Mengukur Dampak Gangguan Selat Hormuz Akibat Konflik Iran-Israel terhadap Perdagangan Indonesia

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menyatakan...

Mengukur Dampak Gangguan Selat Hormuz Akibat Konflik Iran-Israel terhadap Perdagangan Indonesia

Ekonomi
02 Mar 2026
272 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Mengukur Dampak Gangguan Selat Hormuz Akibat Konflik Iran-Israel terhadap Perdagangan Indonesia

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menyatakan bahwa dampak konflik di Iran terhadap perdagangan Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah masih perlu dikaji secara mendalam. Pernyataan itu disampaikan dalam jumpa pers di kantor BPS, Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.

Namun, sebagai gambaran awal, ia mengingatkan bahwa terdapat tiga negara mitra dagang utama Indonesia yang berada di jalur strategis Selat Hormuz, yakni Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab. Jalur ini sebagai urat nadi perdagangan energi dunia.

Ateng menjelaskan, nilai impor nonmigas dari Iran ke Indonesia sepanjang 2025 mencapai US$ 8,4 juta. Impor tersebut terdiri atas buah-buahan sebesar US$ 5,9 juta; besi dan baja sebesar US$ 0,8 juta; serta mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya sebesar US$ 0,7 juta.

Sementara itu, ekspor nonmigas Indonesia ke Iran pada 2025 tercatat sebesar US$ 249,1 juta. Komoditas utama yang diekspor meliputi buah-buahan sebesar US$ 86,4 juta; kendaraan dan bagiannya sebesar US$ 34,1 juta; serta lemak dan minyak hewan nabati sebesar US$ 22 juta.

Jika dilihat dari nilainya, hubungan dagang Indonesia–Iran memang tidak sebesar dengan negara mitra utama lainnya. Namun, secara geopolitik, Iran memiliki posisi yang sangat strategis. Negara ini menguasai salah satu sisi Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan Samudra Hindia. 

Menurut data dari U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap harinya. Bahkan, sekitar 20–25 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global juga bergantung pada jalur ini. Maka setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut berpotensi mengguncang harga energi dunia, yang pada akhirnya berdampak pada biaya logistik dan inflasi global, termasuk Indonesia.

Melalui Selat Hormuz juga sebagai lalu lintas perdagangan Indonesia dengan Oman. Secara geografis, Oman berada di sisi selatan Selat Hormuz dan memiliki pelabuhan strategis seperti Duqm dan Sohar yang menjadi simpul distribusi regional. Stabilitas kawasan ini berpengaruh langsung terhadap kelancaran arus logistik.

Hubungan dagang Indonesia dengan Oman menunjukkan nilai yang jauh lebih besar dibanding Iran. Pada 2025, nilai impor nonmigas Indonesia dari Oman mencapai US$ 718,8 juta. Impor ini didominasi oleh besi dan baja sebesar US$ 590,5 juta; bahan bakar organik sebesar US$ 56,7 juta; serta garam, belerang, batu, dan semen sebesar US$ 44,2 juta.

Sebaliknya, ekspor nonmigas Indonesia ke Oman mencapai US$ 428,8 juta, dengan komoditas utama berupa lemak dan minyak hewan nabati sebesar US$ 227,7 juta; kendaraan dan bagiannya US$ 64,2 juta; serta bahan bakar mineral sebesar US$ 48,1 juta.

Sementara rute melalui Selat Hormuz juga hubungan perdagangan Indonesia dengan Uni Emirat Arab (UEA) yang bahkan nilainya lebih signifikan. Pada 2025, nilai impor Indonesia dari UEA mencapai US$ 1,4 miliar. Komoditas impor meliputi logam mulia dan perhiasan sebesar US$ 511,1 juta; garam, belerang, batu, dan semen sebesar US$ 43,2 juta; serta aluminium sebesar US$ 181,6 juta.

Adapun ekspor nonmigas Indonesia ke UEA mencapai US$ 4,0 miliar. Beberapa komoditas utama adalah logam mulia dan perhiasan sebesar US$ 183,6 juta; lemak dan minyak hewan nabati sebesar US$ 510,3 juta; serta kendaraan dan bagiannya sebesar US$ 363,5 juta. UEA, khususnya Dubai dan Abu Dhabi, telah lama menjadi hub perdagangan dan investasi Indonesia di kawasan Teluk. Hubungan kedua negara juga diperkuat melalui perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA) yang ditandatangani pada 2022 dan mulai berlaku pada 2023, sebagaimana dirilis oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.

Dengan nilai perdagangan yang besar tersebut, setiap gangguan keamanan di sekitar Selat Hormuz berpotensi memicu volatilitas harga komoditas, gangguan pengiriman, hingga peningkatan premi asuransi kapal. Sejarah telah menunjukkan bahwa setiap ketegangan di Selat Hormuz segera tercermin dalam lonjakan harga minyak dunia. Ketika terjadi ketegangan serupa pada 2019, harga minyak Brent melonjak dalam hitungan hari. Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan pada pasokan energi dapat memicu tekanan inflasi global.

Ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menyerang Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Sehari kemudian, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker milik Amerika Serikat dan Inggris di Teluk dan Selat Hormuz menggunakan rudal hingga terbakar. Dalam pernyataan yang dimuat di Sepah News dan dikutip sejumlah kantor berita internasional, IRGC juga menyebut menargetkan instalasi militer AS di Kuwait dan Bahrain. 

Klaim ini memicu kekhawatiran pasar global, meski verifikasi independen atas seluruh detail serangan masih berlangsung, yang dapat memberi dampak langsung dan tidak langsung bagi Indonesia. Bagi Indonesia, dampak langsung akan terasa dalam bentuk penurunan nilai perdagangan dengan Iran. Dengan nilai perdagangan bilateral yang sudah relatif kecil dengan Iran dibanding nilai perdagangan Indonesia dengan Uni Emirat Arab dan Oman, nilainya akan semakin kecil. 

Sementara dampak tidak langsungnya akan jauh lebih besar. Kemungkinannya harga minyak dunia mengalami kenaikan karena biaya impor energi untuk Indonesia semakin tinggi, selanjutnya akan memperlebar defisit transaksi berjalan, dan akan memberi tekanan pada APBN melalui subsidi energi. Selain itu, biaya logistik ekspor-impor juga dapat meningkat akibat naiknya premi asuransi dan tarif pengiriman.

Di sisi lain, beberapa analis berpendapat bahwa negara-negara pengekspor komoditas tertentu bisa memperoleh keuntungan jangka pendek dari kenaikan harga global. Namun keuntungan itu seringkali diimbangi oleh tekanan inflasi domestik dan pelemahan daya beli.

Selat Hormuz adalah jalur laut yang sempit, lebarnya hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempit, tapi beban ekonomi yang dipikulnya sangat besar. Karenanya menjadi simbol betapa rapuhnya sistem perdagangan global yang sudah saling terhubung. Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa diversifikasi pasar ekspor, penguatan ketahanan energi nasional, serta efisiensi logistik bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Ketika satu titik kecil di peta dunia bergolak, dampaknya bisa menjalar hingga ke harga bahan pokok di pasar tradisional.

Konflik mungkin terjadi jauh dari Indonesia. Tapi bayang-bayangnya bisa sampai ke meja makan kita. Karena di sanalah letak statistik yang angka-angkanya tiba-tiba berubah dan berpengaruh signifikan pada kenyataan hidup sehari-hari kita. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll