Di tengah pesatnya pembangunan kawasan pesisir Batam, keberadaan pantai yang masih ramah bagi pengunjung keluarga kian jarang dijumpai. Banyak destinasi pantai menawarkan panorama laut, tetapi minim ruang teduh untuk berlama-lama. Di antara kondisi itu, Pantai Bahagia di kawasan Nongsa hadir sebagai pengecualian. Sebuah pantai yang tidak hanya menyuguhkan laut, tetapi juga kenyamanan alami dari deretan pepohonan rindang.
Pantai ini membentang cukup panjang dengan garis pantai yang melengkung lembut. Pepohonan tumbuh rapat di sepanjang pesisir, menciptakan ruang teduh yang menjadi daya tarik utama. Berbeda dengan sejumlah pantai lain di Batam yang terbuka dan terpapar panas matahari, Pantai Bahagia menawarkan suasana sejuk yang membuat pengunjung betah berlama-lama. Tikar-tikar kerap dibentangkan di bawah pohon, menjadi tempat berkumpul keluarga sekaligus titik aman bagi orang tua untuk mengawasi anak-anak bermain di tepi air.
Dari sisi panorama, Pantai Bahagia menyuguhkan lanskap lintas batas negara. Di hadapan pantai, kapal-kapal rute Batam–Singapura hilir mudik melintas. Lebih jauh ke arah laut lepas, kapal kargo berukuran besar tampak melintas di sekitar Pulau Putri. Sementara itu, di sisi kiri pantai, siluet gedung-gedung pencakar langit Singapura terlihat samar, terutama saat cuaca cerah. Pemandangan ini menghadirkan pengalaman visual yang jarang ditemui di pantai-pantai lain di Batam.
Sesuai karakternya, Pantai Bahagia tidak berada di jalur utama wisata. Lokasinya tersembunyi di kawasan Nongsa. Pengunjung dapat menuju lokasi dengan melewati Tugu Nuvasa Bay, lalu berbelok kanan ke simpang Pantai Nongsa. Dari simpang tersebut, perjalanan dilanjutkan dengan memasuki jalan aspal di dekat sebuah posko kecil yang tampak terbengkalai. Setelah itu, pengunjung harus melewati jalan tanah yang berlubang di tengah rerimbun rumput jangkung, sebelum tiba di pintu masuk pantai.
Di gerbang pantai, pengelola memungut retribusi masuk sebesar Rp 5.000 per orang. Untuk anak-anak, dua orang dikenakan tarif Rp 5.000. Biaya parkir tidak dipungut, pengunjung hanya diminta membayar penggunaan kamar mandi. “Untuk parkir gratis, hanya bayar kamar mandi saja,” kata salah seorang petugas di lokasi.
Namun, fasilitas penunjang tersebut masih menyisakan catatan. Kamar mandi yang tersedia terlihat kurang terawat, minim penerangan, dan terdapat sampah di beberapa sudut. Kondisi ini menunjukkan perlunya perhatian lebih dari pengelola agar kenyamanan pengunjung sejalan dengan potensi alam yang dimiliki pantai ini.
Bagi sebagian pengunjung, Pantai Bahagia menjadi pilihan karena suasananya yang relatif sejuk dan biaya masuk yang terjangkau. Tika, salah seorang pengunjung, mengaku telah beberapa kali datang ke pantai ini. “Sudah tiga kali ke sini. Tidak terlalu panas dan murah juga,” ujarnya.
Di sekitar pantai, sejumlah pedagang menyediakan makanan dan minuman sederhana. Pantai Bahagia tidak hanya ramai pada akhir pekan sebagai tempat bermain keluarga, tetapi juga kerap dimanfaatkan untuk berkemah dan kegiatan kebersamaan seperti family gathering. Aktivitas tersebut memperlihatkan fungsi pantai ini sebagai ruang publik alternatif yang masih terbuka dan inklusif.
Keberadaan Pantai Bahagia mengingatkan bahwa pariwisata pesisir tidak selalu harus dibangun dengan infrastruktur besar. Dalam kesederhanaannya, pantai ini menawarkan pengalaman yang berangkat dari alam: teduh, terbuka, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun tantangannya kini terletak pada bagaimana menjaga kebersihan dan kualitas fasilitas, agar kenyamanan alam yang sudah ada tidak tergerus oleh pengelolaan yang kurang berkelanjutan. (Sal)