Namaku Haya, dan inilah kisah hidupku. Kisah yang berliku seperti sungai kecil di tengah hutan lebat, yang berkelok dan mengalir kadang tenang, memantulkan langit yang pucat dan dedaunan yang jatuh perlahan, kadang deras menghantam batu-batu besar yang tak terlihat dari jauh, tapi meninggalkan bunyi retak yang hanya bisa didengar oleh mereka yang cukup dekat untuk basah oleh percikannya. Aku belajar sejak dini bahwa air tak pernah benar-benar memilih jalannya. Ia hanya setia pada gerak, pada kemungkinan, pada keberanian untuk terus mengalir meski arah kerap berubah tanpa aba-aba.
Aku tumbuh di sela-sela jeda itu: antara tenang dan gaduh, antara harap yang disimpan rapat dan kecewa yang datang tanpa mengetuk. Hidup mengajarkanku membaca tanda-tanda kecil, sebagai bayangan awan di permukaan air, sebagai getar tanah sebelum hujan, atau sebagai bahasa rahasia tentang apa yang akan datang. Di sanalah aku menemukan diriku: bukan sebagai pemenang yang berdiri di puncak, melainkan pejalan yang paham arti berhenti, menepi, lalu melanjutkan langkah dengan napas yang baru.
Jika kisah ini tampak sederhana, itu karena aku menuliskannya dari jarak yang dekat, dari luka-luka yang telah mengering namun masih menyisakan peta. Aku percaya, setiap manusia adalah sungai kecilnya sendiri: membawa endapan kenangan, kehilangan, dan doa-doa yang tak sempat diucapkan. Dan aku, Haya, hanya ingin bercerita. Bukan untuk menjelaskan segalanya, melainkan untuk memberi ruang bernapas bagi siapa pun yang pernah tersesat, lalu menemukan jalan dengan caranya sendiri.
Aku pernah mencoba menyembunyikan namaku di balik panggilan singkat—“Hay”, seperti daun yang gugur diam-diam dari rantingnya, tanpa menunggu angin menyapa. Tetapi nama lengkapku, Haya bin Zamin, terdengar lebih berat, seperti pintu rumah tua yang menahan deritanya sendiri, menunggu seseorang membuka rahasianya. Lebih lengkap lagi, Hayatu Dzakir bin Zamin Zainudin. Nama itu terlalu panjang, menggantung, dan menuntut aku memahami maknanya. Seolah setiap suku kata menyimpan doa yang menunggu waktu untuk terwujud. Dan aku tak tidak mau mengalami keribetan itu.
Lalu kalau mengikuti tradisi Arab, aku mungkin dipanggil Ibnu Zamin, anaknya Bapak Zamin, tapi aku sudah lama berhenti peduli pada nama ayahku. Jarak yang terbentang antara aku dan ayahku terlalu lebar untuk sekadar kata, dan sebelum akhirnya aku masuk penjara, tempat di mana waktu dan penyesalan berpadu dalam diam, aku sudah belajar bahwa hidup tidak menunggu pertemuan yang tertunda.
Maafkan jika aku bertele-tele mengenalkan diri. Namun momen awal cerita adalah saat yang tepat untuk menyingkap siapa aku sebenarnya, karena nama adalah cermin pertama dari seseorang yang ingin dikenali. Aku harus menyingkapnya, agar pembaca mengerti siapa Haya sebelum cerita ini berjalan jauh, sebelum menyingkap lapisan-lapisan kehidupan yang sering kali tersembunyi di balik kebisuan dan langkah-langkah kecil yang tidak sepele.
Bagi sebagian orang, nama Haya mungkin terdengar aneh. Bukankah Haya terdengar feminin? Padahal aku laki-laki. Tidak, aku bukan sekadar laki-laki; aku lelaki sejati. Maksudku, bukan hanya jenis kelamin, tapi maskulinitas yang menuntut keberanian untuk berdiri sendiri, menghadapi dunia yang kadang dingin dan acuh. Lelaki adalah mereka yang mampu menatap sepi tanpa ragu, yang bisa menghidupi dirinya sendiri, agar tidak selamanya bergantung pada bayangan atau tangan orang lain.
Mungkin itulah sebabnya ayahku menamaiku Haya, yang artinya hidup, agar aku selalu hidup, bahkan ketika harus berjalan sendirian. Meski kenyataannya, aku pemalu dan penuh ketakutan, seakan nama dan sifatku bertolak belakang, seolah doa dan kenyataan saling beradu. Namun nama ini adalah pengingat tersembunyi, agar aku sanggup menghidupi diriku sendiri sejak kini, bukan menunggu kelak, bukan nanti, tetapi saat langkahku masih tersandung pada ketakutan dan keraguan.
Nama ini adalah doa yang teranyam di setiap napas, agar aku tidak mengecewakan leluhurku, agar aku kelak mampu mengajak seorang perempuan yang sedia sekata menempuh perjalanan panjang rumah tangga. Mengajak bukan sekadar kata indah. Mengajak berarti bertanggung jawab, berarti menanggung hidup bersama, bukan menjerat dalam khayalan rumah surga yang rapuh.
Berjanji untuk hidup bersama bukan berarti kehilangan diri, atau merasa sendiri meski telah bersuami atau beristri. Maka sejak sekarang, aku harus melatih diri, menatap kubur sendiri dengan kepala tegak, karena itu adalah bagian dari perjalanan menjadi lelaki sejati, bagian dari doa yang tersimpan di namaku, bagian dari napas ayahku yang selalu terdengar samar di telingaku.
Namaku adalah penjelmaan doa dari ayah dan ibuku. Setiap langkah yang kutempuh, terutama saat sendiri, selalu terikat pada pesan ayahku, seperti tali tipis yang menuntunku di kegelapan malam yang tak pernah benar-benar sunyi. Ayahku memberikan rumus hidup yang sejak kecil terdengar membosankan bagiku, tetapi kini terasa seperti mantra yang melindungi, seperti lentera kecil di lorong yang panjang dan gelap. Dua hal itu sederhana, tetapi berat: sabar dan tawakkal.
Dua kata yang menempel di dadaku seperti batu nisan yang menunggu dibaca, memberi arah bagi langkah-langkahku yang sering goyah, dan menahan aku dari tergelincir ke dalam jurang kesalahan yang tak terlihat. Dua kata itu, sederhana tapi berat, terasa seperti jangkar yang menahanku agar tidak hanyut oleh lautan penyesalan, agar langkahku tetap terarah meski hati kadang rapuh.
Aku sering kembali pada kenangan masa kecil, ketika dunia terasa lebih sederhana, meski juga penuh kerahasiaan yang sulit dimengerti. Aku teringat bagaimana ayahku berdiri di halaman rumah dengan tatapan yang jauh, seakan melihat sesuatu yang tak bisa kulihat, dan aku yang masih kecil, hanya bisa menatap balik dengan rasa penasaran dan takut yang bercampur. Sosoknya seperti pohon tua yang diam di tengah badai: tak bergerak, namun menahan angin yang merobek cabang-cabang lain. Aku tak mengerti saat itu, mengapa ia jarang bicara panjang, mengapa kata-katanya selalu terasa berat saat keluar, seperti tetes air yang jatuh ke tanah kering, perlahan menembus lapisan keras yang sulit ditembus.
Saat di penjara, kenangan itu muncul seperti bayangan yang menempel di tembok sel. Aku menyadari bahwa sabar yang ayahku ajarkan bukan sekadar menahan diri, tetapi belajar menatap kesulitan dan ketakutan dengan kepala tegak, bahkan ketika dunia tampak menolak. Dan tawakkal, bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menyerahkan hasil pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, sambil tetap melangkah dengan keberanian yang tak terlihat orang lain.
