Sebuah Hati yang Baru Selesai Setelah 30 Tahun

Sebelum percakapan itu akhirnya pecah, waktu telah lebih dahulu menua di dahan-dahan sunyi....

Sebuah Hati yang Baru Selesai Setelah 30 Tahun

20 Jun 2026
459 x Dilihat
Share :

Sebuah Hati yang Baru Selesai Setelah 30 Tahun

Sebelum percakapan itu akhirnya pecah, waktu telah lebih dahulu menua di dahan-dahan sunyi. Tahun-tahun meluruh perlahan, jatuh ke pangkuan tanah seperti helai daun bambu yang kering tanpa suara, tanpa upacara. Yang tersisa hanyalah aroma humus musim hujan yang samar, mengendap di palung ingatan sebagai penanda bahwa pernah ada sesuatu yang pernah tumbuh di sana.

Masa kecil mereka pun perlahan terkubur di bawah reruntuhan hari-hari yang sibuk. Mereka terseret arus, berkejaran di antara riuh pesta pernikahan, tangis ritus kematian, perpisahan yang dipaksakan, hingga tikungan jalan hidup yang tak pernah benar-benar bisa mereka pilih sendiri.

Namun rupanya ada jenis kenangan yang memiliki nyawa lebih panjang dari usia biologis manusia. Ia tidak pernah benar-benar mati, hanya bersembunyi. Seperti mata air purba yang terselip di balik kerakal batu terdalam, kenangan itu tetap mengalir jernih, senantiasa menunggu untuk ditemukan oleh sepasang mata yang sudah lelah tergesa-gesa.

Suatu sore, di tengah hamparan hidup yang membuat mereka asing bagi diri sendiri, Sanjaya memberanikan diri menyentuh layar ponselnya. Setelah puluhan tahun membiarkan keraguan mengakar, jemarinya kini bergerak mengetik sebuah nama di kolom pencarian, mengumpulkan sisa-sisa keberanian dari balik lelah yang mendera.

Di tengah belantara media sosial, saat jemarinya memindai layar untuk mencari remah-remah berita, gerakan tangannya mendadak terkunci. Di antara ratusan unggahan yang melintas secepat kilat, sepotong pendar digital menghentikan poros dunianya. Sebuah akun asing muncul, menampilkan raut wajah dan baris nama yang begitu ia kenali, meski sudah dikikis oleh perubahan zaman.

Sanjaya terpaku selama beberapa detik yang menegangkan. Ia menolak percaya bahwa waktu akhirnya berbaik hati untuk mempertemukan mereka kembali, meski hanya di ruang virtual yang hampa. Dengan jantung yang berdegup liar, ia mengirim sebaris pesan singkat sebagai upaya ringkih untuk mengetuk kembali pintu masa lalu yang telah lama membisu.

"Assalamualaikum. Betulkah ini Riana? Haeriana orang Sampura?”

Kalimat itu teramat sederhana. Persis seperti ketukan jemari pada daun pintu kayu sebuah rumah tua yang sudah puluhan tahun ditinggalkan berdebu. Di balik baris huruf itu, tersimpan debar yang berkejaran tak berkesudahan. Sanjaya merasa seperti pengembara yang berdiri di tepi jurang sepi, menunggu gema suaranya sendiri, dan bertanya-tanya apakah masa lalu masih sudi mengeja namanya, atau justru sudah lama melupakannya di liang sunyi.

Sore yang meremang itu mendadak menahan napas. Tak lama kemudian, seberkas notifikasi muncul di layar.

“Waalaikumsalam. Muhun.”

Balasan satu kata dalam bahasa ibu itu terasa telak. Bagi Sanjaya, gumpalan huruf tersebut menjelma rintik hujan pertama yang jatuh di atas tanah retak setelah kemarau panjang yang menyiksa.

Ia tersenyum tipis, sebatang kara di sudut kamar. Ada sesuatu yang tak mampu dijelaskan oleh logika paling dingin sekalipun. Bagaimana mungkin sekadar pendar cahaya di layar ponsel mampu membuat dada seorang lelaki kembali berdenyut liar? Rasanya persis seperti debar seorang remaja yang sedang menunggu lonceng jam pulang sekolah berbunyi, dengan segala gugup yang menyesakkan.

Sanjaya menarik napas dalam, membiarkan udara dingin sore itu memenuhi rongga dadanya, lalu mengetikkan kalimat selanjutnya dengan keyakinan yang masih terasa rapuh.

“Seperti mimpi bisa bersua denganmu, Riana. Meski hanya lewat pesan singkat seperti ini. Mungkin saya mengenalmu, tapi kamu pasti tak akan mengenal saya.”

Dari seberang jarak, Riana membalas dengan kejujuran yang telanjang, tanpa pretensi. Sebagai perempuan yang telah kenyang ditempa nasib, ia tak lagi menyisakan ruang untuk basa-basi yang manis.

