Terkadang, hidup hanyalah sebuah rangkaian kebetulan yang kita paksa untuk menjadi takdir, sebuah panggung di mana kita menjadi penonton bagi drama kita sendiri. Kita terbiasa berjalan di atas permukaan hari yang biasa dan cerita yang datar-datar saja, karena barangkali abai pada retakan-retakan kecil di mana waktu sebenarnya sedang menyisipkan rahasia. Lalu kemudian ada saat-saat di mana semesta membawa kita untuk berhenti sejenak, mengizinkan kita menatap kembali ke belakang. Bukan untuk mengubah apa yang telah lalu, melainkan untuk memahami bahwa setiap luka, setiap rindu, dan setiap tatapan yang pernah kita lempar adalah benang-benang halus yang menenun siapa diri kita hari ini.
Inilah catatan tentang sebuah masa yang telah lama mengendap di palung waktu, sebuah fragmen yang tersimpan rapi di laci ingatan yang paling jarang disentuh oleh Sanjaya. Kini, lembaran itu ia buka kembali, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk disingkapkan kepada Riana—seorang perempuan yang duduk di hadapannya, yang tidak pernah benar-benar menyadari bahwa ia adalah pusat semesta dari segala cerita yang sedang Sanjaya bagi.
Riana tidak pernah tahu momen di mana Sanjaya pertama kali melihatnya. Saat itu, pertemuan tersebut bukanlah sebuah dentuman keras yang meruntuhkan tembok kota, melainkan sebuah percikan yang tiba-tiba menyala di ruang gelap batin Sanjaya. Semacam lampu yang baru saja dialiri listrik, menyinari lorong-lorong hati yang sebelumnya tak pernah ia jamah. Perasaan itu datang tanpa mengetuk pintu, serupa cahaya pagi yang merayap malu-malu melalui celah tirai, menyentuh benda-benda kusam di dalam dada Sanjaya hingga mendadak berkilau dengan nyawa yang baru.
Ia tidak bertamu sebagai badai yang mengguncang pondasi, melainkan sebagai getaran halus yang nyaris karam dalam bising lorong sekolah. Seperti bisikan gerimis pada permukaan telaga yang tenang menciptakan jejak lingkaran yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang bersedia mendekap sunyi.
Perasaan itu tidak datang sebagai tamu yang membawa koper untuk singgah sementara. Tetapi tumbuh sebagai residu yang menetap, meresap perlahan ke dalam pori-pori hari, dan mengubah realitas yang tadinya seragam menjadi kanvas penuh warna yang baru disadari Sanjaya kemudian. Ia hadir, menetap, dan perlahan mengubah detak jam dinding yang membosankan menjadi sebuah ritme yang lebih intim dan rawan.
Sanjaya baru menyadari bahwa poros dunianya telah bergeser sejak itu. Di permukaan, hidupnya mungkin tampak baik-baik saja, namun di kedalaman, ia mulai merasa asing di dalam dirinya sendiri. Langkah kakinya yang dulu ringan tiba-tiba memanggul beban rahasia yang tak kasat mata. Membawa sebuah beban yang lahir dari jejak-jejak ingatan yang baru saja ia sadari keberadaannya.
Sanjaya merasa seperti pengelana yang baru menemukan bayangan asing dalam cermin yang sama. Bayangan yang mungkin sudah lama bersemayam di sana. Tapi baru tampak jelas saat cahaya jatuh dari sudut yang berbeda, mengungkap retakan-retakan kecil yang selama ini tertutup rapi oleh hari-hari biasa.
Kini, dengan Riana yang duduk tepat di hadapannya, Sanjaya menyadari bahwa menceritakan kembali masa ini adalah caranya untuk meruntuhkan tembok tersebut, menanggalkan beban yang selama ini ia panggul dalam sunyi, dan membiarkan Riana melihat cermin yang selama ini ia sembunyikan dengan begitu rapat.
"Kenapa diam saja? Kau terlihat seperti orang yang baru kehilangan arah di rumahmu sendiri," tegur Riana. Suaranya menyentuh kesadaran Sanjaya layaknya denting bel yang kontras dengan kekosongan di dalam dadanya.
Sanjaya menatap Riana, lalu berpaling perlahan ke arah jendela. "Kita memang sering bersama, tapi pernahkah kau merasa ada yang beda hari ini?" tanyanya lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Riana. Saat mengucapkan itu, ia merasa jemarinya sedang memutar kunci pada sebuah pintu yang selama ini ia kira tidak pernah ada. Sebuah ambang batas yang mendadak terbuka lebar dan menuntutnya untuk melangkah ke dalam ketidakpastian.
Saat itu, Sanjaya berpikir perbedaan dirinya dengan Riana ibarat dipisahkan oleh tembok kaca yang tembus pandang yang menghalangi dengan batas paling dingin dan keras saat bersentuhan dengan nuraninya. Bagi Sanjaya, Riana adalah anak kota dengan gemerlap yang menempel di pundaknya, sementara Sanjaya hanyalah anak desa yang membawa aroma tanah dan kesederhanaan di setiap helai napasnya.
Mereka ibarat dua bahasa yang berbeda yang dipaksa menulis di atas satu lembar kertas yang sama, untuk menciptakan kalimat-kalimat yang tampak indah, yang pada akhirnya sulit dipahami ujungnya. Ia merasa seperti bayangan yang terkutuk untuk terus mengejar matahari, di mana jarak itu tetap absolut dan tak terjangkau, meski ia telah berlari hingga napasnya habis di ujung cakrawala.
"Kau ini terlalu banyak berpikir, kawan," ujar Ipang di sela tawa renyahnya, seolah-olah ia sedang membedah teka-teki yang paling remeh di dunia. Baginya, segala guncangan perasaan hanyalah soal matematika yang bisa diringkas dalam rumus sederhana, yang jawabannya bisa segera ditulis di lembar buku catatan dan dilupakan begitu saja.
Sanjaya hanya mampu melempar senyum kecut sebagai tanggapan. Sebuah senyum yang menjadi tameng. Sebab di palung hatinya yang paling dalam, ia tahu ada luka dan rindu yang tak mungkin bisa diterjemahkan oleh logika sesempurna apa pun, apalagi oleh sekadar rumus-rumus di papan tulis.
Sanjaya kini sedang menata puing-puing perasaannya yang berserakan. Ia mencoba membangun jembatan untuk menutupi jurang antara bocah yang masih dianggap ingusan dirinya dengan sosok "anak gedongan" yang di matanya adalah rumah megah dengan jendela-jendela benderang, tempat yang selalu terasa hangat, tapi terlalu asing dan megah untuk sekadar ia ketuk pintunya.
Ceritanya bermula sejak pagi itu. Pagi di mana poros dunia Sanjaya bergeser tanpa maklumat, meninggalkan guguran daun yang tak sempat ia siapkan wadahnya. Udara masih membawa sisa dingin malam yang gigih. Suara langkah kaki para siswa beradu dengan keriuhan tawa yang masih setengah terlelap. Sanjaya baru saja meletakkan tas, hendak mencari sedikit keriuhan di kantin untuk membuang kegelisahannya.
Namun, langkah Sanjaya mendadak terhenti tepat di ambang pintu kelas. Seolah-olah semesta baru saja memutar tuas untuk menghentikan putaran dunia, udara di sekitarnya mendadak membeku. Pandangannya terkunci pada sosok yang berdiri tepat di hadapannya. Jarak di antara mereka begitu tipis, begitu privat, hingga Sanjaya mampu merasakan hembusan napas Riana yang tenang, seperti ritme kehidupan yang kontras dengan detak jantungnya yang kini berpacu liar.
Seketika, waktu seakan kehilangan kekuatannya untuk berlari. Detik-detik yang biasanya berderap cepat kini menyerupai tetesan madu yang jatuh di musim dingin yang kental, lambat, dan sarat akan penantian yang menyesakkan. Di dalam hening yang pekat itu, Sanjaya mendadak tersadar akan sebuah kebenaran yang selama ini terkubur di bawah sadarnya. Ia menyadari bahwa tatapannya selama ini bukanlah tatapan yang biasa, melainkan tatapan seorang pemuja yang telah lama memperhatikan setiap gerak-gerik Riana dari kejauhan.
Di titik itulah, pengakuan itu menghantam jiwanya dengan telak sebab telah lama jatuh. Ia telah lama terjerembap ke dalam pesona yang tak ia sadari, dan baru ia paham bahwa setiap langkah yang ia ambil untuk mendekat hanyalah cara baginya untuk melangkah lebih dalam ke dalam labirin yang tidak memiliki pintu keluar. Sanjaya tidak sekadar berdiri di ambang kelas. Ia sedang berdiri di ambang takdir yang akan mengubah arah hidupnya selamanya.
Pada momen itu, jarum jam seolah ragu untuk berdetak kembali, dihantui ketakutan bahwa dentang logamnya akan memecahkan keheningan yang terlanjur rapuh seperti kristal di ujung tebing. Saat tatapan Riana melekat pada Sanjaya. Bukan sekadar berpapasan, melainkan layaknya dua jangkar yang dilepaskan secara bersamaan ke dasar samudra. Sanjaya merasa seolah sedang mengais sesuatu dari palung jiwanya sendiri, sesuatu yang selama ini tersembunyi di bawah sedimen masa kecil yang tak tersentuh.
"Kau mau ke mana?" suara Riana merambat pelan, serupa embun yang menyentuh kelopak mawar di ambang fajar. Menggetarkan setiap serat ketenangan Sanjaya yang telah kehilangan kata-kata. Di antara mereka, sunyi bukan lagi sekadar ketiadaan suara, melainkan sembilu yang lebih tajam dari kenyataan yang mengiris kesadaran mereka hingga hanya menyisakan kehadiran murni.
"Aku.. cuma mau masuk," bisik Riana, suaranya nyaris karam ditelan riuh koridor yang hiruk-pikuk. Di telinga Sanjaya, bisikan itu bergema seumpama dentang lonceng agung di tengah lembah sunyi yang tak berpenghuni.
"Oh.. iya," jawab Sanjaya terbata, seraya menggeser tubuhnya sedikit menyamping.
Meski hanya berjarak beberapa senti, dunia di sekitar mereka mendadak mengerucut menjadi ruang sempit yang menjebak keduanya dalam gravitasi asing. Sanjaya merasa seperti mencoba memberi jalan pada hembusan angin, namun justru tubuhnya sendiri yang terhuyung, seolah gravitasinya kini berpindah sepenuhnya pada keberadaan Riana.
Sejak detik sakral itu, sesuatu di dalam diri Sanjaya telah patah dan tumbuh kembali dengan konfigurasi yang baru. Menjadi sebuah riak kecil di permukaan telaga yang semula tenang, yang lingkarannya terus meluas, merayap hingga menyentuh tepian paling tersembunyi dari jiwanya.
Sampai setiap kali mereka berpapasan setelahnya, ada rasa yang mengendap di dasar dada, serupa debu-debu emas yang tertinggal di dasar sungai setelah arus besar berlalu. Berkilau, berharga, sekaligus menjadi beban yang manis untuk dipikul. Sanjaya mencoba menapaki kembali jalur-jalur lama yang ia kira aman, namun setiap langkahnya terasa janggal, seolah ia sedang berjalan di atas permukaan kulit yang jauh lebih tipis dan rawan terhadap gesekan.
"Rasa apakah ini?" tanya Sanjaya suatu malam kepada langit-langit kamar di rumah neneknya. Detak jam dinding yang biasanya menjadi irama hidupnya menjadi terdengar seperti palu yang menghantam kesunyian yang terlalu tajam untuk diabaikan. Pertanyaan itu menggantung, tak menuntut jawaban logika, melainkan menetap sebagai benih yang mulai berakar dalam gelap. Dengan perlahan tanpa suara dan sekuat takdir yang tak lagi bisa ia lawan kehadirannya.
Sanjaya menyadari bahwa mata Riana bukanlah sekadar indra penglihatan. Di matanya, tersimpan medan energi yang tak kasatmata. Bagai matahari kecil yang disembunyikan di balik awan tipis. Kilat cahayanya tidak menghanguskan, justru memiliki daya pikat yang sanggup melumpuhkan seluruh syaraf gerak Sanjaya.
Energi itu memancar setenang air namun sepasti api, merambat melalui molekul udara dan menemukan jalan pintas menuju pusat dadanya. Sanjaya sering mencoba membuang muka, mencari objek lain untuk ditarik ke dalam fokus. Tetapi seperti jarum kompas yang dikutuk untuk selalu menghadap utara. Matanya selalu ditarik kembali oleh magnetisme yang tidak pernah tertulis dalam buku-buku yang diajarkan di sekolah.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" suara Riana kembali membayang di benak Sanjaya, sebuah pertanyaan yang menyambar layaknya petir di tengah siang yang terik. Sanjaya hanya terdiam, tenggelam dalam kebisuan yang paling emosional dalam hidupnya. Membentuk sebuah ruang di mana kata-kata justru terasa terlalu miskin untuk mewakili riuh yang terjadi di dadanya. Di balik keterdiamannya, ia berbisik pada dirinya sendiri, Aku hanya sedang memastikan apakah aku masih berpijak di bumi atau telah terangkat ke tempat di mana hanya kau yang menjadi porosnya.
Hasrat itu kini tumbuh menjadi keinginan purba yang tak tertahankan. Menjadi sebuah kebutuhan untuk selalu memastikan Riana tetap ada di sana. Baginya, Riana yang sedang duduk di bangkunya, berdenyut sebagai realitas yang nyata, bukanlah sekadar bayangan elok yang lahir dari rahim imajinasinya yang liar. Jika kursi kayu di ruang kelas itu kosong, pikiran Sanjaya seketika melesat lebih kencang dari derap langkah kakinya sendiri. Ia memburu jawaban ke mana sang pemilik raga itu pergi. Ia dihantui kecemasan akan ketiadaan yang mencekik. Perasaan itu telah menjelma bintang utara bagi seorang pelaut yang tengah dipeluk kegelapan. Menjadi sebuah kompas yang setia menuntunnya agar tidak tersesat dalam kerinduan yang bahkan belum memiliki nama.
"Kenapa kau melamun? Nyawamu seolah tertinggal di gerbang tadi," suara seorang teman membuyarkan lamunannya, disusul tepukan keras di bahu yang hampir saja mengubah Sanjaya menjadi patung tak bernyawa.
Sanjaya hanya melempar senyum canggung, sebagai topeng paling klasik untuk menyembunyikan sebongkah rahasia yang bahkan belum sanggup dieja oleh logikanya sendiri. Ia merasa seolah tengah memegang sebuah kitab berisi bahasa asing yang belum ia pahami abjadnya. Namun ia tidak perlu memahaminya untuk merasakan kekuatannya. Cukup ia merasakan getaran itu menyengat dengan nyata, setiap kali huruf-huruf rahasia itu menyentuh jemari hatinya, membakar kesadarannya dengan sesuatu yang jauh lebih luas dari sekadar pemahaman.
Bahkan saat diingat kembali di masa dewasa, muncul sebuah tanya yang menyiksa bagi Sanjaya. Mengapa sesuatu yang begitu megah bisa bersemayam di hati seorang anak yang oleh dunia masih dicap ingusan? Mengapa ada getaran yang terasa raksasa, seolah sebuah samudra mencoba memadatkan diri ke dalam cangkir porselen yang retak?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepala Sanjaya, serupa daun-daun kering yang terseret pusaran arus sungai, berputar dalam ketidakpastian tanpa pernah menemukan tepian untuk berlabuh. Ada rasa malu yang menyelinap, seolah ia adalah pencuri yang tertangkap basah sedang mengagumi harta karun milik semesta. Sebab sesuatu yang terlalu berat untuk dipikul, namun terlalu memabukkan untuk dilepaskan.
"Kau terlihat berbeda hari ini. Ada apa?" tanya Ipang saat Sanjaya terlalu lama mematut diri di depan cermin yang retak di sudutnya. Sanjaya hanya menggeleng, meski di dalam palung hatinya, ia merasa seperti pengkhianat kecil yang sedang menyembunyikan cahaya di balik kantung baju.
Saat itu, Sanjaya adalah anak kelas lima SD yang berdiri di tapal batas antara dunia bermain yang penuh lumpur dan dunia yang mulai menuntut harga diri. Setiap pagi, ia mengenakan sepatu dengan kesungguhan seorang prajurit yang hendak menuju medan laga. Rambutnya disisir ke samping dengan kaku, mengilap oleh sapuan minyak urang-aring yang tajam aromanya, dengan segel aroma yang menandakan bahwa ia sedang berusaha menyembunyikan jati diri lamanya demi versi yang lebih pantas di mata Riana. Ritual mandi ayam telah digantikan oleh gosokan sabun yang membuat kulitnya memerah, upaya sia-sia untuk meluruhkan bukan hanya daki, melainkan juga kegamangan yang bersarang di balik tempurung kepalanya.
Meski di sungai Medang ia masih melompat dari bendungan dengan tawa yang memecah udara, Sanjaya merasa air yang menyentuh kulitnya tidak lagi terasa sama. Ada benih rasa yang terbawa arus, mencari celah di tanah jiwanya yang paling dalam untuk mengakar. Sanjaya merasa dirinya seperti seekor burung kecil yang mendadak tertegun di atas dahan, menyadari bahwa di balik bulu-bulu halus yang dulu ia banggakan, kini tumbuh sayap yang sanggup merobek langit.
Kenaikan kelas yang dulu hanya berarti selembar kertas rapor dingin berisi angka-angka, kini berubah menjadi gravitasi baru. Bukan lagi soal nilai yang dikejar, melainkan tentang bagaimana cara berjalan agar tak terlihat goyah. Bagaimana cara tersenyum tanpa nampak ragu. Bagaimana pula cara berdiri tegak agar bayangannya tak terlihat kerdil di hadapan mata Riana.
"Wah, kau sekarang jadi pesolek ya?" gurau Ipang melihat Sanjaya yang tak henti menyisir rambut. Sanjaya hanya terdiam, mematung dengan sisir yang masih menggenggam sisa minyak urang-aring yang menguar di udara.
Di akhir caturwulan itu, piala "Juara Kerapihan" mendarat di tangannya. Baginya, itu bukanlah penghargaan remeh, melainkan gerbang emas menuju dunia yang lebih bermartabat. Saat berdiri di atas panggung yang benderang, ia mencari-cari keberadaan Riana yang barangkali sedang melihatnya. Sanjaya bertanya pada angin yang berhembus, “Mungkinkah sejak saat ini, ia mulai mengenali wajahku dan mengeja namaku dengan cara yang berbeda?”
Namun, kegelisahan itu tumbuh beriringan dengan mekar paras Riana yang kian memikat waktu. Setiap kali orang-orang di sekitar mereka melambungkan pujian tentang lekuk matanya yang setajam mata elang atau alisnya yang hitam merimba, Sanjaya justru merasa dihujam oleh lubang pertanyaan yang menganga di dadanya.
“Apakah aku menyukainya hanya karena ia cantik?” tanya sisi gelap pikirannya. Pertanyaan itu terasa seperti tamparan dingin yang membuatnya tersedak. Sanjaya menolak mentah-mentah asumsi dangkal itu. Baginya, perasaan ini bukan sekadar ketertarikan pada rupa yang kelak akan pudar ditelan usia. Ini adalah ketertarikan jiwa pada cahaya. Sebuah hasrat purba untuk menyerap kehangatan di kala dingin masa kanak-kanak menyusup hingga ke tulang sumsum.
Pencapaian sebagai "Juara Kerapihan" seolah menjadi titik balik bagi Sanjaya. Ia bukan lagi anak desa yang pasrah pada takdir lumpur, dan Riana bukan lagi sekadar bayangan jauh dari kota yang asing. Saat berdiri di atas panggung itu, ia terbasuh oleh cahaya lampu yang pendarnya seolah membakar batas-batas dunia mereka, menyatukan keduanya dalam satu baris yang sakral.
Sanjaya sempat ingin melarikan diri dari labirin rasa yang mulai mengepung. Sebab orang dewasa di sekitarnya selalu mendikte bahwa seorang anak ingusan belum memiliki hak untuk mengeja alfabet cinta. Lalu ia berupaya keras bersikap biasa, memaksakan tawa yang terdengar garing, bahkan mencoba membunuh segala desir yang meronta setiap kali mata mereka bersinggungan di koridor sekolah.
Namun segala usaha untuk melupakan justru menjelma menjadi pupuk bagi ingatan. Bayangan Riana menguat dari hari ke hari, menetap serupa jejak kaki yang kian dalam tertanam di atas tanah basah setelah hujan. Semakin Sanjaya mencoba menghapusnya, semakin jelas lekuk yang tertinggal, membentuk peta rindu yang tak lagi mampu ia hapuskan.
"Ada apa denganmu? Kau seperti orang yang hilang akal saja. Bengang-bengong tak tentu arah. Ragamu memang di sini, tapi apa pikiranmu masih terlelap di tempat tidur?" celetuk Ipang suatu pagi. Ia menepuk bahu Sanjaya yang sedang terdiam kaku, matanya tertuju tajam pada bangku kosong di depan kelas, seolah kursi kayu itu adalah altar suci yang kini kehilangan persembahannya. Sanjaya hanya terdiam, tak mampu menjelaskan bahwa baginya, kursi itu adalah pusat semesta yang mendadak hampa.
Selama masa libur akhir caturwulan yang kemudian disambung oleh sunyinya bulan Ramadan, waktu bagi Sanjaya berubah menjadi tembok raksasa yang menghadang pandangannya terhadap Riana. Hari-hari menjelma menjadi ruang hampa yang ganjil, sedingin kelas yang ditinggalkan murid-muridnya setelah lonceng terakhir berdentang. Sunyi, berdebu, dan kehilangan nyawa.
Di saat anak-anak lain merayakan "kemerdekaan" dari jeratan buku pelajaran dan tugas sekolah, Sanjaya justru menjelma menjadi seorang pemuja sekolah yang fanatik. Kerinduannya pada debu papan tulis dan derit pintu kelas bukan lagi soal ilmu, melainkan di sanalah satu-satunya panggung yang memungkinkan Riana muncul kembali sebagai keajaiban yang ia nantikan.
Saat tugas piket kebersihan tiba, Sanjaya menyambutnya dengan semangat yang ganjil. Ia datang ke sekolah lebih awal, menyapu lantai hingga bersih berkilat, dan merapikan barisan bangku dengan ketulusan yang terasa sakral, seolah ia sedang menyiapkan tempat untuk sebuah ritual suci. Begitu tugasnya selesai, langkahnya akan tertuju ke ruang kelas Riana. Dengan jantung yang berdegup tak beraturan, ia akan mengintip dari celah pintu atau jendela, berharap sosok Riana akan muncul tiba-tiba, sebagai keajaiban yang mampu memberikan napas kehidupan pada ruang kelas yang sedang membeku oleh sunyi.
Sanjaya tidak menuntut banyak. Ia hanya ingin sekilas melihat Riana di sana, atau di mana pun yang memungkinkan tatapannya bertemu. Jika pun sosok itu tetap tak terlihat, memandang bangku kayu tempat Riana saja sudah cukup baginya. Bagi Sanjaya, bangku kosong itu telah menjelma sebuah mercusuar, kompas penunjuk arah di tengah gurun kegamangan yang saat itu belum mampu ia beri nama.
Belakangan, saat musim-musim berganti dan waktu perlahan mendewasakan pemikirannya, Sanjaya akhirnya paham. Itulah rindu, orang dewasa menyebutnya. Semacam keinginan purba untuk tetap merasa dekat meski hanya melalui sisa-sisa bayangan yang samar. Sebuah perasaan hangat yang sangat aneh, yang justru muncul dari hal-hal kecil yang sebenarnya tak pernah benar-benar ia miliki.
Rindu itu mungkin serupa aroma tanah kering yang tersiram hujan pertama. Ia menyesakkan dada, menuntut perhatian, tetapi anehnya, membuat kehidupan terasa jauh lebih dalam, memberi udara untuk kelonggaran napasnya.
Waktu akhirnya menyeret mereka kembali ke pelataran sekolah setelah libur panjang yang bagi Sanjaya terasa selayak satu abad yang membeku. Mereka adalah dua garis yang sempat terlempar jauh oleh sunyi, namun ditarik kembali oleh gravitasi takdir untuk bersinggungan kembali di satu titik yang sama. Hari pertama masuk kelas terasa seperti membuka lembaran pertama dari sebuah kitab kuno yang telah lama ingin ia baca. Sebab jarak seolah menjadi mantra yang melarangnya untuk menjamah bait-bait di dalamnya.
Begitu kakinya melintasi ambang pintu kelas yang berderit, mata Sanjaya tidak lagi mencari papan tulis atau sapaan hangat dari kawan-kawan yang lain. Pandangannya bergerak liar, langsung berburu letak bangku Riana yang hanya dapat dilakukan dan kebiasaan seorang pemuja. Seluruh ruang kelas yang riuh dengan tawa dan keriuhan murid-murid lainnya mendadak berubah menjadi latar yang buram dan tak bermakna, tak ubah sebuah kanvas kosong yang kehilangan fokusnya. Sementara itu, kursi kayu tempat Riana biasa bersandar yang berdiri tegak sebagai satu-satunya pusat gravitasi yang nyata, sebuah mercusuar yang menyatukan semesta kecil milik Sanjaya agar tidak lagi tersesat dalam hampa.
Jika tas Riana sudah tersimpan rapi, ada rasa lega yang mengalir pelan namun menghanyutkan, seperti tanda dari langit bahwa dunia akan berjalan baik-baik saja. Namun jika bangku itu kosong, pikirannya segera dipenuhi pertanyaan yang berdesakan layaknya penumpang bus yang berebut pintu keluar. Ia seringkali menghampiri teman sebangkunya, melempar tanya dengan nada yang dikemas sedemikian rupa agar terdengar tawar.
“Belum datang, ya?” tanyanya singkat, mencoba meminjam suara angin yang santai. Padahal sebenarnya ia sedang mengemis jawaban yang sanggup menidurkan badai yang mengamuk di dalam dada.
Bertahun-tahun kemudian, ingatan itu kembali bertamu tanpa diundang, serupa pengelana lama yang bersembunyi di balik lipatan waktu untuk mengetuk pintu kesadaran Sanjaya kembali. Ia membawa sebilah pertanyaan tajam yang tak pernah tuntas: masihkah ia memeluk setiap keping kejadian itu dengan erat, sebagaimana dulu ia bersumpah untuk tak melupakannya?
Semua memang telah berlalu, menyisakan jejak-jejak samar serupa tulisan di bibir pantai yang dihaluskan oleh lidah ombak. Tidak ada kepastian yang digenggamm Tidak ada pengakuan yang sempat dipahatkan di atas batu. Hanya ada awal dari sebuah cinta yang memilih sunyi sebagai rumahnya. Serupa tanaman liar yang tumbuh di sudut halaman yang tak pernah dipamerkan, tak pernah dirawat dengan kata-kata, namun tetap hidup dan berdenyut dengan caranya sendiri yang paling purba.
Mungkin justru karena tak pernah diucapkan, cinta itu menjadi lebih panjang umurnya daripada kata-kata. Bertahan dalam ruang abadi yang tak tersentuh oleh kejamnya kenyataan.
Kadang, dalam lamunan yang paling dalam, Sanjaya membayangkan seandainya dulu ia memiliki keberanian setajam sembilu untuk bersuara. Mungkin akan ia sampaikan semuanya kepada Riana, melalui larik-larik kalimat sederhana yang ia pendam hingga berkarat di dasar dada. Ia ingin Riana tahu apa yang sebenarnya menjadi muara dari segala diamnya, apa yang diam-diam memahat dirinya dari seorang anak ingusan yang tak acuh menjadi seseorang yang belajar merawat martabat demi sepasang mata.
İngin berkata kepada Riana, "Kau tahu, semua piala dan aroma minyak urang-aring ini... itu semua adalah bentuk bisu dari namamu," bisik Sanjaya pada bayangan masa lalunya yang ia temui di cermin hari di masa dewasa.
Begitulah cara Sanjaya mencintai. Mungkin sejak kelas empat, atau sejak momen yang saking indahnya, tak lagi mampu ia ingat dengan pasti. Sejak saat itu, perasaannya kehilangan jangkar, berayun tak menentu seperti jarum kompas yang gila setiap kali nama Riana dipanggil oleh udara. Ada sesuatu pada diri Riana yang menjadi rahasia yang tak pernah benar-benar bisa dijelaskan dengan nalar, tapi selalu berhasil membuat dunia kecil Sanjaya bergetar dengan frekuensi yang asing.
Apakah ini yang dinamakan cinta? Pertanyaan itu datang serupa gema di sebuah ruang kosong yang luas, memantul di dinding kesadaran namun tak pernah menemukan jawaban yang bermuara pasti. Mungkin ini memang cinta pertama, atau sekadar sketsa samar dari sesuatu yang belum sempat diberi warna oleh kedewasaan.
Namun jika ini adalah cinta, maka ia adalah cinta yang paling bersahaja. Cinta dalam tanda kutip. Cinta yang tumbuh pelan seperti kita berjalan pelan dengan langkah kaki anak kecil di atas jalan tanah yang berdebu. Tanpa ambisi yang meledak. Tanpa keberanian lancang melampaui usia.
Perasaannya lebih mirip rahasia kecil yang ia simpan rapat di dalam saku. Bukan untuk dipamerkan kepada dunia, melainkan untuk dirasakan diam-diam, seperti sebuah batu kali kecil yang terasa hangat karena terlalu lama digenggam dengan penuh kesungguhan.
"Mengapa kau terus memegang sakumu?" tanya Ipang dengan dahi berkerut, heran melihat kebiasaan aneh sahabatnya. Sanjaya hanya menggeleng, menyimpan bungkam. Ia takut jika rahasia yang tak berwujud itu akan mendadak lari jika ia berani membuka saku, atau setidaknya, membuka diri.
Sampai dewasa, Sanjaya masih mampu memanggil kembali ingatan tentang senyum Riana saat pertemuan pertama mereka. Senyum itu sejelas pantulan cahaya matahari di permukaan telaga yang tenang. Sederhana, tanpa hiasan berlebih, namun terasa seperti pintu yang mendadak terbuka menuju semesta yang aromanya lebih manis dan warnanya jauh lebih terang daripada bohlam ratusan watt.
Hingga suatu siang, di halaman upacara yang gersang, saat angin siang memainkan orkestra suara daun, waktu seolah membeku. Ketika mata Sanjaya menangkap senyum Riana yang turut mengembang, dunia yang bising mendadak teredam oleh keheningan yang megah. Pikirannya selalu sibuk memerangkap keajaiban itu, mencoba mencari tahu bagaimana sebuah garis lengkung di bibir bisa menetap begitu lama, hingga perlu dipahat abadi di atas dinding batinnya. Di sana, ia mulai memahami dengan cara yang perih, bahwa ada perasaan-perasaan yang tidak diciptakan untuk membutuhkan jawaban segera. Ia cukup hadir sebagai tamu yang menetap, cukup tumbuh sebagai rahasia yang berdenyut, dan cukup menjadi napas tanpa harus dipaksa memanggul nama yang pasti.
"Kenapa kau sering sekali melihat ke jendela kelas sebelah?" selidik Ipang suatu hari, memergoki mata Sanjaya yang tak pernah benar-benar menatap papan tulis. Sanjaya hanya tersenyum getir.
Ia teringat hari-hari melelahkan ketika ia ingin melumat habis ingatan itu, mencoba kembali menjadi bocah yang merdeka. Namun, setiap kali ia mengambil langkah untuk menjauh, bayangan Riana justru berjingkat mendekat, mengejarnya layaknya bayangan yang tak mungkin dipisahkan dari tumit kaki.
Bagi Sanjaya, sekolah bukan lagi sekadar bangunan kaku tempat menuntut ilmu. Ia telah menjelma menjadi rumah ibadah yang tenang, tempat di mana perasaan-perasaannya yang paling diam menemukan ruang untuk bersandar. Sebuah cinta yang memilih sunyi sebagai rumahnya, yang tak pernah dipamerkan, tak pernah dirawat dengan kata-kata, namun tetap hidup dan berdenyut dengan caranya sendiri yang paling purba.
Sejak itu, Sanjaya mengecap pengertian baru tentang mencintai yang barangkali bukan tentang seberapa kuat ia memiliki atau dimiliki, melainkan tentang bagaimana seseorang sanggup merombak total cara pandang dunia hanya dengan satu kali kehadiran. Ia tidak pernah tahu badai apa yang Riana tiupkan di dalam rongga dadanya, dan mungkin, Riana pun tak pernah perlu tahu.
Sanjaya percaya, cinta yang memilih untuk diam sering memiliki napas yang jauh lebih panjang daripada cinta yang terburu-buru diringkas dalam ucapan yang lekang oleh waktu. Saat ingatan itu kembali berkunjung, ia tak lagi memiliki hasrat untuk bertanya apakah getaran itu benar atau sekadar khayalan masa kecil. Pertanyaan itu akan terasa hambar dan tak lagi memiliki urgensi di hadapan kenangan yang begitu megah.
Yang tersisa hanyalah potret buram tentang seorang anak kecil yang sedang gemetar belajar mengenali denyut pertama di hatinya. Kisah itu menyerupai buku tua yang halamannya mendadak berhenti ditulis di bagian tengah, tidak benar-benar selesai, namun ia tak akan pernah hilang dari riak ingatan.
"Apa kau menyesal tidak pernah mengatakannya?" tanya hatinya pada bayangan di cermin. Sanjaya hanya tersenyum tipis. Jawaban itu tak lagi penting. Begitulah hukum cinta pertama bekerja. Datang tanpa derap suara, menetap tanpa janji, lalu beringsut pergi tanpa upacara perpisahan. İa hanya meninggalkan sesuatu yang tak sanggup dihapus oleh sapuan waktu paling kasar sekalipun. Itulah cara baru bagi Sanjaya untuk merasa, untuk merawat rindu, dan untuk memahami bahwa sebelum cahaya sesungguhnya menyapa, selalu ada masa remang di mana hati harus belajar mengenali bayangannya sendiri dalam kegelapan.
Sanjaya masih memeluk erat ingatan tentang senyum itu. Tentang senyum yang serupa nyala lilin kecil yang menolak padam di tengah badai. Meskipun dunia telah berlari jauh meninggalkan padang masa kanak-kanak, ia mengecap kebijaksanaan yang getir bahwa yang paling abadi bukanlah pertemuan fisik, melainkan jejak-jejak sunyi yang ditinggalkan perasaan itu di dinding sukma. Raga adalah kotak musik yang menyimpan melodi purba, sebuah gelombang hangat yang menyengat tiba-tiba saat nama Riana terlintas. Seolah nama itu adalah kunci yang memutar tuas memori.
Tetapi kenangan tentu tidak selalu hadir sebagai narasi utuh, melainkan sebagai serpihan cahaya yang memercik sesaat lalu karam, meninggalkan getaran panjang yang tak sanggup dijinakkan oleh kamus bahasa mana pun.
"Apakah kau merasakan sesuatu?" bisik Sanjaya pada udara kosong, seolah suaranya bisa melintasi dimensi waktu untuk menyentuh pundak Riana yang dulu. Pertanyaan-pertanyaan itu kini telah membatu, menjelma surat-surat tak terkirim yang ditulis dengan tinta air mata yang rapi, terkunci rapat di dalam laci waktu yang kuncinya telah ia lempar jauh ke dasar samudera.
"Mungkin memang begini seharusnya," gumamnya sambil menatap langit yang kian menjauh. Tidak semua rasa ditakdirkan tiba di dermaga tujuan. Sebagian besar diutus hadir hanya untuk mengajarkan seni merasakan tanpa harus memiliki, seni menunggu tanpa harus berharap, dan seni menerima bahwa tidak semua cerita membutuhkan jawaban untuk dianggap indah. Di antara cahaya yang akan datang dan kegelapan yang telah lewat, rasa sebuah getaran pertama akan tetap tinggal sebagai bagian dari dirinya yang paling jujur, paling rahasia, dan paling abadi.
Kini dengan segala kedewasaan yang tersisa, Sanjaya memahami bahwa cinta pertama bukanlah perihal keberhasilan memiliki, melainkan tentang keberanian amat sangat untuk merasakan sesuatu yang asing. Ia datang menyerupai hujan pertama setelah kemarau yang meranggas. Mungkin hanya sekejap, namun aromanya cukup untuk memaksa tanah kembali mengingat bagaimana rasanya menjadi basah dan berdenyut. Sebab hati yang pernah dipukul oleh cinta pertama tidak akan pernah kembali sama. Ia akan selalu memiliki celah yang merembeskan air.
"Kau terlihat sudah berdamai dengan masa lalu," ucap seseorang di sisinya. Sanjaya hanya mengangguk. Ia menyadari bahwa damai bukan berarti lupa, melainkan ingat tanpa lagi merasa luka.
Jika suatu hari nanti takdir memutuskan untuk menyilangkan jalan mereka kembali sebagai dua orang asing yang telah babak belur melewati musim, Sanjaya mungkin hanya akan melempar senyum tanpa sepatah kata pun. Sebab ada cerita yang akan kehilangan magisnya jika diulang, dan ada perasaan yang jauh lebih mulia jika tetap menjadi rahasia indah di palung jiwa.
Ia tidak lagi menunggu jawaban yang tak kunjung tiba. Sebab yang tersisa kini hanyalah serpihan syukur bahwa pernah ada seseorang yang sanggup membuat dunianya terang, bahkan jauh sebelum ia sanggup mengeja arti cahaya yang sesungguhnya.
Di ujung pencariannya, Sanjaya mengerti bahwa sebelum seseorang dianugerahi cinta yang besar dan menggelegar, ia harus lebih dulu disucikan oleh cinta yang diam. Seperti akar di bawah tanah, ia tak pernah tampak di permukaan, namun ia adalah alasan mengapa langkah-langkah di atasnya terasa memiliki makna. Karena kesibukan dewasa, nama Riana mulai memudar di halaman hidupnya, tetapi darinya Sanjaya belajar bahwa hati, bahkan pada usia yang paling polos, sudah tahu cara bergetar dengan hebat.
"Riana.. " ia membisikkan nama itu pada angin. Bukan untuk memanggilnya kembali, melainkan untuk melepaskannya dengan hormat. Semuanya bukan lagi tentang apakah gadis itu menyadari kehadirannya, melainkan tentang seorang anak kecil yang berdiri gemetar di ambang perasaan yang terlalu raksasa. Ia memilih menggenggam perasaan itu seperti cahaya kecil di dalam saku. Tidak untuk dipamerkan, tidak pula diteriakkan, melainkan dibawa berjalan seumur hidup sebagai sebuah tanda. Tanda bahwa ia pernah belajar merasakan dunia dengan cara yang paling jujur, sebelum cahaya benar-benar datang dan mengubah segalanya menjadi sejarah.
Kini, tibalah saatnya bagi Sanjaya untuk menutup lembar terakhir dari kenangannya. Ia menyadari bahwa hidup tidak selamanya tentang pencapaian yang bisa dipamerkan di atas panggung. Terkadang, kehidupan hanyalah tentang keberanian untuk menyimpan satu nama di kedalaman jiwa, menjaga nyalanya tetap berpijar meski tidak pernah sedikit pun bersinggungan dengan realitas.
Riana mungkin telah lama melangkah menjauh, atau mungkin ia sendiri tak pernah tahu bahwa di sepanjang masa kecil itu, ada seorang anak yang menjadikan keberadaannya sebagai kiblat dari segala tumbuh dan kembangnya. Namun, Sanjaya tak lagi merasa kehilangan. Sebab, bukankah keindahan yang paling abadi adalah keindahan yang tak pernah sampai pada genggaman kepemilikan?
Riana telah menjadi bagian dari napasnya, sebuah rahasia yang ia bawa hingga ke usia di mana ia mulai mengerti bahwa cinta tidak selalu tentang 'memiliki', melainkan tentang 'menjadi'. Menjadi lebih peka, menjadi lebih tabah, dan menjadi lebih manusiawi. Dan di sanalah, di palung hati yang paling tenang, Sanjaya membiarkan semuanya tersimpan sebagai sebuah karya seni yang tak perlu dibingkai. Cukup dirasakan hangatnya, selamanya.
Sampai waktu kemudian memiliki caranya sendiri untuk melunasi utang masa lalu. Tahun-tahun yang memudar akhirnya membawa mereka kembali pada satu pertemuan yang tak lagi diskenariokan oleh mimpi. Di sebuah hari yang tenang, takdir mempertemukan kembali Sanjaya dan Riana. Tidak ada lagi debar yang meledak-ledak atau kegelisahan anak ingusan, yang tersisa hanyalah dua manusia yang telah ditempa oleh kehidupan.
Saat itulah, Sanjaya akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu labirin yang telah ia kunci rapat selama puluhan tahun. Ia menceritakan semuanya, tentang bangku kosong, tentang debu sekolah, dan tentang bagaimana Riana sempat menjadi kiblat dari dunia yang ia bangun dalam sunyi.
Riana mendengarkan dengan tatapan yang tenang, sebuah tatapan yang tidak lagi terasa asing, melainkan seperti rumah yang akhirnya menemukan penghuninya. Tidak ada tuntutan untuk kembali ke masa lalu, hanya sebuah senyum tulus sebagai pengakuan bahwa cerita itu memang pernah ada, hidup, dan bernapas di antara mereka, meski baru memiliki suara untuk disuarakan.
Akhirnya, rahasia itu tidak lagi menjadi beban, melainkan sebuah jembatan yang menyatukan dua jiwa dalam pemahaman yang paling dewasa. Beberapa cinta memang tidak harus dimiliki, cukup diceritakan agar abadi. (Sal)