Rumah Dam

Di kampung ini, pagi tak pernah mengetuk pintu. Ia menyelinap masuk dalam keheningan yang purba,...

Rumah Dam

26 Jan 2026
333 x Dilihat
Share :

Rumah Dam

Di kampung ini, pagi tak pernah mengetuk pintu. Ia menyelinap masuk dalam keheningan yang purba, seolah takut mengusik mimpi-mimpi yang belum tuntas. Ia hadir bagai bisikan halus yang nyaris tak tertangkap indra, persis seperti rahasia yang tumbuh diam-diam di dalam dada. Kehadirannya begitu lamat, serupa niat yang mekar di dasar sanubari sebelum lidah sempat mengeja kata. Maka, kutinggalkan kehangatan rumah nenek. Dari ambang pintunya aku melepas langkah membelah kabut, membawa diri menuju dam pemandian di lembah seberang. Sebuah tujuan sederhana untuk sebuah perjalanan yang baru saja dimulai.

Udara masih mendekap sisa-sisa dingin yang tipis, sementara embun bergelayut di ujung daun serupa ingatan yang enggan tanggal. Jalanan kampung terbentang lengang. Hanya ada jejak-jejak lama yang tertinggal di permukaan tanah, samar namun setia, seolah waktu tengah menahan napas, dan pagi sendiri masih ragu untuk benar-benar menunaikan tugasnya.

Meninggalkan jalan utama, aku membiarkan langkahku hanyut menuruni jalan setapak yang berkelok. Ia membawaku menjauh dari kepungan rumah-rumah di dataran tinggi, turun tanpa tergesa menuju rahasia yang tersembunyi di bawah sana. Di sana, aku disambut oleh barisan tangga yang mulai tenggelam dalam pelukan belukar, jejak-jejak peradaban yang kian jarang dijamah. Semak-semak tumbuh dengan kedaulatan penuh, menyulap bekas tapak kaki yang dulu riuh menjadi sunyi yang pekat. Setiap anak tangga yang kupijak terasa seperti membawaku meluruh ke lapisan waktu yang lebih tua. Sebuah tempat di mana segalanya terasa lebih lambat, lebih diam, dan lebih abadi.

Begitu tumitku meninggalkan batas jalan utama, dunia seolah menciut, menyisakan aku yang terjebak dalam percakapan sunyi dengan bunyi setiap langkahku. Dahulu, dari jejak langkahku ini, atap rumah dam—hunian yang pernah mendekap masa kecil kami akan menyembul pelan dari balik rimbun dedaunan, bersandar di antara barisan pohon kelapa yang menjulang angkuh di lereng tanah milik kakek. Pemandangan itu selalu hadir menyerupai isyarat rahasia. Sebuah janji yang dibisikkan alam bahwa di bawah sana, air dan pagi telah lebih dulu setia menunggu kepulanganku.

Kini, saat kaki kembali menyusuri jalan yang sama, kenangan lama meluruh tanpa perlu dipanggil. Aku teringat masa ketika pagi selalu terasa mengilap. Begitu nyata dan mudah digenggam. Kala udara masih basah oleh sisa-sisa doa dan hafalan dari pengajian semalam, sementara air mengalir tepat di ambang pintu sebagai jantung kehidupan kampung. Ia adalah sumber yang menyucikan raga, membersihkan helai pakaian, hingga menghidupi petak-petak sawah yang membentang luas.

Di dam pemandian itu, mata air yang permukaannya dibendung oleh tangan kakekku di atas tanah miliknya, kemudian keramaian pernah menjadi raja. Orang-orang datang dari kejauhan, menempuh perjalanan hanya untuk mereguk kesegaran airnya atau bersujud di tajug yang tenang, tajug yang dibangun kakek. 

Bagi kami yang dulu menghuni rumah dam, kemewahan itu terasa begitu dekat. Cukup berjalan sejenak untuk membasuh diri, tanpa pernah perlu menawar waktu atau cemas menunggu giliran. Namun kini, saat langkahku benar-benar sampai di tepiannya, aku mendapati dam itu telah menjelma sebuah monumen bisu. Tak ada lagi keriuhan tawa atau suara gayung yang beradu, yang tersisa hanyalah gumam air yang seolah bicara pada dirinya sendiri. Dinding batu yang dulu kokoh disusun tangan kakek, kini telah berselimut lumut tebal, hijau yang gelap dan lembap, seakan alam sedang berusaha menyembunyikan sejarahnya di bawah rimbun belantara.

Airnya tetap jernih, mengalir melewati celah bebatuan dengan kejujuran yang sama, namun tajug di sampingnya kini tampak renta dan letih, hampir roboh. Kayu-kayunya telah lama kehilangan warna, dan atapnya seolah merunduk, menanggung beban kenangan yang tak lagi diceritakan oleh siapa pun. Di sini, di tempat yang dulu menjadi pusat semesta bagi penduduk kampung, waktu seolah berhenti berdetak, meninggalkan aku berdiri sendirian di tengah sisa-sisa kemegahan yang kian sunyi.

Aku berjongkok di tepian yang licin, lalu membiarkan jemariku membelah permukaan air yang tenang. Dinginnya masih sama, sebuah tusukan sejuk yang langsung menghujam ingatan, meruntuhkan dinding waktu yang memisahkan hari ini dengan berpuluh tahun silam. Seketika, sunyi yang pekat ini seolah memudar, digantikan oleh gema suara dari masa lalu yang riuh. Aku seolah mendengar kembali denting gayung kaleng yang beradu dengan semen benteng pembatas bendungan, tawa anak-anak sebayaku yang melompat ke tengah kolam, dan suara bariton kakek yang sesekali menegur kami dari tajug. Di balik kelopak mataku yang terpejam, tempat ini mendadak kembali menyala, seakan-akan semua orang yang pernah ada di sini hanya sedang bersembunyi di balik kabut waktu, menunggu aku datang untuk memanggil mereka kembali di suasana pagi di rumah dam.

Di rumah dam, pagi dan air seolah telah mengikat janji rahasia untuk selalu bersikap ramah kepada anak-anak. Saat embun menggelantung di ujung rerumputan, tampak seperti aksara doa yang ditulis dengan tinta bening, sementara air di parit menggenang dan mengalir lirih menuju area persawahan, seolah ia paham bahwa kami masih terlelap dalam sisa kantuk dan perlu disapa dengan belaian lembut. Cahaya matahari datang dengan raut yang tipis dan jernih, membasuh halaman serta wajah-wajah kami yang masih menyimpan jejak mimpi. Di tempat ini, pagi bekerja layaknya tangan ibu yang menuntun dengan penuh kasih, bukan serupa bel yang membentak paksa kesadaran kami.

Sepulang pengajian subuh, kami melangkah pulang setelah berangkat saat lembayung magrib menyentuh bumi. Jarak waktu itu terasa begitu panjang namun tetap ringan, serupa tarikan napas yang mengalir tanpa disadari. Semalam suntuk bermalam di tempat mengaji, kami menyerahkan raga pada lantai dingin yang diam-diam mengajari punggung kami arti kesabaran, sementara bait-bait ayat yang dibaca semalaman tetap menggantung di udara, menjelma selimut tak kasatmata yang memeluk sukma. Dalam dekapan gelap yang ramah itu, kantuk dan hafalan ayat-ayat suci datang silih berganti. Menjadi sepasang penjaga yang telah bersepakat untuk tidak saling menakuti.

Kami pulang esok paginya hanya untuk bersiap kembali pergi, memulai hari dengan seragam yang masih menyimpan hangat matahari pagi. Langkah-langkah kaki kami mungkin bergegas, namun hati selalu memilih untuk berjalan pelan. Sebab di antara rumah, madrasah, dan sekolah, telah tercipta sebuah ritme yang hafal di luar kepala: pergi, kembali, lalu berangkat lagi. Hidup, pada usia yang masih belia itu, adalah perjalanan singkat yang dirayakan berulang-ulang. Sebuah siklus sederhana yang penuh gema, serupa air yang tak pernah lelah mengalir dan fajar yang selalu menepati janji untuk datang tepat waktu.

Pandanganku kemudian tertambat pada belukar rerumputan di puing-puing reruntuhan rumah dam yang menyender batang pohon randu dan jambu. Rumah itu sudah tak ada, namun di dalam kepalaku, ia masih berdenyut dengan kehangatan yang purba. Dahulu, rumah dam bukan sekadar bangunan kayu, bilik bambu, dan atap genteng. Ia adalah mercusuar bagi kami, sebuah pelabuhan kecil di mana aroma nasi yang baru matang akan selalu menang bersaing dengan bau tanah basah. Dari berandanya, kami biasa menyaksikan dunia bergerak dalam ritme yang tenang, mendengarkan orkestra air yang tak pernah berhenti dan melihat bagaimana cahaya matahari menyelinap di sela-sela daun kelapa, menciptakan pola-pola emas di lantai rumah yang selalu rapi oleh tangan ibu. Di sanalah, seluruh percakapan tentang hidup bermula, di bawah atap yang pernah membuat kami percaya bahwa dunia akan selalu baik-baik saja.

Menempati rumah itu terasa seperti sebuah kesengajaan yang puitis; posisinya diletakkan di sana agar air dan pagi bisa langsung menyapa langkah-langkah kecil kami di ambang pintu. Ia tampak bukan semata-mata dibangun oleh pertukangan manusia, melainkan oleh kehendak alam yang menginginkan hidup terasa lebih ringkas dan bersahabat. Rumah itu serupa tangan yang memendekkan jarak antara raga kami dan hari yang akan dimulai, membuat setiap awal perjalanan terasa begitu dekat dan tanpa sekat.

Di rumah dam, pagi terasa lebih bisa diajak berkompromi. Setiap langkah menuju sekolah selalu diawali dengan basuhan air yang jujur. Sebagai perjumpaan tanpa tawar-menawar dengan jarak ataupun waktu. Berbeda sekali dengan hari-hari yang kami lalui di rumah nenek. Di sana, sepulang pengajian subuh, fajar terasa menuntut raga untuk bergerak lebih gegas. Jarak menuju pemandian merentang jauh, menurun tajam dalam sorot mata kecilku yang masih didera kantuk.

Pagi di rumah nenek terasa lebih padat, serupa halaman buku yang ditulis terlalu rapat hingga sulit untuk bernapas. Setiap kali hendak mandi, kami harus menaklukkan puluhan anak tangga yang membentang dingin. Barisan tangga itu terasa panjang dan sunyi, menyerupai labirin pikiran yang mesti kami seberangi sebelum benar-benar terjaga sepenuhnya.

Orang-orang dewasa sering menyebut perjalanan itu sebagai olahraga, dan barangkali mereka benar. Namun, tubuh anak-anak jarang bisa diajak berdamai dengan logika; rasa lelah lebih jujur daripada alasan. Kami pun tak pernah benar-benar punya siasat untuk menebak kapan pemandian akan lengang. Ada pagi-pagi di mana kami hanya bisa berdiri mematung, menunggu air, menunggu giliran. Menunggu sesuatu yang tak bisa dipaksa lebih cepat dari kehendak waktu.

Pagi di rumah nenek memang menyisakan sedikit ruang untuk sekadar bernapas lega. Langkah-langkah kami yang beriringan menuruni jalan setapak ini, jalan yang sama dengan yang kupijak sekarang. Seolah menjadi jembatan yang menghubungkan jiwaku ke masa lalu. Aku ingat sering berjalan di posisi paling belakang, menyesuaikan ritme dengan suara sandal Kak Laela dan Kak Iman yang beradu dengan tanah. Di tengah perjalanan itu, aku sering bertanya-tanya pada sunyi: ke mana sebenarnya pagi akan membawaku pergi, terutama pada hari pertama aku mulai mengenal bangku sekolah.

Usai menuntaskan ritual mandi, kami segera bersiap dalam kesederhanaan yang rapi. Rambut kami disisir searah dengan bantuan minyak orang-aring yang aromanya khas dan menenangkan, memberikan kilau hitam yang bertahan hingga siang. Dengan persiapan seadanya namun penuh kesungguhan, kami pun berangkat menuju sekolah secara bersama-sama. Aku melangkah di samping Kak Laela, kakak perempuanku yang terpaut dua tingkat kelas di atasku, dan Kak Iman, kakak keduaku, juga terpaut dua tingkat dari Kak Laela. Melihat Kak Iman yang berjalan dengan jarak dua langkah di depan kami. Kami adalah barisan kecil yang membelah pagi, membawa mimpi-mimpi sederhana di balik punggung kami.

Kami berjalan di jalan yang sama, tetapi langkah mereka selalu tampak lebih jauh. Lama-lama aku lebih sering berjalan sendiri. Mereka menganggapku sudah cukup mandiri untuk menyusuri galengan sawah menuju sekolah, meski aku masih sering menoleh ke belakang, memastikan arah pulang tak benar-benar hilang.

Kemudian masa baru datang tanpa aba-aba, menyelinap seperti angin yang tiba-tiba mengganti arah. Ia datang seperti pergantian musim yang sesungguhnya punya siklus. Datang dengan tenang, teratur, dan bisa ditebak. Namun pada diriku, musim yang berubah itu justru mendatangiku tanpa tanda, tanpa hitung mundur, tanpa jeda untuk bertanya. Waktu bergerak lebih cepat daripada kesiapan, dan aku hanya sempat berdiri di ambang, menyaksikan hari-hari lama berkemas sendiri.

Tanpa apa pun pengumuman, ibuku berangkat lagi ke Jakarta. Kepergiannya seperti kalimat yang dipotong sebelum titik, meninggalkan ruang kosong yang tak segera kupahami. Pagi-pagi tetap datang, air tetap mengalir, tetapi rumah terasa bergeser, seolah satu dindingnya dipindahkan diam-diam. Jakarta, pada saat itu, bukan sekadar nama kota. Tapi ia menjadi musim lain yang merenggut ibu dari halaman rumah dam, dan meninggalkan kami untuk belajar membaca perubahan tanpa panduan, hanya dengan perasaan yang pelan-pelan menyesuaikan diri pada sebuah situasi baru.

Setelah ibu kami di Jakarta, rumah di dekat dam perlahan kehilangan penghuninya. Sebelum rumah itu roboh, atau tepatnya sebelum rumah itu hanya menyisakan Kak Iman seorang, aku dan Kak Laela telah lebih dulu tinggal di rumah nenek di dataran tinggi. Pergantian kebiasaan itu membuat jarak menuju pemandian terasa semakin panjang. Namun kami belajar memahami bahwa rumah bukan lagi sebagai tempat yang tetap, melainkan sebagai ingatan yang berpindah-pindah, mengikuti langkah-langkah kecil kami. 

Karena jarak menuju dam pemandian umum memang jauh lebih merentang, setiap kali hendak mandi, kami harus kembali menaklukkan puluhan anak tangga. Tangga-tangga batu itu tetap terasa panjang dan dingin, seolah sengaja diletakkan di sana untuk menguji kesabaran raga yang belum sepenuhnya terjaga dari mimpi. 

Orang-orang dewasa boleh saja menyebutnya olahraga, namun tubuh anak-anak tak pernah pandai bernegosiasi dengan antrean panjang atau kerumunan yang tak kunjung lengang. Bahkan, ada hari-hari di mana rasa lelah terasa telah menghabiskan seluruh energi kami, bahkan sebelum air benar-benar sempat menyentuh kulit. Pagi pun berlalu begitu saja, meninggalkan sisa dingin yang tak pernah sempat kami jelaskan.

Hari ini, aku kembali melangkah pergi di pagi buta dari rumah nenek, mengikuti kebiasaan lama. Namun, perjalanan kali ini bukan untuk membasuh diri di pemandian. Aku datang untuk menyaksikan kembali puing-puing rumah yang dulu dibangun oleh kakekku, Abah kami. Sebuah hunian yang dipersiapkan khusus untuk Ibu dan keempat anaknya. Rumah itu adalah saksi bisu saat Ibu memutuskan untuk menetap dan berhenti bertarung di Jakarta, sebuah jeda tenang sebelum akhirnya takdir membawanya kembali ke ibu kota untuk kali kedua.

Di tepian dam itu, Abah membangun rumah kami dengan keyakinan yang tenang. Serupa seseorang yang paham benar bahwa hidup perlu dipelajari perlahan demi masa depan anak-anaknya. Ada doa yang disatukan dengan bambu dan batu, serta harapan yang dipaku kuat pada setiap tiang kayu. Abah mendirikan dinding-dinding itu bukan sekadar sebagai peneduh, melainkan sebagai bentuk kepatuhan pada tradisi kampung: bahwa setelah menikah, seorang anak harus memiliki atapnya sendiri agar terpisah dari orang tua. Bagi Abah, rumah itu adalah ruang kelas pertama kami untuk belajar berdiri di atas kaki sendiri, membiasakan kami pada kemandirian sebelum dunia yang lebih luas benar-benar menjemput.

“Hidup itu tak bisa selalu menumpang,” kata Abah suatu sore. Suaranya rendah namun tajam, meluncur di antara bunyi palu yang menghantam paku. Ia berdiri sambil menatap tiang rumah yang belum sepenuhnya kokoh, seolah sedang melihat jauh melampaui kayu-kayu itu. Melihat masa depan kami yang masih samar.

Di mata Abah, kemandirian bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan yang harus dicicil sejak dini. Tiang yang belum tegak itu adalah janji bahwa kami tidak akan terus-menerus berteduh di bawah ketiak orang lain. Di rumah dam itulah, Abah sedang menanamkan akar agar kelak, ketika badai Jakarta atau dunia yang lebih luas datang menerjang, kami sudah tahu cara berdiri tegak di atas pondasi kami sendiri.

Meski telah memiliki atap sendiri, letak rumah dam masih tergolong dekat dari rumah nenek. Kedekatan itu menyerupai tali tak kasatmata yang tak pernah benar-benar dilepaskan oleh kaki-kaki kecil kami; sepulang sekolah, langkahku lebih sering bermuara di sana. Aku selalu tertarik pada bengkel kecil pamanku, sebuah sudut di mana ia menghabiskan waktu dengan mengutak-atik benda-benda elektronik, menghidupkan kembali tape dan radio titipan orang-orang.

Aku betah berlama-lama di sana, sekadar untuk mencermati gerak tangannya yang presisi. Ada semacam sihir saat ujung solder yang panas bertemu dengan gulungan timah, menimbulkan desis kecil yang ritmis dan aroma perak terbakar yang khas. Aku terpaku melihat bagaimana timah-timah itu dipahatkan dengan teliti ke atas lembar PCB, seolah paman sedang menyusun rasi bintang baru yang kelak akan memicu suara-suara dari kotak kayu bernama radio.

Pekerjaan paman menerima jasa perbaikan radio dan tape recorder titipan orang-orang, membuatku sering duduk diam sebagai pengamat yang tekun. Di tengah kepulan asap solder dan tumpukan kabel yang semrawut, aku sering melamun dan berpikir: bahwa barangkali hidup pun memiliki kerumitan yang serupa dengan mesin radio tua. Terkadang, ia harus rela dibongkar, dipilah sirkuitnya, dan disentuh kembali bagian-bagian yang rusak, agar suaranya bisa kembali terdengar jernih dan ia mampu berbunyi lagi.

Setelah rasa bosan menumpuk di mata yang terserang kantuk, atau saat tak lagi punya tempat untuk berdiam di rumah nenek, barulah aku melangkah pulang ke rumah dam. Rumah yang pernah kusaksikan kelahirannya sejak awal. Rumah yang dibangun dengan harapan-harapan sederhana milik kakek dan kami semua. Namun, waktu pula yang memaksaku menyaksikan bab akhirnya. Jauh setelah kakek berpulang, aku melihat sendiri bagaimana rumah itu diruntuhkan, menyisakan rangka-rangka tiang yang berdiri kaku, serupa ingatan yang telah lupa caranya untuk pulang.

Keruntuhan itu bermula setelah Kak Iman lulus Masrasah Tsanawiyah dan memutuskan pergi menyusul Ayah ke Gobras. Sejak kepergiannya, rumah itu seolah kehilangan ruh dan alasan untuk tetap utuh. Satu per satu penghuninya melangkah pergi, membiarkan dinding-dindingnya menyerah pada sunyi, hingga yang tersisa hanyalah puing yang kini sedang kutatapi.

Tak banyak yang berbicara ketika rumah itu mulai kehilangan bentuknya. Tidak ada tangis yang benar-benar dilepaskan, tidak pula percakapan yang berusaha menahan. Rumah yang semula dihuni lima orang: ibuku, aku, Kak Laela, Kak Iman, dan Kak Tahar, perlahan menjadi ruang yang terlalu luas untuk ditinggali. Satu per satu penghuninya pergi, dan setiap kepergian berlangsung dengan cara yang sama: sunyi, seperti debu yang jatuh perlahan tanpa suara, tak pernah meminta disaksikan.

Kami memang datang ke dunia dengan jarak yang teratur, sebuah ritme yang terjaga. Aku dan Kak Laela terpaut dua tingkat kelas. Kak Iman terpaut dua tingkat dari Kak Laela, begitu pula Kak Tahar yang berada dua tingkat di atas Kak Iman. Jarak usia kami tersusun begitu rapi, serupa anak-anak tangga dengan ketinggian yang sama. Mudah untuk dinaiki bersama, namun ternyata, juga begitu mudah untuk ditinggalkan satu per satu. Kini, saat aku berdiri di antara puing rumah dam ini, aku menyadari bahwa tangga-tangga usia itu telah membawa kami ke puncak yang berbeda-beda, meninggalkan jejak langkah yang perlahan memudar ditelan waktu.

Barangkali karena itulah, kepergian kami satu per satu terasa begitu wajar; seolah setiap langkah memang sudah disiapkan sejak awal untuk menuju arahnya masing-masing. Kami hanyalah para pengelana yang kebetulan berangkat dari titik yang sama. Sementara itu, rumah dam, dengan segala sisa puingnya hari ini, hanya berdiri sebagai sebuah penanda sunyi, bahwa kami pernah berkumpul di satu pijakan yang sama sebelum akhirnya dilarung oleh waktu ke muara yang berbeda-beda.

Saat aku baru pertama kali menjejaki bangku sekolah dasar, Kak Tahar sudah melangkah ke jenjang yang lebih jauh. Ia memasuki sekolah menengah, sebuah Madrasah Tsanawiyah, sekaligus memulai hidupnya dengan mondok di pesantren di Cikatomas. Bagiku saat itu, nama-nama tempat tersebut terdengar seperti raksasa yang terlalu besar untuk kupahami; serupa titik-titik di sebuah peta luas yang belum kukenal arahnya. Perjalanannya terasa seperti awal dari perpisahan yang perlahan, sebuah tanda bahwa anak tangga tertua telah mulai mendaki jauh, meninggalkan aku yang masih terpaku menatap gerbang sekolah dengan segala ketidaktahuan.

Aku ingat suatu pagi, sebelum matahari benar-benar naik dari peraduannya, ia berdiri di ambang pintu dengan tas yang menggantung di bahunya. Tidak ada upacara perpisahan yang mengharu biru, tidak pula ada pesan-pesan panjang yang dititipkan dengan berat. Ia hanya menoleh singkat, mengucapkan kalimat pendek dengan suara yang begitu datar dan biasa. Seolah-olah ia hanya hendak pergi sebentar ke warung di ujung jalan, bukan untuk menempuh perjalanan yang akan mengubah garis hidupnya.

“Aku pergi dulu,” katanya. Singkat. Namun, di balik kata-kata itu, pintu rumah dam seolah menutup satu babak kehidupan kami selamanya.

Aku mengangguk. Aku tahu caranya mengangguk, tetapi belum tahu caranya memahami arti pergi. Saat itu, pergi bagiku hanyalah jarak yang memanjang sebentar, bukan kehilangan. Aku tak tahu bahwa sejak pagi itu, rumah mulai belajar menerima ruang-ruang kosong, dan aku mulai belajar bahwa ada perpisahan yang datang lebih cepat daripada pengertian.

Kak Tahar, adalah orang pertama yang pergi dari rumah itu. Kepergiannya seperti pintu yang terbuka, membuat angin baru masuk. Tersisa kami berempat dengan kepala rumah adalah ibuku. Ibu yang memapah anak-anaknya, dengan sumber penghidupan seadanya. Mengurus ladang dan sawah yang sejak rumah tangga dengan ayahku mengurusnya. Ibu yang berjalan paling pelan, tapi paling jauh, dengan langkahnya tenang.

Kadang, di malam hari saat sunyi benar-benar menguasai rumah dam, aku mendengarnya berkata lirih. Entah pada siapa kata-kata itu ditujukan, apakah pada kayu-kayu yang mulai menua ataukah pada takdir yang mengintai di balik gelap. “Rumah ini harus tetap berdiri,” bisiknya. Suaranya nyaris menyatu dengan pekat malam, tipis dan ganjil, serupa doa yang sengaja diucapkan agar tak perlu dijawab, hanya ingin agar semesta tahu bahwa ada sesuatu yang sedang ia perjuangkan sekuat tenaga.

