Ada kata yang selalu terdengar agung di ruang-ruang konferensi dunia: perdamaian. Kata yang sering disebut dengan suara mantap, dicetak dalam dokumen resmi, dipasang di spanduk, lalu dipotret dalam senyum para pemimpin.
Namun kita tahu, kata itu sering lebih ringan daripada luka.
Dan Gaza—seperti sebuah halaman yang terus disobek angin perang, adalah tempat di mana perdamaian selalu datang terlambat, atau datang sebagai janji yang belum selesai.
Beberapa hari ini, Indonesia memasuki sebuah ruang baru: Board of Peace, Dewan Perdamaian. Namanya terdengar seperti meja bundar dalam dongeng. Tapi dunia tidak pernah sesederhana dongeng.
Di Istana Kepresidenan, Presiden Prabowo Subianto mengundang para mantan diplomat. Pertemuan berlangsung empat jam. Empat jam adalah waktu yang cukup untuk menyeduh kopi, cukup untuk mengingat sejarah, cukup untuk menyadari bahwa keputusan politik luar negeri tidak pernah benar-benar bersih.
Dino Patti Djalal, mantan wakil menteri luar negeri, menyebut Prabowo realistis.
Realistis.
Sebuah kata yang dalam politik sering berarti: menerima bahwa dunia tidak bergerak oleh moral, tetapi oleh kekuatan.
“Tidak ada opsi lain,” kata Dino, “Board of Peace ini bagian dari solusi.” Tidak ada opsi lain.
Kalimat itu terdengar seperti pintu yang menutup perlahan. Sebab jika benar tak ada pilihan lain, maka kita sedang berbicara tentang dunia yang telah kehilangan imajinasi etiknya.
Board of Peace ini, kata Dino, adalah eksperimen. Eksperimen: sebuah percobaan yang hasilnya belum pasti.
Dan eksperimen selalu membutuhkan subjek. Pertanyaannya: siapa yang sedang dijadikan subjek percobaan?
Gaza? Palestina? Atau dunia internasional yang ingin mencuci tangannya sendiri?
Dewan ini diprakarsai Donald Trump. Diratifikasi di Davos, di tengah salju Swiss yang tenang. Sementara di Gaza, tanah tidak pernah benar-benar kering dari darah.
Kita tahu, dunia punya cara ganjil untuk membicarakan penderitaan: dengan seminar, dengan panel, dengan protokol. Tapi penderitaan tidak butuh protokol. Ia butuh berhenti.
Risiko terbesar, kata Dino, adalah Israel. Benjamin Netanyahu duduk di kursi anggota. Israel, dengan pengaruhnya di Washington, dengan bayang-bayang panjangnya di Timur Tengah. “Israel punya pengaruh besar terhadap Trump,” ujar Dino. Dan di situlah perdamaian menjadi ironi.
Bagaimana mungkin sebuah dewan perdamaian menampung mereka yang masih membawa senjata dalam saku sejarah? Tentu, politik selalu meminta kita percaya pada paradoks: musuh duduk bersama, luka dinegosiasikan, kemerdekaan dibicarakan di meja yang sama dengan penjajahan. Tapi paradoks juga bisa menjadi jebakan.
Dino sendiri sebelumnya mempertanyakan: apa jaminan dewan ini bukan proyek bisnis? Apa jaminan Gaza tidak berubah menjadi semacam “real estate” global, tanah reruntuhan yang dilihat bukan sebagai rumah rakyat Palestina, melainkan peluang pembangunan bagi aktor luar? “Bagaimana mencegah agar Dewan steril dari kepentingan bisnis aktor-aktor luar?” katanya.
Pertanyaan itu terdengar getir. Sebab kita hidup di zaman ketika bahkan penderitaan bisa diperdagangkan dalam bahasa investasi.
Di Indonesia, suara-suara pun terbelah. Majelis Ulama Indonesia sempat meminta Indonesia mundur. Tapi setelah bertemu Prabowo, dukungan muncul dengan syarat: selama langkah ini benar-benar untuk Palestina.
Syarat itu penting. Karena Palestina bukan sekadar isu. Ia adalah ujian moral dunia modern. Dan Indonesia, sejak lama, menaruh dirinya di sisi yang percaya: bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa.
Namun kini, Indonesia duduk dalam sebuah dewan yang juga diisi oleh mereka yang menjauhi solusi dua negara. Maka diplomasi menjadi semacam berjalan di atas tali tipis. Di satu sisi, kita ingin hadir.
Di sisi lain, kita takut hadir hanya sebagai figuran. Sebab dunia internasional sering pandai menciptakan forum, tapi lambat menciptakan keadilan.
Board of Peace mungkin akan menjadi jalan. Atau mungkin hanya menjadi nama lain dari penundaan. Dan Gaza akan tetap menjadi pertanyaan yang tidak selesai:
Apakah perdamaian benar-benar sedang diusahakan? Ataukah hanya sedang ditata agar terlihat rapi dalam arsip sejarah? Di meja-meja perundingan, kata “perdamaian” selalu terdengar indah.
Tapi di Gaza, orang-orang mungkin tidak butuh kata itu. Mereka butuh pagi yang tidak dibuka oleh sirene. Mereka butuh rumah yang tidak runtuh. Mereka butuh dunia yang berhenti menjadikan hidup mereka sekadar agenda. Dan kita, dari jauh, hanya bisa bertanya dengan lirih:
Jika perdamaian adalah eksperimen, berapa banyak nyawa yang harus habis sebelum dunia mengaku gagal? (Sal)