Sebuah ejekan, betapapun kecil, sering kali menyimpan gema yang panjang dan nun jauh bak gajah di pelupuk mata tak terlihat, tapi semut di ujung bumi sangat jelas tampak. Ia tak selalu berhenti pada bunyi tawa, tetapi merambat ke cara kita memandang orang lain—dan, diam-diam, diri kita sendiri, seharusnya.
Dalam satu rapat Sarekat Islam, yang juga dihadiri tokoh-tokoh yang kelak menjadi pemimpin PKI, Musso salah satunya, Haji Agus Salim menjadi sasaran olok-olok. Janggutnya yang tipis dipanggil “kambing”, disertai bunyi embek yang sengaja dilebihkan. Sebuah ejekan tubuh, sederhana, nyaris remeh, tapi sarat niat merendahkan.
Agus Salim tidak membalas dengan amarah. Ia memilih ketenangan, lalu menyodorkan ironi. “Untung saya hanya kambing, yang makan rumput. Coba kalau saya babi, pasti makan kawan.”
Kalimat itu bekerja lebih tajam daripada makian. Ia tidak menyerang, tetapi membuka cermin. Komunisme yang kerap mencatat sejarahnya saling menyingkir, saling menelan dalam perebutan kuasa dan tafsir politik. Maka ejekan itu pun runtuh oleh kecerdasannya sendiri. Para pengejek terdiam. Malu datang tanpa perlu pidato.
Namun kisah ini bukanlah pembelaan atas ejekan, apalagi perundungan yang lebih-lebih yang menyasar tubuh. Kita tahu, kata-kata yang tampak ringan sering berubah menjadi beban. “Kamu gendut. Kamu mentung, kebanyakan makan. Kamu nguantuk ya, kok wajahmu begitu.”
Ucapan-ucapan semacam itu kerap lahir dari kebiasaan, dari candaan yang merasa netral. Tapi di tangan kepentingan tertentu, ia segera diframing sebagai kekerasan. Kita pun berubah menjadi aparat moral, mengadili segala yang terasa tak sesuai, tanpa sempat bertanya: adakah niat lain selain merendahkan? Atau justru kita sedang menegaskan posisi kita sendiri?
Di titik ini, persoalannya bukan sekadar ejekan. Melainkan kecenderungan kita untuk merasa paling benar. Tendensi apa pun, entah sok baik atau sok buruk tetap mengandung masalah. Moralitas sering dipanggil lantang, tetapi jarang diajak bercermin.
Ketika Pandji Pragiwaksono di Mens Rea membicarakan Wakil Presiden kita, semua mendadak bicara etika. Semua menjadi penjaga nilai. Namun suara itu melemah, tak bergaung keras, ketika muncul dugaan kasak-kusuk Mahkamah Konstitusi yang meloloskannya sebagai calon wakil presiden. Ia nyaris lenyap saat sikap tengilnya dipertontonkan di panggung debat.
Moral, rupanya, punya jam kerja dan alamat tertentu. Barangkali akan ada yang berkata, “Oh, jadi begini standar moralmu. Menormalisasi ejekan tubuh orang?” Tidak. Bukan itu maksudnya. Yang hendak disampaikan justru ini: tak seorang pun benar-benar bebas dari standar ganda. Kita menilai sesuai posisi kita berdiri, sesuai siapa yang sedang kita bela atau kita benci.
Moralitas, dalam praktik sehari-hari, jarang berdiri sebagai kompas yang lurus. Ia lebih sering menjadi cermin: yang kita arahkan ke orang lain, hampir tak pernah ke diri sendiri.
Dan mungkin, di situlah kejujuran paling getir bermula: bahwa apa yang kita sebut moral objektif sering kali hanyalah mitos yang kita pelihara, agar merasa sedikit lebih suci, sedikit lebih benar, dari sesama perundung yang lain. (Sal)