Gelang Benang (1)

Pagi itu datang tanpa suara, namun keheningannya memiliki daya untuk membelokkan arus nasib...

Gelang Benang (1)

10 Jul 2026
253 x Dilihat
Share :

Gelang Benang (1)

Pagi itu datang tanpa suara, namun keheningannya memiliki daya untuk membelokkan arus nasib manusia. Matahari tetap menyembul dengan rutinitasnya yang angkuh, sementara embun masih memahat diri di ujung dedaunan. Di kejauhan, ayam-ayam kampung berkokok bersahutan, seolah tengah mengumumkan permulaan hari yang biasa-biasa saja. Padahal, di balik fasad rutinitas itu, takdir sedang merangkai sebuah kalimat dalam sebuah bab hidup manusia, yang kelak hanya bisa dibaca dengan mata yang basah oleh sesal, sebelum akhirnya berlabuh pada ketenangan yang baru tersua tiga puluh tahun kemudian.

Manusia sering tertipu oleh ilusi bahwa hidup sepenuhnya ditentukan oleh keputusan-keputusan besar. Padahal, masa depan lebih sering dibelokkan oleh hal-hal remeh. Oleh sebab langkah yang dipercepat beberapa detik, sapaan yang tertahan di kerongkongan, atau keberanian yang luruh dihimpit ego dan kesibukan. Dan penyesalan kemudian seperti hujan yang turun terlalu malam. Selalu datang tepat ketika jalan pulang telah kehilangan arahnya.

Kini, bertahun-tahun kemudian, jika ingatan tentang pagi itu kembali menyusup, Sanjaya tidak lagi peduli pada agenda penting yang sempat memacu adrenalinnya kala itu. Megahnya gedung pemerintahan dan wajah-wajah formal yang dulu ia temui telah memudar, tergerus waktu hingga tak berbekas. Yang tersisa hanyalah bayangan samar seorang perempuan di simpang jalan kampung yang ia lewati saat menuju terminal.

Kenangan itu melekat seperti benang halus yang melilit pergelangan tangannya. Tampak rapuh, hampir tak kasat mata. Namun, kian Sanjaya mencoba meronta untuk melepaskan diri, kian dalam pula ikatan itu menggerogoti jiwanya, menariknya kembali ke pagi yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan dan lupakan.

Pagi itu, Sanjaya melangkah pergi lebih awal. Langit masih pucat, seolah malam belum benar-benar rela menyerahkan takhtanya kepada siang yang perlahan membelah sunyi di atas jalanan batu kapur. Udara dingin menggigit kulit, membawa aroma tanah basah yang pekat, seakan bumi sendiri sedang menahan napas dalam dekapan embun. Hanya gesekan daun kering dan kokok ayam di kejauhan yang menjadi saksi bisu perjalanannya menuju terminal.

Di persimpangan yang hening, waktu seolah kehilangan napas dan berhenti berdenyut. Tatapan Sanjaya bersirobok dengan sepasang mata Riana yang menatap lurus, tenang, seakan menyerap kedamaian pagi. Kerudung yang tersampir di bahunya membiarkan beberapa helai rambut tergerai bebas, berkejaran dengan sisa-sisa kabut yang masih enggan beranjak dari permukaan bumi.

Riana tampak bukan sebagai manusia, melainkan bagian dari pagi itu sendiri. Ia berjalan dengan ketenangan yang ganjil, namun kehadirannya justru menciptakan guncangan hebat di kedalaman jiwa Sanjaya. Entah bagaimana kebetulan ini terajut. Sanjaya tidak sedang menunggu pertemuan, meski bayang-bayang tentangnya kerap kali mampir dalam lamunan hari-hari sebelumnya. Lalu ketika kesempatan itu hadir dengan begitu nyata, ia menjelma jangkar yang memaksa langkah Sanjaya tertahan. Mencipta ruang hampa seketika di antara detak jantung yang tiba-tiba berpacu dalam irama yang asing dan berantakan.

Perjalanan menuju pusat kecamatan bukanlah perkara sederhana bagi seorang pemuda kampung seperti Sanjaya. Rumahnya berdiri terisolasi, seolah sengaja dipisahkan dari dunia luar oleh hamparan kebun, labirin pematang sawah, dan jalan-jalan setapak yang berkelok liar. Untuk sekadar menapakkan kaki di kantor kecamatan, ia harus menempuh jarak yang melelahkan menuju terminal, lalu menyambung dengan dua bus yang jadwalnya sering kali abai terhadap waktu. Baginya, setiap menit pagi itu bukan lagi sekadar satuan penunjuk jam, melainkan cambuk yang terus mengayun di punggungnya, memacu langkah melampaui keinginan hati yang sesungguhnya.

Di dalam benaknya, hanya ada satu beban pikiran tentang panggilan resmi dari kantor camat dan bupati. Bagi seorang pelajar desa yang belum pernah benar-benar bersentuhan dengan birokrasi, panggilan itu terasa seperti gunung yang menjulang, yang begitu agung sekaligus menakutkan. Ia tidak tahu apa yang menanti di ujung perjalanan, namun justru ketidaktahuan itulah yang membuat derap langkahnya kian tergesa, seakan ada takdir yang sedang diburu.

Saat melintasi Kampung Baru—sebuah kampung yang selalu terasa asing sekaligus akrab di saat fajar menyingsing, membuat langkah Sanjaya melambat tanpa diperintah. Matanya tertuju pada sesosok gadis itu, adik kelasnya yang baru saja pulang dari surau. Kerudung sederhananya bergerak lembut ditiup angin pagi, sementara tangan-tangannya menggenggam keranjang kitab suci dengan erat di dada, seolah ia tengah menjaga sepotong cahaya agar tidak padam oleh dunia.

Pemandangan itu begitu tenang, hingga waktu seakan tertahan sejenak. Di tengah riuh kecemasan yang memenuhi kepala Sanjaya, sosok gadis itu hadir sebagai jeda untuk menyambut sebuah telaga mata air yang menyembul di tengah tandusnya perjalanan panjang. Ada dorongan purba yang mendesak sanubarinya untuk sekadar berhenti, menyapa, atau membiarkan langkah mereka seirama selama beberapa menit. Sebab, ia tahu, percakapan paling sederhana di pagi buta terkadang adalah benih dari kenangan yang paling sulit untuk diurai.

Sanjaya ingin benar-benar menghentikan langkahnya. Di kedalaman batinnya sebuah bisikan lirih bergema, “Berhenti sebentar saja. Hanya sebentar.” Namun, logika dingin segera menyela dengan otoritas yang tajam, “Jangan. Jika kau berhenti sekarang, kau akan kehilangan segalanya.”

Saat jarak di antara mereka kian menipis, sang gadis sempat mengangkat wajah. Ada kilatan di sorot matanya yang seolah hendak menitipkan sebuah pesan, atau mungkin sekadar sebuah senyum kecil yang tulus. Sanjaya hampir membuka mulut. Kata “Hai” sudah berada di ujung tenggorokan, siap untuk meluncur.

Namun, pada detik yang menentukan itu, ia memilih untuk membuang pandang. Sanjaya memaksakan kakinya kembali melangkah cepat, menjauh dari pusat ketenangan itu, seolah pertemuan singkat tersebut hanyalah bayang-bayang yang tak pernah ada. Kesempatan yang beberapa saat lalu yang terasa begitu dekat dan nyata, akhirnya menguap begitu saja, hilang tertelan cahaya matahari yang mulai meninggi.

Di dalam benak Sanjaya, panggilan dari kantor Camat dan Bupati telah mendominasi seluruh ruang pikirannya. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa urusan "negara" memiliki bobot yang jauh lebih besar daripada sekadar percakapan singkat di jalan desa. Sanjaya mencoba menenangkan nuraninya dengan sebuah keyakinan yang rapuh bahwa kesempatan kedua pasti akan datang. Bukankah mereka menetap di desa yang sama? Bukankah jalan setapak itu akan ia lalui lagi esok atau lusa? Bukankah masih ada begitu banyak pagi yang bisa mereka bagi bersama?

Betapa sering manusia mencoba membasuh batin dengan janji-janji yang tak pernah direstui oleh waktu. Sanjaya terus melangkah, meninggalkan sosok itu kian mengecil di balik punggungnya. Semakin jauh ia beranjak, semakin luruh siluet gadis itu dari bingkai pandangannya, seolah terkikis oleh jarak yang ia ciptakan sendiri.