Aku masuk penjara seperti masuk ke tubuh bumi yang gelap, di mana cahaya enggan menembus celah-celah tembok tebal. Suara-suara di sekelilingku berderak, kadang membisik, kadang menjerit, seperti bayangan manusia yang kehilangan arah. Di tempat itu, waktu melambat, bergulir seperti air kental yang menempel di kulit, membuat napas berat dan pikiran liar. Setiap langkah kaki di lorong sempit terdengar seperti detak jantungku sendiri, menggema, menegaskan bahwa aku benar-benar sendiri.
Sendiri. Kata itu bukan sekadar kenyataan, tetapi pertanyaan yang terus menghantui. Aku melihat wajah-wajah lain, tetapi setiap mata seolah menyembunyikan dunia yang tak ingin kubaca. Ada yang marah, ada yang menangis, ada yang diam begitu lama hingga suaranya hilang di dalam tubuh tembok. Kesendirian di penjara berbeda dengan kesendirian di luar. Di luar, aku bisa berjalan di bawah hujan atau di tepi sungai, dan sepi itu masih memberi napas. Di sini, kesendirian menekan, menempel, membuat tiap napas terasa berat, seperti menahan batu di dada yang terus bertambah berat setiap menit.
Namun, di tengah gelap itu, aku mulai mendengar suara kecil yang sebelumnya luput dari perhatian—suara diri sendiri. Aku mulai berbicara dalam hati, menanyakan siapa aku, mengapa aku ada, mengapa aku di sini, dan apakah namaku—Haya, hidup—masih memiliki arti. Pertanyaan itu seperti angin lembut yang menembus celah tembok, memberi ruang bernapas di tengah sesak.
Aku menyadari bahwa bahkan dalam kesendirian yang paling pekat pun, hidup tetap menuntut keberanian. Hidup tetap menuntut aku untuk bergerak, meski langkahnya terseok-seok, meski jalannya penuh rintangan.
Setiap hari di penjara, aku mengingat pesan ayahku—sabar dan tawakkal itu. Aku mencoba menata napas dan pikiranku, memetik pelajaran dari kesunyian. Kesabaran adalah latihan untuk tidak terhanyut oleh kemarahan dan ketakutan yang datang silih berganti, seperti ombak yang menghantam batu karang. Tawakkal adalah belajar melepaskan kendali pada hal-hal yang tidak bisa diubah, seperti melepaskan daun yang hanyut di sungai, meski ingin tetap menggenggamnya erat.
Dua kata itu menjadi jangkar yang menahanku agar tidak tenggelam dalam kesedihan dan penyesalan. Saat di penjara, waktu terasa berbeda. Detik-detik seperti tergantung, dan aku belajar untuk melihat detail kecil yang sebelumnya luput dari perhatian. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kecil menjadi harta, bau hujan di halaman menjadi hadiah, suara angin di atap menjadi musik. Hal-hal sederhana itu mengingatkan aku bahwa hidup tetap ada, meski di tempat yang paling gelap sekalipun. Aku belajar menghargai hal-hal kecil, karena terkadang kebahagiaan bukan tentang bebas atau berlari, tetapi tentang menemukan secercah keindahan di tempat yang tak terduga.
Kesendirian juga mengajarkan aku untuk menata diri. Aku menulis di hati dan ingatan, menata langkah dan niat, menyingkap siapa aku sebenarnya. Aku mulai memahami bahwa maskulinitas yang ayahku maksud bukan sekadar keberanian fisik atau kemampuan menanggung hidup, tetapi kemampuan menahan diri, belajar dari luka, dan tetap melangkah meski dunia terasa menekan. Menjadi lelaki bukan tentang menaklukkan dunia, tetapi tentang menaklukkan diri sendiri, tentang keberanian untuk berdiri tegak meski sendirian.
Dan di situ, di tengah dinding-dinding tinggi yang dingin, aku mulai merasakan benih harapan. Harapan itu sederhana, seperti cahaya yang menembus celah sempit, seperti napas yang terselip di antara jeruji besi. Harapan itu berkata bahwa hidup tidak berhenti di sini, bahwa namaku—Haya, hidup—masih punya arti, bahwa kesendirian hanyalah bagian dari perjalanan yang lebih panjang, dan bahwa suatu hari, aku akan keluar, membawa pelajaran yang tak bisa diajarkan oleh dunia luar.
