Bus yang kunaiki akhirnya berhenti juga di terminal kampungku. Berhenti seperti napas panjang yang dilepaskan setelah perjalanan jauh yang tak pernah benar-benar sunyi, sebab deru mesin selalu menjadi doa yang diulang-ulang tanpa kata. Suara besi yang bergetar, bau solar yang menempel di udara, dan lampu kabin yang temaram seakan turut menghela lelahnya masing-masing. Sejak awal perjalanan, mesin itu menyala terus-menerus, setia menggerakkan tubuh besarnya melewati kelokan yang landai dan curam, seperti usia yang tak pernah bertanya apakah kita siap atau tidak untuk berbelok yang menikung. Roda-roda menggerus tanjakan dan turunan tajam, menelan jarak dengan sabar, lalu kembali datar, seolah hidup memang selalu menawarkan jeda palsu sebelum ujian berikutnya. Sejak ia meninggalkan Terminal Cilembang dan menempuh jarak kurang lebih delapan puluh kilometer, waktu tempuh yang terasa lebih panjang karena pikiran ikut menumpang, dan di sinilah akhirnya ia berhenti. Sebuah berhenti yang sungguh-sungguh berhenti, tanpa sisa getar yang meminta dilanjutkan.
Bukan sekadar berhenti untuk menaikkan atau menurunkan penumpang, bukan pula berhenti yang terburu-buru seperti persinggahan lain yang hanya menggeser beban. Ini adalah berhenti sebagai penutup hari, sebagai garis akhir yang ditarik pelan namun tegas, seolah waktu sendiri menepuk bahu kami satu per satu dan berkata: cukup. Tidak ada lagi penumpang yang ditunggu, tidak ada rute lanjutan yang harus digapai, sebab malam telah larut dan gelap telah menjadi bahasa yang dominan. Waktu mengatupkan pintunya perlahan, seperti rumah tua yang menutup jendela sebelum tidur, menyisakan sunyi yang tidak kosong, melainkan penuh oleh sisa-sisa perjalanan. Dan aku berdiri di sana, turun dengan koper ingatan yang lebih berat daripada saat berangkat, menyadari bahwa setiap kepulangan selalu membawa satu hal yang tak bisa ditinggal di dalam bus: kelelahan yang telah berubah menjadi pemahaman
Terminal Cibantar adalah tempat terakhir bus itu. Tempat ia memarkir tubuh besinya, tempat ia beristirahat dan menginap semalam sebelum kembali dinyalakan esok hari. Karena hari telah malam, terminal menjelma tempat parkir sementara, ruang jeda antara hari yang telah lewat dan hari yang akan datang. Di sinilah bus menunggu pagi, sebelum berputar balik menunaikan titah trayek Tasikmalaya–Tawang, mengikuti garis yang telah diguratkan izin dinas perhubungan, mengikuti nasib yang telah diatur oleh papan jadwal dan cap administrasi.
Ia berhenti di tempat parkir yang nyaris tak layak disebut terminal sebenarnya. Tidak ada hiruk-pikuk besar, tidak ada bangunan megah atau lampu yang menyala terang. Namun bagi penduduk kampung, tempat ini adalah terminal. Mereka menyebutnya terminal, dan sebutan itu cukup untuk menjadikannya pusat. Tempat pusaran orang datang dan pulang, tempat segala yang bergerak akan singgah walau sebentar. Semua yang datang dan pergi akan melewatinya, cepat atau lambat, untuk naik dan turun sebagai penumpang bus angkutan, sebagai bagian kecil dari arus yang tak pernah sepenuhnya berhenti kecuali malam sudah larut.
Inilah salah satu titik penting di wilayah kampungku, titik yang mungkin tak tercatat di peta besar, tetapi hidup di ingatan orang-orangnya. Tempat dunia luar pertama kali menyentuhku, seperti tangan asing yang menyapa dengan ragu. Dunia yang ramai, dunia yang berisik, dunia yang pertama kali kukenal sebagai kebisingan. Di sini bus hilir mudik, ojek mangkal, para pemuda tanggung berkumpul di sudut-sudut keramaian dengan tawa setengah matang, dan sebuah bangunan gardu berdiri seadanya sebagai ruang tunggu, sebagaimana pantasnya sebuah terminal kampung mempertahankan martabatnya.