Dan rumah itu memang berdiri. Ia bertahan bukan semata oleh tiang dan dinding, melainkan oleh ingatan kami yang terus memanggilnya pulang. Ia berdiri selama kami masih mengingatnya. Selama ada nama-nama yang masih disebut pelan, dan langkah-langkah yang meski tak lagi kembali, tetap tinggal di dalam kepala keempat anaknya.

Untuk menyambung napas keluarga, Ibu melakoni apa saja yang bisa dikerjakan tangan-tangannya yang tabah. Kadang ia menjadi buruh di ladang dan sawah, kadang pula ia bergabung dalam Pokja di Peuntas—sebuah perkebunan luas yang belakangan baru kuketahui milik Ibu Tien Soeharto. Di sana, di antara barisan pohon kelapa yang baru tumbuh, Ibu bekerja membersihkan tanah, mencabuti rumput, dan memastikan kehidupan bagi tunas-tunas hijau itu, meski itu berarti ia harus menguras hidupnya sendiri.

Pekerjaan bertani adalah pengabdian yang menuntut tubuh lebih dari yang sanggup ia berikan. Hari-hari panjang yang dipanggang matahari, lumpur sawah yang seolah ingin menahan kakinya agar tak melangkah, serta beban-beban yang ia panggul dalam diam, perlahan mulai menggerogoti kekuatannya. Ibu pun jadi sering sakit-sakitan. Tubuhnya seolah belajar tentang keletihan jauh lebih cepat daripada kami, anak-anaknya, belajar memahami arti dari sebuah pengorbanan.

Karena itulah, ketika aku hendak menginjak kelas dua, ibu akhirnya mengambil keputusan yang terasa berat bahkan sebelum diucapkan: kembali ke Jakarta. Aku sedih karenanya. Kesedihan itu datang tanpa banyak kata, seperti hujan yang jatuh di dalam dada. Padahal aku tahu, kepergian ibu sesungguhnya bukan untuk meninggalkan, melainkan untuk bertahan, demi makan dan biaya sekolah anak-anaknya.

Namun, segala pengetahuan tentang perjuangannya tak serta-merta membuat kehilangan itu menjadi ringan. Sepeninggal Ibu, kami bertiga: aku, Kak Laela, dan Kak Iman, menjadi serupa anak-anak yang mendadak kehilangan inangnya. Terombang-ambing tanpa pegangan yang pasti. Rumah dam itu memang tetap berdiri, dan pagi-pagi yang dingin tetap datang menyapa, namun sesuatu yang paling kami kenali dari dunia ini telah pergi selamanya.

Sejak saat itu, kami belajar tumbuh dalam jarak. Kami mulai memahami satu kenyataan pahit: bahwa terkadang, cinta harus rela menjauh dan berpencar ke arah yang berbeda, hanya agar ia bisa terus hidup di dalam dada masing-masing. Tak ada lagi senyum ibu yang menyambutku setiap kali aku pulang sekolah. Senyum yang dulu selalu hadir di ambang hari itu, perlahan menjadi jarak. 

Senyum terakhir itu hanya sempat singgah pada pembagian hasil caturwulan pertama dan kedua, saat Ibu masih memiliki sisa kekuatan untuk hadir ke sekolah. Setelah masa itu berlalu, hanya Kak Laela yang datang mengambilkan raporku, lalu kolom tanda tangan orang tua diisi oleh nama Kak Iman. Goresan namanya di sana menjadi penanda yang getir namun kuat; bahwa keluarga kami tetap berusaha hadir dan berdiri tegak, meski fondasinya tak lagi sepenuhnya utuh.

Namun, pada senyum Ibu yang terakhir di sekolah itu, ingatanku telah menguncinya dengan sangat rapi. Aku ingat saat melangkah keluar dari pintu kelas, Ibu sudah berdiri di sana, di antara kerumunan orang tua lainnya. Ia menungguku di bawah rimbun pohon belimbing dan jambu yang memayungi halaman depan ruang kelas satu. Di sanalah senyum itu menyambutku. Senyum paling cantik yang pernah kulihat, begitu riang dan bercahaya, seolah tak pernah ada jarak di antara kami, seolah ia berjanji tak akan pernah pergi ke mana pun.

Barangkali senyum itu lahir dari rasa bangga. Nilai-nilai di rapor merahku tidak benar-benar merah. Angka-angkanya bersih dari tanda cela. Angka merah adalah kutukan pada masa itu, sesuatu yang ditakuti setiap orang tua, sebab siapa yang sanggup menahan malu bila anaknya menerima satu saja angka merah di antara mata pelajaran lainnya. Mungkin karena itulah senyum ibu terasa begitu terang. Sebuah senyum yang menyimpan harapan, sebelum jarak kembali mengambil alih hari-hari kami.

Sementara ayahku, sejak bercerai dengan ibu, telah lama tinggal di Tasik kota. Ia menikah lagi dengan seorang janda yang memiliki seorang anak. Kehidupannya berjalan ke arah lain, jauh dari lintasan hari-hariku. Rumah peninggalan ayah dan ibu saat masih berumah tangga telah lebih dulu dirobohkan. Bahkan sebelum aku sempat sadar bahwa di sanalah sebagian kenangan seharusnya tumbuh. Rumah itu pergi lebih cepat daripada ingatanku belajar mengenal bentuknya.

Lalu rumah yang dibangun Abah, yang kusebut rumah dam, perlahan kehilangan napasnya sendiri. Hanya rumah itulah yang benar-benar kuingat dalam kesadaran, satu-satunya bentuk rumah yang tinggal utuh di ingatan. 

Namun sejak kepergian ibu, rumah itu mulai ditinggalkan oleh kehidupan. Bilik-bilik bambunya pelan-pelan menjadi rombeng, tiang-tiangnya perlahan dimakan rayap, hingga akhirnya seluruh tubuhnya retak oleh waktu dan sepi. Dinding-dindingnya tak lagi sepenuhnya menyangga kehidupan. Ia hanya menyimpan sisa-sisa suara yang pernah tinggal di dalamnya. Pernah ada tawa yang tak lagi kembali, langkah-langkah yang telah menjauh, dan nama-nama yang kini hanya bisa disebut pelan di dalam ingatan.

Saat itu, hari-hariku sedang bergerak menuju perayaan kenaikan kelas. Tak lama lagi, aku akan menanggalkan status sebagai murid kelas satu. Di antara kibaran bendera kertas warna-warni, tawa riuh teman-teman, dan segala harapan kecil yang disiapkan sekolah, aku berdiri di ambang usia yang belum sepenuhnya mengerti apa itu kehilangan yang sesungguhnya.

Aku akan melangkah naik satu tingkat di ruang kelas, sementara di luar sana, rumah dan keluargaku perlahan-lahan turun ke lapisan ingatan yang lebih dalam. Mereka bertransformasi menjadi sesuatu yang sunyi; sesuatu yang kelak hanya bisa kutemui kembali lewat untaian cerita dan kenangan yang kini sedang kususun satu per satu.

Biasanya, setiap lebaran, ibu selalu pulang dari Jakarta. Kepulangannya menjadi penanda yang paling kami tunggu, seolah jarak dan waktu tahu kapan harus membuka jalan. Namun sejak kepergian ibu di akhir caturwulan tiga tahun pertama sekolahku, kebiasaan itu terputus. Ibu tak pulang pada lebaran pertama setelah ia pergi. Lebaran datang tanpa langkahnya, tanpa suaranya di pagi hari.

Setahun berlalu. Lebaran kedua tiba, lalu yang ketiga, namun Ibu tetap tak kunjung pulang. Hingga saat aku baru saja menjejaki kelas satu SMP, barulah ia kembali hadir di ambang pintu. Namun, waktu telah mengerjakan banyak hal di antara kami; ia telah mengubah tinggi badan, warna suara, hingga cara kami saling memandang.

Saat akhirnya kami kembali berhadapan, ada jeda sunyi yang tak bisa segera diisi oleh kata-kata. Di antara Ibu dan anak-anaknya tumbuh rasa kepanglingan yang ganjil: kami saling mengenal, tetapi tak lagi sepenuhnya akrab. Kami saling mencintai, namun harus bersusah payah menata ulang puing-puing ingatan. Seolah Lebaran kali itu tidak hanya membawa pulang raga Ibu, tetapi juga memaksa kami bertemu dengan versi diri masing-masing yang telah berubah sepenuhnya oleh jarak.

Rumah dam akhirnya tinggal sebagai rumah kenangan yang rapuh. Kami bertiga tak pernah benar-benar pandai merawatnya. Barangkali karena kami memang masih terlalu bocah, atau barangkali karena tak seorang pun pernah mengajari kami bagaimana cara menjaga sesuatu yang sedang ditinggalkan perlahan-lahan oleh penghuninya.

Meski begitu, rumah itu tetap mencoba bertahan, dihuni untuk sementara oleh Kak Iman seorang diri. Ia tinggal di sana serupa penjaga ingatan yang setia, memikul sunyi di bahunya demi menahan rumah itu agar tidak benar-benar roboh dimakan waktu. Namun, setiap penjaga memiliki batasnya. Hingga pada akhirnya, Kak Iman pun melangkah pergi, dan rumah kenangan itu pun kehilangan detak jantungnya yang terakhir. Ia kini sepenuhnya menyerah, membiarkan dirinya rubuh dan menyatu kembali dengan tanah, meninggalkan kami dengan sejuta rindu yang tak lagi memiliki alamat untuk pulang.

Saat rumah itu hanya ditempati Kak Iman, aku dan Kak Laela berpindah ke rumah nenek. Di sanalah kami menemukan tempat pulang yang lain. Rumah yang selalu punya masalahnya sendiri, tetapi tetap membuka pintu setiap kali kami datang. Rumah nenek bukan rumah yang sunyi, justru sebaliknya: ia penuh suara, penuh cerita, penuh persoalan yang tak pernah benar-benar selesai.

Tinggal bersama nenek seharusnya membuatku sadar bahwa aku tak lagi sepenuhnya anak kecil yang hanya bisa menerima. Di rumah itu, ada pekerjaan yang menunggu tanpa perlu dipanggil, ada tanggung jawab yang hadir tanpa pernah diumumkan secara resmi. Hari-hari berjalan dengan cara yang lebih berat, dan pelan-pelan aku belajar bahwa tumbuh bukan selalu soal bertambah usia, melainkan tentang mulai memikul sesuatu yang sebelumnya tak pernah kupikirkan sebagai milikku.

Kuingat sepulang sekolah, Kak Laela sudah tahu bagiannya adalah pekerjaan mencuci piring, mengangkut air, menata dapur yang selalu tampak tak pernah benar-benar rapi. Aku, sebaliknya, ditugaskan mencari kayu bakar dan mengangkut air dari bawah, dari pemandian yang harus dicapai dengan menuruni puluhan anak tangga. Tangga-tangga itu terasa lebih panjang setiap kali aku malas, dan kemalasanku tumbuh seperti rumput liar yang sulit dicabut.

“Ayo cepat,” kata Kak Laela suatu sore. Suaranya terdengar tegas, namun di balik ketegasan itu tersimpan lelah yang tak pernah sempat ia ucapkan di depan adiknya.

“Nanti,” jawabku lirih, sambil duduk lebih lama dari yang seharusnya. Aku bersikeras diam, seakan-akan waktu bisa kutahan hanya dengan menunda gerak, seolah-olah dengan diam, perubahan yang menakutkan itu tak akan pernah datang.

“Nanti itu tidak ada,” katanya lagi. Kalimat itu jatuh pelan, namun terasa begitu berat. Seperti sebuah peringatan yang tak hanya ditujukan padaku, melainkan pada sore yang mulai meredup, pada hari-hari kami yang kian ringkih, dan pada segala hal di dunia ini yang tak bisa terus-menerus ditangguhkan.

Di rumah dam itulah, aku pertama kali mengerti bahwa 'nanti' memang seringkali hanyalah cara lain untuk mengatakan 'tidak pernah'. Karena pada akhirnya, rumah itu roboh, Ibu pergi, dan kami pun terpencar, meninggalkan 'nanti' yang tak pernah benar-benar sampai.

Pada satu waktu, mungkin karena kemalasanku telah melewati batas kesabaran, Kak Laela benar-benar kehilangan kendali. Ia melempariku dengan kayu bakar yang kuabaikan sejak siang. Kayu itu melayang sebentar, lalu jatuh di dekat kakiku. Aku terdiam. Bukan karena sakit, tetapi karena terkejut. Betapa kejamnya kakakku saat itu, pikirku. Namun bertahun-tahun kemudian, aku tahu itu bukan kejam, itu putus asa. Putus asa seorang anak yang terlalu cepat diminta dewasa.

Sejak meninggalkan rumah dam, aku hanya melewatinya sekilas. Sekadar saat hendak mandi atau mengambil air. Rute perjalananku ke sekolah telah berubah, mengikuti arah baru dari rumah nenek. Rumah dam, bahkan ketika masih berdiri utuh, telah lebih dulu kami tinggalkan. Aku meninggalkannya jauh hari, barangkali karena tak tahu lagi untuk apa menolehnya. Apa gunanya memperhatikan bilik-bilik bambu yang kian rombeng, dinding yang mulai menyerah, sementara rumah itu tak lagi ditempati siapa pun?

Namun waktu bekerja dengan caranya sendiri. Entah mengapa, justru ketika dewasa, aku merasa begitu lekat pada kenangannya. Rumah itu kini hanya tersisa dalam ingatan para penghuninya. Ia hadir sebagai puing yang berserakan di kepala, sebagai fondasi yang tertanam terlalu dalam dan terlalu kokoh di setiap langkah hidupku. Dari kecil menuju dewasa, dari dewasa menuju usia yang kian menua, rumah itu tak pernah benar-benar pergi. Ia terus hadir bukan sebagai luka yang menganga, melainkan sebagai denyut halus di membran memori, sesuatu yang kadang nyaris tak terasa, namun tak pernah hilang.

Terlebih setelah aku menjalani hidup di penjara sebagai sebuah ruang tanpa rumah, tanpa kemungkinan pulang, dan pertanyaan itu kerap datang dalam diam: kapan lagi aku bisa menikmati nyamannya sebuah rumah? Sebuah surga kecil yang dibangun bukan oleh tembok semata, melainkan oleh cinta dan kebiasaan, oleh suara yang dikenal, oleh pintu yang selalu tahu cara menyambut. Di situlah rumah dam kembali berdiri, bukan sebagai bangunan, melainkan sebagai kerinduan yang tak selesai.

Barangkali seperti cinta pertama yang selalu meninggalkan bekas tak kasat mata, demikian pula rumah yang kutinggali sejak aku mulai memiliki kesadaran. Wujud bangunan rumah pertama itu, yang kutempati bersama Emak dan tiga kakakku telah roboh, berubah menjadi belukar dan tanah tak bernama. Namun kenangannya tetap berdiri tegak, lebih kukuh dari dinding mana pun. Ia tidak runtuh, tidak lapuk, tidak tunduk pada waktu.

Mungkin karena aku menyaksikan sendiri saat bangunan itu ambruk ke tanah, menyisakan rangka atap dan dinding yang tak lagi berfungsi. Kemudian debu naik perlahan, seperti napas terakhir yang dihirup seseorang sebelum ajal menyerangnya. Mungkin pada saat itu ada bagian jiwaku yang ikut runtuh, terpenggal tanpa suara. Sementara sisanya memilih hidup sendiri, berjalan pelan, dan kini bercerita lewat lintasan demi lintasan ingatannya. Seperti ada sebuah upaya untuk menyambung apa yang pernah terputus.

Aku teringat nasihat seorang ahli hipotik yang pernah kudengar entah dari mana: “Jangan pernah menjual rumah! Karena pada setiap rumah ada kenangan yang bertumbuh bagi penghuninya. Lebih baik punyailah rumah sejumlah putra-puteri Anda!” Sebuah kalimat yang terdengar bijak, namun juga licin, seperti iklan pemasaran yang dibungkus filosofi. Sebuah sudut pandang yang ditawarkan agar rumah-rumah laku di pasaran.

Aku tak berniat mengaminkan nasihat itu. Namun aku mengalaminya sendiri tentang bagaimana sejarah ruang pertumbuhanku di masa kanak-kanak bekerja diam-diam membentuk diriku. Saat menghuni rumah di dekat dam dan pemandian, rumah itu menjadi tempat pulang setelah sekolah pagi, setelah sekolah diniyah di petang hari, setelah mengaji di Musala Darul Abrar Kang Yusuf–Ceu Tati. Setiap kali aku melangkah pulang, rumah itu tak bertanya apa-apa. Ia hanya membuka dirinya.

“Sudah pulang?” seolah begitu sapanya, tanpa suara, setiap kali aku melintasi tempat itu. Sapaan yang tak lagi memerlukan kata, hanya getar yang tiba-tiba hadir di dada.

“Iya,” jawabku dalam hati, setiap kali, seakan ada sesuatu yang menunggu kepulangan itu, meski tak lagi memiliki tubuh untuk menyambut.

Dan mungkin, sejak saat itulah aku mulai memahami: rumah bukan sekadar bangunan. Ia adalah percakapan yang terus berlangsung, yang diam-diam, setia, dan bahkan setelah suaranya lama menghilang yang kemudian setelah dewasa terdengar kian nyaring.

Sampai suatu malam, ketika usiaku telah menjauh, cukup jauh dari masa kecil, aku sering berbicara dengan rumah itu dalam diam. Aku tak mengucapkan kata-kata dengan suara, tetapi rumah itu seolah mengerti maksudku. “Kau masih berdiri?” tanyaku. 

Rumah itu tak menjawab, tetapi keheningannya seperti anggukan pelan. Dinding-dinding yang telah runtuh itu menjelma lorong dalam kepalaku, tempat aku berjalan tanpa alas kaki, mendengar kembali gema langkah kecilku sendiri.

“Aku sudah berubah,” kataku lagi. “Aku tak lagi anak yang pulang membawa tas dan lapar.”

Rumah itu tetap diam. Namun justru dari diam itulah aku mengerti: rumah tak menuntut apa pun. Ia hanya menyimpan. Ia tak menagih kepulangan, hanya menyediakan kemungkinan.

Di penjara, aku baru benar-benar memahami arti rumah dengan cara yang ganjil. Penjara adalah rumah tanpa pilihan. Ruang yang memaksa tinggal, bukan mengundang pulang. Dindingnya tegak dan kokoh, dan tak pernah hangat. Setiap malam, aku berbaring dan membayangkan atap rumah masa kecilku yang bocor di musim hujan. Anehnya, kebocoran itu terasa lebih manusiawi daripada langit-langit beton yang sempurna. 

“Beginikah rasanya hidup tanpa pulang?” tanyaku pada diri sendiri. Tak ada yang menjawab, kecuali bunyi kunci yang beradu, seperti doa yang salah alamat.