Aku mulai memahami bahwa penjara bukan hanya tempat fisik, tetapi ruang batin yang memaksa seseorang menatap jati diri, menerima segala ketakutan, kesalahan, dan kekurangan, lalu membangun keberanian baru dari abu keraguan. Di sanalah aku menemukan bahwa hidup adalah keberanian untuk terus bernapas, meski udara kadang terasa berat, meski langkah terasa terseok-seok, dan meski dunia seakan ingin menelan.
Dan ketika aku menutup mata di malam yang hening, aku merasakan napas ayah dan ibuku seolah sedang menyelimuti tubuhku, menenangkan, dan mengingatkan bahwa perjalanan ini belum selesai. Nama, doa, masa kecil, kesendirian, dan penjara—semua itu adalah lapisan-lapisan yang membentukku. Setiap langkah yang kuambil, setiap napas yang kuhirup, adalah bagian dari jawaban yang menunggu untuk ditemukan. Bahwa hidup bukan sekadar bertahan, tetapi juga belajar menyalakan cahaya, sekecil apapun, di tengah kegelapan yang paling pekat sekalipun.
Sejak itu, yang selalu kuingat dalam setiap keheningan adalah pertemuan sejak aku mulai memiliki kesadaran diri adalah nasihat ayahku. Setiap kali aku meminta uang untuk jajan atau membayar tunggakan sekolah, ayahku selalu tersenyum, kemudian berkata, “Sabar dan tawakkal, Nak. Karena sabar dan tawakkal ibarat dua roda putaran mesin uang yang harus selalu bergerak, untuk membeli segala kebutuhan, baik yang horizontal maupun yang vertikal, di hidup yang eskatologis, dan apalagi di tengah dunia yang kapitalis ini.”
Kata-kata itu terdengar berat saat itu, seperti logam yang beradu di lantai, tetapi lambat laun, aku mulai memahami maknanya. “Bila kau sebagai lelaki tetapi tak mampu menghidupi dirimu sendiri,” lanjutnya, “tak jua mandiri, maka hidupmu seperti layang-layang tanpa benang, terombang-ambing di angin tanpa arah. Bahkan menjadi perempuan di era milenial pun sama saja dengan lelaki yang tak cukup untuk memenuhi keinginannya.”
Perempuan, kata ayahku, butuh lebih dari sekadar saldo rekening suaminya. Ia butuh perawatan tubuh, manik dan riasan, dan segudang kebutuhan lain yang tak bisa diabaikan. Maka perempuan modern harus berani dan pandai mengkapitalisasi segala potensi diri, baik yang lahiriah maupun batiniah, untuk tetap bertahan dan mandiri. Sebab jika mengambil jalan pintas dan tersandung hukum, mencuri atau terjerat korupsi, harga diri runtuh, hancur seperti kastil pasir yang diterpa ombak. Aku tahu betul bagaimana rasanya kehilangan harga diri itu; aku pernah sebagai narapidana yang menjalani hukuman panjang.
Namaku terdengar feminim. Kadang aku ingin namaku tidak terdengar begitu, ingin tidak terjebak pada persepsi umum, dan tidak terjebak dalam persepsi macam-macam yang orang lain sebutkan karena hal feminim. Tetapi aku belajar, bahwa sifat feminin bukan berarti lemah, bukan berarti tak dibutuhkan. Bahkan seorang laki-laki, raja penguasa, atau jenderal panglima perang pun membutuhkan kelembutan dan kesabaran dalam merebut kemenangannya.
Awalnya, ayahku memang mempersiapkan nama ini untuk anak perempuan. Setelah anak pertama dan kedua adalah laki-laki, lalu anak ketiga perempuan, ia ingin anak keempat juga perempuan, yang akan diberinya nama Hayatu atau Hayati. Namun ternyata, dari rahim ibuku lahirlah aku, bayi laki-laki. Akhirnya, ta marbuthah—tanda muannats dalam Bahasa Arab dibuang begitu saja, dan jadilah namaku Haya. Maka sampai sekarang, ada yang memanggilku dengan suara riang: “Hai, Hay… apa kabar?” Nama itu tetap dipertahankan, kata ayah, agar doa yang terselip di setiap hurufnya selalu hidup, di mana pun aku berada, bahkan di penjara.
Aku pernah hidup lama di penjara, merenungkan sebuah nama. Hidup di dalam serba keterbatasan mengajarkanku bahwa untuk bertahan, seseorang harus tahu, mau, dan mampu merekayasa cara bertahan, dengan jatah makan seadanya dari negara. Sebagai narapidana dengan beban mental pesakitan, aku belajar mengatur hidup dengan segala keterbatasan yang ada. Beban itu beratnya seperti tank baja yang membombardir segala rencana yang telah kubangun sejak mula. Tetapi pada akhirnya, aku terbiasa, atau lebih tepatnya dipaksa, untuk menerima. Nrimo kenyataan.
Karena di dalam maupun di luar penjara, keterbatasan selalu ada. Orang berkata, jadikan keterbatasan sebagai batu loncatan. Bung Karno berkata bahwa imajinasi tak akan terhalang oleh tembok tinggi atau petugas bermuka besi. Dalam setiap keadaan, ambillah sudut pandang lain, jadikan itu sebagai loncatan permulaan, dari satu langkah menuju seribu langkah, menuju tujuan yang lebih besar.
Dan aku belajar, bahwa hidup bukan tentang bebas dari keterbatasan, tetapi tentang menari di atasnya, melompat dari satu kesulitan ke kesulitan lain, sambil menyalakan cahaya kecil dalam diri, agar tetap bisa melihat jalan, meski dunia seakan menutup mata.
Karena itulah aku tetap hidup hingga kini, hingga mampu menuliskan catatan ini, selembar demi selembar ingatan yang semula hanya berputar di kepala, kini perlahan turun ke tangan. Pandanganku kerap menerawang, melebar dan membesar, menelusuri segala perihal yang pernah kulewati. Sebagai kemelut yang membawaku hanyut, pergumulan yang melemparkanku ke tepi-tepi yang tak pernah kupilih sendiri. Aku mencecapnya satu per satu, rasa pahit dan getir itu, sejak aku mulai memiliki kesadaran akan hidup dan arti berjalan di dalamnya.
Membayangkan diriku sendiri bermula dari seorang bayi, yang tubuhnya rapuh dan langkahnya belum mengenal tanah. Aku dipapah oleh ibu dan ayahku, ditimang oleh kakek dan nenekku, dilingkari perhatian paman dan bibiku, serta para uwa dari pihak ayah dan ibu. Aku tumbuh bersama tiga saudaraku, menjalani nasib yang sama sebagai nasib sebuah rumah tangga—rumah tangga ayah dan ibuku, yang penuh keterbatasan, doa, pertengkaran kecil, dan harapan yang sering kali ditahan dalam diam.
Perjalanan itu panjang, dan betapa sangat berarti jika sampai terlewatkan begitu saja. Maka aku menuliskannya, sebagai jejak manusia, sebagai bekas tapak di tanah waktu, agar tidak lenyap ditelan lupa.
Karenanya tulisan ini adalah ingatan. Atau mungkin kenangan. Ia kutujukan bagi siapa saja yang ingin mengingat atau mengenangkannya. Bagi mereka yang barangkali sudah terlanjur mengenaliku, entah sebagai kenalan yang hanya bersua di persimpangan dan tikungan pengalaman, saling sapa lalu berpisah, atau sebagai teman yang berulang kali bertemu, menua bersama dalam kebersamaan waktu. Dan terlebih lagi engkau, yang kusebut sahabat, yang kepadamu pernah kuajukan keluh, kubuka isi dada, atau sekadar kuajukan sepatah tanya tentang hidup.
