Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam resmi menandatangani kerja sama pembangunan Batam Science and Technology Park (BSTP) pada Kamis (18/6/2026) di Gedung B.J. Habibie, Jakarta. Melalui kolaborasi ini, kedua lembaga berupaya mendorong Batam menjadi pusat inovasi dan teknologi berkelas internasional dengan target peningkatan ekspor teknologi mencapai Rp21,7 triliun per tahun. Program tersebut diharapkan menjadi jembatan antara hasil riset nasional dengan kebutuhan industri sekaligus memperkuat transformasi ekonomi Batam menuju ekonomi berbasis pengetahuan.
Di tengah persaingan kawasan Asia Tenggara yang semakin ketat, Batam sedang berusaha mendefinisikan ulang dirinya. Selama puluhan tahun, kota yang berada di bibir Selat Singapura ini dikenal sebagai kawasan industri manufaktur dan perdagangan bebas. Kini, pemerintah ingin melangkah lebih jauh guna menjadikan Batam sebagai pusat teknologi yang tidak hanya memproduksi barang, tetapi juga melahirkan inovasi.
Kerja sama antara BRIN dan BP Batam menjadi salah satu fondasi menuju tujuan tersebut. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama tentang Pemanfaatan Riset dan Inovasi serta Pengkajian Pembangunan Batam Science and Technology Park (BSTP) memperlihatkan upaya mempertemukan dunia penelitian dengan kebutuhan dunia usaha.
Deputi Bidang Kebijakan Strategis dan Perizinan BP Batam, Sudirman Saad, mengatakan bahwa percepatan investasi berkualitas membutuhkan dukungan teknologi dan inovasi yang konkret. "Tantangan terbesar kami adalah kebutuhan air dan listrik. Kami berharap BRIN membantu menghadirkan solusi inovatif melalui pengelolaan waduk, pemanfaatan air laut, hingga pengembangan floating solar panel," ujar Sudirman.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama Batam saat ini bukan semata bagaimana menarik investor, melainkan bagaimana memastikan infrastruktur dasar mampu menopang pertumbuhan industri digital yang sedang berkembang pesat.
Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pusat data (data center) dan ekonomi digital menjadi salah satu magnet investasi baru di Batam. BP Batam mencatat realisasi investasi triwulan I-2026 mencapai Rp17,4 triliun, meningkat lebih dari 102 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sektor digital juga menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi baru, terutama melalui pengembangan Nongsa Digital Park dan investasi pusat data berbasis kecerdasan buatan.
Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa keberadaan Batam Science and Technology Park (BSTP) tidak boleh dipahami sekadar sebagai pembangunan kawasan fisik. "Inovasi akan memberikan dampak apabila hasil penelitian diterapkan untuk menyelesaikan persoalan nyata. BRIN ingin menjadi mitra strategis BP Batam," kata Arif. Menurutnya, keberhasilan kawasan teknologi di berbagai negara menunjukkan bahwa hubungan antara riset dan industri merupakan kunci pertumbuhan ekonomi masa depan.
Sebagai contoh, Shenzhen National High-Tech Zone di Tiongkok mampu menghasilkan nilai output industri sekitar 1,79 triliun yuan atau lebih dari Rp4.700 triliun. "Ini menunjukkan bahwa pusat Science and Technology Park bukan sekadar kawasan fisik, tetapi mesin ekonomi baru," ujar Arif.
Tenaga Ahli Investasi BP Batam sekaligus anggota Komite Eksekutif Presiden RI, Billy Mambrasar, optimistis BSTP dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. "Batam membutuhkan ekosistem yang menghubungkan riset dengan kebutuhan industri. Ini akan mendorong lahirnya perusahaan baru dan lapangan kerja berkualitas," ujarnya. Menurutnya, kawasan ini berpotensi meningkatkan nilai ekspor teknologi Indonesia hingga Rp21,7 triliun setiap tahun.
Namun, optimisme tersebut bukan tanpa catatan. Sejumlah pengamat dan masyarakat Batam mengingatkan bahwa perkembangan industri digital yang masif juga membawa konsekuensi terhadap kebutuhan energi dan air bersih. Diskusi publik yang berkembang menunjukkan kekhawatiran bahwa pertumbuhan pusat data dapat memperbesar tekanan terhadap sumber daya air di pulau yang secara geografis memiliki keterbatasan tersebut. Sebagian pihak menilai pembangunan fasilitas desalinasi air laut dan energi terbarukan harus berjalan beriringan agar ekspansi industri tidak mengorbankan kebutuhan masyarakat.
Banyak kalangan melihat momentum ini sebagai peluang besar. Batam dinilai memiliki keunggulan geografis, kedekatan dengan Singapura, konektivitas internasional, serta ekosistem digital yang mulai terbentuk. Investasi pusat data berbasis AI senilai sekitar Rp88 triliun dan penguatan Nongsa Digital Park menjadi indikasi bahwa arah transformasi ekonomi Batam mulai mendapatkan kepercayaan investor global.
Meski demikian, sejarah menunjukkan bahwa membangun "Shenzhen Indonesia" tidak dapat dicapai hanya melalui jargon dan pembangunan gedung-gedung megah. Shenzhen tumbuh bukan dalam semalam, melainkan melalui puluhan tahun konsistensi kebijakan, investasi sumber daya manusia, keterbukaan terhadap teknologi, dan kemitraan antara universitas, industri, serta pemerintah.
Batam Science and Technology Park diharapkan bukan sekadar proyek infrastruktur atau kawasan baru, melainkan sebuah pertaruhan tentang apakah Indonesia mampu mengubah hasil penelitian menjadi produk, menciptakan perusahaan berbasis teknologi, serta melahirkan generasi penemu yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penciptanya.
Sebab bangsa-bangsa besar tidak hanya dikenang karena kekayaan alam yang mereka miliki, melainkan karena kemampuan mereka mengubah pengetahuan menjadi peradaban. Dan mungkin, di sebuah pulau kecil yang menghadap Selat Malaka itu, Indonesia sedang mencoba menulis bab baru tentang masa depannya, yang tidak lagi bertumpu pada apa yang digali dari bumi, tetapi pada apa yang lahir dari pikiran manusia. (Red)