Jauh sebelum aku memahami arti bepergian, jauh sebelum aku mengenal luasnya negeri ini dan peta-peta yang membentang di luar kampung, setelah dunia ibu dan bapakku, inilah keramaian pertama yang kukenali dan kuterima begitu saja. Ia hadir tanpa penjelasan, tanpa perlu ditanya. Tempat ini menjadi semacam gerbang kecil yang menyambut dunia luar, titik pijak pertama untuk mengantar orang-orang pada suara yang lain, pada debu yang asing, pada langkah-langkah di tempat yang tidak mereka kenal. Ia adalah jalan pembuka menuju dunia yang lebih luas, lebih keras, lebih gaduh, dan dunia yang menuntut peluh serta kesediaan untuk lelah tanpa keluh.
Bagiku, terminal ini adalah semacam tanah legenda. Bukan karena peristiwa besar pernah menimpaku di sini, bukan pula karena kisah heroik atau tragedi tempo dulu. Ia menjadi legenda karena ingatan kecil yang tertinggal di tanah ini terlalu banyak, menumpuk seperti debu yang tak pernah benar-benar disapu. Ingatan-ingatan itu tidak pernah benar-benar hilang; mereka hanya menunggu dipanggil kembali, menunggu satu kalimat, satu bau, satu cahaya lampu malam untuk hidup lagi di kepalaku.
Kini aku kembali menginjak tanahnya, tanah yang sama yang dulu sering kulewati tanpa berpikir. Dengan kaki yang pernah pergi dan pulang melalui tempat yang sama, kaki yang menyimpan jejak jarak dan waktu. Aku menghirup kembali udaranya, udara yang membawa bau tanah, debu, dan sisa hujan lama yang bercampur, menusuk hidungku pelan namun pasti. Semuanya terasa akrab, seperti wajah lama yang pernah kukenal, tetapi tidak sepenuhnya dekat, seolah ada jarak tipis yang tak bisa kusebutkan namanya.
Perasaan itu muncul lagi, perasaan yang selalu datang setiap kali aku turun di sini. Ia datang tanpa aba-aba, tanpa bentuk yang jelas. Seperti ketika aku diturunkan di Cikatomas, di keramaian sebelumnya, perasaan yang sama selalu meninggalkan jejak serupa. Ia samar, tidak pernah benar-benar terang, tetapi cukup kuat untuk menetap di kepala. Perasaan itu seolah membawaku pada keyakinan aneh bahwa aku pernah menjadi orang lain di tempat yang sama. Padahal ini kampungku sendiri, tempat yang kukenal sejak kecil, namun terlalu sering disebut asing karena telah kutinggalkan terlalu lama.
Samar dan asing, dua kata itu berulang dengan begitu sering, seperti roda bus yang terus berputar di lintasan yang sama. Seperti duduk di dalam bus yang terus melaju sambil kepalaku memutar ingatan ke sana kemari. Aku menunggu tanpa tahu apa yang kutunggu, menunggu sesuatu yang tidak pernah benar-benar kusebutkan. Jalan terus bergerak, lampu-lampu berlalu, tetapi tujuannya terasa kabur, dan aku sendiri tak sepenuhnya mengerti mengapa ingatan-ingatan itu muncul kembali dengan begitu mendesak.
Lamunan itu terhenti tiba-tiba, saat suara kondektur terdengar nyaring dan terburu-buru, memecah kepalaku seperti ketukan keras di pintu yang tak siap dibuka. Katanya, kami sudah sampai di Cikatomas. Ini pemberhentian terakhir. Bus tidak akan meneruskan perjalanan sampai ke terminal tujuanku. Aku mendengarnya seperti mendengar sesuatu yang sebenarnya telah lama kuketahui, tetapi baru sekarang diucapkan dengan suara lantang. Sebab terlalu sering hal itu terjadi sejak dulu, setiap kali sampai kampung terlalu malam.
Dengan terpaksa aku turun. Bus pergi tanpa rasa bersalah, seolah penumpang yang belum sampai tujuannya hanyalah angka yang sudah selesai dihitung. Perasaanku masih tinggal di bangku dan lorong sempit bus itu, sebab keterpaksaan selalu menyisakan sesuatu yang tertinggal, entah itu harapan, entah itu kesal, entah itu kelelahan yang tak sempat diucapkan.
