Orang Kedua

"Oh, ternyata cucunya Emak Adah?" tanya sang ibu, seolah sedang memastikan kembali sepotong nama...

Orang Kedua

16 Jun 2026
193 x Dilihat
Share :

"Oh, ternyata cucunya Emak Adah?" tanya sang ibu, seolah sedang memastikan kembali sepotong nama yang baru saja melintas di bentangan ingatannya.

Pertanyaan itu meluncur pelan, namun bagiku terdengar seperti jatuhnya kerikil ke permukaan empang yang tenang—kolam ikan di pinggir rumah tempatku bertandang siang itu. Riaknya melebar ke mana-mana, mengusik air yang semula diam, lalu menyentuh sudut-sudut masa kecil yang sebenarnya sudah lama kusimpan rapi di dalam laci memori.

Di kampung-kampung kecil yang karib dengan aroma tanah, nama keluarga seringkali berjalan lebih dahulu untuk memperkenalkan seseorang ketimbang dirinya sendiri. Nama seorang nenek, kakek, atau tokoh tua yang dihormati, mewujud jembatan gaib yang menghubungkan dua orang asing, membuat mereka seolah-olah pernah duduk dan berbagi cerita di atas tikar pandan yang sama.

Aku hanya bisa mengangguk kecil sambil menyunggingkan senyum kikuk. Sejenis lengkungan asing yang mendadak terasa kaku di wajahku sendiri. Di dalam dada, ada rasa gamang yang mendesak, seolah waktu tiba-tiba melambat dan memaksaku mengecap kembali setiap jengkal suasana siang itu. Suasana ketika aku, dengan segala kecanggungan seorang remaja, memberanikan diri bertandang ke rumah seorang perempuan.

Ah, atau lebih tepatnya seorang gadis yang sebenarnya belum berhak kusebut sebagai teman. Sebab, kami baru saja bertukar nama beberapa waktu lalu. Masih terlalu dini untuk menyematkan predikat sahabat pada dirinya, apalagi lancang menamainya sesuatu yang lebih jauh dari itu. 

Kami hanyalah dua manusia yang sedang berdiri di tepi sebuah kemungkinan yang kabur. Saling memandang dari kejauhan jembatan masing-masing, tanpa pernah tahu apakah suatu hari nanti kami akan benar-benar saling mengenal, atau justru berbalik arah dan kembali menjadi orang asing yang paling asing.

Aku sering merenung, perkenalan adalah sebuah jembatan yang terajut dari papan-papan kayu yang rapuh. Kita melangkah perlahan di atasnya dengan lutut yang gemetar sebab takut terjatuh, takut salah berucap, takut meninggalkan kesan keliru yang tak bisa dihapus. Dan siang itu, aku sedang berdiri gemetar di ujung jembatan tersebut, memandangi sosok yang jiwanya belum kukenal sepenuhnya.

Kami berasal dari dunia yang berbeda. Aku seorang anak SMP, sedangkan dia bersekolah di Madrasah Tsanawiyah. Dunia kami sebenarnya tidak benar-benar memiliki titik temu. Kami hanya sesekali bersinggungan seperti dua jalur anak sungai kecil yang mengalir beriringan, berdekatan, tetapi tak pernah benar-benar menyatu dalam satu muara.

Satu-satunya benang merah yang mengikat kami adalah bus tua yang pengap. Kami sering berpapasan di dalam lambung bus yang sama saat berangkat atau pulang sekolah. Kadang kami duduk berjauhan, dipisahkan oleh deretan punggung penumpang lain. Kadang, di antara celah keramaian, kami saling mencuri pandang. Namun tak jarang pula kami pura-pura melempar tatapan ke luar jendela, menatap jalanan kosong, meskipun masing-masing dari kami tahu persis ada sepasang mata lain yang sedang berjaga di sana.

Bus itu, bagi orang lain mungkin hanya rongsokan besi tua yang batuk-batuk setiap hari demi mengantar anak-anak sekolah. Namun bagiku, bus tersebut adalah ruang rahasia tempat rasa penasaran tumbuh subur secara sembunyi-sembunyi. Di antara suara mesin yang meraung memekakkan telinga, bau karat besi yang dipanaskan matahari siang, dan derit kursi jorok yang tak pernah benar-benar nyaman, ada sesuatu yang diam-diam bertunas di dalam hati seorang anak laki-laki yang bahkan belum mengerti apa nama perasaannya sendiri.

Sampai akhirnya, sang waktu seolah mengangguk, memberi restu tersembunyi yang bahkan tak pernah kuminta.

“Main ke rumahnya, yuk,” ajak Hari, kawanku, suatu hari sepulang sekolah. Nadanya santai, terlempar begitu saja tanpa beban di sela-sela langkah kaki kami yang menyusuri trotoar jalan, tak jauh dari gerbang halaman gedung sekolah yang mulai sepi.

“Ke rumah siapa?” tanyaku retoris. Sebuah kepura-puraan yang payah, sebab di balik lingkar dadaku, jantungku sudah berdegup kencang memanggil satu nama yang sama.

Pertanyaan itu sebenarnya hanya cara membuang waktu. Hari tahu persis, setelah berhari-hari percakapan kami melebar panjang tentang gadis bernama Fahlia itu, aku selalu didera rasa ingin tahu yang hebat. Aku ingin menelusuri seluk-beluk dunianya, membaca bab demi bab tentang siapa dia sebenarnya di luar dinding bus sekolah kami. Namun, ego remajaku menolak untuk terlihat terlalu berhasrat.

“Ya, ke rumah dia,” sahut Hari lagi, menatapku dengan senyum penuh arti.

Aku tertawa gugup, sebuah tawa defensif yang dilepaskan buru-buru untuk menyembunyikan gemuruh yang mendadak gaduh di dalam kepala. “Ngapain?”

“Ngapain-ngapain. Silaturahmi saja.”

Silaturahmi. Sebuah kata yang biasa kudengar di hari raya, terkesan santun dan bersahaja. Namun di usia kami yang masih sewarna daun muda saat itu, kata tersebut bermutasi menjadi ketukan berat pada sebuah pintu gerbang miring. Sebuah jalan masuk menuju labirin penuh teka-teki yang belum pernah kupetakan sebelumnya.

Dan begitulah, takdir—atau lebih tepatnya keluguan remaja—akhirnya menyeret langkah kakiku hingga berhenti di pekarangan rumahnya. Namun, sesampainya di sana, skenario di kepalaku buyar. Justru ibunyalah yang muncul di ambang pintu, menyambut kami dengan kehangatan yang tumpah-ruah. Bukan dia.

Sungguh ironis jika kuingat kembali tentang hari itu. Aku datang dengan menguras seluruh sisa keberanian yang kupunya demi bisa menatap wajah sang gadis dari dekat, tetapi yang lebih dahulu merengkuh dan menerimaku justru ibunya. Seolah takdir sedang bersenda gurau dengan caranya yang paling jenaka. Seolah kehidupan ingin membisikkan sebuah rahasia kuno bahwa setiap cerita yang membekas selalu membutuhkan jalan memutar yang sedikit melelahkan sebelum benar-benar diizinkan sampai ke tujuan.

“Masuk dulu, Nak,” kata ibunya ramah, jemarinya mempersilakan kami dengan gestur yang tulus.

“Iya, Bu,” jawab kami hampir bersamaan dengan Hari, bersahutan seperti paduan suara yang kehilangan nada akibat canggung.

Rumah itu memeluk kami dengan aroma kesederhanaan yang meneduhkan. Udara siang yang gerah menyelinap pasrah melalui jendela-jendela kayu yang sengaja diganjal terbuka lebar. Cahaya matahari jatuh miring ke atas lantai semen abu-abu, membentuk garis-garis keemasan yang panjang seperti lembaran waktu yang sedang digelar perlahan oleh alam. Ada aroma tumisan bawang dari arah dapur yang samar, berbaur dengan riuh kepakan sayap ayam di bawah pohon mangga halaman belakang. Suasana yang ganjil seisi ruangan itu membuatku merasa asing sebagai seorang pendatang, di saat yang sama entah mengapa terasa begitu akrab dan diterima.

Bagi remaja masa kini yang tumbuh di era layar kaca dan pesan instan, fragmen ini mungkin terdengar sepele. Namun bagiku yang tumbuh di masa itu, melangkahkan kaki menyeberangi batas pintu rumah seorang perempuan adalah sebuah peristiwa epik yang mendebarkan. Bahkan mungkin terlalu megah untuk ukuran nyaliku yang sekecil biji sawi.

Itulah kali pertama dalam sejarah hidupku, aku memberanikan diri melintasi ambang pintu dan bertamu ke rumah seorang gadis. Di siang yang terasa begitu hening, seolah dunia sengaja menahan napasnya. Hanya ada deru angin malas yang menyapu pekarangan dan detak jantungku sendiri yang mendadak bertalu gaduh, meruntuhkan seluruh sisa ketenangan yang mati-matian kupertahankan sejak dari gerbang sekolah saat jejak demi jejak menuju rumahnya.

Bertandang ke rumah seorang gadis, tentu saja ini bukan malam Minggu yang magis seperti untaian lirik lagu atau cerita bualan yang kerap kudengar dari kakak-kakak lelaki di tongkrongan. Tidak ada tudung langit malam yang bertabur bintang, tidak ada pendar lampu jalan yang meredup temaram, pun tidak ada adegan romantis penuh metafora seperti dalam film dan sinetron sore hari yang biasa ditonton ibu-ibu di kampungku.

Sebab, kenyataan siang itu sungguh jauh dari romantis.

Matahari tepat berada di puncak kepala, memancarkan terik yang seolah memanggang atap seng rumah hingga berderit pasrah. Udara di sekitar kami terasa pengap, berat oleh uap panas bumi, sementara butiran debu-debu kecil menari malas dalam berkas cahaya yang menembus ventilasi. Di tengah kepungan hawa gerah itu, aku datang bukan sebagai ksatria penakluk yang gagah berani. Aku hanyalah seorang anak laki-laki tanggung yang canggung, yang menyembunyikan keringat dinginnya dengan terus berlindung di balik punggung temannya sendiri.

Namun bagi seorang anak pemalu, momen itu sudah setara dengan sebuah ekspedisi besar menembus hutan belantara. Aku merasa layaknya seorang pelaut amatir yang baru pertama kali mendorong sekoci kayu meninggalkan bibir pantai yang aman, mencoba mengarungi samudra luas yang belum pernah digambar di atas peta mana pun.

Uniknya, sepanjang kunjungan yang mendebarkan itu, justru ibunyalah yang menjadi dirigen tunggal percakapan. Beliau bertanya tentang banyak hal dengan intonasi keibuan yang teduh. Tentang sekolahku, tentang silsilah keluargaku, tentang lekuk-lekuk kampung tempat tinggalku, hingga tentang nama-nama tetua kami yang ternyata saling menjalin benang kenangan masa lalu.

Sementara itu, gadis yang menjadi alasan tunggal dari detak jantungku hari itu, justru lebih banyak tenggelam dalam diam. Dia duduk agak menjauh, dengan jemari yang saling bertautan erat di atas pangkuan rok madrasah-nya yang melambai pelan tertiup angin jendela.

Dan aku? Aku pun mendadak didiagnosis lumpuh kosa kata. Aksi diam di antara kami berdua bahkan terasa seperti dua bilah cermin yang sengaja diletakkan saling berhadapan di ruang tengah. Sama-sama memantulkan bayangan yang sama, sama-sama menyimpan banyak rahasia di balik kaca, tetapi sama-sama buta tentang bagaimana cara memecahkan sunyi untuk memulai kalimat pertama.

Aku beberapa kali menata napas, mengumpulkan sisa-sisa harga diri untuk mencuri panggung. Aku ingin mengatakan sesuatu. Apa saja, demi Tuhan! Tentang rute bus yang melelahkan, tentang guru-guru sekolah yang gemar memberi tugas, tentang ramalan cuaca sore yang tak menentu, atau hal-hal tidak penting lainnya yang bisa mencairkan kebekuan yang menyiksa.

Namun setiap kali kalimat itu sudah matang dan siap di ujung lidah, kata-katanya mendadak beku dan tersangkut di tenggorokan. Seperti seekor burung pipit kecil yang ragu meninggalkan sangkar karena mendadak gentar melihat betapa luas dan asingnya hamparan langit di luar sana. Aku takut salah ucap. Aku takut suaraku yang pecah khas remaja justru merusak ketenangan siang itu.

Beruntung, kawanku, seperti biasa, adalah tipe manusia yang terlahir tanpa urat canggung. Dengan ringannya dia membelah sunyi yang akut tersebut, berkata “Dia ini sebenarnya anak yang baik, Bu,” katanya tanpa beban sambil menunjuk wajahku dengan ibu jari.

Aku langsung melotot seolah mataku ingin melompat keluar dari rongganya. “Apaan sih?” bisikku setengah mengancam melalui celah gigi, sembari menendang pelan tulang keringnya di bawah meja.

Kawanku justru tertawa lepas, menganggap penderitaanku sebagai hiburan gratis. “Serius, Bu. Di sekolah dia rajin. Pintar juga, sering ranking.”

“Sudahlah, diam,” kataku lirih. Wajahku rasanya sudah berubah sewarna kepiting rebus akibat menahan malu yang luar biasa. Pada detik itu, aku merasa persis seperti seonggok barang dagangan kurang laku yang sedang dipromosikan dengan gaya berlebihan oleh sales amatir di tengah pasar malam.

Melihat tingkah polah kami yang kekanak-kanakan dan penuh kepolosan itu, sang ibu tidak marah. Beliau hanya tersenyum maklum, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Anak-anak zaman sekarang memang lucu ya,” ujarnya pelan, ada nada rindu yang tipis pada masa muda di dalam helaan napasnya.

Mendengar respons hangat itu, aku memberanikan diri mencuri pandang, melirik ke arah gadis itu dari sudut mata yang terbatas.

Dia rupanya sedang menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan pipinya yang perlahan ikut merona merah akibat gurauan kawanku. Namun di sela-sela tundukannya yang anggun, dia gagal menyembunyikan sebuah senyuman kecil yang terbit di bibirnya. Hanya sebentar. Sangat sebentar, sekelebat kedipan mata yang buru-buru dia hapus dengan pura-pura merapikan kerudungnya.

Tetapi senyum tipis yang tulus dan terekam tak sengaja itu, entah mengapa, memilih untuk menetap jauh lebih lama di dalam kepalaku. Ia mengakar dalam-dalam di lubuk hatiku, bergaung lebih keras dan abadi ketimbang seluruh untaian kalimat yang meramaikan ruang tamu siang itu.

Dan begitulah sang waktu bergulir, merayap malas di bawah kepungan hawa siang.

Percakapan di ruang tamu itu terus mengalir pelan, seperti air anak sungai jernih yang tidak terburu-buru mencari muara. Alurnya bergerak acak namun terasa karib. Bermula dari riuh suasana sekolah, mengabsen nama guru-guru yang galak hingga yang bermurah hati, lalu perlahan menyeberang ke batas kampung. Kami membicarakan petak-petak sawah, rimbun kebun, hingga jajaran jalan tanah berbatu yang telah kami akrabi sejak kaki kami masih kecil.

Dalam sirkus obrolan itu, aku memilih menjadi penonton yang baik. Aku lebih banyak mendengarkan, sesekali melempar jawaban pendek seperlunya. Sementara kawanku, Hari, seperti biasa menjelma menjadi juru bicara ulung yang tidak pernah kehabisan pasokan kata.

Di sela-sela kalimat Hari yang berhamburan, aku beberapa kali mencuri pandang ke arah Fahlia. Gadis itu masih setia melipat separuh suaranya. Ia duduk tenang dengan jemari yang bertautan, sesekali menyunggingkan senyum tipis yang ringkih, lalu kembali menjatuhkan pandangannya ke lantai semen. Sikapnya persis seperti seseorang yang sedang mendekap sebuah rahasia besar di dalam hatinya sendiri.

Entah mengapa, keheningan yang ia bawa justru membuat ruang tamu sederhana itu terasa memiliki gravitasi yang berbeda. Fahlia tidak memikat lewat untaian kata yang ranum. Justru diamnya yang tenang dan terjaga menciptakan gema panjang yang mengetuk-ngetuk dinding kepalaku.

Ada manusia yang memesona melalui kelancaran lidahnya, namun ada pula yang sunyinya justru mengundang tanya. Bagiku siang itu, Fahlia adalah golongan yang kedua. Sosoknya serupa halaman buku yang belum sempat dibuka. Sangat menarik perhatian bukan karena aksara yang terpampang di sampul, melainkan karena keindahan misterius yang masih bersembunyi di balik cerita lembaran-lembarannya.

Sementara kami bertiga terjebak dalam dinamika yang ganjil, ibunya terus memegang kemudi untuk mencairkan suasana. Beliau melemparkan tanya demi tanya tentang keluargaku, kampung tempat tinggalku, hingga nama ayah dan kakekku. 

Menariknya, pertanyaan-pertanyaan itu tidak terasa dingin bak interogasi petugas keamanan. Sebaliknya, setiap kata yang keluar dari bibir beliau terasa seperti selembar benang halus yang sedang ditenun perlahan, mencari titik temu tersembunyi yang mungkin selama ini luput dari kesadaran kami.

