Waduk Nongsa di Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, Batam, mengalami penyusutan permukaan air yang cukup signifikan. Pantauan lapangan pada Kamis (6/8) memperlihatkan hamparan sedimen tanah merah yang sebelumnya berada di dasar waduk kini muncul ke permukaan dan mengeras akibat kekeringan. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap kapasitas tampung waduk yang menjadi salah satu sumber air baku Kota Batam, sekaligus menghidupkan kembali perdebatan mengenai dampak pembukaan lahan di kawasan daerah tangkapan air (DTA).
Di sejumlah titik tepian waduk, permukaan tanah tampak retak-retak. Area yang sebelumnya tertutup genangan air kini berubah menjadi bentangan lumpur kering berwarna kemerahan. Bekas aktivitas pemotongan bukit dan penggalian tanah di sekitar daerah tangkapan air juga masih terlihat jelas.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, penurunan muka air diperkirakan telah mencapai lebih dari dua meter. Ketika musim hujan tiba, kawasan terbuka tersebut berpotensi menjadi sumber limpasan tanah dan pasir yang terbawa menuju badan waduk. Material itu kemudian mengendap sebagai sedimen yang secara perlahan mengurangi kapasitas penyimpanan air.
Pendiri Akar Bhumi Indonesia (ABI), Hendrik Hermawan, menilai sedimentasi merupakan persoalan yang tidak boleh dipandang sebagai dampak musiman semata, melainkan konsekuensi dari perubahan bentang alam di sekitar kawasan resapan.
"Itu sedimentasi akibat pembukaan lahan. Ketika hujan, lumpur dan pasir bekas galian masuk ke waduk dan mengeras ketika kering," kata Hendrik.
Menurutnya, apabila pembukaan lahan di sekitar daerah tangkapan air terus berlangsung tanpa pengendalian yang memadai, umur layanan waduk akan semakin pendek karena volume tampung air terus berkurang akibat endapan sedimen.
Di sisi lain, pemerintah melalui BP Batam menyatakan ketahanan air baku memang menjadi salah satu perhatian utama sepanjang tahun ini. BP Batam bahkan telah menyiapkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau dan potensi El Nino agar volume air di enam waduk utama, termasuk Waduk Nongsa, tetap terjaga.
Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, sebelumnya mengatakan bahwa upaya tersebut dilakukan untuk menjaga elevasi air tetap berada pada batas aman sehingga distribusi air bersih kepada masyarakat dan kawasan industri tidak terganggu. Sementara Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, menegaskan pemerintah terus memprioritaskan penanganan wilayah yang selama ini mengalami persoalan pasokan air bersih.
Data dalam Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Kota Batam Tahun 2026 menunjukkan Waduk Nongsa memiliki luas genangan sekitar 33,53 hektare, volume tampung sekitar 720 ribu meter kubik, dan kapasitas produksi air baku sekitar 60 liter per detik. Angka tersebut menggambarkan bahwa meskipun bukan waduk terbesar di Batam, keberadaannya tetap menjadi bagian penting dalam sistem penyediaan air bersih kota.
Sejumlah pemerhati lingkungan menilai persoalan utama bukan hanya penurunan debit air akibat musim kemarau, tetapi juga perubahan tata guna lahan di kawasan hulu. Sedimentasi yang terus berlangsung dapat mengurangi daya tampung waduk sehingga kemampuan menyimpan air hujan pada musim penghujan ikut menurun. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekurangan air ketika musim kemarau kembali datang.
Namun demikian, sejumlah kalangan juga mengingatkan bahwa penyusutan permukaan air tidak dapat serta-merta dikaitkan hanya dengan aktivitas pembukaan lahan. Faktor iklim, berkurangnya curah hujan, meningkatnya kebutuhan air bersih seiring pertumbuhan penduduk dan industri, hingga tingginya penguapan selama musim kemarau juga berkontribusi terhadap menurunnya volume air waduk. Karena itu, penyelesaian persoalan membutuhkan pendekatan berbasis data ilmiah, bukan sekadar saling menyalahkan.
Peristiwa yang terjadi di Waduk Nongsa menjadi pengingat bahwa ketahanan air sebuah kota ditentukan kemampuan menjaga kawasan resapan, mengendalikan pembangunan, dan menegakkan aturan lingkungan secara konsisten. Waduk hanyalah tempat menampung air. Jika hutan dan daerah tangkapan air terus kehilangan kemampuannya menyerap hujan, maka waduk akan perlahan kehilangan fungsi utamanya.
Krisis air sering kali tidak datang secara tiba-tiba, tetapi tumbuh sedikit demi sedikit dimulai dari bukit yang dipangkas, tanah yang terbuka, sedimen yang mengendap, hingga akhirnya masyarakat menyadari bahwa cadangan air yang selama ini dianggap selalu tersedia ternyata memiliki batas. (Red)