Tanpa ia sadari, pagi itu Sanjaya tidak sekadar bergegas menuju riuhnya pusat pemerintahan. Rupanya ia tengah menjauh dari sebuah kemungkinan, sebuah pintu yang ia tutup sebelum sempat diketuk, yang di masa depan akan berulang kali ia putar kembali dalam gulungan ingatan, menuntut untuk ditulis ulang dengan keberanian yang tak sempat ia miliki saat itu.

Tidak semua kehilangan diawali dengan perpisahan yang dramatis atau derai air mata. Terkadang, kehilangan yang paling luruh justru bermula dari sepotong sapaan yang tertahan di bibir, sebuah kata yang urung terucap, dibiarkan layu sebelum sempat menjadi bahasa.

Bus yang ditumpangi Sanjaya akhirnya melaju, menderu pelan meninggalkan pelukan kampung halaman yang kian menjauh. Mesin tuanya meraung parau, menggetarkan kaca jendela yang kusam dimakan usia, seolah turut meratapi perpisahan yang sunyi itu. Di luar sana, pepohonan berlari mundur, hamparan sawah perlahan menyusut, dan rumah-rumah penduduk perlahan menyusut menjadi titik-titik kecil yang akhirnya lenyap ditelan tikungan jalan.

Dunia di luar sana terus bergerak, melesat menjauhi masa lalu. Namun, jauh di balik dada Sanjaya, ada satu hal yang tak mampu ia tinggalkan akan sesuatu yang justru semakin nyata saat jarak memisahkan.

Bayangan wajah adik kelasnya itu sesekali muncul di sela-sela hiruk-pikuk penumpang. Wajah itu datang dan pergi seperti pantulan langit di permukaan sungai. Terlihat jelas sesaat, lalu buyar hanya karena riak kecil. Sanjaya merasa seolah ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berat daripada tas yang ia bawa. Rasanya seperti menyisakan sepotong dirinya sendiri di halte terakhir tanpa sempat kembali untuk menjemputnya.

Ia menatap kosong ke arah jendela. Sebuah pertanyaan menggantung di udara, “Haruskah ia kembali?” Namun, suara lain dari kedalaman batinnya segera menjawab dengan dingin, “Sudah terlambat.”

Sanjaya tetap duduk mematung. Ego sebagai seorang pelajar yang mendapat panggilan kehormatan membuatnya enggan beranjak dari kursi bus yang keras. Ada kebanggaan kecil yang diam-diam tumbuh, namun bersamaan dengan itu, lahir pula rasa bersalah yang perlahan menggerogoti hati. Dua perasaan yang bertolak belakang itu terus menariknya, membuat perjalanan yang sejatinya singkat terasa begitu menyesakkan dan panjang.

Setiap kali bus mengerem mendadak, pikiran Sanjaya ikut tersentak, seolah jiwanya enggan dipaksa melaju lebih jauh. Setiap tikungan yang dilalui terasa seperti sebuah tanda tanya yang membeku, enggan menemukan jawaban. Ia berupaya memeluk logika sebagai perisai, sebagai mantra penenang yang ia bisikkan sendiri: “Nanti, setelah segalanya usai, aku akan menemuinya. Aku akan menjelaskan mengapa pagi tadi langkahku begitu tergesa. Ia pasti mengerti.”

Logika memang selalu mahir merangkai alasan demi alasan, namun hati memiliki cara yang lebih sunyi dan kejam dalam meragukan segalanya.

Semakin bus mendekati pusat kecamatan, kian sesak ruang di dalam dada Sanjaya. Ketergesaan yang semula ia yakini sebagai simbol ambisi dan semangat, perlahan bermutasi menjadi beban yang menyesakkan. Ia mulai terjebak dalam kesadaran pahit yang selama ini luput dari jangkauannya, bahwa waktu adalah pencuri yang tidak pernah benar-benar menjanjikan kesempatan kedua dalam wujud yang sama. Waktu mungkin akan kembali, namun ia tidak pernah membawa suasana, nuansa perasaan, dan jiwa yang persis serupa dengan apa yang telah terlewat.

Pagi itu, tanpa disadari, telah menitipkan sebuah pelajaran yang baru mampu dimengerti Sanjaya tiga puluh tahun kemudian bahwa terkadang, perpisahan terbesar bukanlah sebuah kepergian, melainkan keberanian yang tidak sempat diambilnya saat semesta memberikan ruang untuk memulai.

Mungkin, saat ia melangkah terburu-buru meninggalkan kampungnya, yang ia tinggalkan bukanlah sekadar jalan setapak atau seorang adik kelas yang baru pulang dari surau. Barangkali, Sanjaya sedang menutup sebuah pintu yang kelak tak akan pernah bisa ia buka kembali dengan cara yang sama.

Sejak hari itu, penyesalan tidak lagi datang sebagai ledakan yang menghancurkan. Ia justru menetap sebagai bisikan lirih yang tak pernah benar-benar pergi. Penyesalan itu tinggal di sudut-sudut ingatan, mengikuti setiap langkah yang diambil Sanjaya, layaknya seutas benang halus yang tampak mudah diputus, yang diam-diam telah melilit begitu erat di pergelangan hidupnya.

Memang begitulah cara kenangan bekerja. Ia tidak mengejar saat seseorang berlari menjauh. Ia hanya menunggu dengan sabar, hingga suatu hari, ketika langkah kaki itu terhenti dan ia menoleh ke belakang, barulah ia menyadari bahwa yang paling disesali bukanlah keputusan-keputusan besar yang diambil dengan kepala dingin, melainkan sapaan sederhana yang tak pernah sempat terucap.

Perjalanan pulang dari Kantor Kecamatan terasa jauh lebih panjang daripada perjalanan saat berangkat tadi. Jalur yang dilewati masih sama, bus yang ditumpangi pun tak berubah, bahkan langit masih membentangkan gradasi warna sore yang perlahan memudar. Tetapi ada sesuatu di dalam diri Sanjaya yang telah berubah secara permanen. Sejak pertemuan singkat di Kampung Baru pagi tadi, perjalanan pulang tak lagi sekadar rutinitas menuju rumah. Ia telah bertransformasi menjadi perjalanan pulang menuju labirin pikirannya sendiri. Menuju sebuah tempat di mana satu nama terus bergaung tanpa henti, menolak untuk padam.

Haeriana Febrianti—atau Riana, begitu nama itu terpahat di dalam ingatannya. Nama itu melintas pelan di benak Sanjaya, serupa sehelai daun kering yang hanyut pasrah mengikuti arus sungai yang tak bertepi. Semakin ia berusaha menepisnya, semakin kuat ingatan itu berputar di permukaan pikirannya, menolak tenggelam, justru kian menagih ruang. 

Sanjaya bahkan mulai menggugat dirinya sendiri. Mengapa sebuah pertemuan yang tak lebih dari hembusan napas itu mampu meninggalkan jejak yang begitu dalam? Padahal, mereka nyaris tidak saling menyapa. Tiada percakapan, tiada senyum yang benar-benar sempat terbalas. Hanya dua pasang langkah yang berpapasan, lalu masing-masing menghilang, membawa langkahnya sendiri menuju arah yang berlawanan dan takkan pernah bertemu kembali.

Namun terkadang hidup memang menyimpan keajaiban di ruang-ruang paling sederhana. Ada orang-orang yang berbicara berjam-jam tetapi tak meninggalkan bekas apa pun, sementara ada sosok yang hanya hadir beberapa detik, tetapi mampu menetap bertahun-tahun di dalam ingatan.

Sanjaya menyandarkan kepalanya pada kaca jendela bus yang mulai diselimuti embun tipis. Getaran mesin bus membuat kepalanya turut berguncang pelan. Di luar, pepohonan bergerak mundur, hamparan sawah berlari menjauh, dan langit sore perlahan bermetamorfosis menjadi warna jingga yang lembut. Semua objek di dunia seolah bergerak meninggalkannya, kecuali satu wajah yang justru kian jelas memenuhi ruang pikirannya.

Apakah ia juga sempat melihatku tadi? pertanyaan itu muncul begitu saja di sela kesunyian batinnya. Atau mungkin, aku hanyalah seseorang yang kebetulan lewat di hadapannya tanpa meninggalkan arti?

Sanjaya mengembuskan napas panjang. Jika saja pagi tadi ia berani berhenti. Jika saja ia sempat mengucapkan satu kalimat. Jika saja ia tidak terlalu sibuk mengejar waktu yang angkuh. Tetapi manusia memang begitu pandai membangun kehidupan dengan serangkaian kata "kalau". Padahal, waktu tidak pernah sudi berjalan mundur hanya untuk memberi ruang bagi penyesalan.

Ia memejamkan mata sejenak. Bayangan pertemuan itu kembali berputar seperti potongan film lama yang diputar tanpa henti. Sanjaya kembali melihat kerudung gadis itu yang tertiup angin pagi, langkah kakinya yang tenang sepulang mengaji, bahkan ia merasa masih bisa merasakan bagaimana sinar matahari jatuh tepat di jalan tanah tempat mereka berpapasan.

Anehnya, ingatan itu tidak lagi membuat dadanya sesak. Sebaliknya, ada rasa hangat yang perlahan tumbuh di sana sebuah rasa yang mengembang pelan seperti bunga yang membuka kelopaknya saat disentuh cahaya matahari pagi. Sanjaya tidak mampu memberi nama pada perasaan itu. Yang ia tahu hanya satu pengharapan di suatu hari nanti bisa bertemu kembali dengan Riana tanpa harus dikalahkan oleh ketergesaan.

Bus terus melaju, membelah hamparan pagi yang kian benderang, membawa Sanjaya semakin jauh dari persimpangan tempat pertemuan itu. Namun, ironisnya, di setiap putaran roda yang membuangnya menjauh dari kampung halaman, ia justru sedang ditarik lebih dekat ke sebuah penantian baru, sebuah penantian panjang yang tak pernah ia rencanakan, yang akan menghabiskan sisa usianya untuk sekadar mengulang bayang-bayang di balik kelopak mata.

Angin sore kemudian menyelinap masuk melalui celah jendela bus yang terbuka sedikit. Sanjaya memiringkan wajah, membiarkan embusan udara itu menerpa pipinya yang rasanya sejuk dan membasuh. Anginnya membawa aroma khas persawahan dengan tanahnya yang basah, jerami kering, dan wangi dedek padi yang baru dipanen. Untuk sesaat, ia merasa seolah angin itu tengah membawa kembali fragmen-fragmen pagi yang tadi ia biarkan lewat begitu saja.

Sanjaya tersenyum tipis. Seorang penumpang tua di sampingnya melirik sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan, mungkin heran melihat seorang pemuda yang tersenyum sendirian tanpa alasan yang nyata. Sanjaya nyaris terkekeh.

"Ternyata begini rasanya," bisik hatinya, sebuah pengakuan yang tertahan di kerongkongan. Namun, ia sendiri tak mampu menjabarkan: rasanya apa?

Sebab, tak ada nama yang cukup tepat untuk melabeli gejolak itu. Yang ia rasakan hanyalah sensasi aneh, serupa seekor burung kecil yang tersesat dan terbang berputar-putar di ceruk dadanya. Ia tidak ribut, tidak pula melengking, namun kepakan sayapnya yang halus itu cukup kuat untuk membuat seluruh isi hatinya bergerak tak beraturan, menciptakan riak yang menghapus ketenangan yang selama ini ia jaga dengan rapat.

Bus berhenti di sebuah persimpangan kecil untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Di antara hiruk-pikuk itu, seorang gadis remaja duduk tak jauh di depannya. Hal pertama yang menarik perhatian Sanjaya bukanlah paras gadis itu, melainkan sebuah gelang benang yang melingkar di pergelangan tangannya.

Ia memperhatikannya dalam diam. Gelang itu sangat sederhana. Berupa lilitan benang berwarna-warni yang dianyam rapi membentuk pola-pola kecil. Tidak ada kilau emas, tidak ada kemewahan perak atau batu permata. Dalam kesederhanaannya itulah yang membuat gelang tersebut memancarkan kehangatan, seolah menyimpan sebuah cerita dari tangan yang merajutnya.