Di kampung-kampung kecil, orang-orang tua memang dibekali bakat alamiah yang istimewa. Mereka mampu menjahit kembali keretakan jarak antar-manusia hanya melalui bentangan silsilah dan serpihan kenangan masa lalu. Mereka selalu bisa menemukan keterikatan darah atau kekerabatan lama, bahkan hanya dari sepotong nama yang terlontar tanpa sengaja.

“Kalau kakekmu, siapa namanya, Nak?” tanya beliau, tatapannya menyipit ramah. Lalu aku menyebutkan sebuah nama dengan agak ragu. Beliau mengangguk pelan, seolah nama itu memicu getaran kecil di kepalanya. “Lalu, buyutmu dari garis ibu?”

Aku terdiam sejenak, mengaduk-aduk ingatan yang remang, mencoba memanggil kembali nama tua yang pernah lamat-lamat kudengar dari dongeng tidur yang diceritakan orang tuaku. Begitu nama itu kusebutkan, ketukan jemari beliau di atas meja mendadak berhenti.

Beliau kembali mengangguk, kali ini jauh lebih lama. Sepasang matanya yang mulai dihiasi kerut samar mendadak menerawang jauh, seakan sedang menelusuri lorong-lorong waktu yang gelap menuju puluhan tahun ke belakang. Menuju sebuah masa ketika orang-orang yang kini kami sebut leluhur masih bernapas di bawah langit yang sama, melintasi jalan-jalan tanah yang sama, dan saling bertukar sapa sebagai karib.

Aku dan Hari saling berpandangan dalam canggung yang pekat. Kami sama sekali tidak mengerti ke mana arah biduk percakapan sedang dikayuh. Namun, ketidakmengertian kami segera terjawab saat gurat wajah beliau perlahan berubah. Sorot matanya melunak, berubah menjadi jauh lebih cerah dan benderang, serupa ekspresi seseorang yang baru saja menemukan kepingan terakhir dari teka-teki kuno yang menahun.

Sebuah senyum penuh keibuan yang hangat merekah sempurna di wajahnya. Jarak tak kasat mata yang semula membentang tebal di antara kami mendadak menyusut, luruh butiran demi butiran seperti dinding pasir yang terkikis ombak.

Saat itu, aku yang masih terlalu hijau tentu belum tahu ke mana semua kebetulan ini akan bermuara. Aku hanyalah seorang anak pemalu yang duduk di sudut kursi kayu, sibuk mengatur napas agar debar jantungku tidak terdengar oleh seisi ruangan.

Tetapi, siang itu mengajarkanku satu hal bahwa sebuah cerita yang berjalan panjang dan merubah arah hidup seseorang seringkali tidak membutuhkan dentum peristiwa yang megah. Kadang, ia hanya memerlukan sebuah pemantik kecil yang bersahaja. Sebuah jembatan ingatan yang tak sengaja runtuh oleh satu pertanyaan penegasan.

Beliau menatapku lebih lekat, lalu berucap dengan nada yang bergetar takjub.

“Oh, ternyata cucunya Emak Adah?” Dan tepat sejak pertanyaan itu lepas ke udara, tanpa pernah kusadari, selembar halaman baru dalam kitab hidupku telah dibuka perlahan oleh takdir.

Beliau menatapku lekat, lalu berkata, “Masih ada ikatan kerabat kalau begitu,” ujarnya lagi, kali ini diiringi seulas senyum yang mengembang perlahan. 

Itulah jenis senyuman murni dari seseorang yang baru saja menemukan kembali jalan setapak lama yang sempat hilang di dalam peta ingatannya. Sepasang matanya yang teduh berbinar oleh kegembiraan sederhana. Jenis sukacita yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang kampung, oleh mereka yang percaya bahwa bumi ini sesungguhnya tidak terlalu luas, dan bahwa setiap perjumpaan selalu menyimpan rahasia untuk berujung pada rajutan keluarga yang tak terduga.

“Masih satu trah Bani Adam,” lanjut beliau sambil tertawa kecil, melontarkan kelakar khas orang tua, sebelum segera mengoreksi ucapannya sendiri. “Eh, maksud Mamah, satu trah Bani Nurwahim.”

Tawa ringan seketika memenuhi ruang tamu yang semula diselimuti atmosfer canggung. Suara tawa itu terdengar begitu hangat, layaknya aroma secangkir teh sore yang mengepulkan uap pelan di tengah kepungan gerimis. Aku ikut tersenyum lambat, sementara Hari, kawanku yang jenaka itu, menyambutnya dengan tawa yang lebih lepas.