Aku turun—atau lebih tepatnya, diturunkan—di simpang jalan, dekat taman dan lapang Cikatomas. Tempat yang siang hari menjadi titik mengerem lama untuk menunggu penumpang, dan malam ini berubah menjadi pemberhentian terakhir sebelum bus pergi ke garasi. Padahal tujuanku belum dekat. Terminal Cibantar masih jauh, masih menunggu di ujung yang lain, seperti sebuah ingatan yang belum selesai, seperti rumah yang masih harus ditempuh dengan langkah tambahan, di luar jadwal dan di luar rencana.
Aku harus menunggu lagi. Tidak ada pilihan lain selain memberi tubuhku pada jeda. Menunggu untuk berpindah ke bus berikutnya, bus yang benar-benar akan membawaku sampai ke tujuan, bus yang tidak akan berhenti setengah jalan dan meninggalkanku di simpang yang asing. Waktu pun melambat dengan caranya sendiri, seperti malam yang sengaja memperpanjang bayangnya. Setengah jam, mungkin satu jam, mungkin lebih lama. Aku tidak menghitungnya dengan pasti, sebab hitungan terasa tak berguna ketika waktu memilih berjalan tanpa suara.
Aku hanya berdiri di sana, membiarkan waktu lewat begitu saja. Membiarkan malam bekerja dengan tenangnya sendiri, merapikan gelap, menurunkan suhu, dan menenangkan kebisingan siang yang tersisa. Perasaan itu tetap tinggal, duduk diam bersamaku, tanpa meminta penjelasan apa pun. Ia tidak mendesak, tidak pula pergi, seperti seseorang yang tahu bahwa keberadaannya sudah cukup.
Setelah menunggu cukup lama, cukup lama untuk melupakan jam dan jadwal, akhirnya yang dinanti datang juga. Tidak ada kegembiraan yang besar, tidak ada sorak di dalam dada. Hanya rasa ringan yang muncul pelan, seperti beban yang sedikit diangkat tanpa diumumkan. Aku tahu, sebentar lagi perjalanan ini akan selesai, atau setidaknya mendekati akhirnya.
Bus kembali berjalan. Ia berkelok sekali, dua kali, lalu jalanan menjadi lurus, seperti garis yang ditarik dengan ragu tetapi tetap menuju satu arah. Lampu-lampu tampak lebih jarang karena padatnya kelokan dan pepohonan yang menutup pandangan. Baru di ujungnya terbentang sebuah hamparan jalan menurun, panjang dan samar, dan di ujungnya masih gelap.
Baru kemudian, aku telah sampai yang orang-orang menyebutnya Terminal Cibantar. Meski tidak ada yang pernah benar-benar menuliskannya. Tidak ada papan nama. Tidak ada tanda resmi. Tidak ada huruf besar yang menyambut. Namun semua orang tahu: inilah Terminal Cibantar. Pengetahuan itu hidup di ingatan orang-orang, diwariskan dari mulut ke mulut, dari kebiasaan ke kebiasaan. Ia bekerja lebih akurat daripada penunjuk arah mana pun. Beberapa hal tidak memerlukan penjelasan untuk diakui keberadaannya. Ia ada karena terus dikenali, karena terus didatangi, karena tak pernah ditinggalkan sepenuhnya.
Aku memandang suasana tanpa kata. Detik demi detik kujalani dengan degup yang teratur, seolah jantungku ikut menyesuaikan irama roda bus. Aku menunggu bus benar-benar berhenti. Geraknya melambat, pelan, seperti seseorang yang ragu untuk sampai, seperti tahu bahwa berhenti berarti mengakhiri sesuatu.
Lalu pemandangan itu terjadi seperti biasa, seperti adegan yang tak pernah absen dari ingatan kampung. Kerumunan tiba menyambut bus. Sejak mereka melihat sorot lampu dari jauh, dari jalan yang menurun itu, mereka bersorak kecil, setengah berteriak, setengah berharap. Satu per satu mendekat. Mereka mengerumuni bus bahkan saat bus belum sepenuhnya berhenti, belum sepenuhnya mematikan mesin. Orang-orang sudah masuk ke lawang bus untuk mengucap selamat datang dengan caranya masing-masing, dengan suara, dengan tawaran, dengan isyarat tangan.
Mereka adalah tukang ojek. Wajah-wajah yang setengah kukenal dan setengah terlupa datang menyambut penumpang yang tinggal beberapa biji. Mereka menyebut tujuan-tujuan yang akrab di telingaku: nama kampung, nama jalan, nama tanjakan, seolah menyebut potongan peta yang hanya dipahami orang sini. Suara-suara mereka terdengar seperti bagian dari terminal itu sendiri, menyatu dengan debu, asap, dan suara pijakan rem bus yang panjang dan berat.
Sering kali, bus yang sampai di sini hanya membawa satu atau dua penumpang. Kampungku memang ujung trayek. Tempat semua perjalanan harus berakhir, mau atau tidak. Bus Tasikmalaya–Tawang berangkat dari Terminal Cilembang dengan tubuh besinya penuh dan suara riuh penumpang. Tetapi napas terakhirnya selalu dihembuskan di Cibantar, di tanah yang sama, malam demi malam.
Semula bus itu penuh. Penumpang berdiri, berdesakan, saling menahan tubuh dan tas. Lalu perlahan ruang di dalamnya merenggang. Satu demi satu orang turun, meninggalkan kursi kosong dan cerita yang tak ikut sampai. Hingga akhirnya tersisa aku dan beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari. Ruang terasa lebih luas, tetapi juga lebih kosong, seperti ruangan yang baru saja ditinggalkan percakapan.
Bus tumpangan memang begitu. Ia tidak berhenti di tempat yang sama untuk semua orang. Aku memikirkannya sebentar, membiarkan pikiran itu berputar pelan—mungkin hidup juga seperti itu. Setiap orang turun di tujuan yang berbeda, menuju rumahnya masing-masing, dengan jarak yang tidak pernah seragam, dan dengan akhir yang tidak selalu tiba bersamaan.
Aku pun turun dengan tenang, seperti seseorang yang tidak lagi ingin tergesa. Aku tidak menanggapi tawaran siapa pun. Bukan karena tidak butuh, melainkan karena aku ingin berjalan. Aku ingin membiarkan kakiku mengingat jalannya sendiri, membiarkan tubuhku berbicara lebih dulu sebelum pikiranku menyusul. Aku menyapukan pandang ke sekeliling terminal, seperti seseorang yang sedang mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia temukan, hanya memastikan bahwa semuanya masih berada di tempatnya.
Toko-toko sudah tutup. Pintu-pintu besi terkatup rapat, menyimpan riwayat siang yang telah usai. Lampu-lampu redup menggantung rendah, cahayanya seperti lelah menjaga terang. Malam datang perlahan, tanpa suara, tanpa aba-aba. Aku bertanya dalam hati apakah ada yang berubah sejak terakhir kali aku pergi, meski aku tahu jawabannya tidak akan sederhana, sebab perubahan sering kali tidak tampak di mata, melainkan di cara kita memandangnya.
Aku mulai berjalan menyusuri jalan berbatu koral yang menjadi persimpangan dari jalan raya. Langkahku berbelok ke kiri, menuju jalan sempit di atas jembatan kecil, lalu masuk ke jalan berbatu putih yang kasar. Setelah itu, jalan menanjak, pelan tapi pasti, seperti ujian kecil yang selalu ada. Kampungku berada kira-kira satu kilometer dari terminal. Namun jarak itu tak pernah mutlak. Ia bisa terasa pendek, bisa pula terasa panjang, tergantung suasana yang kubawa di kepala. Setiap langkah seolah menarikku kembali pada sesuatu yang dulu kutinggalkan terlalu lama.
Aku berjalan menjauh dari terminal. Lampu-lampu menggantung rendah di sepanjang jalan, cahayanya tidak benar-benar menerangi, hanya menandai keberadaan malam. Langkah kakiku terdengar jelas di antara ruang yang sepi, seperti suara yang sengaja direndahkan agar tidak mengganggu apa pun yang sedang tidur.
Jalan di depan mengecil. Aspal perlahan menghilang, berganti batu koral yang keras di telapak kaki. Aku berjalan tanpa tujuan lain selain pulang. Udara malam menempel di kulit, dingin dan tipis, seperti lapisan yang tidak ingin dilepas. Aku menarik napas pelan, lalu melepasnya kembali ke gelap, membiarkan udara malam membawanya pergi.
Di kiri dan kanan, rumah-rumah berdiri diam. Sebagian lampunya telah padam, seolah penghuninya memilih menyerahkan malam pada sunyi. Sebagian lagi menyisakan cahaya kuning yang lelah, cahaya yang tidak lagi ingin bersinar terang. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang memanggil. Kampung seperti sedang menahan napasnya sendiri, menjaga kesunyian agar tidak pecah.
Aku melewati persimpangan demi persimpangan kecil. Jalan berbelok-belok sejak jembatan rendah terbentang tanpa suara air yang jelas, hanya bayangan gelap di bawahnya. Aku berhenti sejenak, bukan karena lelah, melainkan karena kebiasaan lama yang muncul begitu saja. Lalu aku melanjutkan langkah. Setiap gerak terasa terpisah dari waktu, seperti potongan-potongan yang tidak ingin dirangkai terlalu cepat.
Setelah jembatan, jalan menjadi lebih kasar. Batu-batu putih menyebar tak beraturan, seakan diletakkan tanpa niat untuk dirapikan. Jalan mulai menanjak. Aku merasakan berat tubuhku sendiri, seperti beban yang baru kusadari setelah lama kubawa tanpa keluhan.
Di kejauhan, serangga berbunyi satu dua kali, lalu diam lagi, seolah menguji apakah malam masih aman untuk bersuara. Angin bergerak pelan di jalan tanjakan tajam. Bau tanah muncul, lalu menghilang. Aku terus saja berjalan, tidak menghitung jarak, tidak memikirkan waktu, sebab keduanya terasa tidak penting di sini.
Gelap tidak menakutkan. Ia hanya ada. Seperti pikiranku yang sesekali kosong, sesekali penuh, lalu kembali kosong. Aku berjalan di dalam gelap itu, membiarkan malam memimpin langkahku, tanpa peta dan tanpa perintah.
Aku terus berjalan. Jalan menanjak sedikit demi sedikit, seperti sedang menguji kesabaranku dengan cara yang paling halus. Nafasku tetap teratur, meski tubuh mulai hangat. Pikiranku pelan-pelan melepas satu per satu beban yang kubawa sejak jauh. Tidak ada yang perlu dipercepat. Tidak ada yang perlu dikejar. Semua telah berada di lajurnya masing-masing.
Langkah kakiku menyentuh batu dan tanah. Kadang licin, kadang kering. Setiap pijakan terasa nyata, seakan tubuhku ingin memastikan bahwa aku benar-benar ada di sini, di jalan ini, di malam ini. Lampu-lampu semakin jarang. Gelap menjadi lebih rapat, tetapi tidak menekan, hanya merangkul.
Di sisi jalan, pesawahan terbentang tanpa batas yang jelas dalam gelap. Semak-semak berdiri rendah, bergerak pelan ketika angin lewat. Tidak ada penanda waktu. Tidak ada suara manusia. Hanya bunyi malam yang datang dan pergi dengan caranya sendiri, tanpa niat untuk menjelaskan apa pun.
Aku melewati rumah-rumah yang terlihat dan hampir tidak terlihat. Bentuknya sebagian hanya bayangan. Aku tidak mencoba menebak siapa yang tinggal di dalamnya. Setiap rumah menyimpan hidupnya masing-masing, dan aku hanya lewat, seperti orang asing yang diterima tanpa perlu disapa.
Langit di atas tidak sepenuhnya gelap. Ada cahaya samar yang membuat garis jalan tetap terbaca. Aku berjalan mengikuti cahaya itu, meski tidak tahu dari mana asalnya. Rasanya seperti mengikuti sesuatu yang telah kukenal lama, sesuatu yang selalu ada, tetapi tidak pernah bisa kusebutkan namanya.
Langkah demi langkah, tubuhku mulai menyesuaikan diri dengan ritme kampung. Kaki, napas, dan malam bergerak dalam irama yang sama. Aku tidak lagi memikirkan jarak. Aku hanya berjalan, dan membiarkan jalan itu berjalan bersamaku.
Aku terus berjalan. Dan sesuatu yang lama, pelan-pelan, mulai terasa dekat. Aku berjalan tanpa menghitung sudah berapa langkah, tanpa menandai tujuan. Tubuhku melangkah lebih dulu, pikiranku mengikuti dari belakang. Setiap belokan kecil terasa seperti pengingat, bukan penanda.