“Lupa-lupa ingat, sih.”

Sanjaya terdiam sejenak. Ia mengerti. "Ya, wajar," balasnya, jemarinya menari di atas layar, berusaha memaklumi ingatan yang terkikis oleh gerusan waktu. “Kita bertemu di masa-masa kecil. Waktu SD, waktu SMP. Masa ketika ingatan kita masing-masing masih menyerupai kabut di perbukitan. Begitu mudah terurai dan hilang saat matahari meninggi.”

Percakapan itu pun mulai meniti jembatan ingatan. Mereka bercerita tentang Bandung, tentang hamparan Kopo Sayati yang dulu begitu luas, dan tentang delapan tahun yang penuh peluh yang pernah dijalani Riana di Kota Kembang. Kata-kata mengalir pelan, menyerupai air irigasi sawah yang merayap malas di sela lumpur. Sesekali percakapan itu mengendap, berhenti dalam keheningan yang panjang, sebelum kembali mengalun dengan ritme yang sama.

Rasanya seperti dua orang tua yang sedang duduk berhadapan di atas bale bambu yang mulai rapuh. Mereka memandang lembayung senja yang luruh ke cakrawala tanpa rasa tergesa, menikmati sisa hari sebelum kegelapan benar-benar menyapu permukaan bumi.

Namun, ketika Sanjaya mendengar kabar bahwa suami Riana telah berpulang ke haribaan Ilahi setahun silam, jemarinya mendadak kaku. Ada duka asing yang merambat, sebuah ketajaman ganjil yang menusuk ulu hatinya, seolah ia baru saja mendengar denting lonceng dari sebuah tempat yang sangat jauh.

"Turut berbelasungkawa yang sedalam-dalamnya, Riana," tulis Sanjaya. Ia meraba tiap huruf dengan takzim, seolah sedang meletakkan bunga di atas pusara yang tak pernah ia kunjungi. “Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik untuk beliau.”

"Aamiin. Makasih, A," jawab Riana singkat.

Di balik layar kaca yang dingin, jawaban itu mungkin tampak seperti formalitas belaka. Namun bagi Sanjaya, deretan huruf itu terasa seperti rintik hujan yang jatuh perlahan di atas gundukan tanah kuburan yang masih basah. Ia tersadar, kehidupan acap kali bertindak sebagai pencuri yang ulung. Ia lebih mahir mengambil dengan paksa daripada mengembalikan dengan sukarela.

Manusia, betapa pun ketat mereka memeluk ketabahan, pada akhirnya hanya bisa belajar menampung kehilangan demi kehilangan. Persis seperti sebatang pohon tua yang pasrah menerima titah musim gugur untuk menanggalkan seluruh daunnya, hingga ia berdiri gundul, telanjang di hadapan langit yang mulai kelabu.

Mereka kemudian menukar kabar tentang anak Riana yang baru menginjak usia tujuh tahun, tentang Bandung yang telah menyedot sebagian besar porsi hidup perempuan itu, dan tentang kesunyian status yang kini harus ia pikul sendirian.

"Belum terpikir untuk menikah lagi," kata Riana. Kalimat itu datar, namun di baliknya, Sanjaya bisa merasakan tumpukan lelah yang selama ini Riana simpan rapat-rapat di balik dadanya yang tegar.

Sanjaya tertegun. Ia membiarkan tatapannya lepas, mengembara ke langit-langit kamar yang samar oleh temaram lampu, sebelum akhirnya jemarinya menyusun kalimat yang terasa berat.

“Iya, saya mengerti. Kalau seseorang sudah pernah mengalami pahitnya perceraian, lalu disusul pula dengan ditinggal meninggal oleh pasangan, pasti ada luka yang diam-diam mengental dan mengunci diri di bilik terdalam hati.”

"Iya, A. Begitulah kenyataannya," sahut Riana. Singkat, namun sarat akan pengakuan bahwa ada bagian dari jiwanya yang ikut terkubur bersama waktu.

Percakapan itu merayap pelan, seakan waktu sengaja melambat demi memberi ruang bagi dua jiwa yang lelah. Tak ada nada tergesa. Mereka tampak seperti dua orang asing yang sedang berlutut di tanah, memunguti serpihan kaca dari sebuah cermin masa lalu yang telah pecah berantakan, lalu membersihkan debunya satu per satu dengan ujung baju mereka sendiri, berusaha mengenali kembali wajah yang kini telah asing.

"Maaf kalau saya terlalu banyak bertanya," tulis Sanjaya lagi, disergap rasa sungkan yang tiba-tiba. “Karena sejujurnya, berkirim pesan denganmu seperti sedang bermimpi di siang bolong. Kamu adalah perempuan dari masa lalu yang dulu tak pernah memiliki ruang dan waktu untukku sekadar bertukar sapa.”

