Langit telah menggenapkan diri menjadi gelap. Lampu-lampu teras rumah penduduk mulai menyala satu per satu, samar di kejauhan, serupa bintang-bintang kecil yang sengaja turun dan memilih berdiam di tepi jalan tanah. Angin malam yang berembus pelan membawa aroma tanah kering, wangi dedaunan basah, dan sisa asap dapur yang mengepul pasrah dari atap-atap rumah. Lalu yang paling kukuh menetap dalam ingatan sepanjang jalan pulang bukanlah lanskap malam itu sendiri, melainkan gema suara seorang ibu yang menyambutku dengan ketulusan yang tak pernah kuduga.
Malam itu, aku pulang dengan langkah kaki yang terasa berbeda. Jalanan kampung yang biasanya kulalui tanpa banyak pikiran, mendadak seperti bermandikan pendar cahaya lain yang tak tampak oleh mata jiwa.
Entah mengapa, di sepanjang rute kepulangan ini, wajah Mamah terus membayangi isi kepalaku. Dari cara beliau mempersilakanku melintasi ambang pintu, intonasi teduh saat bertanya, dan binar tulus di matanya ketika merengkuh kedatanganku, menyeruak kehangatan bersahaja yang memelukku siang tadi. Mungkin karena bersahaja itulah merembas begitu dalam ke lubuk batin. Ia mewujud seperti secangkir teh pekat yang mengepul di malam jahanam kala hujan, yang tidak mewah, tidak istimewa, tetapi teramat cukup untuk membuat jiwa yang asing merasa diakui dan diterima.
Aku melangkah perlahan, sengaja memperlambat ritme kaki menyusuri jalanan yang mulai lengang. Sesekali, koor suara jangkrik menyelinap dari balik gulita pematang sawah. Sesekali pula, lamat-lamat terdengar desis suara televisi dari balik jendela rumah warga yang masih dibiarkan terbuka.
Di tengah kesunyian yang merayap turun, ruang pikiranku justru sedang ramai-ramainya. Aku menata dan mengingat kembali setiap jengkal percakapan yang terjadi siang tadi. Membayangkan ulang pekarangan rumahnya, mengingat detail perabot ruang tamunya, hingga meraba kembali suara langkah kaki ringkih Fahlia ketika pertama kali muncul dari balik tirai dalam rumah.
Dan aku layaknya seorang pembaca yang berhasil menemukan halaman favorit dalam sebuah kitab pusaka, aku membaca dan merenungkan kembali fragmen-fragmen itu berulang-ulang di dalam kepala tanpa rasa bosan. Sebab malam menjelma menjadi ruang tunggu dan tungku tempat berkumpulnya kenangan.
Jika siang hari yang bising, kesibukan duniawi berhasil memalsukan segala sesuatu hingga tampak biasa saja. Lalu ketika malam resmi berkuasa dan riuh dunia mulai surut, hal-hal kecil yang semula dianggap remeh perlahan mengembang, bersulih rupa menjadi peristiwa-peristiwa yang teramat berarti.
Demikian pula yang terjadi padaku malam itu. Pertemuan singkat yang dipicu kenekatan itu tiba-tiba membuka paksa lembaran-lembaran lama yang selama ini kusimpan rapi di sudut ingatan yang berdebu. Aku kembali dituntun untuk mengingat bagaimana semuanya bermula. Bagaimana mula-mula aku menyadari keberadaannya. Bagaimana garis wajah itu pertama kali menyembul di antara kerumunan riuh anak-anak sekolah yang setiap hari bertaruh peluh untuk berangkat dan pulang di dalam lambung kendaraan yang sama.
Dan setiap kali bentangan kenangan itu datang mengetuk, pikiranku selalu ditarik paksa untuk kembali pada satu perjalanan purba yang tak pernah benar-benar mampu dihapus oleh sang waktu. Sebuah perjalanan di dalam bus tua yang sesak, pengap, dan riuh oleh pelbagai watak penumpang. Sebuah ritme harian yang tampaknya teramat biasa dan menjemukan bagi siapa pun yang menyaksikannya dari tepi jalan. Tetapi letaknya di sanalah, di antara deru mesin bus tua yang meraung lelah, kepulan debu jalanan yang menyergap lewat celah kaca, dan himpitan seragam-seragam putih-biru yang saling berdesakan adalah kisah yang mengubah separuh duniaku, yang diam-diam memulai langkah pertamanya.
Sesudah sekian lama kami tak bersua, kenangan tentang perjumpaan siang itu justru semakin karib bertamu tanpa pernah diundang. Ia hadir menyerupai gerimis tipis yang turun merayap pada petang hari. Tidak gaduh, tidak pula memaksa, tetapi perlahan membasahi seluruh hamparan halaman ingatan.
Ada jenis kenangan yang menguap dan memudar karena kikisan waktu, ada pula yang justru tampak semakin benderang dan kokoh setiap kali bentangan jarak bertambah panjang. Pertemuan pertama dengannya mutlak termasuk golongan yang kedua. Ingatannya menetap diam-diam di sudut labirin pikiranku, serupa sepasang lampu teplok kecil yang terus menyala di sebuah rumah panggung tua yang telah lama ditinggalkan penghuninya.
Aku sering bertanya-tanya pada kesunyian diriku sendiri, apakah seluruh rangkaian perjumpaan itu benar-benar murni sebuah kebetulan, atau justru takdir hebat yang sedang menyamar dengan pakaian kebetulan. Sebab, hidup acap kali bekerja dengan cara yang ganjil sekaligus rahasia. Seperti sengaja mempertemukan dua manusia melalui jalur-jalur biasa yang tampak menjemukan, seolah tidak ada sesuatu yang mahapenting sedang dipersiapkan di ujung jalan. Padahal, mirip jalinan akar pohon raksasa yang tumbuh menjalar jauh di kegelapan bawah tanah, sesuatu yang besar dan abadi seringkali mengawali langkahnya dari gerakan-gerakan kecil yang nyaris tak kasat mata.
Pada mulanya, pertemuan pertama itu mungkin hanyalah akibat dari sebuah aturan yang kaku. Sesederhana itu. Sebagaimana sebuah negara merakit kebijakan sosial demi mengatur hajat hidup warganya seperti yang pernah kubaca tentang bagaimana pemerintah Singapura mendesain berbagai aturan sosiologis untuk mendorong warganya saling bertukar sapa, saling mendekat, lalu membangun keluarga. Tampaknya, kisah kami berhulu dari hal-hal birokratis dan regulasi serupa.