Pada masa itu, gelang benang tengah menjadi demam di kalangan remaja sekolah. Nyaris setiap pekan, model-model baru bermunculan, menggoda mata dengan warna-warni yang mencolok. Ada yang sekadar membeli di pasar demi kepraktisan, namun tak sedikit pula yang dengan tekun menganyamnya sendiri, menjadikannya sejenis seni kerajinan yang merayap di antara jemari.

Tiba-tiba, sebuah gagasan melintas di benak Sanjaya, tajam dan benderang layaknya kilat yang membelah langit musim hujan. Bukan untuk melingkar di pergelangan tangannya sendiri, melainkan untuk Riana. Sebuah niat yang lahir dari dorongan yang tak bisa ia jelaskan, sekadar ingin menitipkan sesuatu dari dirinya untuk gadis yang baru saja menetap di ingatan itu.

Jantung Sanjaya berdegup lebih kencang. Ide itu terdengar sederhana, namun kesederhanaannya justru menumbuhkan keyakinan dalam dirinya bahwa ia mampu mewujudkannya. Sanjaya memang belum pernah menganyam benang, ia bahkan tidak tahu dari mana harus memulai simpul pertamanya. Namun, bukankah setiap karya besar selalu berawal dari satu simpul yang ragu?

Ia kembali menatap ke luar jendela. Kini, jalan yang tadi terasa panjang dan melelahkan perlahan berubah menjadi terasa singkat. Setiap kilometer yang ditempuh seolah membawa Sanjaya semakin dekat menuju tujuan baru. Bukan lagi sekadar perjalanan pulang ke rumah nenek, melainkan sebuah perjalanan untuk memulai sesuatu yang lahir dari pertemuan singkat pagi tadi.

Sanjaya mulai membayangkan warna-warna benang yang akan ia pilih. Putih? Hijau? Kuning? Atau mungkin perpaduan ketiganya. Ia membayangkan jemarinya menganyam satu demi satu lilitan, membayangkan sebuah gelang sederhana yang kelak melingkar di pergelangan tangan Riana.

Bayangan itu mungkin terdengar mustahil baginya saat itu. Namun seringkali harapan lahir dari hal-hal yang dianggap mustahil. Seperti benih kecil yang percaya diri mampu tumbuh menjadi pohon besar, meski pada hari pertama ia bahkan belum sanggup menembus kerasnya tanah.

Begitu bus berhenti di terminal, Sanjaya segera turun tanpa banyak berpikir. Langkah kakinya jauh lebih cepat daripada biasanya. Terminal sore itu masih riuh. Para pedagang saling bersahutan menjajakan dagangan, sementara aroma solar yang pekat bercampur dengan wangi gorengan memenuhi udara. Orang-orang berlalu-lalang dengan urusan mereka masing-masing, seolah dunia tidak peduli bahwa di antara kerumunan itu, ada seorang pemuda yang sedang jatuh hati untuk pertama kalinya.

Sanjaya menyusuri deretan kios kecil di sisi terminal, matanya teliti mencari toko yang menjual benang. Tak lama berselang, ia menemukan sebuah toko kelontong yang juga menjajakan perlengkapan menjahit. Gulungan-gulungan benang tersusun memenuhi rak kayu, berwarna-warni layaknya pelangi yang sengaja digulung menjadi lingkaran-lingkaran kecil.

Seorang ibu paruh baya menyambutnya dengan senyum yang meneduhkan, seolah memahami kegugupan yang terselip di balik sapaan Sanjaya. “Mau cari apa, Nak?”

"Saya... mau beli benang, Bu," jawab Sanjaya, suaranya sedikit tertahan di tenggorokan.

“Benang jahit?”

Sanjaya menggeleng pelan, sembari meremas jemarinya sendiri. “Benang untuk membuat gelang, Bu.”

"Oh," senyum ibu itu merekah lebih lebar, tampak begitu hangat di mata Sanjaya. “Buat sendiri?”

Sanjaya mengangguk malu, rona tipis mulai menjalar di wajahnya. “Sedang belajar, Bu.”

