Sanjaya memandang hamparan rerumputan yang membentang hijau sejauh mata memandang. Di ujung sana, garis hijau itu tampak berbatasan langsung dengan langit kemerahan dan petak-petak sawah yang seolah menjadi sekat pembatas. Menjadi sebuah batas sunyi yang kini memisahkan masa lalu mereka yang kelam dengan ruang baru tempat ia dan Riana duduk berdampingan. Di tempat inilah, di bawah langit yang kian meredup, mereka sedang merajut kembali benang-benang cerita dari sebuah pertemuan yang tak disangka, persis di mana senja sedang melipat dirinya dengan anggun menjadi malam.
Suasana mendadak larut dalam keheningan renungan yang telah menyita batin Sanjaya selama berhari-hari. Sejak jembatan gaib menuju dunia lamanya mendadak terbentang kembali tanpa peringatan, jiwanya tak lagi tenang. Sambil menatap riak angin yang menggoyang pucuk ilalang, ia berbisik pada dinding-dinding sepi di dalam dadanya, “Benarlah Tuhan itu ada.”
“Maksudmu?” sahut Riana. Suaranya memecah kesunyian, mengalir pelan seperti riak air yang menyentuh batu kali.
Sanjaya menoleh, menatap wajah perempuan di sampingnya dengan tatapan yang sarat akan rasa syukur sekaligus kegetiran. “Ya, sekalipun eksistensi-Nya sering diperdebatkan oleh para pemikir di luar sana, di dalam dadaku malam ini, rasa-rasanya aku sedang menyentuh bagian dari harapku yang sekian lama membeku. Segala doa yang membatu itu, kini mencair dan terpenuhi pada akhirnya.”
Ia menjeda kalimatnya, membiarkan angin malam yang mulai dingin menyapu permukaan kulit mereka. “Sepertinya, malam ini aku benar-benar percaya bahwa Dia telah mendengar segenap pengharapan yang dulu kurapal dengan sisa-sisa napas yang setengah putus asa.”
Riana, yang duduk tidak jauh darinya, tidak langsung menjawab. Ia menunduk, menatap permukaan teh di dalam cangkir porselennya yang mulai mendingin dan kehilangan uap. “Kamu terlalu melebih-lebihkannya, Jaya,” ucap Riana lirih. Jemarinya yang lentik bergerak pelan dan ragu di tepi cangkir, seolah sedang menyembunyikan getaran kecemasan yang mendalam dari dalam dirinya.
Sanjaya menggeleng perlahan, sementara matanya menatap nanar ke arah kegelapan yang mulai menelan cakrawala. “Tidak, Riana. Ini tidak berlebihan. Setelah sekian lama aku berjalan seorang diri di atas hamparan gersang kehidupan, meniti waktu demi menunggu perempuan yang kunanti, kamu akhirnya datang dan berdiri di sini untuk menyambutku. Kita tiba-tiba saja terhubung kembali, terseret oleh arus gaib yang sama, justru setelah sekian lama kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi ini berjalan melelahkan dan dingin di tangan manusia.”
“Bukan karena aku menolak zaman, Sanjaya,” sela Riana. Suaranya mengalun teramat lirih, selembut kepakan sayap kupu-kupu di penghujung musim yang bersiap rebah ke tanah. “Aku hanya memilih untuk tidak membiarkan riuh dunia mendikte bagaimana cara jiwaku bernapas.”
“Aku tahu,” sambung Sanjaya, suaranya merendah, nyaris seperti gumaman angin malam yang membelai pucuk-pucuk ilalang. “Bukan kamu yang tak tersentuh oleh mesin-mesin pintar yang kini mencengkeram jemari setiap manusia. Tapi ada suatu keadaan, sebuah keheningan yang kaupilih sendiri, yang kemudian menjelma menjadi hijab halangan yang tebal. Kau terhalang oleh sesuatu yang sengaja memisahkanmu dari tabiat perempuan kebanyakan, seperti mereka yang gemar memamerkan serpihan hidup pada berbagai akun media sosial, yang menyerahkan kedalaman jiwanya sekadar agar dilihat, dinilai, dan ditemukan oleh para penghuni belantara dunia global maya yang bising dan tak berwajah.”
Sanjaya menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara malam yang kian dingin meraba dan menenangkan paru-parunya yang sempat bergejolak. Ia menatap lekat-lekat siluet perempuan di sampingnya sebelum melanjutkan, “Sementara kamu, Riana... kamu bukannya tak punya jalan atau jemari untuk melompat ke dalam keriuhan digital itu. Tapi jiwamu barangkali sudah terlanjur tenang, tumbuh tenteram dalam kesunyian yang khusyuk bagai telaga di tengah hutan belantara. Kamu sudah memiliki martabat dan kehormatan yang utuh di dalam dirimu, sehingga tak lagi dijangkiti dahaga akan validasi dari siapa pun, selain dari suamimu kala itu.”
Suasana di antara mereka kembali mengedam, seakan malam sengaja memberi ruang bagi kebenaran kata-kata Sanjaya untuk meresap.
“Boleh dikata, kamu telah selesai dengan segala urusan egomu sendiri,” lanjut Sanjaya dengan intonasi yang kian tajam dan penuh takzim. “Bahkan ketika takdir mendadak merenggut separuh napasmu dan memberimu jubah baru sebagai seorang janda, kamu tidak lantas bersolek di balik jendela kaca digital agar dunia berbondong-bondong datang merubung kesendirianmu. Kamu memilih mengunci pintu rumah batinmu rapat-rapat.”
Riana menunduk dalam-dalam. Di bawah temaram cahaya langit yang kian mati, ada duka lama yang bergetar lembut di sudut matanya yang teduh, menyerupai riak air yang terguncang gempa kecil di dasar dada. “Aku hanya ingin mengasuh sepi dengan benar, Jaya. Menjaganya agar tidak menjelma menjadi sekeranjang keluhan di ruang publik,” bisiknya, nyaris tak terdengar.
“Ya, dan itu adalah keanggunan yang langka,” jawab Sanjaya, matanya menyusuri garis wajah Riana yang masih menyisakan keindahan masa lalu. Pada sebuah kecantikan yang tidak memudar, melainkan mematang oleh waktu. “Sebagaimana pengakuanmu tempo hari, bahwa saat ini kamu hanya ingin lebih menikmati sisa hidup yang merayap turun dengan perlahan dan damai. Kamu tidak sedang berburu atau menjaring calon suami baru setelah suamimu meninggal dunia. Sebab di matamu, anak semata wayangmu yang baru mau menginjak usia tujuh tahun itu adalah segalanya. Ia sebuah amanah kecil yang masih rapuh, yang kelak membutuhkan sosok ayah sambung yang tulus memangku takdirnya, bukan sekadar pria yang hadir sebagai pelarian dari sunyinya ranjang penantianmu.”
Riana mengalihkan pandangannya dari cangkir teh yang telah dingin. Ia memutar tubuhnya sedikit, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Sanjaya, sebuah tatapan yang menguliti seluruh kepasrahan laki-laki itu.
“Lalu, Jaya... jika semua kesunyian dan ketertutupanku adalah hal yang kausadari sejak awal,” tanya Riana dengan nada yang menuntut kedalaman batin, “kenapa kamu justru menganggap pertemuan acak kita di belantara digital sebagai tanda mutlak atas keberadaan Tuhan?”
Sanjaya tersenyum tipis, sebuah lengkung bibir yang getir namun teduh, lahir dari bekas luka lama yang pelan-pelan menyembuh dan mengering oleh waktu.
“Sebab ketika akhirnya kamu memutuskan untuk mengetuk pintu dunia maya dan membuat akun media sosial tepat di usia kepala empatmu—sebuah angka sakral tempat manusia biasanya mulai menimbang berat jiwanya sendiri—orang-orang, atau bahkan dirimu sendiri, mungkin mengira itu sebatas keisengan yang lewat lalu hilang bersama angin,” ucap Sanjaya, tatapannya menerawang ke batas cakrawala yang kini sepenuhnya gelap.
“Tetapi, Riana, kita hidup di dalam lingkaran sosial yang gila, di mana semua orang sukarela menggadaikan privasi dan menukar lembar-lembar takdir mereka pada dinginnya algoritma. Di dunia yang seperti itu, jika kamu tetap tegar berkeras tidak punya, seolah-olah ada penghakiman sunyi dari dunia yang menuduhmu asing. Maka, keputusan kecil yang kauanggap remeh itu, di mataku, adalah sebuah retakan takdir. Seperti sebutir kerikil yang jatuh ke telaga tenang, ia menciptakan riak yang meluas tanpa bisa kaucegah.”
Sanjaya menjeda kalimatnya. Ia membiarkan keheningan malam yang pekat kembali merayap dan menggedam dada mereka berdua, berat dan bergaung layaknya dentang lonceng besi tua di sekolah masa kecil mereka dulu, suara yang selalu menandai bahwa sebuah babak telah usai dan babak baru harus segera dimulai.
“Lalu, tepat karena keputusan acak yang kaubuat di ujung jarimu itu, probabilitas semesta yang rumit mendadak bekerja melampaui nalar manusia. Kamu akhirnya ditemukan, Riana. Kau terhubung kembali dengan bentang dunia masa lalu yang selama ini menjadi belahan tersembunyi dari jiwamu yang terpotong. Kau harus tahu, bahwa sepanjang puluhan tahun yang melelahkan ini, ada seorang laki-laki—yaitu aku, yang duduk di dekatmu malam ini—yang terus mencarimu tanpa kenal lelah. Aku telah mengetuk setiap pintu kemungkinan, mengeja setiap nama yang mirip denganmu, namun selalu berakhir membentur dinding mati yang dingin karena kehilangan jejak dan tak menemukan cara.”
Riana mendengarkan dengan seluruh raganya. Napasnya mendadak tertahan di tenggorokan, terkunci oleh kenyataan yang baru saja menghantam kesadarannya. Daun-daun malam di sekitar mereka seolah ikut berhenti berdesik, takzim mendengarkan pengakuan yang sekian lama tersimpan di balik dada seorang lelaki.
“Aku sempat menyerah, Riana,” lanjut Sanjaya. Suaranya kini bergetar hebat, patah di beberapa ujung kata karena menahan luapan emosi yang teramat tajam dan purba.
“Bahkan, sejak hari kelabu itu... setelah kamu dipinang oleh anak seorang kaya di kampung kita pada usia yang masih sangat belia, tujuh belas tahun, aku langsung mengambil sekop kenyataan dan mengubur seluruh harapan remajaku dalam-dalam di liang lahat ingatan yang paling gelap. Aku tahu diri, Riana. Aku tahu aku tak lagi memiliki hak atau kepantasan untuk mengharapkan cintamu yang telah digenggam orang lain. Maka, dengan sisa-sisa jiwaku yang cacat dan berjalan pincang, aku mengembara ke mana pun angin membawa. Aku mencari cinta demi cinta lain setelahnya, mengetuk hati perempuan demi perempuan, yang sebenarnya kulakukan sekadar untuk menambal lubang menganga di dadaku yang telanjur kautinggalkan.”
“Dan perempuan-perempuan setelahku?” tanya Riana pelan. Suaranya meluncur bagai sehelai daun yang jatuh di atas permukaan air tenang, nyaris tak bermassa, namun mampu menimbulkan riak kegelisahan yang nyata di udara malam yang kian pekat.
Sanjaya menatap kekosongan di depannya, seolah melihat kembali bayang-bayang wajah yang pernah singgah di hidupnya. “Sampai akhirnya, perempuan demi perempuan itu pergi satu per satu, menguap tanpa jejak seperti sisa embun pagi yang disengat matahari. Kebahagiaan yang kami kejar tak kunjung menjelma menjadi nyata di masing-masing hati kami. Ia hanya mampir sebagai fatamorgana. Tentu, bagi perempuan yang kutinggalkan maupun yang akhirnya memilih meninggalkanku, mereka memiliki berlaksa alasan rasional dan logis untuk memutus tali hubungan denganku. Mereka berhak untuk bahagia, dan aku bukanlah rumah yang mereka cari.”
Sanjaya menjeda, menarik napas seolah kekuatan dalam dirinya sedang diuji oleh kejujuran yang telanjang.
“Namun, Riana, jika aku berani jujur dan menatap lurus pada cermin batin yang retak ini, aku tahu alasan paling fundamental di balik semua kegagalan itu: aku belum selesai dengan diriku sendiri. Aku mengembara ke pelukan orang lain dengan membawa separuh jiwa, sementara separuhnya lagi tertinggal di masa remajaku. Ada sebuah cinta masa kecil yang belum tuntas, sebuah hantu masa lalu yang menolak mati, menolak dikubur, dan terus bertahta dengan angkuh di atas singgasana tertinggi hatiku. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai orang lain dengan utuh, jika hatiku telah penuh oleh bayang-bayangmu?”
Riana terdiam, matanya berkaca-kaca menatap jemarinya sendiri. Malam seolah mengunci suara-suara lain di bumi, menyisakan detak jantung mereka yang berkejaran dengan waktu.
Tentu saja, semua ini adalah sebuah perspektif yang sunyi, sepihak, dan personal. Setiap manusia yang bernapas dan berjalan di atas bumi ini akan selalu melahirkan persepsinya sendiri atas dunia gaib dan jaringan takdir yang melingkupi dirinya.
Demikianlah Sanjaya, di bawah langit malam yang menyembunyikan rahasia alam semesta, ia merasakan cinta masa kecilnya bangkit kembali bagai Lazarus yang melangkah keluar dari kubur takdirnya. Kematian harapan yang ia yakini selama puluhan tahun ternyata hanyalah tidur panjang yang semu.
Kini, kabut tebal yang selama ini menutupi jalannya perlahan-lahan tersibak. Ia mulai memahami dengan teramat benderang mengapa selama ini langkahnya selalu kandas, mengapa pelukannya selalu terasa dingin, dan mengapa ia terus menemui kegagalan dengan berbagai perempuan yang datang dan pergi. Ada utang rasa yang belum ia lunasi pada masa lalu. Ada sebuah janji tak terucap yang menuntut pertanggungjawaban.
Sanjaya merasakan misteri hidupnya yang selama ini kusut, berpilin, dan membingungkan, perlahan-lahan mulai terurai oleh jemari tak terlihat, ditarik tangan yang memiliki sebuah kekuatan mahabesar yang bekerja di balik layar kedagingan manusia. Benang-benang takdir itu ditarik dengan lembut namun pasti, menuntun jiwanya yang lelah pada satu kesimpulan yang mutlak, tajam, dan menggedam seluruh kediriannya: Tuhan itu ada, dan Tuhan, setelah sekian lama berdiam diri dalam keheningan-Nya yang agung, akhirnya mendengarkan isak tangis sunyinya.
Bagi Sanjaya, merasakan kehadiran Tuhan di titik ini adalah sebuah kemewahan batin yang tak ternilai, sebuah oase di tengah gurun eksistensial yang nyaris membunuhnya. Sebab bagi mereka yang memeluk kekosongan, mereka yang memilih bersandar pada rasionalitas murni dan tak percaya Tuhan itu ada, peristiwa di mana Sanjaya dapat kembali bertatap muka dengan Riana hanyalah sebatas konsekuensi mekanis. Itu tak lebih dari hitungan probabilitas matematis dari sebuah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang bergerak maju secara acak, dingin, dan impersonal. Bagi dunia yang skeptis, pertemuan ini hanyalah barisan angka biner dan algoritma yang kebetulan berpapasan.
“Apakah kamu benar-benar yakin ini semua perbuatan-Nya, Jaya?” tanya Riana memecah keheningan, suaranya bimbang, seolah takut merusak keyakinan baru yang sedang tumbuh di dada lelaki di depannya. “Bagaimana jika ini hanya takdir dari kabel-kabel serat optik dan server internet yang kebetulan mempertemukan kita?”
Sanjaya menatap Riana, tatapannya sedalam sumur tua yang tak lagi memiliki dasar. “Bagi dunia mungkin begitu, Riana. Namun bagiku, lambat laun, orang yang memiliki keteguhan sekeras karang untuk tidak bermain media sosial pun, seperti dirimu, pada akhirnya akan luluh juga oleh desakan zaman. Di situlah letak keajaibannya. Semesta selalu memiliki jemari rahasia yang tak terlihat untuk membalikkan keadaan, memutar kemudi takdir sekehendak-Nya, agar sebuah cinta yang sejati, yang telah diuji oleh jarak dan waktu akan kembali bertahta di atas singgasananya.”
Malam semakin larut, melarutkan pula sisa-sisa keraguan yang sempat menggantung di udara.
Bagi Sanjaya di masa lampau, Tuhan hanyalah sebuah kata yang hambar, sebuah konsep abstrak yang menggantung lesu di antara ada dan tiada. Langit di atas kepalanya selalu diam, membisu seperti batu, dan ia merasa doanya tak pernah sampai, menguap begitu saja sebelum menyentuh awan. Hidup yang berjalan ribuan hari lamanya tak lebih dari sekadar konsekuensi logis berantai, sebuah efek domino yang tak berjiwa sejak ledakan dahsyat Big Bang yang terjadi sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu.
Sanjaya pernah mengutuk realitas yang hampa dan tak berwajah itu. Di dalam bilik kepalanya yang bising, jika ia harus terus menganggap bahwa segalanya hanyalah produk sampingan dari sebuah peristiwa purba. Dari sebuah dentuman buta yang menandai awal mula terbentuknya ruang, waktu, dan seluruh isi alam semesta dari sebuah titik yang sangat padat dan panas, maka hidup tak lebih dari lelucon yang kejam.
Sanjaya menganggapnya itu sebagai titik singularitas yang egois. Sebuah titik purba yang meledak hanya demi memuaskan nafsunya sendiri, yang dari kejadian rahimnya itu terbentuklah materi-materi tak berjiwa yang mulai mengembang secara brutal ke segala arah. Mereka meluas tanpa kendali di bawah hukum fisika yang dingin, saling tabrak dan hancur, lalu perlahan-lahan membeku dan mendingin hingga detik ini, menjelma menjadi gumpalan tanah dan batuan bernama bumi yang kita pijak saat ini.
"Jika semua ini hanya urusan atom yang mendingin, Jaya," Riana berbisik, suaranya seperti gesekan daun di tengah malam yang sunyi, “maka untuk apa kita diberi hati yang bisa merasa patah dan rindu?”
Sanjaya menatap tanah di bawah kaki mereka, menyadari betapa mengerikannya jika hidup ini berjalan tanpa sutradara.
"Tepat, Riana," sahut Sanjaya dengan intonasi yang kian lirih dan tajam menembus dada. "Sebab jika dunia ini sebatas hasil dari kegilaan singularitas yang acak itu, maka pertemuan kita malam ini hanyalah debu yang kebetulan menempel pada debu lainnya. Sebuah kesia-siaan yang dikemas dengan nama takdir. Tapi hatiku menolak kelogisan yang mati itu.
Sesuatu yang meluas secara brutal tiga belas miliar tahun lalu, malam ini telah tunduk dan mengecil, hanya untuk menyatukan kembali dua orang yang pernah dihancurkan oleh waktu."
“Aku pernah menjadi manusia yang paling sinis terhadap konsep ketuhanan, Riana,” bisik Sanjaya lagi, intonasinya kian lirih namun tajam, seolah sedang menelanjangi masa lalunya sendiri.
Tentu, dalam skala kosmis yang luar biasa luas dan mengerikan itu, ia sadar betul bahwa dirinya hanyalah sebatas remah debu yang tak berarti, atau anai-anai rapuh yang diterbangkan oleh badai angin semesta kehidupan yang buta dan tuli. Maka manusia terlalu kecil untuk diperhatikan oleh jagat raya yang mahaluas. Namun, ketika sebuah dunia lama—sebuah nama, sebuah senyuman, dan sepasang mata yang telah sekian belas tahun ia kubur dalam-dalam di dasar ingatan paling bawah—ternyata datang kembali ke pelukannya dengan begitu tepat pada waktunya, runtuhlah sudah seluruh menara ateismenya.
Pertemuan ini terlalu rapi untuk sebuah kekacauan universal. Ia merasa, di balik semua kebetulan ini, ada andil jemari Tuhan yang penuh kasih, yang sedang merajut kembali benang yang sempat diputuskan oleh manusia. Bagi Sanjaya yang sekarang, terlalu dangkal, naif, dan pengecut jika keajaiban yang saat ini sedang menggedam jiwanya hingga bergetar hebat, hanya disebut sebagai kebetulan yang dingin dan tanpa makna.
Dan tentu saja, bagi penganut ateisme dan agnostisisme, pertemuan dua hati ini adalah hal alamiah yang lumrah terjadi dalam rumus peluang. Tetapi manusia, sejak pertama kali mengenal rasa takut dan cinta, memang telah pandai mencipta mitos-mitos yang indah, mencari-cari alasan metafisik, dan bahkan merajut pembenaran atas adanya sebuah sosok adikodrati yang agung. Semua itu tak lain karena manusia adalah makhluk yang rapuh, sebab kita sering kali tak kuasa dan merasa sama sekali tak mampu mengendalikan apa yang telah patah di masa lalu, dan apa yang akan terjadi pada sisa hidup kita di masa depan.
Riana kembali menatap permukaan teh di dalam cangkirnya yang kini telah benar-benar dingin, membiarkan keheningan malam yang pekat menyusup di antara jarak duduk mereka seperti kabut tebal yang pelan-pelan merayap turun dari puncak perbukitan. Kegelapan di sekeliling mereka seolah-olah mengisolasi waktu, menjadikan tempat itu sebuah ruang bernafas yang sunyi bagi dua jiwa yang telah lama mengembara.
"Jika ini semua adalah skenario-Nya yang agung, Sanjaya," ucap Riana, memecah kesunyian dengan suara yang nyaris menyerupai bisikan sehelai daun kering yang jatuh menyentuh tanah ranjang penantiannya, “maka Dia adalah sutradara yang teramat sabar sekaligus kejam. Dia membiarkan kita berjalan terpisah, tersesat di dalam rimba kehidupan yang berbeda, terluka oleh duri-duri takdir yang berbeda pula, hanya untuk mengembalikan kita pada titik mula, menjadi dua orang asing yang seluruh tubuh batinnya dipenuhi oleh bekas luka rindu.”
Sanjaya tidak segera menjawab. Lidahnya mendadak kelu, terkunci oleh kedalaman kalimat Riana yang menghantam kesadarannya. Ia memandang langit malam yang pekat dan legam tanpa hiasan sebutir bintang pun, menyadari dengan penuh kepasrahan bahwa di atas sana, galaksi-galaksi raksasa masih terus mengembang dalam sunyi yang absolut dan tak tersentuh. Jagat raya yang mahaluas itu tetap tidak peduli pada remuk redamnya sepasang manusia kecil di sudut bumi yang fana ini.
Namun, di dalam ruang dadanya yang sempit dan sempat sekarat, Sanjaya merasakan ada sebuah konstelasi baru yang sedang diciptakan oleh takdir. Detak jantungnya melambat, menjelma menjadi sebuah keyakinan utuh yang tidak lagi membutuhkan pembuktian rumus sains, kalkulasi matematika, maupun perdebatan filsafat yang melelahkan. Cinta yang ia rasakan malam itu bagi Sanjaya, adalah teologi paling purba dan suci yang hanya dapat dipahami oleh urat nadi manusia tanpa perlu diajarkan oleh kitab apa pun.
"Apakah kamu masih meragukan dekapannya, Riana?" bisik Sanjaya lirih, matanya mencari kepastian di wajah perempuan itu.
Riana hanya memejamkan mata, membiarkan angin malam menghapus setitik air mata yang lolos di pipinya.
Maka, entah itu sejatinya takdir yang ditenun oleh jemari halus kekuatan adikodrati atau sekadar anomali statistik dari algoritma dingin buatan manusia di era digital, Sanjaya memilih kalah, memilih untuk bersujud pasrah pada rasa syukurnya yang teramat dalam. Ia tahu, esok hari ketika matahari terbit, dunia akan tetap berjalan dengan segala hukum mekanisnya yang dingin, kaku, dan tak berwajah. Manusia akan kembali menjadi angka-angka di dalam mesin raksasa zaman.
Namun malam itu, tepat di hadapan perempuan yang pernah ia kubur dalam-dalam di liang lahat ingatan namun nyatanya tetap hidup abadi dalam setiap denyut nadinya, Sanjaya tahu ia tidak lagi berjalan sendirian di bawah badai semesta yang buta. Di dalam hatinya yang kini menggedamkan kebenaran baru, ia meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa Tuhan telah mengembalikan rusuknya yang sempat hilang, tepat ketika ia hampir lupa bagaimana rasanya menjadi manusia yang hidup seutuhnya. (Sal)