Aku tidak berhenti. Aku juga tidak terburu-buru. Jalan menanjak agak curam, lalu sedikit mendatar, kemudian menanjak lagi. Dan tanpa pengumuman apa pun, aku sampai. Aku berdiri di depan pintu rumah panggung. Seperti itu saja. Seolah perjalanan panjang tadi hanyalah cara paling pelan bagi tubuh dan ingatan untuk pulang.
Setelah mengetuk pintu dan memberi salam, wajah nenekku tampak di kaca jendela. Ia menyambutku dengan cepat membuka palang pintu. Wajahnya menyimpan kegembiraan yang tenang, seperti seseorang yang tidak terkejut oleh kepulangan, tetapi tetap mensyukurinya.
Matanya menyapa dengan cahaya yang lembut, seolah mengatakan: “Selamat datang. Meski aku sudah tahu kau akan pulang.”
Kami berbincang sebentar. Kata-kata tidak banyak, tetapi cukup; seperti udara yang masuk perlahan melalui celah-celah pintu. Cukup untuk menyejukkan rindu yang menebal. Ada rasa lega yang merayap perlahan ketika aku kembali masuk ke rumah ini, rumah yang diam-diam mencatat masa kecilku tanpa pernah menuntut apa pun dariku.
Rumah yang menampung langkah-langkah kecilku seperti menyimpan ingatan dalam kotak kaca tanpa penutup. Setiap sudutnya mengingatkan aku bahwa waktu di sini berjalan dengan ritme sendiri. Tidak tergesa, tidak terganggu, dan tidak pernah melupakan tiap jejaknya.
Rumah nenek hampir tidak berubah. Genteng tuanya masih ada, tertata meski menyisakan bekas hujan dan panas bertahun-tahun. Dinding bilik bambunya tetap berdiri apa adanya, menopang langit-langit yang menahan malam dan siang tanpa keluhan. Lantai papan berderit pelan ketika kupijak, seperti bersuara kecil, mengingatkan aku pada langkah-langkah masa lalu yang pernah melintas di atasnya. Di kolong rumah, ayam-ayam masih bersarang, seolah waktu tidak pernah benar-benar bergerak di tempat ini. Rumah ini tidak mencoba menjadi baru. Ia memilih setia pada dirinya sendiri, seperti nenek yang tak pernah ingin berubah hanya demi orang lain.
Aku rebahan di dalam rumah yang sepanjang hidupku telah beberapa kali direnovasi, tetapi tetap menyimpan bentuk yang kukenal. Udara malam kampung terasa ringan, seperti selimut tipis yang tidak menekan tubuh, hanya membungkus dan menghangatkan perlahan. Aku berbaring di atas tikar pandan, membiarkan kelelahan mereda dan melunak dengan sendirinya, seperti es yang mencair di bawah matahari senja.
Pikiranku berjalan ke masa lalu, ke fragmen-fragmen kecil yang tidak berurutan, seperti serpihan cermin yang menampilkan wajah-wajah berbeda sekaligus.
Sebagai anak dari tanah ini, setiap kali aku kembali, selalu ada sesuatu yang menyatu kembali di dalam diriku. Seperti tarikan sunyi, seperti magnet yang bekerja tanpa suara, tanpa janji, tetapi nyaris mustahil ditolak. Tanah dan rumah ini, jalan kecil di antara ladang, pesawahan, dan semak belukar, memiliki daya tarik yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Aku pernah mencoba menjauh, bahkan melupakannya, tetapi tarikan itu tetap ada, bekerja diam-diam di dalam tubuhku, merengkuhku kembali tanpa perlu disadari.
Inilah rumah yang membentuk caraku menjadi seseorang. Dalam gelap, aku merasakan denyut kampung sejak kakiku menginjak terminal dan melangkah pulang dengan berjalan kaki. Suasana terasa hening, tetapi bukan hening yang kosong. Hening itu mengendap, seperti pikiran yang tidak ingin segera selesai, seperti air yang diam di dalam sumur, menunggu disentuh gelombang kecil. Sepanjang jalan, mataku mengamati rumah-rumah di kiri dan kanan. Banyak yang telah berubah sejak aku pergi beberapa tahun silam. Dulu sebatas rumah panggung, yang hampir seluruhnya berevolusi menjadi rumah tembok.