Namun jangan salah paham. Maksudku bukan meminta atau memberi nasihat. Ini bukan mimbar, bukan pula ruang petuah. Ini hanya pertukaran sudut pandang, saling meletakkan kepala pada arah yang berbeda, lalu melihat dunia dari celah yang lain. Aku sendiri merasa belum layak, atau barangkali belum waktunya untuk memberi atau dimintai nasihat, hanya karena usiaku kian menua dan rambutku perlahan mengenal uban.
Meski telah kulewati setengah perjalanan hidup, menurut hitungan umur manusia umat Rasul Muhammad SAW, aku tetap merasa belum sampai. Aku belum cukup dewasa. Aku masih belajar. Dan yang kutuliskan di sini pun hanyalah hal-hal remah. Sebatas pecahan kecil dari hidup yang tak pernah benar-benar utuh. Tetapi mungkin justru dari remah-remah itulah aku bertahan, bernapas, dan terus hidup. Sebab kadang, hidup tidak disusun dari kemenangan besar atau kebijaksanaan agung, melainkan dari serpih-serpih pengalaman yang sederhana, yang bila dikumpulkan dengan jujur, dapat menjadi cahaya kecil untuk menerangi langkah di hari-hari berikutnya.
Dan aku menutup lembar hari ini dengan kesadaran bahwa hidupku, sekecil atau sebesar apapun, telah meninggalkan jejak yang tak bisa dihapus. Jejak itu bukan hanya untukku, tetapi untuk siapa saja yang bersedia melihat, merasakan, atau sekadar bertanya pada dirinya sendiri tentang arti berjalan dan bertahan.
Aku belajar bahwa setiap langkah, setiap napas yang terenggut di tengah pergumulan, adalah pengingat bahwa hidup adalah perjalanan yang tidak pernah berhenti, meski terkadang terasa hampa atau tak adil.
Aku menatap jendela kecil dalam sel penjara batinku sendiri. Sel yang dibangun dari kenangan, kesalahan, dan kesendirian, dan melihat cahaya kecil yang menembus celah-celahnya. Cahaya itu, meski rapuh, tetap cukup untuk menuntunku memahami bahwa akhir bukanlah titik, tetapi jeda sebelum langkah berikutnya. Dan dalam jeda itu, aku menyadari, setiap kesedihan, setiap kegagalan, adalah guru yang mengajarkanku bagaimana menjadi Haya yang tetap hidup, yang tetap berdiri meski dunia kadang ingin meruntuhkan.
Kini, aku menulis bukan sekadar untuk mengenang atau merenung. Aku menulis agar setiap kata menjadi saksi, bahwa meski dunia membatasi, meski dinding tinggi mengekang, manusia tetap bisa menemukan cara untuk bertahan, untuk bernapas, dan untuk memberi arti pada hidupnya sendiri. Aku menulis agar kesendirian, rasa takut, dan penyesalan tidak lagi menjadi batu yang menekan dada, tetapi menjadi batu loncatan untuk memahami siapa aku, dan apa yang bisa kuperbuat dengan sisa waktu yang kumiliki.
Dan di sinilah aku berdiri, di ambang lembar baru, sambil memandang ke depan. Bab cerita berikutnya menunggu, bukan sebagai janji, tetapi sebagai peluang untuk melangkah lebih jauh, untuk menelusuri jalan yang masih terselubung kabut pengalaman.
Aku tidak tahu apa yang akan kutemui di sana, tetapi aku yakin satu hal: Haya, hidup, tetap akan menatap, tetap akan bertanya, dan tetap akan berjalan. Meski langkahnya terseok-seok, meski jalan penuh liku, meski dunia kadang membisikkan ketakutan.
Dengan itu, aku menutup bagian cerita ini dengan menyisakan jejak remah-remah yang akan menjadi pijakan untuk melaju pada cerita selanjutnya. Sekarang saatnya rebahkan sejenak pena, tarik napas panjang, dan biarkan cerita ini beristirahat sebentar, sebelum kita bersama-sama menapaki lembar-lembar baru yang menunggu di depan. (Bersambung)