"Iya, tidak apa-apa, A," jawab Riana. “Jangan sungkan. Tanya saja.”

Kalimat pendek itu seketika menjalar hangat di dada Sanjaya. Rasanya seperti melihat seulas cahaya lampu minyak yang masih menyala di jendela rumah panggung di pelosok kampung, di tengah malam yang merambat larut dan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Sedikit demi sedikit, mereka mulai mengurai benang kusut silsilah keluarga yang sempat terlupakan. Mereka bercerita tentang ayah Riana yang berdarah Bandung asli dan sang ibu yang merupakan perempuan Sampura, hingga tentang kakaknya yang hingga kini masih setia bermukim di sudut Kota Kembang.

"Kalau kamu memang belum ingat juga siapa saya," tulis Sanjaya sembari menyelipkan tawa hambar, “saya ini anak dari kampung sebelah. Saya satu angkatan di atas kakakmu.”

"Duh, maaf, A. Aku benar-benar masih lupa," jawab Riana, dibubuhi emotikon tawa kecil yang garing.

Sanjaya ikut tersenyum di tempatnya, meski ada perih tipis yang merayap di dada. “Memang tak mungkin kamu mengenal saya yang dulu bukan siapa-siapa. Tapi di zaman itu, siapa sih di kampung kita yang tidak mengenal nama Riana?”

“Ah, si A mah, masa sampai segitunya? Aku kan biasa saja.”

Sanjaya terdiam cukup lama. Ia meletakkan ponselnya di dada, membiarkan helaan napasnya memenuhi ruangan yang sunyi. Ada banyak hal yang ingin ia tumpahkan, namun ia memilih kata-kata yang paling jujur.

"Dulu, ingin sekali aku melangkah menemuimu," bisiknya pada sunyi sebelum mengetikkan kalimat itu ke layar. “Tapi takdir waktu itu seperti jalan setapak di pegunungan. Selalu membelok tajam tepat saat aku tiba di kelokan, sebelum aku benar-benar sampai di depan matamu. Kalau sekarang kita bisa bicara bebas tentang masa lalu, anggap saja ini sebuah jalan pulang yang sunyi bagi sebuah hati yang belum pernah benar-benar selesai.”

“Masa sampai segitunya, A? Aku jadi tidak percaya.”

"Begitulah watak kita saat beranjak remaja, Riana," tulis Sanjaya perlahan. “Terkadang ukuran hati tumbuh terlalu besar, sementara tubuh kita masih terlalu kecil dan rapuh untuk menampungnya. Maka, segala rasa yang meluap itu sering kali hanya bisa diwujudkan dalam bentuk yang kikuk.”

Lalu, seolah didorong oleh keberanian yang ia kumpulkan selama tiga dekade, Sanjaya memutuskan untuk membuka kunci sebuah rahasia. Sebuah rahasia yang selama tiga puluh tahun ia simpan rapat-rapat, serupa selembar surat cinta tua yang lapuk, terselip di dalam lipatan kitab yang jarang disentuh, menunggu waktu yang tepat untuk mengabarkan kisahnya sendiri.

"Dulu," ketik Sanjaya, jemarinya bergetar halus di atas layar, “aku pernah menitipkan sebuah gelang benang untukmu. Lewat si Ipul.”

Layar ponsel membisu. Riana tampaknya terdiam cukup lama di seberang sana, seperti sedang mengais sisa-sisa memori yang tertimbun debu tiga puluh tahun lamanya.

"Oh, iya..." pesan Riana menggantung.

Jaya menahan napas. Jantungnya seolah berhenti berdegup, membiarkan keheningan mengambil alih ruang kamarnya demi menunggu kelanjutan baris kalimat itu.

“Aku ingat sekarang. Aku pernah menerima gelang benang itu. Tapi dulu aku sama sekali tak tahu siapa orang gila yang memberikannya.”

Dada Sanjaya serasa dihantam godam tak kasatmata. Detik itu juga, ruang dan waktu seolah melubang. Jarak tiga puluh tahun yang membentang luas mendadak runtuh dan luruh, serupa dinding bata tua yang rapuh, ambruk digerogoti usia dan rayap.

"Serius kamu menerimanya, Riana?" tanya Sanjaya, memastikan pendengarannya—atau mungkin akal sehatnya—tidak sedang menipu.

"Iya, serius, A. Aku pernah punya dan menyimpannya. Dulu aku tidak sempat penasaran untuk mencari tahu siapa pemberinya, karena ya... namanya juga masih anak-anak," balas Riana dengan nada yang terasa begitu ringan di mata Sanjaya.

Sanjaya mengusap wajahnya yang kini mulai dihiasi garis-garis penuaan. Matanya menerawang jauh ke masa lalu. “Di gelang benang itu, aku mengukir namamu dengan benang warna-warni. Kalau tidak salah tulisannya 'Haeriana Febrianti' atau 'Haeriana Febriani'. Aku agak ragu di bagian belakangnya, karena dulu aku hanya menebak-nebak namamu dari cerita orang-orang.”

“Iya, aku ingat sekarang! Ejaannya memang agak keliru sedikit di bagian ujungnya, makanya aku sempat bingung. Tapi yang pasti, aku memang pernah punya gelang itu.”

"Nah..." Sanjaya mengetik dengan senyum yang melebar hingga matanya berkaca-kaca. “Si pembuat gelang kurang kerjaan itu adalah saya, Riana. Sengaja saya buat dengan susah payah selepas pulang sekolah. Melilitkan sehelai demi sehelai benang pada sebuah lingkaran kecil, mencungkilnya dengan jarum demi membentuk namamu, hanya untuk kupersembahkan kepadamu dalam diam.”

Sanjaya berhenti sejenak, membiarkan kenangan itu berputar di kepalanya. “Ah, kalau diingat-ingat lagi, aku ingin tertawa sendiri melihat kelakuan bocah itu. Menggelikan, ya?”

Riana mengirimkan emoji tawa. “Iya, lucu sekali kalau diingat sekarang.”

Namun, nada dalam ketikan Sanjaya perlahan berubah. Intonasinya melirih, merayap masuk ke wilayah batin yang lebih rapuh dan terluka, seolah ia sedang membuka peti tua yang selama ini terkunci rapat oleh debu waktu.

"Dan dulu, ada satu kejadian penting yang amat memengaruhi jalan hidupku, Riana," tulisnya. “Aku sempat mau berpapasan denganmu di jalan arah ke Sampura. Tapi, dari kejauhan, aku melihatmu sengaja berbelok tajam, menghindar seolah tidak ingin jalanku bersinggungan dengan jalanmu.”

"Dulu? Kapan kejadiannya, A? Aku kok sama sekali tak ingat," balas Riana.

“Tepatnya ketika aku kelas 3 SMP dan kamu baru kelas 1 MTs.”

"Ouh..." Riana membalas dengan jeda yang cukup panjang. “Jaman baheula atuh itu mah, A. Sudah terlalu kuno untuk diingat-ingat.”

"Iya, zaman purba," tulis Jaya. Ia meletakkan ponselnya, lalu menatap lurus ke luar jendela yang gelap, membiarkan bayang-bayang masa lalu menari di balik kaca. “Lalu, tidak lama setelah kejadian di jalan itu, tersiar kabar burung di kampung kalau kamu sedang didekati secara intens oleh seseorang bernama Mul. Hati remaja manakah yang tidak hancur saat itu? Aku terus bertanya-tanya dalam sepi, apa sebenarnya salahku hingga kau begitu enggan menatapku?”

"Masa sih begitu?" Riana membalas, mungkin sambil menyunggingkan senyum tipis—sebuah gestur yang dulu, puluhan tahun silam, sering kali hanya bisa diintip Sanjaya dari balik rimbun batang pohon di pinggir jalan.

“Kejadian berpapasan di Sampura itu adalah kali terakhir sepasang mataku melihat sosokmu secara langsung. Setelah itu, takdir seperti menarik garis tegas yang memisahkan kita ke arah yang sama sekali berbeda.”

"Lalu setelah itu, Akang ke mana?" tanya Riana. Pertanyaan sederhana itu bagaikan kunci yang membuka pintu pengakuan atas hilangnya sebuah nama dari peredaran masa lalu.

“Aku melanjutkan SMA di Cimahi, pindah dari kampung. Di sanalah, beberapa bulan kemudian, kakak perempuanku mengabarkan kalau kamu sudah resmi menikah dengan si Mul.”

“Kakaknya si A itu siapa namanya? Siapa tahu aku kenal.”

“Kakak saya namanya Nurlaila. Tapi sepertinya kalian tidak pernah bersinggungan.”

"Nurlaila?" Riana terdiam sejenak. “Aku baru mendengar nama itu sekarang. Sepertinya kita memang tidak pernah berada di lingkaran pergaulan yang sama.”

“Iya, wajar. Kakakku memang lebih banyak menghabiskan waktu di Garut, ia hanya sempat menetap di kampung saat masa sekolah dasar. Begitu ia pulang sebentar dan mendengar desas-desus kamu menikah, ia langsung menulis surat kepadaku. Tahu tidak, Riana? Saat kubaca surat itu, saat aku tahu kamu telah menjadi milik orang lain, jiwa remaja ini runtuh seada-adanya. Rasanya seperti sebuah rumah tua yang tiang utamanya patah dihantam badai dalam satu malam.”

"Masa sampai segitunya, A? Aku benar-benar tidak tahu kalau ada orang yang menderita karena kabarku," balas Riana. Ada nada sesal yang terselip tipis di antara baris ketikannya. “Lagi pula, mengapa kakakmu repot-repot memberi kabar soal pernikahanku? Apa urusannya denganmu?”

