PLN Sebut Cuaca Buruk Picu Blackout Sumatera, Publik Soroti Ketahanan Infrastruktur

Pemadaman listrik massal melanda sebagian besar Pulau Sumatera pada Jumat malam, 22 Mei 2026,...

PLN Sebut Cuaca Buruk Picu Blackout Sumatera, Publik Soroti Ketahanan Infrastruktur

Tekno
24 Mei 2026
455 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

PLN Sebut Cuaca Buruk Picu Blackout Sumatera, Publik Soroti Ketahanan Infrastruktur

Pemadaman listrik massal melanda sebagian besar Pulau Sumatera pada Jumat malam, 22 Mei 2026, sekitar pukul 18.44 WIB. Gangguan yang terjadi mulai dari Lampung hingga Aceh itu disebut dipicu cuaca buruk yang mengganggu jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 275 kiloVolt (kV), sehingga memicu gangguan pada sistem interkoneksi kelistrikan Sumatera. PT PLN (Persero) menyatakan ratusan personil diterjunkan untuk memulihkan pasokan listrik yang sempat lumpuh di berbagai daerah. 

Di Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Padang, hingga sejumlah kota di Jambi dan Lampung, warga mendadak hidup dalam gelap. Aktivitas masyarakat terganggu, lalu lintas sempat kacau, jaringan komunikasi melambat, dan banyak pelaku usaha kecil terpaksa menggunakan penerangan darurat untuk tetap bertahan melayani pelanggan. Di sejumlah rumah sakit dan fasilitas publik, genset menjadi penopang utama selama sistem listrik utama belum pulih sepenuhnya.

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan gangguan bermula dari sistem transmisi yang terdampak karena cuaca ekstrem. Menurutnya, sambaran petir pada jalur transmisi serta gangguan tambahan akibat penebangan pohon di sekitar jaringan memperburuk kondisi sistem interkoneksi Sumatera. “Gangguan pada ruas transmisi berdampak meluas pada sebagian sistem transmisi Sumatera, mengakibatkan penurunan frekuensi akibat beban berat pembangkit dan memicu efek domino gangguan di sejumlah wilayah,” ujar Darmawan dalam keterangan resmi PLN. 

PLN menyebut jalur SUTET 275 kV Lubuklinggau–Lahat dan Muara Bungo–Sungai Rumbai merupakan salah satu tulang punggung distribusi listrik antarwilayah di Sumatera. Ketika jalur ini terganggu, keseimbangan suplai dan beban listrik terguncang sehingga sistem proteksi otomatis memutus aliran listrik. Dalam proses pemulihan, PLN mengaku harus menjalankan prosedur bertahap. 

Pembangkit berbasis hidro dan gas dapat lebih cepat dioperasikan kembali, sementara pembangkit thermal seperti PLTU membutuhkan waktu lebih lama karena harus melalui tahapan start-up, sinkronisasi, hingga beroperasi penuh. “Sementara pembangkit thermal seperti PLTU membutuhkan waktu lebih lama, antara 15 hingga 20 jam mulai dari start-up, sinkron dan beroperasi penuh,” kata Darmawan. 

Hingga Sabtu, 23 Mei 2026, PLN mengklaim sekitar 8,3 juta pelanggan telah kembali menikmati pasokan listrik dari total sekitar 13,1 juta pelanggan terdampak. Sebanyak 157 gardu induk disebut telah kembali beroperasi secara bertahap. Namun di tengah penjelasan resmi PLN, muncul pertanyaan publik mengenai ketahanan sistem kelistrikan nasional, khususnya di Sumatera. Banyak warga menilai gangguan cuaca seharusnya tidak langsung menyebabkan blackout berskala pulau apabila sistem cadangan dan mitigasi bekerja optimal.

Di media sosial dan forum daring, sejumlah pengguna mempertanyakan mengapa satu gangguan transmisi dapat memicu pemadaman begitu luas. Sebagian warga bahkan menyebut insiden ini menunjukkan masih rentannya sistem interkoneksi listrik di Indonesia. “Berarti memang jalur transmisi SUTET-nya ada sesuatu,” tulis salah satu pengguna, sementara pengguna lain mengeluhkan bahwa pemadaman membuat mereka harus mencari tempat untuk mengisi daya telepon genggam dan penerangan darurat. 

Pandangan kritis juga datang dari pengamat energi yang selama ini menyoroti pentingnya modernisasi jaringan transmisi nasional. Dalam banyak kasus di berbagai negara, cuaca ekstrem memang dapat memicu gangguan listrik. Namun sistem interkoneksi modern biasanya dirancang agar kerusakan tidak langsung menjalar menjadi blackout besar.

Ada pula pandangan yang membela langkah PLN. Kompleksitas sistem kelistrikan Sumatera yang saling terhubung membuat satu gangguan besar dapat cepat memengaruhi kestabilan frekuensi di wilayah lain. Selain itu, cuaca ekstrem dalam beberapa tahun terakhir memang semakin sulit diprediksi akibat perubahan iklim global. PLN sendiri menyatakan seluruh personel bekerja selama 24 jam untuk mempercepat pemulihan di wilayah terdampak seperti Jambi, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara, hingga Aceh. 

Karenanya peristiwa blackout Sumatera kali ini bukan sekadar soal listrik padam selama beberapa jam. Ia memperlihatkan betapa kehidupan modern begitu bergantung pada satu sistem yang nyaris tak terlihat. Ketika aliran listrik berhenti, bukan hanya lampu yang padam, tetapi juga ritme ekonomi, komunikasi, bahkan rasa aman masyarakat.

Di tengah gelap yang tiba-tiba menyelimuti kota-kota di Sumatera malam itu, publik kembali diingatkan bahwa infrastruktur bukan hanya perkara kabel dan gardu induk. Ia adalah urat nadi kehidupan sehari-hari. Dan ketika satu gangguan cuaca mampu melumpuhkan jutaan orang sekaligus, maka pertanyaan besarnya bukan lagi sekadar apa penyebabnya, melainkan seberapa siap sebenarnya sistem kita menghadapi masa depan yang semakin tidak menentu. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll