Interpol memperingatkan meningkatnya ancaman kejahatan siber di kawasan Asia dan Pasifik Selatan sepanjang 2025-2026. Lembaga kepolisian internasional itu mencatat maraknya penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) oleh kelompok peretas untuk menemukan celah keamanan, mempercepat penyusupan sistem, hingga menyebarkan malware pencuri informasi atau infostealer. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran baru karena ruang bagi para ahli keamanan untuk mendeteksi dan merespons serangan semakin sempit.
Perkembangan teknologi digital yang begitu cepat ternyata tidak hanya membuka peluang ekonomi dan inovasi, tetapi juga melahirkan medan tempur baru yang kian rumit. Dalam laporan Asia and South Pacific Cyber Threat Assessment 2025/2026, Interpol menyebutkan bahwa digitalisasi yang pesat, kemunculan teknologi baru, dan semakin terorganisasinya jaringan kriminal menjadi faktor utama meningkatnya kejahatan siber di kawasan Asia-Pasifik.
Direktur Kejahatan Siber Interpol, Neal Jetton, mengatakan lanskap ancaman siber kini berubah dengan sangat cepat. Menurut dia, para pelaku kejahatan tidak lagi hanya mengandalkan teknik konvensional, melainkan memanfaatkan AI dan rekayasa sosial dalam skala industri. "Ancaman siber di Asia dan Pasifik Selatan berkembang dengan cepat. Penjahat siber memanfaatkan AI dan teknik rekayasa sosial yang semakin canggih," ujar Neal Jetton dalam laporan tersebut.
Jika dahulu pencurian kata sandi menjadi pintu masuk favorit peretas, kini tren mulai bergeser. Laporan Verizon Data Breach Investigations Report (DBIR) 2026 menunjukkan bahwa eksploitasi celah perangkat lunak telah melampaui pencurian kredensial sebagai metode utama pembobolan sistem. Sebanyak 31 persen pelanggaran data berasal dari pemanfaatan kerentanan perangkat lunak.
Chris Novak, Vice President Global Cybersecurity Solutions Verizon Business, menegaskan pentingnya pertahanan berlapis dalam menghadapi perubahan pola serangan tersebut. "Temuan DBIR menegaskan pentingnya strategi pertahanan berlapis," kata Chris Novak.
Reuters melaporkan bahwa AI generatif telah mempercepat kemampuan peretas dalam menemukan celah keamanan. Jeda waktu yang sebelumnya bisa berlangsung berbulan-bulan kini menyusut menjadi hitungan jam. AI digunakan untuk mengidentifikasi kelemahan sistem, membuat kode berbahaya, hingga mengotomatisasi proses serangan.
Salah satu jenis serangan yang menjadi perhatian Interpol adalah infostealer, yakni malware yang dirancang untuk mencuri informasi penting seperti kata sandi, data perbankan, cookie browser, hingga akses akun media sosial.
Laporan Interpol bahkan menyarankan sejumlah langkah perlindungan, seperti menonaktifkan penyimpanan kata sandi otomatis di peramban, menggunakan pengelola kata sandi (password manager), memblokir ekstensi mencurigakan, serta mengaktifkan autentikasi multi-faktor (MFA).
Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif Angga, serta Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi, menyatakan bahwa kesadaran masyarakat terhadap keamanan digital masih menjadi titik lemah yang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan. "Kebanyakan pengguna internet masih kurang disiplin dalam menjaga keamanan akun dan perangkat yang digunakan," ujar Heru.
Pandangan serupa datang dari Ketua Indonesia Cyber Security Forum Ardi Sutedja. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan antivirus. "Masyarakat perlu rutin memeriksa aktivitas login akun, mengganti kata sandi secara berkala, dan mengaktifkan autentikasi ganda," kata Ardi.
Laporan CrowdStrike memperlihatkan bagaimana AI telah mengubah cara kelompok peretas bekerja. Perusahaan keamanan siber itu menemukan peningkatan serangan berbasis AI hingga 89 persen dalam setahun terakhir. Waktu yang dibutuhkan pelaku untuk bergerak di dalam jaringan korban juga semakin singkat. Dalam beberapa kasus, proses pencurian data dapat dimulai hanya dalam hitungan menit setelah akses diperoleh.
Chief Technology Officer CrowdStrike, Elia Zaitsev, mengatakan AI telah digunakan di hampir seluruh rantai serangan. "Para pelaku mempersenjatai AI untuk mempercepat setiap tahap serangan, mulai dari pengembangan malware hingga rekayasa sosial," ujar Elia Zaitsev.
Namun perkembangan AI tidak seluruhnya dipandang sebagai ancaman. Banyak kalangan industri keamanan justru melihat AI sebagai alat pertahanan baru. Sebanyak 89 persen organisasi yang disurvei CrowdStrike meyakini bahwa perlindungan berbasis AI merupakan kunci untuk menutup kesenjangan kemampuan antara penyerang dan pihak yang bertahan.
Di tengah berkembangnya ancaman tersebut, sebagian pakar menilai bahwa solusi keamanan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi canggih. Diskusi para praktisi keamanan siber menunjukkan bahwa narasi lama yang menyebut manusia sebagai "mata rantai terlemah" mulai bergeser. Kini justru banyak serangan berasal dari sistem yang tidak diperbarui dan celah perangkat lunak yang terlambat ditambal. Masalahnya bukan semata kurangnya kesadaran pengguna, tetapi juga keterbatasan organisasi dalam mengelola ribuan kerentanan yang terus bermunculan.
Karena itu, sejumlah pakar mendorong pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari pembaruan perangkat lunak secara berkala, pelatihan keamanan digital, penggunaan autentikasi ganda, hingga pengawasan terhadap penggunaan AI di lingkungan kerja.
Teknologi selalu menghadirkan dua wajah. Di satu sisi, AI menjanjikan efisiensi, inovasi, dan kemudahan yang belum pernah ada sebelumnya. Namun di sisi lain, kecerdasan yang sama juga sedang dipelajari dan dimanfaatkan oleh mereka yang ingin mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain.
Barangkali ancaman terbesar di era digital bukan lagi sekadar peretas yang bersembunyi di balik layar komputer, melainkan rasa aman yang membuat manusia lupa bahwa setiap kemudahan selalu membawa risiko baru. Ketika kehidupan semakin berpindah ke ruang digital, menjaga data pribadi tidak lagi sekadar urusan teknis para ahli keamanan. Ia telah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, sebagaimana manusia belajar mengunci pintu rumah sebelum tidur.
Sebab di zaman ketika informasi menjadi mata uang baru, kehilangan data kadang berarti kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu kepercayaan, privasi, dan kendali atas diri sendiri. (Red)