Orang-orang mungkin menyebutnya kemajuan. Aku mendengarnya, tetapi tidak sepenuhnya mengerti apa arti kemajuan itu bagiku. Apakah ia menambah nyaman, atau justru menutup ruang lama di dalam ingatan.
Keadaan rumah sanak kerabatku tampaknya berbeda. Banyak yang masih bertahan seperti dulu, seolah waktu melewati mereka dengan hati-hati. Rumah nenekku memang berubah, tetapi perubahan itu membuatnya terasa semakin sempit. Rumah pamanku, Mang Uyep, diperbesar dan mengambil sebagian ruangnya. Di sisi lain, rumah Mang Dudung berdiri rapat di sebelah kanan. Dua rumah itu menghimpit rumah nenek dari kiri dan kanan. Aku berdiri di tengahnya dan entah mengapa merasakan tekanan yang sama, seperti diriku sendiri yang pernah terjepit oleh hidup sejak petualanganku di kota yang dulu kusebut sebagai harapan.
Namun tetap saja, inilah rumah tempat aku tumbuh. Di sinilah benih-benih cita-cita dan harapan pertama kali ditanam, meski aku tidak sadar kapan tepatnya. Segala suka dan duka masa kanak-kanakku berlangsung dengan rumah ini sebagai saksi yang tidak pernah bersuara, saksi yang tahu bagaimana langkah-langkah kecilku membentuk jalan panjang yang kutempuh kemudian.
Rumah ini berdiri di atas tanah leluhur, menampung langkah-langkah kecilku sebelum aku pergi jauh, seperti memeluk semua kepulanganku yang belum sampai.
Bertahun-tahun aku meninggalkannya, meninggalkan kampung ini demi mengejar sesuatu yang kala itu terasa penting. Dan kini aku kembali, membawa diriku yang tidak lagi sama. Tetapi tetap ditarik oleh tanah yang sama, oleh magnet yang tidak bisa dibantah. Aku merasakan tarikannya lembut, tetapi pasti, seakan tanah ini mengetahui semua yang tak bisa aku katakan.
Dalam rebah melewati malam yang semakin matang, suara-suara kampung menipis satu per satu, seolah dikembalikan ke tempat asalnya. Aku berbaring sambil menatap langit-langit rumah, memperhatikan bayangan gelap yang bergerak perlahan mengikuti napasku sendiri. Ada perasaan bahwa sesuatu sedang menunggu, meski aku belum tahu apa. Seperti halaman buku yang belum dibuka, tetapi keberadaannya sudah terasa di ujung jari.
Di luar, angin menyusup di sela-sela bilik bambu, membawa bunyi serangga dan bau tanah yang baru saja dingin oleh malam. Waktu berjalan pelan, tidak mendesak. Aku membiarkan pikiranku mengapung, tidak menuju masa lalu, tidak pula ke masa depan. Di titik itu, aku hanya berada, dan keberadaan itu terasa cukup, meski rapuh, seperti balon yang menahan udara sebentar sebelum dilepas kembali ke langit.
Aku menyadari bahwa kepulanganku ini bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan permulaan dari sesuatu yang lain. Terminal, jalan menanjak, rumah nenekku, semuanya seperti tanda baca, bukan titik. Ada ruang kosong yang sengaja dibiarkan terbuka, menunggu diisi oleh hari-hari yang belum kukenal. Aku memandang gelap di sekeliling, sadar bahwa esok akan membawa cerita baru, seperti catatan yang baru bisa dibaca saat matahari menumpahkan cahayanya.
Sebelum memejamkan mata, aku bertanya pada diriku sendiri berapa lama aku akan tinggal. Pertanyaan itu tidak menuntut jawaban. Ia hanya mengendap, seperti gema yang akan kembali suatu saat nanti. Di luar rumah, kampung tetap terjaga dalam diamnya. Dan di dalam diriku, sesuatu perlahan bergerak, bersiap melangkah ke bab berikutnya dari cerita hidup. Menghadapi hidup yang mungkin tanpa peta, tanpa janji, hanya dengan kesadaran bahwa esok hari akan membawa cahaya yang berbeda, halus, dan tetap menunggu untuk disambut. (Bersambung)