Pintu Hidayah dan Penciptaan Budaya Tandingan

Cukup memikat dan terasa seperti menyembuhkan kepenatan setelah baru beranjak duduk dari lelahnya...

Pintu Hidayah dan Penciptaan Budaya Tandingan

04 Okt 2026
56 x Dilihat
Share :

Cukup memikat dan terasa seperti menyembuhkan kepenatan setelah baru beranjak duduk dari lelahnya berjalan, kemudian saya menonton sebuah sinetron lepas di televisi yang, meskipun sederhana dalam jalan ceritanya, tetapi mampu menghadirkan kisah yang cukup menyentuh dan membuat saya sejenak melupakan rasa lelah. 

Tokohnya diperankan oleh Sahrul Gunawan dan Marshanda sebagai pasangan yang menjalani sebuah hubungan dengan kekuatan cinta yang begitu dalam, sehingga hubungan keduanya tidak hanya menjadi kisah tentang perasaan antara laki-laki dan perempuan, tetapi perlahan berkembang menjadi jalan yang mengantarkan seseorang pada kesadaran dan hidayah, terutama ketika bersentuhan dengan kehidupan dan pergulatan batin kedua orang tua tokoh prianya.

Dalam ceritanya tergambar bahwa hubungan antara dua manusia dapat menjadi salah satu jalan bagi keduanya untuk mendekat kepada Tuhan, sebab perjumpaan manusia dengan manusia lainnya seringkali tidak berhenti hanya pada persoalan cinta, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk mengenali kesalahan, menguji kesombongan, memahami penderitaan, dan akhirnya menemukan kembali arah hidupnya. Tergambar pula bahwa kesombongan pada akhirnya membawa seseorang berhadapan dengan akibat dari sikapnya sendiri, sementara orang papa mendapat tempat yang lebih terhormat di mata manusia (dan Tuhan) dibandingkan orang kaya yang hidup dalam kesombongan dan merasa memiliki segala sesuatu. 

Di dalam kesederhanaan alur seperti itu tersimpan sebuah keyakinan moral bahwa ukuran kemuliaan manusia tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan, kedudukan, atau apa yang tampak di hadapan manusia, melainkan oleh bagaimana seseorang menjalani hidup, memperlakukan sesamanya, dan mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dimilikinya di hadapan Tuhan.

Jika tayangan televisi sehari-harinya dapat menghadirkan cerita semacam ini, dengan cerita yang tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga menyentuh perasaan, mengajak manusia merenungkan kehidupan, dan perlahan menumbuhkan kesadaran tentang kasih sayang, kerendahan hati, dan hubungan manusia dengan Tuhan, saya pikir damailah dunia. Setidaknya, televisi tidak hanya menjadi tempat manusia melarikan diri dari kepenatan kehidupan, tetapi juga menjadi ruang tempat manusia belajar memahami dirinya sendiri dan belajar melihat kehidupan orang lain dengan perasaan yang lebih manusiawi.

Melalui televisi dapat membuat kita meredefinisi bahwa kasih sayang bukan sekadar tema dalam sebuah cerita, melainkan dapat tumbuh sebagai kesadaran yang terbina dari satu manusia kepada manusia lainnya, lalu bergerak lebih luas ke tengah keluarga, masyarakat, dan pada akhirnya ke segala penjuru dunia.

Perasaan semacam itu mungkin terdengar terlalu sederhana untuk dibawa ke dalam pembicaraan mengenai industri media, kebudayaan, atau politik penyiaran yang jauh lebih kompleks. Namun dari pengalaman menonton yang sederhana itulah persoalan yang lebih besar kemudian muncul akan sejauh mana sebuah tayangan televisi mampu memengaruhi cara manusia memandang kehidupan, dan sejauh mana sebuah cerita yang hadir berulang-ulang di hadapan masyarakat dapat ikut membentuk nilai, selera, imajinasi, bahkan cara seseorang memahami dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya. 

Mungkin pada awalnya tampak sebagai hiburan selepas lelah berjalan ternyata dapat membuka pertanyaan yang lebih luas mengenai hubungan antara media, manusia, moralitas, dan kebudayaan. Sebuah cerita televisi semestinya tidak pernah hanya berhenti sebagai cerita ketika ia masuk ke ruang keluarga dan hadir berulang-ulang di hadapan jutaan penonton. Di dalamnya selalu ada cara tertentu dalam memandang manusia, cinta, kemiskinan, kekayaan, kesombongan, dosa, pertobatan, pengampunan, dan hubungan manusia dengan Tuhan. 

Melalui tokoh-tokoh yang diciptakannya, televisi secara perlahan dapat memperkenalkan kepada penonton tentang manusia seperti apa yang dianggap baik, perilaku seperti apa yang dipandang buruk, kehidupan seperti apa yang layak diperjuangkan, dan kesalahan seperti apa yang pada akhirnya masih mungkin ditebus. Karena itu, sebuah sinetron tidak hanya bekerja melalui dialog dan jalan cerita, tetapi juga melalui emosi, keteladanan, konflik, simbol, dan pengalaman batin yang ditinggalkannya setelah layar televisi dimatikan.

Berdasarkan hasil penelisuran apa yang saya tonton waktu itu, adalah Pintu Hidayah diproduksi oleh SinemArt dan dirilis pada 2005. Ceritanya dibangun sebagai serial yang menceritakan titik balik penyadaran manusia setelah menjalani kehidupan yang dianggap menyimpang dari jalan yang diridhai Tuhan. Sejak konsep produksinya, serial ini memang menempatkan drama populer sebagai kendaraan bagi pesan moral dan religius.

Di situlah saya mulai melihat televisi bukan hanya sebagai benda elektronik yang menyala di ruang keluarga, melainkan sebagai salah satu institusi kebudayaan. Sinema elektronik (sinetron) bekerja dengan gambar, suara, musik, dialog, emosi, konflik, tokoh, dan repetisi. Ia tidak perlu menyampaikan khotbah untuk menyampaikan nilai. Bahkan seringkali pesan yang paling kuat justru hadir tanpa terasa sebagai pesan. 

Seorang penonton dapat menangis menyaksikan seseorang kehilangan keluarganya, merasa iba kepada orang miskin, membenci tokoh yang sombong, lalu merasa lega ketika tokoh tersebut menyadari kesalahannya. Nilai moral dengan demikian dapat masuk melalui pengalaman emosional, bukan semata-mata melalui argumentasi rasional. Inilah kekuatan budaya populer agar membuat gagasan menjadi sebuah pengalaman, dan pengalaman menjadi ingatan.

Mensosialisasikan nilai-nilai kebenaran dengan mengintegrasikan segala potensi, niscaya kedamaian merasuk ke setiap jiwa. Ketika masyarakat sudah tidak bisa dihilangkan dari dunia televisi, sekarang pasti di setiap sudut ruangan rumahnya tergeletak kotak ajaib itu. Masalahnya sekarang, dunia yang diusung oleh setiap program acara lebih banyak unsur mudaratnya. Meski itu baru katanya, saya pun belum bisa menilainya secara proporsional. Melihat tayangan seksi, bukankah itu maunya laki-laki? Saya laki-laki secara normalnya tentu ingin ada birahi sebagai bumbu jalinan sebuah cerita.

Sebenarnya persoalan lebih kompleks daripada sekadar pertentangan antara tayangan "baik" dan "buruk". Manusia memang tidak hanya terdiri atas akal dan moralitas abstrak. Manusia juga mempunyai tubuh, hasrat, rasa ingin memiliki, kebutuhan akan pengakuan, rasa ingin dicintai, rasa ingin dilihat, dan berbagai dorongan biologis maupun psikologis lainnya. Karena itu, birahi dengan sendirinya tidak dapat disederhanakan sebagai kebatilan. 

Hasrat seksual juga merupakan bagian dari pengalaman manusia. Persoalan kebudayaan muncul ketika hasrat dipisahkan dari martabat manusia dan kemudian direduksi menjadi komoditas yang dapat dijual berulang kali kepada khalayak. Di sinilah akhirnya industri media bekerja melalui logika ekonomi perhatian manusia agar menjadi sesuatu yang mempunyai nilai komersial.

Coba kita tanya pada diri masing-masing, apakah birahi itu sebuah kebatilan, bukankah birahi juga diciptakan Tuhan, apakah karena tampil secara publik saja birahi itu akhirnya tergolong batil. Karena manusia sering tidak menempatkan segala sesuatunya pada tempat yang terhormat. Karena birahi bisa menjadi komoditi mesin uang, itulah hal yang jadi persoalan. Karena bukan semata-mata ada penawaran kalau tidak ada permintaan. 

Mungkin ada yang bertanya apa sebab manusia tidak merindukan kebenaran? Oleh sebab manusia yang pandangannya buram? Pertanyaan terakhir penting karena mengingatkan bahwa masalah kebudayaan tidak dapat seluruhnya dibebankan kepada produsen. Industri media memang mempunyai kepentingan ekonomi, tetapi industri juga membaca selera masyarakat. Kemudian apa yang ditonton, dibagikan, dikomentari, dicari, dan diulang akan memengaruhi keputusan produksi. 

Karena itu, hubungan antara penonton dan industri sebenarnya bersifat timbal balik. Penonton bukan korban yang sama sekali tidak mempunyai kehendak, tetapi juga bukan konsumen yang selalu bebas memilih karena pilihannya dibentuk oleh algoritma, promosi, kebiasaan, struktur kepemilikan media, dan mekanisme pasar. Dalam ekonomi perhatian, sesuatu yang mampu membuat manusia berhenti menggulir layar, bertahan lebih lama, atau kembali menonton akan memperoleh nilai ekonomi tinggi.

Perubahan itu bahkan semakin jelas ketika televisi tidak lagi menjadi satu-satunya layar. Indonesia kini memasuki ekosistem media yang jauh lebih kompleks. Reuters Institute mencatat bahwa pada 2026 penetrasi internet Indonesia mencapai 73 persen, sementara media sosial dan jaringan video semakin menjadi sumber utama masyarakat untuk memperoleh informasi. Proporsi masyarakat Indonesia yang menjadikan media sosial dan jaringan video sebagai sumber utama berita, bahkan meningkat menjadi 48 persen, naik delapan poin persentase dalam setahun. Maka pembicaraan tentang televisi hari ini sebenarnya harus diperluas menjadi pembicaraan tentang seluruh ekosistem budaya populer: televisi, YouTube, TikTok, Instagram, film, musik, podcast, gim, streaming, dan berbagai bentuk konten digital lainnya.

Supaya kebenaran bisa menang, maka harus dibuat acara tandingan dan lambat laun kebatilan akan lenyap. Sekadar mengutuk tidak akan menyelesaikan masalah, kecuali dongkol yang ada. Namun kita harus berpikir sudah berbuat apa dan sudah sejauh mana langkah-langkah kita dalam mensosialisasikan kebenaran dan nilai-nilai kemanusiaan lewat popular culture. Membangun budaya tandingan akan jauh lebih efektif dibanding ceramah dan hal-hal tradisional lainnya. Saat jauh sebelumnya, sebenarnya sudah kalah oleh Ahmadiyah, ormas sebesar NU dan Muhammadiyyah yang masih belum punya channel televisi.

Gagasan tentang budaya tandingan inilah yang menurut saya paling menarik dari kegelisahan tersebut. Sebab, jika kita tidak menyukai suatu kebudayaan, pertanyaan yang lebih produktif bukanlah bagaimana menghentikannya, melainkan kebudayaan seperti apa yang ingin kita hadirkan sebagai alternatif. Kritik tanpa produksi kebudayaan hanya akan menghasilkan kemarahan. Larangan tanpa kreativitas hanya akan melahirkan jarak antara nilai yang ingin kita pertahankan dan kehidupan yang sedang dijalani masyarakat. 

Anak muda yang setiap hari mendengar musik, menonton film, menggunakan media sosial, menikmati komedi, mengikuti tren mode, bermain gim, dan mengonsumsi berbagai bentuk hiburan tidak akan serta-merta meninggalkan semua itu hanya karena dinasihati agar "kembali kepada agama". Mereka membutuhkan bentuk kebudayaan yang membuat nilai-nilai tersebut terasa hidup, relevan, indah, dan manusiawi.

Dalam konteks ini, berbicara tentang Ahmadiyah perlu dibaca sebagai kritik terhadap ketertinggalan produksi media keagamaan, bukan sebagai klaim bahwa satu komunitas secara sederhana "mengalahkan" organisasi lain. Faktanya, Muslim Television Ahmadiyya atau MTA International telah membangun jaringan televisi internasional dengan berbagai kanal dan program dalam banyak bahasa, termasuk layanan berbahasa Indonesia. 

Hal tersebut memperkuat pertanyaan yang ingin diajukan tulisan ini. Mengapa sebagian kelompok keagamaan dapat memahami media sebagai ruang produksi kebudayaan, sementara kelompok lain masih melihat media terutama sebagai ancaman moral? Pertanyaannya bukan siapa yang lebih benar secara teologis, melainkan siapa yang lebih serius memahami bagaimana manusia modern memperoleh pengetahuan, membentuk selera, menemukan identitas, dan mengalami spiritualitas.

Tidak mampukah umat Islam untuk mendirikan stasiun TV? Katanya dari segi modal ada, namun kemampuan SDM belum ada. Masih minim orang-orang entertainment yang punya komitmen terhadap perjuangan kebenaran. Karena orang-orang yang punya ghirah keislaman kebanyakan masih antipati terhadap dunia Barat dalam segala aspeknya.

Persoalan sumber daya manusia sebenarnya jauh lebih penting daripada sekadar persoalan modal. Mendirikan stasiun televisi dapat dilakukan dengan investasi, tetapi menciptakan kebudayaan membutuhkan penulis, sutradara, aktor, kamerawan, editor, produser, musisi, desainer suara, peneliti, manajer kreatif, ahli pemasaran, teknolog, dan terutama orang-orang yang mampu memahami manusia. 

Karena bisa saja sebuah program pada akhirnya terjerembab menjadi sebuah propaganda. Bahkan sebuah gagasan yang baik dapat berubah menjadi propaganda yang membosankan apabila tidak mempunyai kualitas artistik. Sebaliknya, karya yang sangat indah dapat kehilangan arah apabila tidak mempunyai kedalaman nilai. Maka persoalannya bukan sekadar membuat "televisi Islam", melainkan menciptakan ekosistem kreatif yang mampu mempertemukan spiritualitas dengan estetika, nilai dengan cerita, dan keyakinan dengan pengalaman manusia.

Sikap antipati terhadap dunia Barat juga perlu ditinjau kembali. Peradaban modern tidak dapat dipahami sebagai sesuatu yang seluruhnya berasal dari Barat dan karena itu harus ditolak atau diterima secara keseluruhan. Kebudayaan selalu terbentuk melalui perjumpaan, pertukaran, penyerapan, penolakan, adaptasi, dan penciptaan kembali. Musik, sinematografi, televisi, fotografi, teknologi digital, animasi, desain, dan berbagai bentuk seni modern telah berkembang melalui perjumpaan lintas kebudayaan. Maka yang dibutuhkan bukan sikap menutup diri, melainkan kemampuan memilih, mengolah, dan memberi makna baru.

Tak sedikit orang bersikap demikian terhadap dunia asing karena merasa Islam yang ada dalam dirinya sudah sempurna. Sikap semacam itu pada akhirnya dapat membuat seseorang terkungkung dalam keyakinannya sendiri, seolah tidak ada lagi ruang untuk mengakui kesalahan dan kekurangan. Ketika seseorang merasa dirinya telah sampai pada kebenaran yang sempurna, ia mudah kehilangan dorongan untuk belajar, berdialog, dan mencari kemungkinan baru. Akibatnya, ruang bagi lahirnya gagasan-gagasan kreatif untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan pun menjadi semakin sempit.

Islam sesungguhnya terbuka terhadap peradaban lain. Islam tidak harus menolak seluruh nilai yang datang dari luar, tetapi dapat menyaring, mengolah, dan menyucikan nilai-nilai yang baik agar selaras dengan prinsip kemanusiaan dan ketuhanan. Tidak sesulit itu. Namun, kebanyakan orang masih berpikiran sempit dan melihat kebudayaan asing secara hitam-putih. Karena itu, mengapa kita tidak memperjuangkan agar para musisi dan komponis menciptakan lagu yang mengusung nilai-nilai kemanusiaan, bukan sekadar cinta dalam pengertian yang sempit, melainkan cinta yang lebih luas dan universal, cinta kepada manusia, kehidupan, keadilan, alam, perdamaian, dan Tuhan?

Di sinilah agama dapat ditempatkan bukan sebagai musuh kebudayaan, melainkan sebagai sumber orientasi etis bagi kebudayaan. Islam tidak harus selalu hadir dalam karya seni melalui simbol-simbol keagamaan yang eksplisit. Nilai-nilai Islam dapat hadir melalui cara sebuah cerita memperlakukan orang miskin, bagaimana sebuah film menggambarkan perempuan, bagaimana sebuah lagu berbicara tentang kehilangan, bagaimana seorang tokoh memperlakukan orang yang berbeda keyakinan, atau bagaimana sebuah karya mengajarkan bahwa manusia tidak boleh direndahkan hanya karena status sosialnya. Dengan cara demikian, agama tidak berhenti sebagai tema yang ditempelkan pada sebuah karya, tetapi menjadi etika yang bekerja dari dalam karya itu sendiri dan membentuk cara manusia memandang kehidupan.

Demikian gagasan mengenai "cinta universal" menjadi penting dalam konteks ini. Cinta tidak harus terus-menerus dipersempit menjadi hubungan antara laki-laki dan perempuan. Cinta dapat diperluas menjadi cinta kepada orang tua, anak-anak, orang miskin, alam, ilmu pengetahuan, kemanusiaan, keadilan, bahkan kepada mereka yang berbeda pandangan. Industri budaya membutuhkan lebih banyak cerita semacam itu karena kehidupan manusia sesungguhnya jauh lebih luas daripada romansa. Ketika cinta hanya dijadikan formula untuk menjual kecemburuan, perselingkuhan, pernikahan, dan konflik pasangan, imajinasi manusia akhirnya menjadi sempit. Padahal cinta dapat menjadi bahasa kebudayaan untuk membicarakan solidaritas sosial.

Data Komisi Penyiaran Indonesia menunjukkan bahwa persoalan ini memang bukan sekadar kesan subjektif penonton. Dalam pengukuran IKPSTV 2024, kategori religi memperoleh indeks kualitas 3,67, sedangkan sinetron berada pada 2,51, infotainment 2,81, standar kualitas KPI adalah 3,00. KPI juga mencatat bahwa dimensi edukatif dan sejumlah dimensi lain pada sinetron masih memerlukan perbaikan. 

Namun keadaan itu tidak sepenuhnya statis. Pada 2025, indeks kualitas keseluruhan program televisi meningkat menjadi 3,29, yang merupakan capaian tertinggi sejak riset tersebut dimulai, dan sinetron untuk pertama kalinya melampaui batas minimal kualitas, meskipun infotainment masih berada di bawah standar. Fakta tersebut penting karena menunjukkan bahwa budaya populer tidak selalu harus dilihat sebagai ruang kemerosotan moral. Ia juga dapat berubah ketika produsen, regulator, pengiklan, dan penonton sama-sama menuntut kualitas.

Dengan demikian, "budaya tandingan" tidak harus dipahami sebagai kebudayaan yang memusuhi kebudayaan lain. Budaya tandingan yang sehat merupakan kemampuan kita dalam menciptakan alternatif. Kita tidak perlu mengatakan, "Jangan menonton itu," tetapi bertanya, "Mengapa kita tidak membuat sesuatu yang lebih menarik daripada itu?" Maka tidak berhenti pada kecaman terhadap musik populer, tetapi menciptakan musik yang membuat orang ingin mendengarnya. Tidak sekadar menyalahkan sinetron, tetapi menulis cerita yang membuat penonton menemukan sublimasi pencerahan hingga terus menunggu episode berikutnya. 

Kita tidak perlu memusuhi teknologi, tetapi justru menggunakannya untuk memperluas pengetahuan, mempertemukan manusia dengan gagasan-gagasan baru, dan membuka ruang bagi nilai-nilai kemanusiaan serta spiritualitas. Pertanyaannya kemudian adalah program televisi seperti apa yang mampu menjangkau anak muda dan berbicara dengan bahasa kebudayaan yang mereka pahami, tanpa kehilangan kedalaman nilai yang ingin disampaikan. Kita perlu memasuki ruang budaya tempat anak muda berada, bukan sekadar meminta mereka datang ke ruang yang telah kita tentukan. Dengan demikian, nilai-nilai agama dan kemanusiaan dapat hadir secara lebih dekat, kreatif, dan relevan dengan kehidupan mereka.

Misalnya, ternyata banyak orang menyukai gerakan-gerakan dan tarian. Di dunia Barat, dance kerap menjadi bagian dari ekspresi diri, pergaulan, sekaligus cara untuk melepaskan kegelisahan dan kegalauan. Betapa indahnya jika gerakan atau tarian tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk membawa manusia merenungkan dirinya dan mendekat kepada Tuhan. Salah satu contoh yang menarik adalah tarian "Sema" dalam tradisi Jalaluddin Rumi, ketika gerak tubuh, musik, dan pengalaman spiritual berpadu menjadi sebuah ekspresi pencarian manusia terhadap Tuhan. Dari sana kita dapat belajar bahwa spiritualitas tidak selalu harus disampaikan melalui ceramah dan kata-kata, ia juga dapat hadir melalui keindahan, gerak, musik, dan pengalaman estetis yang menyentuh kesadaran manusia.

Dengan gagasan ini akan membawa kita pada kemungkinan yang lebih luas mengenai hubungan antara tubuh, seni, dan spiritualitas. Selama ini agama hanya dibicarakan melalui kata-kata dalam ceramah, khutbah, buku, tulisan, diskusi, dan pengajian. Padahal manusia dalam memahami dunia bukan hanya melalui bahasa verbal. Manusia juga memahami melalui musik, ritme, gambar, warna, gerak tubuh, ruang, suara, dan pengalaman estetis. Karena itu, tidak ada alasan mengapa pengalaman spiritual harus selalu disampaikan melalui bentuk komunikasi yang konvensional. Seni dapat menjadi jalan lain untuk membawa manusia merenungkan dirinya sendiri.

Tarian Sema dari tradisi Mevlevi merupakan contoh penting bagaimana gerak dapat memperoleh dimensi spiritual. UNESCO memasukkan Mevlevi Sema Ceremony ke dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2008. Tradisi tersebut berkembang dari tarekat Mevlevi yang didirikan di Konya dan terkenal dengan ritual berputar para darwis sebagai bagian dari praktik spiritualnya. Tentu saja Sema tidak dapat begitu saja dipindahkan ke dalam konteks Indonesia tanpa memahami sejarah, teologi, dan kebudayaan yang melahirkannya. Namun ada prinsip yang dapat dipelajari jauh lebih luas bahwa manusia dapat mengalami pencarian makna melalui tubuh dan estetika, bukan hanya melalui kata-kata.

Persoalan yang saya renungkan setelah menonton Pintu Hidayah bukan semata-mata apakah televisi sudah cukup religius atau belum. Persoalannya tentang siapa yang akan mengisi ruang imajinasi manusia modern? Siapa yang akan menentukan cerita apa yang dianggap indah, perilaku apa yang dianggap keren, hubungan manusia seperti apa yang dianggap ideal, dan kehidupan seperti apa yang dianggap layak diperjuangkan? 

Pertanyaan itu semakin penting ketika televisi telah bertemu dengan media sosial dan platform video. Dalam lingkungan digital, manusia tidak hanya menjadi penonton, tapi sekaligus menjadi produsen, distributor, komentator, dan bagian dari algoritma yang menentukan apa yang terlihat oleh orang lain. Karena itu, perjuangan kebudayaan pada zaman sekarang tidak cukup dilakukan dengan mendirikan satu stasiun televisi. Bahkan televisi sendiri sudah tidak memadai sebagai satu-satunya medan perjuangan. Yang dibutuhkan adalah ekosistem kebudayaan: film, serial, musik, buku, podcast, media digital, seni pertunjukan, pendidikan, jurnalistik, desain, dan teknologi yang saling menguatkan. 

Maka orang-orang yang mempunyai ghirah terhadap nilai-nilai agama dan kemanusiaan sudah seharusnya memasuki dalam dunia kreatif, bukan hanya berdiri di luar sambil menghakiminya. Kita perlu belajar bahasa sinema, memahami psikologi penonton, mengenal algoritma digital, menguasai estetika, dan pada saat yang sama mempertahankan kedalaman etika.

Dalam hal ini, literasi media menjadi sama pentingnya dengan produksi media. UNESCO menekankan bahwa media and information literacy bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan informasi secara kritis dan bertanggung jawab. UNESCO bahkan menempatkan literasi media dan informasi sebagai salah satu instrumen penting untuk menghadapi misinformasi, ujaran kebencian, perkembangan kecerdasan buatan, dan perubahan ekosistem digital. 

Bagi masyarakat yang ingin membangun budaya tandingan tidak cukup hanya membuat konten. Mereka juga harus mendidik publik agar mampu memahami bagaimana konten dibuat, untuk kepentingan apa, oleh siapa, dan dengan nilai apa. Maka di situlah makna "Pintu Hidayah" dapat diperluas. Hidayah tidak selalu datang dalam bentuk seseorang yang menangis setelah mengalami musibah. Hidayah dapat hadir ketika manusia tiba-tiba menemukan sebuah cerita yang membuatnya memahami penderitaan orang lain. Ia dapat muncul melalui sebuah lagu yang membuat seseorang berdamai dengan kehilangan, dapat tumbuh melalui film yang membuat seseorang menyadari ketidakadilan, dapat muncul melalui tarian yang membuat tubuh merasakan keheningan, dapat hadir melalui buku yang mengubah cara seseorang memandang kehidupan, dan bahkan dapat muncul melalui perjumpaan dengan seseorang yang berbeda-beda dalam segala hal.

Maka, jika kita benar-benar menginginkan kebenaran menang, barangkali tugas kita bukan memperbanyak suara yang mengatakan bahwa dunia sedang salah. Tugas kita adalah menciptakan dunia kebudayaan yang menawarkan kemungkinan lain. Sebab manusia jarang meninggalkan sesuatu hanya karena dilarang. Manusia meninggalkan sesuatu ketika menemukan sesuatu yang lebih bermakna, berpindah ketika menemukan keindahan yang lebih dalam, menyukai cerita yang lebih manusiawi, mendengar musik yang lebih menyentuh, atau mencari pengetahuan yang lebih mencerahkan, atau mengejar kehidupan yang membuatnya merasa bahwa menjadi manusia adalah sesuatu yang berharga.

Sekadar mengutuk kebatilan hanya akan membuat kita lelah. Namun membangun alternatif memang jauh lebih sulit. Sebab ia membutuhkan kerja panjang, kesabaran, pengetahuan, kreativitas, modal, organisasi, dan keberanian untuk memasuki ruang yang selama ini kita curigai. Tetapi mungkin di sanalah tantangan kebudayaan kita berada. Bukan memenangkan perdebatan tentang siapa yang paling suci, melainkan menciptakan karya yang membuat manusia ingin menjadi lebih baik tanpa merasa sedang diceramahi.

Dan mungkin, setelah semua itu, saya kembali pada kesan sederhana setelah menonton Pintu Hidayah, bahwa kekuatan cinta memang begitu dalam sehingga dapat mengantarkan seseorang pada hidayah. Hubungan dua manusia dapat menjadi jalan menuju Tuhan. Jika televisi, musik, film, tarian, buku, dan seluruh kebudayaan populer mampu membuat manusia semakin mengenal dirinya, semakin menghargai sesamanya, dan semakin dekat kepada kebaikan, mengapa kita harus menyerahkan seluruh ruang imajinasi itu kepada pasar?

Barangkali budaya tandingan yang sesungguhnya bukanlah budaya yang sibuk melawan kebudayaan lain. Ia adalah kebudayaan yang mampu melahirkan keindahan baru. Sebuah kebudayaan yang tidak takut kepada dunia, tetapi juga tidak kehilangan arah ketika berhadapan dengannya. Sebuah kebudayaan yang terbuka kepada peradaban lain, namun mampu menyaringnya dengan kebijaksanaan sendiri. Lalu pada akhirnya, sebuah kebudayaan yang membuat manusia bukan hanya takut kepada keburukan, melainkan mencintai kebaikan karena kebaikan itu sendiri terasa indah bagi siapa pun saja dari manapun asal dan latar belakangnya. (Sal)

Share :

Perspektif

Scroll