Lebih dari Titanic, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah Kisah Penyesalan yang Tak Pernah Karam

Perempuan bernama Hayati itu. Ya, demikianlah perempuan akan selalu begitu. Setidaknya, itulah...

Lebih dari Titanic, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah Kisah Penyesalan yang Tak Pernah Karam

08 Jun 2026
144 x Dilihat
Share :

Lebih dari Titanic, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah Kisah Penyesalan yang Tak Pernah Karam

Perempuan bernama Hayati itu. Ya, demikianlah perempuan akan selalu begitu. Setidaknya, itulah kesan yang tertinggal setelah membaca roman termasyhur karya Buya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Sebuah kesan yang cukup lama menetap di benak saya, jauh sebelum imajinasi seorang sutradara memindahkan elegi cerita sendu dan haru itu ke dalam sebuah gambar idoep di layar lebar.

Saat menyusuri lembar demi lembar halaman cerita dalam novelnya, saya diberi kemerdekaan penuh untuk membangun arsitektur visual saya sendiri. Saya dapat melukis wajah para tokohnya, atau meraba warna langit Minangkabau yang muram, hingga mendengarkan gemuruh ombak perasaan seorang Zainuddin dalam perjalanan hidupnya yang penuh luka.

Ketika versi sinematiknya hadir, seluruh lanskap imajinasi mandiri yang semula cair mendadak membeku, sebab dikunci oleh batas-batas visual yang mutlak dari hasil tafsir sang sutradara, Sunil Soraya. Kehilangan kemerdekaan berimajinasi ini membawa ingatan kita pada sebuah referensi yang lebih global. Kita sulit menampik kesan bahwa saat memproduksi film ini, sang sutradara tampaknya telah karam terlebih dahulu dalam pesona Titanic—sebuah mahakarya legendaris yang mustahil dilewati oleh siapa pun yang mengagumi sinema romansa kolosal. Karenanya sadar atau tidak, ruang kognitif kita sebagai penonton ikut terseret ke dalam aroma komparasi, mendapati Tenggelamnya Kapal Van der Wijck seolah menjelma menjadi Titanic dalam narasi lokal.

Sebutan dan penyepadanan itu tentu bukanlah tanpa alasan. Sebab keduanya sama-sama menghadirkan elegi cinta yang kandas di hamparan samudra, dan sama-sama menempatkan asmara sebagai martir yang bertarung melawan takdirnya. Namun jika kita menyelam lebih dalam, karya Hamka sebenarnya menawarkan lapisan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar romansa klise Hollywood.

Tentu saja, dari segi estetika teknis, kemegahan efek visual yang dihadirkan Sunil Soraya belum mampu melampaui kedigdayaan Titanic. Hal ini menjadi maklum jika kita menengok pada anggaran produksinya. Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck diperkirakan menghabiskan dana sekitar Rp25 miliar hingga Rp70 miliar, sebuah angka yang memang fantastis dan menempatkannya sebagai salah satu film termahal dalam sejarah perfilman Indonesia. Namun angka tersebut sangatlah kecil jika disandingkan dengan produksi Titanic yang menelan biaya hingga $200 juta (sekitar Rp2,8 triliun pada kurs saat itu), yang menasbihkannya sebagai film dengan biaya pembuatan paling jor-joran pada masanya.

Kendati kalah dalam kontes kemewahan visual, keunggulan sejati Tenggelamnya Kapal Van der Wijck justru terletak pada kedalaman nuansa cerita yang diwariskan oleh Buya Hamka. Jauh sebelum menjelma di layar lebar, narasi ceritanya telah memikat pembaca setia sejak masih berupa cerita bersambung di majalah Pedoman Masjarakat di Medan tempo dulu. Di balik jalinan kisahnya, terdapat sebuah gugatan kemanusiaan.

Dalam kekuatan teks sastra, karya ini tidak sekadar mengeksploitasi air mata pembaca (/penonton), melainkan sebuah upaya radikal untuk membongkar rigiditas struktur sosial yang selama berabad-abad telah memenjarakan kemerdekaan jiwa manusia. Buya Hamka berbicara tentang benturan adat, pencarian identitas, jerat status sosial, harga diri yang terluka, hingga posisi rentan kaum perempuan dalam pusaran patriarki yang menjerat.

Meski di balik popularitas di masanya, roman ini tidak pernah benar-benar sepi dari badai kritik. Sejarah sastra Indonesia mencatat bagaimana karya ini sempat menjadi bahan perdebatan sengit dan panjang. Pramoedya Ananta Toer bersama sejumlah kritikus sastra yang bernaung di bawah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pernah membidik novel ini dengan tudingan plagiarisme, menyoroti kemiripannya yang terlampau dekat dengan cerita Sous les Tilleuls (1832) karya sastrawan Prancis, Alphonse Karr.

Polemik tersebut memuncak pada awal tahun 1960-an, melalui ruang-ruang publikasi,  khususnya kolom-kolom tajam di koran Bintang Timur. Di tengah riuh rendah penghakiman tersebut, kemudian tampil H.B. Jassin sebagai penengah. Sang "Paus Sastra Indonesia" itu pasang badan dengan argumen bahwa bahwa meskipun terdapat kemiripan dalam struktur anatomi cerita, Hamka telah melakukan sebuah proses "pribumisasi narasi" yang jenius.

Baginya, Buya Hamka tidak sedang melakukan jiplakan mentah. Tetapi hanya meminjam wadah universal untuk meniupkan roh persoalan yang sangat khas Indonesia. Sebab melalui tangan kreatif Buya Hamka, cerita itu menjelma menjadi kritik sosiologis yang menghujam jantung sistem adat dan stratifikasi sosial masyarakat Minangkabau. Karena itu, yang lebih penting adalah percakapan tentang respons kultural yang autentik. Itulah sumbangan penting seorang ulama sekaligus sastrawan yang gelisah terhadap realitas zamannya.

Barangkali di titik persimpangan polemik itulah letak kekuatan sejati dari karya ini. Sejarah membuktikan bahwa sastra besar tidak selalu lahir dari keaslian cerita yang murni steril dari pengaruh luar, melainkan dari kemampuannya dalam menangkap khazanah kegelisahan manusia pada ruang dan waktu tertentu. Sebab Tenggelamnya Kapal Van der Wijck tidak lagi sekadar cerita tentang kapal yang karam atau cinta Zainuddin yang kandas, melainkan sebagai karya sastra transisional yang berfungsi bagaikan cermin retak, atau sebuah refleksi yang barangkali cacat dan tak sempurna, namun berhasil memantulkan dengan jernih seluruh pergolakan psikologis dan sosiologis sebuah bangsa yang saat itu sedang tertatih-tatih mencari bentuk identitasnya.

Cerita yang memikat dari Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck bernuansa cukup klasik. Di masa yang bermula pada dekade 1930-an, ketika seorang pemuda bernama Engku Zainuddin melakukan perjalanan dari Makassar menuju tanah kelahiran ayahnya di Minangkabau. Ia lahir dari ayah berdarah Minang dan ibu berdarah Makassar. Niat awalnya ingin menjalin silaturahmi dengan keluarga ayahnya, sebab ingin menemukan akar yang selama ini terasa jauh. Namun perjalanan itu justru mempertemukannya dengan seseorang yang kelak mengubah seluruh arah hidupnya setelah bertemu sosok Hayati, yang sebagaimana saya katakan di awal: perempuan ya demikianlah akan selalu begitu.

Sejak pertemuan pertama, Hayati menjadi pusat perhatian Zainuddin. Bukan sekadar perempuan yang dicintai, melainkan juga simbol harapan yang membuatnya bertahan menghadapi penolakan demi penolakan. Bagi Zainuddin yang yatim piatu dan terasing, Hayati adalah rumah spiritual tempatnya pulang.

Namun sebagaimana kata-kata klasik bahwa cinta tidak selalu cukup. Di tengah masyarakat yang sangat menjunjung garis keturunan matrilineal, Zainuddin dianggap tidak memiliki kedudukan yang jelas. Ia dipandang sebagai orang luar. Darah Minang memang mengalir dalam dirinya, tetapi tidak dianggap cukup untuk memberinya tempat yang setara. Karena dalam hukum adat setempat, seseorang dinilai berdasarkan suku ibunya. 

Di sinilah Hamka menaruh kritik sosial yang tajam. Novel ini bukan hanya tentang cinta yang gagal, melainkan tentang bagaimana identitas seseorang yang ditentukan oleh hal-hal yang tidak pernah ia pilih sejak lahir. Hamka dengan berani menggugat keangkuhan kolektif yang kerap kali menindas kemanusiaan individu demi formalitas tradisi.

Kemalangan Zainuddin di saat sangat mendamba cinta, terutama cinta Hayati. Maka ia berkata, "Jangan kecewakan hati orang yang berlindung padamu." Kalimat sederhana itu mengandung kerentanan yang luar biasa. Sebab cinta, bagi Zainuddin, bukan sekadar hasrat memiliki. Cinta adalah tempat berlindung. Cinta itu menghidupkan pengharapan. Meski harapan juga dapat menjadi sumber luka paling dalam ketika kenyataan memilih jalan yang berbeda.

Dalam film sempat terangkat sebuah nama koran yang menarik perhatian saya: Medan Prijaji, korannya Minke. Pada cerita yang dihidupkan Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Bumi Manusia menampilkan tokoh Minke yang sepak terjangnya mendirikan koran Medan Prijaji. Kehadiran elemen jurnalisme bumiputera ini mempertegas latar sosiologis cerita. Kemunculan koran itu seakan menjadi penanda zaman. Sebuah masa ketika Hindia Belanda sedang bergerak menuju kesadaran baru saat pers mulai tumbuh, gagasan tentang kebangsaan mulai menyebar, dan pendidikan perlahan membuka jalan bagi lahirnya generasi yang mempertanyakan tradisi maupun kolonialisme.

Melalui visualisasi ini, kita disadarkan bahwa Zainuddin dan Hayati hidup di tengah arus modernitas yang mulai merembes masuk ke wilayah-wilayah pedalaman Sumatera. Karena itu, membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sesungguhnya bukan hanya membaca kisah cinta. Kita juga sedang membaca potret masyarakat Indonesia pada masa transisi ketika adat dan modernitas, antara tradisi dan jalan perubahan mulai diperdebatkan.

Film maupun roman ini juga memiliki hubungan dengan peristiwa nyata. Nama Kapal Van Der Wijck memang bukan rekaan semata. Kapal tersebut benar-benar ada dan tenggelam pada 20 Oktober 1936 di perairan dekat Brondong, Lamongan, Jawa Timur. Tragedi itu menewaskan puluhan penumpang dan menjadi salah satu kecelakaan pelayaran yang banyak dibicarakan pada zamannya.

Secara historis, kapal mewah milik maskapai Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) buatan tahun 1921 ini merupakan simbol superioritas teknologi kolonial pada masanya. Menariknya, fakta sejarah ini semakin solid setelah tim Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur bersama para arkeolog maritim berhasil menemukan titik koordinat dan bangkai kapal yang diduga kuat sebagai SS Van Der Wijck di perairan Lamongan. Peristiwa inilah yang kemudian menginspirasi Hamka untuk memberi judul novelnya, mengawinkan faktual sejarah dengan melankolia fiksi. Meski demikian, kisah cinta Zainuddin dan Hayati sendiri merupakan karya fiksi. Hamka menggunakan karamnya kemegahan besi itu sebagai metafora atas karamnya nilai-nilai kemanusiaan akibat keserakahan sosial.

Lalu saya juga mengingat satu dialog menarik dalam film itu, bahwa "kita berpakaian memang untuk dilihat orang dan menarik perhatian orang." Sekilas kalimat itu terdengar ringan. Namun sesungguhnya menyimpan pertanyaan yang masih relevan hingga hari ini. Seberapa banyak pilihan hidup kita yang benar-benar lahir dari diri sendiri? Dan seberapa banyak yang kita lakukan karena ingin diakui orang lain?

Ketika Hayati mulai berubah cara berpakaiannya, perubahan itu bukan hanya soal mode atau penampilan. Ia mencerminkan pergulatan identitas, status sosial, dan keinginan untuk diterima dalam sebuah lingkungan yang berbeda. Dari baju kurung tradisional berganti menjadi gaun modern ala Eropa saat ia pindah ke Batavia bersama Aziz, pakaian menjadi representasi kepatuhan Hayati terhadap tuntutan kelas sosial barunya.

Karena itulah tokoh Hayati tetap menarik untuk dibicarakan hingga sekarang. Ia bukan sosok yang sepenuhnya kuat, tetapi juga tidak sepenuhnya lemah. Ia mencintai Zainuddin, tetapi memilih Aziz. Ia mengikuti hatinya, tetapi juga tunduk pada tekanan sosial. Ia menjadi korban keadaan, tetapi pada saat yang sama turut mengambil keputusan yang membentuk tragedinya sendiri. Karakter Hayati adalah potret nyata perempuan pada masa peralihan Timur-Barat, yang terombang-ambing di antara otonomi diri dan belenggu patriarki berkedok adat.

Lalu perkawinan Hayati dengan Aziz menjadi apa yang dapat disebut sebagai "perkawinan antara harta dan kecantikan". Sebuah hubungan yang dibangun bukan di atas kesetaraan jiwa, melainkan pertukaran kepentingan sosial. Dan sejarah, baik dalam sastra maupun kehidupan nyata, berkali-kali menunjukkan bahwa perkawinan semacam itu seringkali rapuh ketika diuji waktu. Ketika pondasi materialnya goyah, maka runtuh pulalah seluruh bangunan estetikanya.

Ketika Aziz jatuh bangkrut akibat perjudian dan moralitasnya yang dekaden, kehidupan rumah tangga mereka perlahan runtuh. Kebangkrutan tersebut berujung pada keputusan tragis Aziz untuk mengakhiri hidupnya sendiri setelah menyerahkan Hayati kembali kepada Zainuddin. Di titik nadir inilah, Hayati akhirnya menyadari bahwa kemewahan tidak pernah mampu menggantikan ketulusan cinta yang pernah ia tinggalkan. Saat Hayati kembali mencari Zainuddin, bukan lagi sebagai gadis yang dahulu dielu-elukan karena kecantikannya, melainkan sebagai perempuan yang datang membawa penyesalan.

Di sinilah Hamka memperlihatkan salah satu adegan paling menyayat dalam seluruh roman tersebut. Hayati berkata kepada Zainuddin, “Bukankah kau telah termasyhur di mana-mana? Seorang yang berhati mulia.”

“Tidak, saya tidak akan pulang. Saya akan tetap di sini bersamamu. Biar saya kau hinakan, biar saya kau pandang sebagai babu yang hina. Saya tak butuh uang berapa pun banyaknya. Saya butuh dekat dengan kau, Zainuddin. Saya butuh dekat dengan kau.”

Permohonan itu bukan lagi suara seorang perempuan yang mengejar kemapanan atau pengakuan sosial. Itu adalah suara seseorang yang akhirnya memahami arti kehilangan setelah kehilangan itu benar-benar terjadi. Sebuah kepasrahan total dari jiwa yang telah remuk oleh kerasnya realita duniawi.

Namun Zainuddin bukan lagi pemuda yang dahulu menunggu dengan penuh harap. Luka yang terlalu lama dipelihara telah mengubahnya. Hati yang patah telah menjelma menjadi benteng kesuksesan literasi yang dingin di bawah nama pena "Z.". Ia menjawab dengan kalimat yang hingga kini masih dikenang banyak pembaca (/penonton):

“Tidak.”

“Pantang pisang berbuah dua kali. Pantang pemuda makan sisa.”

“Kau mesti pulang kembali ke Padang. Biarkan saya dalam keadaan begini. Jangan mau ditumpang hidup saya.”

“Orang tidak tentu asal, negeri Minangkabau beradat.”

“Besok hari Senin ada kapal berangkat dari Surabaya menuju Tanjung Priok, terus ke Padang.”

“Kapal Van Der Wijck.”

“Kau menumpanglah dengan kapal itu pulang ke kampungmu.”

Saat Hayati berkata meminta maaf kepada Zainuddin, “Akan saya panggil kembali namamu sebagaimana dahulu pernah saya panggilkan. Zaenudin, Saya sudi mengambil cobaan yang menimpa diriku. Asalkan kau sudi memaafkan segenap kesalahanku.”

Tetapi Zainuddin menukasnya, “Maaf.. Kau regas segenap pucuk pengharapanku. Kau patahkan, kau minta maaf?”

Dengan jerit tangis, Hayati memohon, “Kenapa kau jawab aku sekejam itu, Zainuddin?”

Zainuddin membalas, “Demikianlah perempuan. Dia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya walaupun kecil dan ia lupa kekejamannya sendiri kepada orang lain padahal begitu besarnya. Lupakah kau siapakah di antara kita yang kejam?”

Tumpah ruahlah semua kata-kata yang mungkin selama itu dipendam Zanuddin dalam diam dan sepi. Saatnya semua harus dikeluarkan di saat yang tepat di hadapan perempuan yang telah menyakitinya. 

“Lupakah kau siapakah di antara kita yang kejam? Bukankah kau yang berjanji ketika saya diusir ninik mamakmu karena saya asalnya tidak tentu. Orang hina, dihina tidak tulen Minangkabau?”

“Ketika itu kau antarkan saya ke simpang jalan, kau berjanji akan menunggu kedatanganku, berapa pun lamanya. Tetapi kemudian kau berpaling ke yang lebih gagah, kaya raya, berbangsa, beradat, berlembaga, berketurunan. Kau kawin dengan dia.”

“Kau sendiri yang bilang padaku bahwa perkawinan itu bukan paksaan orang lain, tetapi pilihan hati kau sendiri. Hampir saya mati menanggung cinta, Hayati.”

“Dua bulan lamanya saya tergeletak di tempat tidur. Kau jenguk saya dalam sakitku, menunjukkan bahwa tangan kau telah berinang, bahwa kau telah jadi kepunyaan orang lain. Siapakah di antara kita yang kejam, Hayati?”

“Saya kirimkan surat-surat meratap, menghinakan diri, memohon dikasihani. Tiba-tiba kau balas saja surat itu dengan suatu balasan yang tak tersudu di itik, tak termakan di ayam. Kau katakan bahwa kau miskin, saya pun miskin. Hidup tidak akan beruntung kalau tidak ada uang. Karena itu kau pilih kehidupan yang lebih senang, mentereng, cukup uang, berenang di dalam emas, bersayap uang kertas.”

“Siapakah di antara kita yang kejam, Hayati? Siapakah yang telah menghalangi seorang anak muda yang bercita-cita tinggi menambah pengetahuan, tetapi akhirnya terbuang jauh ke tanah Jawa ini. Hilang kampung dan halamannya. Sehingga dia menjadi seorang anak komedi yang tertawa di muka umum, tetapi menangis di belakang layar.”

“Tidak Hayati, saya tidak kejam. Saya hanya menuruti katamu. Bukankah kau yang meminta dalam suratmu supaya cinta kita itu dihilangkan dan dilupakan saja, diganti dengan persahabatan yang kekal. Permintaan itulah yang saya pegang teguh sekarang. Kau bukan kecintaanku, bukan tunanganku, bukan istriku, tetapi janda dari orang lain.” 

“Maka itu, secara seorang sahabat, bahkan secara seorang saudara, saya akan kembali teguh memegang janjiku dalam persahabatan itu, sebagaimana teguhku dahulunya memegang cintaku.”

“Itulah sebabnya dengan segenap ridho hati ini, kau kubawa tinggal di rumahku untuk menunggu kedatangan suamimu. Tetapi kemudian bukan dirinya yang kembali pulang, tetapi surat cerai dan kabar yang mengerikan.

“Maka itu sebagai seorang sahabat pula kau akan kulepas pulang ke kampungmu, ke tanah asalmu, tanah Minangkabau yang kaya raya, yang beradat, berlembaga, yang tak lapuk di hujan, tak lekang di panas.”

Percakapan itu bukan sekadar penolakan seorang lelaki kepada perempuan yang pernah dicintainya. Di dalamnya tersimpan luka harga diri, kekecewaan yang telah mengeras menjadi kebanggaan, serta ironi yang begitu dalam. Zainuddin yang dahulu ditolak karena dianggap tidak cukup baik, kini justru menggunakan terminologi "adat" yang dahulu menindasnya untuk memulangkan Hayati secara terhormat namun dingin. Ia menjadi orang yang menolak kesempatan untuk memulai kembali, terjebak dalam ego kesakitan yang ia rawat sendiri.

Buya Hamka seolah ingin menunjukkan bahwa tidak semua cinta yang datang kembali akan menemukan pintu yang masih terbuka. Ada penyesalan yang datang terlambat. Ada kata maaf yang tiba ketika hati telah terlalu lama belajar hidup tanpa orang yang dicintainya. Bahkan seringkali bahwa kesuksesan materi dan nama besar hanyalah kompensasi sepi dari sebuah ruang kosong yang gagal dipenuhi oleh kehadiran orang yang paling dicintai.

Dan setelah keputusan itu, barulah tragedi yang sesungguhnya terjadi. Hayati menaiki Kapal Van Der Wijck untuk kembali ke Padang. Kapal yang kemudian mengalami kecelakaan dan tenggelam di laut Jawa. Seakan-akan takdir menutup kisah mereka dengan cara yang paling menyakitkan. Ketika cinta akhirnya masih ada, tetapi waktu tidak lagi berpihak. Kematian Hayati di rumah sakit setelah kapal karam menjadi hantaman rasa bersalah seumur hidup bagi Zainuddin, yang tak lama kemudian menyusul wafat akibat duka yang menggerogoti kesehatannya.

Melihat kembali seluruh jalinan takdir ini, kita memahami mengapa tokoh Hayati tetap menarik untuk dibicarakan hingga sekarang. Sebab ia bukanlah sosok yang sepenuhnya kuat, tetapi juga tidak sepenuhnya lemah. Ia mencintai Zainuddin, tetapi memilih Aziz. Ia mengikuti hatinya, tetapi juga tunduk pada tekanan sosial. Ia menjadi korban keadaan, tetapi pada saat yang sama turut mengambil keputusan yang membentuk tragedinya sendiri. Dinamika psikologis inilah yang membuat karakter-karakter buatan Hamka terasa begitu manusiawi, bernyawa, dan terbebas dari stereotip hitam-putih.

Lalu perkawinan Hayati dengan Aziz menjadi apa yang dapat disebut sebagai "perkawinan antara harta dan kecantikan", sebuah hubungan yang dibangun bukan di atas kesetaraan jiwa, melainkan pertukaran kepentingan sosial. Dan sejarah, baik dalam sastra maupun kehidupan nyata, berkali-kali menunjukkan bahwa perkawinan semacam itu sering kali rapuh ketika diuji waktu.

Mungkin itulah sebabnya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck tetap bertahan dan sebagai warisan yang melintasi generasi. Ia bukan sekadar cerita romantis, melainkan sebuah teks kritik kebudayaan. Sebab berbicara tentang sesuatu yang tidak pernah usang tentang kerinduan seorang anak manusia untuk dicintai dan diterima secara utuh tanpa sekat-sekat pembatasnya.

Di balik kisah Zainuddin dan Hayati, Buya Hamka sebenarnya sedang mengajukan pertanyaan yang lebih besar kepada kita semua. Apakah seseorang harus dihargai karena asal-usulnya, hartanya, gelarnya, atau karena kualitas dirinya sebagai manusia? Pertanyaan itu terasa semakin relevan di zaman sekarang, ketika masyarakat modern masih sering terjebak dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial yang berbeda nama tetapi memiliki watak yang sama. Hari ini kita mungkin tidak lagi meributkan persoalan "darah campuran" Makassar-Minang, namun kita masih sering menghakimi sesama berdasarkan kelas sosial, status ekonomi, lingkaran pertemanan, dan validasi semu di media sosial.

Lalu pada akhirnya, yang tenggelam dalam kisah ini bukan hanya sebuah kapal besi buatan Rotterdam. Yang tenggelam adalah harapan-harapan yang terlambat diperjuangkan. Yang tenggelam adalah keberanian untuk memilih cinta ketika kesempatan masih ada. Yang tenggelam adalah manusia-manusia yang terlalu sibuk mempertahankan gengsi hingga kehilangan apa yang paling berharga.

Dan seperti laut yang menyimpan bangkai Kapal Van Der Wijck di dasar perairannya, waktu juga menyimpan kisah-kisah penyesalan yang tak pernah benar-benar karam dari ingatan manusia. Kisah ini adalah sebuah pengingat abadi bagi siapa saja yang sedang hidup, bahwa dalam hidup yang serba singkat ini, keangkuhan sosial memungut bayaran yang teramat mahal, yaitu kebahagiaan kita sendiri. (Red)

Perspektif

Scroll