Tentu saja skala cerita kami tidak semegah urusan kedaulatan sebuah negara. Namun kadang aku termenung, bukankah banyak peristiwa monumental dalam sejarah hidup manusia justru lahir dari aturan-aturan yang tampaknya remeh? Sebuah jadwal linimasa, jadwal bunyi bel sekolah, jadwal jam pulang yang berdentang, lalu semesta tanpa sengaja mempertemukan dua pasang mata yang sebelumnya sama sekali asing. Demikian itu pula barangkali adalah awal mula kisah kami.
Pada masa itu, Dinas Pendidikan dan Departemen Agama menetapkan jadwal masuk dan pulang sekolah yang hampir seragam. Bel pertama berbunyi pada ketukan waktu yang sama. Bel terakhir pun berdentang hampir bersamaan. Di kampung kami yang bersahaja, tempat jalan-jalan aspal, jalan berbatu putih, dan jalan tanah kecil membelah bentangan sawah dan kebun menyerupai urat-urat tipis di telapak tangan, oleh karena aturan itu membuat arus anak-anak sekolah bergerak dalam gelombang waktu yang sama setiap hari.
Maka setiap pagi yang berkabut dan siang yang membakar, siswa SMP dan Madrasah Tsanawiyah berbaur dalam rute perjalanan yang sama. Kami berjalan kaki dari rumah masing-masing menuju simpang jalan beraspal, bertemu kawan dan saling melempar canda, sampai berlari kecil mengejar kendaraan, atau sama-sama berdiri dalam menanti di sebuah tepian jalan. Dengan seragam yang berbeda model dan warna, tetapi sama-sama membawa tas sekolah berisi mimpi-mimpi remaja yang serupa.
Dan tidak ada seorang pun di antara kerumunan riuh itu yang menyangka, bahwa di balik keriuhan rutinitas perjalanan pergi dan pulang sekolah, ada sepasang hati yang diam-diam sedang digiring menuju poros kisahnya sendiri.
Sebab pada masa itu, bus kota tua yang melewati sekolah kami bukanlah moda transportasi modern yang datang setiap beberapa menit sekali sebagaimana di kota-kota besar. Kendaraan jompo itu lebih mirip sosok paman tua yang sesekali berkunjung ke rumah saudara jauh yang datangnya tak pernah menentu, dan perginya sering terburu-buru.
Konsekuensinya, siapa pun yang ingin segera sampai di rumah harus menebalkan kesabaran untuk mengantre di tepian jalan. Dan ketika bus itu akhirnya datang merapat dengan suara mesin yang batuk-batuk, semua anak sekolah akan saling sikut, berdesakan merangsek masuk ke dalam lambungnya. Kami seakan dicekam oleh ketakutan yang sama bahwa kesempatan untuk pulang baru akan datang kembali beberapa jam kemudian. Di dalam lambung kendaraan yang pengap dan sempit itulah, ruang pertemuan kami bermula, memahat babak pertama dari sebuah cerita yang takkan pernah usai ditulis oleh waktu.
Mula-mula, sosoknya hanyalah salah satu wajah biasa di antara puluhan wajah anak sekolah lainnya. Hanya salah satu penumpang di antara kerumunan tubuh yang limbung bergoyang mengikuti laju kasar kendaraan. Tidak ada yang istimewa, tidak ada yang menonjol. Setidaknya, begitulah penilaian dangkal yang kupelihara saat itu.
Namun, takdir kehidupan mengubah arah mata angin tanpa pernah memberi aba-aba terlebih dahulu. Pada suatu siang yang terik, yang kini tak lagi mampu kuingat tanggal dan bulannya di kalender, sesuatu terjadi begitu saja di dalam bus itu. Pandanganku yang biasanya bebas menjelajah ke luar jendela, menatap pohon-pohon atau tiang listrik yang berlarian, mendadak seperti menemukan titik henti yang absolut. Seolah-olah jiwaku baru saja menemukan sebuah dermaga teduh yang selama ini kucari tanpa kusadari keberadaannya.
Sejak detik magis itu, sepasang mata dan pikiranku tidak lagi merasa perlu berlayar terlalu jauh ke luar sana. Awalnya, aku yang semula mati-matian berusaha bersikap biasa saja. Aku mencoba menjaga arah mata agar tidak terlalu sering melirik. Aku menahan leherku agar tidak terlalu kentara menoleh ke arah bangku tempatnya duduk. Tetapi, seluruh usaha pertahanan diri itu rupanya teramat rapuh, mirip pagar bambu reyot yang dipaksa bertahan menerpa amukan angin musim barat.
“Kenapa kau mendadak diam saja?” tanya Dema, kawanku yang duduk di sebelah, memecah lamunanku suatu hari ketika bus sedang melaju kencang.
Aku tersentak, gugup luar biasa. “Hah? Siapa yang diam?”
“Kau. Dari tadi matamu mengunci ke arah yang sama terus,” seloroh Dema, matanya menyipit penuh selidik.
Aku buru-buru memalingkan wajah, melemparkan tatapan ke kaca jendela yang buram oleh debu. “Perasaanmu saja yang salah.”
Dema tertawa kecil, tawa usil khas remaja yang seketika membuat nyaliku menciut. “Kalau perasaanku yang salah, kenapa dua daun telingamu mendadak berubah merah begitu?”
Aku memilih bungkam, mengunci rapat mulutku. Sebab aku tahu, beberapa jenis pertanyaan di usia remaja memang jauh lebih aman dibiarkan menggantung tak berjawab di udara, ketimbang dipaksa jujur tapi bisa meruntuhkan harga diri.
Namun di dalam palung hati yang paling dalam, aku tahu persis apa yang sedang terjadi pada diriku. Telah ada satu objek asing yang berhasil menyita dan menarik seluruh gravitasi perhatian mataku. Atau mungkin konstelasi kalimatnya harus dibalik: bukan dia yang menarik mataku, melainkan sepasang mataku sendirilah yang dengan sukarela memilih untuk tinggal dan menetap lebih lama di sana.
Sulit untuk menjelaskan perbedaan tipis di antara keduanya. Yang pasti, sejak hari itu, wajah-wajah penumpang lain di dalam lambung bus tua itu mendadak bersulih rupa menjadi latar belakang yang kabur dan pudar. Mereka tetap ada di sana, memenuhi ruangan, tetapi tidak lagi memiliki kuasa untuk menjadi pusat perhatianku.
Wajahnya manis, tetapi jenis manis yang teduh, bukan manis yang berisik. Bukan pula tipe kecantikan yang memaksa atau memburu setiap pasang mata untuk menoleh. Ada selapis kelembutan yang teramat sulit diterangkan oleh kamus kata-kata mana pun. Sebuah kelembutan yang bertamu layaknya pendar cahaya lampu rumah panggung di kejauhan ketika malam mulai merayap turun. Ia sama sekali tidak menyilaukan, tetapi teramat cukup untuk membuat seseorang terpaku dan terus memandang tanpa merasa jemu.
