Dari Buka Puasa Akbar ke Pertanyaan Kebijakan Sosial di Batam

Lampu-lampu menara Masjid Agung Raja Hamidah mulai berpendar saat ufuk barat Batam Centre perlahan...

Dari Buka Puasa Akbar ke Pertanyaan Kebijakan Sosial di Batam

Sosbud
07 Mar 2026
330 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Dari Buka Puasa Akbar ke Pertanyaan Kebijakan Sosial di Batam

Lampu-lampu menara Masjid Agung Raja Hamidah mulai berpendar saat ufuk barat Batam Centre perlahan menyepuh jingga. Di pelataran masjid yang menjadi ikon baru spiritualitas kota ini, deru mesin industri dan hiruk-pikuk pelabuhan seolah meredup sejenak, digantikan oleh gumam doa dan antrean ribuan warga yang tertib pada Sabtu (28/2/2026), tepat pada 10 Ramadan 1447 Hijriah, sekitar 5.000 pasang mata berkumpul dalam sebuah ritus tahunan yang melampaui sekadar makan bersama: Buka Puasa Akbar.

Acara yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota Batam bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam ini bukan sekadar seremoni makan bersama. Di tengah kerumunan tersebut, hadir Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, didampingi Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra. Kehadiran mereka membawa misi khusus, menyerahkan santunan kepada 1.200 anak yatim yang didatangkan dari berbagai pelosok kecamatan di penjuru pulau.

Sejak sore hari, arus manusia telah mengalir deras menuju kawasan pusat pemerintahan ini. Halaman masjid yang luas berubah menjadi permadani manusia. Di sana, batas-batas sosial seolah luruh. Suasana terasa hangat dan semarak, mencerminkan antusiasme warga yang memanfaatkan momentum Ramadan untuk bersilaturahmi, sekaligus berinteraksi langsung dengan para pemangku kebijakan. Turut hadir dalam saf terdepan, Ketua TP-PKK Batam Erlita Amsakar, Sekretaris Daerah Firmansyah, serta jajaran Forkopimda yang mempertegas bahwa agenda ini adalah konsolidasi sosial tingkat tinggi.

Dalam sambutannya, Amsakar Achmad menekankan bahwa buka puasa bersama ini adalah ruang dialogis. “Melalui kebersamaan ini, kita ingin memperkuat silaturahmi dan komunikasi yang harmonis antara pemerintah, DPRD, instansi vertikal, dan seluruh elemen masyarakat,” ujarnya. Kalimat ini menyiratkan sebuah pesan penting bahwa di balik cetak biru pembangunan fisik Batam yang agresif, diperlukan "perangkat lunak" berupa harmoni sosial.

Ia menambahkan bahwa budaya silaturahmi memiliki peran krusial sebagai katalis pembangunan daerah. Dalam pandangan Amsakar, hubungan sosial yang terjaga bukan sekadar hiasan bibir, melainkan fondasi bagi kolaborasi yang lebih kuat. “Silaturahmi harus menjadi budaya kita. Dari hubungan yang baik akan lahir kerja sama yang kuat demi kemajuan Batam,” tegasnya di hadapan ribuan jemaah.

Magnet utama sore itu adalah acara penyerahan santunan kepada 1.200 anak yatim. Masing-masing anak menerima bantuan sebesar Rp150 ribu. Di atas kertas, angka ini mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan nilai proyek strategis nasional di Batam. Namun, secara simbolis, ini adalah pernyataan bahwa negara hadir bagi kelompok yang paling rentan.

Batam kini bukan lagi sekadar titik singgah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan populasi kota ini telah melampaui 1,2 juta jiwa dengan laju pertumbuhan yang jauh melampaui rata-rata daerah lain di Kepulauan Riau. Pertumbuhan penduduk yang masif, dipicu oleh magnet lapangan kerja, membawa konsekuensi sosiologis yang kompleks. Mulai dari masalah pemukiman kumuh, penanganan sampah, hingga meningkatnya jumlah anak-anak yang membutuhkan perlindungan sosial. Maka, kegiatan santunan di bulan Ramadan dipandang sebagai titik temu antara dimensi teologis (ibadah) dan dimensi kebijakan publik (proteksi sosial).

Meski menuai apresiasi, kegiatan semacam ini tak lepas dari diskursus kritis mengenai efektivitas bantuan yang bersifat temporer. Pengamat kebijakan publik dari Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) memberikan perspektif yang lebih dalam. Menurutnya, santunan Ramadan memang memiliki nilai simbolik yang tinggi sebagai bentuk empati kolektif, namun pemerintah tidak boleh berhenti pada seremoni.

“Santunan adalah langkah awal yang baik. Namun tantangan yang lebih besar adalah memastikan anak-anak yatim ini memiliki akses pendidikan, kesehatan, dan pendampingan sosial yang berkelanjutan,” ungkapnya. Bantuan langsung memang memberikan dampak psikologis dan bantuan jangka pendek, namun masa depan anak-anak ini tetap ditentukan oleh kebijakan sosial yang lebih struktural, seperti beasiswa yang terjamin dan akses kesehatan yang inklusif.

Di sisi lain, suara dari akar rumput memberikan dimensi lain. Ahmad Yani, seorang tokoh masyarakat di Batam Center, menilai kehadiran fisik pemimpin di tengah anak yatim memberikan suntikan moril yang tak ternilai. “Anak-anak ini bukan hanya membutuhkan materi, tetapi juga pengakuan. Ketika pemerintah hadir langsung, mereka merasa dihargai dan diakui sebagai bagian penting dari kota ini,” katanya. Dua perspektif antara bantuan langsung dan kebijakan sistemik menunjukkan bahwa membangun manusia memerlukan pendekatan yang multidimensi.

Batam adalah kota yang hidup dari angka realisasi investasi yang terus memecahkan rekor, pertumbuhan sektor manufaktur yang stabil, dan logistik internasional yang tak pernah tidur. Data BP Batam mengonfirmasi tren positif investasi di sektor galangan kapal dan teknologi tinggi. Namun, kota industri seringkali memiliki wajah ganda di mana kilauan kaca gedung mentereng terkadang membiaskan bayang-bayang ketimpangan.

Datangnya Ramadan semoga menjadi rem darurat bagi ritme kota yang serba cepat. Kota yang biasanya bergerak dalam logika efisiensi industri mendadak melambat. Saat azan magrib berkumandang dan ribuan orang duduk bersila memecah puasa dengan beberapa butir kurma, bubur, dan nasi kotak yang terhidang di sisi kanan pelataran Masjid Agung Raja Hamidah Batam Centre, menjadi cermin sebuah kota sedang menunjukkan sisi manusianya. Kota yang tidak diuji bukan dari seberapa tinggi gedung yang dibangunnya, atau seberapa besar angka ekspornya dan jumlah kunjungan wisatawannya, tetapi diuji dari bagaimana ia memperlakukan warganya dari kelompok paling rentan. 

Pemandangan di Masjid Agung Raja Hamidah sore itu mengingatkan kita semua akan pembangunan bukan hanya soal beton dan baja, melainkan tentang martabat, solidaritas, dan memastikan bahwa tidak ada anak yang merasa sendirian dalam mengejar harapan masa depannya.

Ketika lampu masjid semakin terang benderang menantang kegelapan malam, kita disadarkan bahwa di balik statistik pembangunan, ada tanggung jawab kolektif yang harus terus dirawat. Di situlah letak keberhasilan sebuah kota yang sesungguhnya. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll