Kisah Asli Waluh Kukus yang Diadaptasi ke Layar Lebar

Kisah viral berjudul Waluh Kukus yang sempat mengguncang linimasa platform X pada 2021 kini resmi...

Kisah Asli Waluh Kukus yang Diadaptasi ke Layar Lebar

Sosbud
22 Des 2025
228 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Kisah Asli Waluh Kukus yang Diadaptasi ke Layar Lebar

Kisah viral berjudul Waluh Kukus yang sempat mengguncang linimasa platform X pada 2021 kini resmi diadaptasi menjadi film layar lebar oleh Falcon Pictures. 

Keputusan rumah produksi tersebut mengangkat cerita sederhana namun menyentuh ini disambut hangat oleh warganet. Banyak diantaranya mengaku penasaran, sekaligus bersiap kembali mengingat luka emosional yang pernah mereka rasakan saat pertama kali membaca kisah aslinya.

Sebelum kisah ini hadir di bioskop, ada baiknya kita menengok kembali cerita awal Waluh Kukus, sebuah narasi personal yang berhasil menyentuh ribuan orang justru karena kejujurannya.

Cerita ini pertama kali dituturkan oleh pemilik akun X @/ainayed pada 17 Juli 2021. Melalui sebuah thread panjang, ia membagikan pengalaman masa kecilnya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia membuka ceritanya dengan pengakuan yang lugas dan emosional.

“Aku punya trauma sama waluh kukus. Serius, aku selalu nangis kalau ingat waluh kukus,” tulisnya, sambil mengakui bahwa jemarinya gemetar dan matanya basah saat mengetik ulang ingatan tersebut.

Sejak awal, ia menggambarkan kondisi ekonomi keluarganya yang serba kekurangan. Sang ibu hidup dalam kesulitan, bahkan untuk membeli kebutuhan dapur sederhana seperti kelapa dan gula jawa pun kerap tak sanggup. Demi bertahan, ibunya bekerja sebagai buruh serabutan dengan upah yang tidak menentu, kadang uang, kadang hanya bahan makanan.

Suatu hari, sang ibu membantu seseorang memanen waluh atau labu kuning. Sebagai upah, ia mendapatkan dua buah waluh: satu kecil dan satu besar, yang bahkan terlalu berat untuk diangkat oleh dirinya sebagai anaknya. Dari situlah kisah ini bermula.

Waluh tersebut kemudian diolah menjadi waluh kukus untuk dibagikan kepada anak-anak yang mengikuti tadarus. Sang ibu menitipkan harapan besar pada makanan sederhana itu. Ia percaya, waluh kukus buatannya yang manis dan empuk akan disukai anak-anak. Ia bahkan berpesan agar wadahnya jangan lupa dibawa pulang.

Namun, kenyataan tak seindah harapan. Saat tadarus berlangsung, hanya satu dua anak yang mau menyentuh waluh kukus tersebut, padahal jumlah anak yang hadir belasan. Situasi makin menyakitkan ketika salah satu anak bernama Yati secara terang-terangan menghina makanan itu. 

Dengan ekspresi jijik dan kata-kata merendahkan, Yati memicu ejekan bersama dari anak-anak lain. Reaksi @/ainayed yang membela jerih payah ibunya justru berujung pada perundungan. Ia dicap pemarah, ditertawakan, dan dihasut agar dijauhi. Hingga tadarus berakhir sekitar pukul sembilan malam, waluh kukus itu nyaris tak tersentuh.

Dengan perasaan campur aduk, ia terpaksa membawa pulang makanan tersebut. Namun di satu sisi, ia tak tega membayangkan raut wajah ibunya jika tahu waluh kukus buatannya tak habis, bahkan ditolak. Disisi lain, ia juga tak sanggup menyimpan luka ejekan yang baru saja dialaminya.

Di samping musala, ia memakan waluh kukus itu seorang diri. Meski perutnya sudah penuh dan mual, ia memaksakan diri. Seolah ingin menebus rasa malu dan sakit hati dengan menghabiskan makanan itu sendirian. Hingga akhirnya tubuhnya tak sanggup lagi.

Di perjalanan pulang, ia terjatuh. Waluh kukus yang tersisa tumpah ke tanah. Dalam keadaan panik dan menangis, ia membuang potongan-potongan waluh itu, lalu muntah hebat akibat paksaan yang ia lakukan sebelumnya.

Sesampainya di rumah, ia hanya mengaku terjatuh. Ketika ibunya bertanya dengan wajah berbinar, “Siapa saja yang makan waluhnya sampai habis?”, ia menyebut nama anak-anak tadarus. Sang ibu pun berulang kali mengucap syukur, merasa bahagia karena makanan buatannya tidak mubazir.

Sejak peristiwa itu, @/ainayed mengaku trauma dan tak pernah lagi menyentuh waluh kukus. Makanan sederhana itu menjadi simbol luka: tentang kemiskinan, perundungan, dan cinta seorang ibu yang terlalu tulus untuk disakiti oleh kenyataan.

Empat tahun berselang, kisah ini kini dihidupkan kembali dalam bentuk film. Meski detail produksinya belum sepenuhnya diungkap, satu hal yang pasti: karakter Yati, yang menjadi simbol kekejaman kecil namun membekas akan hadir di layar lebar. Tak heran jika warganet ramai berspekulasi tentang siapa aktris yang pantas memerankannya.

Adaptasi Waluh Kukus bukan sekadar memindahkan kisah viral ke medium film. Ia adalah pengingat bahwa luka masa kecil bisa lahir dari hal-hal yang tampak sepele, dan bahwa empati sering kali tumbuh dari cerita-cerita sederhana. Di balik seporsi waluh kukus, tersimpan pelajaran tentang martabat, kasih sayang, dan betapa kata-kata, sekecil apa pun, dapat meninggalkan bekas yang bertahan seumur hidup.

(Disunting dari berbagai sumber berita)

Share :

Perspektif

Scroll