Dalam memasuki tahun kedua sekolah menengah, intensitas pertemuan-pertemuan bisu itu berubah menjadi semakin sering. Hampir setiap hari aku melihatnya, meskipun durasinya kerap kali dipangkas paksa menjadi hanya beberapa menit saja di dalam perut bus atau di tepian jalan tempat ia menunggu bus datang bersama teman-temannya. Namun anehnya, bentangan beberapa menit yang singkat itu terasa bergulir jauh lebih panjang dan abadi, ketimbang berjam-jam pelajaran matematika atau sejarah yang menjemukan di dalam kelas.
Setiap kali takdir mempertemukan kami dalam satu ruang, tanpa sadar aku selalu mengunci perhatian pada parasnya. Air muka gadis itu senantiasa tampak tenang dan bersahaja, seolah-olah ia sengaja membawa payung cuacanya sendiri yang berbeda dari kepengapan suasana. Seulas senyum tipis yang sesekali terbit di bibirnya terasa menyerupai sapuan matahari pagi atau siang, berhasil menembus sela-sela gumpalan awan kelabu setelah semalaman suntuk dihajar hujan.
Bagi orang lain, barangkali itu bukan sesuatu yang luar biasa. Namun bagiku, gerak bibir yang sederhana itu sudah lebih dari cukup untuk menjungkirbalikkan seluruh suasana di dalam ruang batinku. Kadang aku memandangnya diam-diam dari balik sandaran bangku belakang. Kadang aku hanya berani menikmati siluetnya melalui pantulan kaca jendela bus yang berdebu. Dan tak jarang pula, aku harus mencuri pandang lewat celah sempit di antara bahu para penumpang dewasa yang berdiri berdesakan.
Setiap kali momen-momen curian itu berhasil kulakukan, selalu ada desir ganjil yang sulit kujelaskan. Wajah manisnya lumer di mataku seperti cahaya lampu neon yang tetap tampak benderang meski siang sedang berada di puncak terangnya. Tentu, aku tidak sedang membual bahwa sinarnya sanggup mengalahkan keagungan matahari. Tidak. Matahari tetaplah matahari, sang penguasa tunggal bagi seluruh hamparan bumi. Namun di dalam ruang sempit bernama perasaan seorang anak remaja, cahaya dari wajah Fahlia rupanya memiliki hukum fisikanya sendiri. Ia bekerja dengan mekanismenya sendiri yang rahasia. Ia merayap dan menemukan jalannya sendiri menuju pusat hati tanpa bisa kucegah.
Di dalam lambung bus yang selalu penuh sesak itu. Di antara wajah-wajah letih penumpang yang silih berganti naik dan turun. Di antara lengkingan suara kernet yang berteriak parau berburu sepeser ongkos. Di antara kepulan abu jalanan dan deru mesin jompo yang bergetar hebat sepanjang rute perjalanan. Wajah manisnya tetap menjadi satu-satunya titik yang paling mudah kutemukan.
Seolah-olah seluruh keriuhan makhluk hidup di dalam bus itu hanyalah aliran arus sungai yang sedang bergerak deras. Dan tepat di tengah-tengah aliran itu, dia berdiri sebagai satu-satunya batuan kokoh yang memaksa jangkar pandanganku berhenti berlayar. Sejak detik itulah, tanpa pernah benar-benar kusadari, kitab sejarah yang kelak mengubah banyak hal dalam hidupku perlahan mulai merangkai kalimat pertamanya.
Meski demikian, jika kuingat-ingat kembali hari ini, memang kasihan sekali dia. Hampir setiap kali aku mendapati sosoknya di dalam bus, ia lebih sering menghabiskan waktu dengan berdiri ketimbang duduk nyaman. Tubuhnya yang tampak ringkih itu harus bertarung sendirian menahan empasan guncangan kendaraan tua yang hobi mengerem mendadak. Jemari kecilnya berpegangan erat pada besi sandaran bus yang catnya sudah mengelupas parah dimakan usia.
Sementara aku? Entah mengapa, pada detik-detik itu aku hanya bisa terpaku lumat memandangnya dari kejauhan jembatan egoku. Ada letupan keinginan yang membakar dada untuk melakukan sesuatu. Entah itu sekadar berdiri dan merelakan jatah kursiku untuknya kalau kebetulan aku sudah dapat kursi, atau melangkah mendekat demi membantunya memegang tas.
Namun, pada usia sehijau itu, keberanian seorang anak laki-laki harus bertekuk lutut kalah oleh rasa malu yang sialnya tumbuh jauh lebih cepat dan subur ketimbang kata-kata. Aku hanya bisa diam, merutuki ketidakberdayaanku sendiri di atas kursi bus yang mendadak terasa bersalah karena terasa terlalu nyaman.
Bus tua itu melaju lambat, menyerupai replika dari kehidupan yang penuh sesak dan bising oleh rupa-rupa keluhan, dan teramat jarang menyisakan ruang yang cukup lapang bagi siapa pun untuk sekadar merasa nyaman. Tanpa memedulikan batas, ia terus menyambut manusia-manusia yang naik dan turun di setiap titik pemberhentian, demi menjaga muatan tetap penuh sepenuh-penuhnya.
Kendaraan itu tak pernah acuh apakah tubuh-tubuh penumpang didera gerah yang menyiksa, sebab di dalam sana, kami dipaksa ditata rapat menyerupai lembaran-lembaran buku usang. Lalu, setiap kali badan bus dihantam guncangan oleh tikungan tajam atau jalanan terjal, susunan tubuh kami seketika porak-poranda. Terlempar kesana-kemari bagai halaman-halaman kertas yang dibuka paksa oleh amukan angin musim barat.
Di dalam lambung yang pengap itu, tidak ada yang benar-benar menetap atau peduli satu sama lain, kecuali beberapa raut wajah yang perlahan mulai terasa akrab akibat terlalu sering berpapasan dalam rute kepasrahan yang sama. Sebagian besar penumpang yang memenuhi lambung bus memang tidak beruntung untuk bisa naik sejak dari Terminal Cibantar. Mereka muncul begitu saja dari simpang-simpang jalan tanah atau berbatu putih, dari mulut gang-gang kecil yang berdebu kering, atau dari tepian pematang sawah, atau dari deretan warung bambu yang berdiri seadanya di pinggir aspal. Mereka naik dengan membawa beban masing-masing. Seperti kami membawa tas sekolah yang sarat buku, kantong belanjaan yang lecek, atau sekadar guratan wajah lelah yang sialnya sudah lebih dahulu akrab dengan kerasnya didikan hidup.
Maka setiap kali roda bus mendecit berhenti sejak dari terminal, ruang yang semula sudah sempit berubah menjadi semakin mengimpit. Kesempatan untuk mendapatkan sejengkal tempat duduk perlahan menguap dan menghilang, serupa bayangan tiang listrik yang perlahan ditarik angin. Saat fajar berangkat maupun siang petang menjelang pulang sekolah.
Kami para pelajar yang tubuhnua masih tanggung itu sebenarnya hanya menjadi penumpang yang numpang lewat. Jarak tempuh perjalanan kami tidak pernah sepanjang rute orang-orang dewasa yang hendak mengadu nasib ke pusat kota atau pasar induk. Karena durasinya yang singkat itulah, kami hampir tak pernah mencicipi apa yang dinamakan kenyamanan. Sebab jok-jok bus yang bungkus kulitnya sudah banyak robek dan mengelupas itu, memperlihatkan gumpalan busa kuning yang mencuat keluar menyerupai kapas tua yang kehilangan bentuk, menjelma takhta suci yang diperebutkan oleh banyak kepala.
Kadang-kadang, aku memandangi jok-jok rusak itu dan merenungkan betapa ganjilnya tabiat manusia. Bahkan untuk sekadar menduduki seonggok kursi yang telah lusuh, berbau apek, dan hampir hancur pun, kami rela saling sikut dan berlomba. Mungkin karena kenyamanan, sekecil dan seremeh apa pun wujudnya, akan selalu berubah menjadi barang mewah yang teramat berharga bagi mereka yang seumur hidupnya jarang memilikinya.
Dalam urusan ini, aku termasuk golongan yang diberkati nasib baik karena bisa naik dan turun langsung dari titik mula di terminal. Sejak bus tua itu masih dalam posisi mengetem, atau beberapa menit sebelum sang sopir menghidupkan mesin sepenuhnya hingga batuk-batuk, aku di antara mereka yang sudah melesat masuk ke dalam lambung bus.
Bersama puluhan anak sekolah lainnya yang memiliki ambisi serupa, aku berlomba memburu kursi kosong seolah-olah kami sedang terlibat dalam sebuah kompetisi rahasia yang tidak pernah diumumkan secara resmi oleh kepala sekolah. Kami menyisir tangkas satu demi satu bangku, melemparkan tas ransel kumal sebagai segel penanda hak milik, lalu duduk dengan hembusan napas puas seakan baru saja memenangkan sepetak tanah warisan yang besar.
“Cepat, cepat! Yang deretan belakang masih ada yang kosong!” teriak salah seorang temanku, suaranya melengking tinggi mengalahkan deru angin.
“Jangan dorong-dorong, bodoh! Nanti tas kita jatuh ke lantai!” sahut Sudrajat tak kalah nyaring. Keributan-keributan kecil itu melebur sempurna dengan raungan mesin jompo dan pekatnya aroma solar yang menyergap paru-paru di udara pagi. Semua kegaduhan itu berlangsung konstan hampir setiap hari, menjelma menjadi sebuah ritual suci tanpa tertulis yang anehnya selalu dipatuhi dengan takzim oleh kami semua.
Meski demikian, roda keberuntungan tidak selamanya sudi berputar di pihakku. Ada hari-hari di mana aku harus pasrah berdiri tegak sejak bus bergerak meninggalkan pelataran terminal hingga tiba di depan gerbang halaman sekolah. Selama perjalanan yang memakan waktu setengah jam itu, tubuh remajaku dipaksa bergoyang liar mengikuti irama roda yang menghantam jalanan berlubang, kedua tangan mencengkeram erat pada besi pegangan yang dingin dan berkarat, sementara sepasang mata melemparkan pandangan kosong pada lanskap luar yang bergerak mundur di balik kaca jendela.
Pada momen-momen melelahkan seperti itulah, perlahan-lahan aku mulai mengecap pemahaman pahit bahwa hidup memang tidak pernah menyediakan tempat duduk yang nyaman bagi setiap orang. Ada kalanya, kita mutlak harus belajar cara berdiri dengan tegak, meskipun kedua kaki mulai pegal didera linu dan ujung perjalanan masih teramat panjang untuk diraba. Apalagi setiap kali bus melewati simpang demi simpang jalan, volume manusia yang merangsek masuk terus bertambah tanpa ampun.
Kendaraan yang semula hanya penuh, kini berubah total menjadi lautan daging yang berhimpitan. Tubuh-tubuh kami saling menempel rapat. Tas-tas sekolah yang sarat muatan saling berbenturan kasar. Namun anehnya, suara derai tawa, obrolan kosong, dan teriakan panggilan antarteman tetap bersahut-sahutan dengan riang, menyerupai kawanan burung yang memenuhi ranting pohon pada pagi hari yang cerah.
Dari kejauhan, di tepian aspal berikutnya, rombongan anak-anak berseragam putih-biru lainnya sudah tampak, sedang menanti kedatangan kami. Mereka selalu naik secara berkelompok, menyumbat pintu bus dengan keriuhan yang khas remaja. Dan hampir setiap hari, wajah-wajah yang sama kembali muncul dalam rute yang sama, seakan-akan seluruh anak manusia dari penjuru desa sedang digiring bersama-sama menuju masa depan mereka masing-masing dengan menumpang pada kendaraan tua yang ringkih itu.
Anak-anak perempuannya yang hampir seluruhnya mengenakan kerudung, selembar kain-kain putih bersih itu berkibar pelan terkena angin ketika mereka berlari kecil memburu pintu bus, lalu jatuh teratur dengan rapi ketika tubuh mereka telah berhasil menyelinap di antara kerumunan di dalam. Ada denyut kesederhanaan yang teramat sulit dijelaskan pada pemandangan linimasa itu. Sebuah kesederhanaan yang kini, setelah bertahun-tahun berlalu, hanya tersisa sebagai fosil kenangan yang mahal di kepala.
Tetapi mungkin, perbedaan kasta estetis antara siswi Madrasah dan siswi SMP sebenarnya teramat mudah untuk dikenali sekilas mata. Anak-anak perempuan dari Madrasah senantiasa mengenakan rok kain panjang yang menjulur anggun hingga menyentuh batas mata kaki. Langkah-langkah kaki mereka tampak jauh lebih tenang, santun, dan menutup diri, seolah-olah tumpukan aturan normatif sekolah ikut mengejawantah ke dalam cara mereka mengayunkan kaki.