Di dalam sel, aku kerap menyebut rumah masa kecilku sebagai rumah yang bernapas. Sementara penjara hanyalah bangunan yang mengawasi ke manapun aku melangkah. Rumah dulu menungguku tanpa syarat, sedangkan penjara menghitung hariku satu per satu, seperti akuntan kesabaran. Di sana, aku sadar: rumah bukan tempat berlindung dari hujan, melainkan tempat di mana waktu berhenti menanyaimu.

Di antara semua bayangan yang berseliweran di kepalaku, wajah neneklah yang paling sering muncul. Ia berdiri seperti pilar tua, retak di sana-sini, namun tak pernah runtuh, yang mengambil alih tugas ibu dan ayahku. Nenek tak banyak bicara, tetapi kehadirannya menahan segalanya agar tak benar-benar jatuh. Seolah selama ia masih ada, dunia masih punya penyangga.

“Makan dulu,” katanya singkat, pada suatu waktu. Kalimat itu terdengar biasa, nyaris tanpa nada, namun selalu datang tepat saat segalanya terasa terlalu berat. Seolah dunia bisa ditunda sebentar, ditangguhkan sampai piring kosong. Dari tangan nenek, aku belajar bahwa cinta tak selalu hangat atau manis. Kadang ia hadir seadanya. Cukup agar kita tetap hidup, cukup agar hari bisa dilanjutkan.

Sering kali aku membayangkan nenek berdiri di antara puing-puing rumah, menatap tanah yang dulu kami sebut halaman. Ia tak menangis, tak pula meratap. Ia hanya menghela napas panjang dan dalam. Seperti seseorang yang telah lama tahu bahwa kehilangan tak bisa diusir, hanya bisa ditemani. Bagi kami, nenek adalah rumah terakhir yang tak pernah roboh. Bahkan ketika semua yang lain telah menyerah pada waktu.

Kini, ketika aku dewasa dan mencoba menyusun hidup seperti menyusun ulang furnitur yang hilang, aku tahu satu hal: rumah masa kecil itu tak pernah benar-benar pergi. Ia hidup sebagai suara yang mengingatkanku untuk pulang ke diri sendiri. Dan nenek, dalam diamnya, adalah alasan mengapa runtuhan itu tak menelanku sepenuhnya.

“Aku masih di sini,” kataku pada rumah, pada penjara, pada nenek, pada diriku yang dulu. Dan untuk pertama kalinya, keheningan menjawab dengan sesuatu yang mirip ketenangan.

Aku mengerti bahwa hidup tidak pernah benar-benar memberi kita satu rumah yang utuh. Ia hanya meminjamkan beberapa ruang, lalu menariknya kembali tanpa peringatan. Rumah masa kecilku telah roboh, penjara telah kulewati, dan nenek telah menua bersama waktu. Namun semua itu tidak hilang. Mereka berubah menjadi lapisan-lapisan tipis di dalam diriku, seperti cincin usia pada batang pohon yang hanya terlihat jika ditebang.

Kini aku berjalan tanpa membawa kunci rumah mana pun, tetapi setiap langkahku menyimpan arah pulang yang samar. Aku belajar bahwa pulang bukan lagi soal alamat, melainkan kemampuan untuk duduk tenang bersama ingatan tanpa perlu mengusirnya. Rumah telah berpindah ke dalam diriku, ke caraku mengingat, ke caraku bertahan, ke caraku menyebut nama-nama yang tak lagi menjawab.

Jika suatu hari aku benar-benar memiliki rumah, mungkin ia tak akan sempurna. Atapnya bisa saja bocor, dindingnya mungkin tak simetris. Tapi aku tahu satu hal: rumah itu akan kubiarkan bernapas. Aku akan membiarkan sunyi tinggal di sudutnya, dan kenangan berjalan bebas tanpa dikunci. Sebab aku telah belajar, dari kehilangan yang panjang, bahwa rumah yang paling jujur adalah rumah yang tidak takut retak.

Dan bila kelak aku menua, aku berharap dapat duduk seperti ibuku dan nenekku dulu. Duduk yang tidak sekadar meletakkan tubuh, melainkan menambatkan waktu. Duduk dalam diam yang tidak kosong, dalam sunyi yang telah kenyang oleh pengalaman. Mereka menahan runtuhnya dunia bukan dengan suara keras atau tuntutan yang gemetar, melainkan dengan kesabaran yang mengendap perlahan, seperti tanah yang setia menampung hujan tanpa pernah meminta langit untuk menjelaskan dirinya. Duduk yang tak tergesa ingin dimengerti, sebab hidup, pada akhirnya, tidak selalu butuh penjelasan; ia hanya perlu disaksikan dan diterima.

Aku ingin menua dengan ketenangan semacam itu. Dengan ketenangan yang lahir dari luka-luka yang telah berdamai dengan dirinya sendiri, dari kehilangan yang tak lagi menuntut penggantian. Duduk tanpa perlu membela masa lalu, tanpa cemas pada masa depan, cukup hadir di antara keduanya seperti nafas yang keluar-masuk dengan patuh. Dalam duduk itu, dunia boleh ribut di sekeliling, boleh runtuh perlahan, dan aku tetap tinggal, tidak untuk melawan, tidak pula untuk menyerah.

Aku ingin menjadi rumah bagi diriku sendiri, sebagaimana rumah masa kecilku dulu menjadi segalanya. Rumah yang pintunya selalu terbuka bagi kepulangan, bahkan ketika aku datang dalam keadaan paling lelah dan paling kecewa pada hidup. Rumah yang tidak menginterogasi kegagalan, tidak mencatat dosa-dosa kecil yang kubawa pulang. Di sana, letih boleh diletakkan di sudut ruangan, harap boleh disandarkan di dinding, dan air mata boleh jatuh tanpa takut dinilai.

Rumah itu tak pernah meminta apa pun sebagai gantinya. Ia tidak menuntut pujian, tidak haus dikenang lewat upacara atau cerita yang dibesar-besarkan. Ia hanya ada, hadir setia, bersahaja, dan diam-diam menyelamatkan. Dan bila kelak aku benar-benar menua, aku ingin menjadi rumah yang seperti itu bagi diriku sendiri: cukup diingat, cukup dihuni, cukup dipercaya bahwa di sanalah aku boleh pulang, tanpa syarat apa pun. (Bersambung)

Perspektif

Scroll