“Karena kakakku tahu segalanya, Riana. Dialah yang melihatku bersusah payah siang dan malam, dengan jari-jari yang melepuh, hanya untuk melilitkan benang-benang itu demi membentuk namamu. Dari sanalah ia bisa menebak dengan pasti bahwa adiknya yang bodoh ini menaruh hati yang teramat besar padamu.”

Sanjaya menghela napas panjang di kamarnya yang senyap. Ia menambahkan satu nama lagi sebagai saksi bisu masa lalunya. “Kamu tahu kan si Hendra? Dia juga tahu persis kalau aku saat itu benar-benar kesengsem setengah mati sama kamu.”

“Kenal kalau dengan Hendra mah. Dia dulu sering main ke rumah, mengobrol dengan abangku.”

"Nah, itu dia," tulis Sanjaya. Jemarinya bergerak lebih lambat, membawa beban emosi yang kian berat. “Kenapa ya, waktu itu takdir seolah tak berpihak? Mengapa takdir tak pernah memberi jalan sedikit pun bagiku untuk sekadar main ke rumahmu, atau sekadar berkunjung ke Sampura seperti pemuda-pemuda lainnya?”

Riana mengirimkan pesan suara. Suaranya terdengar lirih di speaker ponsel Sanjaya, memecah keheningan malam dengan nuansa yang begitu nyata. “Tapi, A... soal kejadian di jalan yang katamu aku menghindar itu, di sebelah mana tepatnya? Aku benar-benar tak ingat. Tak mungkin aku sengaja menghindar jika aku tahu itu kamu. Lagipula, aku tidak punya alasan untuk memusuhimu saat itu.”

Jaya mendengarkan suara itu berulang kali sebelum membalas lewat teks dengan hati-hati. “Waktu itu aku sengaja memutar jalan, lewat Sampura, hanya berharap bisa melihat wajahmu. Dari jauh, aku melihatmu berjalan berlawanan arah. Hitungan matematisnya, kita pasti akan berpapasan. Tapi, begitu jarak kita tinggal beberapa puluh meter, tiba-tiba kamu berbelok masuk ke sebuah gang kecil. Di mataku yang penuh prasangka remaja saat itu, tindakanmu terasa seperti penolakan nyata. Kamu seperti menghindariku.”

Sanjaya berhenti sejenak, membiarkan dadanya yang sesak kembali tenang, lalu melanjutkan, “Tapi sekarang aku sadar... mungkin saat itu kamu memang sama sekali tak menyadari keberadaanku. Kamu tidak melihatku.”

Suara Riana kembali hadir dalam rekaman pesan suara berikutnya, terdengar begitu tulus. “Iya, A. Demi Allah, aku pasti tidak melihatmu waktu itu.”

"Iya, Riana. Itulah sebatas cerita lama yang tak pernah tersampaikan," jawab Jaya dengan jemari yang terasa gemetar. “Sebuah kesalahpahaman yang terkubur selama tiga puluh tahun, hingga akhirnya waktu hari ini memaksa kita untuk menyelesaikannya.”

"Oh iya, baiklah kalau begitu, A. Sekarang semuanya sudah jelas," balas Riana pendek.

"Lalu," sambung Sanjaya, jemarinya kini sedikit gemetar, “beberapa tahun setelah itu, saat aku pulang kampung, aku tak sengaja bertemu Nina. Dia bercerita banyak tentangmu. Katanya, setelah suamimu meninggal, kamu sempat dikabarkan dekat dengan seseorang dan akan menikah lagi. Mendengar itu, aku hanya bisa mengelus dada. Aku berpikir, ya sudahlah... harapan kekanak-kanakanku ini memang sudah saatnya dikubur selamanya di dasar bumi.”

Riana beralih bertanya, mungkin mencoba mengalihkan pembicaraan dari rasa bersalah yang samar, atau barangkali hanya ingin mengintip sedikit ruang pribadi Sanjaya. “Kalau si A sendiri, sekarang tinggal di mana dan dengan siapa?”

Sanjaya menatap layar itu dengan senyum paling getir yang pernah ia miliki. Pertanyaan itu terasa seperti sentuhan di atas luka lama yang belum sepenuhnya kering.

"Maaf jika aku terlalu banyak melantur," tulis Sanjaya, mengabaikan pertanyaan Riana sejenak. “Soalnya, ini terasa seperti mimpi. Mumpung takdir memberiku waktu untuk bersua kembali lewat gawai ini, aku ingin menuntaskan apa yang belum selesai di masa lalu. Aku hanya ingin membawa diriku pada titik di mana hatiku akhirnya benar-benar 'selesai'.”

Sanjaya menarik napas panjang, membiarkan udara dingin malam meresap ke dalam paru-parunya, bersiap menjatuhkan kejujuran yang paling berat. “Aku belum menikah, Riana. Dan tahukah kamu apa penyebab utamanya?”

Riana tidak langsung membalas. Ada jeda dua menit yang terasa seperti dua jam bagi Sanjaya. Ponselnya membisu, seolah ikut menunggu jawaban yang akan mengubah segalanya.

"Maaf ya, A," muncul balasan Riana akhirnya, “jika sekiranya pertanyaan tentang pendamping tadi membuatmu tidak nyaman.”

"Tak apa-apa," sahut Sanjaya cepat. “Setiap kali pulang kampung, orang-orang selalu bertanya hal yang sama. 'Jaya, buruan nikah, nanti keburu tua.' Dan lihatlah sekarang... aku benar-benar sudah tua, sendirian dalam sepi.”

"Hehehe," Riana mencoba mencairkan suasana yang kian memberat, sebuah upaya yang justru terasa perih bagi Sanjaya. “Makanya cepat atuh nikah, A. Jangan ditunda-tunda terus.”

Sanjaya tersenyum pahit melihat balasan itu. "Jika boleh jujur mengira-ngira alasan mengapa ego ini belum juga beranjak menikah hingga usia senja begini," tulisnya, dengan intonasinya merendah, tapi setajam sembilu yang menyayat kesunyian malam.

“Mungkin semua ini berakar dari rasa penolakan atau dugaan palsu waktu dulu itu. Ketika aku melihatmu di jalan Sampura dan mengira kamu sengaja menghindar dariku.”

Ia menatap kalimatnya sendiri, menyadari bahwa pengakuan itu adalah batu besar yang akhirnya ia singkirkan dari atas dadanya. Ia tidak lagi peduli apakah Riana akan menertawakannya atau tidak. Karena baginya, kejujuran ini adalah bentuk penghormatan terakhir bagi remaja laki-laki yang pernah terluka oleh prasangkanya sendiri tiga puluh tahun lalu.

Sanjaya melanjutkan dengan jemari yang terasa lebih ringan, meski dadanya masih menyisakan sisa-sisa sesak.

“Tanpa kusadari, kejadian remeh itu telah membentuk pengalaman traumatis akan rasa penolakan yang absolut. Padahal, setelah kita bicara malam ini, itu hanyalah dugaanku sepihak saja. Namun sialnya, dugaan keliru itu telah mengeras di bawah sadarku, membentuk trauma yang akut... Hehe, luar biasa sekali, ya? Sampai segitunya dampak sebuah salah paham.”

"Kenapa bisa selalu begitu?" Riana melayangkan pertanyaan pendek. Ada nada penasaran yang kental di sana, terselip kesadaran akan betapa dalamnya luka yang mungkin telah ia torehkan tanpa pernah ia sadari.

Sanjaya melempar tawa kecil di balik layar ponselnya, sebuah kamuflase untuk menutupi getar di dadanya. “Kenapa bisa begitu? Ya, mungkin karena memang belum ketemu saja dengan orang yang tepat. Wkwkwk.”

"Mencari jodoh di kampung sendiri pun sama saja," tambahnya lagi, mencoba meringankan beban cerita. “Tahu-tahu semua perempuan yang kukenal sudah dimiliki orang. Bahkan mereka yang dulu kuingat masih kecil, saat aku pulang kampung, ternyata sudah dipinang semua.”

Lalu, seolah ingin kembali memeluk bagian paling hangat dari luka yang ia simpan, Sanjaya mengalihkan topik. “Oia, aku ingin memastikan satu hal lagi. Gelang benang yang kubuat dengan tetesan keringat itu... pernahkah kamu pakai? Pernahkah kamu menerimanya dengan baik?”

Riana membalas, dan jawaban itu terasa seperti usapan lembut yang menenangkan gejolak di kepala Jaya.

“Pernah, A. Dulu, gelang itu sering kupakai ke sekolah.”

Sanjaya memejamkan matanya sejenak, meresapi setiap kata yang tertera di layar. “Terima kasih banyak, Riana. Terima kasih sudah mau menerima dan memakainya, meskipun saat itu kamu sama sekali tidak tahu siapa orang bodoh yang memberikannya.”

“Iya, A. Sama-sama.”

“Tidak apa-apa, kan, jika obrolan kita malam ini hanya berkutat pada hal-hal usang masa lalu? Karena bagaimanapun, aku dan kamu memang terhubung melalui benang-benang kenangan yang sempat kusut ini.”

Sanjaya kemudian memberanikan diri untuk mengirimkan satu pengakuan lagi, sebuah rahasia yang selama ini ia simpan di balik tumpukan kertas. “Bahkan, asal kamu tahu saja... cerita tentangmu, memori tentang anak kecil bernama Riana, pernah kutuliskan. Kujadikan bahan mentah untuk cerpen dan draf novelku.”

“Waduh... sampai segitu amat, A?”

"Ya, mau bagaimana lagi?" ketik Sanjaya dengan senyum yang akhirnya terasa tulus. “Mungkin karena betapa besarnya pengaruh kehadiranmu dalam hidupku sejak kecil, yang tanpa sadar telah ikut membentuk karakter serta jati diriku yang sekarang.”

Riana tampak takjub sekaligus sungkan. Ia mencoba menggeser topik ke kehidupan Sanjaya saat ini. “Sekarang Akang tinggal di mana?”

"Di sebuah pulau tak bernama, dekat dengan Singapura," jawab Sanjaya singkat.

“Wah, jauh sekali ya ternyata?”

Sanjaya terdiam sejenak sebelum membalas, “Jauh dan dekat itu relatif, Riana. Semuanya hanya tergantung pada jarak antara jiwa dan jiwa. Lagipula, saya sudah lama sekali tidak pulang. Semenjak nenek meninggal, rasanya rumah tempat pulang itu sudah tidak ada lagi.”

Ia melanjutkan, “Kalau kamu masih penasaran dan ingin tahu siapa sebetulnya sosok Sanjaya ini, tanya saja nanti pada kakakmu, Nina, Hendra, atau si Ipul. Mereka pasti ingat betul siapa saya.”

“Kerja di sana, A?”

“Main saja ke sini kalau ada waktu. Saya bekerja seadanya, mengais rezeki sebagai jalan ikhtiar untuk menyambung hidup.”

“Enak ya sepertinya hidup di luar pulau begitu? Kelihatannya modern.”

Sanjaya tersenyum kecut menatap layar ponselnya. “Tapi bagi saya, jauh lebih enak bermain di sawah kampung dulu, Riana. Berkubang di lumpur bersama kerbau, daripada di sini yang hidupnya hanya dihabiskan untuk sekadar ke mal, memboroskan uang tanpa makna.”

"Ih, ya lebih enak jalan-jalan ke mal kali, A, hehe," canda Riana ringan.

Sanjaya terkekeh, lalu kembali mencoba mendekatkan jarak. “Bagaimana keadaan di Sampura sekarang? Apakah sawah di sana sudah memasuki musim panen?”

“Panen mah hanya bagi mereka yang punya sawah dan kebun saja, A. Bagi yang tidak punya, ya hidup tetap berjalan seperti biasa.”

"Saya sebetulnya punya sepetak sawah warisan leluhur di sana. Tapi sampai sekarang terbengkalai, tidak ada yang menggarap," tulis Sanjaya, sengaja memancing sesuatu.

“Makanya, A... cari istri orang kampung sana. Biar ada yang mengurus dan menggarap sawahnya.”

Sanjaya tertegun membaca saran itu. “Iya, kamu benar. Sepertinya aku memang harus mencari istri orang kampung sendiri.”

“Nah, betul itu. Saya setuju.”

"Dan bukankah Sampura juga adalah bagian dari kampung halaman saya sendiri, Riana?" tanya Sanjaya, menyelipkan makna ganda yang halus. Namun, Riana tampak memilih untuk tidak menyentuh area sensitif itu.

Sanjaya mengalihkan arah pembicaraan. “Kenapa kamu baru membuat akun media sosial sekarang-sekarang ini?”

"Dulu tidak boleh oleh almarhum suami," jawab Riana jujur.

“Pantas saja. Dulu aku pernah berhari-hari mencari namamu di daftar pertemanan abangmu, tapi hasilnya nihil. Tak pernah ketemu.”

“Iya, waktu masih tinggal di Bandung, aku hanya punya Instagram. Itu pun jarang aktif.”

“Di Bandung sejak tahun berapa sampai kapan, Riana?”

“Dari tahun 2010 sampai 2020 kemarin.”

Sanjaya terperanjat di tempat duduknya. Wah! “Demi apa? Tahun 2010 itu aku tinggal di Cihampelas dan bekerja di salah satu mitra P&G. Setiap hari rute perjalananku bolak-balik dari Cihampelas menuju Kopo Sayati. Itu kulakukan sampai tahun 2014, sebelum akhirnya aku pindah ke Jakarta. Aih, jangan-jangan dulu di antara macetnya jalanan Kopo, kita pernah tidak sengaja berpapasan atau berdiri di halte yang sama... wkwk.”

“Bisa jadi ya, A. Ternyata dunia memang sedemikian sempit.”

“Kita sudah tua ternyata ya, Riana. Padahal rasanya baru kemarin kita menjalani masa-masa bocil yang penuh tawa di kampung halaman.”

Sanjaya mengingat sesuatu, lalu mengetik cepat. “Kamu lahir tanggal 30 Maret 1976, kan? Berarti usiamu sekarang sudah masuk empat puluh tahun lebih.”

"Kok setua itu, A?!" protes Riana cepat dengan emotikon terkejut.

Sanjaya terbahak sendiri di kamarnya yang sepi. “Eh, maaf! Maksud saya 30 Maret 1986. Keliru ketik. Berarti usia kita hanya terpaut tiga tahun.”

"Nah, benar. Jangan ditiadakan sepuluh tahun masa mudaku, A," seloroh Riana.

Sanjaya tersenyum, lalu memberanikan diri meminta izin tentang nanti yang sakral. “Kalau suatu hari nanti aku punya kesempatan untuk pulang kampung... bolehkah aku bertandang dan bertamu ke rumahmu?”

Layar ponsel menunjukkan status mengetik yang cukup lama, sebelum akhirnya sebuah jawaban ramah muncul. “Silakan, A, kalau memang ingin menyambung tali silaturahmi. Itu bukan sesuatu yang buruk.”

"Makasih banyak, Riana," tulis Sanjaya. Matanya mulai terasa hangat oleh cairan bening. “Terima kasih sudah bersedia menyempatkan waktu untuk mendengar cerita usangku. Cerita konyol antara kau dan aku di masa lalu.”

Sanjaya menarik napas panjang, mengakhiri pesannya dengan ketulusan yang dalam. “Anggap saja semua ini bumbu penyedap di masa kecil kita. Kamu harus tahu, kamu itu teramat berharga di mataku. Di sepanjang jejak langkah hidupmu, selalu ada seseorang yang tanpa lelah memperhatikanmu dari kejauhan yang sunyi. Itulah sisi lain dari takdir hidupmu, yang kini hanya aku dan kamu yang tahu.”

“Takdir sepertinya berpihak pada kita malam ini. Jika kita tak pernah dipertemukan di jejaring sosial, aku tidak akan pernah tahu cerita dari sisi lain hidupmu, dan luka salah paham ini akan kubawa sampai ke liang lahat.”

Riana membalas singkat, namun sarat akan rasa terima kasih. “Makasih banyak ya, A.”

Malam itu, di bawah kubah langit yang sama namun terpisah ribuan kilometer, dua manusia yang sempat hilang dimakan waktu kembali duduk bersama. Mereka adalah dua jiwa yang telah remuk redam melewati badai kehidupan. Sanjaya dengan kesepian kronisnya, dan Riana dengan ketabahan seorang janda yang membesarkan anak di atas puing-puing kehilangan.

Mereka larut dalam percakapan yang dimediasi oleh sekerat layar ponsel yang berpendar di dalam gelap. Membicarakan kelokan jalan menuju Sampura, Hendra yang jenaka, hingga pesan-pesan kehidupan yang selalu saja datang terlambat. Jawaban Riana malam ini sesungguhnya terlambat tiga puluh tahun. Kadang-kadang, komedi kehidupan memang kejam. Kita menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk merawat luka batin yang lahir dari sebuah kesalahpahaman kecil yang tak pernah sempat dijelaskan oleh waktu.

Tawa mereka pecah di sela teks, berbaur bersama kesunyian malam. Namun di balik tawa itu, ada melankolia purba yang kini telah belajar hidup berdampingan secara damai dengan detak waktu.

Sebelum percakapan itu menemui titik pamitnya, Sanjaya memandangi pendar layar ponselnya lama sekali. Konfirmasi bahwa gelang benang buatannya pernah dipakai Riana terasa seperti usapan lembut yang menyembuhkan jiwanya yang compang-camping.

Perlahan, seulas senyum tulus terbit di wajahnya yang lelah. Jaya menyadari satu kebenaran hakiki bahwa ada jenis kebahagiaan yang tidak membutuhkan balasan cinta yang setimpal. Ia tidak menuntut kepemilikan, tidak pula pertemuan fisik yang romantis.

Kadang, kebahagiaan tertinggi itu hanya berupa pengetahuan sederhana bahwa hadiah kecil yang dibuat oleh seorang anak kampung miskin dengan jemari yang melepuh, dengan hati yang terlalu polos untuk sekadar disebut 'cinta', ternyata hampir tiga puluh tahun lalu telah sampai ke tangan orang yang dituju. Bagi Sanjaya, itu lebih dari cukup untuk menebus tiga dekade kesepiannya.

Di luar jendela, angin laut bertiup pelan. Untuk pertama kalinya setelah tiga puluh tahun didera ketakutan akan penolakan, sesuatu yang menyumbat di dada Sanjaya runtuh dan mencair. Sesuatu di dalam dirinya telah selesai. Telah genap.

Bukan karena ia berhasil mendapatkan kembali apa yang hilang, melainkan karena ia akhirnya memahami bahwa tidak semua hal berharga di dunia ini harus digenggam erat. Ada hal-hal yang justru jauh lebih indah jika cukup dikenang dalam sunyi, dibawa dalam lipatan doa, dan disyukuri keberadaannya sebagai secercah kunang-kunang yang pernah melintas, memberi pendar kecil yang tak akan pernah padam di ingatan terdalam. (Sal)

Perspektif

Scroll