Sementara, anak-anak perempuan dari SMP tampak jauh lebih dinamis dan beragam. Ada segolongan yang memilih mengenakan rok panjang semata kaki seperti siswi Madrasah, dan tidak jarang pula yang mengenakan potongan tiga perempat yang memperlihatkan betis-betis remaja yang bergerak gesit dan lincah ketika harus berlari mengejar bodi bus yang hendak melesat pergi.
Begitu pula halnya dengan anak-anak laki-lakinya. Para santri atau siswa Madrasah diwajibkan mengenakan celana panjang. Sedangkan kami, anak-anak SMP, mutlak dipaksa mematuhi aturan untuk memakai celana pendek berwajah janggal. Di mata kami yang baru saja mencicipi gerbang pubertas, perbedaan potongan kain belaka itu terasa seperti sebuah jurang pemisah yang teramat besar dan memalukan. Hari ini ketika aku membalik ulang lembaran memori itu, semuanya tak lebih dari sekadar detail-detail kecil yang diam-diam bertugas memberi warna kontras pada kanvas masa lalu.
“Enak ya jadi anak Madrasah, celananya panjang gagah,” keluh Sudrajat pada suatu pagi yang basah, sembari memandangi lututnya sendiri yang terbuka.
“Iya, jengkel aku. Kita kalau potongannya sedikit saja agak kepanjangan melewati lutut, besoknya langsung habis ditegur guru piket,” sahut Dema yang lain bersungut-sungut. Lalu kami tertawa bersama setelahnya. Tetapi di balik derai tawa remaja itu, sesungguhnya tersimpan rasa dongkol yang amat jujur.
Sampai detik ini, aku tidak pernah benar-benar tahu dari mana asal-usul blueprint peraturan celana pendek untuk anak SMP itu bermula. Mungkin memang murni lahir dari meja birokrasi pemerintah pusat, atau jangan-jangan hanyalah warisan kebijakan kolonial yang diestafetkan dari generasi ke generasi guru tanpa pernah ada satu kepala pun yang berani mempertanyakannya kembali. Seperti banyak rupa aturan absurd lainnya dalam hidup manusia dewasa, kami dipaksa menjalaninya begitu saja tanpa pernah diberi hak untuk memahami alasan waras di baliknya.
Yang jelas, bagi kami anak laki-laki SMP, regulasi celana pendek itu terasa merenggut wibawa dan merepotkan. Ada fase di mana kami memiliki ego tersembunyi untuk mengenakan celana yang sedikit lebih panjang ke bawah agar sepasang lutut kurus kami tidak terlalu terekspos murahan di depan umum. Bukan karena alasan ideologis. Hanya karena kami ingin merasa lebih nyaman. Hanya karena kami ingin merasa sedikit lebih pantas dan dewasa di hadapan anak-anak perempuan. Namun, keinginan komparatif yang teramat sederhana itu seringkali harus karam, berakhir menjadi santapan teguran keras di tengah lapangan upacara.
“Celanamu ini kepanjangan, melanggar aturan! Besok potong dan perbaiki!” Begitulah lengkingan suara guru pembina kesiswaan yang gemanya masih kukuh tersimpan di labirin ingatanku hingga hari ini.
Kami hanya bisa menekuk leher, menunduk sedalam-dalamnya menatap ujung sepatu yang kotor. “Iya, Pak. Maaf.”
Tidak ada ruang untuk bantahan. Tidak ada celah untuk perlawanan. Pada usia sehijau itu, sosok guru adalah manifestasi hukum mutlak yang berjalan di atas dua kaki. Apa pun titah yang keluar dari celah bibir mereka terasa menyerupai keputusan sakral yang turun langsung dari langit tertinggi. Dan kami, mirip barisan penumpang muda yang patuh di dalam lambung bus tua yang berguncang itu, hanya bisa belajar mengikuti ke mana pun arah kemudi perjalanan dibawa, tanpa pernah benar-benar mengerti di mana semua jalinan jalan ini kelak akan bermuara.
Namun di tengah belantara keriuhan seragam putih-biru yang berdesakan itu, di antara rimba aturan kaku yang kami patuhi tanpa banyak bertanya, dan di antara repetisi perjalanan-perjalanan pendek rumah dan sekolah yang selalu terasa panjang itu, seraut wajah Fahlia tetap menjadi satu-satunya hal yang paling mudah dipindai oleh mataku.
Seolah-olah, seluruh bus yang pengap dan jompo adalah sebuah miniatur dunia fana yang terus bergerak liar tanpa arah. Tepat di tengah-tengah dunia yang berguncang hebat itu, sepasang mataku diam-diam selalu bergerak mekanis. Membuang sauh untuk berlayar mencari satu orang yang sama. Mencari satu garis wajah teduh yang sanggup menyulap rute perjalanan paling menjemukan sekalipun, berubah menjadi sebuah ziarah suci yang memiliki tujuan yang sepenuhnya berbeda.
Dalam bus tua yang terus bergerak merayap perlahan itu, menyerupai seekor kerbau tua kurus yang dipaksa menarik beban bajak melebihi batas kemampuannya. Muatannya yang sebenarnya sudah mencapai ambang batas sejak roda-rodanya berputar meninggalkan pelataran terminal. Namun, setiap kali bodi bus tiba di sebuah persimpangan, selalu ada saja rombongan penumpang baru yang mutlak harus diangkut masuk.
Tidak ada pilihan lain bagi kami. Armada bus angkutan di daerah kampung kami terhitung terlalu sedikit. Sementara jumlah kepala yang harus bergegas berangkat sekolah, mengadu nasib mencari nafkah, atau pergi berdagang ke pasar jumlahnya teramat melimpah. Akhirnya, kendaraan itu pasrah menerima siapa saja yang masih sanggup diselipkan ke dalam sela-sela ruang yang sudah kepalang sesak.
Baru beberapa meter roda menggelinding, bus kembali mendecit berhenti. Pintu lipatnya terbuka dengan suara berderit kasar. Beberapa anak sekolah merangsek naik. Bus bergerak lagi, berguncang hebat. Lalu berhenti lagi.
Begitulah lingkaran repetisi itu terus berulang. Mulai dari Simpang Cisempur, melintasi Cilutung, membelah Cikaret, melewati Sekung, merayap di Ciranca, hingga akhirnya menyentuh bentangan jalan rata di depan gerbang sekolah kami. Rombongan demi rombongan penumpang terus berdatangan tak ada habisnya. Seragam-seragam putih-biru seketika mendominasi pandangan mata. Tas-tas ransel bergelantungan pasrah di bahu-bahu yang menyempit. Suara riuh percakapan yang tumpang-tindih melebur sempurna dengan raungan putus asa dari mesin tua, yang seolah sedang mengeluh parau menanggung beban tirani yang teramat berat.
Kadang-kadang aku membatin, kendaraan ringkih itu bukan lagi sebuah bus kota. Ia telah bersulih rupa menyerupai seonggok perahu nabi yang dipaksa menampung seluruh denyut nadi penghuni kampung dalam satu kali pelayaran sunyi. Tubuh-tubuh manusia saling mengimpit tanpa jarak. Bahu remaja bersentuhan karib dengan bahu orang dewasa. Tas sekolah menekan punggung penumpang lain tanpa sengaja.
Dan ketika bus akhirnya tiba di depan gerbang sekolah kami, urusan turun dari kendaraan pun bermutasi menjadi sebuah perjuangan fisik tersendiri. Kami harus memohon jalan berkali-kali, menyelip takzim di antara kerumunan tubuh yang berkeringat, bahkan tidak jarang dari kami hampir terbawa terus ke pemberhentian berikutnya hanya karena teramat sulit mencapai bibir pintu keluar.
“Permisi turun. Kiri turun.”
Suara parau itu berulang menjadi mantra harian kami. Namun sering lengkingan suara sekecil itu karam begitu saja, tenggelam di dalam riuh rendah kepengapan penumpang yang sama-sama sedang mempertaruhkan sisa napas untuk bertahan di ruang yang sempit.
Lalu di hari-hari tertentu, tepat di tengah-tengah keriuhan yang sesak dan melelahkan itulah, takdir kembali mempertemukan aku dengan pemilik sepasang mata yang sejak lama diam-diam telah mengusik ruang pikiranku.
Entah bagaimana kalimat yang tepat untuk menjelaskannya. Mungkin begini saja. Telah ada jenis wajah yang memang indah untuk sekadar dipandang sesaat. Ada pula jenis kecantikan yang sanggup membuat orang menoleh kagum sekali, lalu melupakannya begitu saja setelah berganti hari. Tetapi, ada satu kategori wajah langka yang diam-diam memilih untuk tinggal, menetap, dan mendirikan rumah di dalam ingatan kita, bahkan setelah sang pemilik wajah telah lama melangkah pergi.
Garis wajah Fahlia mutlak termasuk ke dalam golongan terakhir itu. Saat menangkap siluet tubuhnya yang berdiri tegak di antara himpitan kerumunan penumpang, tiba-tiba menyeruak sebuah keinginan ganjil di dalam dadaku, sebuah keinginan yang jika kuingat-ingat kembali hari ini, terasa teramat menggelikan, sekaligus manis. Ingin sekali aku menjelma menjadi pahlawan yang bisa menolongnya. Bukan karena ia sedang berada dalam terkaman bahaya yang mengancam nyawa, melainkan karena seorang remaja gemar menciptakan narasi-narasi megah yang jauh lebih besar daripada kenyataan hidup yang sedang berjalan.
Dalam bentangan khayalku yang masih teramat lugu saat itu, aku bermimpi menjadi seorang pangeran berkuda yang datang menyelamatkan putri salju yang tersesat di dalam labirin senja yang sunyi. Aku berimajinasi menjadi seorang ksatria yang baru saja pulang memenangkan medan pertempuran, lalu disambut hangat oleh seseorang yang telah lama setia menanti kepulangannya di ambang pintu.
Padahal, jika tirai khayalan itu disingkap, realitasnya teramat jenaka bahwa kami hanyalah dua anak sekolah bertubuh tanggung, yang sedang berdiri berdesakan dengan nyawa yang pas-pasan di dalam lambung bus tua yang dipenuhi bau solar pekat dan kepulan debu jalanan. Mungkin begitulah cara kerja cinta pada usia belasan tahun, yang menyemai benih dari hal-hal yang teramat sepele, lalu dengan lancang menjelmakan dirinya menjadi sebuah cerita raksasa sebesar bentangan langit di dalam kepala.
Aku tidak pernah tahu pasti, apakah orang-orang lain di dalam bus memandang wajahnya dengan cara yang sama seperti mataku memandangnya. Memang jamak beredar selentingan di antara anak-anak sekolah bahwa guratan wajah gadis itu sekilas mirip dengan sosok aktris India yang tengah naik daun di layar kaca kala itu. Bukan karena ia memiliki kecantikan yang mencolok mata secara berlebihan atau kosmetik yang mahal, melainkan karena ada sejenis magnet magis yang membuat sepasang mata mana pun akan merasa betah dan teduh untuk berlama-lama menatapnya. Menatap sebuah wajah yang nyaman untuk diadukan dengan pandangan. Wajah yang menolak untuk membuat bosan. Raut yang memiliki daya pikat alami yang mutlak menolak untuk diterjemahkan oleh nalar logika manusia dewasa.
Dan matanya. Aku selalu menemukan diriku kembali bertekuk lutut setiap kali mengingat sepasang matanya. Sepasang bola mata hitam pekat yang jernih dan hidup, menyerupai dua telaga sunyi di pedalaman desa yang menyimpan pantulan jujur dari langit sore. Ada kilau lembut yang bersembunyi di balik kelopaknya, yang sekaligus menyimpan daya magis kuat, yang memaksa orang untuk tanpa sadar kembali menolehkan kepala. Seolah-olah, di dalam kedalaman matanya yang hitam itu, tersimpan sebuah pertanyaan rahasia yang membuat siapa pun yang menatapnya merasa terpanggil untuk mencari jawabannya.
Mungkin, karena alasan gaib itulah mengapa banyak sepasang mata anak laki-laki di dalam bus diam-diam selalu bergerak tertuju kepadanya. Termasuk, sepasang mataku sendiri. Arah pandangan kami semua tak ubahnya seperti kawanan semut hitam yang selalu berhasil menemukan jalur pintas menuju setetes tumpahan air gula. Tidak peduli dari penjuru mata angin mana kami datang, selalu ada dorongan instingtif untuk kembali bergerak mendekat ke arahnya. Bukan didorong oleh ketamakan syahwat yang kasar, melainkan murni karena daya tarik kosmis yang bekerja dengan begitu alami dan suci.
Hingga pada suatu ketika pada perjalanan yang luar biasa sesak itu, aku akhirnya mengumpulkan sisa-sisa nyaliku untuk memberanikan diri melakukan sebuah gerakan yang teramat sederhana. Sangat sederhana. Tetapi bagi seorang anak laki-laki SMP yang baru mulai mengeja alfabet perasaan, sebuah keberanian kecil sering terasa seolah sedang mempertaruhkan nyawa untuk menaklukkan puncak gunung yang tinggi.
Sebab ia dekat saat itu, aku mulai menggeser tubuh, lalu berdiri dari jatah kursi tempat dudukku. Sembari menahan debar, aku mempersilakannya untuk menempati ruang kosong yang kutinggalkan.
“Silakan... duduk di sini saja,” kataku pelan, berusaha sekuat tenaga mengatur intonasi suara agar terdengar biasa saja di telinga orang-orang. Meski di balik tulang dadaku, ritme jantungku sedang berdegup hebat jauh dari kata normal.
Gadis itu menoleh. Barangkali ia baru menyadari akhirnya dan sepenuhnya bahwa anak laki-laki berseragam SMP dengan celana pendek di dekatnya ini sedang berbicara kepadanya.
Kemudian, ia mengulas seulas senyum tipis. Sebuah senyuman ringkih yang hanya berlangsung selama beberapa detik di bibirnya. Tetapi anehnya sanggup menetap abadi selama bertahun-tahun di dalam ingatan seseorang.
“Tanggung, bentar lagi juga sampai,” jawabnya lembut, menolak dengan halus.
Sesederhana itu.
Tidak ada untaian kalimat panjang yang puitis. Tidak ada percakapan dramatis yang istimewa. Tidak ada alunan musik latar yang tiba-tiba mengiringi perjumpaan kami seperti adegan-adegan romantis dalam film bioskop. Hanya satu baris kalimat pendek yang seketika tenggelam, karam di antara deru mesin tua dan hiruk-pikuk suara penumpang lain.
Namun bagiku pada siang itu, kalimat penolakan halusnya terasa jauh lebih mewah dan berharga ketimbang obrolan panjang mana pun di dunia. Dan aku hanya bisa mengangguk kaku, menyembunyikan canggung. “Iya.”
Hanya kata itu yang sanggup diproduksi oleh tenggorokanku yang mendadak kering.
Tak lama berselang, bus kota kembali mendecit rem, berhenti dengan guncangan pemungkas. Lalu pintu terbuka lebar, dan Fahlia pun melangkah turun bersama rombongan penumpang lainnya. Aku terpaku di tempat, melemparkan pandangan memperhatikan punggungnya yang berjalan menjauh, hingga siluet sosoknya perlahan-lahan lumat, hilang ditelan keramaian jalan dan suasana penumpang.
Kesempatan hari itu memang bisa dikatakan gagal untuk membuatnya duduk di atas kursiku. Namun, ziarah kecil itu ternyata sama sekali tidak berakhir dengan kesia-siaan. Ketika aku berniat kembali menduduki kursi itu dengan perasaan campur aduk, seorang ibu paruh baya rupanya sudah lebih dahulu dengan tangkas menempati posisi yang kutinggalkan. Mungkin beliau mengira aku memang sudah bersiap untuk turun di pemberhentian tadi. Aku tidak mendebat, hanya melempar seulas senyum maklum dan memilih untuk tetap bertahan berdiri tegak memegang besi bus.
Aneh memang jika dipikirkan hari ini. Kadang-kadang di dalam hidup, kita harus merelakan kehilangan sesuatu yang kasat mata dan nyata, demi mendapatkan sekerat nilai lain yang tidak tampak oleh mata orang lain. Di siang itu, aku kehilangan jatah kenyamanan tempat dudukku di bus. Tetapi sebagai gantinya, aku berhasil menggenggam sesuatu yang jauh lebih berharga untuk kelanjutan ceritaku.
Hari itu, aku akhirnya mengetahui di mana koordinat tempat ia tinggal. Setidaknya, aku mulai meraba ke mana arah pulangnya. Mulai mengetahui lanskap lingkungan tempat ia berasal. Mulai berhasil mengumpulkan serpihan-serpihan teka-teki kecil tentang dirinya, yang selama beberapa bulan menjadi tanda tanya besar yang menggantung misterius di kepalaku.
Belakangan, obrolan dari kawan-kawan satu tongkrongan sekolah melengkapi sisa-sisa teka-teki yang kosong itu.
“Oh, itu si Fahlia, anak dari kampung seberang sana,” ujar seorang teman suatu hari ketika kami sedang berkumpul di kantin.
“Kau baru tahu, Hay?” sahut yang lain, nadanya meninggi usil. “Masa anak se-terkenal itu kau tidak kenal?”
Mereka serempak tertawa terbahak-bahak, saling menyenggol bahu. Sementara aku hanya bisa tersenyum malu, menunduk memandangi ujung sepatu sembari menahan semburat merah yang menjalar ke dua daun telingaku.
Rupa-rupanya, hampir semua anak laki-laki di sekolah memang sudah lebih dahulu mengecap keberadaannya. Fahlia mutlak termasuk ke dalam jajaran primadona tak bermahkota di kalangan anak-anak sekolah yang setiap hari menggantungkan nasib pada bus tua itu. Namanya sering menyelinap menjadi bumbu penyedap di dalam rupa-rupa obrolan warung. Garis wajahnya teramat mudah dikenali bahkan dari kejauhan. Kisah-kisah kecil tentang perangai dan pesonanya beredar luas dari satu kelompok tongkrongan ke kelompok lain, bertiup menyerupai angin sore yang membawa kabar dari rumah ke rumah.
Dan di tengah konstelasi itu, tampaknya hanya akulah satu-satunya anak manusia yang berjalan paling lambat, tertinggal jauh di belakang garis awal perkenalan. Bukan karena aku tidak tertarik pada perkara asmara, melainkan karena selama ini aku memang tidak pernah ambil pusing terhadap rupa-rupa gosip remaja yang beredar sepanjang rute pergi dan pulang sekolah. Bagiku yang kala itu lebih senang menenggelamkan diri dalam dunia bacaan dan pengamatan sunyi, kasak-kusuk di barisan bangku belakang bus tak lebih dari sekadar angin lalu yang bising.
Namun, sejak siang yang magis di dalam lambung bus tua itu, seluruh benteng ketidakpedulianku perlahan-lahan runtuh tanpa suara. Pertanyaan demi pertanyaan mulai menyembul, mengetuk-ngetuk dinding kesadaranku. Rasa ingin tahu yang teramat besar mendadak tumbuh subur di dalam kepala, menyerupai tunas muda yang mendobrak paksa permukaan tanah kering tepat setelah tebasan hujan pertama.
Aku yang semula pasif, kini mulai memberanikan diri melempar pancingan tanya kepada beberapa teman dekat. Sepasang mataku yang biasanya acuh, kini mulai awas memperhatikan detail-detail kecil seputar ritme hidupnya yang sebelumnya luput dari radar perhatian. Dan tanpa pernah benar-benar kusadari, percikan keberanian yang mula-mula hanya berwujud sebaris tawaran kursi kosong itu, perlahan-lahan bermutasi menjadi sebongkah keinginan yang jauh lebih besar dan menantang.
Muncul keinginan untuk melintasi pembatas bahasa bersamanya. Keinginan untuk bertukar sapa dan berbicara dalam durasi yang lebih lama. Dan pada puncaknya adalah sebuah kenekatan purba untuk memberanikan diri melangkahkan kaki, bertamu langsung ke rumahnya. Sebuah langkah kaki yang di kemudian hari kelak terbukti membuka lebar pintu bagi rentetan kisah-kisah berikutnya. Ketika sebentuk perasaan yang semula hanya berupa curian tatapan bisu di dalam bus, mulai bergerak liar mencari jalannya sendiri menuju panggung kehidupan yang jauh lebih nyata.
Tentu saja, pada detik-detik sehijau itu, aku belum memiliki kemampuan gaib untuk menerawang ke mana arah semua gelombang ini akan bermuara. Aku hanyalah seorang anak laki-laki berseragam SMP yang sedang tertatih-tatih belajar mengeja dan memahami gejolak perasaannya sendiri. Sebentuk rasa yang datang merayap diam-diam seperti tetesan embun di ujung daun, yang sepenuhnya tak bersuara ketika hadir, namun mutlak meninggalkan jejak benderang yang teramat jelas ketika fajar menyingsing dan matahari mulai menyinarinya.
Aku belum mengenal kosakata cinta dalam definisi yang rumit dan berat sebagaimana orang-orang dewasa memahaminya. Aku hanya tahu satu hukum sederhana bahwa sesudah kejadian itu, ada sesosok manusia yang sanggup menyulap rute perjalanan pergi dan pulang sekolahku menjadi terasa sepenuhnya berbeda, terasa memiliki nyawa dari hari-hari sebelum keberadaannya kusadari.
Hari-hari berikutnya pun bergulir sebagaimana mestinya takdir berjalan. Bel sekolah tetap berdentang nyaring membelah pagi. Guru-guru tetap berdiri di depan papan tulis, mendiktekan pelajaran yang harus kami hafal. Bus tua itu tetap setia mengangkut puluhan tubuh letih dengan lengkingan suara mesinnya yang serak dan kelelahan membawa kamı pulang.
Kampung kami tetap berdenyut dalam kesederhanaannya yang bersahaja. Namun di dalam ruang batinku yang paling sunyi, ada satu ruang yang perlahan bersulih rupa, yang menyerupai sebutir benih kecil yang tertanam tanpa sengaja di sela-sela jepitan batu kali, yang diam-diam mulai bergerak lincah mencari celah cahaya untuk tumbuh dan merekah.
Kadang-kadang, dalam perenungan hari ini, aku kembali melemparkan tanya pada diriku sendiri tentang apa sebenarnya jimat yang membuat seseorang sanggup terus mengingat orang lain sedalam itu? Apakah semata karena kesempurnaan estetik parasnya? Apakah karena kelembutan perangai sikapnya? Ataukah karena ia hadir pada momentum yang teramat tepat di titik koordinat vibrasi cinta, tepat ketika hati sedang memiliki sepetak ruang kosong yang rindu untuk digenapi?
Sampai detik ini, aku tidak pernah menemukan penawar jawabnya secara pasti di atas logika. Sebab dalam perjalanan hidup, sudah banyak wajah cantik yang pernah mampir di pelupuk mataku. Sudah tak terhitung orang-orang baik yang pernah bersinggungan jalan denganku. Tetapi, mengapa hanya serpihan tentang sosoknya yang sanggup memonopoli ingatan, menetap begitu lama dan kokoh di dalam ingatan?
Barangkali, memang begitulah mekanisme rahasia cara takdir bekerja. Ia tidak pernah bertamu dengan suara guntur yang menggetarkan langit jagat raya. Ia lebih gemar menyelinap anggun seperti aliran air kali kecil yang terus bergerak sabar di antara sela batu-batu sungai. Mula-mula suaranya nyaris tak terdengar oleh telinga. Mula-mula gerakannya tampak tak berarti bagi mata dunia. Namun seiring detak waktu, aliran kecil yang konsisten itu sanggup mengubah dan mengikis bentuk batu hitam yang paling keras sekalipun.
Malam ini, bertahun-tahun setelah seluruh rangkaian peristiwa epik itu usai dan menjadi sejarah, aku masih bisa mengendus aroma bus tua yang sesak itu. Aku masih bisa mendengar dengan jelas lengkingan suara parau sang kernet yang berteriak parau memburu ongkos penumpang. Aku bahkan masih bisa mengingat pekatnya bau solar yang menempel erat pada serat kain seragam putih-biruku setiap kali aku mengempaskan tubuh di kasur sepulang sekolah.
Dan yang paling benderang dari seluruh fragmen itu: aku masih bisa memanggil kembali bayangan sepasang mata jernih milik Fahlia, sepasang mata yang dahulu mengunci seluruh gravitasi hidupku hingga enggan berkelana ke tempat lain.
Mungkin karena hukum kenangan memang tidak pernah memilih peristiwa-peristiwa megah dan berisik untuk disimpannya di dalam memori abadi. Ia justru lebih sering memilih untuk menetap, mendirikan rumah pada hal-hal yang tampaknya teramat sepele dan sederhana pada sebuah ziarah perjalanan singkat, pada sebuah jatah tempat duduk yang ditawarkan dengan gugup. Lalu sebuah penolakan halus yang diucapkan bersama seulas senyum tipis.
Dan dari remah-remah hal sederhana itulah, tanpa pernah kusadari, tangan takdir sedang menuntun jemariku untuk mulai menuliskan bab berikutnya dari sebuah kitab kehidupan. Bab yang di kemudian hari mengajariku teramat banyak hal tentang arti sebuah pertemuan, indahnya harapan, perihnya kehilangan, dan segala jenis rasa yang tumbuh subur di antara keduanya.
Barangkali sebab setiap mahakarya cinta, sebelum ia menjelma menjadi cahaya benderang yang menerangi rute perjalanan panjang seseorang, selalu menyemai langkahnya dari sesuatu yang teramat kecil. Dari sebaris tatapan mata yang tak sengaja beradu di tengah keriuhan. Dari sebuah nama murni yang mulai dicari-cari kabarnya. Dari seulas wajah teduh yang terus membayangi langit-langit kamar ketika malam mulai menggenapkan gulitanya.
Dan bagiku, tabula rasa itu mutlak bermula di sana. Di dalam lambung bus tua yang pengap dan sesak, di antara kerumunan manusia yang tidak pernah tahu bahwa ada dua anak manusia yang sedang diam-diam merajut kalimat pertama dari lembaran cerita menuju muaranya. (Red)