“Wah, berarti saudara jauh dong, Bu?” seloroh Hari.

“Ya, saudara jauh tetap saja saudara,” jawab beliau tulus.

Ada kenyamanan yang merembas dari cara beliau bertutur. Sebuah pembawaan yang sanggup membuat orang lain merasa diterima, bahkan sebelum sempat memperkenalkan dirinya secara lengkap. Cara yang seketika meluruhkan status sekat antara tuan rumah dan tamu pendatang.

Sejak awal, beliau menyebut dirinya sendiri dengan panggilan Mamah. Barangkali itu memang kebiasaan yang telah melekat bertahun-tahun ketika berbicara kepada anak-anaknya. Sebuah panggilan yang sudah menyatu bersama napas sehari-hari. Namun entah mengapa, ketika kata itu diarahkan kepadaku, ada debar ganjil yang sulit diterjemahkan. Aku merasa seolah-olah dituntun melangkah lebih dalam menuju lingkar kehangatan inti rumah tersebut, meskipun sejatinya aku baru saja menginjakkan kaki di atas lantai semennya.

“Kalau Mamah, dulu kenal baik sama keluarga Emak Adah,” kenangnya lagi, membuka lembar cerita lama.

“Oh ya, Mah?” sahut Hari cepat, mengambil alih antusiasme. Aku sendiri hanya mengangguk pelan. Seperti biasa, aku memilih mengalah pada sunyi dan membiarkan diriku menjadi pendengar. Sejak kecil, aku memang tidak pernah dibekali bakat untuk mengisi ruang kosong dengan riuh kata-kata. 

Bagiku, setiap kalimat memiliki bobot dan pertanggungjawabannya sendiri, sehingga aku selalu gentar untuk mengucapkannya sembarangan. Karena itulah aku lebih sering memilih diam. Jika ditanya baru menjawab. Jika tidak, aku akan dengan sukarela tenggelam kembali dalam kesunyian yang kubangun sendiri. Dan ruang sunyi yang kutinggalkan itu sering kali mengizinkan orang lain mengambil alih kemudi percakapan. Termasuk siang itu. 

Hari terus bercerita dengan riang, Mamah, eh maksudnya ibunya Fahlia terus menanggapi dengan penuh perhatian, sedangkan aku hanya sibuk menyusun jawaban-jawaban pendek di kepala, mirip anak sekolah yang sedang diuji mentalnya oleh guru.

Namun di balik segala kecanggungan yang merubung tubuhku, ada satu rasa yang benderang kurasakan. Dengan itu kami cukup diterima di ngapel siang itu. Diterima dengan ketulusan yang tumpah, tanpa syarat, layaknya musafir yang datang membawa niat baik. 

Rumah sederhana itu membuka pintunya untuk kami sebagaimana sebatang pohon tua merentangkan rindang daunnya kepada siapa pun yang ingin berteduh dari terik dunia. Tidak ada sepasang mata yang menaruh curiga, tidak ada gestur menjaga jarak, tidak ada pula dinding tak kasat mata yang kerap berdiri kukuh di antara orang-orang yang baru bertukar nama.

Jika boleh sedikit memupuk kebanggaan, kunjunganku hari itu bisa dibilang berhasil—setidaknya di mata ibunya. Sebab untuk urusan diterima oleh anaknya, itu adalah perkara mistis yang jalannya masih dipenuhi kabut tebal.

Aku kembali mencuri pandang ke arah Fahlia. Gadis itu masih duduk dengan ketenangan yang anggun. Sesekali ia tersenyum mendengar kelakar ibunya, sesekali menunduk dalam-dalam, dan sesekali menjawab pertanyaan dengan volume suara yang nyaris karam tertiup angin jendela. Aku buta terhadap apa yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya. Aku tidak tahu apakah kehadiranku siang itu membuatnya senang, biasa saja, atau justru menjelma gangguan yang merusak ketenangannya. Perempuan memang serupa halaman kitab suci kuno yang tidak bisa ditebak hanya dengan memandangi keindahan sampulnya. Terlebih bagi seorang anak laki-laki pemalu yang bahkan belum memiliki nyali untuk bertanya langsung pada detak hatinya sendiri.

