Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan pada 10 Maret di jurnal JGR Solid Earth mengungkap bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia kini ikut memengaruhi rotasi Bumi. Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari ETH Zurich ini menemukan bahwa kenaikan permukaan laut akibat mencairnya es kutub telah memperlambat rotasi planet, sehingga panjang hari bertambah sekitar 1,33 milidetik per abad. Temuan ini penting karena menunjukkan bagaimana krisis iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada sistem fisik dasar Bumi, termasuk waktu itu sendiri.
Fenomena ini dapat dipahami melalui prinsip fisika sederhana bahwa distribusi massa memengaruhi kecepatan rotasi. Ketika massa Bumi lebih terkonsentrasi, rotasinya cenderung lebih cepat, mirip seorang peseluncur es yang menarik lengannya ke dalam. Sebaliknya, ketika massa menyebar, seperti akibat mencairnya es dan naiknya permukaan laut, rotasi akan melambat. Selama ini, efek tersebut sudah diketahui, namun laju perubahan yang teramati saat ini disebut para ilmuwan sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi dalam jutaan tahun terakhir.
Dalam skala jangka panjang, gaya gravitasi Bulan tetap menjadi faktor dominan yang memperlambat rotasi Bumi. Menurut ahli klimatologi Michael Mann dari Universitas Pennsylvania, tarikan gravitasi Bulan menciptakan tonjolan pada permukaan Bumi yang secara bertahap memperlambat rotasi, menambah panjang hari sekitar 2,4 milidetik per abad. Namun, efek ini sebagian dikompensasi oleh proses geologis yang dikenal sebagai penyesuaian isostatik glasial, yakni kenaikan perlahan kerak Bumi setelah mencairnya lapisan es purba yang mempercepat rotasi sekitar 0,8 milidetik per abad.
Di luar itu, faktor jangka pendek seperti perubahan pola angin global, termasuk fenomena El Nino, juga turut memengaruhi kecepatan rotasi, meski dalam skala yang lebih kecil. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, para ilmuwan mulai melihat bahwa kontribusi perubahan iklim menjadi semakin signifikan.
Mostafa Kiani Shahvandi, ahli geologi dari ETH Zurich sekaligus penulis utama studi ini, menyebut temuan tersebut sebagai anomali dalam sejarah panjang Bumi. “Saya ingin tahu apakah ini sesuatu yang biasa terjadi di masa lalu. Ternyata tidak. Ini cukup anomali, sehingga kami menyimpulkan bahwa efek ini bersifat antropogenik,” ujarnya dalam wawancara dengan Live Science.
Untuk menelusuri perubahan ini hingga jutaan tahun ke belakang, para peneliti menggunakan data fosil foraminifera, organisme bersel tunggal bercangkang yang menyimpan jejak kimia kondisi laut purba. Melalui analisis kandungan oksigen dalam fosil tersebut, ilmuwan dapat merekonstruksi perubahan permukaan laut dan memperkirakan panjang hari di masa lalu.
Hasilnya menunjukkan bahwa laju perlambatan rotasi saat ini termasuk yang tercepat dalam sekitar 3,6 juta tahun terakhir. Bahkan, dalam skenario pemanasan global yang lebih ekstrem, panjang hari diperkirakan bisa bertambah hingga 2,62 milidetik per abad pada tahun 2080, angka yang mendekati, bahkan berpotensi melampaui pengaruh gravitasi Bulan.
Meski perubahan ini nyaris tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dampaknya tidak sepenuhnya sepele. Sistem yang bergantung pada kesesuaian waktu tinggi, seperti navigasi satelit, komunikasi ruang angkasa, hingga komputasi itu dapat terdampak. “Instrumen yang membutuhkan akurasi tinggi dalam pengukuran waktu mungkin perlu dikalibrasi ulang,” kata Mann. Senada dengan itu, Shahvandi menambahkan bahwa sistem penunjuk waktu presisi juga bisa mengalami penyesuaian.
Di balik dimensi teknis tersebut, temuan ini juga memunculkan perdebatan. Sebagian ilmuwan melihatnya sebagai bukti kuat betapa cepatnya perubahan iklim berlangsung saat ini. Pencairan es di kutub dan gletser, serta kenaikan permukaan laut menjadi indikator nyata percepatan tersebut. “Ini memberi tahu kita bahwa perubahan iklim modern terjadi dengan sangat cepat,” kata Shahvandi.
Sejumlah peneliti mengingatkan agar temuan ini tidak dibesar-besarkan dalam konteks dampak langsung terhadap kehidupan manusia. Mereka menilai bahwa perubahan dalam skala milidetik per abad masih terlalu kecil untuk menimbulkan konsekuensi praktis dalam waktu dekat, sehingga perhatian utama seharusnya tetap difokuskan pada dampak iklim yang lebih nyata seperti cuaca ekstrem, krisis pangan, dan kenaikan muka air laut.
Perlambatan rotasi Bumi ini menjadi semacam metafora ilmiah yang cukup menggugah bahwa krisis iklim tidak hanya mengubah lanskap, ekosistem, dan kehidupan manusia, tetapi juga menyentuh dimensi paling mendasar dari keberadaan kita, yakni tentang waktu. Di tengah percepatan hidup manusia modern, Bumi justru bergerak semakin lambat, seakan memberi jeda yang nyaris tak terasa tapi sarat makna bahwa setiap perubahan, sekecil apa pun, adalah akumulasi dari pilihan-pilihan besar yang kita buat membawa dampak peradaban. (Red)