Eiffel I'm in Love dan Kegelisahan dalam Menulis

Katanya, Eiffel I'm in Love itu film yang seru. Film remaja tentang cinta, tentang perasaan yang...

Eiffel I'm in Love dan Kegelisahan dalam Menulis

20 Jan 2026
225 x Dilihat
Share :

Eiffel I'm in Love dan Kegelisahan dalam Menulis

Katanya, Eiffel I'm in Love itu film yang seru. Film remaja tentang cinta, tentang perasaan yang mekar terlalu cepat, atau tentang harapan yang tumbuh sebelum usia sempat belajar memahami diri sendiri, atau tentang gugurnya emosi yang entah apa namanya. Sebuah kisah yang akrab bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang pernah merasakan cinta pertama sebagai sesuatu yang manis, sekaligus membingungkan.

Filmnya bahkan sudah ada sekuelnya. Ironisnya, film pertamanya saja belum pernah kutonton. Tapi judulnya sering melintas, sebagai cerita yang hidup dari tuturan orang lain, dari ringkasan-ringkasan tak utuh, dan dari potongan ingatan yang tidak pernah benar-benar kualami sendiri. Karena itu, justru membuatnya terasa dekat, sekaligus jauh.

Hanya yang kutahu dengan pasti: film ini diangkat dari sebuah novel. Novel yang pernah kubeli, bukan untukku, melainkan sebagai hadiah untuk seseorang sebagai kado perpisahan. Dan di sanalah, tiba-tiba sebuah jarak terasa menyempit. Bukan karena cerita perpisahanku dengan seorang teman. Bukan karena cerita yang disuguhkannya melainkan karena sang penulisnya. Ia masih belasan tahun ketika menulis novel itu.

Di titik itulah membawa perasaan aneh yang muncul. Bukan iri yang meledak-ledak, bukan juga dengki yang keras, melainkan perasaan kalah yang sunyi. Kalah yang tak pernah diumumkan, tapi diam-diam menetap di jiwaku. Seolah aku telah kalah bahkan sebelum sempat benar-benar mulai bertanding.

Katanya, sang penulis Rachmania Arunita ini mengapa bisa menghasilkan karya di usia belia. Kaarena ia sudah diminta membuat cerita sejak kelas satu SD oleh gurunya. Sementara aku di usia yang seharusnya lebih matang justru masih sibuk bertanya: apakah aku memang ingin menjadi penulis atau hanya ingin menjadi seperti mereka yang menulis. Apakah saat aku menulis adalah panggilan dari dalam, atau sekadar kekaguman yang terlalu lama kupelihara hingga menjelma ambisi menjadi penulis?

Tapi penting ada pelajaran yang bisa kuambil dari penulisnya. Menurut pengakuannya, ia terbiasa membeli novel-novel terkenal, terutama yang kemudian difilmkan. Ia membeli dan membaca semuanya, meskipun sering kali tak pernah sampai tamat. Anehnya, justru dari kebiasaan membaca yang setengah-setengah itulah semangat menulisnya lahir. Ketidaktuntasan menjadi pemantik, bukan penghalang.

Dari membaca yang tak selalu selesai itu, ia menemukan keberanian untuk menulis sepenuhnya. Novel lahir, laris, dan dibaca banyak orang, lalu diangkat ke layar lebar. Sebuah perjalanan yang tampak sederhana, nyaris ajaib: dari pembaca yang tak menamatkan buku, menjadi penulis yang karyanya ditamatkan banyak orang.

Di situlah aku mulai menoleh ke dalam diri sendiri. Bertanya, dengan lebih jujur dan lebih pelan: Apakah keinginanku menulis benar-benar lahir dari kedalaman diriku sendiri, atau hanya gema dari luar. Apakah hasrat menjadi penulis, entah novel atau artikel, murni berasal dari kesadaran batin, atau sekadar hasil pemaksaan halus dari lingkungan, dari buku-buku yang kubaca, film-film yang kutonton, atau kisah sukses orang lain, dan tuntutan zaman yang mengagungkan produktivitas?

Tentu, pengaruh dari luar tak bisa diingkari. Lingkungan, situasi hidup, dan tuntutan zaman sering kali mendorong seseorang untuk mengoptimalkan dirinya. Dari sanalah muncul kesadaran untuk mengasah potensi, untuk mencoba, untuk tidak tinggal diam. Namun di antara dorongan itu, ada garis tipis antara kesadaran dan keterpaksaan.

Dalam bayanganku, menulis idealnya mengalir saja. Tanpa target yang membebani, tanpa tekanan berlebihan, tanpa ambisi yang memaksa. Menulis sebagai sesuatu yang wajar, seperti halnya bernapas. Jika membaca adalah menghirup napas, maka menulis adalah mengembuskan napas. Ia terjadi dengan sendirinya, seperti denyut nadi.

Namun kenyataan tidak sesederhana itu.