Percakapan kemudian berbelok lebih dalam, menelusuri labirin asal-usul keluarga. Dari satu nama menuju nama lain. Dari satu petak kampung menyeberang ke kampung yang lain. Dari satu fragmen cerita melompat ke riwayat yang lebih tua. Nama-nama leluhur bermunculan ke permukaan ruang tamu seperti akar-akar pohon raksasa yang selama ini tersembunyi di kegelapan bawah tanah. Semakin digali, semakin nyata bahwa masing-masing cabang ranting yang kami bawa ternyata mengisap sari pati dari batang pohon yang sama.

“Kalau begitu, kita ini masih keluarga besar,” simpul Mamah, matanya berbinar menatapku.

“Serius, Mah?” tanya Hari, meyakinkan.

“Iya. Kalau dirunut silsilahnya ke atas, garis kalian akan bertemu di nama Nurwahim.”

Aku mengangkat kepala, menatap langsung ke arah Mamah. Untuk pertama kalinya, rasa gugup yang sejak tadi menjajah dadaku sedikit tergeser oleh rasa takjub yang luar biasa. Ternyata, perjumpaan yang selama ini kuanggap sebagai kebetulan jalanan di dalam bus sekolah, memiliki guratan sejarahnya sendiri. Aku dan Fahlia, dua remaja yang selama ini hanya berani saling melirik dari balik sandaran kursi bus, ternyata disatukan oleh sepotong nama yang sama jauh di masa lalu.

Bapak. Kakek. Buyut. Bao.

Garis linimasa itu ditarik mundur melintasi zaman, hingga akhirnya bertemulah kutub kami pada satu nama agung yang sama: Bao Nurwahim bin Dipawedana.

Sebuah nama yang terdengar begitu purba dan jauh, namun pada detik itu terasa begitu dekat dan berdenyut di dalam nadi. Ia layaknya bintang siri yang terlihat kecil dari bumi, padahal sesungguhnya ia adalah raksasa memikat yang menjadi pusat dari begitu banyak orbit kehidupan. Saat itu aku menyadari satu mukjizat kecil bahwa hidup seringkali bekerja dengan cara-cara yang ganjil sekaligus jenius. Kita mengira sedang berjalan mendekati seseorang yang asing, padahal tanpa disadari, langkah kaki kita sebenarnya sedang menuntun kita pulang menuju seseorang yang sejak lama menetap di dalam lingkaran sejarah keluarga kita sendiri.

Barangkali, itulah alasan mengapa beberapa pertemuan langsung terasa karib bahkan sebelum kalimat pertama sempat dirakit. Karena mungkin, jauh sebelum ragam bahasa kami lahir ke dunia, nama-nama leluhur kami telah lebih dulu saling berjabat tangan di masa lalu.

Siang berganti sore, dan sore akhirnya beringsut pelan menuju kepasrahan senja. Cahaya matahari keemasan yang sejak siang bertamu di atas lantai semen ruang tamu perlahan memudar, menarik diri dan merayap naik ke sudut-sudut dinding kayu seperti sepasang kaki yang pamit tanpa suara.

Seiring redupnya hari, riuh percakapan kami pun mulai melandai, menyisakan helaan napas yang takzim. Ada saatnya di mana setiap perjumpaan harus tunduk pada takdirnya sendiri. Bersiap untuk usai, meskipun tidak ada satu pun dari kami yang benar-benar rela menjadi orang pertama yang meruntuhkan kehangatan itu dengan kata pulang.

“Kapan-kapan main lagi ke sini ya, Nak,” kata Mamah, intonasinya lembut merengkuh pundak seiring langkah kami yang mulai bergeser meninggalkan batas ruang tengah.

“Iya, Mah,” jawabku pelan, sembari mengangguk takzim.

Jawaban itu teramat sederhana. Namun di dalam rongga dadaku, dua kata itu bergema jauh lebih panjang dan benderang daripada bunyinya. Sebab aku mulai mengerti sebuah kebenaran bahwa terkadang, hal yang membuat seseorang terikat dan selalu ingin kembali ke sebuah tempat bukanlah karena arsitektur rumahnya, bukan pekarangannya, bukan pula keasrian bangunannya, melainkan karena ada satu jiwa yang diam-diam telah menetap menjadi detak kenangan di dalam rumah tersebut.

Sebelum benar-benar melangkah keluar ke halaman, aku memberanikan diri mencuri satu pandangan terakhir ke arah Fahlia.

