Patung, Legenda, dan Jagat Sosial: Kisah Macan Putih dari Balongjeruk, Kediri

Sebuah patung macan putih berdiri di perbatasan Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten...

Patung, Legenda, dan Jagat Sosial: Kisah Macan Putih dari Balongjeruk, Kediri

Sosbud
27 Des 2025
577 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Patung, Legenda, dan Jagat Sosial: Kisah Macan Putih dari Balongjeruk, Kediri

Sebuah patung macan putih berdiri di perbatasan Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri. Ia tak sekadar menjadi penanda wilayah, tetapi juga penanda zaman: bagaimana simbol budaya lokal bertemu dengan logika media sosial, lalu memantik perbincangan nasional.

Patung itu viral. Bukan semata karena maknanya, melainkan karena bentuknya yang dinilai warganet “tak lazim” dan jauh dari representasi harimau sebagaimana yang hidup dalam imajinasi populer. Dari kritik serius hingga candaan, ruang digital menjadikannya bahan diskusi dan bahkan guyonan.

Di balik riuh itu, tersimpan kisah yang lebih panjang sebenarnya: tentang legenda desa, inisiatif warga, tanggung jawab pemimpin lokal, dan batas tipis antara ekspresi budaya dan ekspektasi publik.

Ikon Desa dan Jejak Legenda

Kepala Desa Balongjeruk, Safii’i, menjelaskan bahwa patung macan putih bukanlah proyek serampangan. Gagasan pembuatannya lahir dari musyawarah warga yang ingin mengangkat kembali legenda lama yang hidup turun-temurun di desa tersebut.

Dalam cerita para sesepuh, tokoh agama, hingga perangkat desa, macan putih diyakini sebagai danyang atau penjaga wilayah. Nama Mbah Maskam kerap disebut sebagai figur yang mewariskan kisah itu, bahkan disebut-sebut oleh kepala desa periode akhir 1990-an yang mengaku pernah “berjumpa” dengan sosok macan putih.

Legenda itu, menurut Safii’i, adalah identitas kultural yang ingin dihadirkan kembali ke ruang publik desa. Bukan sekadar mitos, melainkan penanda ingatan kolektif.

Dana Pribadi dan Klarifikasi Publik

Seiring viralnya patung tersebut, muncul pertanyaan krusial: dari mana sumber pendanaannya? Safii’i menegaskan, pembangunan patung sama sekali tidak menggunakan dana desa.

“Ini murni dana pribadi saya,” ujarnya. Total biaya yang dikeluarkan sekitar Rp3,5 juta, dengan rincian Rp2 juta untuk jasa pembuatan patung dan pijakan, serta Rp1,5 juta untuk material.

Penegasan ini penting, bukan hanya untuk meredam spekulasi, tetapi juga sebagai bentuk transparansi di tengah meningkatnya sensitivitas publik terhadap penggunaan anggaran desa.

Safii’i pun menyampaikan permohonan maaf jika keberadaan patung tersebut menimbulkan kegaduhan. Namun ia juga mengapresiasi perhatian publik, termasuk kritik dan saran yang disampaikan warganet.

Seniman, Mimpi, dan Simbol Gaib

Di balik patung itu ada tangan seorang seniman lokal bernama Suwari. Ia bukan nama baru di dunia seni patung Kediri. Sejak 1980-an, ia telah mengerjakan beragam karya. Dari tokoh pewayangan, hewan, hingga patung monumental.

Menariknya, Suwari mengaku mengalami pengalaman batin sebelum mengerjakan patung tersebut. Ia bermimpi memerankan sosok siluman macan putih dalam sebuah lakon ludruk—sebuah mimpi yang ia tafsirkan sebagai isyarat sekaligus penguat batin.

Bagi Suwari, macan putih bukan sekadar hewan. Dalam tradisi lisan Jawa, ia adalah simbol kekuatan gaib dan penjaga wilayah. Patung itu dikerjakannya selama sekitar 19 hari, seluruhnya dikerjakan sendiri tanpa asisten.

Kritik, Evaluasi, dan Rencana Perbaikan

Meski ide dasarnya diapresiasi, kritik tajam datang pada aspek visual. Pemerhati masyarakat Kediri sekaligus pimpinan LSM, Khairul Anam, menilai gagasan mengangkat legenda desa patut didukung, namun eksekusinya perlu diperbaiki.

“Karakter macan itu punya ekspresi, bentuk, dan wibawa. Kalau tidak tepat, justru berubah jadi guyonan,” ujarnya.

Kritik itu diterima. Safii’i memastikan patung macan putih akan diganti dengan desain baru yang lebih estetik dan mendekati karakter macan sesungguhnya. 

Pemesanan patung pengganti telah dilakukan kepada perajin di wilayah Ngadiluwih, dengan ukuran panjang 1,5 meter dan tinggi 1 meter. Biayanya sekitar Rp 2,5 juta, juga dari dana pribadi.

Antara Budaya Lokal dan Etalase Digital

Kisah patung macan putih Balongjeruk menunjukkan satu hal penting: simbol budaya lokal kini hidup di dua ruang sekaligus: ruang tradisi dan ruang digital. Di ruang pertama, ia sarat makna dan sejarah. Di ruang kedua, ia berhadapan dengan selera visual, standar estetika, dan logika viralitas.

Patung itu mungkin akan diganti. Namun perbincangan yang lahir darinya meninggalkan pelajaran: bahwa merawat identitas budaya di era media sosial membutuhkan bukan hanya niat baik, tetapi juga kepekaan pada konteks, komunikasi publik, dan keberanian untuk mengevaluasi diri.

Di Balongjeruk, macan putih bukan sekadar patung. Ia adalah cermin tentang bagaimana desa, legenda, dan dunia maya saling menatap satu sama lain. Membuat sebagian kita terpana dan sebagian terusik karena perbedaan haluan tata estetik. (Sal)

Share :

Perspektif

Scroll