Ada tuntutan sosial yang tak bisa kuhindari. Ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Aku harus mencari penghidupan sendiri. Aku ingin mandiri, ingin berdaya, ingin merasa berguna. Aku ingin punya pilihan. Tapi hidup jarang memberi kemewahan untuk sekadar mengikuti alur idealisme dan punya waktu luang untuk bisa fokus menulis.

Karena aku tak ingin terus bergantung pada ibuku, ada rasa bersalah yang tumbuh perlahan seiring bertambahnya usia dan semakin panjangnya daftar kebutuhan. Rasa bersalah yang halus, tapi menetap saat terus-menerus membaca dan menulis. Rasa yang muncul setiap kali menyadari bahwa usia terus berjalan, sementara ketergantungan belum sepenuhnya berkurang. Sementara sering habis waktu buat membaca dan menulis.

Mungkin, dari sanalah pertanyaan yang lebih konkret dan lebih menakutkan muncul: sebenarnya mungkinkah hidup dari menulis? Mungkinkah menulis bukan hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga sumber penghidupan?

Orang-orang seusia denganku ada yang bisa mendapatkan penghasilan lebih dari dua juta rupiah hanya dari menulis. Angkanya mungkin belum besar, tetapi cukup untuk membuat imajinasi bekerja, meski kecemasan ikut terbangun. Jika mereka bisa, mengapa aku belum? Fakta itu menyemangati sekaligus menekan. Karena semangat saja, nyatanya, tidak pernah cukup.

Katanya, jalan menulis memang tidak mudah dan ramah. Prosesnya panjang, berliku, dan sering melelahkan. Menulis membutuhkan latihan yang tak jarang terasa “berdarah-darah”. Apa yang ditulis harus dibaca ulang, diendapkan, lalu dibaca lagi. Diendapkan lagi. Dibaca ulang lagi. Hingga naskah tak lagi terasa asing, tetapi juga belum tentu terasa selesai.

Dan setelah itu pun masih ada keberanian terakhir: mengirimkannya ke penerbit. Siap ditolak. Siap direvisi. Siap kecewa. Siap mencoba lagi. Sebuah siklus yang menuntut kesabaran lebih panjang daripada sekadar bakat dan inspirasi.

Aku sempat berpikir untuk mengikuti kursus menulis di MLC, agar lebih terarah dalam menulisku. Ada keinginan mengirim surel kepada Pak Hernowo, berharap ia bersedia menjadi mentor, sebuah tangan lain yang membimbing agar proses ini tak terlalu sunyi. Namun aku jujur pada diri sendiri: aku belum benar-benar mengonsentrasikan diri sepenuhnya untuk menulis. Aku masih setengah-setengah.

Waktu menulis masih sering kalah oleh keraguan, oleh distraksi, oleh ketakutan gagal bahkan sebelum benar-benar mulai. Aku belum seserius itu mengkhususkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menekuni dunia kepenulisan, terutama menulis novel. Dan pengakuan itu, meski pahit, terasa perlu.

Di titik ini, barangkali yang paling jujur adalah mengakui kebimbangan itu sendiri. Bahwa menjadi penulis bukan hanya soal bakat atau inspirasi, melainkan soal keberanian memilih, kesetiaan pada proses, dan kesanggupan menanggung sunyi. Menulis bukan semata ingin terkenal atau berpenghasilan, tetapi kesediaan duduk lama bersama diri sendiri, mendengarkan kegelisahan, lalu merawatnya menjadi kata-kata.

Inilah fase yang jarang diceritakan: fase sebelum menjadi penulis. Ketika seseorang masih berdiri di ambang niat. Belum produktif, belum disiplin, belum percaya diri, tetapi sudah gelisah. Sudah merasa dipanggil, namun belum sepenuhnya sanggup menjawab.

Mungkin aku belum sepenuhnya siap. Mungkin aku masih belajar. Namun barangkali, justru dari keraguan inilah sebuah perjalanan kepenulisan dimulai. Dengan pelan. Tidak meledak-ledak. Tetapi jujur. Dan jika kelak aku benar-benar menulis dengan sungguh-sungguh, itu bukan semata karena tuntutan sosial atau iri pada pencapaian orang lain, melainkan karena aku akhirnya berdamai dengan keinginanku sendiri.

Jika suatu hari aku benar-benar menjadi penulis, catatan ini barangkali tak akan dibaca sebagai kisah perjuangan heroik. Ia hanyalah memoar kecil tentang kebimbangan, tentang niat yang belum matang, tentang seseorang yang belajar berdamai dengan prosesnya sendiri. 

Dan mungkin, justru di situlah kejujurannya: bahwa menjadi penulis sering kali tidak dimulai dari keberanian besar, melainkan dari pengakuan kecil bahwa aku masih ragu, masih belajar, tetapi belum menyerah. (Sal)

Perspektif

Scroll