Tanpa bertanya lebih jauh, ibu itu berbalik menuju deretan rak, lalu kembali dengan jemari yang menimang beberapa gulung benang. Ia meletakkan gulungan-gulungan itu di atas meja kayu dengan gerakan yang lembut. "Kalau baru belajar, ambil warna-warna ini. Mereka mudah dipadukan dan akan terlihat manis saat selesai dianyam.”

Sanjaya memperhatikan warna-warna itu satu per satu. Jemarinya akhirnya memilih putih, kuning, hijau, dan beberapa warna pelengkap lainnya. Entah mengapa, warna-warna itu terasa seperti sedang menyusun harapan yang bahkan belum sempat ia ucapkan kepada pemiliknya. Setelah membayar, ia memasukkan gulungan-gulungan itu ke dalam tas sekolah dengan sangat hati-hati, seolah sedang membawa sesuatu yang sangat berharga. Padahal secara materi, nilainya mungkin tidak seberapa.

Perjalanan menuju rumah nenek dilanjutkan dengan berjalan kaki. Kali ini, langkah Sanjaya terasa jauh lebih ringan dibandingkan pagi tadi. Di sepanjang jalan, pikirannya dipenuhi bayangan tentang gelang yang akan ia buat. Ia sadar, pekerjaan itu tidak akan mudah. Benang-benang tipis itu pasti akan kusut, simpul-simpulnya mungkin berulang kali salah, dan kesabarannya akan diuji.

Tetapi justru di sanalah letak keindahannya. Ada hal-hal yang memang pantas diperjuangkan dengan ketekunan, sebab sesuatu yang lahir dari tangan sendiri biasanya membawa kehangatan yang tak mampu dibeli dengan uang.

Sanjaya tersenyum tipis, seulas garis di bibir yang menyimpan tekad yang baru saja bersemi. "Kamu pasti bisa, Jaya," bisik hatinya sendiri, sebuah kalimat yang diucapkan bukan sebagai keraguan, melainkan sebagai sumpah.

Ia mengangguk pelan, gerakannya ritmis seolah sedang memberi jawaban kepada seseorang yang kini berjalan berdampingan dengannya dalam bayangan. "Iya," sahutnya pelan, nyaris serupa gumam yang tertelan udara sore, "aku pasti bisa.”

Sore itu, matahari perlahan tergelincir ke ufuk barat. Cahaya keemasannya menyelimuti jalanan kampung, menyentuh dedaunan, atap-atap rumah, dan wajah Sanjaya yang sejak tadi tak berhenti menyimpan senyum. Ia belum tahu apakah gelang itu kelak akan sampai ke tangan Riana. Ia pun belum tahu apakah Riana akan menyukainya, atau apakah ia akan memiliki keberanian untuk menyerahkannya secara langsung.

Namun, satu hal telah ia pastikan sore itu: pertemuan singkat yang nyaris tersapu angin di jalan kampung tadi telah menjelma menjadi seutas benang pertama. Benang yang diam-diam mulai menenun harapan di dalam relung hatinya yang paling sunyi. Sebagaimana setiap anyaman yang selalu bermula dari satu simpul kecil, mungkin kisah ini pun sedang merajut ikatan pertamanya—sebuah ikatan yang meski wujudnya belum kasat mata, diam-diam telah menambat seluruh arah langkahnya menuju masa depan yang tak lagi sama.

Di luar sana, senja mulai melabuhkan tirai keemasannya, membiarkan bayang-bayang memanjang di atas meja tempat benang-benang itu berserakan. Sanjaya menatap jemarinya yang mulai terlatih, menyadari bahwa ia tidak hanya akan menganyam benang, tetapi akan melipat waktu dan menenun takdir. 

Bahkan ia tidak tahu apakah gelang itu nanti akan sampai ke tangan Riana, atau justru hanya akan berakhir sebagai artefak bisu dari sebuah masa remaja yang lugu. Namun, untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa setiap simpul yang ia buat adalah sebuah doa yang ia kirimkan kepada semesta bahwa jika memang benar takdir memiliki jalannya sendiri, maka benang-benang ini hanyalah pembuka jalan bagi pertemuan-pertemuan yang lebih panjang di bab-bab hidup yang belum sempat terbaca. (Bersambung)

Perspektif

Scroll