Gadis itu berdiri anggun di dekat kusen pintu, berlatar belakang langit sore yang mulai memerah. Ia masih setia menepati janjinya pada sunyi. Tidak ada untaian kalimat yang istimewa, tidak ada reka adegan perpisahan yang melodramatis. Hanya seulas senyum kecil yang terbit sesaat di bibirnya, lalu menguap tenang seperti riak tipis di permukaan telaga yang kembali diam.

Namun anehnya, dalam hukum ingatan, justru hal-hal ringkih seperti itulah yang paling tebal dan abadi mengendap di kepala. Bukan pernyataan-pernyataan besar yang berisik, melainkan letupan-letupan kecil yang nyaris luput dari perhatian mata dunia.

Sepanjang perjalanan pulang menyusuri jalanan kampung yang mulai berdebu, Hari terus mengoceh tanpa henti.

“Gimana? Senang, kan?” tanyanya, menyenggol bahuku dengan senyum usil yang menghiasi wajahnya.

Aku memasang topeng, pura-pura tenggelam dalam ketidakmengertian. “Apanya?”

“Halah, pakai nanya lagi. Ya apanya lagi kalau bukan yang tadi?”

Aku tidak mendebat, hanya melempar tawa kecil penawar canggung. Sebab aku tahu, beberapa jenis perasaan memang belum tumbuh cukup kuat untuk diucapkan lantang ke udara. Sebab masih tinggal di dalam tanah palung hati yang paling sunyi. Serupa benih murni yang meringkuk tenang di kegelapan bawah tanah. Bersabar menanti tibanya musim yang tepat untuk tumbuh dan merekah.

Bus tua yang kutumpangi sore itu sebenarnya tidak berubah. Masih pengap, jorok, dan batuk-batuk seperti biasanya. Jalanan berbatu yang dilewati roda-rodanya juga rute yang sama. Jajaran pohon peneduh, hamparan sawah yang mulai menguning, dan rumah-rumah penduduk di sepanjang tepian jalan tetap sama seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya. Namun entah mengapa, sore itu ada sesuatu yang bergeser di dalam diriku. Seolah-olah sebuah pintu rahasia yang tersembunyi di balik dadaku baru saja diketuk terbuka, memperlihatkan bentangan kemungkinan masa depan yang sebelumnya tidak pernah berani kupikirkan.

Barangkali, begitulah cara magis masa remaja bekerja di dalam hidup manusia. Sebuah kunjungan singkat yang tak seberapa dapat bermutasi menjadi baris kenangan yang panjang. Sebuah obrolan sederhana di meja makan dapat menjelma menjadi narasi yang diulang-ulang selama bertahun-tahun. Dan seorang gadis yang bersekolah di madrasah itu, yang nyaris tidak mengucapkan sepatah kata pun, sanggup memonopoli seluruh isi pikiran seorang anak laki-laki selama berhari-hari.

Malamnya, di dalam kamar yang sunyi sebelum mata ini benar-benar menyerah pada kantuk, wajah Fahlia kembali melintas di langit-langit kepalaku. Terlintas senyum kecilnya yang misterius. Dari caranya menjatuhkan pandangan ke ujung rok. Suaranya yang lembut dan nyaris karam di antara dominasi percakapan. Semua serpihan itu hadir kembali, mengapung seperti potongan-potongan cahaya lilin di atas permukaan telaga memori.

Aku tersenyum sendiri menatap kegelapan kamar. Lalu, sebuah tanya lirih meluncur di batin, pertanyaan yang kutahu belum memiliki penawar jawabnya saat itu.

Apakah ini hanya letupan kagum sesaat yang akan menguap ketika pagi datang, ataukah ini adalah babak awal dari sebuah cerita besar yang kelak akan mengubah banyak arah dalam garis hidupku?

Malam itu aku belum tahu jawabannya. Dan mungkin, memang belum seharusnya aku tahu. Karena sebagian cerita terbaik di semesta ini tidak pernah dilahirkan dari kepastian jawaban yang mudah, melainkan dari sebuah proses penantian yang panjang dan sunyi. Dari ketidaktahuan tipis yang perlahan-lahan dipupuk menjadi harapan. Dari langkah-langkah kaki kecil yang gemetar, yang belum mengerti sama sekali ke mana ujung tujuan akhirnya.

Sementara itu, senja di hari kunjungan itu telah lama tenggelam ditelan malam. Namun di sudut hati seorang anak laki-laki pemalu, sebuah pertemuan pertama yang sesungguhnya barangkali baru saja dimulai, pikirku saat itu. (Bersambung)

Share :

Perspektif

Scroll