Waduk Nongsa Menyusut 2,5 Meter, Efektifkah Menanam 400 Bambu?

Cadangan air baku Kota Batam kembali mendapat tekanan setelah muka air Waduk Nongsa menyusut...

Waduk Nongsa Menyusut 2,5 Meter, Efektifkah Menanam 400 Bambu?

Ekologi
10 Agu 2026
770 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Waduk Nongsa Menyusut 2,5 Meter, Efektifkah Menanam 400 Bambu?

Cadangan air baku Kota Batam kembali mendapat tekanan setelah muka air Waduk Nongsa menyusut sekitar 2,5 meter akibat minimnya curah hujan, sehingga kemampuan produksi IPAM Nongsa ikut terdampak. Menghadapi kondisi tersebut, BP Batam mengoptimalkan interkoneksi jaringan, menyiapkan sumber air alternatif, dan memperkuat perlindungan daerah tangkapan air melalui penanaman vegetasi di kawasan hulu. Kondisi ini menggambarkan keberlanjutan air Batam yang bukan hanya persoalan berapa banyak air yang tersimpan di waduk, tetapi bagaimana cara sebuah kota mengelola hujan, ruang, pertumbuhan penduduk, industri, dan kawasan resapan secara bersamaan.

Tekanan terhadap Waduk Nongsa sebenarnya bukan persoalan yang muncul tiba-tiba. Pada Maret 2026, BP Batam melaporkan muka air Waduk Nongsa telah menyusut sekitar 1,2 meter dan menjadi salah satu waduk yang mendapat perhatian serius. Beberapa bulan kemudian, penyusutan dilaporkan semakin dalam hingga sekitar 2,5 meter. Situasi tersebut berlangsung ketika Batam menghadapi periode kemarau yang dipengaruhi dinamika iklim global. 

BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026, sementara sekitar 57,2 persen zona musim diperkirakan mengalami kemarau lebih panjang dari kondisi normal. Pada Juli 2026, BMKG juga menyebut kondisi El Nino masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi berkurangnya potensi curah hujan di berbagai wilayah Indonesia. 

Namun Kepulauan Riau tetap memiliki karakter iklim ekuatorial yang membuat hujan masih mungkin terjadi secara sporadis. Artinya, persoalan Batam bukan semata-mata tidak adanya hujan, melainkan apakah hujan yang turun cukup dan jatuh di tempat serta waktu yang mampu mengisi daerah tangkapan air.

Persoalan itulah yang membuat Waduk Nongsa menjadi penting ketika Batam hanya punya ketergantungan pada air hujan. Dengan karakter geografis yang berbeda dengan banyak kota lain, kota ini tidak ditopang oleh sungai besar yang dapat menjadi sumber air baku utama.

Dalam kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Juni 2026, BP Batam kembali mengakui tingginya ketergantungan Batam terhadap air hujan. “Kami tidak memiliki hutan maupun sungai. Pasokan air sepenuhnya bergantung pada air hujan yang ditampung di delapan waduk,” kata Deputi Bidang Kebijakan Strategis dan Perizinan BP Batam Sudirman Saad. Pernyataan tersebut memperlihatkan satu kenyataan penting bagi Batam bahwa waduk merupakan bagian dari sistem ekologis yang sangat menentukan keberlangsungan kota.

Secara resmi, BP Batam menyebut enam waduk utama menopang sistem penyediaan air minum, yakni Duriangkang, Sei Ladi, Mukakuning, Piayu, Sei Harapan, dan Nongsa. Kapasitas produksi sistem tersebut disebut mencapai 3.487 liter per detik untuk melayani rumah tangga, pariwisata, dan industri. Karena itu, ketika muka air turun, yang terancam bukan hanya produksi air di satu instalasi. Tekanan dapat menjalar ke sistem distribusi dan akhirnya dirasakan pelanggan.

BP Batam sendiri sejak awal 2026 telah mengidentifikasi sejumlah kawasan sebagai stress area, yakni wilayah yang mengalami persoalan tekanan atau kontinuitas distribusi air. Pada Maret, BP Batam dan PT Air Batam Hilir bahkan menyiapkan peningkatan kapasitas suplai hingga 850 liter per detik dan menaikkan total kapasitas suplai yang tersedia dari 4.429 menjadi 4.710 liter per detik.

Dengan kata lain, persoalan air Batam memiliki dua sisi antara air baku yang harus tersedia dan jaringan distribusi yang harus mampu mengantarkannya. Termasuk masalah Waduk Nongsa, Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano mengatakan penurunan air permukaannya berkaitan dengan rendahnya curah hujan di kawasan tangkapan air dan kondisi tersebut berdampak terhadap kapasitas produksi IPAM Nongsa. 

Namun pengoperasian instalasi tetap dilakukan dengan menyesuaikan kondisi sumber air dan sistem distribusi. BP Batam mengoptimalkan interkoneksi antarsistem agar air dari instalasi lain dapat membantu wilayah yang mengalami tekanan pasokan. Strategi ini penting karena sistem yang saling terhubung memberikan ruang bagi pengelola untuk mengalihkan pasokan ketika satu sumber mengalami tekanan. “Semua sumber dan jaringan yang tersedia terus kami optimalkan untuk menjaga pelayanan air bersih, khususnya kebutuhan rumah tangga maupun industri,” ujar Denny.

Strategi serupa sebenarnya telah digunakan BP Batam sejak beberapa bulan sebelumnya. Ketika sejumlah waduk mengalami penurunan muka air, pemerintah mengandalkan kombinasi optimalisasi jaringan, peningkatan kapasitas produksi, dan melakukan intervensi cuaca. Pada Mei 2026, BP Batam bersama BMKG dan AirNav Indonesia menyiapkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca untuk membantu menambah cadangan air di sejumlah waduk, termasuk Nongsa, Sei Ladi, Sei Harapan, Mukakuning, Tembesi, dan Duriangkang.

Pelaksanaan TMC kemudian disebut membantu meningkatkan curah hujan di Batam. BMKG Hang Nadim melaporkan penyemaian awan selama periode tersebut dapat meningkatkan curah hujan sekitar 30–40 persen dan membantu pengisian waduk. Namun hujan buatan tetap merupakan langkah intervensi. Ia dapat membantu menghadapi situasi darurat, tetapi tidak menghapus persoalan mendasar mengenai bagaimana Batam menjaga kawasan yang menerima, menyimpan, dan mengalirkan air hujan.

Di titik inilah penanaman 400 bibit Bambu Betung di Daerah Tangkapan Air Bendungan Sei Nongsa memperoleh maknanya. BP Batam bersama PT McDermott Indonesia menanam ratusan bibit tersebut pada Jumat (7/8) sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan yang bertajuk Preserving Our Water With Bamboo Planting: A Biodiversity Initiative by McDermott Indonesia.

Waduk Nongsa memiliki luas sekitar 21,55 hektare. Bendungan tersebut telah beroperasi sejak 1979 dan menjadi bagian dari sistem penyediaan air baku Batam.

Secara ekologis, vegetasi di daerah tangkapan air memiliki fungsi penting. Melalui akar tanaman yang membantu menahan tanah, mengurangi erosi, memperlambat aliran permukaan, dan memberi kesempatan lebih besar bagi air hujan meresap ke dalam tanah.

Tetapi menanam 400 bambu tentu tidak serta-merta menyelesaikan persoalan air Batam. Nilai sebenarnya dari program itu baru terlihat apabila tanaman bertahan hidup, kawasan tangkapan air terlindungi, tata ruang konsisten, dan tidak terjadi perubahan fungsi lahan yang mengurangi kemampuan kawasan menyerap air.

Denny mengatakan keterlibatan berbagai pihak diperlukan untuk menjaga keberlanjutan sumber air. “Menanam pohon adalah menanam harapan untuk masa depan,” katanya. Pesan tersebut terdengar sederhana. Namun dalam konteks Batam, ia memiliki konsekuensi kebijakan yang jauh lebih penting bahwa menanam pohon harus diikuti dengan menjaga ruang tempat pohon itu tumbuh.

Pandangan tersebut penting karena persoalan daerah tangkapan air Batam telah lama menjadi perhatian kalangan pemerhati lingkungan dan insinyur. Termasuk dari akademisi sekaligus pemerhati lingkungan dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Kepulauan Riau, Prastiwo Anggoro, pernah mengingatkan bahwa keberlanjutan waduk sangat bergantung pada kondisi daerah tangkapan air. 

“DTA di Batam adalah tulang punggung waduk,” kata Prastiwo pada Januari 2026. Ia bahkan memperingatkan bahwa kerusakan DTA dapat memperbesar limpasan permukaan dan sedimentasi, yang pada akhirnya berpotensi mengurangi kapasitas tampung waduk. Prastiwo juga menyoroti kasus dugaan kerusakan kawasan hutan di sekitar DTA Duriangkang.

Pandangan kritis ini perlu ditempatkan secara proporsional. Persoalan air Batam memang tidak dapat seluruhnya dibebankan kepada ekspansi pembangunan, sebagaimana tidak tepat pula menjelaskan seluruh penurunan waduk hanya dengan faktor perubahan iklim. Adanya pertumbuhan penduduk dan industri turut meningkatkan permintaan air. Namun pada saat yang sama, perubahan iklim dapat memperpanjang periode musim kekeringan. Lalu ketika daerah tangkapan air kehilangan tutupan vegetasi, kemampuan kawasan menyimpan air juga dapat melemah. Jika kapasitas tampung waduk berkurang akibat sedimentasi, persoalannya menjadi semakin kompleks.

Dengan demikian, krisis air adalah persoalan pasokan, permintaan, tata ruang, ekologi, dan infrastruktur sekaligus. Karena itulah BP Batam mulai mengembangkan strategi yang tidak semata-mata bergantung pada waduk.

Salah satunya melalui pembangunan instalasi pengolahan air baru di Sei Ladi dengan kapasitas 50 liter per detik. Infrastruktur tersebut diharapkan menambah kemampuan sistem ketika sejumlah sumber mengalami tekanan.

BP Batam juga mengembangkan gagasan pemanfaatan air laut melalui teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), yakni teknologi yang mengolah air laut menjadi air tawar. Pengembangan sumber alternatif sangat penting bagi Batam karena pertumbuhan kota tidak menunjukkan tanda berhenti. Kawasan industri, permukiman, pariwisata, hingga sektor digital membutuhkan air dalam jumlah yang semakin besar. Namun adanya teknologi memiliki konsekuensi biaya dan energi. SWRO, misalnya, dapat menjadi sumber air yang relatif tidak bergantung pada hujan, tetapi pengoperasiannya membutuhkan energi dan infrastruktur pengolahan yang tidak sederhana. 

Karena itu, diversifikasi sumber air sebaiknya tidak dipahami sebagai alasan untuk mengendurkan perlindungan waduk. Sebaliknya, sumber alternatif, interkoneksi jaringan, konservasi DTA, efisiensi penggunaan air, pengendalian kebocoran, dan pengelolaan tata ruang harus berjalan bersamaan ketika membicarakan arah pembangunan Batam. Kebijakannya tidak hanya membangun jalan, kawasan industri, pelabuhan, bandara, pusat data, dan perumahan, melainkan harus memperhatikan ketersediaan air.

Dan air tidak dapat diproduksi hanya dengan membangun gedung atau memperluas kawasan industri. Air memerlukan ruang untuk jatuh, mengalir, meresap, tersimpan, dan kemudian diolah. Karena itu, daerah tangkapan air merupakan bagian dari infrastruktur kota, meskipun ia tidak selalu tampak seperti jalan atau jembatan.

Dalam konteks ini, keputusan untuk mempertahankan satu hektare kawasan resapan bisa sama pentingnya dengan membangun satu unit instalasi pengolahan air. Bahkan mungkin lebih penting dalam jangka panjang.

Penelitian mengenai proyeksi kebutuhan air Batam periode 2026–2035 memperkirakan penduduk kota dapat meningkat dari sekitar 1,31 juta jiwa pada 2026 menjadi 1,45 juta jiwa pada 2035. Studi tersebut menggunakan standar kebutuhan 190 liter per orang per hari dan melihat keseimbangan antara pertumbuhan penduduk, kebutuhan air, dan ketersediaan waduk. Angka itu memberi gambaran sederhana bahwa tekanan terhadap air bukan persoalan satu musim kemarau, melainkan persoalan pertumbuhan kota selama bertahun-tahun.

Ketika muka Waduk Nongsa turun sampai 2,5 meter, pertanyaan yang lebih penting apakah Batam sedang membangun kota yang mampu menjaga airnya sendiri dan sudah seberapa jauh dalam menyiapkan berbagai jawabannya. Termasuk membangun instalasi interkoneksi, peningkatan kapasitas, hujan buatan, pengadaan instalasi baru, SWRO, dan penanaman pohon. 

Semua yang telah dilakukan tentu penting dan layak diapresiasi. Tetapi ukuran keberhasilannya tidak berhenti pada banyaknya instalasi yang dibangun atau banyaknya bibit yang ditanam. Ukuran keberhasilannya adalah apakah sepuluh tahun dari sekarang Batam masih memiliki daerah tangkapan air yang cukup, waduk yang mampu menyimpan air, jaringan distribusi yang andal, dan kebijakan pembangunan yang tidak mengorbankan sumber air demi pertumbuhan jangka pendek?

Persoalan air bukan hanya tentang bagaimana manusia mengambil air dari alam. Ia juga tentang pertanyaan apakah manusia masih menyisakan cukup ruang bagi alam untuk menyimpan air. Demikian pertanyaan bagi Batam sebagai kota yang sebagian besar cadangan air bakunya bergantung pada hujan, apakah tetap dan terus menjaga satu kawasan resapan hari ini. Mungkin sama artinya dengan menjaga keran air yang akan dibuka oleh generasi berikutnya. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll