Waktu adalah pencuri yang paling sopan. Ia tidak datang mendobrak pintu atau menodongkan belati. Ia mencuri melalui retakan-retakan kecil pada dinding kehidupan, membiarkan segala warna memudar perlahan, teroksidasi oleh tahun-tahun yang berjalan tanpa henti.
Sering kali, kita tidak menyadari bahwa sesuatu yang berharga telah dicuri sampai akhirnya kita menoleh ke belakang, dan hanya mendapati ruang kosong yang kini dihuni oleh debu. Mungkin itu adalah sisa tawa, sebentuk impian yang kandas, sosok kekasih yang perlahan menjadi asing, atau apa pun yang kini tak lagi mampu kita jangkau oleh tangan waktu.
Bagi Sanjaya, setiap kali ingatan itu memaksakan diri untuk menyembul, ia mendapati dirinya terperosok ke dalam sebuah kemustahilan yang berdebu. Menuju sebuah ruang di mana waktu seolah membeku dan memori terus menuntut untuk dihidupi. Ia menyadari bahwa ingatan bukanlah arsip yang tersusun rapi di rak perpustakaan, yang bisa ia ambil atau simpan sesuka hati. Sebaliknya, masa lalunya ibarat sebuah danau yang dalam atau sebuah tempat yang permukaannya sengaja ia tutupi dengan lapisan es ketenangan yang tebal, agar ia tak perlu menatap bayang-bayang di dasarnya.
Namun, takdir memiliki cara yang kejam untuk mengusik pertahanan tersebut. Tidak butuh badai besar untuk meruntuhkan kedamaian yang Sanjaya bangun. Cukup dengan melemparkan sebongkah kerikil kecil ke tengah danau itu. Riak yang tercipta tidak hanya menggetarkan permukaan, tetapi perlahan merambat ke bawah, mengaduk-aduk endapan lumpur masa lalu yang selama ini ia coba endapkan dalam sunyi.
Danau itu pun terpaksa menyerah. Sebab ia dipaksa untuk memuntahkan kembali apa yang telah ia telan bertahun-tahun, menyodorkan sisa-sisa kenangan yang kini terapung ke permukaan. Menjadi sebuah pengingat yang telanjang, yang kini menuntut untuk dikenali kembali, meski ia tahu bahwa mengenalinya adalah cara tercepat untuk melukai dirinya sendiri.
Kabar itu datang memang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai sabotase. Ia meluncur seperti sebatang ranting tajam yang dilemparkan dari kejauhan, menembus lapisan es di permukaan danau jiwa Sanjaya, menyibak airnya yang keruh, dan akhirnya menghujam tepat di tepian dasarnya. Demikian kabar itu merambat seperti uap dingin yang membawa aroma bau tanah basah yang selalu menyimpan memori tentang jalan setapak di desa, tempat di mana jejak kakinya dan Riana pernah saling bertaut.
Kabar itu memang tidak meledak seperti guntur yang memberi peringatan, melainkan datang dengan kelembutan yang mematikan. Bekerja seperti sebuah anestesi emosional yang melumpuhkan akal sehat. Cukup untuk menggetarkan sesuatu yang selama ini ia kunci mati di balik jeruji batinnya.
Ketika ia kembali menelusuri memori tentang masa kepulangannya, juga merasa udara di desa seolah ikut berbisik menguatkan dugaan. Di antara jajaran rumah panggung yang menyimpan rahasia dan nyiur kelapa yang melambai lesu, seolah ikut berduka atas apa yang terjadi padaku setelah mendengar desas-desus yang dibawa angin. Nama Riana disebut-sebut sebagai pusat dari pusaran pembicaraan. Konon, ia tengah didekati oleh seorang pemuda desa.
Pemuda itu memang bukan seorang cendekia. Tangannya lebih akrab dengan cairan oli daripada cairan tinta pena. Bahkan mungkin tak pernah mengerti bagaimana cara mengeja ambisi di bangku sekolah formal. Tetapi dalam timbangan masyarakat desa yang kaku, lelaki itu memiliki "bobot" yang sangat berat ketika ayahnya seorang haji yang disegani, pemilik hamparan sawah yang hijau seluas pandangan mata, dan sosok yang suaranya adalah hukum tak tertulis di balai desa.
Keluarga pemuda itu adalah tiang pilar dan fondasi di tengah masyarakat yang rapuh. Bagi mereka, status sosial bukanlah tentang apa yang ada di dalam kepala, melainkan apa yang dipijak di atas tanah. Prestise yang gemerlap dari keluarga lelaki itu menjadi kabut tebal yang dengan mudah menutupi kurangnya pendidikan, menjadikan sosok itu "berharga" di mata semua orang, termasuk bagi mereka yang memegang kendali atas masa depan Riana.
Sanjaya menyadari, ia sedang melawan arus yang tidak hanya berisi air, tetapi juga berisi batu-batu tradisi dan kasta yang telah membatu. Ia merasa kehilangan separuh jiwanya sebelum sempat menggenggamnya. Karena kabar itu telah mengubah dunianya yang semula utuh menjadi sebuah peta yang kehilangan arah.
Mula-mula, Sanjaya mencoba bersikap abai. Ia membungkus kabar itu sebagai angin lalu, meyakinkan diri bahwa desas-desus hanyalah residu percakapan orang-orang yang terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain. Ia membangun benteng penyangkalan yang tebal, berupaya percaya bahwa kebenaran selalu punya celah untuk dibantah. Tetapi waktu adalah hakim yang dingin. Ia tidak pernah memberi ruang bagi harapan yang hanya disokong oleh dugaan.
Tak lama kemudian, sebuah pengakuan akhirnya sampai ke telinganya: Riana telah menerima pinangan lelaki itu.
Di puncak masa remajanya saat Sanjaya masih berseragam putih-abu-abu, kabar pernikahan Riana datang dengan ketajaman yang tak bisa lagi disangkal. Melalui surat yang terlipat rapi dan bisikan yang berhamburan membawa kenyataan yang menghantam telak bagi jiwa Sanjaya.
Riana menikah. Hanya dua kata yang sederhana, namun bagi Sanjaya, dua kata itu adalah pintu kayu tua yang ditutup perlahan dari dalam, lalu dikunci dengan suara denting logam yang menggema di seluruh ruang batinnya. Suara pengunci itu merambat ke dalam saraf-sarafnya, memutus aliran napas yang selama ini ia jaga untuk tetap teratur, meninggalkan kesunyian yang mencekik.
Tetapi Sanjaya tidak menangis. Sebab air mata hanyalah luapan bagi kesedihan yang mampu terjamah oleh logika. Ada luka yang terlalu dalam hingga air mata pun takut untuk mendekat. Luka semacam itu menetap di ruang sunyi di balik dada, bekerja diam-diam seperti tetesan air yang jatuh tiada henti di atas permukaan batu. Dengan jatuh perlahan, sabar, dan tak terelakkan, hingga akhirnya batu itu retak bukan oleh hantaman yang mengejutkan, melainkan oleh keteguhan waktu yang menggerogoti.
Harapan yang selama ini ia simpan di sudut hati yang paling gelap, yang ia kira hanyalah bayang-bayang masa lalu yang tak berbahaya, seketika runtuh tanpa suara. Lalu sejak saat itu, ia merasa seolah berjalan dengan serpihan kaca yang tertanam di dalam dadanya sendiri. Setiap kali ia menarik napas, setiap kali ia melangkah lebih jauh menjauh dari tanah kelahirannya, setiap detak jantungnya terasa seperti gesekan tajam yang merobek bagian dalam dirinya.
Tetapi kemudian rasa perih itu menjadi kompas, menuntunnya pada kesadaran baru bahwa kehilangan bukanlah tentang kepergian seseorang, melainkan tentang hilangnya bagian dari diri sendiri.
Untuk sesaat, memang dunia di sekelilingnya seolah kehilangan palet warnanya. Namun tetap dan akhirnya menyadari langit tetap membentang biru dengan angkuh, matahari terus bangkit dari ufuk timur dengan rutinitasnya yang dingin, dan burung-burung tetap berkicau menyambut pagi seolah tidak ada satu pun semesta yang hancur.
Meski tentu di dalam batin Sanjaya, semuanya telah berubah menjadi kelabu. Sebuah lentera telah padam dan menyadari bahwa selama ini, tanpa ia sadari, ia masih menyalakan secercah lilin harapan, sebuah api kecil yang ia lindungi dengan telapak tangannya sendiri. Namun ketika angin kenyataan dengan keras memadamkannya, sering yang tersisa hanyalah kehampaan yang tak bernama, menjadi sebuah lubang menganga yang harus ia bawa seumur hidup dan menjadi tanda bahwa ia pernah memiliki sesuatu yang sangat ia cintai.
Beberapa hari setelah kabar itu menohok batinnya, Sanjaya tidak langsung jatuh dalam duka yang utuh. Mungkin, kehidupan yang keras telah lebih dahulu menagih perhatian dan sisa-sisa tenaganya tidak memberi ruang bagi kemewahan untuk bersedih.
Pada masa itu, Sanjaya adalah seorang pengembara muda yang sedang berjuang menaklukkan kota. Hari-harinya adalah mosaik yang penuh dengan persoalan mendesak yang jauh lebih vital daripada sekadar memelihara patah hati. Ia harus meramu strategi agar esok perutnya tetap terisi, memastikan lembar biaya sekolah dapat terpenuhi, dan yang paling berat adalah menjaga harga dirinya tetap tegak tanpa harus bergantung pada siapa pun.
Dalam realitas yang sempit itu, rasa lapar sering kali jauh lebih nyaring daripada gema rindu. Karena itulah, duka tentang Riana perlahan terdorong ke sudut hati yang paling tersembunyi. Bukan karena rasa itu telah pudar atau hilang ditelan waktu, melainkan karena kehidupan adalah seorang mandor yang kejam, memaksanya memilih luka mana yang harus diprioritaskan untuk disembuhkan.
Meski demikian, bayangan tentang perempuan itu sesekali tetap menyelinap, datang seperti aroma bunga yang tiba-tiba tercium saat seseorang berjalan sendirian di tengah lorong kota yang hambar. Ia hadir sebentar, mengusik ketenangan, lalu menghilang seperti kabut dan meninggalkan jejak lembap yang tak pernah benar-benar kering meski sudah sekian kali tersapu angin.
Setiap kali kalender pendidikan memasuki jeda caturwulan, ritme napas Sanjaya di kota seolah melambat, memberikan sinyal bahwa waktu untuk pulang telah tiba. Bagi Sanjaya, perjalanan kembali ke kampung halaman bukanlah sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah pelarian menuju tempat persembunyian yang tenang.
Di dalam bus yang berderit membelah sunyi malam, Sanjaya sering memandang jendela, menatap bayangannya sendiri yang tampak lelah. Gurat wajahnya pelan-pelan terkikis oleh kerasnya tuntutan hidup di perantauan. Ia membawa serta sisa-sisa lelah perjuangan kota dengan segala beban dari perut yang sering dipaksa kenyang oleh disiplin, biaya sekolah yang selalu menghantui pikiran, dan kesepian yang menjadi teman tidur setiap malam. Di pundaknya tertumpuk debu-debu ambisi yang mulai terasa menyesakkan.
Lalu begitu ia menginjakkan kaki di tanah desanya, seolah ada magnet yang menarik berat tubuhnya untuk meluruh. Kampung halaman bukan sekadar kumpulan rumah panggung atau hamparan hijau di bawah kaki gunung. Bagi Sanjaya, itu adalah sebuah "ruang tidur" yang luas. Di sana, ia ingin menidurkan segala lelah dengan membayangkan bau tanah yang basah oleh embun pagi dan suara gemericik air sungai Medang sebagai sesuatu yang tidak ia temukan di tengah bisingnya deru mesin di perkotaan.
Ia pulang bukan untuk merayakan keberhasilan, melainkan untuk mencari jeda. Mencari sebuah titik koma dalam kalimat hidupnya yang terlalu panjang dan melelahkan. Ia mendambakan kedamaian yang bisa menyelimuti keresahannya dan berharap dengan sekadar duduk di beranda rumah neneknya saat sore hari, membuat segala luka yang ia bawa dari kota akan perlahan memudar, tersapu oleh angin desa yang sejuk dan tidak menuntut apa pun darinya.
Baginya, kampung halaman adalah satu-satunya tempat di mana ia diizinkan untuk berhenti sejenak. Rumah neneknya ibarat sebuah dermaga sunyi tempat ia bisa menambatkan perahu jiwanya yang koyak tanpa harus merasa bersalah karena berhenti berlari.
Ia pun tidak pernah meniatkan diri untuk mencari kabar tentang Riana. Sebaliknya, ia membangun tembok-tembok bisu di sekeliling batinnya, berusaha menghindar dari setiap percakapan yang mungkin menyeret nama perempuan itu kembali ke permukaan ingatannya. Ia ingin menjadi orang asing bagi masa lalunya sendiri, seolah dengan melupakan, ia bisa menghapus jejak kaki yang pernah tertinggal di jalan setapak masa lalu.
Namun, takdir bukanlah naskah yang bisa ia sunting sesuka hati. Takdir memiliki cara yang lihai untuk menyeret seseorang kembali ke pusaran masa lalu, tepat saat pertahanan diri sedang berada di titik terendahnya. Bahkan ketika Sanjaya mencoba menutup rapat pendengarannya, orang-orang di kampunglah yang justru menjadi kurir tak diundang. Mereka membawa kabar-kabar yang seharusnya telah terkubur rapat di bawah timbunan debu waktu, menaburkan kembali benih-benih luka yang ia kira sudah mati.
Mereka tidak pernah tahu bahwa bagi Sanjaya, setiap sebutan nama itu adalah kerikil tajam yang dilemparkan kembali ke dalam danau jiwanya yang baru saja hendak tenang, menciptakan riak perih yang menyentuh dasar terdalam.
"Kasihan juga hidupnya sekarang," gumam seorang tetangga, memecah kesunyian sore yang mulai berwarna jingga.
"Pernikahannya tidak sebahagia yang dibayangkan orang," timpal yang lain, seolah sedang membahas cuaca atau harga bawang di pasar.
Kalimat-kalimat itu meluncur begitu saja, ringan dan tanpa beban, mengisi ruang di beranda rumah yang mulai meredup. Sanjaya hanya mendengarkan. Ia duduk mematung, membiarkan jemarinya mencengkeram tepi kursi kayu hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia tidak bertanya lebih jauh. Tidak pula menunjukkan binar rasa ingin tahu yang tiba-tiba membakar dadanya. Ia hanya mengangguk pelan, sebuah gestur formalitas yang menyembunyikan badai di dalam batinnya. Ia hanya membiarkan kata-kata itu mengendap, meresap ke dalam pikiran seperti racun yang bekerja lambat.
Ada bagian dari dirinya, bagian yang masih menyimpan sisa-sisa cinta yang belum sepenuhnya padam yang menjerit ingin mengetahui seluruh kisahnya. Ingin berlari memastikan apakah Riana baik-baik saja. Namun ada pula bagian lain, bagian yang lebih rasional namun pengecut, yang takut jika kenyataan ternyata jauh lebih menyakitkan daripada bayang-bayang yang sanggup ia tanggung.
Sanjaya sadar, terkadang ketidaktahuan adalah bentuk kasih sayang tertinggi pada diri sendiri. Tidak mengetahui adalah cara paling lembut untuk menjaga sisa-sisa hati agar tidak benar-benar hancur berserakan, menjaga agar cermin batinnya tidak retak oleh kenyataan yang tidak lagi menjadi bagian dari jalan hidupnya. Ia memilih untuk tetap menjadi orang asing, membiarkan rahasia hidup Riana tetap tersimpan di balik pintu yang telah ia kunci rapat-rapat, demi menjaga sisa kewarasan yang ia miliki di sela-sela perjuangan hidupnya.
Hari-hari kemudian terus bergulir, menjadi detak waktu yang perlahan mengikis gundukan ingatan tentang Riana. Waktu bekerja dengan cara yang hening namun pasti, tidak menghapus masa lalu, melainkan menimbunnya dengan lapisan pengalaman baru hingga kenangan itu tak lagi tampak di permukaan.
Setelah menuntaskan masa sekolah dan merampungkan bangku kuliah, Sanjaya mengambil sebuah keputusan yang mengubah arah hidupnya. Ia memutuskan untuk angkat kaki dari tanah kelahirannya, menyeberangi selat, dan memilih memulai segalanya dari nol di tempat yang asing.
Ia tidak melarikan diri, ia hanya sedang memberi ruang bagi dirinya untuk tumbuh tanpa terus-menerus menoleh ke belakang. Sebab ia sadar bahwa seseorang tidak akan pernah benar-benar tahu sejauh mana kakinya mampu melangkah jika ia terus memeluk bayangan yang sejatinya telah selesai menjadi kenyataan.
"Aku harus terus berjalan," bisiknya suatu malam di tengah sunyi perantauan, saat menatap lampu-lampu kota yang asing. “Aku harus berdiri di atas kakiku sendiri. Takdir tidak akan sudi menjemput orang-orang yang memilih berhenti di persimpangan kenangan.”
Sejak saat itu, ia membiarkan hidup membawanya ke arah yang belum terpetakan. Ia mulai belajar menerima satu kebenaran pahit bahwa masa lalu bukanlah rumah untuk ditinggali, melainkan sekadar jalan setapak yang pernah ia lewati. Tak lebih.
Namun takdir memiliki memori yang lebih panjang dari manusia. Bertahun-tahun kemudian, di sebuah kesempatan yang tak disangka, kabar tentang Riana kembali datang menghampirinya. Kali itu tidak berbentuk desas-desus angin lalu. Melalui seorang perempuan tua yang mengenal silsilah keluarga Riana bercerita panjang kepadanya dengan suara yang sarat akan penyesalan.
Perempuan tua itu menarik napas dalam sebelum berucap, seolah setiap kata yang ia keluarkan memiliki bobot yang mampu meruntuhkan benteng pertahanan yang telah dibangun Sanjaya bertahun-tahun.
"Nak," katanya lirih, “hidup Riana ternyata jauh dari apa yang kita bayangkan dulu.”
Sanjaya terdiam. Debu-debu masa lalu yang sudah ia endapkan mendadak berhamburan kembali.
"Di rumah suaminya, ia diperlakukan tak lebih dari seorang pembantu," lanjut perempuan itu.
Kalimat itu jatuh perlahan, menghantam batin Sanjaya dengan amat brutal, persis seperti batu besar yang dilemparkan ke tengah danau yang sudah lama membeku. Riaknya melebar, menghancurkan ketenangan yang selama ini ia jaga.
Menurut penuturan perempuan tua itu, hari-hari Riana adalah siklus penderitaan yang tak berujung. Sejak fajar masih menggantung malu-malu di ufuk hingga malam menutup tirai langit, tangannya tak pernah berhenti bekerja. Ia adalah budak bagi rutinitas. Ia mencuci pakaian seluruh penghuni rumah suami yang besar itu seorang diri. Bukan sekadar beberapa helai, melainkan tumpukan cucian yang menggunung dari keluarga besar yang tinggal dalam satu atap.
Semua dikerjakan dengan kedua tangannya sendiri, pada masa di mana mesin cuci hanyalah kemewahan yang tak terbeli. Ember demi ember air ia angkut, sabun ia gosokkan ke kain yang seolah tak pernah habis. Sementara jemarinya perlahan kehilangan kelembutannya, berubah kasar, merah, dan pecah-pecah tanpa ada satu pun yang sudi membasuh lelahnya dengan perhatian.
Dalam benak Sanjaya, bayangan Riana yang dulu ia kenal sebagai perempuan dengan senyum yang mampu mengusir mendung, kini berubah menjadi sosok yang terperangkap di antara ember, lantai yang harus disapu, piring kotor yang menumpuk, dan kewajiban melayani suami yang tak pernah menghargainya.
Bayangan itu membuat dadanya terasa sesak, seolah ada tangan yang meremas paru-parunya. Namun itu membawa Sanjaya pada satu pengertian bahwa hidup terkadang tidak menghancurkan seseorang melalui peristiwa besar yang dramatis. Hidup seringkali lebih kejam menghancurkan manusia sedikit demi sedikit, melalui rutinitas yang monoton, melalui beban kerja yang tak kunjung usai, dan melalui kesunyian yang tak pernah didengar oleh siapa pun.
Seperti tetes air yang jatuh tak henti-henti di atas sebongkah batu. Bukan derasnya yang menghancurkan, melainkan keteguhan air itu untuk tidak pernah berhenti. Begitulah Riana perlahan terkikis oleh waktu, habis tersapu oleh kehidupan yang ia kira adalah tempat ia akan menemukan kebahagiaan.
Waktu terus berputar, membawa musim berganti tanpa pernah sudi menunggu siapa pun. Hari-hari datang dan pergi seperti ombak yang tak lelah menjilat bibir pantai, mengikis apa pun yang ia temui di jalurnya. Di sela perjalanan hidup yang semakin panjang dan sunyi, sebuah kabar terbaru tentang Riana sampai ke telinga Sanjaya.
Kabar itu datang dengan pelan, nyaris seperti bisikan angin di sela-sela ilalang. Ada yang memberi tahu Riana telah menjadi seorang janda.
Sesaat setelah mendengarnya, dunia di sekitar Sanjaya seolah membeku. Ada sesuatu yang bergetar hebat di dalam dadanya. Sebuah gema dari masa lalu yang tak pernah benar-benar padam.
Bukan kegembiraan yang ia rasakan, apalagi rasa puas melihat kehidupan Riana yang ternyata tidak seindah janji yang diucapkan lelaki itu. Yang muncul justru perasaan yang lebih rumit. Sebuah belas kasih yang lahir dari sisa-sisa kenangan, berkelindan dengan kepedihan mendalam akan nasib manusia yang bisa berubah sedemikian rupa oleh waktu.
Ia membayangkan Riana, gadis yang dahulu memancarkan cahaya di setiap sudut desanya, harus memikul kenyataan pahit yang tak pernah ia tuliskan dalam daftar mimpinya.
Dalam benak Sanjaya, perceraian bukan sekadar putusnya sebuah ikatan hukum atau janji. Ia seperti sebuah rumah yang dibangun dengan harapan bertahun-tahun, dengan pondasi mimpi yang disusun bata demi bata, namun roboh hanya dalam satu musim kemarau. Dan yang tersisa di sana bukan lagi tempat bernaung, melainkan puing-puing tajam yang melukai siapa pun yang mencoba memungutnya kembali.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sebuah keinginan muncul dan tumbuh dengan liar di dalam diri Sanjaya untuk pulang. Bukan untuk mengulang kisah yang sudah lama menjadi abu, bukan pula untuk memaksakan cinta yang telah gugur sebelum sempat mekar. Ia hanya ingin hadir sebagai saksi bagi seseorang yang pernah mengisi sebagian masa mudanya, untuk seorang yang kini mungkin berdiri sendirian di tengah reruntuhan hidupnya sendiri.
"Kalau saja aku ada di sana..." gumam Sanjaya lirih, suaranya hilang ditelan dinginnya malam. “Setidaknya, aku bisa mengatakan bahwa ia tidak perlu memikul reruntuhan itu sendirian.”
Namun, keinginan itu tertahan di tenggorokan. Jarak membentang luas, dan waktu telah melukis wajah mereka dengan garis-garis yang tak lagi dikenal. Yang paling berat adalah sisa-sisa cara pandang yang tumbuh dari lingkungan tempatnya dibesarkan. Sebuah bayang-bayang yang masih enggan beranjak.
Di sudut pikirannya, terkadang masih terdengar bisikan sumbang yang dulu dianggap sebagai kebenaran mutlak. “Ah... dia sudah janda. Bukankah masih banyak bunga yang belum tersentuh?”
Bisikan itu tidak datang dari hati terdalamnya, melainkan sebuah gaung suara masyarakat yang sejak kecil akrab ia dengar. Sebuah pandangan kolot yang diam-diam menempel pada nurani, seolah status janda adalah sebuah noda yang mustahil dibersihkan, seolah retaknya sebuah rumah tangga ikut meretakkan martabat seorang perempuan.
Sanjaya seiring usia telah mengajarinya dalam melihat dunia melalui lensa yang lebih jernih. Sanjaya mulai menggugat keyakinan kolot tersebut untuk bisa berdiri di hadapan cermin batinnya sendiri. Bertanya dengan berani: Bukankah yang retak adalah sebuah ikatan, bukan kemanusiaannya? Bukankah yang gagal adalah sebuah kesepakatan, bukan harga diri seseorang?
Pertanyaan-pertanyaan itu tumbuh perlahan di dalam dirinya, seperti cahaya pagi yang sedikit demi sedikit mengusir kegelapan tanpa perlu memaksakan terang. Ia mulai menyadari bahwa luka Riana bukanlah noda, melainkan sebuah tanda perjuangan, tanda bahwa perempuan itu pernah cukup berani untuk mencoba dan cukup kuat untuk bertahan ketika segalanya runtuh. Sanjaya tidak lagi memandang Riana dengan kasihan, melainkan dengan sebuah rasa hormat yang baru, yang pelan-pelan menghapus prasangka yang selama ini membelenggu langkahnya.
Hari itu, Sanjaya tidak lagi mengetahui secara pasti di mana Riana melabuhkan hidupnya. Ia tidak tahu di kota mana perempuan itu menetap, tidak tahu bagaimana usia telah mengukir garis-garis lelah di wajahnya, atau apakah senyum yang dulu ia puja masih sama, ataukah telah lama tersimpan rapat di balik luka-luka yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
Namun satu hal yang tetap bagi Sanjaya untuk mengetahui kabar Riana. Keinginannya tidak pernah padam. Keinginan yang tidak lagi lahir dari hasrat memiliki seutuhnya, melainkan dari bentuk kepedulian yang lebih sunyi untuk dapat menemani sampai ujung waktu yang memungkinkan.
Mungkin seperti orang-orang yang berkata tentang seseorang, meski telah lama melangkah keluar dari pintu kehidupan kita, dan perlahan memudar dari ingatan harian kita, seseorang itu tetap memiliki cara untuk menyelinap kembali pada momen-momen yang paling tak terduga. Sebab barangkali, tanpa kita sadari, kita telah menyisakan satu ruang kecil yang sunyi di lubuk hati terdalam sebagai tempat bernaung bagi kehadirannya. Ruang itu bukanlah tempat untuk terus meratapi apa yang telah hilang, melainkan sebuah altar pribadi agar kita tidak pernah berhenti menitipkan namanya dalam doa-doa yang terpanjat di dalam diam.
Demikian pula yang dirasakan Sanjaya. Adakalanya, saat malam jatuh terlalu dalam dan kesunyian mulai terasa menyesakkan, nama Riana kembali melintas di benaknya, setenang bayang-bayang yang memanjang di lantai kamar.
"Bagaimana kabarmu sekarang?" bisiknya pada kesunyian, sebuah pertanyaan yang ia tahu tidak akan pernah menemukan jalan untuk sampai kepada yang dituju. “Apakah hidup akhirnya bersedia memperlakukanmu dengan lebih lembut?”
Tidak ada jawaban yang datang membalas. Tidak ada suara, tidak ada kabar. Hanya detak jam yang setia dan monoton menemani kesendiriannya, seolah menjadi satu-satunya saksi bahwa meski jarak telah memisahkan mereka hingga ke ujung bumi, doa-doa Sanjaya tetap memiliki alamat yang sama. Menjadi sebuah harapan agar seseorang yang pernah begitu berarti bisa menemukan kedamaian yang layak ia miliki.
Sanjaya pun tak lagi mampu memberi label pada perasaannya. Apakah ini cinta? Ataukah sekadar kerinduan pada masa muda yang telah lama menguap? Namun setiap kali ia mencoba mendefinisikannya, setiap kata terasa terlalu sempit untuk menampung gejolak di dadanya.
Mungkin benar ia masih mencintai Riana, namun cinta itu telah bermutasi. Ia bukan lagi cinta remaja yang berdebar oleh kebetulan, bukan lagi cinta yang sibuk menghitung senyum atau menunggu balasan. Cinta itu telah berubah bentuk, seperti sungai yang jauh dari hulu dengan arusnya yang tenang mengalunkan perahu kemungkinan. Ketenangannya bukan karena kehilangan tenaga, melainkan karena telah berdamai dengan batu-batu yang pernah merintangi perjalanannya.
Barangkali, beginilah wajah cinta ketika ia menua bersama pemiliknya. Sebuah cinta yang tidak lagi menuntut untuk memiliki. Cinta yang tidak lagi sibuk menghitung laba-rugi perasaan. Tetapi cinta yang memilih mendoakan, meski ia tahu dirinya tidak lagi menjadi bagian dari hari-hari yang dilalui Riana.
Suatu malam, di antara desau angin yang menggesek dedaunan, Sanjaya berbicara pada bayangan itu.
"Riana," ucapnya perlahan, seolah takut melukai kenangan yang telah ia jaga dengan hati-hati.
“Apakah mungkin suatu hari nanti aku datang menjemputmu? Mungkinkah aku cukup berani mengabaikan semua suara-suara sumbang yang menghakimi hidupmu?”
Ia tersenyum getir. Usia telah mengajarinya bahwa manusia terlalu sering menggadaikan kebahagiaan demi memenuhi penilaian orang lain, orang-orang yang bahkan tidak akan pernah sudi memikul beban hidupnya. Ia membayangkan Riana yang kini mungkin tak lagi secantik dulu. Waktu memang kejam karena telah merenggut kecantikannya. Tetapi itu harga yang tak dapat ditawar untuk ditukarnya dengan pengalaman, ketenangan, dan kedewasaan.
Sanjaya kini percaya, cinta yang bertahan paling lama bukanlah yang jatuh pada keelokan rupa, melainkan pada jiwa yang telah ditempa oleh luka dan memilih untuk tetap lembut. Keraguan yang selama ini ia simpan bukanlah musuh. Barangkali itu adalah jembatan yang harus diseberangi agar benar-benar bebas dari belenggu masa lalu.
Sampai hari itu, Sanjaya masih menyimpan pertanyaan yang tak terjawab: apakah mata Riana masih menyimpan cahaya yang sama? Membayangkannya membuat ia tersenyum sendiri. Sebab barangkali sebagian pertanyaan memang tidak diciptakan untuk dijawab. Sebagian hanya hadir agar manusia belajar merindukan dengan cara yang paling dewasa.
Akhirnya, Sanjaya memilih menyerahkan semuanya kepada waktu. Ia memahami bahwa kehilangan bukan sekadar tentang sesuatu yang pergi. Kehilangan adalah ruang belajar yang sunyi, tempat seseorang perlahan mengerti makna memiliki tanpa harus menggenggam. Di hadapan waktu, ia hanyalah seorang pejalan yang membawa kenangan di ranselnya. Sebagian kenangan menjadi beban, sebagian lagi menjelma cahaya.
Dan bagi Sanjaya, kenangan tentang Riana kini bukan lagi luka yang terus menganga, melainkan doa yang hidup, yang tenang, tulus, dan tak meminta apa-apa selain kebahagiaan bagi seseorang yang pernah menjadi bagian terindah dari hidupnya. (Sal)