelan.”
Dan aku mengerti: selalu ada ruang untuk membasuh diri, selama jantung masih berdetak dan penyesalan masih memiliki muara. Selama air masih jatuh dari tubuh, dan ingatan masih mau jujur pada asalnya, manusia selalu diberi kesempatan untuk kembali menjadi anak. Sebagai anak yang tak sempurna, tapi mau belajar pulang.
Kini aku benar-benar melangkah keluar, bukan hanya dari penjara yang pernah mengurung ragaku, tetapi dari diriku yang lama. Dari lelaki yang terlalu sibuk melawan dunia hingga lupa mendengarkan dirinya sendiri. Udara di luar terasa asing sekaligus akrab, seperti napas pertama setelah lama tenggelam. Aku menariknya pelan, seolah takut udara itu akan pergi jika kuhirup terlalu dalam. Di titik ini, kebebasan bukan lagi tentang pergi sejauh mungkin, melainkan tentang keberanian untuk berhenti lari.
Perjalanan pulang ke kampung berlangsung tanpa perayaan. Jalanan membentang panjang, sawah-sawah berdiri tenang seperti tak pernah tahu apa-apa tentang kegagalanku. Rumah-rumah tampak sama, langit pun tak berubah warna, seakan hidup menegaskan satu hal sederhana: dunia tidak menungguku, tapi juga tidak menolakku. Di antara getar kendaraan dan debu yang menempel di baju, aku belajar menerima bahwa pulang bukan peristiwa besar, melainkan kepulangan yang sunyi ketika seseorang datang membawa dirinya sendiri, utuh dengan salah dan sesalnya.
Saat akhirnya aku menginjak tanah kampung, kakiku gemetar, bukan karena lelah, melainkan karena ingatan yang tiba-tiba berdiri serentak. Di halaman rumah dam, di halaman rumah nenek, waktu seolah berhenti sebentar. Aroma tanah basah, suara ayam, dan desir angin di daun pisang menyambutku tanpa pertanyaan. Tak ada yang menghakimi, tak ada yang meminta penjelasan. Kampung hanya membuka dirinya, seperti Ibu dulu membuka pelukannya: sederhana, tapi cukup untuk membuat seseorang runtuh dan sembuh pada saat bersamaan.
Aku duduk di teras rumah nenekku, memandangi senja yang pelan-pelan turun, dan untuk pertama kalinya aku tidak merasa perlu membuktikan apa pun. Tidak kepada dunia, tidak kepada masa lalu, bahkan tidak kepada diriku sendiri. Aku membiarkan tubuhku lelah, membiarkan hatiku diam. Di sanalah aku paham: hidup tidak selalu meminta kita menjadi kuat, kadang hanya meminta kita untuk jujur dan bertahan.
Dan jika kelak aku kembali mencium aroma sabun colek di pagi hari, aku tahu itu bukan lagi sekadar kenangan tentang jerih payah Ibu, melainkan penanda bahwa aku telah kembali ke asal. Bahwa setelah semua yang dijalani dengan jatuh dan bangun, lalu dihukum, dilepaskan, dan akhirnya sampai pada satu pelajaran paling sunyi: pulang bukan tentang diterima sepenuhnya, melainkan tentang berani menerima diri sendiri, lalu hidup pelan-pelan, dengan tahu diri, dan dengan syukur yang tak lagi perlu diteriakkan dan dipertanyakan lagi. (Bersambung)